.

Chapter 4 : Violation Of Kor

.


Maria POV …


Koridor Order…

Sudah dua hari aku di Order, dan malam ini aku sedang mengepel lantai bersama para suster.

"hai, baju suster itu cocok juga untukmu" aku menoleh ke arah sumber suara itu.

"ah, selamat malam, Castor-san, Labrador-san, dan Frau-san".

Sebelum pergi, Frau menepuk kepalaku sebelum pergi "ah, gadis kecil, …berhati-hatilah".

"hati-hati terhadap apa?" pikirku.

Meskipun ini memang sudah malam, aku merasa aman sebab order dikelilingi tembok yang tinggi, untuk menyusup pun harus melewati gerbang depan dan belakang. Setelah membantu para suster, aku kembali merenung sambil kembali ke kamarku. Aku sangat terkejut, karena banyak hal di dunia luar yang tidak kuketahui. Saat aku berjalan di lorong menuju kamar yang kutempati, aku bertemu dengan seorang kakek yang sedang duduk sambil mengelus sebuah foto. Aku menyapanya dan duduk di sampingnya.

"foto siapa yang sedang anda lihat, kek?".

"ini foto keluargaku. Oh iya, nak, maukah kau mendengar ceritaku?".

Setelah itu, kakek itu bercerita bahwa ia terpisah dari anak dan cucunya saat perang sedangkan istrinya baru saja meninggal karena sakit. Karena itulah walau kakek itu pulang ke rumah, tidak ada siapa-siapa di sana dan hal ini membuatnya kesepian. Aku ikut sedih mendengar ceritanya.

"oh, kau punya tatapan yang sama denganku. Ada apa? ceritakanlah, nak"

Saat aku hendak bercerita, aku melirik kakek itu sekali lagi. Tapi aku langsung menjauh dari kakek itu karena aku melihat sayap dari tulang di punggungnya.

"ada apa, nak? Mengapa kau menjauh?".

Sambil menjaga jarak, aku berusaha tenang "maaf, kek. Tapi sayap dari tulang yang keluar dari punggung anda itu apa?".

Kakek itu tak menjawab pertanyaanku dan tersenyum sinis "rupanya kau bisa melihat ini, ya. Kualitas tinggi memang beda. Maaf ya, bagaimanapun aku harus membawamu agar majikanku senang".

Kakek itu mengembangkan sayapnya dan terbang mendekatiku.

Aku mendengar suara perempuan, entah dari mana "Incar sayapnya! Kelemahan Kor yang merasuki kakek itu terletak di sayapnya!".

Walau aku tak tahu siapa itu, aku tetap mengeluarkan pedang zaiphonku dan menyerang sayapnya. Tapi tidak mempan, dan ujung sayap kakek itu mengarah padaku. Sesaat sebelum sayap itu mengenaiku, seseorang mengangkat tubuhku dan meletakkanku di dekat pilar.

"yo, kakek. Memangnya boleh main serobot gitu?".

Kulihat ke arah suara itu, Frau-san! Disusul Castor-san dan Labrador-san.

Kakek itu menghasut mereka bertiga untuk menyerahkanku "gadis itu buronan kemiliteran, sehingga ia tak akan punya tempat dimanapun di dunia ini. Jiwa gadis itu begitu cantik dan murni, majikanku pasti akan senang jika aku membawanya".

Aku melihat tangan Frau-san bergetar-getar, ada apa dengan tangannya?

"ada hukum sanctuary di order, lagipula bukannya majikanmu akan lebih senang jika kau membawa ini?" ujar Frau sambil mengeluarkan sabit dari tangannya yang bergetar.

Melihat sabit yang keluar dari tangan Frau, kakek itu langsung histeris dan menyerang kami "sabit itu! bagaimana kau bisa memiliki sabit itu!".

Tapi serangannya ditangkis oleh sabit Frau. Karena mengetahui bahwa ia tak mungkin menang, kakek itu berusaha kabur.

Frau melirik ke arahku "tolong jaga dia, Lab. Castor, ikat kakek itu".

"tanpa kau suruh pun…".

Setelah itu aku melihat Castor-san mengeluarkan beberapa benang tipis yang membelenggu gerakan kakek itu.

"Wish to God", sambil tersenyum, Frau-san mengayunkan sabitnya dan mematahkan sayap berbentuk tulang itu, dan kakek itu pingsan.

Sementara Labrador-san dan Castor-san mendatangi kakek itu, aku mendekati Frau-san yang sedang memasukkan sabit itu ke dalam tangannya. Setelah kami berempat mengantarkan kakek itu ke kamar kosong, mereka bertiga mengantarkanku ke kamar yang kutempati.

"Frau-san, apa tanganmu itu tidak sakit?".

"kau tidak takut?".

"kenapa? Aku memang terkejut, tapi untuk apa takut? kalian kan menolongku tadi, jadi tidak ada yang perlu kutakutkan dari kalian".

Mereka bertiga tersenyum mendengar jawabanku, saat aku meminta penjelasan, mereka bertiga mengantarku ke kamar dan menjelaskan peristiwa tadi. Setelah aku duduk di atas ranjang, Castor-san menjelaskan kejadian tadi.

"biar kujelaskan, 1000 tahun yang lalu, dewa kematian dari surga yang telah membunuh putri Raja Langit, Eve yang bernama Verloren turun ke bumi. Dia menyebarkan bencana dan wabah penyakit pada manusia. Karena merasa kasihan, Raja Langit menurunkan 7 dewa dengan kekuatan dari sel Verloren yang disebut 07-ghost, mereka terdiri dari Ea, Landkarte, Relict, Vertrag, Fest, Profe dan Zehel. Mengerti?".

"Zehel…" gumamku, entah kenapa nama itu familiar di telingaku.

Castor melanjutkan ceritanya "07-ghost berhasil mengurung tubuh Verloren ke dalam Michael's Eye, sementara kenangan jiwa Verloren dikurung dalam Raphael's Eye, dan jiwa Verloren terus mengembara di dunia sebagai manusia yang bereinkarnasi tanpa bisa kembali ke langit. Sebelum Verloren disegel, dia melepaskan sejumlah besar Kor. Di sinilah bagian yang mulai rumit, sebelum manusia lahir, dia diberikan 3 mimpi oleh Raja Langit, mereka harus mencari mimpi mereka dan saat semua mimpi mereka terkabulkan mereka akan kembali ke surga. Nah, dalam proses ini, ada anak nakal yang mengganggu".

"oh, Kor tadi" gumamku.

"kau tahu dari mana?" ujar Frau.

"ada suara perempuan, entah dari mana yang membisikannya padaku".

Walau mereka bertiga sempat keheranan, Castor-san melanjutkan ceritanya "Mereka mengabulkan 3 permintaan manusia dan saat 3 permintaan itu terkabulkan, orang itu akan jatuh ke dalam kegelapan. Akan muncul makhluk bernama Wars saat Kor sudah memenuhi 3 permintaan, mengerti?".

"saya mengerti, Castor-san".

Sambil menghisap rokok, Frau bertanya "by the way, benda yang kau keluarkan saat pertemuan pertama kita dan yang tadi itu… control-type zaiphon, kan?".

"…memang, tapi anda tahu dari mana, Frau-san?".

"aku mengenal seseorang yang memiliki zaiphon control-type juga, saat aku masih seumuranmu".

Setelah aku menjelaskan cara kerja control-type zaiphonku pada Castor-san dan Labrador-san, mereka memberitahuku bahwa mereka (kecuali Frau) agak terkejut karena baru kali ini mereka melihat zaiphon control type yang tergolong sangat langka. Setelah itu, mereka bertiga memintaku untuk merahasiakan kejadian malam ini dan keluar dari kamar. Entah kenapa, sebelum terlelap dalam tidurku, aku teringat senyuman Frau-san saat mengayunkan sabitnya pada Kor tadi. Kilatan mata dan senyumannya tadi terasa begitu indah, tapi juga terasa begitu dingin dan kejam, seperti dewa kematian. Yah, kesanku tentangnya mengingatkanku pada Souichirou.

Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela besar di depanku. Saat aku bangun, aku melihat ketiga suster yang merawatku, suster Rosalie yang berambut pirang, suster Libelle yang berambut ungu, dan suster Athena yang berambut biru. Setelah aku berganti baju, suster Rosalie duduk di sampingku, memeriksa keadaanku.

"Bagaimana? Apa lukamu sudah tidak sakit lagi?".

Aku menoleh ke arah suster Rosalie dan menanyakan alasan mereka bersikap baik padaku. Suster Libelle dan suster Athena ikut duduk di sampingku. Sambil mengelus kepalaku, suster Libelle balik bertanya padaku.

"Maria sendiri, alasanmu berbuat baik pada orang lain apa?".

Aku teringat pada teman-temanku "karena aku menyayangi mereka…".

Suster Athena menggenggam tanganku "itulah pekerjaan kami, menyayangi dan memberi kasih sayang pada orang yang membutuhkannya. Aku, Libelle, dan Rosalie sangat menyukai pekerjaan ini. Bagaimana kalau Maria juga coba?".

"hah? Maksudnya…".

Belum selesai aku bicara, suster Athena menarik tanganku dan menyeretku keluar disusul kedua suster lain, menuju sebuah taman bunga di bagian timur Order. Saat aku berpikir apa yang ingin mereka lakukan, ternyata ketiga suster itu malah mengenalkanku pada anak-anak itu dan memintaku untuk mengajari mereka. Walaupun bingung karena aku tidak tahu harus mengajari apa, aku terima saja. Sebab mereka bertiga yang merawatku saat aku terluka kemarin, selain itu aku tidak tega melihat anak-anak yang sudah memasang wajah memelas di depanku ini. Saat aku bertanya apa yang ingin mereka pelajari, mereka memintaku untuk mengajari mereka cara menyanyikan lagu di gereja ini. Saat mereka memberikan partitur lagu itu, aku ingat bahwa lagu ini sering kunyanyikan saat aku masih ada di gereja bersama Father dan kakak. Sambil bernyanyi dan bermain bersama anak-anak itu, tanpa terasa hari sudah senja. Saat aku pergi, beberapa anak menarik rokku dan memintaku untuk datang lagi kesini besok.

Frau muncul dari balik tembok "kau tahu, saat bermain bersama anak-anak tadi, kau sangat cantik dan terlihat bersinar, gadis kecil".

Setelah itu, dia pergi meninggalkanku.

"hah? Jadi dia menemuiku hanya untuk mengatakan hal itu? Apa-apaan dia?" pikirku sambil memegang wajahku yang terasa panas dan memerah.

Keesokan harinya, aku menepati janjiku pada anak-anak itu. Kali ini mereka memintaku untuk menyanyikan lagu yang mereka minta. Karena merasa tenang bersama anak-anak ini, aku mengabulkan permintaan mereka.

.

Saat Maria mulai bernyanyi, ketiga suster dan uskup yang biasa mendampingi Maria itu mengawasinya dari lantai 2.

Suara nyanyian Maria terdengar sampai depan gerbang.

"suara ini… tidak salah lagi".

Seseorang masuk ke dalam lingkungan order dan mencari sumber suara nyanyian yang dia dengar. Saat pemuda itu melihat Maria, dia membuka tudungnya dan memanggil Maria "Maria!".

Maria menghentikan nyanyiannya dan terkejut ketika melihat ke arah pemuda yang memanggilnya "…Mikage…".

Tanpa aba-aba lagi, Mikage langsung menghampiri dan memeluk Maria "Maria, syukurlah kau selamat! Akhirnya kutemukan kau!".

.

Aku terkejut dan tak bisa apa-apa karena rasa terkejut dan rindu padanya yang melebur memenuhi dadaku. Tapi aku sadar berkat anak-anak di sekelilingku yang menatap kami "Mikage, lepaskan aku! Dilihatin sama anak-anak, nih!".

Mikage menyadari tatapan anak-anak di sekelilingnya dan mengajak ngobrol salah seorang di antara mereka "maaf, dik. Kalian dengan Maria sedang apa?".

Setelah anak itu menjelaskan bahwa aku diminta menjadi guru privat musik mereka pada Mikage, Mikage berdiri "kalau begitu, kakak pinjam guru musik kalian ini, ya".

"kya! Mikage, turunkan aku!".

Dengan mudahnya, Mikage menggendongku dan membawaku pergi meninggalkan anak-anak yang terbengong itu.

.

Di lantai 2, ketiga uskup dan suster itu ikut terbengong-bengong.

"siapa laki-laki itu!".

Setelah berteriak begitu, Frau langsung mengambil langkah seribu untuk mencari Maria yang digendong Mikage, disusul Labrador dan Castor yang menahan tawa karena geli dengan sikap Frau yang overprotektif terhadap Maria.


Di Taman Pusat Order…

Setelah sampai di tepi air mancur, Mikage menurunkanku. Sambil duduk di anak tangga, kami memulai pembicaraan. Mikage mempersilakanku untuk bicara duluan. Aku menceritakan pada Mikage mengenai ingatan masa kecilku yang kembali, juga pencarian informasi yang kulakukan. Setelah aku meminta maaf atas perbuatanku yang seenaknya meninggalkan mereka berdua, Mikage menggelengkan kepalanya.

Sambil menatapku, Mikage memegang tanganku "satu hal yang patut disyukuri saat ini, Maria Klein, tidak ditelantarkan oleh keluarganya".

"…kau nggak marah?".

"aku nggak marah, tapi kalau kau punya masalah, paling tidak katakan padaku. Apa aku tidak bisa jadi tempatmu bersandar, atau kau memang tidak bisa mempercayaiku?".

Karena perkataannya membuatku naik darah, aku membenturkan kepalaku pada dahinya. Aku menjawab pertanyaannya sambil memegang pipinya "…sudah 3 tahun kita bersama di kelas dan kamar yang sama, aku mengenal dirimu dan tidak mungkin aku tidak mempercayaimu, kan!?".

Setelah mengelus dahinya, Mikage tersenyum "thank you, Maria. Tapi ingatlah ini, kemanapun dan sejauh apapun kau pergi, aku akan tetap mencari dan mengejarmu, meski harus ke ujung dunia sekalipun".

Teringat dengan pernyataan Mikage di atap rumah sakit, aku tidak heran lagi dengan sikap Mikage yang berubah setelah kami bertemu.

"manis sekali kata-katamu. Kemarin kau bilang tidak peduli meski harus dimusuhi oleh seluruh orang di dunia sekalipun, sekarang kau bilang begini…".

Mikage berdiri sambil membelakangiku "…kurasa, aku sudah bilang tentang perasaanku, kan?".

Aku menghela napas sambil menyilangkan kedua tanganku "aku juga sudah beri jawabanku, kan?".

Mikage menoleh ke arahku "oh, surat itu? udah kurobek sebagai pelampiasanku".

Aku menepuk dahiku "okay, seperti yang kukira… laki-laki keras kepala sepertimu pasti akan menolaknya".

"tentu saja. Aku tahu, kau melakukan hal ini karena kau punya alasan. Tapi, kepergianmu yang tanpa kata-kata ini membuatku takut, kalau kita tidak akan bisa bertemu lagi".

"baik, aku minta maaf soal itu. tapi aku heran padamu, kenapa kau tetap memilihku? padahal banyak gadis baik-baik dari keluarga normal yang lebih baik dariku…".

"hah… kau itu terlalu merendahkan dirimu. Dari insiden 3 tahun yang lalu dan yang kemarin, kau rela terluka demi melindungi orang lain, tidak memperdulikan siapa dia dan bagaimana sikapnya padamu, bagaimana mungkin aku bisa menyebutmu sebagai gadis yang tidak baik? Nggak mungkin!".

Setelah mengambil napas sejenak, Mikage melanjutkan ucapannya "Bahkan… peristiwa itu sampai membekas… pada tubuhmu".

Aku refleks mendongakkan kepalaku "oh, jadi apakah perasaanmu itu karena tanggung jawab?".

"bukan begitu, perasaanku ini tulus. Percayalah!".

"okay, Mr… tapi kembali ke suratku, kalau belum dicoba, mana kita tahu, kan?".

"aku tahu pasti! Aku menyadari perasaanku setelah insiden 3 tahun yang lalu, dan di saat bersamaan setelah kau sadar, aku berusaha menghilangkan perasaanku karena apa yang kulihat!".

Aku menautkan alis karena heran bercampur penasaran "…memang, apa yang kau lihat?".

"…aku melihat… kau dipeluknya saat aku hendak menjengukmu. Bukan hanya karena aku tidak mau bersaing dengan sahabat sendiri, tapi juga karena ekspresimu saat itu. Tapi, tidak peduli seberapa keras aku mencoba untuk melupakanmu, sosokmu pasti terbayang di benakku, semua dalam dirimu yang kusukai… menghantuiku, sampai membuatku kacau... aku sama sekali tak bisa menghilangkan perasaan ini".

Aku tahu betul yang dimaksud Mikage adalah Souichirou, padahal ia hanya kuanggap kakak "meskipun kau tahu kalau wanita yang kau cintai ini seorang pembunuh?".

"berhenti menyalahkan dirimu sendiri!".

"tapi kenyataaannya memang benar, kan?!".

Mikage menahan tanganku "kumohon, berhentilah menyalahkan dirimu seperti ini, rasanya sakit tiap melihatmu yang selalu memasang pembatas di antara kita karena rasa bersalahmu. Kalau tidak, aku akan ikut menyalahkan diriku karena kau jadi begini karena bangsaku yang telah menghancurkan negara bangsamu".

Aku yang sedari tadi hanya bisa termangu akhirnya bereaksi "hei, itu melanggar aturan! Curang?!".

"untuk menghadapi gadis keras kepala sepertimu, mau nggak mau harus!?" sahut Mikage sambil mengatur napas.

Aku mengambil napas "kamu tuh yang keras kepala. Bukan hanya itulah alasanku, tapi juga karena…".


Maria POV End…


Tanpa diketahui Maria dan Mikage, di balik dinding dekat tangga trio bishop (Frau, Castor dan Labrador) baru saja sampai dan bersembunyi di balik pilar seperti totempole.

"siapa sih, laki-laki itu? Pacarnya? Pakai pegangan tangan segala".

"Frau, kenapa kau peduli sekali pada Maria?" tanya Castor yang ada di tengah.

"apa katamu, Castor? Aku hanya…".

Labrador yang ada di bawah menenangkan mereka berdua "sst… mereka mulai bicara lagi".

(okay, karena penasaran dengan hubungan Maria dan Mikage, trio ini langsung pasang kuping, dasar para uskup kurang kerjaan).

Setelah suasana hening sesaat, Maria membuka mata setelah diam beberapa saat "…aku tidak keberatan kalau kau memang mau terus berada di sampingku".

Senyum khas Mikage yang lembut kembali menghias wajahnya, detik berikutnya Mikage memeluk Maria "Jangan pernah pergi dariku tanpa kata-kata seperti kemarin. Tak usah pura-pura deh, kau pasti kesepian, kan? Karena itu kau membiarkanku untuk tetap berada di sampingmu".

Maria memegang pipi Mikage "…aku sangat mengenalmu, Mikage. kalaupun kau kusuruh pulang sekarang juga, memangnya kau mau pulang begitu saja?".

"yap, aku akan pulang kok, tapi harus bersamamu".

"tuh, kan… dasar bodoh! Dengan kau datang kemari, kau tahu resikonya, kan?".

"aku tahu, semakin susah bagi kita untuk berpisah… tapi sekarang, terima dulu hukuman dariku atas perbuatanmu yang seenaknya meninggalkan kami".

Maria menautkan alisnya "eh, apa itu?".

Sambil menggenggam erat kedua lengan Maria, Mikage mencium kening dan kedua pelupuk mata Maria. Tentu saja trio bishop ini dibuat terbelalak oleh 'hukuman' yang didapat Maria dari Mikage. Maria langsung terduduk lemas sambil menyembunyikan wajahnya.

Mikage yang menggengam tangan Maria ikut duduk "Maria! kau kena…", tapi Mikage menghentikan ucapannya setelah melihat wajah Maria yang memerah.

"…kh… Mikage… perempuan mana yang nggak kaget kalau dicium mendadak kaya gini?! Kukira jantungku mau copot, tahu?!".

Mikage duduk bersimpuh di hadapan Maria "ahaha… maaf, deh. Habis, kau nulis kalimat kaya gitu di akhir suratmu".

Maria menundukkan kepalanya "…padahal, alasanku menulis itu juga demi kebaikanmu sendiri, kenapa kau tidak mau mengerti?".

"…kau sendiri, kenapa nggak mau ngerti? Setelah semua yang terjadi selama ini di antara kita, kau memintaku untuk melupakanmu dan mendampingi perempuan lain? mana bisa! Mudah untuk berteori, tapi prakteknya kan susah".

Mikage mulai cemas karena Maria menyentuh punggungnya dalam diam "eng… Maria?".

Betapa terkejutnya Mikage melihat tetes air mata yang mulai mengalir di pipi Maria "Ma, Maria! kok malah nangis, sih? kata-kataku menyinggungmu, atau.. lukamu sakit lagi?".

Maria menggelengkan kepalanya "…bukan gitu… malah sebaliknya, aku senang kok… tapi aku benar-benar bingung. Karena aku merasa kalau aku tidak pantas mendapatkanmu. Akibat perang 10 tahun yang lalu, tak hanya asal-usulku yang tidak jelas, aku pun sudah terlalu banyak berbuat dosa. Semasa di akademi, kau juga tahu statusku sebagai mantan budak perang, kan? Semua kata mereka benar, sudah terlalu banyak orang yang kubunuh, berbeda sekali dengan gadis itu… dan juga kau. Aku selalu memasang topeng agar orang lain tak melihat sisi lemahku, tapi kenapa… kau selalu disisiku?".

Mikage mengaruk-garuk kepala "sigh… aku tahu, mungkin sebagai keturunan dari bangsa yang telah menghancurkan negaramu, aku tak punya hak untuk bicara begini. Tapi paling tidak, aku ingin kau tahu bahwa semua sumpahku untukmu itu bukan karena kasihan ataupun rasa tanggung jawab, tapi sungguh-sungguh murni dan tulus karena perasaanku. Apa boleh buat, kan? Aku sudah terlanjur… cinta mati padamu".

Dengan mata berkaca-kaca, Maria memeluk Mikage erat-erat sambil tersenyum lembut "…bodoh, aku tidak peduli hal itu. aku justru sangat berterima kasih padamu yang selalu ada untukku. Aku tahu, aku juga tak bisa menyalahkanmu atas perasaanmu, karena saat kita berpikir bahwa kita menyukai seseorang, maka sudah terlambat untuk menghentikan perasaan ini".

Melihat Maria yang berkata begitu sambil menatapnya, Mikage mengelus-elus kepala Maria sambil tersenyum khasnya. Mikage memeluk Maria sambil beradu kepala dan berkata "saat nanti kau berhasil menemukan keluargamu, kenalkan ya".

Maria tersenyum karena ucapan Mikage barusan terdengar sebagai ucapan bahwa ia yakin kalau keluarga Maria masih hidup "iya, pasti…".

Karena kata-kata yang terdengar dan pemandangan yang terlihat oleh mereka seperti tadi, otomatis membuat trio bishop ini salah paham dan mengira kalau Maria dan Mikage itu sepasang kekasih.

Saat hendak makan malam, Maria memperkenalkan Mikage pada ketiga bishop dan ketiga suster yang menolong dan merawatnya selama Maria tinggal di Order (sebagai sahabatnya, tentunya). Mikage mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada mereka berenam. Walaupun mereka menyambut Mikage dengan ramah, entah kenapa Maria merasa sikap Frau agak berbeda. Usai makan malam, Mikage diantar ke kamar lain oleh Castor dan Labrador. Sementara Maria kembali ke kamar bersama Frau atas permintaan Mikage yang takut Maria nyasar lagi.


Sementara itu, Di Benteng Hohburg…

"bagaimana Maria Klein bisa kabur! Padahal dia kandidat Michael's Eye yang berharga, tapi kenapa kau biarkan dia pergi? Jelaskan pada kami, AYANAMI!" ujar salah satu petugas militer dalam meeting.

"ada laporan yang menyebutkan bahwa Maria Klein saat ini ada di Distrik 7" ujar Kolonel Katsuragi.

"gadis manis itu pasti balik lagi, ya kan, Aya-tan?" ujar Hyuuga.

"mayor, jangan baca buku begitu di ruang meeting" sahut Konatsu.

"zzz~~~" dengkur Kuroyuri yang tertidur sambil digendong oleh begleiternya, Haruse.

"kalian ini serius tidak?! Terutama kau, yang di pojok kiri!" bentak salah satu pekerja militer yang menahan amarahnya sejak tadi sembari memukul meja.

Haruse memberi hormat "siap, pak!".

Miroku-sama mulai angkat bicara "Lebih baik kalian cari gadis itu segera, gadis itu harus kita dapatkan kembali".

"normalnya, untuk kabur dari distrk 1 ini melalui jalur udara, hanya ada dua jalan, yaitu melewati pos penjagaan yang dijaga 5.000 pasukan atau… melewati tebing yang biasa dilewati oleh Wendy Sky Runner yang bisa mengacaukan armada terbesar di tentara kita".

"maksudmu gadis kecil itu bisa melewati Wendy yang bisa mengacaukan bala tentara kita itu?".

"gadis itu memang bukan gadis biasa, tapi anda sekalian tenang karena saya sudah mengontak mata-mata kita di Distrik 7 untuk mencari gadis itu".

Suasana di ruang meeting hening setelah ucapan Ayanami itu.


Beberapa hari kemudian…

Di ruang tunggu Misa…

Seperti hendak meyakinkan sesuatu, Frau bertanya "apa benar itu yang kau lihat, Labrador? Tak adakah yang bisa kita lakukan?".

"ya, penjemput Mikage sebentar lagi akan datang. Saat ini pun ia tinggal setengah. Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah memberi waktu perpisahan pada Maria".

Dengan wajah pucat, Frau berkata "apa-apaan ini? Baru kali ini aku melihat seseorang dengan jiwa yang tinggal separuh".

Labrador meneruskan ucapannya "Aku melihat dalam ramalanku, akan ada seseorang yang mengejar Maria dan menghancurkan dunia Maria saat ini".

"dan orang itu, bukan Mikage-kun?".

"bukan dia"

Sementara kedua temannya bercakap-cakap, Frau memutar-mutar topinya "yah, aku nggak ngerti hal-hal sulit begini, intinya saat keadaan darurat, kita kabur aja".

Ucapan Frau barusan yang terdengar oleh Uskup Agung berakhir dengan jitakan di kepala Frau karena Frau sudah sering bolos. Akhirnya Castor menempatkan salah satu bonekanya untuk mengawasi Maria dan Mikage.


Maria's POV...


Hari ini tepat seminggu setelah aku meninggalkan militer. Aku bersyukur pengejar belum datang ke sini, jadi aku bisa pergi sebelum pengejar datang. Rencananya, setelah Frau-san dkk menyelesaikan tugasnya dalam misa, aku akan pamit pada mereka. Sambil menunggu, aku mengajak Mikage untuk jalan-jalan selagi mengisi waktu luang. Tapi aku merasakan keanehan saat menyentuh tangannya.

"…Mikage, kenapa tanganmu dingin sekali?".

Setelah mendengar perkataanku, Mikage langsung melepaskan genggaman tanganku dan kabur meninggalkanku. Tentu saja aku mengejarnya. Sudah kuduga ia menyembunyikan sesuatu dariku.

.

Di Rumah Kaca Bagian Utara Order…

Suara organ terdengar sejak beberapa menit yang lalu pertanda misa telah dimulai, bersamaan dengan suara teriakan Mikage.

Aku menghampiri Mikage yang tersungkur di tanah sambil memegangi kepalanya "Mikage! Ada apa denganmu?".

Walaupun dia sempat membentakku agar aku tidak mendekat, aku tetap mendekatinya dan membantunya berdiri "…sudah kuduga, kau menyembunyikan sesuatu dariku, kan?".

Dia menatapku sambil memegang erat pundakku "dengarkan aku baik-baik selama suaraku masih sampai padamu, Maria. Pertama, jangan balas dendam dan menjadikan militer sebagai musuhmu, kau pasti tahu kalau balas dendam tak akan menghasilkan apa-apa, berjalanlah di jalan yang penuh cahaya dan teruslah lihat ke depan. Kedua, kau payah dalam menerima kebaikan orang dan membuka diri, tapi kau gadis paling tegar dan terkuat yang pernah kutemui dan kau juga orang pertama yang menerimaku apa adanya, tapi itulah yang membuatku jatuh cinta padamu. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Aku akan selalu ada disisimu selama aku masih ada dalam kenanganmu".

"kenapa kau tiba-tiba bicara begitu, Mikage?" ucapku dengan wajah memerah.

Sambil mundur satu langkah, Mikage mengucapkan satu permintaan terakhirnya "yang terakhir, tolong bunuh aku, Maria".

Permintaan Mikage barusan membuat wajah Maria menjadi pucat "yang benar saja! Mana mungkin aku membunuhmu kan!".

"kalau begitu larilah! Aku tak bisa menahannya lebih lama lagi. Seseorang… yang bukan diriku… mengejarmu. Sialan… aku sudah menganggapmu sebagai keluargaku sendiri, mana mungkin kuserahkan kau pada mereka".

"mereka? kau diapa-apakan oleh pihak kemiliteran, ya?".

Aku makin tak mengerti, yang kulihat kini adalah Mikage yang tengah bertengkar dengan seseorang di dalam dirinya. Setelah Mikage terdiam sebentar, dia menatapku dan mengulurkan tangannya "Maria, kembalilah ke kemiliteran bersamaku, ayo".

Bukan hanya perasaanku, nada suaranya yang memanggilku tak lagi lembut juga tatapan matanya yang dingin membuatku mundur perlahan "tidak, kau bukan Mikage, siapa kau?".

"sigh… sesuai informasi, kau memang gadis yang cerdas. Baiklah, karena terlanjur ketahuan, sekalian saja kuseret kau ke kemiliteran".

Sebilah sayap dari tulang muncul di pungungnya. Saat ia menghampiriku dan hendak menangkapku, sebuah boneka muncul dan mendorongku keluar dari rumah kaca. Aku segera kabur dari sana.


Maria POV End…


"ho… ada pemain boneka yang tak tahu diri rupanya".

Boneka buatan Castor rusak dalam satu serangan. Castor memegang kepalanya "ukh, aku kehilangan kontak dengan bonekaku di rumah kaca bagian utara".

Frau segera membungkukkan badan "Castor, Labrador, tolong urus tempat ini. Aku pergi sebentar".

Frau melepaskan rohnya dari tubuhnya dan segera pergi mencari Maria. Tak lama setelah Frau pergi, uskup agung mendekati Castor "Castor, Frau kemana?".

"Frau sedang pergi untuk membasmi penyusup di order. Dia adalah Kor bersayap satu yang bersembunyi dalam tubuh anak lelaki dengan jiwa yang tinggal setengah".

Wajah uskup agung langsung berubah menjadi pucat setelah mendengar penjelasan Castor.