~Pervert, but Why Is He Very Cool?~
Ansatsu Kyoushitsu
Rated : T+ (untuk bagian hentainya )
Author : Ivy-chan9 and Mari-chan(virdaus nurul/ Vira)
Pair: KaruFem!Nagi / Karma x Fem!Nagisa
Genre : Romance, Humor, etc.
Disclaimer:
Ansatsu Kyoushitsu milik Matsui Yuusei-sensei. Saya hanya meminjam tokohnya saja.
Warning:
Jika kalian tidak menyukai fic saya, maka silakan lambaikan tangan ke kamera. Ralat, silahkan menekan tombol back. Memang tertulis bahwa genre fic ini Romance dan Humor, namun jika tidak berkenan di hati Anda, saya minta maaf. Jika anda tidak suka fic saya, sekali lagi silahkan menekan tombol back. Apalagi sepertinya Karma dan Nagisa disini udah kelewat OOC, apalagi Koro-sensei dan berbagai typo bertebaran~
Summary :
Nagisa Shiota adalah seorang pembunuh yang diakui disewa untuk membunuh Koro-sensei. Namun, misi pembunuhannya terganggu akibat perbuatan mesum dari Pangeran Hentai dari kelas 3-E. Kali ini bukan Okajima yang menjabat status tersebut, melainkan Akabane Karma. Nagisa bersumpah akan membunuh Koro-sensei bersama dengan Akabane Karma!
Chapter 3 part 2 / Chapter 4
"Yuhuuuu!"
Teriakan bahagia menggema di lapangan sekolah 3-E. Rencananya untuk pemanasan awal untuk menjalani karyawisata dan juga menjalin kerjasama di dalam kelompok akan diadakan permainan kecil sambil menunggu bis datang kira-kira siang hari.
"Yosh,minna! Kita harus bersemangat, tak boleh lesu!" Isogai, si ikemen yang terlupakan kemarin berusaha melupakan segala macam kacang perih yang diberikan kemarin.
"Huh, lihat saja. Aku tak akan kalah darimu!" Nagisa menatap tajam Karma. Karma hanya tersenyum tipis kepada Nagisa. "Lihat saja nanti,Nagisa-chan~"
Isogai menghela napas. "Karma-kun,Nagisa-san, kalian ini satu kelompok … Ini hanya pemanasan saja. Tolong jangan membuat keributan."
Lagi-lagi, Isogai mendapat kacang yang sangat menyakitkan …
"Awas saja kau!" Nagisa menatap tajam Karma dan dibalas seringai khas Karma.
Ting -
"Isogai-kun, yang tabah ya!" Kurahashi menepuk-nepuk bahu Isogai yang membeku di tempat.
"Semuanya berkumpul!"
"Daritadi udah ngumpul di lapangan juga."
"Menunggu bus datang, kita akan melaksanakan sebuah permainan kecil. Di dalam bukit belakang sekolah, terdapat 5 bola berukuran sedang berwarna kuning yang ada wajah Sensei~" Koro-sensei berpakaian bebas dengan baju sehari-hari itu menunjuk-nunjuk pipinya sok imut. "Euh,jijik."
"Setiap kelompok harus mengambil satu bola dan kembali ke kelas. Yang lambat, akan kena hukuman saat disana dan yang menang mendapat kesempatan untuk membunuh Sensei khusus di area terbuka yang sempit. Bagaimana?"
Seluruh murid menganggukan kepala mengerti. Sensei tersenyum semakin lebar. "Sensei memberi sebuah tantangan. Jangan salah ambil bola,ya~? Mana tahu yang diambil itu malah Sensei. Kalau Sensei yang diambil,maka kelompok kalian kalah!" Koro-sensei membuat tanda silang di kepalanya.
"Haiii~~~"
"Waktu kalian hanyalah 30 menit, ingat itu,ya~ Nurufufufu~~ Selamat berjuang~"
"HAH?! 30 MENIT?!"
Ptass! Senapan dibunyikan oleh Isogai, tanda permainan dimulai. Setelah itu, Isogai segera mendekati anggotanya untuk berdiskusi sebentar.
"Kita bagaimana?" tanyanya langsung.
"Menyusuri bukit belakang sekolah yang luas hanya untuk mencari bola selama 30 menit?! Apa Koro-sensei sudah gila?" Fuwa berdecik kesal. Isogai berpikir sejenak. "Kurasa, Kurahashi-san yang sering mencari kumbang dan mempelajari biologi disana dan Karma-kun yang sudah sering membolos ke sana sudah tahu sebagian wilayah di bukit belakang sana, 'kan?" Isogai mendapat anggukan kecil dari Karma dan senyum manis dari Kurahashi.
"Bagaimana jika kita berpencar saja? Tidak perlu sendiri-sendiri. Paling-paling ada yang berdua dan ada yang bertiga. Toh, gurita sialan itu tidak bilang kalau harus seluruh anggotanya yang memberikan bola. Perwakilan saja sudah cukup." Isogai mengangguk mengerti mendengar usul dari Akabane Karma.
"Sepertinya, yang lain juga memikirkankan hal yang sama. Mungkin, itu cara yang lebih cepat." Nagisa menunjuk ke arah beberapa kelompok yang sudah mulai bergerak. "Baiklah. Kita undi menggunakan jankenpon!"
~PBWIHVC~
"I-Isogai-kun, apa benar-benar tidak apa-apa nih?"
"A-Ah, benar juga, tapi … "
Seketika itu backsound yang mengucapkan "JODOH PASTI BERTEMU~~~" mengiringi aura suram dari Shiota Nagisa dan ekspresi cuek(walaupun dia senang) dari Akabane Karma.
"Tapi, aku setuju dengan ini." Fuwa sedikit berbisik. "Setidaknya, waktu 30 menit ini digunakan untuk menenangkan dan menyatukan Karma dan Nagisa. Jika tidak, kelompok karyawisata ini akan hancur dan kesempatan membunuh Koro-sensei sia-sia walaupun ada Nagisa disini."
Isogai mengangguk setuju. "Karma, kau dengar instruksinya? Jaga Nagisa baik-baik!"
"Kau sudah kayak ayah mau nitipkan anak ke suami barunya," Fuwa langsung dihadiahi teriakan kencang dari Isogai. OOC sekali …
"Hai',hai'… Tanpa kujaga pun, dia pasti bisa, 'kan?"
Isogai menarik tangan Karma. "Hei,Karma... Kau ini tak gentle banget!" Entah apalah yang merasuki Isogai coba? "Sebagai laki-laki, kau harus melindungi perempuan. Supaya kau jadi lebih dianggap baik oleh Nagisa. Tak capek dibilangi 'Hentai' olehnya? Aku yang melihatnya saja capek. Ingat itu! Lebib baik kau perbaiki hubunganmu dulu dengannya, masalah bola dan permainan serahkan pada kami!"
"Perbaiki hubungan? Gimana caranya?"
"Pikirankan sendiri! Ok, ayo cepat, Fuwa,Kurahashi!" Isogai berlari pelan ke arah bukit belakang yang diikuti oleh keduanya yang lain. Begitu juga Karma dan Nagisa dengan arah yang berbeda.
"Nagisa-chan,arah sini banyak bebatuan dan akar pohonnya menjular keluar lho~ Hati-hati." Karma mendapat balasan tajam dari Nagisa. "Jangan kau gunakan kesempatan itu untuk melakukan perbuatan hentai padaku!"
"Tentu saja tidak. Aku hanya ingin bilang, kalau di permainan ini kita harus serius. Jika kita menang, kita mendapat area khusus membunuh Koro-sensei sebagai taruhan kita kan? Bukannya ini lebih baik? Hari ini teman, besok menjadi musuh."
Nagisa memandang tajam Karma sambil berjalan pelan. "Awas saja kalau kau berani macam-macam denganku!" Nagisa mengambil beberapa pisau lipat dari sakunya. Karma mengangkat bahu. "Terserahlah~"
Nagisa mengerutkan dahi heran. Mengapa? Padahal biasanya Karma menjahilinya? Apa mood Karma tidak ada? Atau … ?
Karma menghela napas. Dia berusaha keras menahan diri untuk tidak menggoda gadis manis nan cantik di depannya. Pakaiannya yang simple namun feminin itu tak cocok dengan imej Nagisa yang seorang pembunuh memberikan kesan manis(?) Jika saja …
[Flashback]
"Karma. Berhentilah mengganggu Nagisa."
Karma memiringkan kepala. "Apa urusan kalian? Terserahkulah mau kuapakan dia."
Kayano, Kataoka, Sugino, Kanzaki, Okuda, Maehara, Isogai mengelilingi Karma yang sedang menyantap makan siang yang hanya berupa minuman kotak dan sandwich.
"Bukan begitu. Tapi, Nagisa disini untuk membunuh Koro-sensei, bukannya mencari ilmu atau bermain-main dengan kita. Dia itu pembunuh. Seharusnya, dia fokus membunuh Koro-sensei, bukannya membunuhmu."
Karma hanya meminum minumannya sambil mendengarkan keluh kesah dari beberapa temannya tersebut. Ya, tampak cuek.
"Sampai membuat taruhan. Maumu apa,Karma? Kalau kau suka dengannya, bilang saja."
Byuuurrr! Karma sukses menyemburkan susu kotak yang dia minum berkat perkataan Kayano. Whuatz!? Suka?! Darimana dia tahu?! Bukan,bukan,bukan. Kenapa dia bicara seperti itu?!
"Jangan sembarang bicara,Kayano. Siapa juga yang suka dengannya?" Dusta.
"Kalau begitu, kenapa kau menggodanya terus?"
"Aku tak menggodanya. Dia saja yang termakan godaanku." Idih, Karma tsundere?
"Lalu, kenapa kau membuat taruhan seperti itu padanya?"
"Bukannya bagus dia jadi lebih bersemangat untuk membunuh gurita itu?"
"Benar juga sih. Tapi, Karma … Kalau kau sampai menganggu dia lagi, sepertinya Karasuma-sensei akan bertindak. Yang kudengar, karyawisata ini dibiayai oleh pihak Nagisa, tapi sepertinya Nagisa tidak tahu. Hati-hati, jangan menganggu dia lagi. Cukup berteman seperti biasa saja."
Hufffttt … Memangnya berteman dengan pembunuh harus sesusah ini?
[Flashback off!]
Karena itulah, Karma berusaha menahan dirinya untuk menggoda Nagisa terlalu sering.
"Karma, hoiy! Karma-kun!"
Karma tersadar dari lamunannya melihat Nagisa yang sudah berdiri di depannya. "Ada apa?"
Nagisa mengendus kesal. "Lamunin apaan sih? Habis, ini lewat mana?"
Karma melihat sekeliling. "Nngg … Daerah sekitar sini sangat susah di lewati sih …" Karma berjalan pelan mendahului Nagisa. "Di depan saja sudah ada jurang. Hati-hati,Nagisa-chan."
Nagisa memandang Karma dengan tatapan aneh. "Kau tidak sedang demam, 'kan?"
Karma membalas Nagisa dengan tatapan heran. "Aku baik-baik saja. Ada apa?"
"Habis, sikapmu tak seperti biasanya. Biasanya kan kau selalu menjahiliku … Yah,kira-kira seperti itu. Kenapa kau sekarang cuma diam?"
Karma tersenyum tipis. Menggodanya sedikit tidak masalah, 'kan?
"Hooh? Jadi, kau ingin dijahili olehku? Boleh … " Karma mendekatkan wajahnya ke arah wajah Nagisa.
"B-Bukan itu maksudku!" Nagisa terkaget begitu ingin memundurkan kakinya. Keseimbangannya jatuh, baru ingat kalau belakangnya jurang.
"Nagisa!" Karma langsung menarik tangan Nagisa agar tak jatuh. Mungkin tarikannya terlalu keras sehingga tubuh Nagisa menabrak tubuhnya sendiri. Buak! Karma sukses terjatuh ke belakang dengan posisi Nagisa di atas.
"Ughh..." Karma meringis kesakitan dan melihat keadaan. Nagisa memegang erat bajunya dan menyembunyikan wajahnya di bajunya. Gemetaran.
"Pffttt..." Dia menahan tawa. "Pembunuh takut jatuh ke jurang nih ceritanya?" Karma meledek, namun ledekannya tidak digubris oleh Nagisa. Masih dengan posisi itu, Karma tersenyum tipis. Mengelus-elus kepala Nagisa pelan seperti anak kecil. "Sudah tenang? Tidak apa-apa kok."
Perlahan Nagisa mengangkat kepalanya. "Bakarma !" (Gabungan dari baka dan Karma)
"Oopss..." Suara semak-semak mencuri perhatian KaruNagi. Dua orang wanita tampak terkejut dengan pemandangan wow dari Karma dan Nagisa. P-Padahal, bukannya mereka musuh bebuyutan?
"Kanzaki-san!? Okuda-san!?" Nagisa kaget. "Konnichiwa~" Karmalah yang kelewatan santai.
"K-Kalau begitu, kami permisi dulu. M-Maaf menganggu!" Kanzaki segera menarik Okuda berlari menjauhi Karma dan Nagisa.
"Tunggu!" Nagisa berniat mengejar mereka dengan maksud bahwa ini adalah kesalahpahaman semata. Namun, Karma menarik tangan Nagisa. "Jangan dikejar. Kita lanjutkan saja perjalanan kita."
"Bagus jika mereka muncul disini. Jika mereka melihat Nagisa dengan posisi seperti itu, mereka tak akan menyuruhku diam lagi dan aku bisa mengerjainya terus." Ada udang di balik bakwan. Iblis di hati sudah berbicara.
"Tapi, kau baik-baik saja? L-Lukamu … " Nagisa menunjuk luka di telapak tangan dan jari-jari Karma akibat gesekan batu saat terjatuh tadi. "Ini?" Iblis berbicara lagi. "P-Perih sekali,Nagisa-chan..." Karma meringis kesakitan dengan keterangan dibawah: "Ini adalah AKTING semata."
"S-Sakit,ya?" Mau bagaimana pun orangnya,Nagisa tetaplah seorang gadis imut nan baik hati. "B-Biar kuobati. Maaf."
"Jilat."
Nagisa berhenti bergerak. A-Apa?
"Jilati lukaku."
"Apa!? Siapa yang mau menjilati lukamu itu?!" Nagisa berubah menjadi garang. Karma melihatnya tersenyum dalam hati. "Kalau kau jilat, pasti sudah sembuh." Karma semakin meringis dengan keterangan dibawah: "Ini adalah AKTING semata."
Nagisa menelan ludah. "M-Memangnya harus?"
Karma hanya membalasnya dengan meringis kesakitan dengan keterangan dibawah: "Ini adalah AKTING semata."
(Sudah cukup!)
"B-Baiklah … " Tunggu? Nagisa? Kau kerasukan apa? Kalau dia terluka, kau harus membunuhnya sekarang!
Karma pun sama kagetnya. Apa? Dia mau melakukannya? Demi celana dalam Bitch-sensei (Bitch: WOIY!?), Nagisa kerasukan apa?
Nagisa memegang pelan tangan Karma yang terluka kemudian mendekatkan tangannya ke mulutnya sedikit dengan paksa. Jarak tubuh mereka semakin dekat.
"A-Aku mulai."
~PBWIHVC~
"Akhirnya~" Kurahashi menghela napas lega ketika mendapat sebuah bola Koro-sensei di atas pohon. Beruntunglah,dia memiliki mata yang masih baik sehingga bisa mengenali mana bola kuning dan mana matahari. Tempat yang sulit dilihat, namun mereka bersyukur bisa mendapatkannya.
"Yosh! Dengan ini, kita harus segera kembali!" Isogai memerintahi Kurahashi dan Fuwa, tapi …
"Are, Kanzaki dan Okuda?" Fuwa melirik dua manusia yang berada di jangkauan mereka.
"Isogai-kun, Kurahashi-san dan Fuwa-san? Konnichiwa... Kalian sudah mendapat bolanya?"
"Hm! Ayo terus berjuang,Kanzaki!" Kurahashi memberikan semangat.
"Anooo … Apa Karma-kun dan Nagisa-san sekelompok dengan kalian?"
Isogai mengangguk. "Memangnya, ada apa?"
Okuda berbisik pelan sambil menunjuk ke arah belakang. "APA!? Iss, mereka tidak bilang-bilang. Ayo, aku mau foto mereka berdua!" Fuwa yang memegang bola melempar bolanya ke arah Isogai dan berlari pelan ke arah yang dimaksud Okuda. "T-Tunggu, kalian semua!"
Okuda memberikan instruksi untuk bersembunyi di balik semak-semak dan menyuruh diam sambil menunjuk ke arah belakang.
"Ughh... Pelan-pelan,Nagisa-chan." Karma meringis. "Aku sudah pelan-pelan,Karma-kun! Makanya, jangan banyak bergerak!"
"Sakit,Nagisa-chan. Dimasukin saja langsung kek."
What? Dimasukin?
"Tidak! Itu menjijikan! Kujilat seperti saja sudah cukup kan?"
"Masih … Sakit … Lagi." Tunggu, kok Karma yang minta? Pertukaran posisi ceritanya?
"Jari juga? Masa harus dimasukin?!"
"Tapi, ini sakit sekali. Tanggung."
"S-Sakit,ya? I-Iya deh, masukin ya?"
Isogai dan Fuwa mulai memanas. Sedangkan Kanzaki, Okuda, dan Kurahashi hanya bingung. Tapi, tahu kalau ini adegan …
"U-Ughhh... K-Kar … Ngh.. C-Cukup... Ahh... Karma!"
Terdengar suara kekehan pelan. Isogai dan Fuwa yang mendengar desahan itu semakin penasaran.
"J-Jangan masukin terlalu dalam,Karma-kun. Kalau aku muntah,bagaimana?!"
"Kalau kau muntah,berarti kau hamil."
WHUATZ!? H-H-H-HAMIL!?
Isogai makin memanas, Fuwa tidak tahan ingin segera memotret mereka berdua sedangkan yang lainnya mulai memanas.
"Jangan sembarangan ngomong! Waktu kita tinggal sedikit lagi,tahu! Jangan banyak bergerak."
"Iya,iya … " Karma terdengar lemas. "Lagi,dong,Nagisa-chan~"
"Tidak, dasar hentai!"
Hentai? Tunggu, jadi mereka melakukan … ?
"Sebentar. Kubalut lukanya."
Are,luka?
"Ehh!?" Isogai dan Fuwa berteriak kencang membuat Nagisa dan Karma terkejut. "K-Kalian bukan melakukan itu,itu?"
Karma menatap datar Fuwa. "Itu,itu apaan? Makanya, otak kalian jangan negatif." Karma terkekeh pelan.
"J-Jadi, apa yang kalian lakukan?" Kanzaki memberanikan diri untuk bertanya.
"Karma terluka, jadi aku mengobatinya. Itu saja kok." Nagisa tersenyum tipis. "J-Jadi … " Isogai memberanikan diri bertanya. "M-Masukan, muntah dan hamil itu maksudnya?"
Nagisa sedikit memerah. "Salahkan Karma!" ujarnya sambil membalut luka di tangan Karma. Ah … Mereka tampak serasi...
"Pertolongan pertama. Nagisa-chan menjilati tanganku. Yah, karena lukaku parah, kumasukin saja jariku ke mulutnya."
"Dasar! Aku hampir tercekik,tahu! Hentai!"
"Seharusnya kau bilang itu ke mereka..."
TING! Kalimat yang ambigu sekali … Readers juga berpikiran kotor?
~PBWIHVC~
"Nagisa, sebenarnya aku bingung denganmu." Fuwa berkomentar ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang dari bukit belakang sekolah. "Bingung kenapa,Fuwa-san?" Kembali ke mode imut-imut.
"Bukannya kau membenci Karma? Kenapa kau menolongnya? Kalau begini, kau tampak seperti masochist gitu."
"N-Nggak kok! Habis … Tadi Karma sudah menolongku saat aku jatuh ke jurang. M-Melihatnya terluka, aku hanya balas budi."
"Begitu? Tapi, kau tampak menikmatinya..." Nagisa sedikit merona. "Tidak, siapa yang menikmatinya?!"
"Ne,ne, Nagisa. Jantungmu berdetak kencang tidak saat yang tadi?"
Nagisa menoleh ke arah Kurahashi. "C-Cukup kencang... "
"Jangan-jangan … kau menyukai Karma-kun~?"
"Aku tidak menyukainya!" Nagisa memerah. "Lha, tapi wajahmu berkata lain lho~" Fuwa mulai menggoda Nagisa. "B-Benaran tidak!"
"Ohh... Begitu,ya~?"
"Hoiyyy! Cepetan!" Isogai berteriak begitu keluar dari bukit belakang sekolah.
"Are, kita pertama?" ujar Kurahashi yang melihat lapangan masih kosong melompong, kecuali Karasuma-sensei dan Bitch-sensei disana.
"Yah, kalian yang pertama." Karasuma mengambil bola yang dipegang Isogai. "Cepatlah bersiap-siap. Busnya akan datang sebentar lagi."
"Horee!" Teriakan senang dari Kurahashi dan Fuwa. Isogai tersenyum senang. Karma mendekati Nagisa.
"Nah~ Kita dapat tempat yang bagus untuk taruhan~" gumamnya pelan. "Huh! Aku tak akan kalah darimu!"
"Tenang saja. Kalau kau kalah, kau harus tidur denganku~" Karma menyeringai. "Ughh. DASAR HENTAI!"
Namun, untuk pertama kalinya, Nagisa sangat senang berada di samping Karma, sangat senang bisa dikerjai olehnya, dan sangat senang melihat Karma tersenyum karenanya.
~TBC~
Maafkan aku atas keterlambatan fic ini! Malah post fic baru pula ~T_T~
Karena lagi UTS,maklumi yah kalau fic ini terlambat~ Ada omake lho~ Omake yang Karma terluka.
~OMAKE~
Nagisa menjilati pelan luka Karma dengan ragu. Lidahnya menjilati tangan Karma dan lelehan saliva Nagisa sudah berada di atas telapak tangan Karma.
"Ughh... Pelan-pelan,Nagisa-chan." Karma meringis. Nagisa menghentikan jilatannya dan mendengus kesal. "Aku sudah pelan-pelan,Karma-kun! Makanya, jangan banyak bergerak!"
"Sakit,Nagisa-chan." Karma meringis kesakitan. "Dimasukin saja langsung kek." Dia menunjukan jarinya yang terluka.
"Tidak! Itu menjijikan! Kujilat seperti saja sudah cukup kan?" Nagisa sedikit menjauh dari Karma.
"Masih … Sakit … Lagi." Nafas Karma terputus-putus. Apa? Ini hanya luka kecil tahu!
"Jari juga? Masa harus dimasukin?!"
Nagisa menolak permintaan Karma. Karma memegangi tangannya kuat. "Tapi, ini sakit sekali. Tanggung."
"S-Sakit,ya?" Nagisa merasa iba dengan ekspresi kesakitan Karma dengan keterangan dibawah : "Ini hanya AKTING semata."
"I-Iya deh, masukin ya?"
Karma tersenyum dalam hati. Nagisa memegang tangan Karma pelan dan memainkan jarinya sebentar, kemudian menjilati beberapa jari yang terluka. Nagisa bisa merasakan bau besi,sedangkan Karma merasakan rasa sakit yang begitu nikmat. Dia memasukan jarinya semakin dalam dan memainkan semua yang ada di dalam mulut Nagisa.
"U-Ughhh... K-Kar … Ngh.. C-Cukup... Ahh... Karma!"
Karma terkekeh pelan dan mengeluarkan jarinya perlahan dari mulut Nagisa. Lelehan saliva terlihat jelas di sela-sela jarinya dan juga sudut mulut Nagisa yang wajahnya sedikit memerah.
"J-Jangan masukin terlalu dalam,Karma-kun. Kalau aku muntah,bagaimana?!" Nagisa terbatuk pelan dan memegangi mulutnya.
"Kalau kau muntah,berarti kau hamil." Karma terkekeh, namun sesudah berkata itu, dia mendapat tumbukan keras dari Nagisa.
"Jangan sembarangan ngomong! Waktu kita tinggal sedikit lagi,tahu! Jangan banyak bergerak."
"Iya,iya … " Karma sengaja memelankan suaranya. "Lagi,dong,Nagisa-chan~"
"Tidak, dasar hentai!" Nagisa mengambil tas kecilnya. "Sebentar. Kubalut lukanya."
"Ehh!?"
~OMAKE END~
Balasan review:
CrimsonBlue Akita-desu: Lucu,ya? Wuakakaaa! Aku turut senang mendengarnya. Arigatouu~
.9 : Udah lanjut, arigatou~
Riska: Ok,ok. Ini sudah lanjut. Arigatou gozaimasu~
Alacrite: Part 2 ga seru-seru amat. Part 3 mungkin :3 Typonya itu karena buru-buru, gomennasai. Arigatou gozaimasu.
Untuk part 3 kayaknya agak lambatan karena ada sedikit adegan H-nya~ Arigatou gozaimasu.
Salam,
Ivy-chan9 dan Mari-chan.
