Disclaimer: I don't own Bleach
Warning: AU, slash, a bit OOC, chara death(s). Main pairing Grimmjow/Ichigo. No chara bashing purpose. Don't like don't read.
-x-
-x-
-x-
Kurosaki, DA
-x-
-x-
-x-
Dengan setengah merengut Rukia menatap permukaan bingkai kaca yang dipajang di atas meja kerja Ichigo. Melihat bayangannya sendiri terpantul di sana Rukia mendadak sadar bahwa pilihannya untuk memakai giwang perak merupakan keputusan buruk. Kepala gadis itu jadi terlihat makin besar, tampak tak seimbang dengan mungil ukuran tubuhnya. Seakan sebal sendiri si bungsu Kuchiki itu pun mengetap-ketapkan dua kaki yang berbalut sepatu buatan tangan dan stocking warna hitam. Suara ketapannya terdengar berbarengan dengan detak jam dinding yang sepasang jarumnya menunjuk pukul lima sore kurang sepuluh menit.
"Hentikan suara kakimu itu, Rukia. Bunyinya berisik sekali," tegur Ichigo tanpa mengalihkan perhatian dari dokumen yang tengah ia koreksi. "Kenapa kau ini? Sudah tidak sabar ingin bertemu kakekmu?"
Rukia membantah, "Aku bukannya tidak sabar, tapi justru kesal." Lanjutnya dengan bibir mengerucut, "Sudah beberapa lama ini Kakek tidak pernah menghubungiku. Tapi begitu menelepon yang ditanyakannya malah kau."
"Apa barangkali kakekmu sakit lagi?" tanya Ichigo. Barangkali karena itu juga Ginrei Kuchiki tidak terlihat menghadiri pemakaman kawan dekatnya siang tadi.
"Kalau Kakek sakit, dia pasti akan mencari dokter, bukan jaksa wilayah," jawab Rukia tak sependapat.
Belum sampai Ichigo membalas ucapan Rukia tadi, pintu ruang kerjanya terdengar membuka. Tanpa ketukan. Tanpa ucapan permisi. Lalu samar-samar Ichigo seperti mendengar suara Inoue memanggil-manggil nama sang tamu yang seenaknya masuk tanpa membuat janji temu.
"Inspektur Jaegerjaques?" tegurnya begitu pemuda berambut oranye itu menyadari siapa yang datang.
Rukia ikut menoleh. "Inspektur?"
Penampilan Grimmjow ketika itu kurang lebih sama persis dengan penampilannya ketika terakhir kali datang ke kantor Ichigo. Bedanya, si rambut biru tersebut tidak terlihat membawa bunga. Kedua tangannya berada dalam saku celana sementara sebatang rokok di sela bibirnya menguarkan aroma nikotin ke udara. Tanyanya begitu ia melihat Rukia, "Sekretarismu baru, Kurosaki?"
Rukia menggumam tidak senang. "Ya Tuhan, Inspektur. Cepat sekali kau lupa padaku."
"Kau tidak ingat?" Sambung Ichigo meluruskan, "Ini temanku, Rukia Kuchiki."
"Oh," balas Grimmjow singkat sambil duduk di samping Rukia dengan pergelangan kaki kanan yang menumpangi lutut kaki kiri. "Pantas saja, aku memang gampang sekali melupakan orang yang tidak penting." Keruan saja Rukia menggerutu tanpa tedeng aling-aling. Namun tanpa mempedulikannya Grimmjow justru memperhatikan pakaian yang dikenakan gadis cantik itu. Sepatu, stocking, rok pensil, kemeja, blaser dan sarung tangan berendanya semua warna hitam. "Kalian dari pemakaman?"
"Ya," jawab Rukia. "Almarhum Kakek Genryusai dimakamkan siang tadi. Kukira kau akan datang, Inspektur."
"Buat apa?" tukas Grimmjow acuh sembari menyesap rokoknya, "Kalaupun aku ke sana dia tetap tidak akan hidup lagi."
Ichigo mengingatkan, "Kau tidak sopan."
"Entahlah, Ichigo. Kurasa Inspektur Jaegerjaques ada benarnya juga," tutur Rukia. "Baru kali ini aku menghadiri pemakaman yang para pelayatnya sibuk bergunjing semua."
"Bergunjing bagaimana?" tanya Grimmjow ingin tahu.
"Ya bergunjing. Semua orang seperti sibuk mendiskusikan keburukan keluarga Yamamoto." Rukia bercerita, "Ada yang mengatakan kalau Bibi Nanao itu kolot dan suka mengatur, ada yang bilang Paman Gin itu pencuri, ada yang bilang Paman Kenpachi pernah membunuh orang. Bahkan aku sempat mendengar seorang ibu-ibu tega berkata kalau Momo adalah anak haram yang membawa sial. Perempuan jelek itu juga sampai hati menyalahkan Paman Jyushiro yang menjadikan anak yatim piatu sebagai anggota keluarga."
"Wah, rupanya telingamu memang tajam sekali, Rukia," kata Ichigo berkomentar. "Aku saja cuma sempat mendengar anak-anak usia sekolah yang mengatai Bibi Rangiku sebagai perempuan materialistis. Bahkan kurasa Bibi Rangiku mendengar sendiri perkataan itu."
"Itulah kenapa aku paling malas menghadiri acara pemakaman yang si matinya tewas tidak wajar." Grimmjow menambah, "Orang-orang memang paling suka mengarang berita bohong tentang keluarga yang sedang mengalami nasib buruk." Tanyanya setelah menghisap rokok filter sekali lagi, "Mana asbakmu?"
"Aku tidak punya asbak," jawab Ichigo. "Baru kau saja orang yang berani merokok di ruanganku."
"Lalu?" Seperti biasa Grimmjow tak terdengar peduli sewaktu meneruskan, " Kau mau memberiku tropi?" Kemudian seolah tak kehilangan akal si arogan itu bergerak mengetuk-ketukkan abu rokoknya ke dalam tatakan cangkir yang cangkirnya sendiri masih penuh berisi kopi.
Ingin meledak saja Ichigo rasanya.
"Oh ya, hampir aku lupa," kata Grimmjow seraya merogoh ke dalam saku jaketnya. Sekotak kecil cokelat ia dapat dari sana dan segera dilemparkannya cokelat itu ke arah Ichigo.
"Cokelat?" Ichigo memandang Grimmjow dengan pandangan tak habis pikir. Dilihatnya juga kotak berpita merah yang sudut-sudutnya sudah berkerut karena terdesak dalam saku. "Kau pikir aku masih mau makan cokelat setelah apa yang terjadi pada Sasakibe?"
Rukia bergidik ngeri. Tiba-tiba saja terlintas lagi dalam bayangannya sekotak coklat beracun dan sepotong kepala manusia yang terkubur bersama pasir dan tanah dalam kotak kayu.
"Hey, jangan salahkan aku." Grimmjow membela diri, "Sekretarismu yang bilang aku harus datang lagi dan membawakanmu cokelat."
"Lalu barang siapa lagi yang kau curi kali ini?" tanya Ichigo setengah menuduh. "Milik anak TK?"
"Seenaknya saja kau bicara. Cokelat itu dari adik perempuanku. Dia membuatnya sendiri."
"Kalau begitu jangan lupa sampaikan terima kasihku pada adikmu." Imbuh Ichigo kemudian, "Katakan juga aku mengerti penderitaan yang selama ini ia rasakan. Pasti merana sekali punya kakak sepertimu. Aku yakin adikmu sering mengomel."
Grimmjow menyangkal santai, "Tidak. Adikku tidak pernah mengomel." Tambahnya, "Dia 'kan bisu."
Untuk sedetik lamanya Ichigo jadi merasa bersalah dan iba. Bahkan Rukia juga ikut merasa tidak enak dibuatnya. "M-maaf kalau begitu."
"Tidak masalah." Grimmjow mengaku, " Justru aku lebih suka kalau dia bisu. Bayangkan saja sebaliknya, dia pasti mengomel setiap hari karena baju kotorku menumpuk di kolong meja dan kaos kaki bekasku terlempar ke tempat cucian piring." Tak cukup sampai di situ Grimmjow masih melanjutkan lagi, "Aku tidak suka punya adik tukang mengomel sepertimu, Jaksa Kurosaki."
"Aku tidak pernah mengomel!" sentak Ichigo.
"Ya, kau suka mengomel. Di tempat kerja, di kantor walikota, di media lokal, bahkan di depan sidang pun kau mengomel."
"Itu memang pekerjaanku, Inspektur!"
"Berarti benar 'kan kau tukang mengomel?"
Gigi Ichigo langsung bergeregat seperti reaksi para manusia purba di jaman prasejarah ketika pertama kali menemukan bara api. Tak mau menunggu sampai amarah temannya itu mencapai ubun-ubun, Rukia bergegas menengahi,"Sudahlah, Inspektur. Jangan buat dia jengkel. Kalian ini seperti anak kecil saja." Lanjutnya sambil melirik ke arah jam dinding, "Sekarang jam kantor sudah berakhir. Aku kemari karena kakekku ingin bertemu Ichigo. Ikutlah, Inspektur. Kakek paling senang mendengar cerita tentang proses penegakan hukum yang baru di kota ini."
Bahkan meski tidak seorangpun dari Ichigo maupun Grimmjow menyuarakan persetujuannya, Rukia dengan seenak jidat menganggap kedua lelaki itu tidak keberatan. Sambarnya sebelum siapapun sempat menolak, "Tapi kita harus mampir makan dulu. Aku lapar sekali."
-x-
-x-
-x-
Kafe yang dipilih Rukia ternyata berada tidak jauh dari kediaman kakeknya sendiri. Membuat Ichigo bingung dan menanyakan kenapa tidak sekalian saja Rukia makan di rumah kakeknya. Tidakkah di sana ada makanan juga? Padahal jika mencari makan setelah jam pulang kerja seperti ini sudah pasti semua tempat akan sangat ramai. Dan makan di tempat ramai itu pasti tidak nyaman.
"Aku tidak mau makan di rumah Kakek. Makanan di sana sama sekali tidak enak," terang Rukia sambil membolak-balik daftar menu. "Yah, kalau dipikir-pikir semua pelayan yang dibayar per jam memang masakannya tidak pernah enak. Apalagi pelayan itu cuma datang sekali dalam sehari."
"Kakekmu tinggal sendiri, kalau begitu?" tanya Grimmjow.
Rukia mengangguk. "Biasalah, orang tua. Selalu merasa masih kuat hidup mandiri. Padahal kalau reumatiknya kumat pasti cucu-cucunya yang akan panik."
Baru saja Rukia hendak mengangkat tangan untuk memanggil pelayan kafe tersebut, sebuah suara menyapanya dari arah pintu. "Hey, Rukia!"
Si gadis pun menengok. Didapatinya sesosok perempuan cantik berambut panjang dalam balutan celana jeans biru dan kemeja bercorak dandelion menghampiri mereka bertiga. "Bibi Rangiku? Sedang apa di sini?"
"Cuma sekedar cari angin," jawab Rangiku. "Sore, Inspektur Jaegerjaques," sapanya lagi. "Sore, Ichigo. Kebetulan sekali bisa bertemu kalian bertiga di sini."
Grimmjow hanya ber'hmm' singkat tanpa menatap balik Rangiku, seperti enggan jika kedua matanya harus melihat gundukan di dada si ibu rumah tangga yang ukurannya bisa membuyarkan pikiran pria. Sementara di sebelahnya Ichigo tersenyum sambil menyahut, "Sore juga." Lalu secara tak sengaja pandangan pemuda itu tertumbuk pada sebuah majalah berkebun yang tengah dipegang oleh Rangiku. "Bibi suka tanaman?"
"Ah, tidak. Aku cuma mau tahu caranya merawat bonsai dengan benar supaya tidak gampang mati seperti bonsai Momo," jawabnya. "Ngomong-ngomong, coba kau lihat ini." Istri Gin Yamamoto itu menarik brosur dari sela halaman majalah sebelum mengulurkan lembaran promosi yang sepertinya ia dapat dari seorang agen properti tersebut pada Rukia.
Rukia menerima uluran brosur tadi, lalu melihat-lihat isinya yang tak lebih dari sederet gambar rumah siap huni dari berbagai tipe. Beberapa diantaranya memiliki halaman super luas dan kolam renang seukuran lapangan bola.
"Bagaimana menurutmu?" Rangiku meminta pendapat. "Aku suka sekali rumah putih yang dibelakangnya ada lapangan golf pribadi itu," tuturnya dengan nada berangan. "Entah kapan uang suamiku cukup untuk membelinya."
"Aku punya kenalan seorang pengembang. Kalau Bibi mau, nanti biar kuberi nomor teleponnya," Rukia menawari.
"Benarkah? Terima kasih ya," ucap Rangiku sebelum meminta kembali brosur tadi dan menengok ke arah jam. Menyadari waktu yang makin mendekati petang ia segera meminta diri. "Sebaiknya aku pulang sekarang," pamitnya. "Suamiku pasti menunggu." Tak lupa si perempuan cantik itu melambai setelah berbalik. "Sampai jumpa lagi, Rukia. Sampai jumpa, Inspektur. Sampai jumpa, Ichigo."
"Sampai jumpa, Bibi," balas Rukia ketika melambai balik sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian Rangiku tak terlihat lagi. Meninggalkan Rukia, Ichigo dan Grimmjow yang alisnya nyaris bertaut karena memikirkan sesuatu. Ada yang aneh dan ganjil terlontar dari perkataan Rangiku barusan, tapi sayang Grimmjow tak bisa menebaknya. Perasaan inspektur itu mendadak seperti anak berumur lima tahun yang mendapatkan kado kenaikan kelas tapi kotaknya begitu sulit untuk dibuka. Sampai-sampai tak disadarinya suara Rukia yang bertanya, "Inspektur, kau mau pesan apa?" dan justru dibalasnya pertanyaan itu dengan, "Bisa tidak kita ke tempat kakekmu sekarang? Firasatku buruk."
Rukia merengut. Bukankah dia sudah bilang bahwa perutnya lapar? Bukankah dia juga sudah bilang kalau masakan pelayan kakeknya tidak enak? Kenapa semua orang aneh sekali hari ini? "Memangnya kenapa, Inspektur? Aku belum pesan apa-apa."
"Aku setuju dengan Inspektur Jaegerjaques," timpal Ichigo. "Entah kenapa perasaanku tidak enak soal ini."
"Soal apa?"
"Tidak tahu," jawab Ichigo jujur. Begitu melihat temannya makin merengut ia membujuk, "Ayolah, Rukia. Kita makan dalam perjalanan pulang saja. Biar aku yang traktir."
"Kau janji, Jeruk?"
"Janji," kata Ichigo memastikan.
"Ya sudahlah, semoga cacing-cacing di perutku ini mau diam sebentar," kata gadis mungil itu akhirnya. Iapun segera berdiri dengan diikuti oleh Grimmjow dan Ichigo kemudian.
Ketiganya lalu melangkah keluar dari kafe itu dan masuk ke dalam dua mobil yang terparkir di seberang jalan. Tak lama setelahnya mereka menyusuri sisa seperempat mil jalan satu arah sebelum berbelok masuk ke sebuah kawasan perumahan di selatan Karakura. Ichigo yang tentunya ingat betul mana rumah kakek Rukia langsung membawa mobilnya masuk ke dalam halaman rumah ketiga dari sebelah kanan yang seluruh pagarnya disuluri tanaman anggur.
"Kakek! Aku sudah datang!" seru Rukia begitu turun dari mobil. Bahkan sebelum mencapai teras depan pun si mungil itu sudah berteriak lagi, "Kakek, Ichigo sudah kubawa kemari!"
Derap langkah kaki-kaki kecil adik Byakuya Kuchiki terdengar melawan sepinya bangunan rumah berlantai tiga. Sepasang daun pintu berkayu jati didorong Rukia dengan mudahnya, membuat si cucu sempat heran karena meskipun Ginrei itu sudah tua dan mulai pikun, seingatnya sang kakek tak pernah lupa mengunci pintu bahkan ketika berada di rumah sekalipun.
"Kalian duduk dulu saja," katanya sambil menuding sofa panjang yang terdapat di ruang tamu. "Biar kupanggilkan Kakek kemari."
Ichigo dan Grimmjow menurut saja sementara Rukia berjalan cepat menaiki tangga sambil mengumbar teriakannya yang menggema di seluruh rumah. "Kakek! Ayo turun, aku dan Ichigo sudah datang. Inspektur Jaegerjaques juga ikut." Lalu karena tak mendengar balasan apapun juga Rukia lantas menggerutu, "Tuh 'kan, sudah kubilang berapa kali pada Kak Byakuya kalau Kakek itu memang butuh alat bantu dengar!"
Bunyi ketepak langkah kaki Rukia terdengar lagi, terpantul sempurna oleh langit-langit melengkung berdesain tinggi. Kemudian menghilang sejenak begitu Rukia mendekati ruang musik yang berada tak seberapa jauh dari ujung tangga. Setahu Rukia memang disanalah Ginrei paling sering menghabiskan waktu sorenya. Keruanlah tanpa memikirkan kenapa pintu ruangan itu sudah setengah terbuka si bungsu Kuchiki melangkah masuk sambil berkata, "Kakek, aku sudah da—KYAAA!"
Suara jerit Rukia yang mendengingkan telinga seperti menjadi alarm bagi Ichigo dan Grimmjow untuk segera berlari ke lantai dua. Keduanya tak lagi perlu komando dari siapapun untuk bergegas bangkit, melewati puluhan anak tangga hanya dalam waktu beberapa detik saja sebelum menghambur masuk ke dalam ruangan tempat teriakan Rukia berasal.
Di dalam ruang musik itulah ketiganya melihat Ginrei Kuchiki terkapar tak bergerak dengan wajah menghadap lantai. Tubuhnya tengkurap membelakangi pintu, tergolek di dekat sebuah lampu meja dengan kap pecah yang berserakan di sisinya. Tanpa pikir panjang Grimmjow memerintah, "Panggil ambulans, Kurosaki."
Untuk sekali ini Ichigo langsung menurut tanpa menyuarakan apa-apa. Cepat-cepat dihubunginya rumah sakit terdekat sementara Grimmjow mendekati Rukia yang masih memanggil-manggil kakeknya sambil mengguncangkan bahu pria tua itu. "Biar kulihat," kata Grimmjow sebelum ikut berlutut di lantai, membalik tubuh Ginrei Kuchiki dan mengulurkan tangannya untuk memeriksa napas si mantan kepala kepolisian Karakura. Nihil. Denyut nadi. Nihil. Lalu dicarinya detak jantung kakek Rukia itu. Juga nihil. Dirabanya pula bekas memar di bagian belakang kepala yang seperti menjelaskan kenapa sebuah lampu meja bisa tergeletak tak jauh dari sana dalam keadaan pecah berantakan. Kemudian dikatakannya pada Rukia, "Kakekmu sudah meninggal."
Dengan kalut Rukia membentak, "Bohong! Mana mungkin Kakek meninggal?" Diguncang-guncangkannya lagi bahu Ginrei seraya memanggil, "Kakek, ayo bangun! Aku mohon, jangan buat aku takut!" Warna bening air mata mulai menyelimuti sepasang mata violet yang bergetar kebingungan. Rona panik dengan cepatnya menjalari wajah putih Rukia menyaksikan sosok sang kakek yang tak bereaksi sedikitpun.
Sedangkan di saat yang sama Grimmjow melihat sebuah buku agenda tergeletak tak jauh dari tubuh Ginrei. Kontan saja diraihnya buku bersampul kulit tersebut dan dibukanya seketika itu juga. Kosong. Tak ada satupun halamannya yang terisi. Grimmjow cuma menemukan selembar kertas tua yang terselip di salah satu bagian buku berwarna hitam tersebut. Kertas itu bertuliskan:
KPD/CC/ML/13/XII/1990
Contact list:
Yamamoto, Judge/ 777 – 678899
Kurosaki, DA/ 777 – 677788
Kuchiki, Chief/ 777 – 673341
Sasakibe, Inspector/ 777 – 672255
Kedua mata sian Grimmjow membulat dalam sekejap. Dengan satu gerakan leher yang teramat cepat ditolehnya ke arah Ichigo, pemilik satu-satunya nama dalam daftar itu yang masih bernyawa sampai sekarang.
-x-
-x-
TBC
-x-
-x-
a/n: Thanks for reading. Makasih banyak buat yang udah review di chapter sebelumnya. Tinggal dua chapter lagi nih. Daag daag…
