A/N: This is still about their past (flashback is still here), maybe till next 1-2 chapter(s)


.

Malam itu Kuroko berniat untuk latihan lagi. Seperti biasa, ia akan berlatih setelah semua anggota tim basket pulang. Sebenarnya hari ini Kuroko ingin latihan bersama Aomine, sayangnya si pemuda tan itu tidak bisa menolak rengekan Momoi yang memintanya menemani belanja.

'Tidak apa. Momoi-san teman Aomine-kun juga. Aku bisa latihan sendiri'

Begitulah tanggapan Kuroko, berusaha menenangkan Aomine agar tidak terlalu sungkan padanya. Bagi Kuroko, pacar bukan seorang istri atau suami, belum ada ikatan sah untuk saling melarang ataupun dilarang. Tapi kalau soal cemburu memang sedikit mengganggu pikiran Kuroko.

"Sudahlah. Aku harus cepat latihan agar tidak perlu mengembalikan kunci gedung ketiga terlalu larut."


SOULFUL

Kuroko Tetsuya. Akashi Seijuurou. Aomine Daiki.

T

BL, OOC, typo[s], no edit, confusing, ambiguous

KnB is Fujimaki's


Chapter 3 – Akashi


.

Kuroko memeluk erat bola basket miliknya sambil berjalan ke gedung ketiga. Langkahnya terhenti sebelum sampai di tujuan. Samar-samar telinganya mendengar suara seseorang. Seseorang yang men-dribble bola di gedung ketiga. Tidak, Kuroko bukan takut. Ia hanya penasaran siapa yang berlatih pada jam seperti ini. Sepengetahuannya selama ini, hanya ia yang sering berlatih di atas jam 7 malam. Kecuali jika ada Aomine, mereka berdualah yang berlatih. Dan kesimpulannya itu membuatnya mengulum senyum kecil lalu mempercepat langkahnya ke gedung ketiga.

'Mungkin Aomine-kun sudah selesai menemani Momoi-san.'

Kuroko menghibur dirinya, berharap yang ada di dalam gedung itu adalah Aomine. Tangan Kuroko segera mendorong pintu itu hingga terbuka separuhnya. Kepalanya melongok ke dalam. Tapi yang dilihatnya bukan seorang pemudan tan berambut biru tua. Mendengar pintu terbuka, sosok itu menoleh ke arah Kuroko.

"Ah, Kuroko?"

Iris biru langit itu menangkap sosok pemuda yang tingginya hampir sama sepertinya. Pemuda dengan rambut sewarna darah itu tengah memegang bola dengan posisi hendak menembak bola ke arah ring. Mungkin bola itu akan terlempar kalau saja perhatian si pemuda merah itu tidak tersita oleh kehadiran Kuroko.

"Akashi-kun? Sedang apa?"

Akashi –pemuda yang ditemukan Kuroko tengah berlatih basket malam-malam itupun melepaskan bolanya dan memilih mendekati Kuroko.

"Kupikir aku bisa menemukan kalian di sini. Maksudku kau dan Aomine. Mungkin aku bisa ikut kalian berlatih bersama-sama, tapi sayang sekali ternyata sepi. Jadi kemana Aomine? Tidak biasanya kau sendirian Kuroko."

Kepala bersurai biru muda itu tertunduk lesu. Dari gelagat itu, Akashi menangkap ekspresi Kuroko yang merasa kesepian. Tangannya bergerak menuju puncak kepala Kuroko dan menepuknya pelan. Tentu saja hal itu membuat si surai biru menengadah. Akashi tersenyum tipis sambil mengusuk rambut Kuroko pelan.

"Jangan sedih. Mau kutemani latihan?"

Kelopak mata Kuroko melebar. Tadinya ia memang tidak apa-apa berlatih sendirian tanpa Aomine, tapi kalau ada teman yang menawari eksistensinya untuk membuat Kuroko merasa tidak kesepian, kenapa harus menolak? Yah meskipun itu bukan Aomine.

"Boleh, um, tapi Akashi-kun tidak ingin pulang? Bukannya Akashi-kun tidak pernah berlatih malam-malam?"

"Tidak, tidak. Aku sedang tidak ingin pulang sebenarnya."

"Tidak ingin pulang?"

"Sudahlah. Ayo cepat oper bolanya padaku."

Menit berikutnya, mereka memulai permainan basket. Keduanya saling merebut bola dan menembak. Tapi sayang sekali, hanya Akashi yang mencetak angka karena memang pemuda itu tak kalah hebat dari Aomine. Kuroko-pun terengah karena kelelahan setelah bermain beberapa puluh menit dengan Akashi.

"Ayo istirahat sebentar, Kuroko."

Setelah dua kali mengangguk, Kuroko mengikuti Akashi menghampiri bench di tepi lapangan. Akashi mengulurkan handuk pada Kuroko.

"Terima kasih Akashi-kun."

Kuroko menyeka keringat di pelipis dan lehernya. Sepertinya hari ini ia banyak mengeluarkan hasil ekskresi tubuhnya itu sampai-sampai handuk Akashi cukup basah dibuatnya.

"Akashi-kun maaf handukmu-"

Ucapan Kuroko berhenti ketika ia menemukan Akashi dengan mata tertutup di sampingnya. Kepalanya bersandar pada bangku di belakang mereka berdua. Entah Akashi tengah tertidur atau hanya memejamkan mata, yang pasti Kuroko tidak mau menganggu pemuda bersurai merah itu. Kuroko hendak berdiri dan berniat mengambil bolanya yang berada di tengah lapangan sebelum pergelangan tangannya ditarik oleh seseorang.

"Tidak. Jangan Pergi."

Mata pemuda yang menarik pergelangan tangan Kuroko masih terpejam meskipun ia menggumamkan sesuatu..

"Tetaplah disini. Jangan tinggalkan-"

Dan seketika itu pula mata itu terbelalak menampakkan iris sewarna ruby. Sadar dengan perbuatannya, Akashi melepaskan tangan Kuroko. Akashi mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih dan menariknya hingga menyentuh dada. Kepalanya telah tertunduk.

"Maaf Kuroko. Aku sepertinya mengigau."

Kuroko masih tidak menunjukkan respon, hanya saja tatapan kekhawatiran memancar dari matanya.

"Akashi-kun. Kau baik-baik saja?"

Akashi tidak menjawab. Kuroko tidak tahu sejak kapan nafas Akashi terlihat putus-putus, sesekali ia melihat Akashi tersengal dengan kepalan tangan semakin mengerat.

"Akashi-kun? Kau sakit?"

Kuroko tidak bisa lagi tidak merespon pada keadaan Akashi. Mungkin saja sosok di sampingnya itu tengah menahan kesakitan. Tapi karena apa? Kuroko tidak tahu. Kuroko meraih pundak Akashi dan meremasnya pelan. Berharap hal itu bisa menenangkan Akashi.

"Jangan–"

Akashi berbisik pelan, nammun cukup jelas untuk didengar Kuroko.

"Akashi-kun. Kau baik-baik saja? Mana yang sakit?"

"Tidak– "

Dan setelah satu kata yang digumamkan dari mulut Akashi keluar, sang pemuda berambut merah itu tumbang tak sadarkan diri. Ia ambruk di lengan Kuroko. Keringat yang mengucur deras dari wajah dan leher Akashi membuat Kuroko semakin panik. Ia mencoba menepuk pelan pipi Akashi, siapa tahu itu membuat sang pemilik pipi sadar kembali. Tapi nihil, dan Kuroko hampir saja kehilangan akal sampai ia menemukan ponsel merah di atas bangku dengan layar berkedip.

Tanaka-san is calling.


.

Kuroko merasa sedikit canggung dengan posisinya. Seseorang yang mungkin bernama Tanaka-san, yang sedang menyetir mobil Akashi itu sesekali meliriknya yang duduk di jok belakang. Tapi Kuroko tidak bisa berbuat apa-apa mengingat Akashi kini masih tak sadarkan diri dengan kepala berada di pangkuannya. Beruntunglah tadi ia menerima panggilan dari sopir pribadi Akashi itu.

"Maafkan saya. Saya harus merepotkan anda untuk membawa Tuan Muda pulang."

Kuroko tersenyum canggung.

"Tidak apa-apa. Aku hanya takut terjadi sesuatu dengan Akashi-kun. Sepertinya ia sedang tidak baik-baik saja."

"Tuan Muda mungkin kelelahan. Dan saya senang karena ini pertama kali saya melihat Tuan Muda bersama seseorang. Apakah anda teman Tuan Muda?"

Kuroko mengangguk.

"Saya Kuroko Tetsuya, teman baru Akashi-kun."

"Senang berkenalan dengan anda Kuroko-kun."


.

"Aku sedang di rumah Akashi-kun."

"Apa? Bagaimana bisa Tetsu?"

"Akashi-kun tadi terlihat sakit saat kami latihan basket. Aomine-kun sudah pulang?"

"Sudah, tadinya aku mencarimu ke sekolah. Tapi di sana tidak ada orang, kukira kau sudah pulang."

"Aku mengantar Akashi-kun pulang dulu."

"Ya sudah. Ini sudah malam, perlu kujemput ke rumah Akashi?"

"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri, Aomine-kun tenang saja."

"Baiklah. Hati-hati di jalan Tetsu. Jika sudah di rumah telepon aku segera."

"Ya. Sampai nanti."

Kuroko mengakhiri panggilannya. Dia masih berada di kediaman keluarga Akashi. Rumah yang sangat besar untuk seorang pemuda yang tinggal sendirian, kecuali kalau dihitung dengan jumlah pelayannya.

"Kuroko-kun. Sekali lagi maaf merepotkan anda. Saya akan mengantar anda pulang setelah ini."

"Ah terima kasih. Aku pulang sendiri saja."

Kuroko melirik Akashi yang masih memejamkan mata di depannya. Ia berada di dalam kamar Akashi. Ia duduk di tepi ranjang Akashi karena tadi berniat membantu Tanaka-san menggendong Akashi walaupun pada akhirnya Tanaka-san sendiri yang menggendong dan Kuroko hanya mengekor di belakang.

"Kuroko-kun sudah menemani Tuan Muda sampai rumah, giliran saya yang akan mengantar anda pulang."

"Ah tapi-"

"Saya kira jika Tuan Muda sudah sadar, beliau juga akan memaksa mengantar anda pulang. Jadi biarkan saya menggantikan Tuan Muda sebagai rasa terima kasih."

"Baiklah."

Kuroko menghela nafas pendek. Akhirnya ia tidak bisa menolak tawaran Tanaka-san untuk mengantarnya pulang. Irisnya kembali terarah pada sang Tuan Muda Akashi yang masih belum ingin membuka kelopak matanya. Da ia berpamitan pada sang Tuan Muda saat Tanak-san sudah di ambang pintu kamar Akashi memberitahukan bahwa mobil sudah siap untuk mengantar Kuroko pulang.

"Aku pulang dulu Akashi-kun. Cepat sembuh."

Hal berikutnya yang Kuroko lakukan adalah berbalik dan beanjak menjauh dari tempat tidur Akashi. Entah benar atau tidak, tapi Kuroko samar-samar mendengar suara bisikan.

"Jangan pergi."

Kuroko sempat menolehkan kepalanya ke belakang. Hal itu membuat Tanaka juga ikut menoleh ke arah Kuroko yang sedang menatap Akashi dalam. Tanaka mengulum senyum tipis melihat keduanya dan memutuskan untuk mendekati Kuroko.

"Tuan Muda selalu seperti itu jika sedang merindukan Nyonya Besar."

Tanaka membuka suara. Kaki tangan Akashi menatap tuannya dengan pandangan sendu meskipun senyum masih belum sirna dari wajahnya.

"Dan untuk pertama kalinya, Tuan Muda menunjukkan sisi lemahnya pada orang lain."

"Aku tidak mengerti, Tanaka-san."

Pria paruh baya itu melebarkan senyumannya pada Kuroko. Kemudian Tanaka berbalik dan mempersilahkan Kuroko mengikutinya untuk segera mengantar pemuda bersurai biru itu pulang.

"Kuroko-kun pasti bukan orang sembarangan bagi Tuan Muda. Pasti anda teman yang begitu berharga."


.

OMAKE:

"Kenapa Tuan Muda tidak segera pulang?"

Pria itu menatap sang tuan dengan wajah sedikit khawatir. Tidak biasanya sang tuan mau berada di sekolah lebih lama setelah menyelesaikan kegiatannya dengan klub basket.

"Tidak apa-apa. Ayah pasti juga belum pulang. Lagipula, aku ingin menemui seseorang. Kau boleh pulang duluan atau menunggu di sini. Jika aku ingin pulang akan kuhubungi nanti."

Akashi yang berlari ke arah salah satu gedung latihan di sekolahnya terlihat berbeda di mata sopir pribadinya sekaligus orang kepercayaannya. Tidak pernah sekalipun, sejak ibu Akashi meninggal, sang tuan muda menunjukkan wajah se-antusias ini. Tanak seolah melihat Akashi kembali, seperti ketika sang ibu masih bersamanya.


.

'Tanaka-san, sampai anakku menemukan orang yang berharga baginya, tolong kau jaga dia.'


Agaknya ini bukan chapter yg baik. Huhuhu, karena seharusnya memang di apdet dengan chapter yg greget. Tapi apalah daya…