"Apa kau menyukaiku?"
Lagi-lagi Rukia terbelalak mendengarnya. Apa dia harus jujur?
"Y.. Ya… ," Byakuya mempererat pelukannya.
"Aku Mencintaimu Rukia…"
.
.
.
"Ti.. Tidak mungkin.."
.
.
Wish You Love Me
Chapter 4
-o-o-o-o-o-
Disclaimer:
Bleach ©Tite Kubo
Warning: Gaje! Deskrip ancur! OOC *maybe Ngerusak Image chara! Don't like? Don't Read! Just click 'back' button, easy right?
-Author udhaa swt duluan-
-kalo suka kesal ngelihat tulisan gaje lebih baik jangan nekat baca-
Rating: T
-o-o-o-o-o-
.
==xXx==
.
Byakuya hanya terdiam dan tetap tidak melepaskan dekapannya dari Rukia, bahkan mempereratnya ketika Rukia berusaha melepaskan dirinya. Bukannya dia tidak mendengar atau tidak peduli, tapi Byakuya hanya bingung apa yang harus dia katakan. Byakuya memang bukan tipe lelaki romantis yang bisa mengungkapkan semua perasaannya dengan kata-kata.
Dan Byakuya tau ini memang terlalu aneh dan tidak masuk akal untuk terjadi.
Dia, Byakuya Kuchiki baru saja mengatakan cintanya pada Rukia, adik iparnya sendiri.
Tapi dia tidak berbohong, terlalu tabu bagi seorang Byakuya untuk berbohong tentang hal-hal semacam ini. Dia sendiri sebenarnya bingung, kenapa dia dengan begitu mudahnya mengatakan cinta pada Rukia bahkan dia sendiri masih bingung kenapa dia berada disini sekarang. Semuanya terjadi, hanya berdasarkan nalurinya.
Entah kenapa Rukia selalu ada dipikiran Byakuya. Bayangannya saat malam itu yang menangis karenanya, sorot matanya yang selalu sedih dan ketakutan ketika bertemu Byakuya, dan ekspresinya yang selalu tertawa bersama teman-temannya selalu terbayang. Membuatnya sesak, entah kenapa mengingatnya membuat Byakuya uring-uringan, merasa marah tanpa sebab. Cemburukah?
.
"Kenapa?" desis Rukia. "Apa Nii-sama merasa bersalah? Atau Nii-sama masih menganggapku pengganti Hisana Nee-chan?"
Byakuya masih terdiam, melihat Rukia menunduk dan mencengkram kemeja pria berambut hitam itu. Setetes air mata jatuh dari mata violet Rukia dan membasahi kemeja putih Byakuya. Rukia terlihat ingin menahan suara tangisnya, dia tidak ingin Byakuya melihatnya menangis lagi. Dia menundukkan wajahnya, tidak ingin mata indah itu menatapnya yang sedang menangis.
.
"Entahlah."
Byakuya melepaskan dekapannya, namun masih memegang kedua lengan Rukia. Hanya menatap Rukia yang masih menunduk, berharap Rukia mau balas menatapnya. Hingga akhirnya Rukia mengangkat wajahnya, Byakuya pun langsung menyapu air mata Rukia.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Ku akui malam itu adalah kesalahanku, tapi setelah itu aku menyesal. Sangat menyesal. Setelahnya aku ingin meminta maaf, tapi ego-ku melarangku untuk meminta maaf padamu," Jelas Byakuya. "Namun, rasa bersalah itu semakin menguat, membuatku tak karuan. Sampai pada akhirnya, tadi siang…" putus Byakuya ragu, terlihat sedikit semburat merah diwajahnya. "Aku menciummu." Gumamnya sangat pelan, seakan tidak ingin membiarkan siapapun mendengarnya.
"Dan Rukia, Kau harus tau. Disini…" Byakuya mengangkat tangan Rukia dan menempelkannya ke dada Byakuya. Tepat dimana jantungnya berada. "Selalu berdetak tidak beraturan saat didekatmu. Saat itu aku yakin, bahwa aku memang mencintaimu. Sebagai Rukia bukan Hisana."
Mendengar semua itu, Rukia langsung memeluk Byakuya. Perasaannya campur aduk tak menentu. Tapi yang pasti Rukia merasa sangat lega. Seakan beban berat yang selama ini dirasakannya telah terangkat dan menghilang.
"Terima Kasih." Dari ribuan kata yang ingin terucap, hanya kalimat itulah yang sanggup di katakan gadis mungil itu.
Mendengarnya, Byakuya merasa beban yang selama ini dipendamnya seakan menguap tanpa sisa. Dada yang awalnya terasa sesak, karena rasa bersalah terasa menghangat saat Rukia balas memeluknya. Dan Byakuya tidak tau lagi harus berkata apa.
Dia hanya bisa tersenyum tulus.
.
.
"Rukia.."
"Humm?"
"Kau membasahi bajuku."
"Ehhehee,"Rukia melepaskan pelukannya dari Byakuya. "Biarkan saja ya. Biarkan aku menangis sekali ini. Untuk yang terakhir kalinya." Dan akhirnya, setelah meyakinkan diri bahwa yang dialami Rukia bukanlah mimpi indah, dia mencoba memberanikan diri untuk menatap mata lelaki itu dengan senyum simpul terpatri diwajah manisnya. Mata keabuan berkilau lelaki yang begitu dikaguminya. Akhirnya Rukia bisa melihat pantulan dirinya di mata indah itu.
Byakuya terpaku, 'Manis'. Dan diapun balas tersenyum "Ya, untuk yang terakhir kali" dan mengecup puncak kepala Rukia lembut. Ah, sepertinya Byakuya terlalu banyak tersenyum hari ini.
'Setelah ini takkan kubiarkan kau menangis karenaku.' Dia berjanji pada dirinya sendiri, dan bersumpah takkan pernah melanggarnya.
.
.
#
Paginya Rukia bangun dengan wajah berseri. Dia terus-menerus tersenyum, tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang sedang bahagia.
Masih terbayang, wajah tampan Byakuya yang tersenyum lembut ke arahnya. Hanya untuknya.
Rukia spontan menutup wajahnya, malu. Ah, ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
Mata keabuan yang dulu dingin dan menakutkan, sekarang terlihat berkilat penuh kelembutan dan kehangatan. Dekapan hangat oleh tubuh tegap dan gagahnya pada tubuh mungil Rukia benar-benar memberikan kehangatan. Apalagi saat suara baritone itu mengucapkan selamat tidur padanya.
Benar-benar seperti mimpi. Indah.
/Blush/
Wajah Rukia menghangat mengingat hal-hal itu. Tidak pernah menyangka, Byakuya bisa sebegitu manisnya. Betapa beruntungnya Hisana Nee-chan dulu.
Rukia menggelengkan kepalanya. Tidak ingin terbuai terlalu lama dalam ingatan itu.
'Bisa-bisa aku dikira orang gila kalau terus-terusan tersenyum,' batin Rukia.
Kini dia tengah berada di toilet kampusnya, sedang berkaca melihat paras cantiknya.
'Uuuhh, wajahku merah sekali. Sepertinya aku tidak perlu memakai blush on lagi.'
Kemeja ungu dan rok pendek selutut membalut tubuh mungilnya, rambutnya dibiarkan terurai dengan jepit kecil yang menghiasi rambutnya.
'Mulai sekatang Aku tidak akan mau terlihat seperti 'gembel' lagi!'
"Rukia, sampai kapan kamu mau berkaca terus?" Tegur Inoue pada Rukia. Inoue menatap heran pada sahabatnya itu, padahal kemaren keadaan Rukia terlihat menggenaskan. Bahkan serasa ada efek-efek awan hitam yang selalu mengikuti Rukia. Dan sekarang? Benar-benar kebalikannya, wajah Rukia benar-benar berseri dan auranya entah kenapa terlihat bercahaya. "Kau kenapa lagi? Moodmu hari ini benar-benar mengerikan Rukia."
"Aku sedang sangat senang Inoue."
"Hum? Kenapa? Apakah karenaByakkun mu? Hhihihii," Inoue mengikik geli. Tidak enak sih mengungkit tentang Byakuya, tapi apa boleh buat. Inoue ingin sedikit membantu Rukia menerima hal-hal suram yang terjadi dulu dengan menggodanya. Tapi perubahan ekspresi Rukia yang diluar perkiraan Inoue membuatnya terkejut. Wajah Rukia gelagapan dan memerah.
"Ahh, itu.." gagap Rukia. Rukia terlihat salah tingkah, tangannya bergerak berlawanan arah seakan berkata 'tidak'. Wajah putih Rukia pun terlihat semakin memerah.
"Hah!" Inoue terlihat bingung melihat ekspresi Rukia yang malu-malu seperti itu. Benar-benar mencurigakan. "Kenapa dengan ekspresimu itu! Hey! Apa lagi yang terjadi antara kau dan Byakuya-san?" Inoue mengguncang pundak Rukia menuntut penjelasan. Inoue makin antusias saat melihat semburat merah makin jelas terlihat di kedua pipi Rukia.
"Uuuhh.. Itu, ano~ kau takkan percaya Inoue!"
"Aku percaya, aku percaya! Apa yang terjadi!"
.
.
"Ti.. Tidak mungkin! Benarkah! Byakuya Kuchiki! Benar-benar Byakuya yang itu? Yang dingin, minim bicara, pria terseksi yang pernah kulihat itu! Kakak angkat sekaligus mantan kakak iparmu yang berambut hitam lumayan panjang itu! MENYATAKAN PERASAANNYA PADAMU!" Sumpah! Gadis berambut orange panjang itu shok. Seberapa pun dia ingin Rukia bahagia, tapi baginya cerita Rukia tadi sangat amat tidak mungkin terjadi. Ah, dia harus mendaftar di jurusan Psikologi suatu hari nanti.
"Inoue! Kecilkan suaramu!" tegur Rukia. Wajahnya memerah mendengar kata-kata Inoue. Iya sih, Byakuya memang seksi. 'Aaagghh! Berhenti berfikir yang tidak-tidak Rukia!'
"Ini berita besar! Bagaimana cara dia menyatakannya! Apakah dengan sebuket bunga, makan malam romantis? Atau kau dibawa ke sebuah tempat beratapkan bintang?"
"Tidak seheboh itu Inoue. Kami tidak sempat kemana-mana. Hanya dirumah, dikamarku tepatnya."
"Di kamar! Apa saja yang kalian lakukan, Ru-ki-a-chan?" Inoue memasang senyum menggoda pada Rukia. Senang sekali rasanya melihat sahabat mungilnya keluar dari jurang kesedihan dan akhirnya menemukan kebahagiaan.
"Ti.. tidak ngapa-ngapain kok! Memangnya mau ngapain!" Rukia membuang mukanya dari Inoue. Sudah cukup Inoue melihat wajah konyolnya.
Akhirnya, bukannya masuk ke kelas. Mereka berdua malah tetap bergosip di toilet.
"Ahh! Ini semua harus dirayakan. Bagaimana kalau kita makan siang bersama yang lainnya!" seru Inoue bersemangat.
"Tidak bisa hari ini. Aku dan Nii-sama ingin ke makam Hisana Nee-chan."
"Yah…" Inoue terlihat kecewa, tapi ekspresinya langsung berubah. Dia tidak boleh egois, bukankah sahabat kecilnya sedang bahagia? "Selamat bersenang-senang ya. Apa kalian ingin mendeklarasikan cinta dan meminta restu dihadapan makam Hisana-san? Ne, Rukia?" Inoue nyengir lebar.
"Mu.. Mungkin.." Inoue benar-benar gemas melihat mimik wajah Rukia saat itu. Ternyata benar bila ada yang bilang, seorang perempuan akan terlihat lebih cantik saat jatuh cinta. Haahhhh~ Melihat Rukia yang begitu manis membuat Inoue ingin merasakan jatuh cinta lagi.
Inoue lalu memeluk Rukia. "Semoga Byakuya benar-benar bisa membahagiakanmu ya."
Mereka saling bertukar senyum, lalu keluar dari tempat itu bersama.
.
.
TBC
.
.
Balesan yang gag log-in:
Ruki_ya_cH: Hhehee, sepertinya memang seperti itu.. Hhihiii, di chapter ini sudah terjawab. Makasih Review nya ya. ^^
Reita~chan: Yupz, ini sudah saia lanjut. Maaf kalau menunggu lama. :D
Fuyu no Sakura 28: Wahh, Saia juga tidak tega membuat Byakuya menjadi badung, tapi apa boleh buat. Hhihihii..
.
.
A little footnote: … (o.O)a
Pendek. Abal. Gaje. OOC. Menyedihkan. Mengecewakan.
Aaaarghhhh! Saia kehabisan ide untuk fic yang satu ini! [emang yang lain ada?] *sigh* -_-a *ngebakar parasit bernama writer's block yang tumbuh lagi*
Padahal saia mau naikin ke rate M, tapi tidak jadi sepertinya. *lirik2 Alphey.
Sumimasen kalau fic ini tidak berkenan di hati anda.
Ada yang mau menyumbangkan ide buat kelanjutannya?
Review Puhleaseee~ ^^
