Domestic Disturbance
a Jumin*Zen fiction that made by a fan
Mystic Messenger
©2016 Cheritz Co,. Ltd. All Rights Reserved
Warn:
Use of alcohol. Out of Character. Male pregnancy.
Kalau begitu... apa dia sendiri bermaksud untuk melahirkan...
MELAHIRKAN.
Terlalu banyak yang ada di pikirannya dalam saat ini. Masalah gerangan dia dapat mukjizat dari mana bisa mengandung itu sudah pasti masuk ke dalam daftarnya... dokter yang memeriksanya tadi pun terlihat belum dapat mempercayai kejadian ini sepenuhnya.
Selepas keluar dari tempat 'menegangkan' itu... Zen tidak tahu harus ke mana lagi kaki ini berpijak. Tetapi satu hal yang diingatnya yang sangat membahagiakan adalah dia masih memiliki sesuatu, yang dapat dihisap dan menenangkan pikirannya yang kacau. Di sebuah kawasan merokok outdoor di rumah sakit itu dia mengambil tempat, ia harap tak seorang pun mengenalinya atau ada orang yang dikenalnya muncul.
Kapan pula percakapan terakhirnya dengan Jumin? Serasa 1000 tahun yang lalu. Asap wokok keluar mengepul di depan wajahnya. Iya... kepalanya juga menangkap hubungan kebiasaannya ini dengan kandungan yang dimilikinya. Benar juga, ini adalah cara 'manual' untuk membunuh mahluk hidup yang belum jadi mahluk itu.
Memberi tahu Jumin?
Sepertinya tidak, atau tidak akan. Lalu apa... apa dia benar-benar menjadi korban pemerkosaan sekarang? Dengan kerugian moril dan materil yang diterimanya. Melaporkan kejadian ini adalah hal gila... sungguh sangat gila, ia akan kehilangan panggung yang akan digantikan dengan pandangan masyarakat yang negatif terhdapnya... tidak, itu terlalu jauh untuk dipikirkan. Mengakhiri hubungan ini pun... rasanya memang sejak kapan tahu sudah berakhir.
Ia mengabaikannya, semua cengkrama yang terdengar ceria dari orang-orang yang ia rasa tidak akan mengerti ini. Kalau Seven tahu, mungkin ia akan menjadikan ini bahan candaanya... haha, seulas senyum miris ia sunggingkan.
Namun tiba-tiba ada sebuah panggilan dari layarnya yang muncul, tepatnya dari Jumin. Waktu yang terlampau tepat.
Inginnya ia langsung menjawab... inginnya, tetapi jemari itu terhenti. Apa ini... saat drama di antara mereka berdua bermain. Apa ini saat yang tepat untuk marah kepadanya?
Anggap saja, tidak ada apapun di dalam rahimnya yang sebenarnya tidak ada.
"..." Ia menjawab tetapi tidak berbicara.
"Zen? Apa kau di sana?"
"Hmm."
"Bagaimana kabarmu?"
Apa-apaan obrolan ini.
"Baik."
"Apa kau benar baik-baik saja tanpa aku di sana?"
Kalau kepalanya sedang normal, mungkin ia akan tersenyum. Tetapi tidak sekarang.
Akhirnya hanya sehembus nafas berat yang terdengar.
"Buruk," , "kuulangi, keadaanku benar-benar buruk tanpamu di sini."
"Itu baru jawaban yang ingin kudengar."
Haha. Dirinya ingin tertawa, namun air mukanya sedang tidak semangat. "Bagaimana dengan keadaanmu sendiri?" Tanya Zen
"Kau mengkhawatirkan aku?"
"Kututup teleponnya ya!"
Suara tawa yang menyebalkan terdengar sesaat. Jumin kedengarannya masih senang bermain-main dengannya.
"Aku ingin bertemu denganmu," , "tapi sepertinya aku harus bersabar... ada hal-hal yang harus kuselesaikan terlebih dahulu."
Jawaban yang sangat manis. Sayangnya pikirannya sudah tenang, ia sudah menghirup beberapa batang rokok. Tapi masih aja 1 di antara jemarinya. "Kuharap urusanmu itu cepat selesai."
"Kau sedang apa di sana?"
"Aku sedang duduk-duduk... di... sebuah taman."
"Kau sedang tidak sedang latihan atau ada pertemuan?"
"Tidak... belakangan ini kondisiku—"
Zen langsung memutus kalimatnya sendiri, hampir saja ia mengatakannya.
"Kenapa kondisimu?"
"Kondisiku sebenarnya..." , "... eh, begini, ada masalah antara sutradara dengan... pemeran yang lain. Dan ini cukup serius... hingga bisa saja kali ini antara pemeran itu yang diganti atau sutradaranya.. dan..."
"Apa itu benar...?"
"Kau tidak mempercayaiku?"
"..."
Kedengarannya bukan kebohongan yang begitu bagus. Tidak ada percakapan atau Jumin menjawabnya, untuk sementara waktu. Sementara si pembual takut kebohongannya terbongkar.
"Oh, soal pekekerjaanmu." Entah kepekaan spritiualnya yang sedang tidak begitu tajam atau bagaimana, tapi kedengarannya ia percaya.
"Iya."
"Biklah, kurasa aku harus menutup teleponnya sekarang, ada telepon lain yang harus kujawab."
"A—h..." Padahal, ia ingin mengatakan suatu hal terlebih dahulu sebelumnya.
Tetapi, Jumin terlalu cepat bahkan untuk mengatakan selamat tinggal. Apakah kebohongan itu benar-benar jadi kepercayaaan? Semoga saja.
Hingga sore menjelang, Zen lupa bahwa yang menjadi asupan baginya hanyalah racun-racun itu. Bahkann dirinya merasa sudah muak sendiri.
Ia juga tidak mengerti kenapa dirinya begini. Kenapa... sebenarnya apa yang dia lakukan.
Kehiatusannya sempat menjadi pertanyaan, lah kan biasanya dia cukup aktif berkoar di chatroom. Jaehee sempat meneleponnya langsung, ia kedengarannya khawatir. Namun lagi-lagi alasan lain... seperti jawal latihannya yang memadat dan lain sebagainya.
Walau sebenarnya ia sedang tidak melakukan apa-apa... selain menderita sendirian dalam rumah semi besmennya.
Peran terakhir yang digagalkannya adalah cukup besar sebenarnya. Awalnya ia menerima tawaran itu, hingga sampai ke masa-masa ia berlatih dirinya mulai jatuh sakit... hingga sekarang, maka peran itu dibatalkan untuknya. Hanya kadang-kadang saja ada hal yang ada berhubungan dengan karirnya ia lakukan, bukan sebuah kesibukan yang bisa dijadikan alasan... atau apapun itu yang pernah ia katakan pada semua orang.
Walau ia nampak membunuh dirinya secara perlahan, tetapi ia masih menjauh kan dirinya dari morfin. Ia tidak... atau belum saja sampai ke masa dia akan melakulan pembunuhan terhadap dirinya sendiri secara sungguhan.
Apa yang sebenarnya ia lakukan?
Apa ia marah karena kesibukan Jumin yang lebih penting darinya? Lalu berkata baik-baik saja, padahal tidak. Mungkin faktor itu mempengaruhi, namun yang terpenting adalah kehamilannya... yang tidak biasa.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Hm."
"Sedang apa kau? Apa kau sedang minum?"
'Iya.'
"Tidak."
"Baguslah..." ,
"Apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan? Kalau tidak aku akan menutup teleponnya."
Hal lain... yang ingin dibicarakan...
Ia menurunkan botol wiski itu dari mulutnya, lalu diam-diam menghela. "Apa kau tidak ada perjalnan bisnis lagi?"
"Kenapa kau menanyakan hal itu? Tumben sekali."
"Aku hanya bertanya saja—"
Tiba-tiba perasaan mual itu memuncak, ia terpaksa meninggalkan telepon segera dan pergi ke kamar mandi. Namun jahat memang, ia tidak bisa mengeluarkannya langsung, rasa ini sangat menyiksa hingga memacu jantungnya yang sudah lelah.
Sungguh penderitaan ini...
Saat ia kembali, ia pikir Jumin akan memutus teleponnya, namun tidak.
"Kenapa kau tiba-tiba menghilang...?"
"Aku lupa mematikan air panas."
"Kau harus berhati-hati, itu bisa sangat berbahaya."
"... ya..." Ia menghapus peluh yang sempat membasahi keningnya. "Sampai jumpa lagi... Ada sesuatu yang harus kulakukan."
"Hati-hati."
"Iya."
Kenapa dalam seminggu yang sulit ini orang itu menelepon hampir setiap hari? Apa Jumin turut merasakan sesuatu dari sana?
"Apa aku mengganggumu? Jaehee bilang kau belakangan ini makin sibuk latihan."
"Ada apa kau menelepon?" Ia membalas pertanyaan dengan pertanyaan. Sebenarnya ia tidak ingin menjawab pertanyaan pertama itu.
"Kenapa aku menelepon itu karena kau sudah jarang sekali muncul di chatroom."
"... oh."
"Sebenarnya aku meneleponmu sekarang karena, ada berita bagus."
"..."
Berita bagusnya sekarang kau akan menjadi ayah.
"Kau tidak bisa menebaknya...?"
Apa sekarang waktu yang tepat untuk tebak-tebakan?
"..."
Daritadi ia terdiam, pengaruh obat ini membuatnya malas bicara dan mematikan otaknya.
"Apa kau bisa bertemu denganmu besok?" , "... Bagaimana kalau kita bertemu di tempat rahasia kita? Aku sudah lama ingin menghirup udara bebas..."
Tempat itu disebut sebagai 'tempat rahasia'? Kedengarannya sangat lucu.
"Baiklah, kalau itu keinginanmu..."
"Aku tidak ingin hanya aku yang menginginkannya, tapi kau juga..."
Seulas senyum terukir... dengan miris.
Ia tidak tahu, laki-laki itu tidak pernah tahu... betapa sudah kacauya ia sekarang.
Ia benar-benar sakit... dalam makna harfiah. Tidak ada yang bisa dilakukannya, ia tidak dapat membuat makanan atau melakukan pekerjaan yang lain. Yang ia kerjakan hanya berbaring, menderita, meringkuk, minum, dan menghisap.
Tetapi... karena besok ia akan bertemu dengan Jumin, ia ingin merapikan dirinya agar terlihat baik-baik saja...
Namun tidak bisa.
Pagi itu, ketika ia bahkan sudah bersiap-siap... tiba-tiba penglihatannya kabur... dan ia hampir tidak bisa berdiri. Ia sempat berpegangan, baru saja ia akan mengambil kunci motornya... yang ia tidak ingat ada di mana.
Tetapi akhirnya ia tidak bisa berdiri, terhuyung-huyung rasanya... pengelihatannya yang menggelap, goyah. Akhirnya ia hanya bisa berlutut dengan sebelah tangannya memegang dinding. Detak jantungnya yang cepat membuat nafasnya berat.
Baiklah, kali ini ia menyerah.
Tbc.
