"Jangan menatapnya seperti itu, ada suaminya di sini," tegur Naruto pada Iruka.
Meski terkandung candaan, Naruto serius memperingati Iruka. Bagaimana tidak, sejak ia membawa Hinata dan Tokuma ke toko buah dan sayurnya, Iruka enggan melepas atensinya dari Hinata yang tengah memilih bahan-bahan segar. Ia khawatir ini adalah efek dari terlalu lamanya Iruka membujang. Bahkan sampai usia Iruka kini nyaris berkepala empat, walinya itu tak kunjung menampakkan tanda-tanda sedang dekat dengan seorang wanita. Jangankan calon istri, kekasih saja agaknya belum punya.
"Hentikan buruk sangkamu. Aku hanya ingin meyakinkan kalau dia benar istrimu, karena kelihatannya sangat berbeda dari yang dulu."
Naruto yang menyandar di meja kasir itu memutar mata bosan, "Dia masih Hinata."
"Istrimu dulu agak pemalu. Yang sekarang entah kenapa terkesan dingin."
"Hm, pengalaman bisa mengubah seseorang."
Sekejap Naruto diliputi sendu. Sedikit banyak ia juga turut andil dalam perubahan pribadi Hinata. Dan itu bukan dalam artian yang baik.
"Omong-omong, kau tidak membantunya mendorong troli belanja?"
"Jika aku melakukannya, seakan-akan aku meragukan kekuatannya."
"Ck, dasar berlebihan."
Iruka mengambil posisi di belakang Naruto. Dengan iseng Iruka mendorong lipatan lutut Naruto dengan lututnya hingga si pirang yang sedang lengah itu nyaris merosot dari berdirinya.
"Banyak alasan. Kau memang tidak berbakat menjadi suami siaga." Iruka cepat memotong niat Naruto untuk memprotes keisengannya. Akan lebih mudah diterima nalarnya jika Naruto mengatakan fobia pada buah dan sayur, meskipun belum sejauh itu Naruto memusuhi bahan makanan kaya serat dan menyegarkan itu.
"Katakan itu setelah kau menjadi seorang suami," ejek Naruto.
Iruka tampak tidak peduli. Bahasan mengenai pernikahan dan segala tetek-bengeknya tidak pernah mengusiknya. Ia selalu menikmati hidupnya yang bebas.
"Sebenarnya aku masih heran karena kau sangat yakin kalau bocah itu bukan anakmu. Bisa saja kan istrimu itu hamil sebelum meninggalkanmu dulu?"
Naruto hanya terkekeh hambar. Tidak mungkin kan ia membuat pengumuman kepada semua orang bahwa ia dan Hinata tidak sebagaimana suami istri semestinya. Jika dulu gelagat Hinata yang membuatnya ragu untuk bertindak, sekarang keraguan itu juga muncul dari dalam dirinya. Malahan bermula jauh sebelum kembalinya Hinata.
Ia tidak bisa terus bungkam dan menjadi seorang pecundang. Cepat atau lambat ia harus mengakuinya. Apapun tanggapan Hinata nanti, ia harus siap.
.
.
.
Di dalam mimpi, aku melihatmu menari di atas panggung yang bersinar dalam gulita.
Cahaya bulan mengundang luapan emosi, membawa harapan yang terukir dalam nada.
Berhentilah mencoba menyimpan bebanmu sendiri dalam dada.
Kepakkan sayap dan terbanglah tinggi, tunjukkan padaku boleromu yang penuh makna.
Aku akan tetap di sini, tempatmu pulang dan menyembuhkan luka.
.
.
.
. IV .
Awaited Bolero
.
.
.
Hinata merasa sudah tepat untuk tidak turun melalui tangga dalam, karena Kiba dan Naruto sedang membersihkan galeri di lantai satu. Ia melambaikan tangannya pada Naruto yang tengah mengelap kaca, berpamitan sebelum mengantarkan Tokuma ke preschool.
"Ambillah, ini dari Paman Kiba." Naruto menahan kepergiannya dengan mengangsurkan sebuah pisang ke Tokuma, buah kesukaan balita itu.
"Paman apanya, aku bahkan belum 30 tahun," protes Kiba dengan peralatan pel dan tanda lantai basah di kedua tangannya.
"Ojichan, sanchu~"
Tampang kaku Kiba melunak seketika, terlebih melihat Tokuma membungkuk hormat padanya.
"Astaga, bagaimana bisa aku marah."
Yang kemudian ditanggapi gelak tawa Naruto dan kikikan geli Hinata. Tak ingin terlambat, kembali tanpa kata-kata Hinata meminta izin pada Naruto yang dibalas dengan lambaian penuh senyum.
Tokuma turut melambaikan pisangnya pada Naruto saat satu tangannya digandeng Hinata.
"Bye bye, Papa…."
"Eh?" Hinata tersentak mendengar panggilan Tokuma untuk Naruto, "Aku tidak mengajarinya, sungguh."
Naruto malah tergelak melihat kegugupan Hinata, meskipun ia juga terkejut awalnya.
"Aku tidak keberatan."
Dengan kikuk Hinata berbalik meninggalkan Gallery 1010 tanpa menoleh lagi. Tokuma tampak sangat bersemangat pagi ini, melangkahkan kaki mungilnya sambil sesekali melompat kecil.
"Papa baik."
Hinata mengulum senyum, terbayang bagaimana Naruto akan menjadi seorang ayah yang baik kelak. Itu sebabnya, ia mulai memupuk keberanian dalam dirinya dan berusaha mengubur segala keraguan, agar ia mampu mewujudkan keinginan Naruto, yang mungkin nanti akan menjadi mimpinya juga; memiliki lebih dari satu anak dan bersama-sama mendidik mereka.
Sesampainya di seberang preschool, Hinata menunda untuk menyeberang tatkala melihat Yuugao turun dari mobil yang berhenti di sana. Disusul seorang pria yang mengingatkannya pada Sasuke. Ia memang kurang mengenal kakak Sasuke, tapi ia menerka pria itu adalah Itachi, melihat bagaimana kedekatannya dengan Yuugao.
Mungkin tidak untuk pagi ini, mereka lebih tampak seperti sejoli yang tengah berdebat meskipun hanya berdiri berhadapan dengan sorot gusar, serta berbicara menyerupai bisikan.
Hinata segera mengalihkan pandangannya karena merasa tak pantas menonton masalah orang lain. Ia baru berani berjalan ke seberang setelah mobil hitam itu meninggalkan gerbang preschool dengan derunya yang halus. Lantas disapanya Yuugao yang berjalan di depannya.
"Uzuki-san, ohayou."
Yuugao menoleh sebentar padanya dan membalasnya dengan anggukan pelan.
.
.
.
"Ah, masasai."
Naruto menggumam penuh nikmat setelah melahap daging sukiyaki-nya yang masih mengepul. Sekarang ia baru sadar betapa jarangnya ia menyantap makanan rumahan, sampai Hinata hadir lagi dalam hidupnya. Kalaupun makan di luar bersama para sahabatnya atau tim fotografinya, rasanya tetap berbeda dengan makan bersama keluarga di meja yang sama.
"Hampir terdengar seperti mashita," sahut Hinata sembari meletakkan sayuran hijau dan tahu di cawan Naruto, tak peduli tatapan protes yang dilayangkan padanya.
"Artinya memang sama."
Naruto menyisihkan sayur di wadah makannya ketika Hinata lengah, lalu kembali menyumpit daging dari panci besi di tengah meja makan mereka yang berbentuk persegi.
"Kau mengerti bahasa Korea?" Naruto kembali mengalihkan perhatian Hinata dari sayur-sayur yang hendak diberikan kepadanya. Lidahnya belum mampu menerima.
"Tidak, tapi telingaku sedikit hafal dengan kata-kata random yang biasa dikatakan Hanabi. Dan dia memang suka menonton drama Korea di kala stres dengan pendidikannya."
"Aku rindu Mummy," celetuk Tokuma di tengah usahanya untuk mengunyah jamur.
Hinata mengusap kepala Tokuma. Pasti karena dirinya menyebut nama Hanabi. Awalnya memang sulit untuk membawa Tokuma tanpa Hanabi serta, karena Tokuma berharap bisa tetap tinggal bersama-sama seperti saat masih di London.
"Nanti ya mama telponkan, semoga diangkat. Mummy sangat sibuk akhir-akhir ini."
"Daddy juga."
Kali ini Naruto menaruh perhatian penuh. Berharap ada yang menyinggung jati diri dari ayah Tokuma. Ia sempat curiga dengan Uchiha Sasuke yang cukup sering menghubungi Hinata, tetapi apa benar hubungan mereka memang sejauh itu?
Atau ada pria lain di London sana? Kalau tidak salah Otsutsuki Toneri yang masih berstatus sebagai suami Shion itu sering melakukan perjalanan ke luar negeri, mungkinkah sebagai mantan tunangan, Hinata masih bertemu dengannya?
Padahal ia sendiri yang mengatakan tidak akan mempermasalahkan jika Hinata melahirkan anak pria lain. Hanya saja, ia tak kuasa menghalau rasa cemburu yang menyergapnya tiba-tiba.
"Oishii," ucap Hinata sambil membiasakan Tokuma dengan bahasa ibunya.
Begitu Naruto sadar baru saja melamun, Hinata dan Tokuma sudah melanjutkan kegiatan makan mereka dengan saling melempar senyum ceria. Diam-diam ia perhatikan bocah balita itu suka sekali dengan jamur, juga buah dan sayuran lainnya, namun tidak mau menyentuh peterseli. Setelah merasa cukup, Tokuma menghabiskan susu pisangnya dalam sekali teguk.
"Yummy," Tokuma menggumam lucu sambil menyentuh perutnya, "Yummy in my tummy~"
Sesaat Naruto dan Hinata saling berpandangan selepas menaruh minat pada tingkah jenaka Tokuma. Keduanya lantas tertawa bersamaan mengingat suara imut Tokuma yang terdengar begitu menggemaskan. Entah apa yang dipikirkan oleh Hinata saat ini, namun Naruto jadi membayangkan bagaimana jika kelak ia memiliki anak dari Hinata. Tapi, mungkinkah?
"Setelah makan malam ini, aku akan menunjukkan sesuatu padamu."
"Eh? Apa?" sahut Hinata penuh rasa ingin tahu.
"Mungkin sebaiknya menunggu sampai Tokuma tidur," bisiknya hati-hati seraya mengedipkan sebelah matanya. Hinata semakin penasaran dibuatnya, dan ia justru terkekeh senang.
Setelah Hinata menidurkan Tokuma lebih cepat dari biasanya, Naruto benar-benar menepati janjinya. Digenggamnya tangan Hinata menuju rooftop, tak sabar melihat reaksi Hinata atas kejutan kecil yang telah disiapkannya.
Senyumnya terkembang menemukan Hinata terkesiap. Mata bulan Hinata menatap pot-pot bunga matahari yang mengelilingi pinggiran rooftop dengan binar takjub. Sebagian bunga tumbuh besar dan tampak kokoh, sebagain pot lain masih ditumbuhi tunas, dan tertata rapi dengan susunan yang berselang-seling.
Naruto juga meletakkan lampu sorot di sekitar pot yang menyinari dari bawah, sehingga bunga-bunga berwarna cerah itu tampak seperti bersinar terang, membawa perasaan riang.
Hinata memandang Naruto sebelum melangkahkan kakinya yang tanpa alas untuk berdiri tepat di tengah rooftop, tanpa ragu menunjukkan senyum gembiranya yang tak kunjung hilang.
"Kapan kau menyiapkan semua ini?"
"Selama kita berbelanja, aku menyuruh orang melakukan ini. Kau suka?"
Pertanyaan retoris, karena jawaban Hinata sudah tampak jelas meski tanpa berkata-kata.
Naruto menghampiri Hinata dengan membawa satu kantong plastik bergambar bunga matahari yang terikat pita kuning, "Ini untukmu, jika kau ingin menanamnya sendiri."
Hinata menerima pemberian Naruto dan langsung tergiur dengan isinya, "Ini tidak bisa dimakan kah?"
"Ini bibit, khusus ditanam." Tawa Naruto pun meledak, "Kau sangat suka kuaci ya, Ms. Hamtaro."
"Nuga?!"
Naruto kembali tergelak. Hinata suka sekali menyelipkan logat Okinawa, yang merupakan kampung halamannya, dibanding aksen Hokkaido yang merupakan tanah kelahiran Hinata.
"Ku pikir piama Hamtaro akan cocok untukmu."
Betapa Naruto benar-benar ingin membelikan kostum tidur yang dominan oranye dan putih itu untuk Hinata. Lengkap dengan tudung kepala yang memiliki telinga. Tak lupa dengan kuacinya.
Melihat pipi tembam Hinata yang lebih menggembung karena memberengut, Naruto tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencubitnya gemas. Sebelum diprotes, ia mengangsurkan kotak putih persegi berpita violet pada Hinata, bagian utama yang ingin diberikannya malam ini.
"Enam tahun yang lalu, aku melihat seorang gadis berambut panjang menari anggun di selasar rumahnya. Mungkin dia mengira tidak akan ada yang memergokinya karena deretan pohon aprikot mengapitnya. Semenjak itu aku ingin menonton pertunjukan tunggalnya sekali lagi."
"Tapi rambutnya tak panjang lagi."
Hinata masih menunduk memandangi sepasang sepatu balet di dalam kotak, yang dirasanya tak asing lagi. Warna merah mudanya yang lembut dan terkesan pudar, warna yang selalu dipilihnya setiap membeli sepasang yang baru. Ia tak tahu dari mana Naruto mendapatkannya, namun ia merasa bahwa sepatu itu memang miliknya. Dan kenyataan bahwa Naruto pernah melihatnya sebelum kedatangannya ke toko Iruka, ia sungguh baru mengetahuinya.
"Maaf … aku belum siap."
"Aku bisa menunggu."
.
.
.
Bersama Tokuma, Hinata berdiri di teras Gallery 1010, menunggu Mikoto yang berujar akan menjemputnya, ketika suara lantang dari seberang jalan mengejutkannya.
"Neechan! Di atasmu!"
Ia tidak yakin seruan keras itu ditujukan kepadanya, namun ia refleks mendongakkan kepalanya. Matanya membulat ngeri mendapati sebuah pot yang meluncur turun ke arahnya, tetapi kakinya yang gemetar seakan terpancang di tempat.
Yang terpikirkan olehnya adalah Tokuma yang berada dalam gendongannya. Lengannya bergerak cepat melindungi kepala Tokuma dalam dekapannya yang mengerat.
Mendengar debaman pot keramik yang jatuh ke tanah, ia pelan-pelan membuka matanya yang semula tanpa sadar terpejam kuat. Pecahan itu teronggok tak jauh dari kakinya, begitu dekat. Bunga matahari yang lusuh tertimpa tanah itu mengingatkannya pada kejadian yang telah lalu.
Namun satu hal yang lebih mengganggu pikirannya, bagaimana bisa pot itu terjatuh sementara Naruto meletakkannya di sisi dalam pagar beton yang mengelilingi rooftop. Kecuali jika ada yang menjatuhkannya dengan sengaja ke arahnya.
"Untunglah meleset. Tapi kau harus tetap berhati-hati."
Ia sedikit terperanjat tatkala seorang pemuda bertopi sudah berdiri di hadapannya. Ia terlalu fokus pada kecamuk di benaknya dan usahanya untuk menenangkan Tokuma yang ketakutan. Beruntung juga tidak ada orang yang berjalan di sekitarnya ketika pot itu jatuh, mengingat jalur pejalan kaki lebih lengang dibandingkan hari sibuk.
"Apapun yang kaulakukan, jangan sampai lengah, kau harus terus waspada."
"Terima kasih … tapi apa aku mengenalmu?"
Hinata tidak dapat melihat seperti apa rupa yang menunduk di balik topi baseball itu. Belum juga pertanyaannya dibalas, pemuda berambut gelap itu berlari menjauh darinya.
Tubuhnya masih menggigil pelan memikirkan banyak kemungkinan. Jika Naruto masih berada di dalam, mengapa sampai ada orang yang bisa naik ke rooftop dan bermaksud mencelakainya.
Di tengah kebimbangannya, sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Sopir keluar membukakan pintu untuknya hingga menampilkan seorang wanita di kursi penumpang.
"Wajahmu pucat, kau oke?"
Hinata hanya mengangguk kaku seraya menyerahkan Tokuma, "Tolong jaga Tokuma, Mikoto-san. Aku akan menyusul secepatnya."
Tokuma tidak mudah akrab dengan orang yang baru ditemuinya dan kedua lengannya terus mengarah padanya. Namun ia harus memastikan sesuatu dan tidak mau melibatkan Tokuma.
Mobil Mikoto sudah melaju meninggalkannya ketika ia berlari menuju bagian belakang gedung dan naik ke lantai tiga. Tanpa salam menerobos masuk hingga mencapai teras depan dan segera naik ke rooftop. Ia tidak menemukan kehadiran manusia selain dirinya, namun memang tampak jelas satu bagian yang berongga dibanding tatanan pot lain.
Tidak menemukan yang dicarinya, ia kembali ke lantai tiga. Sembari mengatur napasnya yang terengah-engah, pandangannya menjelajahi setiap sudut kediamannya, mencari-cari jejak kehadiran orang lain selain Naruto. Namun segala sesuatu tetap berada pada tempatnya.
"Naruto?" panggilnya dengan suara keras yang bercampur gugup.
Tak lekas mendengar jawaban, ia merasa semakin ketakutan, seolah-olah ada banyak pasang mata yang mengawasinya. Dipeluknya erat tubuhnya yang seperti menggigil kedinginan.
"Narutooo!" pekiknya sarat kegelisahan.
Ia bergegas memasuki kamarnya untuk menenggak pil-pilnya ketika kecemasan tak mampu lagi diusirnya tanpa bantuan obatnya. Saat itulah ia mendengar gemericik air dari bilik kamar mandi dalam. Tanpa pikir panjang dibukanya pintu putih yang ternyata tidak terkunci itu.
"Hinata?" Naruto terkejut atas kedatangannya sampai kesulitan untuk berkata-kata. Sadar akan keadaannya, Naruto secepat kilat meraih handuk untuk menutupi bagian privatnya.
"Ada apa?" tanyanya canggung setelah mematikan shower, "Ku kira kau sudah berangkat."
Hinata merasa pikirannya buntu seketika. Ia tidak tahu apakah harus mencurigai Naruto. Tapi mengingat apa yang pernah dilakukannya, tentu Naruto punya motif untuk mencelakainya.
Ditinggalkannya Naruto tanpa penjelasan. Tak dihiraukannya seruan Naruto di belakangnya. Ia membawa langkah lebarnya menuruni tangga dalam ke studio. Benaknya makin berkecamuk menemukan Kiba tidak sendirian, ada Shion yang melihat kedatangannya dengan sinis, dan seorang wanita berambut merah yang tampak familier.
Mengabaikan tatapan aneh yang mengarah padanya, ia dengan segera meninggalkan Gallery 1010. Tempat yang mulai dianggapnya sebagai rumah, kini terasa menakutkan baginya, tak lagi memberinya rasa aman dan nyaman. Bahkan tubuhnya masih berkeringat dingin setelah taksi membawanya ke Shibuya yang cukup jauh dari Adachi.
.
.
.
Seharusnya pertunjukan balet A Midsummer Night's Dream masih beraliran komedi romantis seperti narasi dalam bukunya, namun Hinata justru tak mampu membendung tangisnya sepanjang pementasan. Mengingat bagaimana panggung ini pernah menjadi panggung impiannya. Kala itu ia meletakkan panggung Tokyo sebagai target tertingginya, yang tak akan disesalinya jika kelak ia memutuskan untuk berhenti setelah mempertontonkan boleronya.
"Maaf, Mikoto-san, apa aku boleh menitipkan Tokuma padamu untuk sementara waktu?"
Hinata lekas mengusap air matanya begitu teater kembali terang. Mikoto yang duduk di sampingnya pasti mendengar isaknya, namun ia tak ingin membahas tentang masalahnya. Mikoto pun agaknya mengerti bahwa selama ini ia sudah berusaha merelakan impiannya.
"Kau sudah mengatakannya pada Sasuke?"
"Dia bilang tidak masalah."
Mendengar jawabannya, Mikoto mengambil alih Tokuma yang terlelap dari gendongannya.
"Aku memang berencana lama di Tokyo untuk membantu Itachi mempersiapkan pernak-pernik pernikahannya. Apalagi Fugaku tidak memintaku untuk lekas kembali ke Osaka karena belakangan sedang sibuk dengan perkumpulan golfnya."
"Maaf merepotkanmu, Mikoto-san."
"Jangan merasa sungkan, dia cucuku, bagian dari keluarga Uchiha juga."
Hinata paham akan hal itu. Namun mengingat ayah Sasuke yang belum tahu, kemungkinan besar akan menolak dengan keras kehadiran Tokuma. Jikalau mudah untuk mengantongi restu dari sang kepala keluarga Uchiha, tentu Sasuke sejak awal akan membeberkan semuanya. Bukan hanya lantaran karier Sasuke di industri hiburan, namun juga terkait masalah internal.
"Lagipula kau sudah melakukan banyak hal untuk Sasuke."
"Aku melakukannya tidak hanya untuk Sasuke."
"Hm, aku tahu. Kau bisa percayakan Tokuma padaku."
Tokuma merengek ketika terbangun tidak dalam dekapan Hinata. Diusapnya lembut punggung Tokuma penuh sayang. Ia memaksa dirinya untuk berbuat tega dengan tidak menyambut lengan yang mengarah padanya.
"Kuma-kun ikut Nana dulu ya, jangan nakal."
"Nan?"
Tokuma menatap Hinata dengan mata yang basah karena air mata, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa tidak tega. Setelah mendapat kecupan darinya, Tokuma mengalihkan tatapan memelasnya ke Mikoto, seolah memastikan bahwa wanita itu adalah orang baik yang dapat dipanggilnya nenek. Menerima senyum dan anggukan dari Mikoto, membuat Tokuma tampak lebih tenang.
"Tapi ada apa denganmu? Kau tampak tidak sehat."
"Aku takut. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana menjelaskannya."
"Kau bisa menghubungiku jika membutuhkan teman bicara." Mikoto menepuk pelan pipi Hinata yang tampak pias, lalu diangsurkannya sebuket bunga tulip, "Tolong wakili aku memberikannya pada pemeran Hermia tadi. Aku ingin berpuas-puas memeluk cucuku."
Mikoto mendahuluinya keluar teater, menuju ke bagian belakang panggung. Ia merasa terhibur melihat Mikoto memeluk Tokuma dengan gemas tanpa mendapatkan penolakan lagi.
"Hermia?"
Ragu-ragu Hinata menepuk bahu gadis bergaun putih tulang itu setelah mendapatkan arahan dari Mikoto. Gadis yang semula tengah melangkah ke ruang gantinya itu lekas membalikkan badan dan menampilkan senyum cerah yang sanggup menulari orang-orang di sekitarnya.
"Haruno Sakura. Panggil saja Sakura."
"Tarianmu sangat indah, Sakura-chan," ungkap Hinata terus terang sembari memberikan buket tulip merah mudanya sebagai bentuk penghargaan, yang ternyata senada dengan rambut sang gadis musim semi. Aksesori bunga-bunga di rambut panjang bergelombang itu menambah keanggunan Sakura sebagai pemeran Hermia.
"Aku harus berterima kasih kepada ibuku atas pujian itu, karena ibuku yang mengenalkanku pada balet. Meski mulanya aku menari dengan setengah hati dan sempat ingin menyerah."
Hinata senang mendapati bagaimana terbukanya gadis ini di pertemuan pertama mereka.
"Banyak balerina yang bermimpi berada di posisimu sekarang, menari di panggung Tokyo."
"Dan berkat ibuku juga, sekarang bukan lagi panggung Tokyo yang menjadi sasaranku."
"Melihat penampilanmu tadi, aku yakin kau bisa bersanding dengan penari internasional," timpal Mikoto dibarengi senyumnya yang penuh wibawa.
"Terima kasih banyak, Madam," ucap Sakura seraya membungkuk hormat ke arah Mikoto, sang balerina senior yang cukup dikaguminya, "Eh?! Kau kan bocah yang waktu itu?"
Hinata menilai keanggunan Sakura sebagai Hermia menurun drastis saat jari lentiknya menunjuk pada Tokuma. Barangkali memang sifat Sakura di luar sandiwara, dan menurutnya itu lucu. Namun perhatiannya cepat teralih pada Tokuma yang merespons dengan ketakutan.
"Ada kakak seram," rengek Tokuma sambil memeluk leher sang nenek dengan kuat.
Sakura menggerakkan tangannya ke arah Tokuma dengan raut gemas. Ia pasti membalas perbuatan Tokuma seperti ancamannya tempo hari, mungkin cukup dengan sedikit cubitan-cubitan kecil pada pipi gembil bocah itu, jika saja tidak ada orang-orang dewasa di sekitarnya.
"Kalian pernah bertemu di mana?"
"Sakura, kau ditunggu pelatih di ruanganmu!"
Pertanyaan Mikoto jadi tenggelam karena teriakan seorang gadis berambut gelap dari ujung lorong. Bukannya menurut, Sakura justru melambai pada sang gadis agar mendekat. Hinata langsung mengenalinya sebagai pemeran Helena, yang sejatinya adalah karakter yang lebih dikaguminya. Mengesampingkan sisi negatifnya—bantuan ramuan ajaib dari peri—ia suka bagian di mana Helena pada akhirnya mendapatkan seseorang yang dicintainya; Demetrius.
"Cinta melihat tidak dengan mata, tetapi dengan pikiran. Dan oleh karena itu Cupid bersayap digambarkan buta." Hinata mengutip perkataan Helena dari buku yang pernah dibacanya, mengurungkan niat Sakura untuk menyebutkan peran sang gadis.
"Anda mengenal Helena dengan sangat baik." Gadis berbando kristal itu mengulurkan tangan pada Hinata, "Mirai."
Senyum Hinata memudar. Ia segera menarik tangannya yang semula menyalami Mirai, lantas digenggamnya kuat, dan entah sejak kapan menjadi berkeringat dingin. Dadanya bergemuruh.
"Aburame Mirai," tambah sang gadis, namun tidak mengurangi kegelisahan dalam diri Hinata.
.
.
.
Setelah berpisah dengan Mikoto, Hinata semakin tidak nyaman dengan sekitarnya. Apalagi jika keadaan memaksanya untuk berada di antara kerumunan orang. Seakan-akan ada banyak pasang mata yang senantiasa mengawasi segala gerak-geriknya. Lebih-lebih disebabkan oleh pertemuannya dengan gadis yang menyebut dirinya Mirai tadi. Sungguh, ia ingin lekas pulang.
"Himeko."
Hinata urung menyetop taksi. Saat berbalik, ia melihat wanita itu memerhatikan bros di bajunya. Ia mencoba menggali ingatannya atas wanita itu, dan sontak benaknya memutar memorinya seusai pementasan di Sendai, ketika ia mendapatkan bros yang dikenakannya.
"Anda adalah juri yang waktu itu?" Sayang sekali Hinata tidak tahu namanya.
Bukannya menjawab, wanita berambut pirang sebahu itu justru tersenyum, "Aku senang melihatmu akur dengan adik kandungmu."
Jantung Hinata kembali berdenyut lebih cepat. Nama Mirai kembali menjejali pikirannya. Sebagai bagian dari keluarga Sarutobi, ia dulu memiliki satu orang adik saja bernama Mirai dari ayah dan ibu yang sama.
Apa hubungan wanita ini dengan keluarga Sarutobi? Apakah wanita ini juga tahu perihal kasus yang membuat namanya dihapus dari silsilah keluarga Sarutobi?
Tetapi dipikir lagi ia hanya anak angkat dalam keluarga Sarutobi.
"Dia mungkin akan kemari sebentar lagi."
Siapa? Sedangkan adik seayahnya, Hanabi, saat ini masih menempuh pendidikan dokter di London. Lagipula dapat disebut saudara kandung jika seayah dan seibu, atau seibu saja.
"Okaasan, aku semakin lapar gara-gara mencarimu ke mana-mana."
Hinata terbeliak melihat siapa yang mendekat dengan napas terengah.
"Kita sudah ditunggu Otousan di Maestro."
Jadi, yang disebut sebagai adik kandungnya adalah Haruno Sakura? Dan jika Sakura memanggilnya ibu, berarti wanita ini adalah ibu kandungnya?
"Ternyata kalian saling mengenal?" Sakura menatap ibunya dan Hinata bergantian.
"Kau duluan saja ke lantai tiganya jika sudah kelaparan," perintah sang ibu, yang dipatuhi Sakura dengan ragu karena Hinata hanya bergeming setelah kedatangannya.
"Ternyata ada seorang ibu yang meninggalkan anaknya hanya karena patah hati," sindir Hinata sepeninggal Sakura. Rumor yang dulu berkembang di Hokkaido, tentang ibunya yang menjadi biksuni setelah perpisahan dengan ayahnya ternyata tidak terbukti benar.
"Aku bahkan lebih buruk dari yang kau kira."
Hinata pikir masalah orang tuanya tentu tidak sesederhana itu. Namun tetap saja tidak dapat menutup fakta bahwa ia ditinggalkan oleh ibunya yang sakit hati terhadap perlakuan ayahnya.
Bagaikan rantai yang saling berkait, di bawah bayang-bayang mimpi buruknya dari masa lalu, ia memilih untuk turut menanggung luka itu dan membawanya hingga ini. Luka yang sejatinya hanya akan menyakiti dirinya sendiri karena ternyata ibunya tidak butuh pembelaannya.
.
.
.
Hinata selalu merasa lebih berani setelah efek obatnya bekerja. Bukannya melewati tangga di luar Gallery 1010 seperti biasa, ia justru menantang nyalinya dengan melewati studio di mana ia tadi menemukan Shion. Sesuai dugaannya, sesi pemotretan bertema festival musim panas itu masih berlangsung, mungkin hingga larut nanti. Ia terpaku tanpa suara, membiarkan Naruto menjadi orang terakhir yang menyadari kehadirannya.
"Saara, bisa kau tata rambutnya lagi?"
Naruto tidak tinggal diam sepanjang wanita berambut merah itu melakukan permintaannya. Selama tatanan sanggul Shion lebih dirapikan, Naruto membantu mengikat obi yukata Shion dengan lebih kencang. Betapa mereka tampak sebagai partner yang serasi. Bahkan sampai sekarang pun Hinata masih cemburu kepada teman-teman Naruto.
Kiba tampak gelagapan ingin memberitahukan kedatangannya, namun di saat yang sama juga enggan mengganggu konsentrasi Naruto. Sementara dua wanita itu berlagak tidak melihatnya, malahan seperti mengejeknya dengan terus menarik perhatian Naruto.
Suaminya memang mudah bergaul dengan semua orang, tetapi itu pula yang membuatnya takut jika Naruto akan lebih akrab dengan orang lain melebihi keintiman—kedekatan secara total; baik fisik, emosional, dan lainnya—dengan dirinya. Walaupun semakin dirinya dekat dengan seseorang, potensi merasakan sakit juga akan semakin besar.
Setelah semua kejadian yang mereka alami, ternyata Naruto juga masih berkawan baik dengan Shion. Ia bukannya mengharap perpecahan antara sahabat itu, hanya saja ia merasa takut. Sebab, ia sempat mengira bahwa Naruto ada di pihaknya, sekutunya yang paling setia. Namun menemukan kenyataan itu, ia merasa tak memiliki siapapun di sisinya.
Mungkin dari awal ia memang sendirian, sementara orang-orang yang menaruh kebencian padanya akan bergerombol di belakangnya dan membicarakan segala hal buruk tentangnya. Perasaan yang membuatnya merasa begitu ketakutan untuk mempercayai orang lain, hingga ia membutuhkan obat anti-cemasnya untuk meredakan kegelisahannya.
Suasana hatinya kian memburuk jika mengingat rangkaian kejadian yang menimpanya hari ini. Batinnya tidak tenteram. Pun mengetahui ibu kandungnya dalam keadaan yang tidak seburuk yang ia cemaskan, justru membuat hatinya kian mengeras, seakan telah mati rasa. Bahkan Mikoto tidak mengatakan apapun padanya sebelumnya, dan entah sejak kapan ibu Sasuke itu tahu perihal ibu kandungnya.
Lalu bagaimana tanggapan ayahnya jika tahu ia telah bertemu dengan ibunya. Atau ayahnya juga mengetahui keberadaan ibunya sejak awal dan menyembunyikan darinya?
Dengan masa bodoh ia lewat di balik punggung Naruto untuk naik ke lantai tiga. Ia dapat mendengar keterkejutan Naruto, sebelum suaminya itu berseru, "Okaeri, Omae."
.
.
.
"Tokuma tidak ada di kamarnya, ke mana dia?"
Hinata sudah siap tidur di pembaringannya saat Naruto baru masuk ke kamarnya setelah berada di studio hingga larut. Entah ada berapa model lagi setelah Shion. Seolah baru teringat jika sekarang ada orang lain di bawah atap yang sama, yang juga membutuhkan perhatiannya.
"Untuk sementara, dia akan bersama keluarga ayahnya." Hinata tidak mengatakan bahwa ia sengaja menitipkannya lantaran ia takut Tokuma turut celaka jika tetap berada di dekatnya.
Naruto hanya ber-oh pelan, tampak menyesal telah mengkhawatirkan sesuatu yang tak perlu. Lalu mengambil baju ganti di lemari sebelum meninggalkannya lagi untuk membersihkan diri di kamar mandi. Ia berniat tidur sebelum Naruto kembali, tetapi rasa kantuk tak kunjung datang.
"Wanita yang waktu itu adalah Saara, yang tadi juga ada di studio. Aku harap kau tidak membencinya, aku yang dulu memintanya membantuku."
Naruto memulai obrolan sembari menyusul Hinata ke pembaringan. Rambut pirangnya masih setengah basah saat menyentuh bantal, menguarkan aroma sampo yang menyegarkan.
"Untuk apa aku membenci seseorang yang tidak ku kenal."
Naruto malam ini begitu menyebalkan di mata Hinata. Bisa-bisanya membahas mimpi buruk yang ingin dilupakannya sejak lama. Benar-benar tidak peka, atau Naruto memang sengaja membalasnya atas jawabannya tentang Tokuma? Ia hanya mengatakan yang sejujurnya.
"Saara adalah kerabat dari sepupuku…."
Naruto terdiam untuk beberapa saat, sampai ia kembali menjadi menyebalkan menurut Hinata, "Dia sekarang janda beranak satu, mantan suaminya masih berkerabat dengan Toneri."
Dan sesungguhnya Hinata tidak mau tahu, "Oh, pantas dekat dengan Shion."
"Mendengar nada bicaramu, sepertinya kau belum berdamai dengan Shion."
"Kau pikir aku akan melupakan semuanya dengan mudah? Lantas menjadi seperti ibuku—yang hanya bisa mengalah, yang diam saja jika disakiti?"
Hinata tidak mengerti mengapa masih bisa menyebut wanita itu sebagai ibunya, sementara keberadaannya belum tentu diakui. Apalagi wanita itu sudah memiliki seorang putri yang sempurna, bukan seseorang yang penuh keruwetan seperti dirinya. Atau mungkin wanita itu hanya sebagai kambing hitam atas rasa dendam yang bersarang di hatinya. Seolah-olah ia ingin membela ibunya, padahal sebenarnya ia hanya berkeinginan membalas luka hatinya sendiri.
"Apa ini artinya kau masih mengharapkan Toneri?"
"Tidak sama sekali. Kenapa jadi membahas suami orang."
"Aku tidak bermaksud membela siapapun, tapi aku mengenal Shion. Toneri yang lebih dulu mendekatinya. Dia tidak seburuk yang kaupikirkan."
Hinata tidak tahan lagi, dibalikkannya tubuhnya cepat membelakangi Naruto.
"Sepertinya kau belum mengenalnya dengan baik."
Helaan napas Naruto terdengar kasar menahan kesal, tapi ia terlalu lelah untuk mendebat, "Sudahlah, aku hanya mengatakan yang ku ketahui."
Hinata bisa merasakan gerakan Naruto yang juga berbalik memunggunginya. Tak lama untuk mendengar dengkuran halus Naruto, sementara dirinya masih tetap terjaga. Saat keadaan menjadi begitu tenang, detik jam dinding terdengar seperti mengetuk gendang telinganya, membuatnya semakin betah untuk tidak terpejam.
Ia sulit tidur walaupun sudah meminum obatnya. Terlalu banyak yang mengganggu pikirannya. Orang yang paling dekat dengannya, bisa jadi adalah orang yang paling ingin menyakitinya. Bahkan mungkin yang tampak memusuhinya belum tentu adalah musuh yang sebenarnya.
Jadi, masihkah ada manusia yang dapat ia percaya?
Pelan-pelan ia berbalik, menghadap pada punggung lebar Naruto yang tampak dingin. Naruto pasti kecewa padanya setelah tahu bahwa ia masih memusuhi Shion. Cukup lama ia hanya bergeming, hingga ia tak kuasa menahan dirinya untuk mendekap Naruto dengan begitu erat.
Ia takut dicampakkan untuk kesekian kali. Andaikata Naruto merusak kepercayaannya lagi, ia kira ia tak akan sanggup untuk kembali memberikan kepercayaannya kepada orang lain. Buku-buku tangannya menegang saat ia meremas bagian depan kaos Naruto dengan teramat kuat.
Jika masih ada manusia yang bisa dipercaya, ia sangat berharap orang itu adalah Naruto.
"Kau bermimpi buruk?" Naruto menggumam serak.
Ia melonggarkan lingkaran lengannya saat merasakan Naruto hendak berbalik membalas dekapannya. Dibenamkan kepalanya pada dada Naruto, dan kantuk berangsur melelapkannya.
Terkadang layaknya sepasang kekasih, namun ada kalanya juga bersikap seolah tidak saling mengenal. Mampukah ia dan Naruto terus menjalani kebersamaan yang seperti ini?
.
.
.
"Hm? Kau tidak bisa bangun?"
Naruto bermaksud menarik lengan kirinya yang memeluk Hinata kalau saja tidak ada tangan lain yang masih mencengkeram bagian belakang kaosnya. Menilik respons Hinata, ia tanpa ragu menyimpulkan bahwa istrinya ini masih ingin bertahan pada posisi tersebut.
Tak dapat dicegah, muka bantalnya menampilkan senyum mesra. Didekapnya lebih erat tubuh mungil berbalut gaun tidur renda yang manis itu. Rasanya sudah lama sekali tak ia rasakan, Minggu yang senggang ditambah sambutan pagi yang demikian menyenangkan.
Senyumnya menular pada Hinata yang kini mencubit pelan pipinya yang memiliki tanda lahir. Yang kemudian tanpa disangkanya Hinata mengecup lembut bibirnya. Semenjak Hinata kembali, ini adalah yang pertama. Dan lagi, biasanya dirinya lah yang mengambil langkah awal.
Dipandanginya sepasang mata lembayung muda itu, mata yang memandangnya teduh namun seolah menyimpan bisa, yang menggoyahkan pertahanannya sampai titik paling berbahaya.
Dibalasnya ciuman singkat Hinata dengan kecupan-kecupan lainnya. Merasakan telapak tangan hangat yang menerobos kaosnya untuk meraba punggungnya, ia nyaris kehilangan kontrol atas dirinya. Kecupan ringan berangsur menjadi lumatan. Tangannya turut mengambil peran, memberikan ruang pada bahu Hinata yang selanjutnya menjadi jajahan bibirnya.
"Naruto-kun…."
Bisikan Hinata yang mendamba semakin memabukkanya. Dikurungnya Hinata di bawah tubuhnya tanpa menindihnya. Kembali saling bertukar pandang, memastikan kesiapan Hinata. Dibandingkan empat tahun lalu, Hinata kini lebih mampu menerimanya. Dulu tak jarang Hinata histeris jika ia hendak melakukan lebih dari ciuman, terutama di masa awal pernikahannya.
"Kau ingat tidak, waktu di Okinawa kita pernah dikejar babi."
Hinata nyaris tertawa di tengah usahanya untuk bernapas dengan benar, "Sandal jepitmu sampai putus, kan."
"Lain kali aku akan pakai sepatu bot."
Naruto sungguh lihai menghanyutkannya, saat jari-jari nakal itu tak berhenti menggoda tubuhnya. Bagaimana mungkin ia percaya bahwa Naruto tidak pernah melakukannya dengan wanita lain sebelumnya jika suaminya ini begitu cakap memanjakan titik-titik sensitifnya.
Atau memang ini adalah insting setiap manusia? Bahkan ia seperti menemukan dirinya yang baru setelah menyadari betapa beraninya ia menanggapi setiap sentuhan Naruto.
"Kalau kita ke Okinawa lagi, aku akan mengajakmu ke peternakan Paman Nagato yang dikelilingi perkebunan tebu. Di sana kita bisa membebaskan satu kandang babi."
"Tidak mau," Hinata setengah merengek, "Aku tidak bisa lari secepat dirimu, bisa-bisa rokku digigit seperti waktu itu. Aku takut sekali. Apalagi oleh puluhan babi, bisa habis."
"Mungkin sekarang ratusan."
Naruto tergelak sambil tangannya diam-diam memisahkan kaki Hinata.
"Tapi jangan khawatir. Nanti aku akan menggenggam tanganmu lebih erat agar kau tidak tertinggal lagi. Atau kau mau naik ke punggungku?"
"Aku mau digendong seperti putri."
Rengkuhan lengan pada bahunya menguat saat ia menjamah bagian utama. Tersenyum manis, dibelainya pipi Hinata yang bersemu merah. Dikecupnya kening Hinata penuh perasaan.
"Suki saa…." Naruto berbisik lirih, menyapa selaput pendengaran Hinata bak embusan angin lembah, "Deeji daisuki saa…."
Naruto bisa merasakan anggukan Hinata dan lengkungan bibir yang menempel pada bahunya. Ditegakkannya kembali kepalanya, tak dibiarkannya Hinata menutup mata saat ia mulai melakukannya. Senyum berbalas senyum, dan ia memulainya dengan sangat berhati-hati.
"Anata … doushita no?"
Hinata tidak dapat menahan mulutnya untuk tidak bertanya lantaran roman muka Naruto berubah datar. Bahkan tanpa menjawabnya, Naruto buru-buru memisahkan diri darinya. Meninggalkannya yang terbaring berantakan, memasuki kamar mandi dengan menyisakan debaman. Ia tak dapat menghalau kesedihannya, merasa bahwa dirinya memang sudah tak pantas. Tangannya yang masih gemetar ringan membenahi gaun tidurnya yang tersingkap di mana-mana sembari melangkah gontai ke kamar mandi luar.
Begitu keluar dari kamar dengan rambut basahnya, Naruto menemukan Hinata yang sudah rapi dan wangi sedang memasak di dapur. Agaknya ia terlalu lama berada di kamar mandi.
"Hinata … gomen…."
Mendapati senyum lemah Hinata membuatnya kian merasa bersalah. Ia tidak bermaksud untuk menolak Hinata karena ia juga menginginkannya, namun sebentuk keraguan yang kuat menghantamnya dengan tiba-tiba. Ia merasa belum tenang.
Hinata meninggalkan rebusan sayurnya yang belum mendidih saat tangannya ditarik untuk duduk di salah satu kursi bar. Handuk kecil yang terkalung di lehernya diusapkan halus ke rambutnya yang masih meneteskan titik-titik air. Diraihnya tangan Hinata yang kemudian dikecup-kecup kecil, membiarkan handuk menudungi kepalanya. Tanpa melepas kontak mata, ditariknya pelan pinggang Hinata, mengungkapkan terima kasihnya melalui kecupan di pipi.
.
.
.
Pekan baru diawali dengan kesibukan baru. Hinata harap dengan menyibukkan diri dalam pekerjaan akan membuatnya lebih mudah mengalihkan pikirannya dari segala permasalahan yang menyangkut masa lalunya. Ia ingin fokus pada hari ini dan masa depan. Salah satu keinginan terbesarnya saat ini adalah memperbaiki rumah tangganya yang pernah retak. Pun ia berharap Naruto memiliki harapan yang sama, karena percuma jika ia berjuang sendirian.
"Sasuke, aku belum bisa menjemput Tokuma."
"Biarkan saja di sana. Ibuku suka anak-anak."
Hinata menelepon Sasuke dalam bus yang membawanya ke Shinjuku, di mana kantor Wedding Fragments berdiri. Ia kira tidak masalah menjalani pekerjaan itu, apapun nanti yang akan ditugaskan kepadanya. Ia harus bisa untuk tidak bergantung kepada Sasuke lagi.
"Oh ya, aku diterima bekerja—"
"Hm."
"Kedengarannya kau tidak senang."
"Memang."
Tentu saja karena Sasuke pernah berharap dirinya tidak lolos dalam wawancara kala itu. Sayang sekali Sasuke harus membiasakan diri dengan fashion stylist yang baru mulai sekarang.
"Sudah?"
Ia baru membuka mulut ketika bunyi tut panjang mendengung di telinganya. Dan ia jadi memiliki harapan baru, agar Sasuke dikelilingi oleh orang-orang yang bisa diandalkan agar pria itu tidak uring-uringan terus. Karena pada akhirnya ia yang akan dijadikan pelampiasan.
"Uzumaki Hinata-san?"
"Hai?"
Baru juga menginjakkan kakinya yang berbalut high heels di Wedding Fragments, Hinata langsung diarahkan menuju ruangan sang bos. Rupanya ia harus berangkat lebih pagi mulai besok. Kedatangannya cukup mepet dari jam kerja.
"Sebelumnya saya ucapkan selamat bergabung di Wedding Fragments," ucap pria berambut gelap yang Hinata ketahui sebagai pimpinan tertinggi di kantor wedding planner ini. Aburame Shino terpampang pada papan nama di atas meja. Terdengar seperti sambutan penuh basa-basi, namun juga to the point dalam waktu yang sama.
"Selama masa training, Anda akan bekerja bersama tim Lee-san."
Hinata masih ingat pria dengan rambut hitam berkilau itu adalah pewawancaranya yang ramah. Ia kira akan mudah bekerja sama dengannya. Setelah diperkenalkan sebentar dengan lingkungan barunya, ia tidak memiliki waktu untuk bersantai. Semua pun tampak sibuk.
"Uzumaki-kun, bisa kau cocokkan data ini dengan paket suvenir yang baru datang?"
"Baik, Leader."
Pria bernama lengkap Rock Lee itu tertawa pelan mendengar panggilan baru untuknya.
"Maaf, Lee-san. Saya bingung harus memanggil apa."
"Aku suka, tenang saja. Mungkin kau masih bingung karena di sini kesenjangan jabatan kurang kentara. Tidak sedikit yang memanggilku Lee saja atau julukan lainnya, jadi jangan sungkan."
Hinata menyimak penjelasan Lee sembari meneliti ruangan tanpa sekat yang akan ditempatinya juga. Lumayan banyak kursi yang kosong. Sebagian besar tengah menemui klien atau mengajukan kerja sama dengan berbagai vendor, sementara sebagian yang lain sedang stand by di pesta pernikahan klien. Memikirkannya saja sudah membuatnya kian berdebar.
"Apapun posisimu, siapapun timmu, jika tenagamu dibutuhkan oleh tim lain, tetap kerjakan sebisamu—dengan catatan tim kita sedang luang. Di sini tidak dikenal 'berlomba memperbaiki kedudukan' karena kepuasan klien lah yang menjadi prioritas kita. Tanamkan itu pada dirimu, jadikan itu prinsipmu. Apa kau siap?"
"Siap, Leader."
"Katakan lebih keras!" tantang Lee dengan berapi-api.
"Siaaap!" Hinata turut meninjukan tangannya mengikuti sang bos.
"Yosh, kerjakan apa yang ku tugaskan padamu tadi. Waktu berkali lipat lebih berharga menjelang musim gugur seperti ini—saat kita mendapat order terbesar dalam tiap tahunnya."
"Hai, wakarimashita!"
Kendati Wedding Fragments bukan kantor besar, Hinata tetap berdebar-debar mengingat ini adalah pengalaman pertamanya bekerja bersama orang banyak dengan beragam karakternya. Sebelumnya ia hanya bekerja pada Sasuke dan beberapa pihak yang terkait. Sedangkan di sini ia juga akan menghadapi klien dengan segudang permintaan dan harapan. Salah satu ketakutan terbesarnya hingga saat ini, ketika ia harus berinteraksi dengan banyak orang.
Mampukah ia menjalaninya? Akankah ia kembali bergantung pada obat anti-cemasnya?
.
.
.
"Kelihatannya kau memforsir diri akhir-akhir ini."
"Supervisorku sangat bersemangat, aku jadi tertular. Tapi menurutku masih dalam tahap kerja keras, bukan ngoyo."
Duduk berdua di rooftop, menatap bulan penuh dengan menumpukan kepala di bahu Naruto, Hinata merasa bak sejoli yang dilanda kasmaran. Ternyata ia memang membutuhkan waktu berdua dengan Naruto. Beruntung ibu Sasuke menyambut Tokuma dengan penuh sukacita, walaupun ia juga tidak bisa terus merepotkan keluarga Uchiha. Paling tidak ia ingin menggenapkan satu minggu ini hanya berdua dengan Naruto.
"Tapi hari ini rasanya memang lebih melelahkan. Klien yang datang ke kantor tadi hampir membuatku keliling Tokyo."
"Bagaimana ceritanya?"
"Calon suami menginginkan tempat resepsi yang dekat dengan stasiun karena memikirkan kerabatnya yang sudah lansia, dan kalau bisa di hotel. Sedangkan calon istri menginginkan pernikahan outdoor seperti di taman dengan kostum beruang sebagai pakaian pengantinnya."
Naruto terbahak mendengarnya. Ia memang tak jarang mengerjakan wedding photography, tapi belum ada dari kliennya yang mengenakan kostum binatang.
"Tentu saja suaminya tidak setuju, apalagi keluarganya sangat memegang teguh adat tradisional. Alhasil ada sedikit perdebatan tadi—meski bukan aku sendiri yang menangani klien. Lalu aku bersama partnerku mendapatkan tugas untuk mencari tempat resepsi, dan manajer yang kami temui tidak semuanya ramah."
Naruto merangkul bahu Hinata agar lebih merapat padanya, sesekali diusapnya lengan yang telah bekerja keras itu. Jika mengingat pernikahannya dulu, sepertinya tidak terlalu rumit. Ia dan Hinata melangsungkan pernikahan di kuil dengan dihadiri keluarga inti dari kedua belah pihak, lalu pengesahan secara hukum, dan beres.
"Setelah mendapatkan penolakan di sana sini, kami menawarkan hotel di daerah Bunkyo yang dekat dengan kuil Shinto dan bisa di-booking untuk hari itu. Dengan mempertimbangkan budget juga, akhirnya mereka setuju."
"Besok selagi libur, istirahatlah yang cukup."
"Hm." Hinata melingkarkan lengannya di perut Naruto, bermanja-manja layaknya hamster, sesuai dengan piama yang kini membungkus tubuhnya. Naruto benar-benar memberinya piama Hamtaro, lengkap dengan tudung kepala yang melingkupi rambut pendeknya.
"Ada apa, hm? Ms. Hamtaro ingin biji bunga matahari?" goda Naruto yang sebenarnya kegelian akibat tingkah Hinata, seperti digelitik.
"Aku ingin memberimu hadiah. Tapi jangan tertawa jika buruk. Sudah lama aku tidak melakukannya, dan hanya sempat berlatih sebentar jika kau sedang berada di studio."
Pertanyaan Naruto yang belum sempat terlontar langsung terjawab gamblang ketika Hinata mengeluarkan sepatu balet dari kantong piamanya. Ia tidak tahu mengapa dadanya mendadak bergemuruh bising melihat Hinata mulai membungkus kakinya.
Ia semakin terpaku kala Hinata menarik bagian piama di kakinya hingga ke atas lutut, disusul di tangan sebatas lengan atas. Saat Hinata menurunkan tudung piamanya, ia bergegas turun dan kembali dengan kamera video yang ia berdirikan di atas tripod.
Melihat Hinata mengambil sikap sempurna di tengah rooftop, ia nyaris lupa untuk bernapas. Tanpa gaun mengembang dan tatanan rambut bergelung, Hinata sudah tampak begitu menawan. Malam ini seperti yang pernah ada dalam mimpinya, ketika ia melihat Hinata menari di bawah cahaya bulan. Bahkan panggung ini jauh lebih indah, karena keanggunan tarian Hinata dipercantik oleh bunga matahari yang mengelilinginya bersama sorot lampu.
Entah apa yang membuatnya begitu sedih, namun ia berusaha menahan dorongan untuk menangis tatkala Hinata mampu melakukan putaran sempurna.
.
.
.
"Kau menolakku lagi…."
"Aku tidak menolakmu."
"Tapi kau selalu berhenti di tengah kegiatan kita."
"Maaf…."
Hinata membelakangi Naruto. Perasaannya bercampur aduk. Jika satu atau dua kali saja, ia masih dapat mengerti. Tetapi kali ini ia sudah dibuat malu.
"Apa karena kau terlalu lama menghabiskan waktu bersama Inuzuka-san sampai kau tidak tertarik kepada wanita lagi?"
"Astaga, jangan melantur."
"Atau karena ada Tokuma di antara kita?"
"Bukan."
Apakah Naruto memang ingin membalasnya dengan membuat dirinya merasakan penolakan, seperti yang dilakukannya dulu?
Kala itu ia belum benar-benar menyukai Naruto. Pun ia masih terbayang-bayang pengalaman traumatiknya, sehingga ia tidak sanggup untuk terlalu dekat dengan seorang laki-laki. Tapi sekarang ia sudah berusaha untuk melupakan semua itu, ia ingin menjadi istri yang sempurna.
"Aku merasa tidak pantas menyentuhmu selama aku masih menjadi seorang pecundang."
"Apa maksudmu?"
Hinata mendudukkan dirinya, dan hanya menemukan Naruto yang tengah duduk membelakanginya menghadap jendela kamar mereka yang lebar, di mana cahaya bulan menerobos masuk mengisi keremangan.
"Aku ada dalam mobil yang menabrakmu 11 tahun yang lalu."
Hinata bahkan tidak tahu apa yang dirasakannya saat ini. Tubuhnya mematung kaku. Hanya muncul spekulasi buruk dalam benaknya yang beramuk kacau.
"Sekarang aku sudah mengakuinya, dan aku akan menerima segala keputusanmu."
Jadi, segala hal yang dilakukan untuknya selama ini, lebih karena Naruto ingin menebus kesalahan terhadapnya? Jika orang tua Naruto tahu dan menyembunyikan semua ini dari lama, berarti mereka juga tidak ada bedanya?
Lalu bagaimana dengan ayah dan keluarganya, tidakkah mereka tahu? Mengapa mereka tetap membiarkannya menikahi Naruto?
Mengapa semua orang seolah menyimpan rahasia darinya? Mengapa hanya dirinya yang seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa?
Inikah karma untuknya setelah bermain-main dengan perasaan orang lain? Lantas apa bedanya dengan mereka yang melakukan semua ini terhadapnya?
.
.
.
"Aku akan ikut denganmu ke London. Secara hukum aku masih menikah, tidak akan aneh jika nanti aku pulang dengan seorang anak. Sedangkan kau di sana untuk belajar. Otousama bisa syok jika tahu. Apalagi kau baru bisa menikah dua tahun lagi jika tanpa izin dari orang tua."
Hinata tak peduli jika lawan bicaranya enggan mendengarnya. Bahkan saat kedua telapak tangan dikatupkan ke telinga, ia masih bersikukuh dengan pendiriannya. Sebab ia tahu bahwa sebenarnya ia sedang didengarkan. Ia hanya butuh waktu untuk dapat meyakinkan.
"Kau sendiri belum menuntaskan perceraianmu, tapi berlagak ingin menanggung masalahku? Lagipula kenapa kau melakukan ini? Bukankah kau membenciku?"
"Kau adikku, Hanabi."
Hanabi terkekeh sinis, "Aku marah padamu waktu itu, lalu aku datang ke tempat Sasuke karena aku tidak mau bertemu denganmu, dan ketika sekarang aku hamil karena hari itu—"
Ia tidak mungkin lupa hari itu. Satu dari sekian mimpi buruknya. Ia bertengkar dengan Hanabi, dan di hari yang sama Naruto mendengar pengakuannya, tentang niat awalnya menikah. Bahwa ia menerima Naruto karena dari awal ia tahu Hanabi menyukai pria itu. Ia membalas perasaan tulus Naruto dengan kepura-puraan, pada awalnya.
Ia terlalu dibutakan oleh keinginannya untuk membalas siapapun yang berhubungan dengan penyebab sakit hati ibunya, yang membuat dirinya dicampakkan. Ia membenci siapapun yang berkaitan dengan Shion dan istri ayahnya. Namun sekarang ia sadar, tidak ada hal baik yang didapatkannya. Meskipun ia belum mampu memaafkan Shion.
"—kau merasa bersalah?"
"Hanabi…."
"Kau bermaksud menebus kesalahan?"
.
.
.
.
.
NARUTO milik Masashi Kishimoto, saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam penulisan fanfiksi ini | AU | OoC? | yang dinyanyikan hinata di chapter 3 adalah terjemahan lirik shima uta-nya the boom | bolero terinspirasi bolero-nya toho
[Okinawa]
masasai = oishii
nuga = nani
deeji = sangat (tottemo)
jika ada pair bukan canon yang nyelip di sini, salahkan saja saya, jangan pair ato charanya ya ;)
niatnya mau apdet sekalian sampe chapter terakhir, eh malah salah pas edit jadi ke-replace sama chapter 3 kemarin, baru nyadar pas lihat review, jadi apdet dulu deh, douzo xD
Terima kasih banyak, selalu -/\-
