Disclaimer: Hidekaz Himaruya – Hetalia: Axis Powers
Genre: Humor/ Friendship
Warning: Out of Character(s), Typo(s), Alternative Universe, Human Names Used, Flat, Straight, Slight-Yaoi For Fan-Service, etc
Kiku mengambil napas panjang. "Kirkland-san itu sebenarnya bukan seorang laki-laki, kan?"
Pertanyaan Kiku membuat Arthur menahan napas. Mata Arthur membesar dan rasanya ruang untuk bernapas jadi terasa sempit. Sempit sekali. Apa Kiku menyadarinya? Apa hanya karena sentuhan sewaktu insiden folk dance itu, pemuda Asia itu langsung menyadarinya?
Padahal ikatannya sudah Arthur ikat kencang seperti biasa, tapi apa kendor sehingga bisa terasa sesuatu yang ganjil. Arthur terdiam tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Lidahnya kelu dan seluruh tubuhnya berubah jadi dingin. Sekarang ia harus bagaimana?
Tuhan, ini terlalu cepat untuk terbongkar...
.
.
Tangan Alice gemetar dan basah. Di hadapannya Kiku sudah menanti jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Pemuda berambut hitam itu memandang lurus pada wajah gugup Alice. Alice tak ingin mengaku begitu saja kalau ia adalah seorang perempuan. Alice mengambil napas panjang, ia memberanikan diri untuk menatap Kiku. Apapun yang keluar dari mulutnya berharap itu bukan kata-kata bodoh yang terlontar.
"Jadi Kirkland-san, kau ini sebenarnya anak perempuan, kan?" Kiku mengulangi lagi pertanyaannya.
"Dengar Kiku, aku paling tidak suka dengan hal seperti ini. Dan lagi aku -..."
Kiku segera memotong ucapan Alice. "Folk dance. Saat folk dance, ketika kau jatuh menimpaku, Kirkland-san. Aku merasakan sesuatu yang berbeda dari tubuhmu."
Apa?! Dia... yang benar saja! Ternyata memang tersentuh!
"Hentikan pembicaraan tak masuk akal ini!"
"Kirkland-san, aku hanya ingin kau jujur."
"Memang apa hubungannya denganmu? Berhenti menanyaiku seperti seorang investigator, Honda!"
Kiku masih terlihat tenang. Ia meraih tangan kanan Alice yang sontak membuat gadis itu sedikit terkejut. Apa maksudnya?
"Aku janji aku tidak akan memberitahukan tentang hal ini pada siapapun."
Alice terdiam.
"Kirkland-san, kau bukan seorang anak laki-laki, kan?"
Aku tidak ingin menjawabnya, aku tidak ingin menjawabnya, aku tidak ingin! Tapi keadaanku sudah tak memungkinkanku untuk lari. Apa jujur saja, yah? Tapi...
"... ya, aku memang seorang perempuan. Tapi benar, yah, kau tidak akan memberitahukannya pada siapapun?"
Kiku mengangguk. "Aku janji. Bisa kau ceritakan alasannya?"
Alice mulai menceritakan alasannya kenapa bisa bersekolah di Sekolah Menengah Atas Sivelius. Awalnya Alice sedikit ragu ia menceritakan lebih dalam tentang keluarganya, walau alasan Ayahnya yang memasukannya ke sekolah ini masih tak diketahui olehnya. Di sela-sela ceritanya, Kiku sempat tersenyum –yang hampir bisa disebut tertawa kecil. Pemuda Asia itu menutupi mulutnya untuk menahan tawa. Menurutnya Ayah Alice, Ian, punya sedikit gangguan pada jiwanya. Itu konyol memasukan putrinya sendiri ke sekolah khusus untuk laki-laki. Bukan tidak mungkin hal itu bisa jadi berbahaya jika identitas Alice nanti benar-benar terbongkar.
"Sekarang kau mengerti, kan, Kiku?"
"Ya, ya, aku mengerti. Hebat juga Kirkland-san bisa bertahan sampai sejauh ini."
Alice menghela napas panjang. "Mau bagaimana lagi. Sekarang yang kutakutkan adalah aku tak bisa menjadi istri yang baik nanti. Mereka akan menganggapku seorang yang aneh."
"Sudahlah, kalau nanti tidak akan ada yang mau menikahi Kirkland-san, biar aku saja, bagaimana?"
Semburat merah terlihat jelas di pipi Alice. "A-ah, K-Kiku, jangan berkata seperti itu. B-bukan berarti aku tidak mau, hanya... ah, sudah, aku tidak mau membicarakan hal seperti ini lagi!"
Memulai kalkulasi. Sebuah senyum tipis sedikit terlihat di bibir mungil Kiku. Seorang tsundere, cukup manis, dan terkadang suka berkata-kata kasar. Dilihat dari caranya bergaul, dia bukan tipe yang mudah percaya pada orang lain. Mungkin ini pengaruh dari keluarganya juga dari cara ia dibesarkan. Oh, Arthur. Kau membuatku jadi semakin penasaran.
"Tapi kalau dilihat-lihat wajah Kirkland-san memang manis, yah."
"Kiku~ sudah hentikan!"
"Ah, akhirnya ketemu juga," suara yang Alice kenal. Ia memutar sedikit tubuhnya ke belakang. "Kau ini jangan buat khawatir begitu, Arthur."
"Alfred?! Kenapa kau ada di sini?"
Dia tidak mencuri-dengar, kan? Oh, Tuhan, kumohon jangan.
"Aku mencarimu. Tiba-tiba menghilang dari asrama padahal kau sedang sakit."
"Aku sudah tidak apa-apa, Alfred."
"Ah, aku datang bersama pria jangkung itu." Alfred menunjuk ke arah William dengan dagunya. "Dia bilang dia itu Kakakmu."
"Kak Will?"
Alice segera menghampiri William yang berdiri di seberang jalan. Alfred menyilangkan kedua tangannya di dada melihat ke arah mereka berdua. Di balik kacamatanya sebuah pandangan berbeda tersirat dari iris biru safirnya. Kiku tersenyum penuh arti, lalu menyilakan Alfred untuk duduk di tempat Alice tadi.
"Hmf, kau perhatian sekali pada Arthur, Alfred," ujar Kiku memecah keheningan. Nada suaranya sedikit berubah.
"Dia kan temanku, aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu saja. Bisa repot nanti kalau aku harus terkena imbasnya."
Kiku menaikan sebelah alisnya. "Oh, begitukah?"
"Iya. Lagipula Arthur juga sering membantuku dalam hal pelajaran, yah, semacam saling membantu saja."
Di otak Kiku entah kenapa sudah berubah menjadi hamparan padang rumput luas dengan satu kaki langit terlihat seperti memberinya sebuah pencerahan. Walau secara tidak langsung, tapi tetap saja di mata kebanyakan orang menanggap Alice itu adalah seorang laki-laki. Ini akan menjadi ide yang brilian untuk doujinshi terbarunya nanti.
Alfred dan Arthur bersama dalam satu ruangan. Arthur yang kaki dan tangannya terikat oleh rantai, tubuh yang penuh balutan perban, dan Alfred duduk di hadapannya memandangi Arthur penuh makna tersirat. Kelopak-kelopak mawar terlihat berserakan di atas lantai, warnanya yang hampir menyatu dengan warna darah, membuat... oh, hentikan, aku tidak bisa menunjukan sifat 'ini' di depan Alfred. Kau harus menahan ini Kiku. Tahan.
"Kiku? Kau baik-baik saja?" tanya Alfred sedikit heran. "Hidungmu mengeluarkan darah, tuh."
Cepat-cepat Kiku mengelap darah yang keluar dari hidungnya. "Aku baik-baik saja, Alfred."
"Hhh, terkadang kau suka aneh sendiri."
.
.
"... Ayah pasti akan mengirimku kembali ke sekolah, Kak. Ayah tak akan menerimaku kembali di rumah."
"Alice, aku tidak bisa melihatmu menderita terus seperti ini. Kau Adikku, Adik perempuanku satu-satunya."
"Kak Will tahu sendiri, kan, bagaimana sifat Ayah. Ayah bukan tipe yang senang ditentang. Sudahlah aku lelah dengan semua ini, biarkan aku tetap bersekolah di sini." Alice memeluk dirinya sendiri. "Lagipula ini tahun ketiga, sebentar lagi aku lulus. Jadi semuanya bisa berakhir."
"Apa yang membuatmu bertahan selain ketakutanmu pada Ayah?"
"Itu..."
'Tentu saja karena aku menyukai teman sekelasku, Alfred. Itu yang membuatku bertahan untuk terus berada di sana. Apa itu sebuah masalah?' kata-kata yang tak bisa keluar dari mulut Alice dan hanya memantul-mantul di dalam kepala Alice.
"... aku tidak ingin membuat Ayah kecewa padaku. Sudah cukup kelahiranku yang selalu ditolaknya mati-matian."
Aku bohong, Kak.
"Alice..."
"Cukup, Kak. Kalau memang Peter-lah yang bisa membuat Ayah bangga, ya, sudah. Aku tidak bisa melawan. Melawan hanya akan menjadi debat tanpa ujung dan aku benci itu."
"Baiklah, tapi kalau kau membutuhkan bantuan, telepon saja."
"Itu pasti."
Alice tersenyum. Tangan William membelai rambut emas adiknya dengan lembut. Yah, selama Adiknya merasa senang itu sudah cukup untuk mengurangi rasa khawatir William. Dari kejauhan William melambaikan tangannya ke arah Alfred, memintanya untuk mendekati mereka berdua. Alfred melihat ke arah Kiku sambil menunjuk pada dirinya sendiri, seakan bertanya, pria jangkung itu memanggilku, kan. Kiku menangguk.
"Tunggu, Alfred. Tolong jaga Alice baik-baik, kau orang yang dekat dengannya, bukan."
"Iya, tapi, hei, kenapa kau berkata seperti itu?"
"Tidak apa-apa."
Alfred hanya bisa mengangkat bahu, lalu bangkit dari duduknya. William meminta agar Alice menjauh dari mereka berdua, ada hal yang ingin William bicarakan dengan Alfred. Alice tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi raut wajah Kakaknya terlihat serius. Semoga William tidak mengatakan sesuatu yang buruk pada Alfred.
"... baiklah, aku pergi, Alice. Jaga kesehatan, jaga pola makan, jangan sampai kurang tidur, dan hindari melihat hal-hal aneh."
Like a mother hen. Hal-hal aneh? Setiap hari aku melihatnya... karena teman sekamarku.
"Aku mengerti, iya, aku mengerti."
"Dan ini untukmu. Yah, untuk persediaan saja."
William memberikan sebuah kantong kecil berwarna ungu pada Alice. Sedikit penasaran, Alice mengintip isi kantong itu. Iris zamburnya melebar. Oh, ayolah jangan bercanda. Kakaknya memberikan benda itu lagi.
"Apa itu?" tanya Alfred penasaran.
"Gyah~ bukan apa-apa?" Alice segera menutup kantong kecil itu.
"Apaan, sih, aku jadi penasaran."
"Sudah kubilang bukan apa-apa! Hei, Alfred~."
"Arthur kau ini pelit sekali, sih."
"Aduh, Alfred, jangan memaksaku. Ini bukan benda yang penting tahu!"
Aku tidak mungkin menunjukannya padamu, Alfred. Hhh~ aku harus segera menyembukan benda ini dari siapapun. Benda yang sangat keramat bagiku, pembalut wanita.
Dada Alice bergerak naik turun cepat. Tubuhnya terasa sangat panas dan berkeringat. Ia tak bisa bergerak dengan berat, seseorang menindih tubuhnya. Ya, itu Alfred. Alfred ada di atasnya. Alice menghujamkan jari-jarinya pada rambut pirang Alfred, menarik kepala Alfred perlahan menahan rasa sakit yang baru mendera tubuh Alice. Sakit.
"A-apa yang kau lakukan, Alfred?! Ah~ Itu sakit, bodoh..." ujar Alice di sela-sela desahannya. "Cepat akhiri, Al-haah-fred."
"Tapi kita baru memulainya, Alice. Tahanlah untuk beberapa jam ke depan."
"A-Alfred..."
– Brak!
"Aku menangkap basah kalian!"
K-Kiku! Kenapa bisa dia...
"Ti... TIDAAAAAAAAK~!"
.
.
[Dorm 2 – Sivelus Senior High School]
– Kring~!
"TIDAAAAAAAAK~!" jerit yang langsung terbangun dari tidurnya.
"oh, mon dieu... kau berisik sekali Arthur," ujar Francis yang masih tertidur di sampingnya.
Hening.
Goddamn!
Suasana pagi hari yang seharusnya penuh semangat dan membuat siapapun yang terbangun di hari yang cerah ini mendapat energi baru, harus berubah menjadi pagi penuh kesialan untuk Alice. Alarm jamnya masih berbunyi, Alice masih membeku di tempat. Ia baru saja bermimpi melakukan hal yang tak mungkin ia lakukan dengan Alfred. Lalu, Francis yang ternyata tidur di tempat tidurnya. Sial. Ini bohong, kan?
Rasanya semakin hari, Alice semakin sial saja.
...
[Bersambung]
Guest: wah, makasih udah review, saya senang. Sebenarnya bukan malas dalam artian menelantarkan FF ini, tapi, yah, ada faktor lain.. yah buat selanjutnya saya usahkan lebih panjang lagi.
Who: eh, ternyata masih ingat. ((kaget)) iya, maaf, saya ganti demi kebutuhan cerita.. semoga hal ceroboh kayak gini gak terulang lagi
Orichii: gyaha, kasian dong kalau tar Alice harus punya menara ((ditabok)) oh, iya, sih, emang banyak yang cerita anak cewek yang harus nyamar ke asrama cowok.. alasannya banyak, macem-macem banget, dah..
[A/N]
Wah, maaf, yah, baru di-update. Saya lagi fokus sama yang beraroma (?) Russia x America, Japan x Belarus, sama Snow-Rabbit. Gak maksud buat ninggalin, sih, Cuma rada terabaikan ajah. Oke, saya udah buat beberapa chapter buat FF biar gak telat update lagi. terimakasih yang udah review, saya senang, loh. Maaf, yah, kalau sense humornya merosot.
Kuroneko Lind.
