M-E-K-A-K-U-S-H-I
Kagerou Project © Jin (Shizen no Teki-P)
(various pair, romance/angst/drama/hurt/comfort/friendship, T, canon)
-This fanfic is for nothing but fun. I do not gain any profit for making it. Read it, or just leave it-
.
.
.
M-E-K-A-K-U-S-H-I
(main character: Kido Tsubomi)
Abnormal / Abnormal
Gadis dengan hoodie yang menutup sebagian kepalanya itu terdiam ketika membaca sepotong kata yang tertulis di selembar kertas. Singkat, padat, jelas, namun isinya sungguh menusuk ulu hati. Benar-benar cara yang efektif untuk merusak suasana seorang Kido Tsubomi di pagi hari yang seharusnya indah ini.
"Hng? Apa itu, Kido-chan?"
Buru-buru Kido meremas kertas tersebut hingga membentuk gumpalan abstrak, lalu melemparnya asal. "Biasa, 'surat cinta'"
"Hmm... kau lumayan terkenal juga, ya, Kido-chan~ berkebalikan sekali dengan kemampuan matamu yang membuatmu tak dapat terlihat," celoteh Kano riang, tanpa menyadari bogem mentah yang melayang ke arah wajahnya.
Ability / Kemampuan
"Hey, Kano..."
"Hm?" Bocah bermata kucing itu menoleh ke arah Kido dengan mulut yang tersumpal onigiri. Waktu istirahat makan siang ini dimanfaatkan dengan baik oleh mereka untuk menyantap bento di atas atap sekolah, karena tak ada seorangpun yang mau berbagi tempat duduk oleh duo aneh jika mereka berada di kantin. Yah, sebenarnya hanya Kido saja yang dianggap demikian, namun Kano yang selalu menempel gadis itu kemana-mana membuatnya terkena imbasnya.
"Apa kau pernah menyesal telah memiliki kemampuan mata?"
"Jadi kau sekarang menyesal?" Kelereng serupa amber itu berkilat tajam, membuat Kido yang terkenal tak gentar terhadap apapun dapat meneguk ludah. Belum sempat gadis itu menyusun kata-kata perlawanan, Kano sudah menyudutkannya ke tembok kawat dengan jari telunjuk mengangkat dagu. "Kalau kau ingin jawaban jujurku, Kido-chan, aku tidak pernah menyesal. Kemampuan ini membuatku dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh manusia lain, dan aku sangat mensyukurinya. Misalnya, aku bisa merubah penampilanku seperti Daisuke, anak paling terpopuler di sekolah ini dan mencicipi ketenaran barang sejenak. Atau, aku bisa saja mengelabui guru-guru agar aku menjadi anak emasnya. Tapi kautahu sendiri, kan, kalau penipu seperti aku tidak pernah berkata jujur?"
Kano mengedipkan sebelah matanya yang berwarna merah sekilas, lalu kembali ke tempat semula dan melanjutkan acara makan siangnya yang tertunda. Tak peduli dengan sahabatnya yang terduduk sendirian dan sosoknya semakin transparan.
"H-hei, Kido-chan! Dimana kau?"
Accident / Kecelakaan
BYUR!
"A-ah! A-aku minta maaf!" seru Mary panik, buru-buru membersihkan tumpahan teh yang mengenai baju Seto sementara pemuda itu hanya tersenyum dan menepuk-nepuk kepala Mary.
"Tidak apa-apa. Toh ini hanya kecelakaan."
Toh ini hanya kecelakaan...
Kecelakaan...
"Ini semua hanya kecelakaan!" jerit seorang gadis sambil meronta-ronta ketika sang jago merah menelan bangunan tiga tingkat yang cukup megah beserta seluruh isinya. Seluruh anggota keluarganya masih ada di dalam sana, tak mampu keluar dan menyelamatkan diri. Bahkan kakaknya yang terakhir mendorongnya keluar agar lolos dari jilatan api tersebut masih terjebak di dalam. Hanya ayahnya yang mampu terselamatkan, bahkan keadaannya tak lebih baik. Seluruh kulitnya melepuh, dan di tangannya terdapat barang bukti yang tak dapat disangkal: kotak korek api yang nyaris hangus.
"Tak mungkin... ini semua hanya kecelakaan, kan?"
Sebesar apapun perasaan bencinya kepada pria yang kini telah ditutup oleh kain putih, tetap saja Kido tak dapat menahan air matanya. Diremasnya ujung blus erat-erat, berusaha menolak kenyataan yang tersuguh dengan indah dan tragis di depan matanya. Petugas kebakaran dan polisi sudah berusaha menghiburnya (dan mencekal tangan gadis itu) sebisa mungkin sambil orang-orang yang ada di ambulan membawa jenasah itu pergi, namun hal itu tetap tak bisa menghentikan racauan Kido.
"Tou-san... Tou-san tidak bersalah... ini hanya kecelakaan! Mungkin Tou-san hanya ingin merokok di taman belakang dan api langsung menyebar begitu saja... Ya! Pasti itu! Tou-san tidak –"
Seluruh tubuh gadis berambut hijau gelap itu mendadak lemas, dan pandangannya menggelap.
"Bawa gadis itu. Dia satu-satunya saksi yang mampu bertahan hidup. Kalau sudah sadar, segera interogasi dia," perintah seorang polisi terhadap anak buahnya setelah para perawat menyuntikkan obat bius dari belakang.
"Baik."
.
"Kido-chan? Kau tidak apa-apa?" tanya Kano yang kebetulan duduk di sampingnya dan sekilas melihat garis vertikal yang melintang di pipinya. Bekas air mata.
"Tidak apa-apa."
Adorable / Menggemaskan
"Whoaa~ i-ini sungguhan Kido-san?" tanya Momo takjub, tangannya tak berhenti membolak-balik album foto yang agak kusam namun isinya masih dapat dilihat dengan jelas. Meskipun judul yang tertera di sampul depan album tersebut adalah 'Keluarga Tsubomi', namun hampir semua fotonya memuat perjalanan hidup sang anak bungsu mulai dari bayi hingga dewasa. Ada foto Kido bayi yang sedang belajar berjalan, ada foto Kido kecil yang mengenakan blus merah jambu dan bando berpita, ada pula foto Kido saat belajar memasak bersama kakaknya sambil tersenyum lepas, sesuatu yang nyaris tak pernah dilakukan oleh sang model sekarang ini.
"Iya dong~ lucu, kan? Saat itu aku pernah iseng mendatangi reruntuhan rumahnya, dan aku menemukan album ini. Untung saja tidak ikut terbakar. Tapi jangan bilang siapa-siapa, ya, apalagi Kido, karena..."
"Karena apa?"
Kido ternyata sudah ada di belakang mereka, warna matanya bertransformasi dari merah menuju hitam. Jelas sekali, gadis yang mengenakan hoodie itu ikut mendengarkan pembicaraan mereka sejak awal.
"Nah, Kano, aku tak tahu kalau kau menyimpan peninggalan keluargaku sendirian tanpa memberitahuku dan malah menunjukkannya ke orang lain. Apa kau punya penjelasan yang masuk akal sebelum tinju ini kembali mengarah ke wajah bodohmu, hm?" tanya Kido sambil mengepalkan telapak tangannya, silangan urat muncul di pelipisnya sementara yang diancam bergetar ketakutan sambil menutupi separuh wajahnya dengan album foto tersebut. Mungkin kalau gestur tersebut dapat diterjemahkan dengan bahasa manusia, artinya; 'Ambil saja album ini, tapi jangan hajar aku!'
.
"Awas kalau kau mengatakan apa-apa mengenai ini. Kau juga, Momo," ancam Kido setelah merebut album foto tersebut sambil melangkah pergi, berusaha untuk menyembunyikan merah yang bersemu di pipinya dengan cepat.
Alone / Sendiri
Markas Mekakushi-dan heboh hari ini. Ya, apalagi kalau bukan karena salah satu anggotanya yang sedang berulang tahun entah-keseratus-lima-puluh-berapa yaitu Mary Kozakura. Kue tart dan tumpukan kado yang dibungkus dengan kertas warna-warni sudah ada di atas meja, dan mereka semua tersenyum gembira ketika gadis seperempat Medusa itu meniup sebatang lilin karena kalau seratus batang pasti tidak akan muat.
Semuanya, kecuali Kido Tsubomi.
"Hei, ada yang tahu dimana Kido?" tanya Mary yang bertugas memotong kue tart tersebut dan membagi-bagikannya ke teman lain. Semuanya menggeleng, kecuali Kano. Dengan senyum khasnya, pemuda berambut pirang itu mengambil alih piring plastik berisi potongan kue tersebut.
"Aku saja yang memberikannya~"
"Ah, paling kau makan sendirian seperti biasanya, Kano-jiichan," ledek Hibiya, disambut tawa oleh seluruh anggota lain. Senyum itu tetap tak berubah, dibawanya piring plastik tersebut menuju salah satu kamar yang terletak dekat ruang keluarga. Seorang gadis yang sedang mengutak-atik music player-nya langsung menjadi pemandangan pertama yang Kano lihat begitu ia membuka pintu, meski agak transparan. Tanpa permisi, pemuda itu langsung menjatuhkan pantatnya di atas kasur, bersebelahan dengan Kido yang tidak menoleh sama sekali ke arahnya.
"Kenapa kau tak mau bergabung dengan yang lain? Menyenangkan, lho. Ini aku bawa kue untukmu~" kata Kano ceria sambil menyodorkan piring plastik tersebut tepat di depan mata Kido. Gadis itu hanya membuang muka.
"Sedari tadi aku ada disana..."
Kalimat yang menggantung di udara itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan Kano, tanpa perlu dilanjutkan lagi. Diam-diam pemuda berambut pirang itu merasa kasihan dengan sahabatnya sendiri. Ia bisa membayangkan Kido yang berdiri diantara mereka sambil tersenyum, namun tak ada seorangpun yang dapat melihatnya. Baru saja Kano hendak menghibur Kido, sudut matanya menangkap kado berwarna ungu yang diikat dengan pita hijau di samping gadis itu. Buru-buru Kido mengambil dan memeluknya dengan wajah memerah, berharap pemuda bermata kucing itu tak melihat.
"I-ini ti-tidak seperti yang kaulihat! A-aku bukannya ingin memberi hadiah ini untuk Mary atau apa –" seru Kido panik ketika cengiran itu muncul di wajah Kano.
Arrogant / Sombong
"Terima kasih, Kido-san," kata Konoha setelah gadis itu membawakannya negima. Kebetulan hanya mereka berdua yang menjaga markas, sehingga Kido berinisiatif untuk membuat negima yang merupakan cemilan kesukaan Konoha sambil menunggu anggota Mekakushi-dan yang lain pulang.
"Hm. Sama-sama."
"Kautahu, Kido-san," ujar Konoha sambil mengunyah negima, membuat Kido melepas headphone yang menggantung di depan telinganya. "saat pertama kali aku bertemu denganmu, kukira kau adalah orang yang sambong."
Jleb! Aura suram menggelayuti wajah Kido, kentara sekali kalau suasana hatinya berubah drastis setelah dikomentari dengan datar dan jujurnya oleh pemuda jangkung tersebut. Sayang Konoha tak bisa membaca keadaan sekitar, jadi ia tetap melanjutkan pengakuannya setelah menelan negima yang masih tertinggal di rongga mulutnya.
"Tapi setelah kulihat lagi... ternyata kau tidak sombong sama sekali."
Kido menghela napas lega. "Ah... terima kasih atas kejujurannya."
"Tapi." Konoha kini mengambil negima keduanya dan memposisikannya di dalam mulut. "Belum tentu teman-teman yang lain akan berpikiran sama denganku. Saranku, kau harusnya lebih aktif dan lebih banyak berinteraksi dengan yang lain, Kido. Oh iya, terima kasih atas negima-nya. Aku mau ke kamar mandi dulu."
Kido menggeram kesal setelah pemuda berambut putih itu membalikkan punggung. Hey, lihat siapa yang bicara mengenai 'aktif dan lebih banyak berinteraksi' ketika Konoha sendiri adalah anggota paling pendiam di Mekakushi-dan itu sendiri!
.
.
.
TO BE CONTINUE
[bersambung]
.
.
.
-Behind the Scene-
[for those who have much free time and/or just curious about everything that happened when I wrote this fanfic]
Ah, maaf telah menelantarkan penpik ini. Kemarin masih heboh setelah nggak lolos SBMPTN dan akhirnya ndaftar mandiri –yang kebetulan pengumumannya besok (mohon doa dan dukungannya!), makanya baru bisa saya lanjutin sekarang. Apalagi saya juga lagi ngelanjutin novel saya, dan baru nulis ini kali ide buat novelnya lagi mentok hehe. Etto... maaf banget kalo KanoKido-nya kurang greget, apalagi tsuntsun-nya Kido juga ga keliatan. Jujur saya ga begitu suka Kido .-. tapi saya suka baca doujin mereka di Tumblr jadi lumayan banyak terbantu~ yah meskipun saya pengen mempertahankan genre friendship penpik ini. Aneh emang, mengingat dulu di chapter awal kayaknya banyak romens, tapi setelah dibaca ulang, ternyata paling banyak friendship-nya. Jadi... yah, genre friendship ini sangat membantu bagi para member Mekakushi-dan yang ga punya jodoh kayak Momo ^^ /plak soalnya saya berpendapat mendingan pair friendship daripada crack (soalnya saya ga bisa buat crack ;w;)
Karena keterlambatan apdet ini (seharusnya sekarang ini saya apdet Mary, dan Kido seharusnya udah diapdet 2 minggu lalu!), akhirnya saya masukin ultahnya Mary dikit. Anggap aja buat hadiah ulang tahunnya cewek seperempat medusa itu yang terlambat, nanti sisanya menyusul di drabble berikutnya~ *dijadiin patung sama Mary-chan
Btw ini pendek banget ;w; ampun ampuuun sebenernya kata berawalan A yang cocok buat Kido banyak banget, cuma... males /DOR. Serius Kido jarang banget muncul, lagunya cuma satu doang. Sisanya jadi cameo, baik di PV, manga maupun novel. Makanya tadi ga begitu banyak googling tentang dia, beda sama 3 chara sebelumnya.
Review for faster update~!
PS: galau lagi buat kata-kata yang cocok buat Mary kan sekarang ;w; curse you K alphabet, curse you =3=
PPS: pertamakali dalam sejarah M-E-K-A-K-U-S-H-I, Konoha muncul! XD iya saya tau, saya jahat banget sama chara kesukaan Shidu satu ini. doakan aja dia bakal muncul di chapter berikutnya, secara mary gitu loh! Mary! Kurohaaaa~~~ /fangirlingkumat
PPPS: lagi-lagi Daisuke jadi OC -_-;; jadi kangen dia kan huhu. sebenernya Daisuke-kun itu asli lho, pas itu saya kenalan pas dia ikut lomba sepatu roda di Sidoarjo. dengan bekal bahasa jepun yang pas-pasan, akhirnya saya ajak ngobrol. eh ga taunya dia orangnya baik banget! sampe sekarang masih sering kontak lewat fesbuk (dan nge-like foto cosplay saya juga lol, mungkin dia nganggep 'nih cewek indo tau cosplay juga, kirain cuma di tempat gue doang' wwwwwwwwwwwwwww)
