Lily dan kembang api adalah dua hal yang berbeda.
Masing-masing unsur mereka tak ada yang sama.
Tapi bagaimana jika lily dan kembang api mencoba hidup dalam satu.
Apakah akhirnya lily dan kembang api menemukan kesamaan diantara mereka.
Naruto by. Masashi Kishimoto
Yuri To Hanabi (Lily And Fireworks) by. IceQueen Rei-chan Yuki
T
NaruSasu/SasuNaru?
Family/Romance/Hurt/Comfort
Shonen-ai, OOC, AU.
Chapter 4: Hotaru (Firefly)
Kalian tahu? Cahaya kecil yang memiliki jiwa bukanlah lilin. Lilin tak bisa mengajakmu menari. Cahaya lilin dapat terpadamkan oleh sebuah batasan.
Cahaya kecil itu menari dan hanya padam jika usia merenggut nyawanya.
Dentingan antara sendok dan piring menjadi satu-satunya suara di ruang makan. Semenjak kejadian kemarin, Naruto pingsan tiba-tiba, Minato tak lagi melihat Naruto marah pada Sasuke. Bukan berarti pula mereka sudah akur. Minato tidak melihat begitu. Mereka saling mendiamkan. Atau lebih tepat, Naruto mengacuhkan Sasuke.
Biasanya Naruto akan menyuruh Sasuke menjaga jarak dengannya. Sekarang tidak. Naruto diam saja saat Sasuke duduk disebelahnya.
Tak jarang tangan mereka mengambil satu benda bersamaan. Seperti mengambil sapu tangan, mereka mengambilnya dalam waktu yang sama dan tanpa sengaja tangan mereka saling menggenggam. Walau samar, Minato melihat guratan merah di wajah mereka. Mungkin sebenarnya mereka memiliki perasaan yang sama. Semoga saja tidak. Minato ingin Naruto menganggap Sasuke sebagai adik. Jangan lebih dari itu.
"Naruto, kau sudah menyiapkan bunga lily untuk besok?"
Naruto melirik sebentar pada Minato. Ketika ekor matanya kembali pada makanan didepannya, dia mengangguk.
"Tousan, memangnya besok ada apa? Kenapa menyiapkan bunga lily?"
Pertanyaan Sasuke di sela oleh suara piring yang digeser.
"Aku sudah selesai." Dengan tergesa Naruto meninggalkan kursinya. Dia membanting pintu kamar, membuat Minato dan Sasuke sedikit tersentak.
Minato menghela nafas berat. Rupanya Naruto masih belum bisa menghilangkan rasa sakit ketika membicarakan ibunya.
"Besok, Hanabi Matsuri… juga hari peringatan kematian ibunya."
Mata Sasuke menatap pintu kamar Naruto. Pantas saja Naruto berbeda hari ini. Sepulang dari rumah sakit, Naruto langsung menuju rumah kaca, memetik setangkai lily dari sana. Sayup-sayup, Sasuke mendengar Naruto menyanyikan sebuah lagu dalam lirihnya.
"I hold you, My lily. I kiss you, My lily… Sleep well, sleep well… I sing this song and you go asleep… Good night, My lily…"
Atau mungkin masih ada kata lain dalam lagunya. Sasuke tak mendengar jelas karena Naruto menyanyikannya sambil menahan tangis.
Begitu dalam sakit yang ditahan Naruto sampai menghapus sifat aslinya. Apa ketika cahaya datang padanya, ia akan menyambut atau berdiam dalam kesepiannya. Bagaimana jika cahaya itu tak mampu membuatnya tersenyum. Seterang apapun cahaya itu, kesakitan Naruto tak akan hilang.
Tepukan di kepalanya menyadarkan Sasuke.
"Sasuke, bisakah kau membuatnya tersenyum besok?"
"Setiap hari peringatan kematian Kushina, dia selalu mengurung diri seharian di kamar. Meski satu hari, sebentar saja, aku ingin melihatnya tersenyum tulus, bukan berkata baik-baik saja dengan senyum palsunya."
"Aku berharap aku dapat melakukannya, Tousan."
Tak semua cahaya memberi bahagia. Adakala lebih baik membenci cahaya karena cahaya tak mampu menyembunyikan kenyataan. Ada saat kegelapan lebih baik karena kegelapan dapat menyembunyikan fakta. Setidaknya sampai hati siap menerima realita.
xXxXx
"Kaasan, benarkah Tousan akan pulang malam ini?"
Kelereng onyx polos itu mencari jawaban dari sang ibu. Di malam ini, ayahnya akan pulang. Tepat pada perayaan Hanabi Matsuri. Tentu saja dia tak bisa menyembunyikan raut bahagianya. Sejak lahir, dia sudah hidup terpisah dengan ayahnya. Kini akhirnya dia bisa melihat ayahnya langsung.
Tapi wajah ibunya ataupun kakaknya tak menunjukkan raut sama seperti rasa senangnya. Mereka bersedih.
"Kenapa kalian sedih? Harusnya kalian senang Tousan akan pulang. Kaasan, Aniki, kalian kenapa?"
Tak ada yang menjawab pertanyaannya. Suasana menegang. Jangan katakan ayahnya membatalkan kepulangannya.
"Kaasan. Aniki. Ke-"
"Diamlah, Sasuke! Tunggu saja jasad ayahmu sampai di rumah ini!" bentak ibunya sambil menangis.
Mata Sasuke membulat. Jasad? Jasad? Bukankah jasad artinya tubuh tanpa nyawa? Apa berarti ayahnya sudah…
"Jangan bohong, Kaasan! Tousan belum meninggal, iya 'kan? Dia belum meninggal! Belum!"
"Dia sudah meninggal! Terima itu, Sasuke!" ibunya menangis tersedu.
Bohong! Itu tidak mungkin! Dia tak boleh mati sekarang! Sasuke belum pernah berbicara padanya sekalipun! Kenapa dia harus pulang tanpa nyawa!
"Itu pasti orang lain, Kaasan! Tousan belum meninggal!"
Kenapa kesempatan melihat ayahnya harus dalam keadaan tanpa nyawa. Seharusnya ayahnya tak mati sebelum menemuinya. Seharusnya ayahnya mengatakan sesuatu sebelum meninggalkannya.
Yang harus diterima adalah takdir bukan mimpi. Yang dilihat haruslah kenyataan bukan penyangkalan. Bahkan sebelum argumen pertama ia lakukan, mati. Mati. Yang berarti eksistensinya lenyap dari muka bumi. Yang berarti tubuh terkubur dibawah gundukan tanah bertahta nisan.
Mati. Sebelum ia sempat mengatakan ayahnya seperti kembang api yang mewarnai hidupnya, seperti kembang api yang ia harapkan menemaninya. Tapi kembang api selalu pergi terlalu cepat sebelum berkata Sasuke menyayanginya, sebelum berkata Sasuke mengagguminya dan ingin terus bersamanya.
Dan cahaya itu tak pernah lagi hadir dalam hidupnya.
xXxXx
Keremangan menyambut ketika Minato masuk kamar naruto. Lampu-lampu kamarnya mati, cahaya disana hanya berasal dari sebuah lilin kecil.
Naruto duduk di meja belajar. Menatap foto dan bunga lily didepannya. Tatapannya benar-benar terluka. Inilah yang tak disukainya. Dia ditinggalkan sebelum merasa cukup kasih sayang dari ibunya.
Minato mengusap kepala Naruto dengan hati-hati. Jiwanya sedang rapuh, Minato takut melakukan hal yang salah sehingga dia membuat jiwa Naruto hancur.
"Kau merindukannya, Naruto?"
Rindu pada pelukannya, pada belaian sayang di kepalanya. Rindu pada kehangatan yang tak ia sadari telah menghilang darinya.
Air mata mengalir tanpa isakan. Naruto masih tak bergerak. Posisinya masih menatap lirih pada foto ibunya.
"Besok bunga lily untuk ibumu akan bertambah. Kau bisa memastikannya?"
Naruto mendongak untuk menatap Minato.
"Sasuke akan ikut. Dia adikmu sekarang. Dia keluarga kita."
Naruto mengubah posisi duduknya menghadap Minato. Dia menyandarkan kepalanya pada Minato.
"Kepalaku sakit," ucap Naruto ketika Minato hendak bertanya.
Minato mengelus kepala Naruto berulang-ulang. Perlahan rasa sakit di kepala Naruto terganti rasa nyaman.
"I hold you, My lily. I kiss you, My lily. Sleep well, sleep well…"
Minato mulai menyanyikan lagu Kushina. Dulu istrinya itu sering menyanyikannya untuk Naruto.
Kunang-kunang menyusup lewat jendela kamarnya, hewan kecil itu terbang mengelilingi Naruto juga Minato.
"…See the starry night outside, feel the warmness inside…"
Ia mengangkat jari telunjuknya, dan kunang-kunang itu hinggap di tangannya.
"…I'm beside you, My lily. Sleep well. Have a nice dream…"
Tatapan kosong Naruto perlahan melembut. Air matanya pun mereda. Rasa nyaman dari belaian Minato di kepalanya serta cahaya meneduhkan dari kunang-kunang di tangannya membuat dia tenang.
"…I sing this song and you go asleep…"
Serasa terhipnotis, Naruto diam memperhatikan cahaya kecil di tangannya. Kunang-kunang itu seakan tersenyum padanya. Dan Naruto balas tersenyum.
"…Sleep well, sleep well, My lily. I'm beside you…"
Pelukan pada Minato dieratkannya. Perasaannya kini sangat tenang. Meski bukan pertama kali Minato meemluknya, tapi pelukannya kini terasa seperti pelukan ibunya. Hangat dan menenangkan.
"…Good night, My lily…"
"Ng…" pelukan Naruto merenggang. Dia tak sadarkan diri lagi.
Minato membaringkan Naruto ke tempat tidurnya. "Oyasuminasai, Naruto."
Kunang-kunang tadi terbang memutari bunga lily dan foto ibunya, lalu hinggap di dada Naruto. Jika kunang-kunang itu bisa bicara, mungkin yang akan dia katakan adalah, dia juga ada untuk Naruto, menggantikan posisi ibunya, menggantikan cahaya yang hilang dari hidupnya. Mengatakan cahaya yang dia miliki tidaklah menghilang. Cahaya itu tetap ada dihatinya.
Kunang-kunang terbang mendekati gelapnya ruang untuk membagikan cahayanya. Meskipun kecil dan cahayanya tak mampu menjangkau semua ruang, dia tetap setia membagi sinarnya sampai detik terakhir.
Dia tak menyerah walau posisinya terganti cahaya yang lebih terang. Kunang-kunang masih ada disana, karena dalam hidupnya, ia telah memutuskan menyebar pengharapan pada jiwa-jiwa yang rapuh agar dapat melihat cahaya sampai ia tak sanggup lagi benderang.
Kunang-kunang datang menghampiri jiwa rapuh disekitarnya, dan membagi harapannya.
Cahayanya seperti sesuatu yang tak berharga yang bisa diganti dengan yang lain. Tapi saat kunang-kunang itu pergi, barulah akan terasa cahayanya yang tulus jauh lebih baik daripada benda mati yang diprogram untuk bersinar tapi tak punya jiwa didalamnya.
Ketulusan, lebih berharga dari kesempurnaan. Begitupun kunang-kunang. Ketulusannya akan selalu dikenang daripada kesempurnaan sebuah benda mati.
xXxXx
Ada berapa masa yang ia lewatkan, dia tak pernah menghitungnya lagi. Jika dia menghitungnya sama saja dia lemah. Dia tak bisa melindungi anaknya. Dia harus hidup, melindungi anaknya, mengembalikan jiwa rapuh Naruto menjadi jiwa yang kuat seperti dulu.
Kunang-kunang memasuki kamarnya. Hinggap pada bunga lily yang sedari tadi diperhatikannya. Dan semua perasaannya ia tumpahkan juga. Tidak dalam bentuk jeritan memilukan. Cukup setetes cairan bening mengalir dari sapphire-nya bersama lengkungan senyum tipis.
"Kau masih disini, Kushina..." Minato menyentuh dadanya. Memberi makna jika isterinya masih ada dalam ruang di dalam dadanya.
Kunang-kunang itu terbang mengelilingi Minato lalu keluar dari kamarnya dalam liukan yang indah. Minato mengartikannya sebagai tanda senang. Dia menganggap kunang-kunang itu adalah Kushina. Kushina masih bersamanya. Kushina tak pernah meninggalkannya. Kushina selalu ada menemani ketika malam dalam wujud kunang-kunang kecil.
Cahaya itu adalah kunang-kunang. Karena kunang-kunang mampu menemani dan mengisi jiwa-jiwa yang rapuh dengan ketulusan dan harapannya.
-To Be Continue-
xXxXx
di chap sebelumnya ternyata bagai lautan typo. Juga ada missing word. -_-'a
semoga di chapter ini nggak ada. Karena kalau masih ada, Rei bener-bener rabun dan harus segera periksa ke dokter mata .
CCloveRuki:
Aku suka lihat Sasu jadi uke XD
Wah, aku belum cari info lagi soal The Gazette. Dan chapter ini juga nggak terinspirasi dari the gazette, tapi dari Beethoven : Love Story Piano.
Sudah ku apdet. ^^
saiyuki ayaseharu:
hehe makasih. Masih belum apa-apa ^^
aku belum cari tahu lagi lagu-lagu The Gazette. Tapi yang Pledge akan tetap jadi lagu favoritku ^^
sudah update.
ichiko yuuki:
Rei udah coba manjangin ceritanya, tapi ujung-ujungnya lagi-lagi pendek XD
Senangnya lihat Sasu nangis, hehe *plak*
Sudah Update ^^
Kira:
Iya Sasu-nya juga versi shippuden waktu udah pake poni. Kishimoto-sama tau aja Sasu bakal jadi imut kalau pake poni .
Sudah update ^^
Miyuki Reiko:
Nyaaa~ ketahuan ya. Rei juga sempet heran kok ceritanya jadi agak nyimpang gini, tapi sudahlah. Let it flow. *plak*
Yue Hikari-chan:
Yapz ini updated ^^
Vii no Kitsune:
Iya gak apa-apa Vii-san ^^ ini aku sudah update.
Ganbarimasu ^^
Review? Review? Sankyuu ^^
