Cast:
Suga as Min Yoongi (GS) – 18 y.o.
Jimin as Park Jimin – 16 y.o.
V as Park Taehyung – 13 y.o.
Jungkook as Park Jungkook – 4 y.o.
Jin as Kim Seokjin/Yoongi's mom (GS)
Rap Monster as Min Namjoon/Yoongi's dad
Summary:
"Yoongi sayang, kenapa tidak keluar dengan Jimin?" "Ah, tidak, eomma. Aku disini saja." / "Noona, ayo main!" "Eh? Baiklah, Jungkook-ah." / "Kenapa Jimin jadi dingin begitu ya?" / Sebuah cerita tentang awkward moments yang dilalui oleh Yoongi dan Jimin.
Disclaimer:
Member BTS bukan punya author, tapi cerita fiksi ini murni ide author. Jika ada kesamaan cerita, itu adalah unsur ketidaksengajaan.
I Remember You
Chapter 4: How Could I Forget It?
Flashback
Seorang anak laki-laki berlari dari taman dengan pakaian yang sedikit kotor oleh tanah. Ia menggenggam setangkai bunga mawar merah dan bibirnya menyunggingkan senyum lebar khas anak kecil. Ia berlari memasuki rumahnya tanpa peduli jika sepatunya yang penuh tanah akan mengotori lantai. Ia melesat ke ruang keluarga dan menemukan seseorang yang dicarinya sedang bermain dengan adiknya.
"Yoongi!" serunya sambil memeluk sepupunya yang ia rindukan, Min Yoongi.
Taehyung yang melihat kakaknya memeluk Yoongi dengan pakaian yang tidak layak, langsung mendorongnya menjauhi sepupunya itu. "Iiiih, Jimin jangan peluk-peluk Yoongi noona! Jorok tahu!"
Jimin tidak peduli dengan omelan adiknya, ia lalu menyerahkan bunga yang sedari tadi digenggamnya erat pada Yoongi.
"Ini untukku?" tanya Yoongi yang dijawab dengan anggukan oleh Jimin.
"Saat eomma bilang kalau Yoongi akan datang, aku langsung pergi ke taman untuk memetik bunga itu. Aku kan ingat kalau Yoongi suka bunga mawar," ucapnya bangga.
Yoongi sempat tersenyum saat mengucapkan terimakasih, tapi ia melihat ada noda darah pada tangkai bunganya. Ia lalu meraih tangan Jimin dan memekik pelan. "Kamu berdarah, Jimin-ah!"
Terkejut mendengar pekikan sepupunya itu, Taehyung langsung berteriak panik sambil menarik Jimin ke kamar ibunya. "Eomma! Dari tangan Jimin keluar darah, Jimin mau matiiii!"
Kata-kata Taehyung itu terlalu lucu bagi Yoongi, sehingga ia tidak bisa menahan tawanya. Bocah berumur empat tahun itu tahu darimana kalau kehabisan darah bisa menyebabkan kematian? Ditambah lagi, wajah Jimin yang bersikeras bahwa ia baik-baik saja itu sangat konyol.
Yoongi kemudian menatap bunga mawar yang kini ada di tangannya. Ia menggenggamnya dengan hati-hati, agar tangannya tidak terluka karena terkena duri seperti Jimin.
Ketika ia sedang sibuk mengagumi betapa cantiknya bunga mawar pemberian Jimin, ia teringat sesuatu. Gadis kecil berumur sembilan tahun itu meletakkan bunga mawarnya di meja sambil mengerutkan keningnya. Yoongi kemudian menatap bajunya yang terkena noda darah bercampur tanah dari Jimin. Ia pun menutup matanya dan tersenyum kecut. Ia menarik napasnya dan—
"PARK JIMIIIIIIN! GARA-GARA KAMU BAJUKU JADI KOTOR TAHUUUU!"
Flashback End
.
Tidak terasa sudah satu minggu Yoongi dan orangtuanya mengunjungi rumah keluarga Park di Busan. Dan kini sudah saatnya mereka kembali ke Daegu untuk melanjutkan aktivitasnya.
Di ruang tamu, sudah ada kedua pasang orangtua yang sibuk mengucap kalimat perpisahan. Para istri saling berpelukan, sementara para suami merangkul satu sama lain. Mereka berempat tertawa bersama.
Setelah dikiranya perpisahan mereka cukup, Seokjin lalu meminta Namjoon memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil. Ia pun memanggil anak gadisnya yang sedari tadi belum selesai berdandan di kamar Taehyung. Tak lama kemudian, Yoongi muncul dengan rambut berantakan sambil menggendong Jungkook yang sedang menangis di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membawa tasnya. Taehyung di belakangnya mengekori Yoongi sambil berusaha menenangkan adiknya itu.
"Noona tidak boleh pergi, pokoknya noona harus terus disini menemani Jungkook main! Huwaaaaaa!"
Tangisan Jungkook itu sangat keras hingga Yoongi dan Taehyung benar-benar kebingungan dibuatnya. Melihat anak bungsunya meraung-raung karena akan ditinggal sepupunya, Chanyeol dengan sigap mengambil Jungkook dari gendongan Yoongi. Jungkook tadinya berontak, tapi setelah Chanyeol menggendongnya menghadap Taehyung, tangisan bocah empat tahun itu mereda dan ia tidak berontak lagi. Malah, ia menatap kakaknya yang memasang wajah sedih.
"Jungkook-ah, coba lihat wajah Taehyung. Dia mau menangis loh. Kalau Yoongi noona disini terus, nanti Taehyung yang sedih karena Jungkook pasti tidak mau bermain dengan Taehyung lagi," ucap Chanyeol sambil mengusap kepala anak bungsunya itu lembut.
Seokjin yang tengah merapikan rambut Yoongi hanya menatap kakak iparnya itu dengan bangga. Suami pilihan kakaknya itu memang pria yang hebat, tidak kalah hebat dengan ayahnya dan suaminya sendiri tentunya.
Sedangkan Baekhyun dengan sifat usilnya malah menyuruh Chanyeol membawa Jungkook mendekati Yoongi sambil berkata, "Jungkook-ah, tahu tidak? Gara-gara Jungkook menangis, mata Yoongi noona jadi aneh seperti itu."
Sontak semua orang langsung menatap mata Yoongi. Dan Taehyung mulai cekikikan karenanya. Seokjin sebagai ibu yang baik hanya memberi tahu anaknya tentang matanya itu. "Yoongi -ya, kalau pakai eyeliner itu jangan hanya sebelah."
Yoongi pun langsung berlari ke kamar Taehyung untuk menyelesaikan dandanannya.
.
Jimin tidak menepati janjinya.
Saat ini, Yoongi tengah beristirahat di kamarnya. Baru satu jam yang lalu mereka sampai di rumahnya—setelah dengan susah payah mereka pergi meninggalkan Busan karena Jungkook yang kembali menangis.
Gadis berambut panjang itu merebahkan tubuhnya di ranjang dan memejamkan matanya sejenak. Ia mulai bergumam tentang bagaimana menyebalkannya Jimin yang tidak mengantar kepulangannya entah karena apa. Memang sih, Yoongi terus menghindari Jimin sejak kejadian memalukan saat mereka pergi ke minimarket itu, tapi Jimin juga sama sekali tidak ada usaha untuk berbicara pada Yoongi. Jadilah mereka memulai acara diam-diaman yang hingga kini tidak disadari oleh siapapun—kecuali mereka berdua.
Yoongi sebenarnya ingin mengajak Jimin mengobrol. Tentang apapun. Ia ke Busan dengan niat ingin bermain dengan sepupunya tanpa beban apapun, seperti waktu kecil dulu. Tapi Jimin malah… ah, Yoongi jadi kesal sendiri jika mengingatnya. Apalagi jika ingat bahwa Jimin tidak menepati janjinya yang ia ucapkan sembilan tahun lalu—walaupun Yoongi sebenarnya tidak terlalu berharap.
"Argh! Dasar Park Jimin jelek! Menyebalkan!" ujarnya sambil mengacak-acak kepalanya.
Setelah puas melampiaskan rasa kesalnya pada rambut indahnya, tangannya kanannya meraih ponselnya yang ia letakkan di meja nakas. Dengan cepat ia membuka fitur KakaoTalk dan mengetikkan sebuah pesan kepada salah satu temannya.
Min Yoongi: Oy, besok siang ke rumahku jam 1 ya. Penting. Awas kalau tidak datang.
Yoongi melemparkan ponselnya ke sembarang tempat dan gadis itu pun tertidur.
.
"Jadi, kau memintaku ke sini hanya untuk curhat?"
Yoongi yang sedang tengkurap di ranjang queen sizenya mengangguk, membuat pemuda yang sedang berbaring di sebelahnya menatapnya tidak percaya.
"Wow, Min Yoongi. Aku ke sini karena semalam kau bilang ada sesuatu yang penting dan kau hanya CURHAT? Aku bahkan tidak disuguhkan makanan untuk kunikmati sambil mendengar ceritamu itu!" omel pemuda itu sambil memukul kepala Yoongi dengan boneka Kumamon yang ada di dekatnya.
Yang dilempari hanya memeluk boneka beruang hitam itu dan menendang kaki pemuda tadi dengan keras hingga ia terjatuh dari ranjang.
"Please deh, Hoseok. Ini penting buatku, tahu! Selama sembilan tahun kami tidak bertemu dan tiba-tiba Jimin bersikap begitu padaku. Kau tidak mengerti, selama di Busan aku terus bertanya-tanya dalam hatiku, 'Kenapa Jimin jadi dingin begitu ya?' dan hingga kini aku belum mendapat jawabannya. Kupikir aku akan gila."
Hoseok kembali naik ke atas ranjang dan menarik pipi Yoongi hingga temannya sejak kecil itu mengaduh kesakitan. "Kau ini bodoh atau apa? Sudah pasti dia menjauhimu karena kau pernah menolaknya saat ia menyatakan cinta padamu, Seoltang."
Yoongi melepas tangan Hoseok yang mencubitnya. "Berhenti memanggilku Seol—APA KATAMU? MENYATAKAN CINTA?!"
"Jangan bilang kau lupa?" tanya Hoseok dengan nada malas.
Setelah Yoongi menganggukkan kepalanya cepat, Hoseok kembali menarik pipinya saking gemasnya. "Kau pikir alasan kita putus waktu itu apa hah? Aku tidak menyangka kau bisa melupakan hal itu. "
Gadis itu kembali memeluk boneka Kumamonnya erat. Ia berusaha mengingat-ingat masa lalunya saat ia masih berpacaran dengan Hoseok sekitar lima tahun yang lalu, tapi otaknya tidak mampu. Ia sudah terlanjur melupakan semuanya.
Tiba-tiba Hoseok melempar ponselnya—ponsel Yoongi—ke hadapan gadis itu. Yoongi menatap teman masa kecil sekaligus mantan kekasihnya itu dengan tatapan heran.
"Tuh, baca message SNS-mu, dia menembakmu di sana," kata Hoseok sambil menunjuk layar ponsel yang menyala.
Yoongi menatap Hoseok dengan mata yang dipicingkan. "Aku tidak percaya kau masih ingat password akun SNS-ku. Aku saja tidak ingat."
Hoseok hanya bisa memamerkan giginya.
Kini Yoongi tengah menelusuri kotak message yang ada di SNS-nya. Ia menemukan nama Park Jimin dan membukanya. Tidak ada yang aneh, yang ada hanya kalimat sapaan dan obrolan biasa. Tapi kemudian Yoongi menemukan pesan yang dicarinya.
Park Jimin:Yoongi, tahu tidak? Aku sayaaaang sekali sama Yoongi.
Min Yoongi: Aku juga sayang Jimin kok hihi.
Park Jimin: Um, maksudku bukan sayang yang begitu. Aduh, bagaimana ya menjelaskannya… Pokoknya aku sayang Yoongi, tapi bukan sebagai saudara.
Min Yoongi: Maksudmu?
Park Jimin: Mungkin yang namanya cinta itu yang seperti ini ya. Yoongi mau tidak jadi pacarku?
Min Yoongi: Kau bercanda ya?
Park Jimin: Tidak, aku benar-benar sayang kamu, Yoongi. Bahkan sejak kita pertama bertemu.
Min Yoongi: Pertama kali kita bertemu itu kan… Astaga, waktu itu kita masih kecil kan?
Park Jimin: Iya. Memangnya Yoongi tidak ada rasa sama aku?
Min Yoongi: Sepertinya tidak.
Park Jimin: Jadi?
Min Yoongi: Maaf, Jimin.
Park Jimin: Ya sudah kalau begitu. Dadah, Yoongi.
Yoongi hanya bisa melongo setelah ia membaca pesannya dengan Jimin lima tahun yang lalu. Jadi Jimin pernah menyukainya? Demi baju piyama Yoongi yang pernah terkena ompol Jungkook, gadis itu benar-benar lupa.
Gadis itu dengan semangat menoleh pada Hoseok. Mata sipitnya berbinar-binar.
"Hoseok-ah, temani aku ke Busan!"
.
.
.
TBC
HAHAHAHA NGAKAK. Anon ngetik ini sambil ngakak gaes, ga kuat mengingat masa lalu *cekek Jimin*
Bagian Jimin nembak Yoongi itu… udah diusahain biar ngga cheesy, tapi da gimana ya, aslinya lebih cheesy dari itu. Gombalan anak dibawah umur lah pokoknya.
Btw, anon sama Hoseok (baca: mantan) ngga sampe tidur-tiduran di kamar kok, suer. Ga pernah ketemu malahan. Ga tau kenapa pengen aja masukin si mantan kesini wkwk. Dan alasan kenapa mantannya Hoseok… soalnya lagi kesengsem sama doi nih hahaha XD
Mau balesin review buat yang ga login dulu ya, dari chap 1 nih :3
kookieomma: ini udah update ya tante, udah sampe chap 4 malahan (eh tante kan ya, kan situ eommanya kookie x3)
ibu: salam kenal juga ibuuu, ini udah lanjut kok hehe
1830: ini udah dijelasin kan ya Jimin kenapa ngehindarin Yoongi, momentnya mereka di sini ngga ada, tapi next chap ada lagi kok x3
nathanZhu: iya Jimin suka sama Yoongi, momentnya chap depan lagi yaa hihi
ycsupernova: aku bingung mau bales disini atau di pm, sini aja deh ya hehe, enaknya Yoongi suka sama Jimin juga ngga yaa~?
Buat chap depan, agak dikalem ya/? Tugas anon numpuk nih ternyata, untung dosen semester ini ngga terlalu banyak nuntut tiap anon ngajuin desain *peluk Yoongi* tapi tetep diusahain cepet update kok :3
Thanks ya buat semua yang udah baca, follow, favorite, review, pokoknya semua. Fyi, chap depan itu kayanya bakalan jadi chap terakhir gaes. Stay tune yaaaa~
