Summary: Sex friend, begitu yang Naruto katakan tentang hubungannya dengan Uchiha Sasuke dan Sasuke sendiri tidak terlalu peduli fuck buddy-nya itu menyebut hubungan mereka seperti apa. Selama itu menyenagkan, kenapa tidak. Begitu pikir mereka. Tapi benarkah sesederhana itu?

A/N: Yo! Chap kali ini saya buat sedikit panjang. Sebagai ganti buat chap kemarin yang emang pendek sekali, cuman 1k lebih di luar author note-nya. Dan terima kasih buat lagu-lagu ONE OK ROCK yang telah membantu mood saya membaik dan saya bisa mengetik dengan lancar (Kyaaaaa... Taka~ suaramu keren sekali). Jadi, selamat membaca. Semoga kalian suka. XD

Disclaimers: Naruto belongs to Kishimoto sensei!

Rate: M

Pairing: SasuFemNaru

Gendre: Friendship, romance, humor, drama and hurt/cumfort

Warning: Gender switch, Alternate Universe–Modern Setting, OOC, Typo, Kata yang berulang dan kekurangan lainnya.

.

.

.

CRAZY STUPID LOVE

Kenozoik Yankie

.

.

.

Sasuke, terbangun dari tidurnya. Tangannya merayap ke meja nakas untuk mengambil jam beker, rupanya masih pukul dua dini hari. Yeah, ini terlalu awal untuk bangun tidur. Hanya saja, bagai pria muda dengan rambut berwarna gelap tersebut, sudah merupakan hal yang wajar baginya. Ia sudah mengalaminya selama kurang lebih dua belas tahun dan semakin sering semenjak Itachi kembali dengan tiba-tiba. Menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, Sasuke kemudian terdiam sambil menatap lurus kearah dinding. Fokus masalahnya pada Itachi mungkin sangat kekanakan jika mengingat usianya sekarang. Hanya saja, mengingat semua yang di laluinya setelah Itachi pergi dari rumah tidak begitu saja bisa di lupakannya. Fuck! waktu itu seperti neraka. Apa lagi ayahnya yang kecewa pada Itachi, melimpahkan semua yang dulu di bebankan oleh Itachi, kepadanya. Saat itu, ia bahkan belum bermimpi basah. Ayahnya mendidiknya dengan keras, berkali-kali lebih keras di bandingkan saat Itachi masih berada di tengah-tengah mereka. Ayahnya berdalih, bahwa semua yang ia lakukan merupakan untuk kebaikan Sasuke sendiri, agar tidak mengikuti jejak Itachi yang membuat malu klan mereka yang terkenal elit.

Dua bulan setelah Itachi meninggalkan rumah. Fugaku Uchiha dengan wajah datar bertitah dengan nada dingin kepada orang kepercayaannya untuk mengirim Sasuke kesebuah sekolah berasrama dengan kurikulum militer yang di pimpin oleh seorang pria tua berambut panjang yang bermata ular. Bahkan Sasuke yang masih belia saat itu baru tahu kalau sekolah berasrama dengan sistem militer seperti itu di negara mereka benar-benar ada. Sasuke tidak bisa berbuat banyak atau mengadu pada ibunya—mikoto, mengatakan bahwa ayahnya sudah gila di sebabkan kepergian Itachi. Karna, jauh hari Fugaku sudah terlebih dahulu mengatakan kepada istrinya kalau Sasuke akan tinggal di apartemen dekat sekolahnya dan tidak boleh di kunjungi agar ia bisa lebih mandiri, awalnya Mikoto menentang keinginan suaminya tapi Fugaku berkilah kalau ini lebih baik, agar Sasuke tidak terlalu terpukul atas kehilangan kakak satu-satunya, mengingat mereka sangat dekat dan Mikoto pun setuju.

Selama tujuh tahun, Sasuke menjalani hari-harinya di sekolah tersebut dengan penuh tekanan baik mental maupun fisik. Dan di sanalah ia belajar kalau di dunia ini kepercayaan hanyalah sebuah dongeng atau mitos yang biasa di syairkan oleh para pujangga yang hanya bisa berkata-kata manis tanpa mampu merealisasikannya di kehidupan mereka. Kepercayaan sama halnya jika kau percaya jika UFO itu ada dan yang menembak keluarga Kennedy merupakan organisasi sayap kanan yang sudah bertahan selama kurang lebih dua abad. Intinya, Sasuke mengidap Pistanthrophobia atau ketakutan untuk percaya pada orang lain. Karna semua orang yang di percayainya, baik itu Itachi dan ayahnya bahkan ibunya, menurutnya telah menghianatinya. Memangnya apa yang kalian harapkan dari seorang anak berusia tiga belas tahun yang hidup di tengah-tengah keluarganya yang tentram. Lalu, suatu hari saat ia bangun pagi, mendadak di hadapkan pada kenyataan kalau kakak yang selama ini yang di percayainya, yang selalu mengatakan tidak akan meninggalkannya sendiri bersama Ayah mereka yang dingin atau apapun yang terjadi mereka akan melaluinya bersam-sama, meninggalkan rumah tanpa mengatakan apapun padanya, sedangkan sikap ayahnya yang keras tidak membantu sama sekali di tambah lingkungan sekolah berasramanya yang menganut hukum rimba. Aku rasa siapapun akan mengalami trauma.

Dengan bersikap baik dan sempurna versi ayahnya—tentunya. Sasuke berhasil membujuk Fugaku untuk memindahkannya di Business and Management University of Konoha, di saat usianya dua puluh tahun. Di sanalah ia bertemu dengan Suigetsu—asistennya yang sekarang, Karin dan Jugo. Sasuke tidak menganggap mereka sebagai 'teman' pada umumnya, apalagi orang yang ia percaya. Ia menganggap, mereka bertiga sebagai sesuatu yang bisa di manfaatkannya dan jika ia sudah bosan atau melihat tindak tanduk ketiganya mencurigakan Sasuke akan dengan mudah menendang mereka dari kehidupan yang saat itu sudah normal.

"Sasuke, kau kau baik-baik saja?"

Suara seseorang di balik pintu kamarnya mengembalikannya pada kenyataan. Mengumpat, Sasuke beranjak dari atas tempat tidur dan berjalan kearah pintu lalu membukanya.

"Apa kau mimpi buruk? Aku mendengar suara berisik dari dalam." Tanya orang itu dengan mimik khawatir.

Sasuke sendiri hanya diam saja, menatap orang di depannya seperti pengganggu.

Melihat respon Sasuke yang seperti itu, orang itu merasa canggung sekarang. "Baiklah, maaf kalau aku mengganggumu. Tapi, jika kau tidak bisa tidur lagi, bagaimana kalau kita menonton pertandingan ulang Seidou vs Inashiro? Aku sudah membuat dua gelas coklat panas." Ajak orang tadi yang tak lain adalah kakaknya sendiri, Itachi Uchiha di sertai senyum hangat.

Sasuke tidak menjawab, ia hanya berjalan keluar kamar dan menuju ruang tengah yang merupakan tempat di mana televisi berada. Lalu duduk dengan tenang di sana, sedangkan si Uchiha sulung dengan senyum yang masih menghiasi bibirnya mengikutinya dari belakang.

"Huh~ aku pikir ia akan menolakku."

...

...

Itachi, sebenarnya tidak benar-benar mengajak adiknya yang kini dingin itu untuk menonton pertandingan baseball bersama. Karna sebenarnya ia tidak terlalu mengerti dengan salah satu cabang olahraga tersebut. yang ia tahu sejak kecil Sasuke sangat menyukai baseball dan team Seidou—salah satu klub besar yang banyak di puja di lima negara besar. Jadi, kalau pun Sasuke menolak, Itachi akan mencari cara lain agar ia bisa memperbaiki hubungannya dengan adiknya—apapun, asal ia dan Sasuke bisa sedekat dulu.

Pria tampan yang terlihat matang itu, melirik ke arah adiknya yang nampak sangat serius mengikuti pertandingan. tapi tidak seheboh dulu sewaktu terakhir kali ia menemani Sasuke menonton pertandingan baseball.

Apartemen...ah, tidak. Melihat betapa luasnya tempat tinggal si Bungsu Uchiha, Itachi lebih senang menyebutnya sebagai penthouse. Yah, meskipun apartemen ini tidak berada di lantai tertinggi gedung. Mungkin, jika ia tidak meninggalkan rumah, ia akan memiliki yang lebih dari ini. Tapi, Itachi tidak menyesali keputusannya di masa lalu. Memangnya siapa yang akan tahan dengan cara didik ayahnya yang otoriter, yang hanya peduli dengan kehormatan klan dan bagaimana memperbesar kerajaan bisnisnya di segala bidang. Itachi masih ingat dengan jelas wajah Ayahnya saat ia mengatakan kalau dirinya seorang gay, Fugaku langsung menyeretnya sendiri sampai kepintu gerbang rumah mereka yang besar, mengatakan kalau ia bukan lagi seorang Uchiha. Karna seorang Uchiha tidak akan berperilaku menyimpang seperti halnya dirinya. Huh~ rasanya saat itu Itachi ingin tertawa melihat adanya ekspresi di wajah Fugaku yang biasanya datar yang terkesan dingin itu. Lucu sekali. Hanya satu yang ia sesali yaitu kenapa waktu itu ia tidak membawa serta Sasuke, agar hubungan mereka tidak perlu merenggang seperti sekarang. Itachi, tidak bisa membayangkan apa yang sudah di lalui oleh Sasuke hingga bisa merubahnya sampai seperti ini. Adiknya memang pendiam tapi tidak dingin seperti ini. Adiknya bahkan tumbuh sedikit mirip dengan sifat ayah mereka yang dingin. Dan itu mengerikan untuk Itachi. Ia jadi merasa bersalah, sangat wajar memang kalau Sasuke membencinya.

"Eh, Ototou. Kau mau kemana?"

Sasuke yang saat itu sudah beranjak dari sofa, berbalik ke arah Itachi dengan mimik heran dan menatapnya seperti sesuatu dari dunia lain. Sedangkan Itachi sendiri merasa penasaran karna di tatap seperti itu pun kembali bertanya.

"Apa?"

"Pertandingan sudah berakhir dari tiga puluh menit yang lalu, dan kau hanya diam saja semenjak menyentukan bokongmu di sofa itu. Aku bahkan mengira kau sudah mati karna tak bersuara atau bergerak sama sekali."

"Huh?"

"Ck, sikapmu mengiangatkanku pada si bodoh itu" Kemudian meneruskan langkahnya menuju kamar tidurnya. Sedangkan Itachi masih di sana dengan ekspresi bodoh yang terlihat kebingungan.

...

...

Gempa bumi dan tsunami mungkin akan menghantam Konoha dalam waktu dekat. Pasalnya, Naruto Namikaze Uzumaki yang di kenal sangat sulit bangun pagi pada saat akhir pekan, kini terlihat mondar-mandir di apartemennya dengan hanya memakai kemeja putih polos berlengan panjang yang terlihat kebesaran di tubuhnya—milik seseorang yang tidak sengaja ia temukan di bawah tempat tidur, tiga hari yang lalu saat ia membersihkan kamar tidurnya dari kekacauan yang di perbuatnya bersama sex friend-nya, Sasuke Uchiha. Hari itu, Sasuke langsung menyerangnya saat ia mendorong Naruto masuk kedalam apartemen sambil membekap mulutnya dengan tangan. Sasuke terlihat berbeda pagi itu—ia lebih emosional saat melakukannya dan lebih kasar dari biasanya sambil mengucapkan kata-kata yang terdengar rancau di telinga Naruto yang sedang kepayahan mengimbangi pergerakan Sasuke yang menggila. Naruto sempat keberatan dengan cara Sasuke mempelakukan dirinya yang berbeda dari biasanya. Tapi, itu hanya sebatas keberatan yang tak terucap. Karna toh, ia menikmatinya juga. Naruto bahkan berpikir mungkin ia memiliki sedikit jiwa masokis di dalam dirinya. Lagi pula melakukan seks dengan brutal kedengarannya tidak terlalu buruk.

Di akhir pekan yang ajaib ini, wanita muda itu bangun pukul enam pagi tadi. Naruto bangun sepagi itu karna ia akan mengunjungi rumah orang tuanya pukul sepuluh nanti. Berbicara tentang orang tuanya—tepatnya ayahnya, Naruto jadi merasa kesal sendiri. Bagaimana tidak, ayahnya mulai rewel lagi dengan cara terus menerus meneleponnya dan mengancam akan tinggal bersamanya jika Naruto tidak datang mengunjungi mereka (baca ayahnya). Padahal, seminggu yang lalu ia sudah berkunjung ke sana selama dua hari.

Beep...Beep...Beep...

"Sebentar..." Teriaknya. Lalu, beranjak dari atas sofa. sesampainya di depan pintu, ia tidak langsung membukanya, melainkan ia menyempatkan diri mengintip pada lubang yang ada di tengah pintu. Dahinya lalu mengeyit saat mengetahui siapa yang berberkunjung sepagi ini ke apartemennya di akhir pekan. Menghela napas ia kemudian membukanya.

"Ada apa?" Tanyanya sambil menyenderkan bahunya di kusen pintu apartemennya.

Bukannya menjawab, sang tamu malah bertanya balik kepada Naruto. "Bisakah kau mempersilahkan aku untuk masuk lebih dulu?"

Terdiam. Naruto nampak berpikir, di tandai dengan dahinya yang berkerut. "Hm, baiklah." Sambil menyingkir dari depan pintu. "Dan aku harap kau punya alasan yang tepat kali ini" Lanjutnya. Meninggalkan sang tamu di belakangnya yang sedang menutup pintu.

...

...

Naruto menghempaskan dirinya di sofa, lalu kembali mengambil remote TV dan mulai memindahkan channel—menghiraukan tamunya tadi. Naruto terus seperti itu sampai ia mulai jengah karna tamunya terus saja menatapnya tanpa berkedip.

"Apa?" Tanyanya tanpa melihat sang tamu.

"Buatkan aku makanan, aku lapar." Jawab sang tamu dengan nada datar sambil merebut remote TV di tangan sang tuan rumah.

Mengerling sang tamu, "Eerr..Aku bukan pelayanmu jika kau lupa, Tuan." Kata Naruto, sambil menekankan kata Tuan dalam nada bicaranya.

"Aku tidak menyebutmu pelayanku, aku hanya mengatakan 'Buatkan aku makanan, aku lapar.' Itu saja." Tuturnya dengan mata yang kini tertuju ke depan ke arah televisi.

"Apa kau sudah jatuh miskin hingga datang ke mari meminta makan padaku" Tanyanya sarkastik.

"Aku tidak jatuh miskin. Aku justru sangat sulit menghabiskan uangku yang sepertinya tidak ada habisnya itu." Tuturnya menyombongkan diri.

"Lalu, kenapa kau kemari, meminta makan padaku?"

"Aku hanya sudah bosan makan makanan restoran dan makanan beku."

"Kalau begitu minta Ibu mu membuatkanmu, brengsek!" Kata Naruto sambil menegakkan punggungnya lalu menghadap kearah tamunya itu.

"..."

Naruto yang melihat tamunya terdiam setelah mendengar perkataannya jadi merasa bersalah. Apa lagi di tambah wajah tamunya itu mulai menggelap di sertai bahu yang nampak menegang. Naruto bertanya-tanya, apa ia salah bicara? Duh! Salahkan mulutnya yang kasar jika itu berhubungan dengan makhluk berengsek di hadapannya ini.

Menghela napas, "Baiklah, aku akan membuatkanmu makanan. Kau ingin aku masakan apa, Sasuke?" Tanyanya dengan lembut.

"..."

Sasuke masih membungkam mulutnya. Ia bahkan nampak enggan menatap wanita muda itu. Karna merasa di abaikan dan sepertinya Sasuke dalam mode tidak mau berbicara dengannya, Naruto lalu menuju ke dapur yang bersambung dengan ruang tengah tempat mereka duduk tadi. Dengan cekatan wanita muda itu pun memasak apapun yang bisa membuat mood Sasuke membaik.

...

...

Karna mencium bau lezat yang berasal dari belakangnya, Sasuke kemudian beranjak dari sofa dan mulai berjalan ke arah seorang wanita muda berambut pirang yang menggelung rambut panjangnya dengan asal—menyisakan anak rambutnya jatuh di sekitar wajah dan tengkuknya. Belum lagi kemeja putih polos kebesaran yang di kenakannya. Sasuke bahkan bisa melihat dengan samar warna dalaman yang di kenakan wanita muda tersebut. lalu, ya Tuhan. Wanita gila itu tidak memakai bra sama sekali. Pria muda itu pun berpikir kalau Naruto sedang menggodanya sekarang. Tadi sewaktu mereka masih duduk berdua di sofa, sasuke dapat melihat dengan jelas cetakan puting payudara si pirang. Dammit! Dia terlalu seksi.

"Apa yang kau buat?" Tanya Sasuke sambil meletakan dagunya di bahu Naruto.

"Ya, Tuhan! Sasuke, kau mengagetkanku." Hardik Naruto.

Mematikan kompor, ia lalu mengambil sebuah piring dari cabinet. Wanita muda itu pun mengisinya dengan sosis, scrambled eggs dan beef bacon. Naruto kemudian menaruh piring tadi yang kini sudah terisi penuh dengan makanan di atas meja counter dan menyuruh tamunya untuk duduk di bar stool.

"Aku ingin jus tomat" Kata Sasuke saat Naruto ingin menuangkan jus jeruk ke gelasnya.

Mengepalkan tangannya sambil menenangkan dirinya yang mulai ingin meledak lagi, ia pun menjawab. "Sasuke, aku tidak punya jus tomat." Memijit pelipisnya sebentar Naruto pun kembali melanjutkan. "Dan aku juga tidak mempunyai buah tomat untuk di buat jus. Jadi, bisa kau minta yang lain?" Tanya dengan nada lelah

"Kalau begitu air putih saja dan temani aku makan di sini" Katanya dengan nada perintah.

"Oke"

...

...

Setelah Sasuke menghabiskan sarapannya yang terlambat, Naruto kemudian membereskan piring bekas makan tamunya itu, lalu meletakkannya di bak cucian piring dan langsung mencucinya. Di belakangnya, Sasuke masih di sana duduk dengan tenang di atas bar stool dengan mata menatap lurus ke arah di mana Naruto berdiri membelakanginya. sedangkan Naruto sendiri yang merasa seperti di awasi mulai agak risih, belum lagi rasa gugup yang terus-menerus menderanya entah kenapa, ia juga tidak tahu.

"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak suka." Tegur Naruto tanpa berbalik sambil membilas peralatan dapur dan bekas makan Sasuke.

Menopang dagu, Sasuke pun menjawab. "Percaya diri sekali. Aku tidak sedang menatapmu. Tapi, aku sedang menatap bokongmu dan sepertinya aku mengenal kemeja yang kau kenakan itu" Katanya sambil tersenyum miring menyebalkan.

Seketika gelas yang di pegang oleh Naruto tergelincir dari tangannya—jatuh ke dalam bak cucian piring berbenturan dengan peralatan lain, menimbulkan bunyi yang cukup berisik. Mengumpat, wanita golden blonde tersebut lalu membereskan dengan cepat pengerjaannya, kemudian meninggalkan dapur dengan langkah kaki yang di hentak-hentakan—kesal.

"Kau mau kemana?" Tanya Sasuke.

"Aku ingin mandi" Jawabnya tanpa berbalik.

"Boleh aku ikut?"

"Dalam mimpimu Uchiha!" Lalu masuk kedalam kamarnya dengan membanting pintu, meninggalkan Sasuke dengan senyum sumringah di wajahnya—nampak puas karna telah membuat sebal Naruto hari ini.

"Hn, dia bisa bersikap manis juga ternyata" Kemudian kembali duduk di sofa dengan nyaman, seakan-akan ia berada di apartemennya sendiri. Sepertinya Sasuke mulai gila, kawan.

...

...

Hari yang sangat menguras kesabarannya yang memang hanya sepanjang sumbu petasan korek api—sangat pendek. Intinya, Naruto bukan orang yang sabar. Akhir pekan ini sepertinya akan menjadi hari terburuknya. Ia menyesal tidak membaca apa yang ramalan bintangnya katakan tentang hidupnya hari ini. Gheeezz...benar-benar menyebalkan si Uchiha itu.

Sepanjang waktu mandinya, wanita muda itu habiskan hanya untuk terus-terusan menggerutu sambil mengutuk Sasuke Uchiha yang menurutnya makin berengsek, menyebalkan, tampan, berengsek dan tampan hari demi hari. Tunggu! Ia telah mengatakan kata berengsek dan tampan sebanyak dua kali. Ugh, goddammit!

Belum lagi wajahnya sekarang masih memerah. Apa jadinya kalau Uchiha brengsek itu tahu kalau ia merona karna dirinya? Ia pasti akan di tertawakan habis-habisan oleh si berengsek itu. Mana mungkin aku mulai menyukainya, itu sangat mustahil. Ck, sepertinya aku mulai gila. Ingat Naruto, Uchiha itu jauh lebih berengsek dari Gaara. Jadi, sangat mungkin ia akan menyakitimu lebih dari apa yang Gaara lakukan padamu. Ya, walaupun kau masih sedikit banyak masih menyimpan sekotak hatimu yang berdebu pada Gaara—La douleur exquise-mu itu. Lalu, membuatmu mengidap sesuatu yang di sebut gamophobia. Hmm, meskipun kau tidak menyadarinya juga sih.

Setelah menyelesaikan mandinya yang cukup lama karna di selingi oleh umpatan. Naruto kemudian keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk sebatas paha atasnya dan ia terkejut. Karna sekarang orang yang telah menjadi sasaran kutukannya itu sudah duduk tampan di atas tempat tidurnya sambil membuka sesuatu yang seperti album foto.

"Apa yang kau lakukan di kamarku Uchiha?!" Tegurnya yang kini masih berdiri di depan pintu kamar mandi.

"Kau tidak lihat, aku sedang melihat album foto?" Kata Sasuke datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari album foto di depannya.

"Keluar dari kamarku sekarang!" Teriak Naruto sambil menghampiri Sasuke dan menariknya turun dari tempat tidur.

Kesalahan fatal pikir Sasuke dengan senyum miring yang kembali terlihat di sudut bibirnya dan dengan sekali sentak, Naruto—wanita muda pemilik kamar yang hanya mengenakan handuk pendek itu di sertai bulir-bulir air yang belum mengering dari rambut dan tubuhnya, kini jatuh terhempas di atas tempat tidur dengan Sasuke yang berada di atasnya.

"Menyingkir dari atas tubuhku" Kata Naruto, mendesis.

Merendahkan tubuhnya ke arah telinga wanita muda yang ada di bawahnya, "Aku ingin kita bergumul sekarang, bagaimana menurutmu?" Bisiknya.

"Aku tidak tidak bisa, aku akan keluar hari ini." Tolak Naruto.

"Benarkah?" Tanya Sasuke dengan nada main-main, "Tapi aku ingin melakukannya sekarang, kau ingat perjanjiannya kan, Namikaze Uzumaki-san." Kata Sasuke dengan penuh penekanan.

Memalingkan wajahnya ke samping sambil menutup matanya sebentar lalu membukanya kembali Naruto pun menjawab "Baiklah. Tapi, lakukan dengan cepat."

"Aku tidak janji." Jawab Sasuke yang di tanggapi pelototan mata oleh si pirang.

Sasuke kemudian menelusuri kulit leher Naruto dengan jari telunjuk dan tengahnya. Lalu, turun ke tulang selangka si pirang—membuat wanita muda itu merinding seketika, membuatnya memalingkan wajahnya lagi sambil menutup mata. Napas Sasuke menghangatkan kulit sekitar rahangnya. Dan setelah sampai di dekat payudara Naruto yang tertutupi handuk, Sasuke lalu berhenti. Kemudian, dengan perlahan ia bangkit dari atas tubuh Naruto dan berjalan ke arah pintu kamar tersebut. Naruto yang sebenarnya mulai relax dengan sentuhan Sasuke, sama sekali tidak menyadari kalau sex friend-nya itu tersenyum geli di balik wajah datarnya sambil bangkit dari atas tubuhnya.

"Hoi, mesum. Buka matamu dan berpakaianlah, aku akan mengantarmu" Seru Sasuke

Naruto langsung membuka matanya, yang hanya mendapati pemandangan langit-langit kamarnya. Tidak ada Sasuke dengan perut berkotak enamnya di sana, dan Naruto merasa sangat bodoh sekarang. Ternyata, Sasuke hanya menggodanya. Astaga, rasanya malu sekali. Ia kemudian bangkit dan mencari keberadaan pria berengsek tapi sangat hot itu, yang kini di dapatinya sedang bersandar di kusen pintu kamarnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada—menatapnya dengan binar geli yang kentara di kedua mata berwarna gelapnya. Refleks, Naruto mengambil bantal dan melemparkannya ke arah Sasuke yang berhasil menghindar. Lalu, menutup pintu kamar. Bahkan Naruto bisa mendengar tawa Sasuke dari luar kamarnya sekarang.

"Aku benar-benar membencinya. Aku tidak akan menyukai orang berengsek seperti itu. Aaaaarrrgghh...Uchiha sialan..."

...

...

"Tidak usah mengantarku. Aku akan menyetir sendiri."

"Bukankah kau bilang mobilmu berada di bengkel?" Tanya Sasuke dengan mata memicing.

"Aku akan menelepon taxi kalau begitu." Kata Naruto masih dengan wajah yang di tekuk dalam.

"Ayolah, Naruto. Aku hanya menggodamu sekali dan kau marah seperti ini? The Heck! Kau bahkan sangat sering memperlakukanku hingga merasa sangat buruk. Tapi, lihat. Aku sama sekali tidak sampai semarah seperti dirimu." Memegang kedua pundak Naruto untuk membuatnya berhadapan dengan dirinya, "Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku karna kau telah membuatkan makanan untukku. Meskipun tidak enak"

"Dan kau menghabiskannya." Cibir Naruto membuang muka, tidak sudi ikut menatap Sasuke yang kini menatapnya.

"Masuklah, kau dan aku mulai menarik perhatian" Kata Sasuke sambil membuka pintu mobil dan memaksa Naruto untuk masuk kedalam. Setelah Naruto duduk dengan tenang, Sasuke kemudian ikut menyusul masuk kedalam mobil berwarna biru gelap tersebut.

...

...

Setelah berkendara selama hampir dua jam yang di karenakan kemacetan yang di sebabkan suatu kecelakaan, akhirnya mereka tiba juga di Hidden Village—sebuah komplek perumahan yang mengusung tema pedesaan yang tenang dan hijau. Terletak di barat daya ibu kota negara api—Konoha. Tempat rumah orang tua Naruto berada. Seperti namanya, komplek perumahan tersebut benar-benar tersembunyi dari hiruk pikuk kota Konoha yang bising.

Mobil Sasuke memasuki sebuah pekarangan rumah tradisional dengan gaya modern. Sepanjang jalan memasuki Hidden Village tadi, Sasuke memperhatikan kalau rumah di kawasan ini semuanya di buat dengan gaya tradisional khas pedesaan yang halamannya di penuhi dengan tanaman hias dan beberapa bunga tumbuh di sana. Tak terkecuali rumah orang tua Naruto yang sudah di renovasi menjadi lebih modern.

"Naruto, kau yakin ini rumahmu?" Tanya Sasuke sesaat setelah ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah tersebut.

"Tentu saja. Setengah hidupku aku habiskan di sini." Jawab Naruto mulai tersinggung.

"Kau tahu, rumahmu sangat mirip dengan kediaman para yakuza dalam film." Kata Sasuke dengan nada mengejek.

"Terserah apa katamu." Kata Naruto sambil keluar dari mobil, "Kau juga keluar"

"Tidak, aku akan langsung pulang" Tolak Sasuke.

"Ck, sangat tidak sopan jika seperti itu. Ayolah"

Karna Naruto terus mendesaknya, akhirnya Sasuke menuruti juga perkataan Naruto untuk masuk kedalam rumah orang tuanya dan setelah mereka tiba di genkan.

"Lepas sepatumu" Tegur Naruto dengan berbisik.

"Di rumah orang tuaku kami tidak seperti itu"

"Itu di rumah orang tuamu. Jangan lakukan di rumah orang tuaku."

"Narutooo, kau datang rupanya" Seorang wanita paruh baya berambut merah yang wajahnya mirip Naruto menghampiri mereka dan langsung memeluk wanita muda berambut pirang itu. Sedangkan Sasuke hanya diam berdiri kaku melihat pemandangan itu. "Dan siapa pemuda tampan ini?"

"Dia temanku, Bu. Namanya Sasuke." Jawab Naruto

Sasuke kemudian mengangguk Kaku ke arah Ibu Naruto.

"Ayah di mana, Bu?"

"Dia ada di taman belakang bersama Gaara"

"Gaara?" Tanya Naruto menelan ludah.

"Iya, Gaara. Sana temui Ayahmu dan ajak Sasuke juga. Ibu akan membuatkan minuman untuk kalian" Kata wanita paruh baya berambut merah, kemudian meninggalkan Naruto dan Sasuke di sana.

Hening.

"Sebaiknya aku pulang saja. sepertinya aku hanya akan jadi pengganggu." Kata Sasuke setelah hening yang begitu lama. "Naruto, kau baik-baik saja? tanganmu dingin." Tanya Sasuke sambil menyentuh telapak tangan Naruto yang sedari tadi hanya diam setelah kepergian Ibunya.

"Sasuke..." Panggil Naruto dengan suara serak.

"Hn"

"Bisakah...kau tetap di sini? Kumohon." Naruto mengatakan itu sambil menggenggam erat tangan Sasuke—seperti ingin meremukannya dengan mata yang menatap kosong ke depan.

Sasuke tidak menjawab, ia hanya membalas genggaman tangan Naruto di sana—mengatakan kalau ia tidak akan kemana pun.

'Aku harus tahu apa yang terjadi sebenarnya antara Naruto dan laki-laki yang bernama Gaara itu. Harus!' Batin Sasuke sambil melirik Naruto yang berada di sampingnya.

To be continued...

A/N: Saya memilih baseball di sebabkan saya sekarang sedang terkena demam Diamond no Ace. Aaakkkkk anime itu keren sekali, jadi saya masukin nama-nama team yang ada di anime tersebut. terima kasih buat semua yang sudah review (walaupun saya gak balas satu-satu tapi saya baca kok dan saya sangat menghargai semua kritik dan saran yang masuk), favorit dan follow. Terima kasih buat silent reader juga.

La douleur exquise: perasaan sakit yang sangat dalam karena menginginkan seseorang yang tidak pernah bisa kamu miliki, La douleur exquise, biasanya di barengi dengan unrequited love atau cinta bertepuk sebelah tangan. Dalam kasus yang parah seperti yang di alami Naruto di fic ini akan mengakibatkan gamophobia atau ketakutan untuk menikah, pacaran atau berkomitmen dengan seseorang. Orang yang mengalami gamophobia bisa menyukai seseorang, tapi perasaannya bisa hilang kalau dia di ajak untuk berhubungan serius.

Oh, yah. La douleur exquise dan unrequited love yang di alami Naruto sedikit berbeda dalam fic ini dan saya akan buka secara perlahan di chap-chap selanjutnya. Jadi sampai jumpa~

Salam,

Kenozoik yankie ^^