Teman Sebangku
Chara: Dazai Osamu x Akutagawa Ryuunosuke
Genre: Friendship
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango
Warning: OOC, typo, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, serta diikutkan pada event "dazai multi ship" di Tumblr.
Day 4: Birthday/Desire (both)
#1: Mempelajari Ekspresi
Hari ini, teman sebangkunya juga hadir dengan wajah datar yang aneh.
Sepanjang pelajaran matematika, Dazai Osamu lebih menyukai pensil, sekitarnya dan penghapusnya ketimbang penjelasan Pak Kunikida. Pemuda tujuh belas tahun itu tengah memperhatikan ekspresi teman sekelas yang dipanggil acak. Entah wajah terkejut, tenang, gugup, senyum kemenangan–semua akan Dazai abadikan di buku tulis.
"Akutagawa Ryuunosuke," panggil Pak Kunikida memegang buku absen. Pandangan Dazai seketika tertuju, pada cowok kikuk di samping kiri.
Ingat soal teman sebangkunya yang berwajah datar? Dialah Akutagawa Ryuunosuke. Orang ini misterius, kekurangan makan, langganan UKS, prestasi biasa saja dan hoki banget–jarang dipanggil guru.
Jelas ini kesempatan langka. Dazai sudah antusias dengan pensil dan penghapus, tetapi Akutagawa tak kunjung berdiri.
"AKUTAGAWA RYUUNOSUKE!"
BRAKKK!
"I-iya?" Saking paniknya kursi yang ia duduki terjungkal ke belakang. Seisi kelas tertawa kencang, sedangkan Dazai menyembunyikan wajah ke samping–mati-matian menahan geli.
"Berapa jawaban dari soal ini?!" BRAKKK! Papan tulis dipukul kencang. Seisi kelas langsung hening. Hanya Dazai yang masih diam-diam ketawa.
"I-itu ..."
"Jawab dengan cepat!"
"Saya tidak tahu, Pak." Guru bersangkutan menghela napas. Tanya-jawab dilanjutkan lagi tanpa memperpanjang masalah.
Sambil ketawa Dazai menggambar ekspresi Akutagawa. Semua berurutan dari wajah bengong, rasa panik, bingung, lalu terjun bebas ke garis datar yang menghias bibir.
Akan tetapi, di tengah keasyikannya mempelajari ekspresi Dazai justru dikagetkan sebuah warna, yang tahu-tahu hinggap di pipi Akutagawa–itu adalah merah karena malu, tetapi tampak lucu gara-gara Akutagawa masih datar.
"Tenang saja. Aku tidak menertawakanmu~" ujar Dazai masih melanjutkan menggambar. Akutagawa menoleh sebentar, walau sejurus kemudian fokus lagi ke papan tulis.
"Jadi?"
"Aku menertawakan Pak Kunikida yang sebentar lagi, marahnya akan lebih hebat dari ini."
"Marah besar karena?"
"Ini rahasia kita berdua; sebenarnya aku menulis 'saya cinta Bu Yosano', tetapi membuatnya seolah-olah Pak Kunikida yang menuliskan, dan menaruh pesan itu di laci Bu Yosano."
"Tidak seharusnya kau memberitahu ini padaku."
"Kamu tidak akan melapor, kok. Aku tahu itu." Hanya satu alasannya, dan Dazai yakin seratus persen.
"Karena?"
"Kita sama-sama stalker, dan kamu masih berdiri walau Pak Kunikida menyuruhmu duduk."
Mempelajari ekspresi Akutagawa ternyata sangat menarik.
#2: Dodol
Jam istirahat makan siang tiba. Akutagawa menolak pergi ke kantin, walau Nakajima Atsushi dan Nakahara Chuuya mengiming-iming dengan es krim. Dazai diam-diam memperhatikan sambil menggambar. Wajah membujuk teman-teman Akutagawa itu langka–harus diabadikan apa lagi milik Chuuya.
Milik Chuuya kayak ibu-ibu menawar harga di pasar. Abis itu mencak-mencak karena kalah sama si pedagang.
"Kelihatannya kamu sengaja~" Gerakan Akutagawa yang membuka tutup bekal terhenti. Matanya menatap tak paham kepada Dazai.
"Kantin itu ramai. Aku membencinya."
"Baiklah~ Karena kamu sudah berbaik hati ingin menemaniku, bagaimana kalau kita bermain tebak-tebakan?"
"Terserah kau saja."
"Jika aku menang, kamu harus memberiku hadiah. Kalau aku kalah, nanti kuberi tahu apa yang sebenarnya kugambar."
Tidak menjawabnya pun Dazai tahu Akutagawa antusias–tampak dari tempo makan yang sedikit cepat, ketika Dazai berniat memberitahu kegiatannya selama ini.
"Dodol, dodol apa yang dodol?" Pandangan mereka bertemu. Akutagawa berhenti menyendok gara-gara heran–dia tidak salah dengar?
"Bisa tolong ulangi?"
"Dodol, dodol apa yang dodol?" Dengan suara lebih keras Dazai mengatakannya. Mau minta pengulangan juga, Akutagawa ciut duluan menilik Dazai mengerucutkan bibir sebal.
"Dodol."
"Tebak-tebakan kedua. Dodol, dodol apa yang dodol?" Lagi? Akutagawa memilih diam daripada menanyakan maksudnya. Toh, ia tinggal menjawab sampai Dazai menepati janji.
"Ya, dodol."
"Salah. Jawabannya kamu."
"Kenapa jawabannya be–", "Dodol, dodol apa yang dodol?" potong Dazai cepat tanpa memedulikan kebingungan Akutagawa. Nanti juga dia tahu mengapa berubah-ubah.
"Kamu."
"Salah. Yang benar kamu dodol~ Tebak-tebakan itu tidak pasti. Jadi, kemungkinan jawabannya sangat banyak."
Tangan kanan Dazai terulur bebas. Kekalahan Akutagawa mau tidak mau membuatnya putar otak, karena tas yang berisi buku menyulitkan pemberian hadiah. Namun, kejadian tadi pagi sukses memberi ilham, sehingga Akutagawa mengeluarkan dodol garut yang salah tempat–harusnya ke tas kerja bapak, eh malah kesasar.
"Dodol?" Aneh. Dazai ini dikutuk atau bagaimana? Padahal dia hanya asal-asalan, sama mengisengi Akutagawa karena berpikir akan sangat lucu.
"Tadi pagi kau melihatku mengeluarkan dodol. Makanya kupikir kau menciptakan tebak-tebakan dari dodol karena menginginkannya."
Aduh! Perut Dazai sakit sekarang. Masa Akutagawa tega membiarkan dia makan dodol yang masih utuh?
#3: UKS
Tiba-tiba sakit bukanlah perkara besar bagi Akutagawa. Seribu untung pelajaran agama jam kosong, ia tidak perlu memikirkan ulangan dari Pak Nathaniel yang bikin elus dada.
SREKKK ...
Pintu UKS dibuka lebar-lebar. Sosok penunggunya, yakni Bu Yosano tidak menunjukkan batang hidung–meski itu hal biasa, karena jam segini beliau menjadi pegantre bakso Mamang Tachihara. Akutagawa mengambil obat-obatan yang diperlukan, dan meminumnya berurutan sesuai kebiasaan. Saat hendak membaringkan tubuh, Akutagawa mendadak mundur gara-gara melihat Dazai melambai padanya.
"Ekspresimu seperti habis melihat hantu saja."
"Sedang apa kau di sini?" Akutagawa hanya mengetahui, Dazai mendadak hilang lima menit sebelum bel masuk. Mana sangka dia malah kemari.
"Jam kosong itu membosankan~ Lebih enak tidur di UKS." Kali ini Dazai ditemani krayon, papan kayu dan selembar HVS. Entah apa yang ia gambar, Akutagawa malas mencari tahu.
Hening menyelimuti keduanya. Rasa pusing menjadikan Akutagawa sulit tidur, sekeras apa pun ia memejamkan mata. Dazai mungkin masih menggambar. Tidak sekali pun Akutagawa mendapatinya melakukan hal lain, bahkan di pelajaran olahraga kecuali sedang tes.
"Hey~ Kamu sudah tidur?" Krayon diletakkan berdasarkan posisi. HVS yang selesai diberi warna Dazai taruh di atas nakas.
"Belum."
"Tidak bisa tidur gara-gara sakit kepala, atau masih penasaran dengan apa yang kugambar?"
"Dari mana kau tahu aku sakit kepala?" Bilang juga tidak. Penyakit Akutagawa pun hanya diketahui Chuuya dan Atsushi, selaku teman sejak SD.
"Langkahmu sempoyongan. Wajahmu juga pucat seperti menderita anemia."
"Kau suka memperhatikan orang lain, ya?" tanya Akutagawa mengganti posisi menjadi setengah berbaring. Dazai menyilangkan tangan di depan dada, lantas terkekeh sebelum menjawab.
"Akan kuberi bocoran. Sebenarnya aku tengah mempelajari ekspresi orang lain, dan menggambar semua itu di buku tulis agar lebih memahami mereka."
"Buat apa?"
"Membuat teman~ Jika aku bisa memahami ekspresi mereka, lalu merespons sesuai keinginan orang-orang akan tertarik padaku."
"Ternyata kau suka melakukan hal-hal aneh."
"Heee~ Apa yang aneh dari itu? Aku berjuang sangat keras, lho." Terlebih soal HVS. Namun, Dazai tidak akan memberitahu Akutagawa karena hal ini sangat aneh.
"Chuuya bilang padaku, 'jadilah dirimu apa adanya, dan orang-orang akan berteman denganmu. Ekspresi serta kepribadian bisa dipelajari nanti'."
"Bagaimana jika aku dibenci, karena tidak sesuai keinginan mereka?"
"Itu urusan mereka. Untuk apa dipusingkan."
"Siapa sangka manusia tak beralis sepertimu bijak." Kantuk yang memanggil-manggil membuat Dazai berbaring. Tatapannya dialihkan ke langit-langit kamar, sementara Akutagawa masih setia dengan posisi serupa.
"Alis hanya pelengkap. Kau tidak perlu malu, karena pasti ada orang yang mau menerima kesukaanmu terhadap dodol."
"Untuk apa membawa-bawa dodol? Kalau ingin berteman denganku kamu tidak perlu–" Jika semula Dazai mengerjap atas keabsurdan Akutagawa, maka penyebab yang sekarang adalah karena teman sebangkunya itu malah tertidur, dalam posisi setengah berbaring.
Setelahnya Bu Yosano histeris, karena mendapati kepala Akutagawa ditutup selimut putih, sambil memegang lily dari vas bunga–Dazai bahkan menempelkan notes bertuliskan 'RIP' di jidat Akutagawa.
#4: HVS
TAP ... TAP ... TAP ...
Langkah Dazai terburu-buru menuju kelas untuk dua hal. Pertama; hari sudah sore yang berarti, ia ketiduran. Kedua; HVS di atas nakas menghilang begitupun krayonnya. Setelah bersusah payah menyelesaikan gambar, mana mungkin Dazai terima begitu saja apabila karyanya menghilang–meski kemungkinan terburuk, Akutagawa membuang kertas tersebut bahkan diam-diam menertawai.
"Bu Lucy!" seru Dazai memanggil nama sang petugas kebersihan. Wanita muda itu terheran-heran, mendapati murid lain masih tinggal di sekolah.
"Belum pulang? Ada perlu apa memanggilku?"
"Di kelasku Bu Lucy melihat HVS dan krayon?"
"Kertas itu sudah di–", Kenapa dibuang?!" Tanpa menjelaskan kekecewaannya Dazai bermaksud mengubek-ubek kantong hitam raksasa yang Bu Lucy bawa. Namun, jelas saja dicegah karena mobil sampah telah datang.
"Tu-tunggu. Memang itu catatan pelajaran atau apa? Lagi pula kau salah paham, karena–", "Tidak akan lama, kok. Saya hanya–"
PUK!
Seseorang menepuk bahu Dazai dari belakang. Orang itu adalah Akutagawa yang menyodorkan HVS, dan krayon sambil menunduk tanpa mau mengangkatnya kembali–ada rasa bersalah yang kentara dari gestur itu, dan Dazai kehabisan kata-kata selain menunggu Akutagawa menjelaskan.
"Maaf. Aku yang menaruhnya di meja tanpa seizinmu."
"Akutagawa melihat saya hampir membuangnya, lalu menjelaskan kalau kertas itu penting untukmu ." Penjelasan Bu Lucy sedikit-banyak mengejutkan Dazai. Ia jahat, bukan, karena sempat menuduh Akutagawa yang tidak-tidak?
"Kamu menyimpan krayonnya?"
"Lebih tepatnya meminjam. Aku juga minta maaf, karena sembarangan mengintip isinya."
Perlahan Dazai membuka kertas yang mengusut itu. Gambar di mana ia melukiskan rumah persegi dengan atap segitiga, bunga tanpa jenis, matahari yang tersenyum, dan burung 'W' terbalik di sekitar awan-awan, masih tampak utuh walau ada perubahan. Akutagawa sedikit menaikkan kepala merasa penasaran. Keterkejutan Dazai begitu kentara yang samar-samar, memperlihatkan pula seulas senyum.
"Dodol, dodol apa yang dodol?" Kepala Akutagawa berhenti menunduk. Mata hitam jelaganya menemui senyuman Dazai, termasuk titik-titik air mata di pipi.
"Eh? Jawabannya kamu dodol?"
"Dodol, ya, dodol. Kenapa dipusingkan coba?"
"Karena salah menjawab apa aku harus memberimu hadiah?" Mereka bisa pulang bersama jika Dazai mau. Bu Yosano pernah memberitahu Akutagawa, soal kedai mi ayam enak yang baru-baru ini buka.
"Hadiah, ya ... aku tidak membutuhkan itu sekarang."
"Seperti kataku, seseorang akan menerima kesukaanmu pada dodol. Aku akan menjadi orang pertama yang melakukannya."
"Pfttt ... hahaha ... hentikan soal dodol~ Aku ingin berterima kasih untuk ucapanmu di kertas ini."
Kertas tersebut dibentangkan lebar-lebar. Tulisan 'happy birthday to me' dicoret menjadi 'happy birthday to you, from Akutagawa Ryuunosuke'. Akutagawa juga menambahkan stick man lain yang menggandeng stick man milik Dazai.
"Mau sekalian membeli lilin?" Ucapan absurd lainnya, kah? Dazai capek tertawa. Menyebalkannya lagi Akutagawa tetap datar, bahkan kelihatan serius atas pertanyaan tersebut.
"Jangan bilang kamu ingin memasangkannya di atas dodol."
"Mau dipasangkan di mi ayam saja?"
"Kalau mau mi ayam jangan membawa-bawaku, dong~ Tetapi terserah, sih. Aku hanya ingin menghabiskan waktu ulang tahunku bersama teman pertamaku."
"Nanti kukenalkan pada Chuuya dan Atsushi. Mereka juga baik."
"Ekspresi mereka berdua sudah kugambar. Giliranmu kapan coba?"
"Bukankah kau sudah menggambarnya?" Seperti yang datar, kaget, dan ... entahlah. Bukankah ekspresi manusia itu-itu saja?
"Senyummu, Akutagawa. Aku ingin menggambar itu suatu hari nanti, di sini." Telunjuk Dazai mengarah pada matanya. Akutagawa sekadar menggidikkan bahu, karena ia sendiri tidak tahu.
Lain waktu, Dazai yang akan mengajarinya cara tersenyum
Tamat.
A/N: harusnya ini dibikin angst, serius. jadi ga ada yang inget ultah dazai bahkan akutagawa, dan akhirnya dia mati dalam kesendirian. namun oh namun, aku enggak tau kenapa jadi banting setir bikin fluff (?) kayak gini. dan kurasa buat selanjutnya, bikin mereka fluff msh bisa dilakukan dgn model drabble kayak gini (jangan harap full loh ya, yang ada malah kebanting ke angst). dan akhirnya aku berhasil juga ya melunasi salah satu agendakubikin DazAku school!AU fluff.
Oke thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau sekedar lewat, aku menghargai apapun yang kalian berikan padaku~ (btw dazai x happiness takut ngaret day 3 nya wkwkw)
Balasan review:
Reav: tidak terpikirkan soal dazai jadi nuub saat melawan orang di luar pengguna kemampuan wkwkw (yang penting makna puisinya dulu). TADINYA MAU BIKIN WITCH!AU TAPI G TAU KENAPA JARIKU MALAH BANTING SETIR. niboshi sekalinya bikin fluff bisaan ya :( day 4 ini masih jauh sih dari yang begituan WKWKWK. aku inspirasinya dari obrolan kita itu, tapi lupa nulis dan baru inget "lah iya kan inspirasinya dari situ juga", mau ganti juga piye wkwkw. (aku paling suka karena akutagawa diam2 mau mendominasi dazai buat dia seorang dari day 3) BAGUS REV SEENGGAKNYA AKU MEMBERI WARNA BARU PADA DAZAKU YANG KERING DIBANDINGKAN SOUKOKU~ wkwkw ayo sini bikin lagi mereka nunggu emaknya /ga. OKE THX UDAH REVIEW. INI BENERAN FLUFF YES?!
