Wuih, akhirnya chap.3

Oppa mana reviewnya, #pout3x

.

.

.

"Umma, bagaimana rasanya jika kita tidak mempunyai ibu?" tanya seorang namja cilik yang tengah berbaring diatas tempat tidurnya.

"Waeyo, Siwonnie?" tanya sang umma keheranan.

"Umma, tahu noona," kata Siwon. "Soesangnim bilang Noona dan Kibum kehilangan ibu mereka sebulan yang lalu," kata Siwon. Sang umma menatap putranya tersebut.

"Rasanya tentu menyedihkan, Siwonnie. Umma saja menangis saat nenekmu tiada," kata Nyonya Choi.

"Tapi nenek kan sudah tua," kata Siwon polos.

Nyonya Choi memandangi putranya tersebut. Dia duduk di samping tempat tidurnya dan merebahkan diri di sampingnya.

"Apa yang biasa kita lakukan dipagi hari?" tanyanya.

"Bagun tidur, mandi, sarapan dan bersiap berangkat ke sekolah," jawab Siwon.

"Hanya itu?" tanya sang umma. Siwon menganggukkan kepalanya. "Siapa yang membangunkanmu di pagi hari?" tanyanya sambil tersenyum.

"Umma, umma yang membangunkanku setiap pagi," jawab Siwon penuh antusias.

"Lalu siapa yang menyiapkan pakaianmu tiap paginya?" tanya sang umma.

"Umma, aku suka pakaian yang umma pilihkan untukku," kata Siwon sambil tersenyum.

"Siapa yang membuatkan sarapan dan membereskan buku-bukumu?" tanya sang umma.

"Umma, umma yang melakukannya. Umma akan menyiapkan sandwich kesukaanku lalu menyiapkan waffle beserta susunya. Umma yang membereskan buku-bukuku jadi aku tidak akan meninggalkan buku-buku milikku," kata Siwon.

"Klo umma tidak ada siapa yang akan melakukannya?" tanya sang umma.

"Para maid," jawab Siwon singkat.

"Jika kita tidak memiliki maid, siapa yang akan melakukan semua hal tersebut?" tanyanya lagi.

"Appa!" jawab Siwon asal sambil tersenyum. Nyonya Choi membelai wajah putranya.

"Tapi, appamu harus bekerja pagi-pagi. Dia tidak bisa melakukan semuanya," kata sang umma.

"Tapi…. Masa aku yang melakukannya sendiri," Kata Siwon menatap ummanya yang tersenyum.

"Ne, begitulah yang harus kamu lakukan jika kamu tidak memiliki umma. Semuanya harus kau lakukan sendiri," kata Nyonya Choi. Mendengar perkataan ummanya Siwon merasakan apa yang mungkin Heechul rasakan.

"Klo begitu umma jangan pernah pergi ne?" pinta Siwon. Dia memeluk ummanya posesif.

"Jinja, tapi suatu hari umma mungkin akan pergi sama seperti nenek dan kakek," jelasnya. Siwon mengeratkan pelukannya.

"Jangan, umma harus menjagaku…." Gumam Siwon.

"Ne umma akan menjagamu, Siwonnie," kata sang umma. Dia pun mengecup kening putranya tersebut dan menatapnya.

"Umma mau kemana?" tanya Siwon.

"Umma ingin kau tidur sekarang. Good night, Siwonnie," kata Nyonya Choi sambil meninggalkan Siwon sendirian.

"Night, umma," gumam Siwon.

Malam itu dia tidak bisa tertidur pikirannya kembali melayang pada Heechul. Dia bangkit dan membuka lemari pakaiannya. Kemudian mengambil sebuah jaket berukuran besar dan memakainya.

"Noona, apa itu yang kau rasakan. Mianne, andai aku bisa meringankan sedikit bebanmu noona," gumam Siwon. Dia kembali naikk ke atas tempat tidurnya dengan memakai jekat tersebut dia terlelap.

.

.

.

Keesokan harinya di Play Group Hima.

Siwon yang berangkat pagi-pagi berdiri di depan pintu gerbang sekolahnya. Dia ingin bertemu dengan Noona-nya. Dari kejauhan tampak dua orang adik kakak yang tengah berjalan beriringan.

"Unnie! Jangan lupa nanti jemput aku, ya?" pintanya.

"Ne, Bummie. Siang nanti unnie akan menjemputmu. Belajar yang rajin ne?" kata Heechul sambil tersenyum. Siwon diam saja menatapnya. Sepertinya Heechul sudah melupakannya. Hal itu membuat dirinya kesal.

"Ne!" jawab Kibum.

"Jangan nakal di sekolah arra?"

"Arra, Kibummie ga nakal kok. Cuma Hae dan Hyukkie oppa selalu jail padaku," kata Kibum.

"Ne, jangan biarkan mereka mengganggumu. Kalau mereka mengganggumu cepat cari soesangnim," katanya.

"Arraseo unnie!" jawab Kibum mantap.

"Unnie berangkat sekolah, ne. Bye!" kata Heechul sambil melambai.

"Bye unnie!" teriak

"Siwonnie, Kibummie. Kajja!" panggil Soesangnim. Kibum segera menghampirinya sedangkan Siwon diam saja. Dia menunggu bayangan Heechul menghilang jauh dari pandangannya.

"Noona, apakah kau lupa padaku," gumam Siwon.

"Siwonnie!" panggil soesangnim. Siwon menatapnya kemudian menatap Kibum.

"Jelek!" katanya sinis dan berlalu meninggalkan keduanya.

"Hikh! Hikh! Hikh!" isak Kibum. Soesangnim yang ada disana segera menenangkan Kibum.

"Kibummie, ingat pesan unniemu tidak," katanya mengingatkan. Kibum menghapus air matanya. Perlahan. Dia pun segera menuju kelasnya.

Dia menyimpan tasnya perlahan. Dengan mata yang sedikit memerah dan sembab, Kibum menghampiri Siwon.

"Wae?" tanya Siwon kesal.

"Minta maaf," kata Kibum.

"Mwo?" Siwon pura-pura tidak mengerti. Kibum jadi jengkel dibuatnya.

"Unnie bilang kalau kau menyakiti seseorang, kamu harus minta maaf," kata Kibum.

"Masa bodo," ucap Siwon malas. Dia melihat duo Eunhae masuk kedalam kelas.

"Awas!" teriak Eunhyuk.

"Hei, lihat. Dia anak yang ga punya ibu lo," kata Donghae di depan KIbum.

"Jinja?" tanya Eunhyuk.

"Ne, dia selalu berangkat bersama dengan Noonanya," kata Donghae.

"Oh, jadi yang menyiapkan semuanya itu noonanya, pasti noonanya jelek sekali," kata Eunhyuk.

"Ne, kau benar lihat saja rambutnya. Pasti dikepangkan oleh noonanya," kata Donghae.

"Dari mana kau tahu?" tanya Eunhyuk.

"Yah, keliatan dari muka jeleknya," kata Donghae. Keduanya tertawa. Kibum menahan air matanya.

"Ani, aku tidak jelek," ucap Kibum.

"Tuh, dia tambah semakin jelek!" ejek Eunhyuk.

"Ya, jangan-jangan dia mau menirukan wajah noonanya," kata Donghae. Siwon yang mendengarnya jadi tidak tahan. Dia mendorong Donghae yang tengah tertawa.

"Hei! Kenapa kau mendorongnya?" tanya Eunhyuk. Siwon diam saja. Sedangkan Donghae mulai terisak. "Donghae bangunlah," kata Eunhyuk.

"Kamu anak jelek, sok pahlawan," cerca Eunhyuk.

"Wea? Trus kamu sendiri apa? Muka monyet," balas Siwon. Eunhyuk tertegun. "Dan, kamu muka ikan. Sukanya mengganggu orang saja. Aku malas bermain dengan kalian muka-muka jelek," hardiknya lagi sambil berlalu meninggalkan kelas.

Eunhyuk dan Donghae tertegun, lalu kedunya mulai terisak dan menangis. Sedangkan Kibum termanggu.

"Dia menolongku?" tanya Kibum. Dia menatap Siwon yang tengah duduk-duduk di kursi taman. Kibum menghampirinya. Siwon diam saja.

"Gumawoyo, oppa," kata Kibum. Siwon yang mendengarnya diam saja. "Oppa, baik sekali, aku suka," kata Kibum lugu.

"Muka mereka memang mirip binatang, kok," jawab Siwon sambil menuju papan jungkat jungkit.

"Mau main bersamaku?" tanya Kibum.

"Aku tidak mungkin bermain papan ini sendirian kan," kata Siwon.

"NE," jawab Kibum sambil duduk di sisi lain papan tersebut.

.

.

.

Di toko roti,

"Selamat datang!" sapa seseorang dengan riangnya. Dia melihat seorang anak yang masuk ke dalam tokonya tersebut. "Heechullie? Ada apa? Kau sudah pulang?" tanya sang appa.

"Ani, aku lapar. Aku membawa beberapa orang teman untuk menikmati roti yang hangat," ucap Heechul.

"Annyeong, ajushi," sapa beberapa orang anak.

"Omo, kau membawa banyak temanmu ke sini," kata sang appa sambil tersenyum.

"Baiklah., ini roti kalian". Kata Kang in gembira. Dia sudah sedikit khaswatir jika para pelanggannya berkurang dan tidak berbelanja lagi ke tokonya tersebut. Tapi ternyata hal itu tidak perlu dikhawatirkan sebab Heechul sudah membantunya untuk promosi roti-roti tersebut.

"Ajushi, rotimu hangat dan nikmat. Aku akan bilang pada umma agar membeli roti di tokomu," kata seorang anak.

"Tentu saja, itu bagus. Katakanlah pada umma dan appa kalian. Toko roti Kim masih buka dan menyediakan roti yang hangat penuh dengan cinta, iya kan Chullie?" kata Kang in.

"Aish! Terserahlah," ucapnya sambil menatap sang appa. Kang in hanya tersenyum dia tahu Chullie sangat memikirkan keadaan keluarganya setelah Leeteuk sang umma meninggal.

"Baiklah, siapa yang mau rotinya lagi?" tanya Kang in.

"Aku, aku ajushi!" celoteh beberapa orang anak.

"Appa," panggil Heechul.

"Ne," tanya sang appa.

"Appa tidak lupa kan untuk mengantar roti ke Play group Hima," kata Heechul.

"Akh! Untung kau mengingatkannya. Appa titip toko dulu. Appa akan segera kembali!" katanya seraya bergegas ke dapaur mengambil sebuah box yang berisi roti lalu bergegas ke luar.

"Wah! Aku kenyang sekali," kata seorang anak.

"Heechullie terima kasih sudah menunjukkan tempat yang asyik ini," katanya.

"Baiklah, sekarang mana bayaran kalian?" tanya Heechul.

"Kukira kau akan mentraktir kami," kata seorang temannya yang berambut panjang.

"Dalam mimpimu saja nona Yoona," kata Heechul.

"Aish! Kau memang," kata Amber mengeluh. Heechul hanya tersenyum manis. Mereka pun membayar roti-roti tersebut.

"Heechul, aku boleh pesan menu roti kismis tidak?" tanya seorang anak, Heechul menatapnya.

"Akan kukatakan pada Appaku," kata Heechul.

Teman-teman Heechul pun bergegas ke luar. Heechul membereskan meja dan kursi di toko tersebut. Dia duduk di sudut ruangan dimana dia biasanya duduk dan menunggu ummanya.

"Appa, lama sekali," kata Heechul.

Heechul duduk, dia memejamkan matanya.

"Umma,"

"Ah, anak umma yang cantik kemarilah. Umma sedang membuat roti,"

"Yak! Seperti itu! Kau pandai sekali. Sekarang kita panggang rotinya, ya?"

"Ne"

Heechul membuka matanya dan menatap ruangan yang kosong tersebut. Dia membuka matanya yang basah, mengingat ummanya. Dia berjalan ke dapur ruangan tersebut. Mendekati rak-rak yang tersusun rapi berisikan tepung dan beberapa bahan untuk membuat roti lainnya. Heechul menghentikan langkahnya di depan oiven pemanggang.

"Heechullie!"

"Anak umma yang cantik,"

"Lezat! Umma menyukai roti buatanmu, hangat dan penuh dengan cinta,"

"Apa akau masih bisa membuatnya umma?" isak Heechul.

Heechul tidak tahu bahwa saat itu Kang in ada di balik pintu melihatnya yang tengah mengenang sang umma yang telah tiada.

.

.

.

Siang harinya, di Play Group Hima.

"Kibummie, kamu masih menunggu unniemu?" tanya Soesangnim.

"Ne, aku akan menunggunya di luar," kata Kibum. Siwon yang berdiri tak jauh dari pintu terdiam.

"Oppa apa kau tidak pulang?" tanya Kibum pada Siwon.

"Ani, aku menunggu supir," kata Siwon.

"Ummamu idak menjemput?" tanya Kibum lagi.

"Tidak," jawab Siwon.

"Wah, oppa kau berani sekali, hebat!" kata Kibum kagum. Melihat senyum Kibum, Siwon merasakan wajahnya memanas karena malu atas pujian tersebut.

"Kajja, kita main di taman sambil menunggu jemputan," ajak Siwon sambil berjalan keluar.

"Ne, kajja." Kata Kibum mengikutinya. Soesangnim hanya melihat kedua siswanya tersebut.

"Kalian jangan menunggu di tempat yang panas, arra?" kata Soesangnim.

"Arraseo, seosangnim." Jawab Kibum yang masih tak jauh dari soesangnim. Siwon terus melangkahkan kakinya.

Diluar keduanya bermain pasir. Membuat kastil yang besar. Siwon diam saja sambil menepuk-nepuk dinding kastil tersebut.

"Kibum suka dengan cerita unnie," ujar Kibum tiba-tiba. Siwon menatapnya, "Unnie selalu bercerita, menceritakan kisah yang sangat seru," kata Kibum sambil terus memuji Heechul.

"Cerita apa?" tanya Siwon penasaran.

"Apa ya? Bukan Cinderella, juga bukan Sleeping beauty," kata Kibum berpikir sejenak.

"Akh, Kibum lama sekali," kata Siwon mulai tidak sabaran.

"Akh! Simba," kata Kibum.

"Simba? Lion King?" tanya Siwon yang suka nonto film The Lion King.

"Bukan, ngomong denganmu ga nyambung," kata Kibum kesal.

"Kamu sendirikan yang tidak bisa menjelaskannya," kata Siwon dingin.

"Akh! Unnie!" kata Kibum sembari melambaikan tangannya. Siwon menatap kearah gerbang, dia tersenyum melihat wajah cerah Heechul.

"Kibummie, sedang apa?" tanya Heechul.

"Aku sedang bermain pasir dengan oppa," kata KIbum sembari menunjuk kea rah Siwon. Siwon segera memalingkan wajahnya.

"Oh, terima kasih sudah bermain dengan Kibum," kata Heechul. Entah kenapa perkataan itu membuat hati Siwon bergetar.

"Tak apa, lagi pula jemputanku belum datang." Kata Siwon.

"Tuan muda," panggil seseorang. Siwon menatapnya.

"Aku pulang duluan," kata Siwon dingin. Dia berjalan melewati keduanya begitu saja.

"Siapa sih bocah ingusan itu?" tanya Heechul sebal.

"Dia itu Siwon oppa, unnie," kata Kibum sembari menutupi wajahnya yang bersemu merah.

"Oh, Siwon," gumam Heechul. Tiba-tiba dia teringat akan anak kecil yang dijumpainya di depan mini market.

"Wae, unnie?" tanya Kibum.

"Ani, kajja, kita ke toko dulu," kata Heechul.

"Menjemput appa, kajja!" kata Kibum antusias.

"Ne," kata Heechul sambil tersenyum.

.

.

.

Di dalam mobilnya Siwon melihat Heechul yang tengah menggandeng Kibum.

"Tuan muda," panggilnya.

"Tunggulah, sebentar lagi ajushi," kata Siwon. Dia menatap keduanya menghilang diujung jalan sana.

"Noona, aku sudah berbaik hati menjaga dongsaengmu. Kau senang kan?" tanya Siwon dalam hati.

"Ajushi, kajja kita pulang," kata Siwon.

"Akh! Ne, tuan muda," kata sang supir.

.

.

.

Setahun kemudian,

"Appa, aku mau ikut jalan-jalan ke pantai," kata Kibum.

"Ani, pantai itu berbahaya," kata sang appa.

"Pokoknya Kibum mau ikut. Unnie juga akan ikutkan," kata Kibum.

"Ani, Unnie minggu depan ada ulangan yang sangat penting," kata Heechul.

"Hikh! Hikh! Hikh! Unnie dan appa jahat! Unnie dan appa tidak sayang sama Kibum," isak Kibum.

"Aniya, appa tidak jahat kok. Appa hanya…." Jelas Kang in namun terlambat. Kibum sudah mulai merengek dan menangis. Heechul menutup telinganya.

"Arra, arra. Appa mengizinkannya," kata Kang in.

"Jinja?" tanya Kibum.

"Ne, kau boleh pergi ke pantai bersama dengan teman-temanmu," kata sang appa.

"Unnie juga kan?" tanya Kibum. Heechul menatap sang appa.

"Ne, unnie mu pun akan ikut. Setelah sekolah," kata Kang in.

"Appa!" kata Heechul sewot.

"Yes! Unnie akan ke pantai bersamaku, baguslah," kata Kibum tertawa riang.

"Aku kan mau ulangan appa," kata Heechul.

"Mianne, Heechullie," gumam Kang in yang tidak bisa menolak keinginan putrinya tersebut.

"Aish! Terserahlah!" kata Heechul sambil meninggalkan Kibum.

"Yeah! Wonnie, unnie dan aku akan pergi ke pantai," kata Kibum sambil memeluk bonekanya.

"Ne," jawab Kang in, "Sebagai gantinya, sekarang Princess tidur, ne?" kata Kang in merayu.

"Ne, tapi gendong ya appa?" pinta Kibum. Kang in menggendongnya dan mengantarkannya ke kamar Kibum.

.

.

.

TBC

.

.

.

Kira-kira apa yang akan terjadi di pantai ya? Masih masa kanak-kanaknya,