Disclaimer: Masashi Kishimoto.
Warnings: Shounen-ai, AU, OOC, Shino's POV, fluff –yang gak bisa disebut fluff-, Crack pairing.
Secret of My Heart
A fic for Infantrum Black and White Challenge
Chapter#4: Wish
Enjoy the LOVE.
-Chika Nagato Hoshiyama-
Pagi telah tiba. Cahaya mentari dengan lembut menerobos jendela apartemenku, seakan mencoba membangunkanku dari mimpi-mimpi indah. Cahaya terang yang intimidasiku supaya bangkit dari lelap. Jangkrikku ikut bersuara jua, memaksaku meninggalkan empuknya tempat tidur.
Aku bergeming. Aku tetap terbaring di peraduan, terdiam bagai patung.
Aku lelah. Aku hanya ingin tidur nyenyak di akhir minggu. Karena kemarin, badanku jadi pegal-pegal soalnya. Kututup wajahku dengan bantal, mencoba menghalangi matahari yang mengusik. Mencoba menulikan diri dari kerasnya suara ketukan pintu.
Eh, ketukan pintu?
"Shino! Bangun dong!" suara seseorang terdengar dari balik pintu berwarna putih itu.
Aku pun berusaha untuk bangun, lalu mendudukkan diri di pinggir tempat tidur. Setelah mengucek mata sebentar, aku berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka. Kuhiraukan orang yang mengetuk pintu itu. Dengan lambat, aku berjalan kearah sebuah meja disamping tempat tidur, kuraih kacamataku. Perlahan, kupakai kacamata itu untuk menutupi mata kecoklatanku. Setelah berpakaian rapi, aku melangkah dengan malas kearah pintu lalu membukanya sembari menebak-nebak siapa yang datang pagi-pagi begini.
Karin? Kalau mengenai tagihan, aku sudah lunas...
Naruto? Ngapain coba? Eh, dia kan tak tahu apartemenku...
Neji? Urgh, jangan-jangan dia jadi kurir Hinata.
Berbagai prasangka merasuk dalam otakku, memperlambat langkah yang sudah pelan. Si pengetuk pintu mengetuk lagi dengan tidak sabar. Err, bukan mengetuk lagi mungkin, tapi menggedor. Mengingat kerasnya suara ketukan dan mulai bergetarnya pintu kamar yang sudah reot itu. Karena aku tak mau jadi sasaran kemarahan Karin-mengingat kalau dia marah itu sangat menyeramkan-, secepat mungkin aku membuka pintu tua itu. Dan, yang kudapat adalah...
"AUCH! SHINO!!" suara tinggi seorang Inuzuka Kiba menyambutku.
Dia terjatuh keatas tubuhku. Menindih lebih tepatnya. Suara berdesibel tingginya cukup memekakan telinga, hampir membuat tuli mungkin. Wajah kami bertemu, dapat kulihat kalau wajahnya bersemu merah, sambil tetap mengomel tentu saja. Kuhiraukan omelannya, dan memfokuskan diri untuk memperhatikan wajahnya. Wajah kecoklatan, mata agak lebar yang berwarna kecoklatan juga, pipi yang bersemu merah, hidung yang sedikit mancung, gigi putih dengan taring yang agak menonjol, juga... bibir mungil yang agak tipis.
Wajah yang... sangat manis.
Aku hanya terdiam sambil terus menatap wajahnya, membiarkan dia melanjutkan ocehannya. Samar, aku dapat mendengar suaranya. Agak tinggi, namun tetap terdengar seperti pria. Jenis suara yang unik. Hm...
"Shino, bisa tidak?" tanyanya bersemangat, dia terdengar seperti anak kecil sekarang.
"Bisa apa?" tanyaku datar, tak mengerti arah pembicaraannya. Jelas, dari tadi aku memperhatikan wajahnya kok.
Kulihat Kiba merengut kesal, lalu bangkit dari jatuhnya. Dia merapikan bajunya yang sempat acak-acakan.
"Jadi, bisakah hari ini kau menemaniku menjemput Akamaru ditempat Hana-nee?" tanyanya kesal.
Dalam hati aku tertawa kecil, lalu mengangguk sekali.
Kiba tersenyum, lalu mengerenyit sesaat.
Aku menelengkan kepala sedikit, menyampaikan "Ada apa?".
Dia menunjuk diriku, lalu berkata, "Kau sudah mandi belum?" tanyanya heran.
Aku menggeleng.
Dia menutup hidung dengan jenaka lalu menyuruhku mandi. Kuturuti keinginannya, setelah itu aku melangkah dengan malas ke kamar mandi. Kusambar handuk putihku dan membiarkan Kiba di ruang tamu sendirian. Setelah mandi kilat plus ganti baju lagi, aku menemui Kiba. Eits, sebelum menemui dia, aku harus merapikan baju dulu. Salah-salah, dia ngomel lagi. Aku pun berjalan ke arah sebuah kaca besar, lalu merapikan baju dan tudung jaketku.
"Shino! Kau sudah siap?" teriak Kiba dari ruang tamu.
"Ya," jawabku datar.
Kiba pun menghampiriku lalu menganjakku turun ke lobby. Kami berjalan dengan pelan, dan Kiba selalu mengajakku berbicara. Namun aku hanya diam, seperti biasa. Dan dia maklum akan hal itu. Dia tahu segalanya tentangku, namun tidak tentang perasaanku. Untuk pertama kalinya, aku bersyukur Kiba tak bisa membaca perasaanku.
Kiba memanggilku untuk masuk kedalam mobil, kami akan pergi ke Inuzuka Petshop, perusahaan keluarga Kiba sekaligus tempat kerja sang kakak, Inuzuka Hana. Well, Hana-san adalah kakak yang baik, mengingat dia membiarkan Kiba berada diluar pengawasan sang ayah dan membebaskannya dari keharusan menjadi penerus perusahaan. Aku bersyukur Kiba memiliki kakak yang baik seperti Hana-san.
Kami berputar-putar di tengah kota, mencari letak Inuzuka Petshop. Namun, ada sedikit masalah disini. Kiba lupa dimana tempat perusahaan keluarganya bertempat. Agak merepotkan karena kami harus bertanya dan mengambil resiko nyasar. Setelah tanya sana-sini, dan nyasar beberapa kali—juga beberapa pertengkaran seperti, "Shino, kita harusnya kesini, bukan kesana!", "Tidak, tapi kita belok ke kanan!", "Bodoh!" dan lain sebagainya—, akhirnya kami menemukan Inuzuka Petshop. Ternyata tempat itu berada di pinggiran kota, supaya para hewan yang ada disana bisa melepaskan diri dari hiruk-pikuknya kota yang ramai.
Sekarang aku dan Kiba sudah berada di depan Inuzuka Petshop, dan aku sedang menunggui Kiba yang tengah memarkirkan mobilnya. Lalu kami berdua bersama-sama memasuki petshop sambil saling menggenggam tangan masing-masing. Awalnya aku kaget karena dia tiba-tiba mengenggam tanganku dengan kuat, seakan meminta perlindunganku. Namun pada akhirnya kubalas juga genggaman tangannya, sebagai bentuk kepedulianku. Mungkin dia nervous karena akan menemui sang kakak yang sudah lama tak ia jumpai. Aku mencoba memakluminya.
TENG. TENG.
Suara lonceng berbunyi tepat setelah kami melangkahkan kaki ke dalam petshop. Terlihat seorang wanita muda cantik berumur sekitar 20 tahunan yang sedang menggendong seekor anjing berwarna putih. Rambut kehitaman wanita itu agak ikal, dan di pipinya terdapat tanda segitiga merah yang menjadi tanda anggota klan Inuzuka. Tak salah lagi, dia pasti Inuzuka Hana.
"Selamat da—Ah? Kiba?" sapa Hana begitu dia melihat kami di ambang pintu.
"Hai, nee!" sapa Kiba ramah dan pelan. Dia terlihat agak gugup, tapi aku dapat melihat seulas senyum gembira yang terlukis di wajahnya.
"Huh, aku menunggumu sedari tadi, otouto! Lihatlah Akamaru, dia sudah kangen padamu. Apa kamu nggak kangen padanya?" tanya Hana jenaka dengan diiringi gonggongan riang Akamaru.
"Maaf, nee. Aku sempat nyasar tadi, hehe. Dan, siapa bilang aku nggak kangen sama Akamaru? Aku kangen banget, tau!" jawab Kiba sambil menggelitiki perut Akamaru yang menggongong kegirangan.
Hana tersenyum lembut, lalu mengacak-acak rambut Kiba. Kiba hanya nyengir pasrah mnerima perlakuan kakaknya lalu asyik bermain dengan Akamaru. Perlahan, genggaman tangannya melonggar, lalu terlepas begitu saja. Aku merasa sedikit kecewa, namun itu tak masalah.
Aku terus memperhatikan Kiba yang sedang asyik bermain dengan Akamaru. Ekspresinya sungguh berbeda dengan yang pernah kulihat sebelumnya. Ekspresi polos yang riang dan bebas, suatu hal yang tak pernah ditunjukan Kiba padaku. Kesenangan yang nyata, kegembiraan yang telihat jelas. Selama ini dia tak pernah menampilkan ekspresi dengan apa adanya. Selalu sok kuat, selalu ceria—namun terkesan dipaksakan. Meskipun begitu, dia terlihat kesepian. Kemarin saja dia memintaku untuk menemaninya tidur. Ha, dia sangat menyayangi keluarganya ternyata. Dan dia juga sangat menyayangi Akamaru, karena hanya Akamaru yang dapat mengobati rasa rindunya pada sang kakak.
Sekali lagi, aku tertawa pelan dalam hati. Aku melihat sisi lain Kiba hari ini. Bukan Kiba yang sok kuat, bukan Kiba yang ceria. Tapi Kiba yang polos, riang, dan menyayangi keluarganya.
Saat aku sedang asyik mengamati Kiba, kurasakan ada yang menepuk pundakku. Aku menoleh, kudapati Hana-san sedang tersenyum dan tangannya tersembunyi dibalik punggungnya. Dia menarikku ke bagian dalam petshop, membiarkan Kiba bermain dengan Akamaru. Aku bingung, was-was, kenapa Hana-san tiba-tiba menarikku menjauhi Kiba? Apa dia tak memberi rest—err~ aku mulai berlebihan. Namun, tampaknya sebentar lagi aku akan tahu alasan Hana-san menarikku menjauhi Kiba karena dia berhenti dan membalikkan badannya.
"Apa kamu Aburame Shino?" tanya Hana-san pelan, namun nadanya mengintimidasi.
Aku mengangguk.
"Teman satu apartemen Kiba?" tanyanya lagi dengan nada yang lebih mengintimidasi.
Aku mengangguk sekali lagi.
"Mahasiswa jurusan Biologi, semester 6?" tanyanya dengan nada yang masih mengintimidasi.
Aku mengangguk lagi. Rasanya jantungku bisa copot kalau ditanya terus-terusan dengan nada mengintimidasi seperti itu.
"Ah, berarti memang kamu orangnya," kata Hana-san pelan sambil tersenyum padaku.
Aku kebingungan, jelas.
"Maksudmu?" tanyaku datar.
"Memang kamu yang merubah Kiba hingga menjadi seperti sekarang," jawab Hana-san lembut, tatapan matanya melembut juga.
Aku menelengkan kepala tak mengerti. Benar-benar tak mengerti.
Setelah kudesak, Hana-san menceritakan masa lalu Kiba. Dimana Kiba adalah anak kasar yang selengean, benar-benar tipikal preman sekolahan. Meski begitu, nilainya tak pernah jelek sehingga dia tak pernah di DO dari sekolahnya. Namun, tetap saja dia membuat masalah dimana-mana. Awalnya, Mr. Inuzuka memutuskan untuk menjadikan Kiba sebagai pewaris untuk melatih tanggung jawabnya, dan jelas saja Kiba menolak. Setelah dibujuk oleh Hana-san, akhirnya Mr. Inuzuka memutuskan kalau Kiba harus bisa diterima Universitas Tokyo. Kiba setuju lalu mengikuti tes masuk Universitas Tokyo, dan... di sanalah dia bertemu denganku, Aburame Shino. Dia pun berubah menjadi pribadi yang lebih baik setelah bertemu denganku. Saat Hana-san mengakhiri ceritanya, aku hampir saja menganga tak percaya. Kiba... aku bena-benar tak menyangka kalau masa lalunya sekelam itu.
Hana-san tersenyum pahit, lalu menepuk pundakku, "Terimakasih, Aburame-san. Terimakasih. Mulai sekarang, kupercayakan adikku padamu. Jaga dia baik-baik ya," ujar Hana-san lirih.
Aku tersentak. "Mengapa harus... aku?" tanyaku pelan.
"Karena..." ucapan Hana-san terputus saat dia melihat Kiba muncul dari balik pintu sambil menggendong Akamaru.
"Ne, Shino, ayo kita pulang! Jangan pacaran sama nee-san ku dong! Ahaha~" seru Kiba jenaka sambil mengelus Akamaru yang berada dalam jaketnya.
Aku hanya mengangguk pelan, lalu menoleh kearah Hana-san.
"Hana-san, aku pulang dulu. Arigatou gozaimashu," ucapku datar dan pelan lalu membalikkan badan.
Sekarang Kiba menghampiri Hana-san dengan langkah berat, lalu memeluknya.
"Sampai jumpa, aneki(1). Aku akan merindukanmu," bisik Kiba pelan, namun tetap tertangkap oleh telingaku.
Hana-san tersenyum, balas memeluk Kiba, "Aku juga akan merindukanmu, otouto. Sampai jumpa," ujar Hana-san lalu mengelus bulu Akamaru, "Akamaru, baik-baik sama Kiba ya! Jangan nakal!"
"Woof! Woof!" gonggong Akamaru senang, lalu menjilati wajah Hana-san.
"Akamaru, berhentilah. Kasihan Kiba kalau pulang kesorean," ucap Hana-san sambil menyentil Akamaru pelan.
Akamaru menghentikan jilatannya, lalu mengonggong kepada Kiba.
"Ah, kau kangen rumah ya? Kalau begitu, ayo kita cepat pulang~ Shino, setir mobil ya!" suruh Kiba besemangat lalu melangkah keluar petshop, "Sayonara, nee!" serunya ceria.
Aku hanya tersenyum simpul, lalu membalikkan badan lagi, "Selesaikan ucapanmu, Hana-san. Karena apa?" desakku datar.
Hana-san menghela nafas berat, lalu meneruskan ucapannya yang sempat terpotong, "Karena... dia mencintaimu(2)," bisiknya lirih, nyaris tak terdengar, "Maka dari itu, berjanjilah kalau kau akan selalu berada disampingnya, sampai kapanpun!" teriak Hana-san sebelum aku benar-benar melangkah keluar dari petshop.
"Tentu saja," jawabku sungguh-sungguh.
"Jangan buat aku kecewa, Aburame Shino. Kaulah tumpuan harapanku," ucapnya lantang.
Aku terdiam sesaat, lalu menjawab, "Pasti,"
Hana-san tersenyum, "Sampai jumpa, Aburame Shino. Akan kudoakan supaya kau dan adikku selalu dilingkupi kebahagiaan," ucapnya tulus.
Aku mengangguk, lalu meninggalkan petshop itu dan masuk ke mobil, menyetir pulang.
Sepanjang perjalanan aku dan Kiba telarut dalam dunia masing-masing. Kiba dalam dunia Akamaru-nya, sementara aku dalam dunia autisku. Jujur saja, aku masih memikirkan perkataan Hana-san tadi. Dia bilang... Kiba mencintaiku? Haha, ingin rasanya aku tertawa, namun aku tak bisa. Yah, sebagai kakaknya, Hana-san pasti tahu apa yang dirasakan Kiba—karena sangat mungkin Kiba curhat padanya—namun, rasanya aku sepeti dipermainkan. Kalau begitu, apa Kiba terluka selama aku berpacaran dengan Hinata? Apa dia masih mencintaiku sekarang ini? Aku tenggelam dalam lautan pertanyaan.
Agh, otakku mau meledak memikirkannya. Namun, kuharap dia masih mencintaiku. Aku sudah direstui oleh kakaknya, aku diberi tugas untuk menjaganya. Kami-sama, jangan buat dia membenciku, biarkan dia mencintaiku. Sudah cukup rasa sakitku setelah ditinggalkan gadis itu, jangan buat aku merasakan rasa sakit yang sama. Aku mohon, biarkan aku dan dia bersatu—sekali ini saja...
Aku menoleh kearah Kiba yang tengah terlelap dalam buaian sang mimpi. Aku tersenyum tipis, lalu mengelus rambutnya pelan. Dan kucium lembut bibirnya.
"Selamat tidur, Kiba. Berharaplah akan kehadiran esok hari. Berharaplah agar kita selalu bersama. J'et aime(3), Kiba." bisikku pelan, lalu kembali menyetir.
Harapanku...
cukup dua.
Adanya esok hari, agar kita dapat bertemu lagi
Bersama kembali
Lalu...
Cintaku terbalas olehmu
Sederhana bukan?
Aku selalu sayang kamu, Kiba
Jangan ragukan itu
Chika's Corner
Words count: 1.849 words
(1)Aneki: Kakak perempuan. Bentuk lain dari nee-san.
(2)hanya penekanan saja. Haha.
(3)J'et aime: Aku cinta kamu. French~ :3
Ya, chapter terpanjang selama ngetik fic ini. :P Entah kenapa, ide lagi banjir... mengingat diri ini lagi seneng~ hahay. x) Thanks for Loki and my lil'bro who give me the idea for Hana's scenes *maksa padahal grammar ancur* Haha. Btw, ada yang tau nama ayah+ibu Kiba?
Thanks for all reviewers:
Shirayuki Sakuya, Shia, Hiwatari Nana-chan. 7ven, Niero, lovely lucifer, dilia, ArdhaN, novan schiffer, Charlotte.d'Chaucemar, Aoi no Tsuki, himura kyou, dan nisa vierstein.
Thankies, all! Love y'all!
See you on chapter#5!
