Iin: YA! Iin kembali lagii...

Pichi: Maaf yah, telat update.

Iin: Alasan kenapa kami telat ada di penghujung acara [?]

Pichi: Jadi mohon maklumnya ya ;)

Iin: Okey, thanks to:

mozzarella cheese, CatEyeNiJuuSan, undine-yaha, Mitama134666, Mayou Fietry, Vhy Otome Saoz, kazumi sii ankatsu udah Iin balas lewat PM :D

Pichi: Dan untuk:

yuuki cilfhiru lovers: Huaaah... gomen sepertinya dansanya ditunda dulu. Makasi usul lagunya ;) Makasi reviewnya!

yuuki clifhiru fans: Gomen taak bisa update cepat. tapi udah update kok ;D Makasi reviewnya!

ToscaTurqoise: Panggil Iin-chan aja ya? Di chap ini sepertinya Agon tak terlalu menonjol XD Pesta dansanya maaf ya, tak bisa dihadirkan [?] sekarang T^T Makasi udah suka ama cerita aneh ini ^O^. Yap, makasi reviewnya!

Ayuzawa. susah login: Hehehe... tak apa-apa ;) Sena jadi Bud karena Bud lebih dekat dengan Cliff -alibi #duar# Makasi koreksinya :D. Menantilah dengan sabar nak #dikemplang# Bah, Indonesia kalah =..= yang penting ayangku [baca: Irfan Haarys Bachdim] udah main, daku puas #plak# Makasi reviewnya.

nab'nab'kaitani: Panggil Iin-chan aja ya? Mungkin nikahnya di chap depan ato dua chap kedepan #kicked# maaf tak bisa update kilat QAQ Makasi reviewnya ;)

ShiroNeko: Jawaban fun quiz-nya bisa dilihat di chap depan #bah# okey, untuk pertanyaan anda dijawab dengan cara teruslah membaca cerita ini hingga habis, ya-ha! #duak# hwehehehe... udah semangat update tapi property tak mendukung [?].

dan special thanks to: HirumaManda, yang sudah memberikan kami inspirasi untuk nama OC-nya. THANKSSS! #hug# buat 00 Ayuzawa. 00 juga yang udah bantu mikir nama OC. Hehehe ;)

And thanks for readerrr... XD

Iin: Udah selesai? Yosh, ayooo kita mulaiii...

Pichi: Enjoy ;)


"Tapi Agon-san, bukannya mereka memiliki lampu ajaib? Jadi yang mereka katakan pasti bisa saja terwujud. Termasuk membuat orang USA percaya, bukankah itu persoalan yang mudah?" pikir Kisaragi.

"Kau benar," kata Agon, "tapi kita akan membunuhnya sebelum semua itu terjadi. Ingat rencana kita 'kan?"

"Hmph," jawab Gaou sembari mengangguk.

"Ya," kata Kisaragi sambil mengangguk juga.

"Bagus, rencananya akan kita lakukan besok. Kukuku…"


An Eyeshield 21 Fanfiction

Disclaimer:

Eyeshield 21: Riichiro Inagaki and Yuusuke Murata

Aladdin: Walt Disney

Story: Iin and Pichi

Warning: Gaje-ness, Ooc-ness, OC muncul, Sangat beda dengan cerita Aladdin yang asli, AU, sisanya kalian yang nilai dah…


Don't like? Don't read.


"Huuaaaaa…," Suzuna merenggangkan ototnya ketika ia terbangun. Lalu menggosokkan punggung tangannya pada mata biru gelap milik gadis cantik itu.

Seperti biasa, Kaitani Suzuna bangun lebih awal dibandingkan putri kita, Anezaki Mamori.

"Aku harus membuatkan teh sebelum ia terbangun. Tetapi mataku masih mengantuk," runtuknya lalu berjalan mengambil bahan-bahan yang akan ia gunakan.

"Ohayou Suzuna-chan," sapa Mamori. Biasanya Suzuna yang menyapanya duluan.

"YA! Mamo-nee bangun lebih pagi sekarang!" ujar Suzuna bersemangat, "Ohayou mo Mamo-nee!"

"Suzuna-chan."

"Ya?" Suzuna selesai mengaduk tehnya.

"Ano… nanti bantu aku memilih gaun ya," kata Mamori sedikit malu.

"Hoo?" antena Suzuna memberikan respon.

"Suzuna-chan, ada apa dengan rambutmu?" tanya Mamori heran yang sebenarnya belum mengetahui rahasia dibalik rambut cantik Suzuna.

"E… eh!" dengan cepat Suzuna merapikan rambutnya, "Tentu saja akan aku bantu. Oh, tentang rambut. Aku juga kurang tahu. Ahahaha," katanya dengan terburu-buru dan juga tertawa garing.

"O… oh," kata Mamori sembari mengangguk.

"I… ini, minum tehnya," ia memberikan teh buatannya untuk Mamori.

"Arigatou Suzuna-chan," lalu Mamori menyeruput tehnya dengan anggun.

"Douitashimatshite Mamo-nee," lalu Suzuna kembali riang.

=Aladdin=

"BANGUN ANAK-ANAK SIALAAAAN!" teriak Youichi hingga menyebabkan gema di pagi hari.

"HAAAAIII!" balas mereka berteriak juga, kecuali Akaba, Kakei dan Shin.

"Kalian tidak perlu berteriak," kata Kakei tenang.

"Fuh, sebuah simfoni pagi yang kurang indah," kata Akaba.

"Baiklah, kita harus bersiap-siap," kata Youichi sembari mengeluarkan lampu ajaibnya.

"Untuk apa?" tanya Sena.

"Jelas saja untuk pesta baka!" seru Youichi, "BANGUN JIN SIALAAAAN!" lagi-lagi suara itu menggema. Sehingga karpet ajaib menggestur tubuhnya seakan-akan menutup telinganya.

"Y… Youichi-san, ada apa?" tanya Jin itu.

"Mari kita persiapkan pesta yang meriah," kata Youichi menyeringai.

"Apa yang kami lakukan?" tanya Shin.

"Hidung besar sialan dan Monster sialan tetap menjadi body guard, Mata tajam sialan menjadi penata riasku, Dayang sialan menjadi penata rias anak-anak sialan yang lain, Mata merah sialan menjadi penyayi atau lebih tepatnya pengisi acara, Penyisir sialan yang menata rambutku, Adik sialan tetap menjadi penasihat. Ada pertanyaan?" jelas Youichi panjang lebar.

"Mukya! Aku jadi apa?" tanya Monta.

"Tetap menjadi Montakong," jawab Youichi datar.

"Uugh…," geram Monta sembari melipat tangannya di dada.

"Sebagai penata rias, kau dan Dayang sialan membeli baju untuk kami semua, kecuali untuk Monyet sialan dan Jin sialan. Penyisir sialan sebaiknya siapkan sisir sialan khusus untukku, yang bertugas sebagai body guard sialan latih ketahanan kalian, Mata merah sialan buat lagu yang menarik, Adik sialan cepat latihan agar kau tidak gugup nanti, dan juga Monyet sialan, jangan mengacau di tengah acara. Untuk Jin sialan, persiapkan pesta yang meriah. Mengerti? Cepat berangkat!" Youichi memulai menyusun rencana perlahan-lahan.

"YOSH!" seru mereka semua lalu pergi.

[Kakei and Maki side]

"Kakei-kun, kita mau beli baju di mana?" tanya Maki.

"Sebaiknya kita melihat-lihat dulu," saran Kakei.

"Baiklah, dan aku yang akan menentukannya setelah kita melihat-lihat," kata Maki.

"Terserah kau saja. Karena aku yakin wanita lebih memiliki fashion sense dibandingkan dengan laki-laki," sahut Kakei sembari menoleh-nolehkan pandangannya ke segala arah.

"Ternyata kau menyadari itu Kakei-kun. Hey! Tempat itu keren!" lalu Maki menyeret Kakei ke tempat yang ia anggap keren.

[Kotarou side]

"Kalau soal mencari sisir sih, aku yang paling smart!" kata Kotarou sembari menyisir rambutnya.

"Kotarou-san," seru seseorang di belakangnya.

Lalu, Kotarou menolehkan pandangannya.

"Ju… Julie-san. Sedang apa?" Kotarou menjadi gelagapan saat melihat Julie yang tengah berdiri di depannya.

"Aku mencari sisir yang baru. Habis yang satu lagi sudah patah," sahut Julie sembari tersenyum miris (mengingat sisirnya yang patah)

"Berarti tujuan kita sama dong?" Kotarou tersenyum sumringah.

"Memang ada keperluan apa anda membeli sisir? Bukankah sisir anda masih baik-baik saja?" Julie melihat Kotarou yang menyisir rambutnya dengan santai.

"Oh, kali ini aku akan membeli sisir untuk Clifford-sama. Hehehe… supaya menghemat waktu bagaimana kalau kita mencari sisir bersama?" tawar Kotarou sembari tersenyum penuh harap.

"Ehm… oke," jawab Julie sembari tersenyum.

'Yeaaah… aku berhasiiiil!' sorak Kotarou dalam hatinya.

[Akaba side]

"Fuu, aku harus membuat lagu yang bagus ya? Aku akan pergi ke taman untuk mencari inspirasi," Akaba berjalan menuju taman yang akan ia kunjungi.

=Aladdin=

"Fuu, taman ini indah juga. Tinta, bulu ayam dan selembar kertas sudah aku persiapkan [1]. Jadi tinggal membuat lagu," lalu Akaba berjalan menghampiri tempat duduk dan mulai menulis lagu.

Setelah lama Akaba berpikir, ternyata tak satupun ide hinggap di otaknya.

"Pa… Panser-san," takjub seorang gadis yang seumuran dengannya.

"Fuu… panggil saja aku Akaba," Akaba melihat kearah gadis itu.

Rambutnya panjang terurai lembut, dengan gaya poni persis seperti Mamori, rambutnya yang berwarna violet membuatnya tampak anggun, matanya semerah batu ruby namun redup, dengan panjang rambut yang kurang merata menyebabkan ia terlihat begitu modis, ia menggunakan baju dengan model yang sama dengan yang Mamori kenakan saat perkenalan kerajaan namun berwarna biru langit, bibirnya sangat tipis nan anggun. Cantik, satu kata yang terlintas dalam benak Akaba.

"Akaba-san. Namaku… Isabel Garcia Sinencia, aku dari Kerajaan Jerman namun sudah lama menetap di sini. Kalau di Kerajaan Jepang namaku Keiko, Hiroshi Keiko. Tapi… biasanya aku dipanggil menggunakan nama asliku, Isabel," ia memperkenalkan diri. Akaba sedikit tercengang.

'Fuu, pantas saja ia tidak seperti penduduk asli sini' pikir Akaba.

"Fuu, baiklah. Bisa kau duduk di sampingku, Isabel-chan, panggil saja aku dengan suffix -kun," Akaba mempersilahkannya duduk.

"I… iya. Doumo Arigatou Akaba-kun," ucap Keiko sembari menunduk.

"Douitashimatshite, Isabel-chan," Akaba tersenyum manis, membuat Keiko blushing.

Akaba memandangi Keiko sejenak lalu tersenyum lagi dan mulai menuliskan sebuah lirik lagu.

"Apa yang kau buat Akaba-kun?" tanya Keiko penasaran.

"Sebuah lagu. Inspirasi darimu," sahut Akaba.

"Be… benarkah?" Keiko tak percaya.

"Ehm," angguk Akaba.

"A… astaga…," Keiko membelalakkan matanya tak percaya.

'Kami-sama… mimpi apa aku semalam' ucap Keiko dalam hatinya.

"Bagaimana nanti kau ikut aku ke tempat kerajaanku?" tanya Akaba.

"Boleh," Keiko mengangguk senang.

"Selesai," Akaba tersenyum puas melihat hasil karyanya.

"Waaah… indah sekali…," takjub Keiko.

[Shin and Komusubi side]

"Komusubi," panggil Shin.

"Ng?" sahut Komusubi.

"Bagaimana kalau kita latihan khusus?" saran Shin.

"FUGO!" sahut Komusubi sembari mengangguk. Sebenarnya Shin tidak mengerti artinya. Tetapi karena menjawab sembari mengangguk bisa dipastikan jawabannya ya.

"Aku ke situ, kau ke situ. Nanti kita bertemu lagi di sini saat kau mendengar suara yang aneh di sekitar sini. Oke?" susun Shin.

Terlihat patung banteng yang sangat kokoh.

"Fugo!" sahut Komusubi sembari berlari.

"Hmph," Shin mengangguk lalu lari menuju arah yang berlawanan dengan Komusubi.

[Shin Side]

"Haah… haah… haah…," ia terengah-engah saat ia telah berlari sejauh 13 km.

"Shin-san?" terdengar suara seorang gadis memastikan.

"Wakana-san?" balas Shin dengan nada heran.

"Sedang apa di sini? Bukankah seharusnya kau dengan kerajaanmu?" tanya Wakana.

"Aku sedang latihan," jawab Shin pendek.

"Kenapa kita tidak beli minuman saja? Kulihat kau kelelahan," saran Wakana.

"Di mana?" tanya Shin sembari menolehkan pandangannya.

"Tiga belas kilo meter dari sini," Wakana menerawang jauh.

Mata Shin membelalak.

"Ayo, tunggu apa lagi?" ucap Wakana yang tidak mengetahui keadaan Shin.

'Demi latihan dan... Wakana' ucap Shin dalam hatinya.

"Ya," Shin mengangguk kecil lalu berlari.

"Jangan berlari!" sergah Wakana.

"Baiklah," sahut Shin.

Dalam perjalanan suasana menjadi canggung. Sepi sekali, tak ada satupun yang membuka pembicaraan diantara mereka.

TAP

Mereka sudah sampai di tempat yang dimaksud Wakana. Lebih tepatnya, di tempat Shin berpisah dengan Komusubi tadi.

"Biar aku yang membelikan," kata Wakana sembari berjalan menuju penjual minuman.

"Ini uangnya pak," kata Wakana kepada sang penjual.

"KYAA!" teriak seorang wanita.

Ia melihat Shin yang tengah melakukan latihan dengan kaki diatas dan tangan yang menggenggam tanduk patung banteng itu dan menggerakan badannya naik-turun.

"Astaga…," Wakana membelalak terkejut sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Kau tidak menyukainya Wakana?" tanya Shin masih dengan posisi seperti itu dengan polosnya.

"Lebih baik kau turun Shin-san," saran Wakana.

"Baiklah," sahut Shin pendek.

'Apa wanita tidak suka latihan?' pikir Shin yang ternyata ingin menarik perhatian Wakana.

[Komusubi Side]

Mendengar 'suara aneh' yang sebenarnya teriakan syok seorang wanita dari arah mereka berpisah tadi, lalu Komusubi secepatnya berlari menuju arah itu.

Semuanya ia lewati begitu saja. Hingga ia melihat seekor babi merah muda kecil yang mengahalangi langkahnya daaaaan…

"Buhi!"

Bruk

"Fugo?" seru Komusubi.

"Buhi, buhi…," sahut Babi itu.

Terdapat sebuah tanda pengenal di lehernya.

'Butaberus' baca Komusubi dalam hatinya.

"Fugo! Fugo!" kata Komusubi.

"Buhiii…," Babi yang diketahui bernama Butaberus itu tersenyum [?] senang.

Sepertinya mereka membicarakan sebuah perkenalan yang tidak dimengerti seorang pun.

Lalu mereka pergi bersama mencari Shin.

=Aladdin=

Mereka berkumpul di ruangan tengah. Yah, sudah jam tiga sore dan semua anggota kerajaan USA –termasuk Keiko dan Butaberus– sudah berkumpul di ruang tengah tempat mereka menginap saat malam hari.

"Karena akan ada pesta dansa dan aku tahu kalian semua tidak bisa berdansa. Jadi Jin sialan, permintaanku berikutnya adalah buatkah 'Mereka' semua bisa berdansa," putus Youichi.

"Bagaimana dengan dirimu, Youichi-san?" tanya Kurita.

"Keh, jangan remehkan aku ya," kata Youichi.

"Baiklah," Kurita mengangguk, "Permintaanmu adalah perintah bagiku."

SHIIING!

"Kalian sudah bisa berdansa sekarang," ucap Kurita sembari tersenyum.

"Benarkah?" tanya Maki tidak percaya.

"Tentu saja Maki-chan," Kurita tersenyum.

"Kalau begitu bagaimana Kakei-san dan Maki-san berdansa?" usul Sena.

"Bagus juga, tapi ada bagusnya Akaba-san juga. Sepertinya ia sudah punya partner yang smart," tambah Kotarou.

"Mukii… ayo mulai," seru Monta.

Awalnya mereka malu-malu. Terutama Keiko yang baru saja masuk ke dalam kerajaan ini.

Tetapi beberapa detik kemudian mereka menjadi sangat menikmati.

Kakei memegang pinggang Maki dengan kiri, tangan kanannya menggenggam tangan Maki dengan hangat. Maki meletakkan tangannya di pundak Kakei dan tangan kirinya digenggam lembut oleh Kakei. Begitu pula dengan Akaba.

Para laki-laki mengambil satu langkah mundur dan para wanita mengambil satu langkah maju. Sedikit langkah mundur dengan sudut kemiringan 30 derajat oleh para laki-laki dan langkah maju dengan kemiringan 30 derajat juga oleh para wanita.

Suasana sangat romantis, bahkan Sena sampai terkesima. Membayangkan ia berdansa dengan Suzuna.

"Aku mau keluar dulu, anak-anak sialan," ucap Youichi lalu berjalan keluar sembari membawa lampu ajaibnya yang selalu ia selipkan di jubahnya.

"Kau harus kembali jam empat nanti. Karena… kita akan ke istana bukan?" ucap Shin tanpa ekspresi.

"Keh, tentu saja Monster sialan," jawab Youichi angkuh.

"Untuk apa kau keluar? Sebaiknya jika tidak ada kepentingan kau diam di sini dan persiapkan yang perlu kita lakukan nanti," saran Kakei yang berhenti berdansa karena Youichi.

"Aku cuma mau merundingkan sesuatu dengan Jin sialan. Kalian tidak perlu ikut campur," lalu Youichi pun beranjak pergi.

[Youichi Side]

"Hoi, Jin sialan! Keluarlah," titahnya.

"Hai… hai… Youichi-san," lalu Jin itu keluar dari lampunya.

"Okey, aku harus mengundang seluruh rakyat USA saat pesta dansa tersebut. Bisakah kau melakukan itu, Jin sialan?" tanya Youichi.

"Tentu saja. Tetapi setelah itu permintaanmu akan habis," Kurita menunduk sedih.

"Cih, memang kenapa kalau permintaanku habis, heh?" Youichi mendecih.

"Karena… aku menginginkan kebebasan. Jika permintaan sudah habis, maka aku akan kembali masuk ke lampu itu hingga tuanku yang baru menemukanku," Kurita memberikan alasan kenapa ia merasa sedih.

"Kekeke… hidupmu itu untuk melayani manusia, Jin bodoh," kata Youichi sembari terkekeh kecil.

"Ta… tapi apa salahnya Jin memiliki keinginan," Kurita mulai mengeluarkan air mata.

"Tentu saja itu tidak mungkin Jin sialan!" seru Youichi.

"Ukh, kau terlalu egois untuk menjadi tuanku Youichi-san!" bentak Kurita lalu masuk ke lampu ajaib itu.

"Hoi keluar kau Jin sialan!" perintah Youichi.

"Weeeekkksss…," hanya juluran lidah yang keluar dari lampu ajaib itu.

"Arrrgghh!" geram Youichi lalu membanting lampu ajaib itu.

[Gaou, Kisaragi Side]

"Itu dia, Youichi Hiruma," kata Gaou saat melihat targetnya.

"Gaou-san, dia terlihat sedang marah-marah," ucap Kisaragi.

"Kita akan melihat apa yang terjadi," Gaou memfokuskan matanya pada Youichi.

"Hai," Kisaragi mengangguk.

"Arrrgghh!" terdengar Youichi menggeram lalu membantingkan lampunya.

"Kau mengambil lampu dan aku yang mengurus Youichi," Gaou dengan respon yang cepat langsung berlari dan memukul punggung Youichi hingga pingsan, kalian pasti tahu 'kan orang yang sedang dalam emosi pasti tidak sadar bahaya yang mengancam?

"Akh!" pekik Youichi ia melirik sekilas kearah Gaou dan Kisaragi

'Luka goresan di dahinya. Tinggi dan besar. Satu lagi, badannya terlihat lemah dan kurus' Youichi sempat menganalisis lalu jatuh pingsan.

"Aku mendapatkan lampunya Gaou-san!" seru Kisaragi.

"Ternyata semudah ini menjatuhkan pangeran gadungan kita," kata Gaou sembari memasang wajah remeh.

"Ya, dan tinggal memberikan lampu ini pada Agon-san," sambung Kisaragi.

"Dan mendapatkan lawan tangguh," Gaou ber-smirk ria.

"Tapi kita harus singkirkan dia, Gaou-san," kata Kisaragi sembari menunjuk Youichi.

"Kau benar, ikat dia dan jangan lupa untuk memberikannya pemberat," kata Gaou sembari menahan posisi Youichi agar pingsan dalam keadaan berdiri –atauapalahitu– sembari melemparkan tali dan pemberat yang sudah ia siapkan.

"YOSH!" sahut Kisaragi semangat lalu mengikat Youichi dengan kelihaian tangannya yang lemah.

"Bagus," Gaou lalu menyeret Youichi hingga sampai pada sebuah laut di belakang istana dan membuangnya.

BYUURR

"Tugas kita sudah selesai," lalu Gaou pulang bersama Kisaragi menuju Istana.

"Kita tinggal memberikan ini untuk Gaou-san," kata Kisaragi dan tersenyum.

=Aladdin=

"Youichi-kun mana?" tanya Maki yang celingukan mencari Youichi.

"Bukankah dia tadi pergi dengan Kurita-san, Maki-chan?" tanya Keiko, gadis manis di sebelahnya.

"Iya… kau benar. Tapi, kita harus pergi ke Istana lima menit lagi dan Youichi-kun belum datang," seru Maki panik.

"Sudahlah Maki-chan, bagaimana kita cari bersama-sama?" usul Kakei sembari menenangkan Maki.

"Ma… maaf, Akaba-kun mana ya?" sela Keiko.

"Akaba-kun? Perasaan tadi dia sedang disekitar sini," Maki menoleh-nolehkan pandangannya.

"BUHII!" tiba-tiba Butaberus memekik dan mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya.

"Ada baiknya kita mengikuti babi itu," kata Kakei sembari menggenggam tangan Maki. Agar Keiko tidak tertinggal, Maki menarik tangan Keiko.

"Ayo Isabel-chan, ikut kami," ucap Maki sembari tersenyum.

"Ha… hai," Keiko mengangguk senang.

"BUHI!" pekik Butaberus saat Akaba sudah ditemukan.

Terlihat Akaba sedang melipat tangannya lalu menaruhnya dipembatas kayu antara balkon dan pantai –kalian mengerti bukan?– kamar mereka berada di lantai dua dan berhadapan langsung dengan pantai. Angin pantai berhembus, menerpa wajah tampannya dan membelai helaian rambutnya. Ia tidak menggunakan sunglassesnya, matanya menerawang jauh.

"Akaba-kun!" bentak Maki.

"Eh? Maki-chan, Isabel-chan, Kakei-kun daan… Butaberus? Sedang apa kalian di sini," Akaba terlihat kaget saat melihat Butaberus juga ada.

"Isabel-chan mau bertemu denganmu Akaba-kuuun…," kata Maki. Lalu ia melirik kearah Keiko, "Benarkan, Isabel-chan?"

"I… iya. Tadi… Kakei-kun kan bilang ia ingin mencari Youichi-san. Jadi… kita akan mencari bersama-sama bukan?" wajah Keiko memerah.

"Oh, itu. Tentu saja Isabel-chan. Kapan kita mencari?" Akaba menoleh ke dalam. Lalu tersenyum kecil, "Sepertinya banyak yang ingin cepat-cepat ke Istana. Bagaimana kita mencari sekarang?"

"Baiklah," sahut Keiko.

Mereka masuk menuju ruang tengah lalu berunding.

"Baik, aku, Isabel-chan, Kakei-kun, Maki-chan dan Butaberus akan mencari Youichi-kun. Bagaimana dengan kalian?" ucap Akaba.

"Baiklah, sisanya akan bersamakuu… smart!" seru Kotarou sembari mengancungkan sisirnya.

"Kalau timku yang menemukan Youichi-kun, Butaberus akan berlari menemui kalian. Jika kalian menemukannya lebih baik kalian mengirimkan Komusubi untuk mencari kita," kata Kakei.

"Nama timku adalah SMARTIM!" seru Kotarou.

"Mukya! Nama apaan itu!" protes Monta yang kini berwujud manusia.

"Lebih baik kau tidak protes, Raimon Tarou," kata Shin.

"Fuu… nama timku adalah Blood," kata Akaba.

"Yeahh… terserahlah," seru mereka bersamaan, kecuali Kotarou, Komusubi, Akaba dan Butaberus.

"Ayo berpencar," seru Kakei.

[Blood Side]

"Ayo kita ikuti Butaberus," lalu mereka berlari mengikuti Butaberus.

=Aladdin=

"Laut?" Maki terheran-heran.

"Mizumachi," tiba-tiba Kakei teringat akan pemuda yang ia temui saat itu.

"Butaberus, temui SMARTIM!" suruh Akaba.

"Buhi!" lalu Butaberus pun lari menuju SMARTIM

[SMARTIM Side]

"Apakah di hutan?" tanya Kotarou sembari menyisir rambutnya.

"Mungkin di pedalaman," sahut Shin.

"Fugo!" kata Komusubi.

"Mukya! Bahasamu sulit dimengerti Komusubi!" kata Monta.

"Fugo! Fugo!" namun Komusubi tetap berseru.

"Ada apa?" tanya Sena.

"FUGOOO!" sahut Komusubi sembari menunjuk kearah sesuatu.

"BUHIII!" tiba-tiba muncul babi pink kecil yang berlari dengan sangat cepat.

"Mereka sudah menemukan Aniki!" seru Sena lega.

"Ayo kita ikuti Butaberus yang smart!" seru Kotarou dan mereka berlari menuju Blood.

[Blood Side]

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Maki.

"Tinggal menunggu mereka dan beberapa dari kita akan mencari Mizumachi," kata Kakei.

"Fuu… harus ada yang diam di sini untuk memastikan tidak ada orang lain yang mengetahui," ujar Akaba.

"Akaba-kun, siapa yang akan diam di sini?" tanya Keiko.

"Fuu… tentu saja Kotarou, Shin-kun, Monta-kun dan Sena-kun," sahut Akaba.

"HOI!" tiba-tiba ada yang berteriak dari kejauhan dan muncul SMARTIM.

"Kita susun rencana. Aku, Maki-chan, Akaba-kun, Isabel-chan, Butaberus dan Komusubi akan pergi mencari Mizumachi. Kalau perlu Maki-chan dan Isabel-chan pergi mencari Otohime-chan. Sedangkan, Sena-kun, Shin-kun, Monta-kun dan Kotarou-kun akan tetap di sini untuk memastikan tidak ada yang datang ke tempat ini selain kita. Mengerti?" susun Kakei.

"Ehm," semuanya mengangguk kompak.

"Baiklah, ayo kita berpencar," seru Kakei.

[Kakei's tim Side]

"Karena kita sudah tahu tempat untuk mencari Mizumachi, jadi Butaberus bersama kalian untuk menemukan Otohime-chan. Oke?" tanya Kakei.

"Untuk apa kita mencari Otohime-chan?" tanya Maki.

"Fuu, apa kau tidak melihat tatapan matanya saat melihat Mizumachi-kun? Sepertinya ia menyukainya," dan Akaba menjawabnya.

"Baiklah, kami mengerti," Isabel mengangguk.

"Berangkat!" seru Kakei dan semua berpencar.

[Maki's tim Side]

"BUHI!" seru Butaberus saat sudah menemukan rumah Otohime.

Tok, tok, tok.

Maki mengetuk pintu rumah Otohime.

"Otohime-chaaan," seru Maki.

Cklek…

"Maki-chan, ada apa?" tanya Otohime.

"Ayo kita mencari Mizumachi. Oh iya! Kenalkan, namanya Isabel Garcia Sinencia dari kerajaan Jerman, namun sudah lama menetap di sini dan di Jepang ia bernama Hiroshi Keiko. Biasa dipanggil Isabel," kata Maki memperkenalkan Keiko.

"Isabel-chan, aku Otohime," kata Otohime.

"I… iya, hajimemashite Otohime-chan," Keiko mengangguk.

"Tunggu," seru Otohime.

"Ada apa?" tanya Maki.

"Aku ingin mengambil sesuatu," lalu Otohime masuk ke rumahnya.

"Kira-kira mengambil apa ya?" tanya Keiko.

"Entah…," sahut Maki. Ia mengarahkan pandangannya ke segala arah, "Ah! Itu dia!"

"Ini, kalau kalian ingin mencari Mizumachi-kun pasti tentang sesuatu yang berhubungan dengan air, jadi aku putuskan untuk membawa obat ini. Kalau misalkan korban kekurangan oksigen, tinggal berikan ini maka ia akan terbangun," jelas Otohime.

"Ooh…," Keiko mengangguk –lagi.

"AYO KITA CARI KAKEI-KUN!" seru Maki semangat dan menunjuk kearah Butaberus.

[Kakei's tim Side]

"Permisi, apa anda tahu rumah Mizumachi Kengo?" tanya Kakei.

"Ini dia rumahnya," seru Bapak-bapak itu sembari menunjuk rumah di sebelahnya.

"Arigatou," lalu Kakei menunduk dengan sopan.

"Fuu, sebaiknya kita cepat," saran Akaba.

"Ya," sahut Kakei dan mereka berjalan menuju rumah Mizumachi yang berada tepat di samping mereka.

Tok, tok, tok…

"Mizumachi," panggil Kakei sembari mengetuk pintu.

Klep…

"Ngha… kalian yang di Onsen itu 'kan?" tanya Mizumachi.

"Iya, kami butuh bantuanmu," kata Kakei.

"Ng? Bantuan apa?" tanya Mizumachi sembari mengerucutkan bibirnya.

"Fuu, teman kami sepertinya tenggelam. Bisakah kau membantu kami?" tanya Akaba.

"Tenggelam? Bisa saja. Ayo," lalu Mizumachi berlari.

"Tunggu! Kau bahkan belum tahu di mana tempatnya!" seru Kakei.

"Benar juga," lalu Mizumachi mengikuti Komusubi yang sudah berjalan tanpa perintah.

"Ayo pergiii…," mereka berangkat.

=Aladdin=

"Itu tempatnya Mizumachi," tunjuk Kakei.

"AYO MELONCAAAT!" ia melepaskan bajunya daaaan…

BYURR…

[Mizumachi Side]

Blup… blup… blup… blup…

Hanya itu yang ia dengar.

'Rambut spike pirang! Itu pasti Clifford-sama!' kata Mizumachi dalam hati lalu mendekatinya.

Sesampai di dekat Youichi ia melihat pemberat dan tali yang diikat dengan kuat di sekujur tubuhnya.

'Ngha… ternyata dia tidak tenggelam. Yosh! Ini sangat mudah!' lalu Mizumachi melihat katana dalam jubah Youichi.

'Tidak kusangka akan semudah ini' Mizumachi membatin lagi. Tanpa izin, ia mencabut katana Youichi dan menebas tali itu sehingga Youichi bebas. Beruntung katananya cukup tajam sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk memotongnya.

'Tinggal diangkat, jadi deh!' batin Mizumachi girang.

BLASH!

"Haah… haah… haah…," Mizumachi muncul ke permukaan laut sembari mengangkatnya dengan menarik jubahnya setinggi-tingginya.

"YEAH!" semua berseru senang dan Mizumachi membawa Youichi ke permukaan tanah. Dengan cepat ia dikelilingi oleh teman-temannya.

"Wajahnya pucat," kata Keiko.

"Masih benafas!" seru Maki.

"Ada air mineral?" tanya Otohime.

"Ini," Shin menyerahkan air yang tadi diberikan oleh Wakana.

"Selesai," kata Otohime. Ia memasukkan obat serbuk ke dalam celah diantara bibir Youichi yang terbuka kecil untuk bernafas tadi dan Maki memasukkan air mineral untuk melancarkan jalannya obat serbuk itu.

=Aladdin=

"Aduuuh… Cliff-kun mana sih?" gerutu Mamori.

"YA! Tunggu saja Mamo-nee… Cliffy pasti datang!" kata Suzuna dengan optimis.

"Tapi sudah lewat lima belas menit dari waktu perjanjian Suzuna-chan," kata Mamori sambil melihat jam pasirnya.

"Ini pasti karena Agonne," terka Suzuna.

"Agonne?" Mamori sedikit heran dengan tingkah laku Suzuna.

"YA! Pasti Agonne yang mengutuk-ngutuk Cliffy dengan gajenya agar Cliffy tidak datang!" tebak Suzuna.

"Tidak mungkin Suzuna-chan. Penasihat Agon tidak mungkin sejahat itu," kata Mamori yang selalu berpikiran positif.

"Mungkin saja kan? Lagipula, aku juga menunggu Bud 'ak'," kata Suzuna sembari memberikan akhiran 'ak' pada kalimatnya.

"Budak?" Mamori kembali terheran-heran.

"YA! Bud Walker!" seru Suzuna.

"Suzuna-chan, tidak baik mengatakan seseorang yang setara dengan kita menggunakan panggilan yang tidak pantas. Seperti Budak misalnya. Kau tahu 'kan arti dari budak itu apa?" omel Mamori.

"Hai… hai… Mamo-nee. Kalau Budly? Kya… kedengarannya kawaiii," tanya Suzuna menggunakan puppy eyes yang sangat cocok dengannya.

"Boleh, asalkan dia tidak keberatan," kata Mamori sambil tersenyum malaikat.

"Dia tidak akan keberatan. Aku kan tidak memberikannya beban yang berat," balas Suzuna sembari tersenyum riang.

"Eh?" Mamori merasa sedikit terkejut dengan kata-kata Penasihatnya itu.

"YA! Sudahlah Mamo-nee… ayo kita keluar kamar, kita jelajahi isi istanaaaa…," seru Suzuna sembari mendorong Mamori keluar.

"Baik, baik… Suzuna-chan," Mamori mengalah pada Suzuna.

"Tapi aku mau ke kamar mandi dulu. Mamo-nee tunggu di taman dekat kolam ikan saja ya!" ucap Suzuna dengan sangat semangat.

"Mm… baiklah," Mamori berjalan keluar.

Cklek…

"Penasihat Riku," Mamori sedikit terkejut dengan kehadiran sang penasihat.

"Mamori-sama, saya hadir untuk menemui Penasihat Suzuna. Adakah ia di dalam?" tanya Riku menggunakan bahasa yang sopan, formal lebih tepatnya.

"Tentu saja Penasihat Riku. Saya permisi ke bawah," Mamori mempersilahkan Riku masuk menemui Suzuna. Ia menuruni tangga dan meninggalkan Riku berdua dengan Suzuna.

"YA! Aniki… ada apa?" tanya Suzuna dari dalam kamar Mamori.

"Jadi… kau menyukai Penasihat Bud, benar?" tanya Riku dengan selidik.

"E –eh, kok Rikkun bisa berbicara seperti itu siiih…," Suzuna memalingkan wajahnya, malu mungkin.

"Tinggal jawab benar atau salah," kata Riku.

"Be… be… benar," kata Suzuna sembari tertunduk, malu. Tapi tiba-tiba Suzuna mendapatkan ide, mungkin? "Tapi aku yakin, Budly juga menyukaiku! Tidak seperti Aniki yang bahkan tak menyukai siapapun! Artinyaaa… Aniki kurang laris, benar?" tanya Suzuna balik.

"Ap –Hei! Kau bilang aku kurang laris?" protes Riku.

"Tinggal jawab benar atau salah. Fufufufu…," tawa Suzuna karena berhasil membalikkan keadaan kakaknya.

"Tidak! Itu salah! Sebentar lagi, aku akan menikah!" balas Riku.

"Nama pacarnya siapa Aniki?" tiba-tiba antena di kepala Suzuna bergerak-gerak lagi.

"Mau tauuu… aja," seru Riku dengan ekspresi yang… err– membuat kita ingin meremasnya.

"Yaaah… Rikkun nggak seru ah," gerutu Suzuna.

"RA-HA-SI-A…," lalu Riku keluar dari kamar Mamori.

"Uuugghhh!" Suzuna menggeram.

=Aladdin=

'Dimana aku? Uggh… apa yang… lampu ajaibnya! Dimana? Dimana lampu ajaibnya? Putar roda dalam otak sialanmu ini Youichi! Ah… aku melemparnya. Gawat! Gawat!'

"Youichi-kun?" panggilan seseorang membuyarkan pikiran Youichi.

"Sialan…," desis Youichi.

"Aniki, apa yang terjadi?" tanya Sena.

"Lupakan. Kalian menemukan lampu ajaib?" tanya Youichi.

"Lampu ajaibnya… tidak ada," jawab Sena.

"Damn it!" kesal Youichi.


Tsuzuku...


Iin: Hueee…. Gomen-gomen-gomen-gomen-gomeeeeen…

Pichi: Hontou ni gomenasai buat yang nunggu pesta dansanya!

Iin: Karena menurut kami chap ini terlalu panjang jadi kami potong sampai di sini saja. (_ _)

Pichi: Lagipula belakangan ini banyak upacara adat.

Iin: Yeah, kami hindu.

Pichi: Kami juga libur sampai tanggal 19 desember, jadi terlalu sebentar T_T

Iin: Udah buat di kompie tapi kena virus, jadi buat ulang deh di leppie.

Pichi: Kami juga kena WB.

Iin: Setelah itu modem rusak ._.

Pichi: Terus leppie dibawa kerja.

Iin: Jadi telat begini deh jadinya.

Pichi: Tapi, nanti bakal banyak XOC nya. Mudah-mudahan kalian sukaa…

Iin: *nyembah*

Pichi: Baiklah, kami minta review.

Iin: Kripik dan santan di terima ;)

[1]: Kan jaman kerajaan tuh. jadi pake alat yang sederhana ._.


Fun Quiz:

1. Siapa sajakah yang kebagian jodoh?

2. Kira-kira lagu apa yang dibuat oleh Akaba?

3. Apakah Riku hanya berbohong?

4. Bisakah kalian membayangkan wajah Riku sehingga Author ingin meremasnya?

5. KAPAN AUTHOR UPDATE? #digiles reader#


Pichi + Iin: See ya at the next Chapter!

Mind To Review?