Falling for you
By. Lee HyeRi
.
Disclaimer : Semua chara disini milik Tuhan YME dan milik diri mereka masing-masing.
Rated : M
Main pairing : KyuMin (Kyuhyun x Sungmin)
Genre : Romance, Hurt/comfort
Summary : UPDATE CH.4! "Kau masih marah karena kejadian malam itu? kita berdua mabuk, Min. Aku juga tidak menyangka kita akhirnya berbuat seperti itu," kali ini Kyuhyun melakukan pembelaan atas kejadian di Pulau Jeju. "Seharusnya tidak ada seks untuk pernikahan palsu," KyuMin slight HaeMin. WARNING: Yaoi, MPREG.
.
Hey... ^_^
saya kembali membawa chapter 4.
Meski sudah telat, mumpung masih awal Januari, saya masih ingin bilang "HAPPY NEW YEAR"
===000===
Sungmin terdiam di sebuah kamar yang kini dia tempati bersama Kyuhyun. Menghela nafas pelan, dia duduk di pinggir ranjang untuk menenangkan dirinya setelah beberapa saat yang lalu dia sedikit berargumen dengan Kyuhyun di depan rumah.
Entah sekarang Kyuhyun berada dimana. Sudah cukup lama sejak Sungmin meninggalkannya sendirian di depan rumah. Namun sepertinya Kyuhyun tidak menyusul Sungmin ke kamar. Mungkin dia pergi ke suatu tempat untuk menenangkan dirinya.
Sekali lagi, Sungmin menghela nafas. Dia masih ingat jelas apa yang dikatakan kakeknya Kyuhyun padanya. Sungmin tahu kakek itu tidak bodoh. Kakek tua itu cukup peka untuk melihat kejanggalan pernikahan Sungmin dengan cucunya. Dan itu cukup membuat Sungmin begitu gelisah.
.
.
Flashback
Sungmin POV
"Kau tidak perlu takut padaku, Sungminnie. Sejak kau kecil, aku sudah begitu menyayangimu seperti cucuku sendiri," kata kakek sambil mengacak pelan rambutku.
Aku menatap kakek dengan pandangan bingung. Sejak aku kecil? Apa kakek itu mengenalku sejak lama? Aku dan keluargaku tidak merasa punya hubungan dekat dengan keluarga Cho. Lalu kenapa kakek sepertinya sudah mengenalku sejak lama?
"Begitu bahagianya aku saat mendengar kau bersedia menikah dengan cucuku. Tapi sepertinya... kalian berdua menyembunyikan sesuatu dari kami semua,"
Aku sedikit tersentak mendengar penuturan kakek padaku. Namun aku tetap terdiam. Aku tidak ingin mengacaukan rencana Kyuhyun meski aku sendiri sebenarnya tidak ingin terlibat dengan semua hal itu.
"Kau tidak perlu terkejut begitu. Sejak awal aku sudah merasa ada yang aneh dengan pernikahan kalian. Karena itulah aku menyuruh Sooman-sshi untuk mengikuti kalian selama berada Pulau Jeju," kakek itu terdiam sebentar dan berbisik pada seorang pelayan, sepertinya menyuruh pelayan itu untuk membawakannya sesuatu.
Aku masih terdiam dan sedikit menyandarkan punggungku pada bangku taman di halaman belakang rumah utama keluarga Cho.
"Kau tahu, begitu khawatirnya aku saat Sooman-sshi memberitahuku kalau kau tiba-tiba pulang sendirian ke rumah orang tuamu dengan keadaan yang tidak begitu baik. Apa yang terjadi disana? Apa Kyuhyun menyakitimu?"
Aku agak bingung untuk menjawabnya. Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya? Tapi Kyuhyun akan...
"Aku tidak apa-apa, Kek. Hanya ada sedikit pertengkaran dengannya. Bukan masalah besar," aku berusaha tersenyum tulus saat mengatakannya.
Entah apa yang terjadi padaku. Bahkan aku tidak tahu kenapa aku malah berbohong untuk melindungi Kyuhyun.
"Begitu 'kah?" tanya kakek untuk memastikan perkataanku.
Aku hanya mengangguk pasti sambil memberinya sebuah senyum.
Beberapa saat kemudian, pelayan tadi kembali sambil membawa sebuah album foto. Kakek mengambilnya dan memangku album foto berukuran besar itu sambil menyuruhku ikut melihat foto-foto di dalamnya.
"Nenek!" aku sedikit berseru saat melihat banyak foto nenekku bersama kakek Kyuhyun. Kemudian terlihat sebuah foto dimana nenekku menggendong seorang bayi dan kakek Kyuhyun juga menggendong seorang bayi. Mereka begitu terlihat bahagia. Kurasakan mataku memanas. Aku merindukan nenekku. Sangat merindukannya. Nenekku meninggal karena sebuah penyakit saat aku lulus di perguruan tinggi. Aku tidak begitu tahu jelas saat itu. Yang aku tahu keluargaku dan nenekku tidak begitu dekat karena dulu saat ayahku kecil, nenek dan kakekku bercerai. Pada saat itu ayahku memilih untuk tinggal dengan kakekku karena menurutnya neneklah yang bersalah atas perceraian mereka. Meski ayahku menyimpan rasa tidak sukanya pada nenek karena perceraian nenek dengan kakek saat ayahku kecil, nenek masih diijinkan untuk sesekali datang ke keluarga kami. Aku masih ingat jelas saat dengan penuh kasih sayang nenek menyuapiku makan sambil sesekali mengelus pelan rambutku. Saat itu, yang aku rasakan adalah neneklah orang yang paling menyayangiku lebih dari orang tuaku sendiri.
"Kau lihat. Nenekmu sedang menggendongmu. Dan aku sedang menggendong Kyuhyun. Lihat, Kyuhyun disini lebih kecil darimu. Kau memang lebih tua darinya. Sekarang kau malah terlihat lebih muda darinya," kakek sedikit tertawa saat mengatakannya. Namun ku lihat wajahnya menjadi sendu saat menatap wajah nenekku di foto itu.
"Nenekmu adalah wanita yang sangat baik. Dia sangat sempurna menurutku. Dan aku tahu dia sangat menyayangimu,"
Ku rasakan air mataku mengalir di pipiku. Aku menyekanya dengan sedikit asal-asalan. Melihat foto nenek membuatku mengingat semuanya. Mengingat bagaimana kacaunya keadaan keluargaku. Meski terlihat baik-baik saja, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Keluargaku hidup dengan keadaan ekonomi yang lumayan sulit karena sebuah kesalahan yang mengakibatkan keluargaku harus kehilangan semua harta yang kami miliki. Aku sempat membenci ayahku atas apa yang dia perbuat pada keluargaku -bahkan pada nenek, sampai nenek meninggal tanpa sepengetahuanku. Dan aku juga masih mengingat jelas bagaimana kacaunya keadaan keluargaku saat itu. Sampai suatu hari, jika bukan karena Donghae yang menolongku untuk bekerja di perusahaan milik keluarga Cho, mungkin aku dan eomma-ku sudah hidup di jalanan.
"Aku ingin menceritakan sebuah kisah padamu, Sungminnie. Ini kisah antara seorang pria dan wanita yang telah menjalin hubungan setelah sekian lama. Kalau tidak salah selama lima tahun. Mereka hidup bahagia meski orang tua si pria tidak merestui hubungan mereka,"
Aku terdiam mendengarkan cerita kakek. Meski hatiku masih sakit mengingat kejadian dua tahun yang lalu, aku masih bisa menahan diriku untuk terlarut dalam masa laluku.
"Suatu hari saat mereka berkencan, mereka bertemu dengan seorang wanita peramal, penampilannya terlihat berantakan dan sepertinya wanita itu agak gila. Dia mengatakan pada sepasang kekasih itu kalau mereka adalah jodoh. Mereka akan hidup bahagia jika bersama. Lalu kau tahu apa tanggapan sepasang kekasih itu?"
"Menertawakannya?" tebakku.
"Hmm. Sepasang kekasih itu menertawakannya. Lalu peramal itu melanjutkan kata-katanya. Dia bilang, 'Terserah kalau kalian tidak percaya pada perkataanku. Pasangan yang berjodoh akan menderita jika berpisah.' Dan sekali lagi kedua sejoli itu tertawa dan pergi begitu saja,"
"Namun yang terjadi beberapa tahun kemudian adalah mereka berpisah. Seperti yang aku katakan, keluarga si pria menentang keras hubungan mereka. Sampai akhirnya si wanita memilih untuk pergi meninggalkan si pria karena tidak mau merusak masa depan pria itu. Mereka tidak berusaha mempertahankan hubungan mereka. Dan kata-kata peramal itu menjadi kenyataan. Kehidupan keduanya begitu menderita setelah mereka berpisah."
Entah kenapa aku sedikit familiar dengan cerita itu. Meski aku tidak tahu pasti, tapi aku merasa cerita kakek tadi ada hubungannya dengan nenekku.
"A-apa wanita itu... adalah nenekku?" tebakku ragu.
"Ya... nenekmu adalah wanita yang meninggalkanku. Kami tidak pernah bertemu karena dulu orang tuaku memindahkanku ke luar negeri. Sampai akhirnya kami berdua bertemu lagi saat kami sama-sama sudah memiliki cucu," kakek itu tersenyum miris sambil terlihat mengingat-ingat kisahnya dengan nenekku.
"Kau tahu, Sungminnie. Foto itu di ambil saat aku dan nenekmu sedang berjalan-jalan denganmu dan Kyuhyun kecil, melewati tempat-tempat yang biasa kami berdua datangi jaman dulu. Dan yang paling mengejutkan adalah, kami bertemu dengan wanita peramal yang dulu. Anehnya wanita itu tidak bertambah tua seperti aku dan nenekmu. Bahkan dia masih terlihat sama berantakannya seperti dulu."
"Benarkah? Lalu apa yang peramal itu katakan saat melihat kakek dan nenek?" tanyaku penasaran.
"Dia memperhatikan kami dengan senyum kemenangan di wajahnya. Dan kemudian dia mengatakan 'Kali ini akan terjadi pada kedua bayi itu.' Dia mengatakan seperti itu sambil menatap kedua bayi yang berada di kereta bayi yang dibawa olehku dan nenekmu. "
"Aku sedikit merinding melihatnya menatapmu dan Kyuhyun kecil. Sampai akhirnya wanita peramal itu mengatakan bahwa akan sulit untuk menyatukan kalian, dan kalian akan bernasib sama dengan aku dan nenekmu jika tidak bersama,"
"Mungkin terdengar konyol. Tetapi aku dan nenekmu merasa perlu untuk mempercayai ramalan itu. Kami tidak ingin menyesal seperti dulu. Kalian tidak boleh seperti kami, kalian berdua harus bahagia. Bahkan di saat terakhir, sebelum nenekmu meninggal, dia berbisik pelan memohon kepadaku untuk menjagamu dan membuatmu hidup bahagia bersama dengan seseorang yang tepat,"
"Kau mungkin bisa menertawakan aku dan nenekmu yang sekarang begitu percaya dengan wanita peramal itu. Kami hanya tidak ingin nasib kalian berdua sama seperti kami dengan mengantisipasinya –meski harus percaya pada ramalan konyol itu. Karena itulah dengan berbagai cara, meski harus mengancam Kyuhyun, dulu aku memaksanya untuk mendekatimu,"
"Sungminnie, kau bisa marah pada kakek setelah ini. Tapi kakek hanya meminta satu hal darimu. Cobalah untuk hidup bersama Kyuhyun untuk beberapa waktu. Kakek yakin, jika kalian benar-benar jodoh, kalian akan menyadari perasaan kalian masing-masing,"
"Setelah satu tahun, jika kau tidak merasakan perasaan apapun pada cucuku, kau boleh meninggalkannya. Aku tidak akan memaksamu untuk terus menjadi menantu keluarga Cho jika kau memang benar-benar tidak menginginkannya. Aku sudah berjanji pada nenekmu untuk membahagiakanmu. Kebahagiaanmu dan kebahagiaan cucuku adalah hal terpenting bagiku,"
Aku masih terdiam. Mencerna setiap kalimat yang dikatakan oleh kakek itu. Sekarang semuanya menjadi semakin rumit. Sungguh jauh dari apa yang aku bayangkan. Semula aku dan Kyuhyun hanya merencanakan pernikahan ini selama tiga bulan. Dari yang aku perkirakan, dalam waktu tiga bulan itu tidak akan ada hal-hal mengejutkan yang akan membuatku gelisah seperti ini.
Nyatanya tidak. Belum ada satu bulan saja, hidupku sudah begitu rumit. Semuanya begitu terlihat membingungkan bagiku.
Dan... yang paling membuatku risau adalah, satu tahun itu bukanlah waktu yang sebentar. Aku sudah berjanji pada Hae untuk memberiku waktu 3 bulan. Hanya tiga bulan, sesuai perjanjianku dan Kyuhyun. Apa yang harus aku katakan pada Donghae jika semua ini harus diperpanjang menjadi satu tahun?
"K-kakek... aku..."
"Sungmin, bisakah kau menuruti kemauan kakek tua ini? Anggaplah kau melakukan semua itu demi nenekmu,"
Aku lihat mata kakek berkaca-kaca. Sepertinya dia benar-benar mencintai nenekku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku harus jawab apa? Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Menerima hubungan pernikahan yang seperti ini selama satu tahun bukanlah hal yang mudah.
Kakek masih menunggu jawabanku saat tiba-tiba Kyuhyun datang mengganggu pembicaraanku dengan kakek. Entah kenapa aku merasa lega melihat Kyuhyun datang tepat waktu. Namun tak bisa aku pungkiri kalau aku juga masih begitu kecewa pada apa yang terjadi di Pulau Jeju. Hal itu membuatku kesal saat melihat Kyuhyun.
End to flashback
===000===
Sungmin cepat-cepat keluar dari mobil milik keluarga Cho saat mobil mewah itu berhenti di halaman parkir kantor. Sopir yang mengantar Sungmin hanya meliriknya sekilas tanpa berniat mencegah Sungmin yang terlihat begitu terburu-buru.
Sungmin ingin cepat bertemu dengan kekasihnya di hari pertama dia ke kantor pasca cuti pernikahan yang dipercepat. Semula Sungmin dan Kyuhyun dijadwalkan untuk cuti selama dua minggu. Namun kejadian di Pulau Jeju yang di luar perkiraan membuat mereka pulang lebih cepat seminggu dari yang seharusnya. Karena itulah mereka memutuskan untuk ke kantor dari pada menghabiskan seminggu hanya di rumah.
Namun sepertinya Kyuhyun sudah lebih dulu masuk ke kantor. Mungkin sejak beberapa hari yang lalu. Entahlah, Sungmin hanya menduganya saja. Karena selama berada di kamar yang sama bersama Kyuhyun di rumah Keluarga Cho, mereka sama-sama diam dan terlihat canggung satu sama lain. Hal itulah yang membuat Kyuhyun memutuskan untuk tidur di luar rumah dengan alasan pekerjaan yang begitu banyak sehingga dia lembur di kantor. Dan Sungmin juga tidak tahu pasti dimana Kyuhyun bermalam, entah itu di hotel atau benar-benar di kantor seperti alasannya. Yang jelas Sungmin merasa Kyuhyun menjauhinya karena namja tampan itu tidak ingin Sungmin merasa tidak nyaman karena berada satu ranjang dengannya.
===000===
"Hae!" Sungmin berseru saat melihat kekasih yang begitu dirindukannya baru saja memasuki ruang kerjanya.
"Minnie!" dengan buru-buru Donghae menyambar tubuh Sungmin dan memeluknya dengan begitu erat.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak bisa menghubungimu? A-apa kau sudah berniat untuk menginggalkanku?" Donghae langsung menyerang Sungmin dengan banyak pertanyaan mengenai hal yang beberapa hari ini benar-benar merisaukannya.
"H-hae..."
"Aku begitu khawatir padamu, Min. Bahkan aku sudah berpikir kalau Cho sialan itu sudah merebutmu dariku. Aku begitu takut kehilanganmu,"
'Kau bodoh, Hae. Justru akulah yang begitu takut kehilanganmu jika kau tahu apa yang terjadi padaku di Pulau Jeju,'bisik Sungmin dalam hati.
"Shhh... kau salah, Hae. Ponselku rusak dan aku tidak bisa memberitahumu. Mianhae. Chagi, aku benar-benar merindukanmu. Dan jangan berpikir aku akan meninggalkanmu karena pernikahan konyol itu. Sedikitpun aku tidak punya niat untuk melepaskanmu," ucap Sungmin.
Donghae melepaskan pelukannya. Buru-buru ditutupnya tirai ruang kerjanya, dan dengan cepat dia mengunci ruang kerjanya dari dalam. Dia kembali mendekat ke arah Sungmin dan membawa namja manis itu dalam sebuah ciuman panjang. Dilumatnya bibir bawah Sungmin dengan kasar. Digigitnya pelan sambil kedua tangannya berada di belakang kepala Sungmin untuk membawa namja aegyo itu pada sebuah ciuman yang lebih menuntut.
"Mmnn... hae... mmh..." Sungmin mendesah ketika Donghae mengikutsertakan lidahnya dalam ciuman yang memanas itu.
Sungmin begitu menikmati sesi Making out-nya dengan Donghae. Meski rasanya berbeda dengan ciuman yang dia rasakan di Pulau Jeju bersama Kyuhyun. Mengingat Pulau Jeju, Sungmin kembali teringat kejadian malam itu. Dia agak mendorong tubuh Donghae agar dia menghentikan ciumannya.
Sungmin masih merasa berdosa pada Donghae. Namja manis itu merasa kotor. Dia merasa begitu bersalah karena mengijinkan orang lain menikmati tubuhnya –bahkan sebelum kekasihnya.
"Hae..."
"Min... aku tidak akan memaafkanmu kalau kau berani mengkhianatiku. Kau tahu maksudku 'kan?"
Sungmin hanya mengangguk pelan. Dia sedikit merasa takut dengan ancaman Donghae. Entah kenapa dia merasa Donghae sekarang begitu mencurigainya.
"Setelah kontrak tiga bulan itu selesai, aku akan memastikan kalau Cho sialan itu tidak akan bisa mengganggumu hidupmu lagi. Kau milikku, Min."
Sungmin melebarkan matanya karena terkejut dengan kata-kata Donghae. Dia juga sedikit tidak percaya melihat tatapan tajam Donghae padanya. Selama ini Sungmin tidak pernah melihat Donghae dengan tatapan serius yang terkesan begitu dingin seperti sekarang.
"Kembalilah ke mejamu. Siang ini kita makan siang bersama," ucap Donghae sambil mencium pipi Sungmin sekilas.
Sungmin meremas kedua telapak tangannya sendiri. Bola matanya bergerak-gerak gelisah saat dia memutuskan untuk keluar dari ruang kerja Donghae dan kembali ke meja kerjanya.
Bagaimana ini? Bahkan dia tidak berani mengatakan pada Donghae kalau kakeknya Kyuhyun meminta pernikahan ini untuk satu tahun.
Rasanya Sungmin benar-benar dalam keadaan yang begitu rumit.
===000===
"Tuan Muda Cho Sungmin," seorang perempuan memanggil Sungmin dengan suara pelan.
Sungmin mengalihkan pandangannya pada perempuan yang baru saja memanggilnya. Terlihat seorang perempuan yang bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga Cho kini sedang berdiri di depan meja kerja Sungmin. Sungmin menatapnya heran. Sedikit tidak mengerti mengapa pelayan itu menemuinya di kantor.
"Nyonya Cho menyuruhku membawakan makan siang untuk Anda," ucap pelayan itu sambil menyerahkan dua kotak makanan pada Sungmin.
"Dua?"
"Satu untuk Tuan Muda Kyuhyun. Nyonya Cho bilang, Anda yang harus mengantarkannya,"
'Haishh, eomma itu ada-ada saja...' batin Sungmin menggerutu.
"Baiklah, nanti aku yang mengantarkannya." Kata Sungmin sambil menghela nafas pelan.
===000===
Sungmin berniat mengantarkan makan siang pada Kyuhyun sebelum jam makan siang agar nanti saat jam makan siang dia bisa menghabiskan waktunya bersama Donghae. Dia tersenyum manis pada sekretaris Kyuhyun yang kini mempersilahkannya masuk ke ruang kerja milik putra tunggal keluarga Cho itu.
Wajah Kyuhyun terlihat bingung melihat Sungmin yang menemuinya di kantor seperti ini.
"Ada apa?" tanya Kyuhyun saat sekretarisnya sudah pergi meninggalkan mereka berdua di ruang kerja yang lumayan luas itu.
Sungmin tidak menjawab alih-alih meletakan kotak makan yang dibawanya di meja kerja Kyuhyun.
Sekali lagi Kyuhyun melempar pandangan bingung pada Sungmin.
"Eomma-mu menyuruhku menyerahkannya padamu," ucap Sungmin dengan nada sedikit kesal. Terlihat, tanpa sadar Sungmin mengerucutkan bibirnya. Mau tidak mau Kyuhyun pun memperhatikan bibir Sungmin yang sekarang entah kenapa begitu terlihat berbeda.
"Terima kasih," kata Kyuhyun sambil melirik kotak makannya sekilas.
Sungmin hanya mengangguk sambil memperhatikan sekeliling ruang kerja Kyuhyun. Dia agak terkejut melihat tas besar milik Kyuhyun yang Sungmin yakin berisi barang-barang pribadi beserta pakaian milik Kyuhyun berada di ruang itu.
"Apa beberapa hari ini kau benar-benar tidur di kantor?" tanya Sungmin dengan hati-hati.
Kyuhyun mengangguk sambil membuka kotak makanan yang tadi dibawakan oleh Sungmin.
"Kenapa?" tanya Sungmin lagi sambil menatap wajah Kyuhyun yang terlihat memiliki kantung mata. Sepertinya namja yang lebih tinggi dari Sungmin itu tidak tidur dengan cukup, atau bahkan tidak tidur sama sekali.
"Aku tidak bisa berbohong seperti dengan menyewa penginapan atau semacamnya. Kakek bisa mencekikku kalau tahu aku sengaja tidak tidur sekamar denganmu,"
Kyuhyun membuka sumpitnya dan mulai memakan makan siangnya. Sungmin hanya melihatnya dengan tatapan bersalah.
'Kelihatannya Kyuhyun tidak makan pagi,' gumam Sungmin dalam hati.
Tiba-tiba Sungmin ingat kalau dia harus makan siang bersama Donghae. Cepat-cepat dia melihat arloji-nya untuk memastikan bahwa dia tidak telat.
"Sepertinya urusanku disini sudah selesai. Aku permisi dulu," kata Sungmin ketika dia dengan sopan meninggalkan ruang kerja Kyuhyun.
Kyuhyun menautkan alisnya sesaat. Dia menyadari bahwa bibir Sungmin terlihat sedikit bengkak. Terlihat sekali kalau seseorang baru saja mencium namja aegyo itu dengan begitu ganas –dan Kyuhyun sudah sangat tahu siapa orang itu. Kyuhyun hanya bisa tersenyum miris melihatnya. Entah kenapa ada perasaan tidak suka melihat hal itu. Kyuhyun benar-benar tidak suka melihatnya.
===000===
"Kau benar-benar tidak ingin memesan sesuatu yang lain? Sejak kapan sih kau membawa bekal?" kata Donghae dengan nada kesal dan sedikit mengerucutkan bibirnya.
Sungmin hanya bisa tertawa melihat sikap kekasihnya yang kini sudah kembali seperti biasanya. Hangat dan manis.
"Eomma-nya Kyuhyun yang membuatkannya. Sayang 'kan kalau tidak dimakan," jawab Sungmin.
Mendengar nama Kyuhyun disebut, buru-buru Donghae mengambil tutup kotak makan itu dan menarik kotak makan di depan Sungmin. Donghae menutup kotak makan itu dan memandang Sungmin dengan pandangan tidak suka.
"Jangan dimakan," ujar Donghae.
"Eh? Kenapa?"
"Mungkin saja mereka mengguna-gunaimu atau semacamnya," kata Donghae sambil menatap Sungmin dengan bibir yang dikerucutkan.
Sekali lagi Sungmin tertawa melihat tingkah konyol kekasihnya.
"Kau ada-ada saja," kata Sungmin sambil mengambil kotak makanan yang direbut Donghae tadi. Dia membukanya kembali dan memakannya.
Donghae akan protes kembali, tapi melihat Sungmin tersenyum dengan begitu manisnya, terpaksa dia mengurungkan niatnya. Dia mengambil sumpitnya sendiri dan balas tersenyum pada Sungmin. Mereka makan sambil saling melirik dan tersenyum satu sama lain.
===000===
Kyuhyun mengetuk pintu ruang kerja Sungmin dan membukanya. Dia sedikit terkejut melihat Donghae yang juga berada di dalam sana.
Sungmin hanya menatap Kyuhyun dengan wajah bingung dari balik meja kerjanya.
"Aku ingin bicara dengan Sungmin-sshi," ucap Kyuhyun pada Donghae yang sedang duduk di depan meja kerja Sungmin.
Ucapan Kyuhyun secara tidak langsung bermaksud untuk mengusir Donghae dari tempat itu.
"Bicara saja sekarang. Aku juga ingin dengar," balas Donghae sambil menatap tajam pada Kyuhyun.
Kyuhyun hanya bisa memutar bola matanya mendengar kata-kata Donghae. Menghela nafas pelan, Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Sungmin sambil menyerahkan kotak makanan yang tadi siang.
"Bilang pada Eomma kalau aku suka makanannya," kata Kyuhyun pada Sungmin.
Sungmin hanya mengangguk.
"Jika Eomma bertanya, katakan saja kalau kita makan siang bersama. Kau tahu bagaimana berisiknya eomma-ku 'kan?"
Sungmin tersenyum simpul mendengar kata-kata Kyuhyun.
"Yah! Eomma-mu tidak berisik. Dia hanya... eumm... terlalu bersemangat mungkin,"
Kali ini Kyuhyun yang mau tidak mau tersenyum mendengar tanggapan Sungmin tentang ibunya.
"Ehem!" Donghae membuat suara dengan tenggorokannya untuk menyadarkan Kyuhyun bahwa masih ada dirinya yang berada disini –sebagai kekasih Sungmin.
"Ah, ada satu lagi. Jangan lupa bilang pada Eomma kalau hari ini aku juga tidak pulang," kata Kyuhyun.
Sungmin sedikit melebarkan matanya mendengar kata-kata Kyuhyun. Wajahnya kini menatap Kyuhyun dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Urusanku sudah selesai," ucap Kyuhyun sambil melangkah menuju pintu keluar ruang kerja Sungmin.
Dia berhenti sesaat di depan pintu dan melirik Donghae sekilas.
"Dan sebaiknya kau juga kembali ke ruang kerjamu, Lee Donghae-sshi," kata Kyuhyun sambil berlalu dari tempat itu.
Donghae mendecih pelan saat Kyuhyun sudah pergi. Rasanya dia benar-benar kesal pada putra tunggal keluarga Cho itu. Diliriknya Sungmin yang sekarang sepertinya sedang gelisah memikirkan sesuatu.
"Kau kenapa, sayang?"
"Eh?" Sungmin sedikit kaget dengan pertanyaan Donghae yang membuyarkan yang ada dipikirannya sejak tadi.
"Aku tanya, kau kenapa?" tanya Donghae lagi.
"Aku tidak apa-apa, Hae" ucap Sungmin sambil berusaha tersenyum. Tetapi sangat terlihat kalau senyuman itu terkesan dibuat-buat.
Saat ini dipikiran Sungmin timbul sebuah pemikiran bahwa dia merasa bersalah atas apa yang harus dijalani oleh Kyuhyun. Dia merasa bersalah pada Kyuhyun saat tahu bahwa namja itu beberapa hari ini benar-benar bermalam di kantor. Bahkan Sungmin sudah berani menebak kalau Kyuhyun tidak memperhatikan makannya –bahkan waktu tidurnya. Dan bagaimana bisa tidur dengan cukup jika tidur di kantor dalam keadaan duduk seperti itu? Sungmin tahu bahwa itu sangat tidak nyaman.
Sungmin juga tahu Kyuhyun melakukan itu semua untuknya. Agar Sungmin tidak merasa risih atau tidak nyaman karena berada sekamar bersamanya. Tapi tetap saja cara yang dilakukan Kyuhyun tidak membuat Sungmin merasa lebih baik. Dia malah merasa bersalah pada Kyuhyun.
Dan sekarang, satu hal yang tidak bisa Sungmin pungkiri. Entah kenapa dia mengkhawatirkan Kyuhyun.
TBC
===000===
Yayyy! ^_^
Ada yang bingung dengan alur di chapter ini?
Ayo-ayo katakan saja pada saya lewat review kalau ada yang bingung atau tidak jelas dengan jalan ceritanya.
Hmm, disini kalian lebih suka karakter siapa? Kyuhyun? Atau Donghae?
.
Special thanks for
Ella vanila minne's wifee, Kyunihyun, KimHanKyu, icha22madhen, JiYoo861015, ndok, yuyalovesungmin, Minyu, rainy hearT , kyoko sato , SteffanyChoi , minnieGalz, White Lucifer, mami jujue, Clein cassie , jung hana cassie , park soohee, Myblackfairy
.
Thanks for reading~
Saya akan berusaha lebih baik lagi. Maaf untuk typo. Gomawo... :D
.
.
Mind to review? :D
