Title : Mianhaeyo, Aegya~

Author : Parkyoonhra

Cast : Jung Yunho (32 years old)

Kim Jaejoong (27 years old)

Go Ahra (30 years old)

Kim Junsu (25 years old)

Park Yoochun (25 years old)

Jung Changmin (5 years old)

And others

Genre : Angst, Family

Chapter : 4/?

Warning : Yaoi, MalexMale, Typos, Don't like Don't read

Summary:

Author's note: Senang sekali melihat kalo ff ini mdpt byk respon positif. Saia akn mencoba menjawab pertanyaan reader-deul skrg. Yup. Saia jd miba tahun ini jd terserah yeorobun mau manggil saia apa, chingu? Boleh! Author, thor? Lucu kedengerannya, but it's ok. Panggil princess jg bukan masalah :D #dihajarmassa. Trus saia suka menulis cerpen, novel, puisi (?) sejak kecil tp ini pengalaman pertama saia menulis ff dan mempublish-nya di ffn . Saia msh newbie bgt lho. Kemaren aja hrs nyari tutorial pas mau nge-publish chap 2. Hehehehe. Saia slalu pengen nulis ff yunjae tp takut ga dapet feel-nya krn saia ga bakat nulis romance. Dan saia mempublish ff Mianhaeyo, Aegya ini juga krn lbh focus ke Min yg menghabiskan byk wkt bersama Jae tanpa tau kalo Jae itu ibu kandung yg dicari2 dia. So, yg me-request penyatuan(?) yunjae harap sabar yaw saia sdg merundingkan cara menyingkirkan Ahralay bersama Lord Voldemin. Lalu, mengenai chap 3 kemaren, saia ga niat buat ngelawak lho. Kan genre-nya angst, mana diawal setting udah dikuburan sedih gitu tp gatau knp ujung2nya evil Min muncul dan mengacau. Tp jika kalian terhibur, saia ikut senang. Krn saia jg sgt suka evil Min. buat yg nangis sambil ngakak gapapa kan yak? Hehehehe. Trus akhirnya ada yg nyadar jg kalo marga YunChun(?) beda disini, ini krn mereka sodara saia mau menjelaskan di chap ini, tp gajadi soalnya udh kepanjangan. Mian, ne? Yak cukup sekian (udh pjg bgt ini) jk msh ada yg mengganjal dan ingin ditanyakan, kirim PM saja ya. Really really really thanks for you. Last, happy reading and enjoy!

_Mianhaeyo, aegya_

Changmin yang tengah membuka bungkus lollipop-nya yang kedua menghentikan aktifitasnya sejenak guna menjawab pertanyaan hyung cantiknya.

"Coalnya chun-jucchi celing bawa pulang noona-noona yang pake baju kekecilan. Min ga cuka. Kalo Min manggil Chun-jucchi 'appa', noona-noona itu ga akan mau lagi kalo diajak pulang ama Chun-jucchi"

Pikiran polos dari bocah berusia lima tahun di ruangan itu sukses membuat tiga orang dewasa lainnya ber-sweatdrop ria.

.

.

.

Chapter 4

Di kediaman Jung …

Nyonya Jung yang sekarang (baca: Ahra) keluar dari kamar tidurnya menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Wajahnya masih terbalut masker malam tebal yang digunakannya untuk menjaga kesehatan kulitnya. *author males ngetik ini*

"Rumah ini jadi tenang kalau tidak ada bocah evil itu" gumam Ahra.

Ahra menyadari bahwa Changmin menghilang sejak pulang sekolah kemarin dari supir yang disuruhnya menjemput Changmin. Ahra berpikir mungkin Changmin sedang bermain di rumah Kyuhyun-teman evilnya. Lagipula Ahra senang jika diberi waktu santai dari semua tingkah evil Changmin padanya. Ahra jadi berpikir apa kata-katanya pada Changmin kemarin yang membuat anak itu kabur.

"Anak itu membuat kerutan di wajahku bertambah" gumam Ahra sambil memperhatikan kulit wajahnya di cermin.

Ahra jadi ingat kejadian sekitar satu minggu yang lalu …

Flashback

Ahra yang sedang tidur di dalam kamar sambil mengenakan masker di wajahnya dan timun untuk menutupi matanya mendengar pintu kamarnya terbuka. Yunho memang menolak untuk mengunci pintu kamar mereka, Yunho beralasan agar Changmin mudah jika ingin menemuinya.

"Appa …" Ahra mendengar suara Changmin tapi segera dihiraukannya. Yunho pasti juga masih tidur dengan mulut menganga disampingnya, tidak mendengar panggilan dari anak kesayangannya.

Melihat appa-nya masih tidur, Changmin tidak ingin mengganggu waktu istirahat sang appa karena dirinya tahu appa-nya pulang larut semalam.

'pacti appa kelelahan' pikir Changmin. "Eh?"

Mata Changmin menangkap pemandangan yang menarik menurutnya. Sang 'umma' sedang tidur dengan menggunakan selai berwarna merah muda di wajahnya seperti topeng.

Changmin yang penasaran segera mendekati Ahra dan membaui wajah Ahra.

"Bau cetobeli" ucap Changmin. Saat itu Ahra memang sedang menggunakan masker wajah dari ekstrak buah stroberi.

Changmin sedikit mencolek masker Ahra dan menjilati tangannya yang terbalut masker itu. Karena Changmin berpikir bahwa 'umma'-nya sedang menggunakan selai stoberi di wajahnya, Changmin berniat mencicipi itu.

Ahra membuka matanya saat merasakan colekan kecil di wajahnya. Tapi kemudian Changmin meludahi wajah Ahra karena masker yang dikiranya selai stoberi itu tidak seenak baunya.

"Cuih … cuih … Ga enak. Min ga cuka. Cuih …"

Sebenarnya Changmin tidak berniat meludahi sang 'umma' tapi kebetulan wajah Ahra ada di depannya jadilah ludah Changmin turut mewarnai wajah Ahra. XD

End of flashback

"Baguslah kalau anak itu tidak ada. Aku tidak harus bersusah payah membuatkan dia sarapan yang tidak pernah dimakannya."

Makan memanglah hobi Changmin. Tapi anak itu sangat menolak semua makanan yang dibuat Ahra. Jika Ahra sudah membuatkannya makanan, Changmin pasti akan menolak dan menjawab "Min kan bukan appa yang diam caja dan tetap memakan macakan gagal umma"

Ahra merasakan déjà vu saat mendengar kalimat itu. 'Anak dan umma memang sama-sama menyebalkan' dengus Ahra dalam hati.

Yunho sedang berada di luar kota sejak dua hari yang lalu untuk urusan kantor dan baru akan pulang esok hari. Jadi Ahra akan menghabiskan hari ini dengan berbelanja seharian dan menghabiskan uang suaminya itu. Dia akan memikirkan alasan hilangnya Changmin nanti toh anak itu tak mungkin pergi jauh. Ahra tertawa menyeramkan.

Tapi kemudian Ahra mendengar suara mobil sang suami yang memasuki rumah mereka. Apa Yunho pulang lebih cepat?

Ahra segera mengambil obat tetes mata dan memulai aktingnya di depan Yunho.

"Appa pulaaaaaang~" teriak Yunho saat memasuki rumahnya.. ia membawa banyak mainan untuk anak semata wayangnya dan berharap disambut dengan pelukan hangat dan senyuman lebar sang anak.

Tapi yang didapat Yunho setelah kepergiannya beberapa hari keluar kota tidak sesuai dengan harapannya padahal dirinya sudah berusaha menyelesikan pekerjaannya lebiih awal demi bertemu anaknya lebih cepat. Saat ini istrinya tengah menangis tersedu-sedu dihadapannya.

"Oppa … C-Changmin …" ucap Ahra terbata.

Yunho merasakan firasat buruk. "Apa yang terjadi pada Changmin, Ahra-ya?" tanya Yunho sambil menenangkan istri-nya itu.

"Changmin menghilang…"

"Mwo? Bagaimana bisa?" tanya Yunho emosi.

"Aku sudah mencarinya disekitar TK kemarin … hiks … tapi aku tidak menemukan Changmin. Lalu aku sudah menelpon rumah kyuhyun, Changmin juga tidak ada disana." Ucap Ahra penuh dusta.

Ahra berpikir jika dirinya mengatakan sudah menghubungi rumah Kyuhyun, Yunho tidak akan mencari Changmin kesana karena Ahra berpikir Changmin ada di rumah Kyuhyun.

Yunho terdiam mencerna kata-kata istrinya. Changmin menghilang? Changmin-nya? Aigo… Changmin tidak pernah pergi sendirian. Bagaimana kalau ia ketakutan? Bertemu dengan orang jahat? Bagaimana kalau ia kelaparan?

"Maafkan aku, oppa. Ini semua salahku" ucap Ahra. "Aku tidak sengaja mengatakannya, oppa. Aku mengatakan kalau aku bukan ibu kandung Changmin"

Yunho membulatkan matanya kaget. Ia dan Ahra memang sudah sepakat untuk merahasiakan perihal ini dari Changmin walaupun Changmin terus berkata Ahra bukanlah umma-nya.

"Dia pasti pergi karena membenciku … hiks" Ahra kembali melanjutkan tangisnya dalam pelukan sang suami.

"Kita harus mencari Changmin" ucap Yunho tegas dan segera bangkit.

"Tapi bagaimana kalau Changmin pulang dan tidak menemukan kita dirumah?" tanya Ahra asal. Sejujurnya ia malas mencari anak itu.

"Baiklah. Aku akan mencari Changmin. Kau tunggu Changmin dirumah, ne?" ucap Yunho lembut. Ahra hanya mneganggukkan kepalanya.

Yunho tergesa-gesa mengambil kunci mobilnya dan segera pergi. Tapi sebelum itu ia sempat bertanya pada Ahra. "Yoochun-eun eodiga?"

Yunho teringat akan adiknya.

"Yoochun menginap di tempat yeojachingu-nya sejak kemarin." jawab Ahra.

"Dasar anak itu…"

Setelah Yunho pergi, Ahra menghapus jejak air mata palsu di wajahnya dan tersenyum lebar.

"Baiklah. Saatnya untuk berbelanja~" Ahra kemudian pergi ke mall untuk berbelanja tanpa memedulikan nasib Changmin. 'Toh Yunho-oppa sudah mencari anak itu' pikir Ahra.

_Mianhaeyo, aegya_

"Jadi, kenapa Changmin bisa bersama dengan kalian?" tanya Yoochun yang penasaran kepada Jaesu

"Kemarin sore aku menemukan Changmin sendirian di pinggir jalan, jadi aku membawanya pulang" jawab Jaejoong.

"Eeeeh? Apa yang kau lakukan, Min?" tanya Yoochun kali ini pada Changmin.

"Min cali umma" jawab Changmin sambil mengemut permennya.

"Umma-mu kan ada di rumah" Yoochun teringat dengan kakak iparnya-istri hyungnya. Seingat Yoochun sebelum Yoochun pergi ke rumah yeojachingu-nya kemarin, sang kakak ipar masih ada di rumah kok.

"Ahla umma bukan umma Min" lagi-lagi Changmin mengatakan hal ini. Sejak tinggal dengan keluarga hyungnya dua bulan lalu, Yoochun sering mendengar kalimat ini keluar dari mulut bocah berusia lima tahun ini.

"Kau ini keras kepala sekali sih" Yoochun berpikir Changmin hanya mengarang saja saat mengatakan kalau Ahra bukan umma-nya. "Tapi kalau kau menghilang sejak kemarin, kenapa Yunho hyung …"

Yoochun sangat mengenal kakaknya. Hyung-nya itu sangat menyayangi Changmin. Yoochun tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan Yunho saat mengetahui Changmin meghilang.

Yoochun merogoh handphone yang ada di kantung celananya saat benda persegi itu berbunyi menandakan ada panggilan masuk.

Yunho hyung is calling…

Baru saja dipikirkan, eh Yunho sudah menghubunginya. Yoochun melirik sebentar pada Junsu yang masih membuang muka darinya dan Jaejoong yang sedang mengajak Changmin bermain sebelum ia menjawab panggilan itu.

"Yobo-" tapi sebelum Yoochun menyelesaikan salamnya, sang penelepon sudah menyerangnya dengan banyak pertanyaan.

"Yoochun-ah, eodiga? Changmin menghilang! Kau harus membantuku mencarinya. Aku sangat mengkhawatirkannya. Ia menghilang dari kemarin. Astaga. Dia pasti ketakutan dan kelaparan. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk menimpanya, Chun?" ucap Yunho di seberang line dalam satu tarikan napas.

"Hyung-" Yoochun benar-benar tidak diberi kesempatan untuk berbicara oleh Yunho.

"Aku sedang mencarinya di sekitar Tk, kau mencarinya di pusat kota-" lanjut Yunho.

"Hyung-"

"Aku akan melaporkan kejadian ini ke polisi agar mereka membantu kita dalam pencarian Changmin-"

"YUNHO HYUNG!" Yoochun yang sudah lelah mendengar Yunho yang terus mengoceh di seberang line akhirnya berteriak guna mendapatkan perhatian sang hyung. Teriakannya membuat Jaeminsu menoleh bingung kearahnya.

"Mwo? Cepat katakan. Kita harus segera mencari Changmin-"

Yoochun menghela napas. "Changmin ada bersamaku sekarang" ucapnya.

"Eh?" Yunho yang sedang menyetir mobilnya menepikan mobilnya di pinggir jalan guna mendengar penjelasan Yoochun.

"Kemarin sore ada seseorang yang menemukan Changmin di pinggir jalan dan membawa anakmu pulang." Yoochun melirik Jaejoong yang terdiam.

"Lalu aku bertemu dengan Changmin di restoran msilik orang yang sudah menolong Changmin itu." Lanjut Yoochun.

Setelah itu Yunho meminta alamat restoran Jaejoong dan memutuskan panggilan mereka lalu segera menuju restoran yang diberitahu Yoochun padanya.

"Appa-mu akan menjemputmu segera" ucap Yoochun pada Changmin.

"Min ga mau pulang" Changmin memeluk Jaejoong erat dan menelusupkan wajahnya pada dada Jaejoong.

"Min mau cali umma" Jaejoong tertohok mendengar perkataan Changmin. Jaejoong hanya bisa mengelus puncak kepala Changmin lembut.

Yoochun menghela napas frustasi melihat tingkah Changmin. Junsu hanya terdiam tak mengerti.

"Minnie ga kasian sama appa?" tanya Jaejoong lembut. Changmin menarik wajahnya dari dada hangat Jaejoong dan melihat mata besar hyung-nya yang seakan menghipnotisnya. "Eh?"

"Kalo Minnie ga pulang, appa pasti sangat sedih" lanjut Jaejoong.

Changmin terlihat memikirkan perkataan Jaejoong.

"Tapi Min halus cali umma campe ketemu" keukeuh Changmin.

Jaejoong tersenyum sedih. "Memangnya Minnie tau dimana umma Minnie yang sebenarnya?"

Changmin menggeleng sedih.

Jaejoong membawa Changmin ke dalam pelukannya. 'Mianhaeyo, Aegya~'

_Mianhaeyo, aegya_

"Kenapa aku harus menunggu appa-nya Changmin menjemput bersama dirimu sih?" ucap Junsu kesal.

Setelah dibujuk rayu oleh Jaejoong, Changmin memang mau pulang tapi Jaejoong menolak saat dirinya diminta oleh Yoochun untuk menemui Jung Yunho-appanya Changmin. Jaejoong beralasan sibuk di dapur.

Jadi disinilah Junsu. Bersama sang mantan kekasih dan bocah evil yang dibawa pulang sang hyung kemarin menunggu appa dari sang bocah menjemput atas permintaan hyung kesayangannya.

Junsu juga bingung kenapa hyung-nya menolak bertemu dengan appa-nya Changmin. Apa hyung-nya kenal dengan appa-nya Changmin? Atau apakah appa-nya Changmin sangat jelek jadi hyung-nya tidak mau bertemu dengannya?

Junsu sih tidak keberatan menunggu appa-nya Changmin di depan restoran mereka tapi dengan tatapan mesum dari seseorang yang berada disampingnya membuat simpang empat muncul dikening Junsu.

"Bisa tidak sih kau tidak menatapku seperti itu, Park?" kesal Junsu.

"Menatapmu seperti apa, Baby-Su?" goda Yoochun dengan senyuman mautnya yang sudah tidak mempan untuk Junsu.

"Berhenti menatapku dengan tatapan lapar dan senyum mesum di wajahmu itu, Park Yoochun!" Junsu yang semakin kesal, menginjak kaki kanan Yoochun keras dan membuat Yoochun meringis kesakitan.

"Ih! Hyung-deul belicik cekali cih. Min kan lagi celiuc" kegiatan Yoosu ternyata mengundang protes dari Changmin yang katanya sedang serius. Serius memainkan game yang ada di handphone Yoochun. XD

"Changmin-ah~" panggil seorang namja tampan yang baru keluar dari mobilnya di depan restoran.

Changmin sebenarnya malas mengalihkan perhatiannya dari game yang sedang dimainkannya, tapi apa boleh buat. Ia menegakkan kepalanya dan berlari kearah sang namja tampan.

"Appa~" panggil Changmin sambil merentangkan tangannya meminta dipeluk oleh appa-nya.

CEKLEK. "Handphone-ku~" ratap Yoochun melihat handphone-nya yang sudah hancur terbelah menjadi dua. Ternyata saat Changmin berlari menyongsong kedatangan sang appa, Changmin melempar handphone Yoochun asal. XD

"Eukyangkyang" Junsu tertawa senang melihat wajah Yoochun yang memelas.

"Kau ini pergi kemana sih, Min? Kau membuat appa khawatir" omel Yunho.

"Min kangen appa" ucap Changmin ga nyambung. Yunho hanya menghela napas melihat kelakuan anaknya.

Yunho menggendong Changmin dan berjalan kearah Yoochun dan seorang namja imut yang ada disamping namsaeng-nya itu.

"Hyung! Lihat apa yang dilakukan anakmu pada handphoneku" adu Yoochun pada Yunho.

"Mehrong!" Changmin memeletkan lidahnya pada Yoochun.

"Eukyangkyang"

Yunho menatap namja imut yang suara tawanya mirip lumba-lumba itu.

"Jadi, kau yang menolong Changmin? Aku Jung Yunho, appa-nya Changmin" ucap Yunho memperkenalkan diri.

"Eh, ani. Hyung-ku yang menolong Changmin tapi sekarang hyung sedang sibuk mengurus restoran kami. Aku Kim Junsu"

Yunho memandang restoran yang tidak terlalu besar di belakang namja imut itu.

"Jeongmal kamsahamnida karena sudah menolong anakku, Junsu-sshi. Aku berharap Changmin tidak menyusahkan kalian" ucap Yunho sambil membungkukkan tubuh tegapnya.

Junsu jadi salah tingkah dibuatnya. "A-aniyo. Changmin anak yang sangat manis kok" ucap Junsu setengah hati sambil tersenyum.

Yunho membalas senyuman Junsu. "Sampaikan juga rasa terima kasihku pada hyungmu, Junsu-sshi" Junsu hanya mengangguk menanggapi perkataan Yunho.

"Appa, macakan hyung cantik cangat enak. Min cuka" kata Changmin yang masih berada dalam gendongan Yunho.

"Hyung cantik?" tanya Yunho bingung.

"Eh, itu panggilan Changmin untuk hyung-ku" jawab Junsu.

"Begitu ya. Kalau begitu kita akan sering makan di restoran ini, ne?"

"Acik~" ucap Changmin kegirangan karena akan sering memakan masakan hyung cantiknya yang enak.

_Mianhaeyo, aegya_

"Jadi kemana kamu pergi kemarin, Changmin-ah?" tanya Yunho sambil mengenakan Changmin sabuk pengaman pada mobilnya.

Setelah berterima kasih lagi pada Junsu, Yunho berpamitan pulang karena ia berpikir bahwa istrinya dirumah pasti sedang mengkhawatirkan keadaan Changmin. Yoochun juga pulang dengan mobil miliknya sendiri.

"Min ke tempat caeng"

"Eh?" Yunho memang cukup sering membawa Changmin ke makam anaknya yang bungsu, tapi Yunho tidak menyangka Changmin akan ke sana sendirian.

"Telus Min cali umma, tapi malah ketemu hyung cantik" ucap Changmin sambil menunjukan senyum lima jarinya.

Yunho menghentikan laju mobilnya. Oke. Yunho merasa bahwa Changmin harus diberi pengertian khusus mengenai 'umma'nya.

"Changmin-ah, umma ada di rumah mengkhawatirkanmu" ucap Yunho menatap sang buah hati.

Changmin menggeleng. "Ani. Ahla umma bukan umma Min"

Yunho menggeleng frustasi. "Sudah berapa kali appa bilang kalau Ahra umma itu umma-mu" bentak Yunho. Yunho merasa Changmin sudah cukup keterlaluan, ia tidak pernah berhenti mengatakan kalau Ahra itu bukan umma-nya.

Changmin terpaku di tempatnya. Baru kali ini appa kesayangannya membentaknya. Changmin menundukkan wajahnya. Yunho menghela napas lalu melanjutkan perjalanan mereka.

Sesampainya di rumah Changmin langsung melompat turun dari mobil dan masuk rumah. Ngambek, eoh?

"Ada apa dengan anak itu?" tanya Yoochun yang juga baru sampai pada Yunho tapi hanya dibalas dengan Yunho yang menaikkan bahunya.

Changmin disambut oleh Ahra –yang sepertinya sudah menyelesaikan acara shopping kilatnya- dan tengah merentangkan tangannya siap menerima pelukan dari anaknya itu.

"Changmin-ah, umma sangat khawatir padamu. Umma-"

Tapi Changmin berlalu dengan cepat tanpa menoleh pada Ahra sedikitpun.

"Pelgi cana. Jangan dekat-dekat Min" usir Changmin

'Anak itu …' geram Ahra dalam hati.

_Mianhaeyo, aegya_

"Hyung …" terlihat kepala Yoochun yang menyembul dari balik pintu ruang kerja di kediaman Jung pada malam harinya. Yunho mengangkat kepalanya dari tumpukan berkas-berkas kantornya dan menyuruh adiknya itu untuk masuk.

Sang Nyonya Besar sedang sibuk bersenang-senang dengan teman-temannya sedangkan sang tuan muda yang tengah melancarkan aksi ngambeknya mengurung diri di dalam kamar.

"Changmin tidak keluar kamar untuk makan malam juga, hyung" lapor Yoochun.

"Dia pasti sudah menimbun banyak makanan di dalam kamarnya" jawab Yunho tanpa mengalihkan perhatiannya dari berkas yang tengah dipelajarinnya.

Yoochun yang mendengar perkataan sang hyung hanya manggut-manggut menanggapi kelakuan keponakannya itu.

"Apa benar kalau Ahra noona itu bukan ibu kandung Changmin, hyung?" tanya Yoochun dari sofa yang tengah ia duduki di ruang kerja Yunho itu.

Yunho melepas kacamata minus yang dipakainya dan menatap sang namsaeng.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Yunho malah balik bertanya.

Yoochun mengendikkan bahunya. "Changmin tidak berhenti mengatakan hal itu"

Tunho terkekeh kecil mengingat kelakuan anaknya. "Dia mempunyai firasat yang kuat. Kau tahu? Itu bahkan kalimat pertama yang berhasil ia ucapkan dulu"

Flashback

"Changmin-ah. Ayo bilang appa. A-P-P-A" ucap Yunho pada bayi berusia sekitar satu tahun yang berada dalam dekapannya.

"Ppa … Ppa … Ppa …" ucap sang bayi yang sukses membuat Yunho kegirangan.

"Wah wah wah … wae geure?" tanya Ahra yang baru datang membawa semangkuk bubur bayi.

"Changmin memanggilku appa, Ahra-ya" Yunho sangat senang dan mengangkat Changmin tinggi-tinggi ke udara yang membuat bayi berbadan gembul itu tertawa riang dan terus berucap "Ppa … Ppa … Ppa …"

"Jeongmal? Coba bilang umma, Minnie-ah. U-M-M-A" entah hanya perasaan Ahra saja atau memang wajah Changmin berubah menjadi kesal setelah ia mengucapkan kalimat tadi.

"Dangshineun eommaga aniya (baca: kau bukan umma-ku)"

Ahra dan Yunho terkesiap. Changmin sang balita yang masih belum bisa berbicara lancar sepertinya barusan mengatakan sebuah kalimat panjang. Mungkin hanya perasaan mereka saja.

"Apa tadi Changmin mengatakan sesuatu, Ahra-ya?" tanya Yunho yang masih berusaha mengembalikan kesadarannya.

"S-sepertinya tidak, oppa" jawab Ahra menatap sang bayi yang masih tertawa-tawa memainkan pakaian sang appa.

Setelah keadaan normal dan Changmin kembali berucap "Ppa … Ppa … Ppa …" Ahra kemudian menyodorkan bubur bayi pada Changmin.

"Ayo buka mulutmu dulu, Minnie-ah"

Changmin mendelik kesal pada Ahra yang mengganggu kesenangannya bermain dengan sang appa. Kemudian terjadi dengan begitu cepat, Changmin mengambil sendok yang berisi bubur bayi penuh dari tangan Ahra dan membuangnya dengan sukses ke wajah Ahra.

Changmin tertawa girang dan Yunho hanya melongo.

End of flashback

Yoochun tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Yunho.

"Anakmu itu, hyung …" XD

Yunho tersenyum mengingat semua tingkah anaknya yang nakal namun menggemaskan. Tapi kalau dipikir-pikir, Ahra-lah yang sering menjadi target kenakalan (atau keevilan?) Changmin.

"Jadi itu benar?" tanya Yoochun yang membawa Yunho kembali dari lamunannya.

"Apanya?" tanya Yunho bingung.

Yoochun menatap hyungnya bosan. "Umma. Changmin. Ahra noona" ucap Yoochun serasa member kode rahasia pada Yunho.

"Oh itu. Yah begitulah" jawabnya enteng

"Begitulah apanya? Kupikir Changmin anak kandung kalian"

"Changmin memang anak kandungku. Memang apa yang kau pikirkan?"

Yoochun rasanya ingin menjedotkan kepalanya ketembok jika berbicara dengan Yunho yang seperti ini jika tidak mengingat jidat seksinya.

"Aku tidak mengerti, hyung. Lima tahun yang lalu kau membawa Changmin padaku dan orangtua kita di Amerika bersama Ahra noona lalu kalian menikah. Tentu saja semua orang akan berpikir kalau Changmin anak kalian"

"Aku memang ingin kalian berpikir seperti itu"

Yoochun menghela napas. "Siapa?"

"Huh?"

Yoochun mengacak rambutnya frustasi. "Siapa ibu kandung Changmin?"

"Apa itu sangat penting?" Yunho menghela napas.

"Dengar, Yoochun-ah. Aku hanya ingin Changmin tidak terus menanyai tentang ibu kandungnya. Aku ingin Changmin mengakui Ahra sebgai ibunya."

"Tapi Changmin jelas-jelas tidak menyukai Ahra noona, hyung"

"Changmin masih kecil. Dia hanya butuh waktu"

"Lima tahun kurasa waktu yang sudah cukup untuk mereka mengenal dengan baik"

"Maksudmu?"

"Tidak mungkin Changmin tidak menyukai Ahra noona tanpa alasan, bukan?"

Yunho terdiam mencerna perkataan Yoochun. "Entahlah, Chun. Ahra terlihat sangat menyayangi Changmin. Ia ibu dan istri yang baik"

"Ya, sangat baik. Hingga kerjaannya hanya shopping dan berburu barang mewah baru tanpa memperhatikan suami dan anaknya"

Yunho menatap tak suka Yoochun yang menghina istrinya.

"Listen, hyung" ucap Yoochun seraya merangkul bahu Yunho. "Sejujurnya seperti Changmin, aku juga kurang menyukai istrimu. Aku sudah pernah menjalin hubungan dengan banyak wanita. Dan istrimu itu menurutku bukanlah tipe ibu yang baik"

"Aku menghargai pendapatmu, playboy Park yang sangat berpengalaman. Tapi kau belum pernah menikah dan tidak tahu bagaimana rasanya menjalaninya"

Mereka berdua terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.

"Kau mencintai Ahra noona?" tanya Yoochun tiba-tiba.

Yunho terdiam. Ia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Apakah ia mencintai 'istri' yang dinikahinya sejak lima tahun lalu?

"Aku membutuhkan Ahra untuk menjadi Umma bagi Changmin"

"Bagaimana dengan ibu kandung Changmin? Kurasa dia akan menyayangi Changmin lebih-"

"Dia tidak mau mengurus Changmin. Bahkan hanya untuk menatap wajah Changmin-pun ia menolak"

Yoochun tidak bisa melanjutkan kata-katanya melihat kesedihan di mata hyung tiri-nya itu. Yoochun sangat menyayangi Yunho. Ia yakin bahwa Yunho sudah melewati lima tahun masa yang sulit dalam hidupnya. Namun, ia juga merasa kasihan pada Changmin yang terus mencari ibu kandungnya.

_Mianhaeyo, aegya_

Yoochun membuka pintu kamar Changmin dan melihat anak itu masih terjaga memainkan permainan puzzle miliknya.

"Kenapa belum tidur, Min?" tanya Yoochun seraya memasuki kamar Changmin.

Changmin menoleh sekilas pada Yoochun dan kembali berkutat dengan puzzle-nya.

Yoochun duduk di ranjang kecil milik Changmin dan terdiam memerhatikan tangan kecil Changmin yang terampil memasang puzzle.

"Min, mau lihat gajah" gumam Changmin namun masih terdengar telinga Yoochun dan seseorang dari balik kamar tidur Changmin.

Yoochun menatap puzzle bergambar gajah yang dimainkan Changmin.

"Bagaimana kalau kita pergi ke kebun binatang weekend depan?" ajak Yoochun.

Yoochun sempat melihat wajah sumringah Changmin mendengar ajakannya tapi kemudian tergantikan dengan wajah murungnya.

"Tapi appa pacti cibuk kelja. Min ga mau kalo ga ada appa"

Aigo. Anak sekecil Changmin sudah memikirkan hal itu?

Seseorang di balik pintu Changmin yang sudah tidak tahan melihat wajah sedih anaknya kemudian keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata "Sepertinya weekend depan jadwal kerja appa kosong. Jadi bisa menemani seseorag pergi ke kebun binatang"

Yoochun dan Changmin menoleh kearah Yunho yang tengah bersender di pintu kamar Chnagmin.

"Jeongmal?" tanya Changmin dengan mata musangnya yang berbinar senang. Yunho mengangguk.

"Yeeeeeeay!" Changmin kemudian berlari menuju tubuh ayahnya dan mereka berdua berpelukan erat. Yoochun yang menjadi saksi moment ayah-anak itu ikut tersenyum.

"Hyung cantik diajak juga ya?" pinta Changmin.

"Eh? Tapi kan dia punya restoran yang harus diurusnya" ucap Yunho mencoba memberi pengertian pada anaknya.

Changmin melancarkan serangan puppy eyes-nya yang tidak bisa ditolak Yunho.

"Arasseo. Besok kita akan bertanya padanya apa bisa ikut kita pergi ke kebun binatang"

Changmin tertawa penuh kemenangan.

"Baiklah. Kalau kalian pergi, aku tidak ikut" ucap Yoochun.

"Waeyo?" tanya Yunho bingung. Bukankah tadi adiknya itu yang mengusulkan ide ini?

"Aku ada kencan~"

_Mianhaeyo, aegya_

Esok harinya, keluarga kecil Jung makan malam di restoran milik Jaejoong. Yoochun sudah melancarkan aksinya menggoda Junsu. Sementara Changmin gaelisah di tempat duduknya karena ingin bertemu dengan sang hyung pujaan hati.

Yunho heran melihat Changmin yang kurang berselera makan (tapi tetap banyak juga makannya) dan terus menatap kearah pintu dapur restoran. yunho sangat menikmati makanan yang dipesannya di restoran ini, sangat cocok di lidahnya. Tidak buruk juga ia khusus meluangkan waktu untuk memenuhi permintaan sang aegya untuk menemui hyung cantiknya. Lagipula Yunho penasaran dengan orang yang sudah menolong Changmin. Begitu pula dengan 'istri'nya yang sedang duduk disebelahnya

"Hyung cantiiiik~~~"

Yunho mengangkat kepalanya dari makan malamnya dan mengarahkan pandangannya pada seseorang yang dipanggil Changmin.

Sekali lagi dalam hidupnya Yunho merasa tengah melihat malaikat yang turun ke bumi. Kulit seputih susu itu, mata besarnya yang seakan menyedot seorang Jung Yunho ke dalamnya, bibir cherry-nya yang indah, dan senyuman menawannya yang Yunho rindukan.

Sosok itu berjalan menghampiri Changmin dengan langkahnya yang anggun. Lalu memeluk tubuh anaknya dengan erat serta sedikit mengacak tatanan rambut anaknya. Mereka saling melemparkan senyum.

"Kim Jaejoong?" ternyata Ahra yang lebih dulu tersadar dari keterkejutannya melihat seseorang yang sudah lama tidak mereka temui.

Jaejoong sedikit membungkukkan tubuhnya sopan. Yunho masih tetap memperhatikan setiap gerakan dari tubuh elok itu.

"Hyung, hyung. Ini appa Min" Changmin memperkenalkan mereka berdua tanpa menyadari ada dua buah jantung yang berdegup sangat kencang. Agar tidak membuat curiga, Jaejoong mngulurkan tangannya kearah Yunho dan disambut oleh Yunho.

"Kim Jaejoong"

"J-jung yunho"

Yunho mencoba agar suara yang keluar dari bibirnya tidak bergetar, namun rupanya sulit mengontrol debaran yang menggila dalam dadanya saat tangannya menyentuh kulit halus itu lagi setelah sekian lama.

"Dan orang ini bukan umma Min" Changmin memperkenalkan Ahra yang duduk disamping Yunho.

Jaejoong menahan seyuman mendengar cara Changmin memperkenalkan Ahra namun tetap mengulurkan tangannya kearah yeoja itu.

Ahra menahan diri untuk tidak menguliti Changmin hidup-hidup dan menampilkan senyum coretindahcoret pada Jaejoong.

"Kim Jaejoong"

"Jung Ahra. Istri Jung Yunho"

Entah mengapa Jaejoong merasakan perih di dadanya mendengar pernyataan tak terbantahkan dari mulut berbisa Ahra.

'Jadi mereka sudah menikah?'

_Mianhaeyo, aegya_

Changmin terus berceloteh riang mengenai TK-nya dan Kyuhyun yang katanya teman sehidup semati-nya pada ketiga orang dewasa yang duduk satu meja dengannya tanpa menyadari suasana canggung yang menyelimuti mereka.

"Macakan hyung cantik machitaaa~" ucapnya sambil terus mengunyah makanan yang penuh di mulutnya. Jaejoong tertawa melihat tingkah Changmin dan sesekali membersihkan ujung bibir Changmin yang belepotan dan menyuapinya.

Hati Yunho menghangat melihat adegan ini namun rupanya ada hati lain yang panas.

"Aku tidak tahu kalau orang yang dipanggil hyung cantik oleh Changmin adalah dirimu, Jaejoong-sshi. Kami sangat terkejut melihatmu, bukan begitu oppa?" ucap Ahra memulai perbincangan mereka.

Yunho yang disikut Ahra segera mengalihkan pandangannya kemana saja asal bukan wajah angelic yang ada di hadapannya dan tengah menyuapkan makanan ke mulut anaknya.

"Ah, ne. Kami sangat berterima kasih kau sudah menolong Changmin kemarin" ucap Yunho.

Jaejoong tersenyum. "Bukan masalah. Tidak seharusnya anak sekecil Changmin pergi sendirian tanpa pengawasan orang dewasa. Kurasa kalian kurang memerhatikannya" ujar Jaejoong sinis.

"Itu memang kesalahan kami. Tapi-"

"Setidaknya kami sudah merawatnya selama lima tahun dengan baik" ujar Ahra dengan menekankan kata 'kami' yang membuat Jaejoong menatap yeoja itu tak suka.

Changmin menatap tak mengerti kearah tiga orang dewasa yang tengah memperbincangkan dirinya. Tapi yang jelas Changmin tak suka melihat kesedihan yang terpancar dari mata hyung kesayangannya.

"Hyung, hyung" Changmin menarik baju yang dikenakan Jaejoong dan membuat Jaejoong mengalihkan perhatiannya pada bocah menggemaskan itu.

"Kita ke kebun binatang yuk" ajak Changmin

"Eh?"

"Appa~" Changmin meminta appa-nya untuk menjelaskan.

Yunho jadi tidak yakin untuk mengajak Jaejoong –yang ternyata orang yang telah menolong Changmin- ikut ke dalam acara keluarga mereka. Tapi ia sudah terlanjur berjanji dengan anaknya. Yunho tidak bisa melihat wajah Changmin kecewa.

Yunho menghela napas. "Weekend depan kau sibuk? Kami akan pergi ke kebun binatang dan Changmin memintamu untuk ikut" jelas Yunho.

Jaejoong menatap wajah memohon Changmin.

"Nanti kita lihat Gajah, hyung" ujar Changmin mencoba membujuk Jaejoong.

"Entahlah Minnie-ah. Restoran hyung sangat penuh saat weekend"

Changmin terlihat kecewa mendengar jawaban Jaejoong.

"Sudahlah, Changmin-ah. Kita pergi bertiga saja, ya. Hyung kan sangat sibuk walau hanya untuk menemani Min pergi" ucap Ahra membujuk Changmin tapi Jaejoong menangkap senyum licik di wajah Ahra. Jaejoong mengerti maksud ucapan Ahra yang menyindirnya.

"Tapi kalau hanya sebentar, kurasa aku bisa meluangkan waktu"

Ucapan Jaejoong membuahkan senyuman lebar di wajah Changmin dan membuat wajah Ahra mendelik kesal.

"Kau kan pemilik restoran ini. Mana bisa meniggalkan restoran untuk hal seperti ini?"

"Justru karena aku pemiliknya, jadi aku bebas melakukan apapun kan?" balas Jaejoong.

"Mana bisa begitu. Lagipula ini kan acara keluarga kami"

Jaejoong terdiam sebentar mencerna kata-kata Ahra. Benar juga. Kenapa Jaejoong harus ikut acara keluarga mereka? Ahra tersenyum menang melihat keterdiaman Jaejoong.

"Dia ga ikut kok, hyung" tunjuk Changmin ke Ahra. "Cuma ada Min, hyung cama appa"

Ucapan Changmin sukses membuat Yunho, Ahra dan Jaejoong menoleh kearahnya.

_Mianhaeyo, aegya_

Jaejoong duduk terdiam sambil memeluk guling di atas ranjangnya memikirkan kejadian tadi di restoran. kenapa dirinya harus menerima ajakan Jung Yunho sih? Tapi Jaejoong tidak mau Changmin sedih. Tapi terjebak bersama Jung Yunho dan istrinya? Jaejoong pasti akan merasa kesal seharian!

"Hyung?" Junsu memasuki kamar Jaejoong. "Ne"

"Hyung tahu tidak? Yoochun dan Yunho-sshi ternyata saudara tiri lho" ucap Junsu

"Jeongmal?" kaget Jaejoong.

"Eum. Yoochun tadi yang menceritakannya padaku di restoran. padahal aku pikir mereka berdua saudara kandung karena sama-sama tamp- oh, astaga!" Junsu segera menutup mulutnya karena tidak sengaja keceplosan berbicara.. junsu melirik panik kearah Jaejoong yang menatapnya dengan senyum lebar.

"Su~ sudah kuduga kau masih menyukai Yoochun!" pekik Jaejoong senang sambil memeluk sepupunya itu.

"A-ani. Aku tidak menyukai jidat lebar itu." Elak Junsu

"Jeongmal? Lalu siapa yang kemarin kesal sampai menangis saat melihat Yoochun bersama yeojachingu-nya, ya?" goda Jaejoong.

"Hyuuuuuung~~~" Jaejoong tertawa melihat ekspresi wajah Junsu yang memelas dengan air mata yang sudah mengumpul di pelupuk matanya.

"Ara, ara. Dasar si Playboy cap jidat itu. Dia akan menyesal karena sudah menduakan sepupuku yang montok ini" hibur Jaejoong sambil memeluk Junsu. Junsu hanya terkekeh pelan mendengar gurauan Jaejoong.

"Hyung, sebenarnya Yoochun memintaku menanyakan satu hal padamu"

"Mworago?"

"Apa kau mengenal ibu kandung Changmin?"

Jaejoong tergugup. "Kenapa menanyakan hal itu padaku?"

"Soalnya kami merasa hyung sudah pernah mengenal orangtua Changmin sebelumnya melihat cara kalian berbincang tadi di restoran" Junsu mengungkapkan pendapatnya.

Jaejoong menghela napasnya. "Apa sangat terlihat?" Junsu menganggukkan kepalanya semangat.

"Jadi apa kau mengenal ibu kandungnya Changmin? aku sangat penasaran. Sedih sekali mendengar cerita Changmin yang tidak mengenal ibu kandungnya. Apalagi Yoochun bilang kalau istri Yunho-sshi tidak mempedulikan Changmin di rumah."

Jaejoong hanya terdiam mencerna setiap kata yang Junsu ucapkan mengenai Changmin. Anaknya. Jaejoong sangat ingin mengaku pada Changmin bahwa ia adalah umma-nya. Tapi Jaejoong masih memiliki akal sehat untuk tidak melakukan hal itu. Ia sangat senang bisa bersama anaknya walau hanya sebentar. Bercanda dengannya, memasakkan makanan untuknya, tertawa bersama.

"Hyung? Hyung!" teriak Junsu di telinga Jaejoong.

Jaejoong menutup telinganya yang sakit. "Suaramu, SU!"

"Habisnya hyung tidak mendengarkan aku berbicara" Junsu cemberut. "Jadi hyung tahu ibu kandungnya Changmin?" tanya Junsu kembali pada Jaejoong.

"Aku tidak tahu, Su"

_Mianhaeyo, aegya_

Changmin kesal karena pada akhirnya yang akan ikut pergi ke kebun binatang adalah dirinya sang appa, Jaejoong dan Ahra. Jaejoong tidak suka Ahra dan tidak ingin Ahra mengganggu acaranya bersama dua orang yang disayanginya. Appa-nya dan hyung cantiknya. Tapi Ahra ngotot ingin ikut jadi appa-nya mengajak orang itu juga.

Tapi jangan panggil dirinya Lord Voldemin kalau yeoja kecentilan itu sampai merusak hari indahnya bersama appa dan hyung cantiknya. Khukhukhu

Malam sebelum acara ke kebun binatang mereka, bermodalkan sebuah spidol permanen di tangannya Changmin memasuki kamar orang tuanya.

Kalau Ahra masih bersikeras untuk ikut ke kebun binatang besok, Changmin akan membuat yeoja itu tidak mampu untuk pergi. *evillaugh*

Changmin berjinjit mendekati ranjang ke sisi dimana Ahra tidur. Beruntung malam ini Ahra tidak memakai masker malamnya karena tadi siang Changmin sudah menghabiskan krim itu untuk 'menghiasi' dinding kamar orangtuanya. :D

Changmin suka menggambar. Berhubung kertas di buku gambarnya sudah habis, ia akan menggambar di tempat lain.

"Min cuka gambal. Min gambal gajah, jelapah, kucing, guguk, cemua Min gambal. Hehehe" ucapnya riang sambil terus menggambar beraneka binatang dengan hati-hati agar tidak ada yang terbangun akibat ulahnya.

Keesokan harinya, terlihat seseorang terbangun dari tidur nyenyaknya dan melihat wajah 'baru'nya di cermin yang sudah dilukis oleh Lord Voldemin. Kemudian terdengar suara atau lengkingan(?) yang membangunkan semua orang di kediaman Jung.

"JUNG CHANGMIIIIIIIIIIIIIIN!"

'

'

'

Tbc …

Ini sgt pjg! Tlg jgn bunuh saiaaaaaaaa~ hehehehe ahra jd istrinya yun krn tuntutan peran. Maafkan dia, ne? yun jg dihukum boojae ga dikasi jatah setaun gegara dia maen peran jd suami si Ahralay. Gimana chap ini? Krg menarik kah? Tp kan akhirnya saia dgn berbaik hati tlh mempertemukan yunjae. Chap dpn full of yunjae moment. Hehehe. Smg chap ini sdkt menjawab tanda tanya kalian mengenai ff ini.

Ps: tlg jgn siksa ahra dulu sampe peran dia selese di ff ini -.-v

Thanks for you guys :

park yooki, PiePilly, elmaesteryosephine, riska0122, YeChun, mita changmin, Dipa Woon, AkemyYamato, abilhikmah, Anik0405, Isnaeni love sungmin, YunHolic, Vic89, Joice Ang, Lee Hyo Ra, kitybear, Lady Ze, Izca RizcassieYJ, XiaSparkPhie, ifa. , YongWook, riyunjae, reaRelf, wyda joyer, Jung Jaehyun, kim eun neul, Jung Eunhee, Kim Eun Seob, vampireyunjae, teukiteuk, runashine88, Guest1, vivi, sissy, meotmeot, Jenny, Next, Guest2, Sparkladyca, J.A, HJ, Guest3, merry jung, meile ichi, shendylopyunjae, ajid yunjae, missy84, Jirania, IrumaAckleschia