Hola Minna. Ini fic request yang saya buat. Masih gaje sih.
.
DISCLAIMER : TITE KUBO
.
RATE : M (For Save)
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan.
.
Attention : Fic ini adalah request dari Oda Kurosaki(nama yang saya tahu nih...) Fic ini adalah fiksi belaka. apabila ada kesamaan atau kemiripan di dalam fic atau cerita lain dalam bentuk apapun itu adalah tidak disengaja sama sekali .
.
.
.
February. 1,5 years ago.
Di usia yang ke-22 tahun Kuchiki Rukia berhasil menyelesaikan strata1-nya dalam bidang teknik arsitektur dengan nilai yang gemilang. Tentu saja sang kakak, Kuchiki Byakuya amat bangga pada adiknya itu. Apalagi Kuchiki Rukia menyelesaikannya di Universitas Tokyo, bukan sembarangan universitas di Jepang. Tidak semuanya bisa masuk semudah membalik telapak tangan. Perlu usaha dan kerja keras. Bahkan seorang Kuchiki pun perlu semua itu. Walau sebenarnya Byakuya lebih suka Rukia menyelesaikan kuliahnya di luar Jepang, tapi Byakuya lebih khawatir jika Rukia ditinggal sendirian di negeri orang yang tentunya jauh lebih berbahaya daripada Jepang sendiri. Di Jepang saja, Byakuya sering was-was kalau Rukia belum pulang seusai jam kuliahnya selesai. Apalagi ini kalau di negeri orang?
Setelah lebih dari setahun mempelajari tentang Kuchiki Construction, akhirnya di usia ke-23 Rukia diperbolehkan ikut magang di sana oleh Byakuya. Rukia mulai bergabung dengan tim perencanaan desain bangunan di kantornya. Walaupun masih muda dan terbilang baru, tapi Rukia cukup kompeten dan berpengalaman. Sejak di bangku kuliah, tak jarang Rukia diminta untuk mendesain bangunan-bangunan kecil seperti halnya rumah pribadi atau kantor kecil. Dan sekarang Rukia tinggal menyesuaikan diri untuk ikut mendesain sebuah konsep perumahan atau bahkan komplek elit yang sedang dirintis oleh beberapa perusahaan penting. Layaknya seperti kota sehat, dan semacamnya. Karena mulai sekarang, banyak perusahaan yang berlomba-lomba untuk membuat bangunan yang ramah lingkungan. Apalagi ini sedang hangatnya global warming.
Tapi sayangnya, saat ini Kuchiki sedang mengalami krisis serius.
Mungkin karena pengaruh penurunan saham yang tiba-tiba karena perekonomian Jepang tengah memburuk tiba-tiba. Walau hanya sebagian kecil perusahaan yang mengalami pailit, tapi karena itu Kuchiki ikut kena imbasnya. Banyak investor yang tiba-tiba menarik saham bahkan menjualnya kepada perusahaan lain.
Tak banyak yang bisa Rukia lakukan sekarang ini. Apalagi dia hanyalah pegawai magang yang tidak punya andil apapun di perusahaan ini. Rukia tahu, kakaknya belum sepenuhnya percaya pada Rukia memegang perusahaan pula. Apalagi usia Rukia masihlah sangat muda dan belum begitu banyak pengalaman. Tapi jika Rukia bisa, dia ingin membantu sang kakak dengan segala cara. Rasanya kasihan saja setiap pulang ke rumah, keadaan Byakuya tak pernah baik. Selalu pusing memikirkan perusahaan dan tak jarang sampai lembur berminggu-minggu di kantor.
"Nii-sama?"
Dan hari ini adalah puncak dimana Rukia tak bisa menahan diri lagi melihat kakaknya yang nyaris jatuh sakit karena semua ini. Walau Rukia tahu, Byakuya tak pernah suka adiknya berkunjung ke ruangannya, tapi Rukia tak bisa menahan diri lagi. Rukia ingin tahu keadaan kakaknya.
"Ada apa Rukia?"
Tapi sayangnya Rukia salah. Wajah kakaknya sudah jauh lebih baik hari ini. entah apa yang terjadi tiba-tiba itu.
"Nii-sama... baik-baik saja?" tanya Rukia bingung.
"Ya. Aku baik-baik saja. Ada apa memangnya?"
"Ehh? Tidak. aku... hanya sedikit khawatir. Nii-sama, akhir-akhir ini... terlihat kurang baik karena krisis perusahaan."
"Tidak lagi Rukia. Kita sudah punya penyelamat. Kau masih ingat dengan teman lama Ayah? Kurosaki Construction. Dia akan membantu kita mulai minggu depan."
Kurosaki... Construction?
Oh, Rukia ingat. Sewaktu kecil ayahnya memang punya teman lama bernama seperti itu. Awalnya Kurosaki Construction adalah perusahaan kecil yang sering mengalami krisis. Kuchiki pernah membantunya melewati krisi tersebut. Hingga sekarang, buah dari kerja keras dan usaha yang tak kenal lelah itu, akhirnya Kurosaki bisa jadi konglomerat yang paling disorot di dunia perekonomian Jepang. Bahkan sampai di beberapa negara maju Asia lainnya. Mungkin tahun depan Kurosaki bisa tembus pasar Eropa dan Amerika.
Dan itu artinya, akan ada seorang pria setengah baya yang mungkin seusia dengan ayah Rukia jika saja ayahnya belum meninggal dunia, yang akan ikut bekerja di sini. Seperti apa orangnya?
.
.
*KIN*
.
.
"Hei! Hei! Kau sudah dengar? Kudengar... orang yang akan datang ke perusahaan kita ini sangat muda dan tampan loh~!"
"Yayaya! Kudengar juga dia sangat tampan. Bahkan bulan lalu sempat jadi cover majalah ekonomi Jepang! Ahh~ aku sudah tak sabar melihatnya."
"Muda, tampan, berbakat, cerdas, kaya, ahh~ aku tak bisa membayangkan ada pria sesempurna itu di kantor kita. Kupikir, Kuchiki-sama saja yang bisa jadi pria sempurna. Ternyata... tidak sia-sia aku bekerja di kantor ini."
"Tapi... kudengar, katanya orang itu tidak suka wanita loh..."
"HAH? TIDAK SUKA WANITA? KAU BERCANDA!"
Tiga wanita berisik yang berada di ruang resepsionis itu mulai menggila tidak jelas. Awalnya Rukia hanya ingin membeli teh hangat di mesin penjual minuman otomatis. Tidak tahunya malah mendengar wanita-wanita genit itu berceloteh sana sini.
Ini adalah hari yang dibicarakan semua orang di kantornya. Sebenarnya Rukia bukanlah gadis usil yang ingin tahu seperti apa orang yang bersedia membantu perusahaannya saat ini. Asal dia bisa bekerja dengan baik, itu sudah cukup untuknya. Tapi ngomong-ngomong... setelah mendengar gosip aneh itu, masa sih, ada pria tampan, muda, kaya, berbakat dan cerdas seperti itu malah tidak suka wanita?
Semoga Rukia tak berurusan dengan orang semacam itu.
.
.
*KIN*
.
.
Kurosaki Ichigo tiba di perusahaan yang diminta oleh ayahnya itu. Sebenarnya Ichigo lebih suka berurusan dengan perusahaan lain yang tidak berada di Jepang. Ichigo bosan berada di negara ini. paling tidak, ayahnya yang konyol dan bodoh itu harusnya memberikan Ichigo kesempatan untuk bisa berbaur di negeri orang lain. Tapi lagi-lagi ayahnya yang bodoh itu, Kurosaki Isshin, malah menantangnya. Katanya kalau Ichigo bisa melenyapkan krisis di perusahaan bermasalah ini, tahun depan Ichigo bisa bergabung dengan cabang perusahaan di Eropa. Wilayah paling diinginkan Ichigo. Yah siapa sih yang tidak mau tinggal di negara yang begitu hebat? Ayolah itu Eropa. Wilayah dengan sejuta pesona dan jutaan sejarah yang berhasil diukirnya di seluruh dunia. Apalagi William Shakespeare, sastrawan kesukaan Ichigo, lahir dan besar di sana. Bagaimana mungkin Ichigo tak tertarik untuk tinggal di sana?
Baiklah. Coba bertahan setahun saja di sini. Hanya satu tahun.
Dan satu tahun, sudah lebih dari cukup untuk Ichigo memulihkan krisis perusahaan ini.
"Aku tidak mau sekretaris wanita. Jadi carikan saja yang laki-laki. Tidak masalah siapa saja asal dia bisa kompeten dan melakukan tugas dengan baik. Oh ya, tepat waktu juga. Di depan ruanganku, kalau bisa tempatkan saja resepsionis pria. Kalau tidak ada, bisa kau siapkan mulai besok untukku. Dan satu lagi. Di dalam tim-ku, sebisa mungkin jangan ada satu pun wanita. Aku tidak suka."
Demikianlah perintah Ichigo pada pria kikuk berambut pirang bernama Kira Izuru itu sehari setelah dia menempati ruangan baru miliknya. Menjabat sebagai Direktur bagian tentu saja pekerjaan mudah untuk Ichigo.
Tidak suka wanita?
Yah sebenarnya ada beberapa alasan kenapa Ichigo tak suka wanita. Wanita itu berlebihan. Tidak kompeten dan selalu merengek seenaknya. Selalu mengutamakan perasaan dan tidak pernah tepat waktu. Juga tidak bisa bekerja seprofessional laki-laki. Makanya Ichigo tidak suka berurusan dengan wanita. Wanita selalu membuatnya repot. Apalagi setelah peristiwa 10 tahun lalu. Tidak. Ichigo tak mau lagi berurusan dengan wanita. Cukup kedua adik kembarnya saja yang wanita. Dan termasuk mendiang ibunya.
Apa dia tak mau menikah?
Yah, itu urusan belakangan.
.
.
*KIN*
.
.
"Apa? Aku dikeluarkan dari tim? Yang benar saja!"
Entah kenapa siang ini Rukia mendapat perintah seperti itu. Dikeluarkan dari tim magangnya?
"Maaf Kuchiki-san, tapi ini perintah Direktur baru itu. Kami juga... tidak bisa lakukan apapun," jelas Kira dengan wajah memelas.
"Apa alasannya? Dia bahkan belum melihat kemampuanku dan langsung main keluarkan saja! Memangnya dia pikir dia dewa?"
"Kuchiki... sudahlah. Bisa dibicarakan baik-baik kan?"
"Kaien-dono?"
Shiba Kaien. Supervisor Rukia selama dia magang di sini. Sekaligus pria yang sangat Rukia kagumi. Sebenarnya diam-diam mereka sering berkencan bersama. Tapi tentu saja diam-diam. Jika ada rumor di kantor bisa jadi berita buruk. Dan Rukia tak mau Byakuya sampai tahu. Apalagi Kaien tipikal pria idaman semua wanita. Baik, tampan, lembut, pengertian... Rukia tak bisa melupakan pesona Shiba Kaien begitu saja.
"Tidak. Aku akan menemuinya!"
Dengan amarah yang mendidih luar biasa, Rukia mengabaikan Kaien yang berusaha menenangkannya itu. Dia begitu kesal karena diperlakukan tidak adil begini. Tidak suka wanita? Hah! Apa Rukia peduli itu? Kalaupun Rukia peduli, itu sama sekali bukan alasan untuknya dikeluarkan dari tim seperti ini.
"Kuchiki-san... kumohon padamu jangan berulah. Ini bisa jadi masalah buat perusahaan kita..." mohon Kira yang masih mengikuti langkah besar sang Kuchiki bungsu itu. Rukia adalah bangsawan Kuchiki. Mana boleh diperlakukan tidak adil begitu.
Kira berusaha menghalangi Rukia memasuki ruangan Direktur yang bahkan belum sehari ditempati orang baru itu. Dan ketika pintu ruangan dibuka, Rukia bisa melihat seorang pria berambut orange yang duduk di kursinya sambil membaca beberapa laporan di mejanya. Jadi inikah pria sempurna yang diributkan semua orang sepanjang hari ini?
"Aku ingat kalau aku sama sekali tidak meminta sekretaris wanita!" ujar pria itu dingin dan acuh.
"Maaf Kurosaki-sama, tapi Kuchiki-san―"
"Kenapa mengeluarkanku dari tim? Apa alasannya?" potong Rukia.
Pria yang dipanggil Kurosaki itu mengangkat wajahnya dan memandang Rukia dengan penuh penilaian. Kira berusaha menjelaskan situasi yang terjadi.
"Kau boleh keluar Kira. Biar aku bicara padanya."
Kira langsung diam dan mohon diri. kau tak akan tahu ekspresi seperti apa yang dihadiahkan pria sempurna itu. Dingin dan menyebalkan.
"Jadi... kau wanita yang ada di dalam timku?"
"Benar. Apa alasanmu mengeluarkanku dari tim? Seingatku, aku bahkan belum melakukan apapun. Kau bahkan belum melihat kemampuanku? Kenapa kau main mengusirku begitu saja?"
"Karena aku tidak suka wanita."
"Apa?"
"Itulah alasannya. Sederhana bukan? Jadi kalau kau sudah mengerti silahkan keluar. Aku sibuk."
"Direktur Kurosaki. Apa kau lupa? Kita ini bekerja di dalam satu perusahaan! Bukan sedang berada di bangku sekolah, dimana kau bisa memilih anggota seenak dirimu! Apa kau tidak bisa bersikap profesional?"
"Dan kalau kau bisa bersikap profesional, kenapa kau tidak turuti saja kata-kataku untuk keluar dari ruanganku dan membahas itu nanti saat pertemuan tim? Bukankah kau sendiri yang kekanakkan main terobos masuk ke ruangan orang yang jabatannya jauh lebih tinggi darimu?"
Kesal, Rukia menghentakkan kakinya dan langsung keluar dari ruangan itu. Baru kali ini ada yang memperlakukannya serendah itu! Walaupun sepertinya memang salah Rukia yang main protes tanpa persiapan itu.
.
.
*KIN*
.
.
Setelah makan siang itu, pertemuan tim dengan Direktur barupun dilaksanakan. Memang di dalam tim itu, hanya ada satu-satunya wanita. Dan itu Rukia. Meski dia satu-satunya wanita, tapi kemampuan Rukia tak diragukan lagi. Hanya saja... itu tadi. Permintaan konyol dari direktur baru yang menyebalkan itu. Rukia sudah berusaha adu argumentasi dengan alasan konyol itu. Tapi itu tadi, ternyata Direktur baru ini sama sekali tak mau dibantah.
"Tapi Direktur Kurosaki, bukankah sebaiknya Anda pastikan dulu kemampuan Kuchiki? Saya yakin Anda tidak akan kecewa dengan kemampuannya," sela Kaien ketika Rukia dan Direktur baru itu sama sekali tidak menemukan jalan keluar.
"Sayang sekali Shiba. Aku tak suka coba-coba. Jadi... biarkan gadis itu mematuhi semua perintahku kalau dia benar-benar ingin menyelamatkan perusahaan. Aku tidak butuh pegawai yang amatiran."
Setelah mengatakan demikian, gadis Kuchiki itu langsung keluar dari ruang pertemuan itu diikuti oleh seorang pria bernama Shiba itu.
"Baiklah. Rapat kita akhiri. Besok aku minta laporan kalian masing-masing mengenai kegiatan terakhir kalian."
Begitu keluar dari ruang pertemuan itu, dan diikuti oleh Kira tentunya, Ichigo menemukan gadis Kuchiki itu menangis di koridor kantor ditemani oleh pria Shiba itu. Gadis itu sepertinya masih kesal dengan keputusan Ichigo. Tapi tak lama kemudian, si Shiba itu memeluknya begitu erat. Entah kenapa, ekspresi menangis gadis itu membuat Ichigo tertarik. Tidak dipungkiri gadis itu memang sangat cantik. Cantik yang tak terbantahkan dan tak membosankan. Baru kali ini Ichigo memperhatikan seorang gadis dengan begitu minat.
"Siapa gadis Kuchiki itu?" tanya Ichigo tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis yang tengah menangis dan dipeluk oleh pria Shiba itu pada Kira.
"Oh? Dia Kuchiki Rukia. Adik kandung dari Kuchiki Byakuya-sama. Presdir kita. Kudengar dia memang arsitek yang berbakat karena lulus dengan nilai tertinggi. Dia juga cukup kompeten selama ini. Jadi saya rasa―" Kira diam karena mendadak wajah Direktur baru itu menyeringai lebar. Menyeringai yang menakutkan.
Dan sejak itu, Kurosaki Ichigo tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis cantik itu.
.
.
*KIN*
.
.
Sudah dua hari berlalu. Dan gadis itu tak muncul lagi di depannya. Sepertinya ada yang salah di sini. Kenapa gadis itu tak muncul? Padahal beberapa waktu lalu dia sangat gigih untuk masuk ke dalam tim.
Tiba-tiba Ichigo menyesal mengeluarkannya. Entah kenapa sejak melihat gadis itu menangis, rasanya wajahnya begitu mempesona dan sangat... cantik. Ichigo tak bisa melupakannya. Dia... tertarik? Mungkin. Dia tertarik pada gadis itu. Belum pernah Ichigo tertarik seperti ini pada wanita manapun. Aneh bukan?
Dan malam ini, Ichigo berencana makan malam bersama beberapa investor yang berniat memulai bisnis dengannya. Salah satu jalan agar Kuchiki bisa diselamatkan.
Tapi naasnya, dia justru bertemu dengan gadis itu. Gadis Kuchiki itu tengah makan malam berdua bersama pria Shiba itu. Mereka tampak belum menyadari kedatangan Ichigo. Dari jauh, Ichigo terus memantau mereka berdua. Tampaknya, gadis cantik itu tidak terlalu depresi dikeluarkan dari tim. Bahkan dia terlihat jauh lebih ceria. Setiap kali pria Shiba itu mengatakan sesuatu, gadis itu akan tersenyum lebar, tertawa dan berekspresi begitu cantik. Ichigo tak suka itu. Ayolah... Ichigo belum mengenal dengan baik gadis itu. Tapi kenapa ada rasa tidak suka setiap kali gadis itu berekspresi begitu cantik untuk orang lain? Terutama untuk pria Shiba itu.
Dia tidak suka gadis itu berada di dekat orang lain.
.
.
*KIN*
.
.
Entah kenapa pagi ini Rukia dipanggil ke ruangan Direktur menyebalkan itu. Padahal setelah mengusir Rukia, seharusnya dia tak memanggilnya lagi. Bukankah dia benci wanita?
Semenjak keluar dari tim, Rukia ditempatkan di bagian pemasaran. Tentu saja bukan bidangnya. Tapi Rukia harus bertahan beberapa waktu sampai ditempatkan di tim lain yang sesuai bidangnya. Dengan langkah malas, Rukia akhirnya tiba di ruangan Direktur itu.
Begitu masuk, pria itu tengah berdiri di dekat lemari kaca ruangannya. Berdiri dengan angkuh sambil memandang keluar jendela gedung.
"Ada apa Direktur memanggilku?"
"Kenapa kau tidak merengek lagi untuk masuk ke dalam tim?"
Pertanyaan aneh dan konyol. Kenapa dia bilang?
"Karena ini juga perintah Presdir. Beliau bilang aku harus menuruti perintah Direktur tim-ku," jawab Rukia.
"Ooh, kau sangat patuh pada kakakmu ya?"
Rukia mengernyit bingung. Tahu darimana dia Presdir adalah kakaknya? Seingatnya jarang ada yang tahu fakta ini. kecuali beberapa orang yang sudah mengenalnya. Itu saja masih dirahasiakan. Dan dia... tahu?
"Kau mau masuk ke dalam tim-ku lagi?"
Tawaran aneh. Rukia ingin. Ingin sekali bisa bekerja sama dengan pria yang disukainya itu. Tapi bukankah ini terdengar aneh.
"Kudengar... Direktur tidak suka wanita. Dan aku wanita. Apa ada yang salah di sini?"
"Karena aku ingin kau berkencan denganku."
Mata cantik Rukia membulat tajam. Frontal sekali ya?
"Maaf?" Rukia mencoba mengingat kata-kata aneh itu.
"Kau bisa kembali ke dalam tim-ku. Tapi dengan syarat kau harus berkencan denganku. Tapi kalau kau tidak mau... aku punya cara lain."
Orang ini... gila. Pasti dia gila.
"Maaf Dikrektur. Aku memang ingin sekali kembali ke dalam tim-mu. Tapi berkencan denganmu? Kau bukan tipeku. Jadi... maaf saja."
"Oh... apa tipemu seperti pria Shiba itu?"
Langsung saja Rukia terkejut bukan main. Nah, apalagi yang terjadi sekarang ini? Kenapa bisa sampai sejauh ini? Untuk sesaat ini, Rukia sedikit ngeri melihat Direktur barunya ini.
"Apa yang Direktur maksud ini? Aku tak mengerti."
"Apa kau diam-diam berkencan dengan pria Shiba itu? Kalau iya, ini bisa jadi masalah kau tahu? Dilarang ada hubungan dengan rekan kerja. Salah satu dari kalian bisa dikeluarkan."
"Kalaupun harus keluar, aku siap. Karena aku memang sudah keluar."
"Jadi kau... mengaku sedang menjalin hubungan dengan pria Shiba itu?"
"Itu bukan urusan Direktur sepertimu. Dan lagi―"
Direktur baru itu langsung mendekat ke arah Rukia, menarik tangannya dan langsung mendorong tubuh mungil Rukia menekan lemari kaca di belakangnya. Tindakannya aneh. Sangat aneh. Rukia sempat bergidik dan ketakutan ketika Direkturnya ini mulai bertingkah tidak wajar.
"Direktur! Apa yang―mmpph!"
Rukia hendak menjerit karena diperlakukan begini.
Sambil menahan dengan erat kedua tangan Rukia di sisi kepalanya, pria ini dengan begitu buasnya menekan bibir mungil Rukia dengan bibirnya. Semuanya berlalu begitu saja. Rukia tak sempat berpikir apa. Yang dia pikirkan bagaimana lepas dari jeratan aneh orang ini. Rukia tak tahu apa yang dipikirkan Direkturnya ini dengan menciumnya begini kasar dan begini menyakitkan. Bibirnya tak hentinya menekan bibir Rukia, memagutnya sangat kasar bahkan menggigit bibir Rukia hingga nyaris berdarah. Rukia berusaha melepaskan dirinya. Tapi apa yang bisa dia lakukan selain mengerang dan merintih karena kekuatan pria ini tentulah lebih besar darinya.
Karena tak tahan, Rukia menendang tulang kering Direkturnya hingga ciuman mereka terlepas begitu saja. Rukia mencoba mengatur nafasnya yang sesak sesaat tadi. Mata Rukia sudah memerah karena menahan tangis. Setelah Direkturnya pulih karena kakinya mendadak ditendang seperti itu, Rukia langsung saja menampar wajah tampannya. Meninggalkan bekas memerah pada pipi putih itu.
"Kau benar-benar pria paling brengsek yang pernah kutemui!" bentak Rukia lalu beranjak keluar dari ruangan terkutuk itu.
Ichigo tertawa masam setelah melihat gadis itu pergi menjauh darinya. Tiba-tiba saja insting laki-lakinya begitu buas dalam kepalanya. Dia ingin lagi. Ingin merasakan bibir itu lagi. Sial!
Belum pernah dia mencium wanita manapun sampai senafsu itu. Ciuman ringan saja tidak pernah. Bahkan kecupan! Ichigo tak pernah lakukan itu. Lalu kenapa hanya karena melihat gadis itu, rasanya Ichigo ingin memilikinya.
Ichigo tak menyangka keinginan memiliki gadis itu jadi begitu kuat di dalam benaknya.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia masih terisak di belakang taman perusahaannya.
Sejak mengenal pria brengsek itu, hidup Rukia terasa tak begitu tenang. Sejak awal Rukia memang membenci pria itu. Sangat membencinya!
Kalau bukan karena dia adalah orang yang yang bertanggungjawab untuk membantu perusahaannya dalam krisis ini, tentu saja Rukia akan sesegera mungkin melaporkan pelecehan ini pada kakaknya. Byakuya pasti tak akan diam saja kalau tahu Rukia diperlakukan tidak sopan seperti itu. Bahkan bersama pria yang dia sukai saja belum pernah pegangan tangan. Apalagi ciuman!
Dan pria sialan itu jelas-jelas sudah merebut ciuman pertamanya!
Entah mau digosok ratusan kali pun, bibir Rukia masih terasa panas dan terasa menjijikkan karena bibir sialan itu! Rukia ingin sekali merobek bibirnya sendiri.
Benar-benar menjijikan. Diperlakukan sehina itu. Apa karena Rukia wanita makanya dia bisa seenaknya? Apa itu alasannya pria itu tidak menyukai wanita?
Karena bisa dia perlakukan sehina dan serendah itu?
Mungkin sebaiknya, Rukia berhenti magang di kantor kakaknya sendiri. Lebih baik dia mencari pekerjaan lain sebelum benar-benar dikeluarkan dari sini.
.
.
*KIN*
.
.
"Kuchiki? Kau... habis menangis?"
Rukia meraba wajahnya sendiri ketika tidak sengaja bertemu dengan Kaien di koridor kantor siang ini. Sehabis menangis sepuasnya tadi―tidak juga sepuasnya sih―Rukia memutuskan kembali ke tempatnya. Rasanya masih kurang nyaman karena tak benar-benar melampiaskan kekesalannya.
"Kau kenapa Kuchiki?" sekali lagi suara Kaien yang menenangkan membuatnya teralihkan sejenak dari pikirannya. Wajah Kaien jika diperhatikan memang mirip dengan pria brengsek itu. Tapi tentunya Kaien 100 kali lebih baik dari pria brengsek itu. Tak peduli dia berbakat, tampan, muda, kaya, cerdas atau segala macamnya itu, Rukia tak peduli.
"Ahh~ tidak apa-apa. Mungkin kemasukan debu."
"Apa karena Direktur itu lagi? Kali ini kau diapakannya?"
Rukia mengernyit bingung.
"Tadi aku sempat melihatmu keluar dari ruangan Direktur. Aku tak tahu apa yang kau lakukan di sana. Ketika aku ingin menghampirimu kau sudah pergi. Ada apa memangnya? Dia―"
"Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku baik-baik saja. Yah, cuma sedikit bertanya-tanya soal tim-nya. Sekarang kan aku bukan tim kalian lagi."
"Kuchiki..."
"Kaien-dono! Kau harus semangat ya! Ok! Kau harus terus bekerja keras agar krisis kita selesai secepatnya."
Dan secepatnya menendang pria sialan itu keluar dari sini! Lanjut Rukia dalam hatinya.
Kemudian Rukia meninggalkan Kaien untuk segera kembali ke ruangannya.
.
.
*KIN*
.
.
"Masuklah Shiba."
Pagi ini Kaien berniat untuk bicara dengan Direktur itu. Entah kenapa Kaien merasa yakin ada yang aneh dengan Rukia sejak keluar dari ruangannya kemarin. Sialnya saat itu Kaien harus segera mengurus proposal yang belum di tandatangani oleh kepala bagian. Atau kalau tidak, pekerjaannya bisa terhambat karena kepala bagian itu kemarin harus segera berangkat ke luar kota.
Dan sinilah Kaien. Dengan Direktur muda ini.
"Ada perlu apa?" tanya Ichigo yang merasa aneh dengan kedatangan Shiba ini. seingatnya mereka tidak ada urusan. Atau belum ada urusan.
"Sebenarnya ini bukan masalah pekerjaan."
"Kalau begitu silahkan keluar. Aku sibuk."
"Ini masalah Kuchiki. Kuchiki Rukia maksudku."
Ichigo mulai menaruh minat ketika mendengar nama gadis itu disebutkan. Gadis yang beberapa waktu ini jadi incarannya.
"Kuchiki... Rukia? Ahh~ maksudmu gadis yang kukeluarkan itu? Kenapa? Memang dia membuat masalah?"
"Tidak. Tapi sepertinya justru Anda-lah yang membuat masalah dengannya. Kuchiki bukan orang yang seperti Anda pikirkan. Dia pasti bisa menyelesaikan masalah dengan baik. Dia juga kompeten."
"Lalu... apa yang ingin kau sampaikan?"
"Saya harap Anda tidak menyulitkannya lagi."
"Menyulitkannya?" ulang Ichigo.
"Anda tentu tahu sesulit apa bekerja pada bidang yang tak pernah Anda geluti sebelumnya. Dan itu terjadi pada Kuchiki. Jadi... saya harap Anda menarik Kuchiki kembali."
Ichigo melipat tangannya di depan dadanya dan memandang pria Shiba ini dari atas sampai ke bawah. Sekilas wajah mereka mirip. Tapi tentunya dengan kepribadian yang bertolak belakang. Juga latar belakang. Ichigo tak yakin keluarga dari mana orang ini, tapi yang jelas tak mungkin sama derajatnya dengan Ichigo.
"Kenapa kau melakukan ini demi gadis itu? Apa kalian punya hubungan serius?"
"Tidak. Tidak seperti yang Direktur pikirkan."
Bukan itu. Ichigo bisa melihat sorot mata pria itu ketika Ichigo menanyakan hubungan mereka. Ada rasa melindungi yang menguar dari matanya. Ichigo laki-laki. Jelas dia bisa membedakan tatapan laki-laki yang tengah membicarakan gadis yang dia sukai. Ichigo tak suka itu.
Ichigo berjanji akan membuat gadis itu benar-benar jadi miliknya. Entah kenapa perasaan ingin memiliki ini jadi obsesi yang mengerikan dalam diri Ichigo.
.
.
*KIN*
.
.
"Pesta penyambutan? Tapi aku bukan tim kalian lagi kan?" tanya Rukia bingung.
Malam itu, seusai pulang bekerja, beberapa teman mantan timnya itu mengajak Rukia untuk ikut berpesta di sebuah tempat karaoke menyambut Diretur baru mereka.
"Ini perintah Direktur langsung. Bukan kami. Bukankah bagus kalau banyak orang? Ayolah Kuchiki... kau jarang ikut pesta kan?" ujar Kira.
"Tidak. Kuchiki tidak perlu ikut. Kau pulang saja," sela Kaien begitu melihat Rukia dibujuk oleh beberapa anggota rekannya.
"Kalau kau menyuruhnya pulang, itu artinya tidak menghargai rekanmu sendiri kan? Bukan begitu, Shiba?"
Mereka terkesiap kalau Direktur muda itu sudah menyela pembicaraan mereka. Sebenarnya Rukia tidak ingin berada di dekat orang ini. Tapi begitu mengingat bahwa perusahaan kakaknya berada di tangan orang ini, Rukia tak punya pilihan. Akhirnya mau tak mau Rukia ikut pesta aneh itu. Padahal, di dalam timnya hanya Rukia yang wanita. Tapi tenang saja. Selama ada Shiba Kaien, Rukia merasa nyaman saja. Karena ada seseorang yang melindunginya saat ini.
.
.
*KIN*
.
.
Pesta memang berlangsung meriah. Di luar dugaan, ternyata Direktur muda itu memang mudah bergaul dengan bawahannya. Tapi fakta bahwa dia tidak suka wanita itu memang sangat aneh. Tapi Rukia wanita bukan? Lalu kenapa?
Apakah karena beberapa waktu lalu, Direktur itu mencium Rukia makanya―
Sialan! Rukia ingat ciuman itu lagi! Benar-benar menyebalkan!
Karena kesal, Rukia malah salah mengambil minuman. Dia malah minum sake. Kontan saja kepalanya langsung pusing. Sejak dulu Rukia tak tahan sake. Dan ini malah membuatnya semakin bahaya.
Rukia mulai merasa tidak enak badan. Karena itu dia mulai mencari sosok Shiba Kaien untuk mengantarnya pulang. Tapi entah kenapa pria itu malah tidak ada di saat seperti ini. kemana dia?
Rukia hanya bisa memijat kepalanya yang pusing itu sambil menunggu Shiba Kaien. Dan sialannya lagi ada salah seorang rekannya yang merokok. Tentu saja nafas Rukia jadi sesak. Dia benci asap rokok.
"Bisakah... kau mematikan rokoknya?" pinta Rukia susah payah karena dadanya tiba-tiba sesak.
"Kuchiki? Ada apa denganmu? Kenapa kau aneh?"
"Biar kuantar dia pulang."
Rukia benar-benar tak ingat siapa yang mengatakan itu. Tiba-tiba saja tubuh mungilnya sudah digendong dan keluar dari ruangan menyebalkan itu. Siapa orang ini?
.
.
*KIN*
.
.
Dingin.
Tubuhnya terasa dingin. Dan... panas?
Berapa lama Rukia tak sadarkan diri? Kenapa tubuhnya terasa berat sekali? Begitu membuka matanya pelan, Rukia langsung terbelalak ketika ternyata dia berada di tempat yang tidak seharusnya. Bahkan Direkturnya ada di dekatnya saat ini. matanya terbelalak liar berusaha mencerna apa yang terjadi di sini.
"Yo! Sudah bangun?"
Rukia terkesiap saat Direkturnya mendekat ke arahnya. Saat ini Rukia tengah terduduk di atas kasur. Ini... ini dimana? Tubuhnya gemetar karena Direkturnya sudah membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Ka―kau mau apa? Menjauh dariku!" pekik Rukia histeris. Dia tak sempat lagi bertanya ini dimana, yang jelas nyawanya berada dalam bahaya!
"Aku pernah bilang ingin berkencan denganmu kan? Tapi tampaknya kau tak akan pernah mau menyetujuinya. Jadi... kupikirkan sebuah cara yang bisa membuatmu mau tak mau menerimaku. Apa kau suka ini?"
"Tidak Brengsek! Menjauh dariku!" Rukia mulai melempar apa saja yang ada di dekatnya saat pria itu mulai mendekat padanya dengan begitu buas. Ok! Rukia benar-benar takut saat ini.
"Apapun yang kau lakukan tidak akan berguna kau tahu. Mungkin dengan cara ini kau bisa benar-benar menerimaku. Aku ingin kau jadi milikku saja."
"Apa-apaan kau ini! Dasar orang gila! Menjauh dariku sekarang!" pekik Rukia kembali histeris. Rukia mulai menampar pria itu ketika dia semakin mendekat. Menendangnya. Apa saja agar dia menjauh. Tapi tampaknya pria berambut orange ini jadi semakin buas dengan rontaan dari Rukia.
Dengan sekali tarik, Rukia sudah berada di bawah Direkturnya. Orang ini mulai mencengkeram erat kedua tangan Rukia di atas kepalanya. Tentu saja Rukia tak bisa melawan tenaga pria sebesar ini. apalagi dia masih pusing karena beberapa teguk sake sialan tadi.
Ichigo... Direkturnya mulai mengikat kedua tangannya dengan dasi miliknya di atas kepalanya
"Kumohon! Hentikan! Lepaskan aku! Aku tidak mau ini!" mohon Rukia susah payah. Bahkan dirinya sudah terisak agar atasannya itu iba padanya dan melepaskan dirinya.
"Kau sendiri yang menolakku. Kau pikir semua ini akan berakhir begitu saja? Tidak akan Kuchiki Rukia!"
"ARGGHH!"
Ichigo melucuti satu persatu pakaiannya. Merobeknya dengan sedemikian ganasnya. Apalagi sekarang dia sudah bertelanjang dada. Rukia berusaha melepaskan ikatannya, tapi sepertinya ikatan ini terlalu kencang baginya. Tubuhnya terlalu lemas untuk melawan. Rukia tak mau seperti ini! Tidak mau!
"HENTIKAN! HENTIKAN INI!" entah mau berteriak sekencang apa tetap saja Ichigo melancarkan serangannya. Setelah puas tubuh Rukia polos dari kain yang mengganggu, kali ini Ichigo merangkak ke atas tubuh mungilnya. Mulai memberikan setiap rangsangan pada tubuh kecil ini. Rukia terus meronta agar bisa melepaskan diri dari orang gila aneh dan mengerikan ini.
Terakhir ketika Direktur muda itu ingin mencium bibirnya lagi, Rukia langsung meludahinya dengan kesal. Nafasnya tersengal hebat. Apalagi sepertinya Ichigo langsung terdiam dengan sikap Rukia barusan. Sepertinya pria itu mulai kesal dengan tindakan terakhir Rukia. Akibatnya Ichigo mencengkeram kasar dagu kecilnya agar mendongak ke arahnya. Rasanya sakit sekali saat tangan besar dan kasar itu mencengkeram wajahnya.
"Apa kau tahu? Sikapku hari ini tergantung dari sikapmu. Aku sudah cukup bersabar selama ini. jadi jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa bersabar lagi! Kalau kau diam dan menurut, aku akan bersikap lembut padamu. Tapi jika kalau sikapmu kebalikannnya, jangan salahkan aku kalau aku akan kasar padamu. Apa kau sudah mengerti? Kuchiki Rukia?"
Sungguh tatapan dari Direktur muda itu membuat Rukia ketakutan luar biasa. Mata ungu kelabunya masih menatap liar pada perbuatan pria sialan ini. gemetar di tubuhnya masih tidak bisa hilang. Rukia takut. Sungguh takut!
"Kau... sangat menyayangi perusahaan dan Kakakmu kan? Apa kau... tidak takut apa yang aku lakukan pada dua hal itu kalau kau terus menerus menolakku?"
Ichigo membelai lembut tubuh Rukia yang telanjang di hadapannya ini. bibir Rukia bergetar hebat sekali lagi. Apa yang akan dilakukan orang gila ini pada kakaknya?
"Arghh!" jerit Rukia saat tanpa aba-aba pria gila ini menusuk tubuh terintimnya yang sama sekali tidak pernah disentuh apapun dengan kedua jari tangannya.
"Kau hanya boleh menurut padaku. Kau hanya boleh jadi milikku. Seluruh tubuhmu hanya untukku. Kau mengerti kan? Sayang..."
Rukia menangis histeris saat tubuhnya mulai menikmati setiap belaian yang diberikan pria gila ini pada tubuhnya.
"Sa―sakit... hentikan... kumohon... sakit..." gumam Rukia berkali-kali dengan tatapan memelas dan memohon ketika Rukia tak sanggup lagi mengendalikan perasaannnya.
Liukan di tubuh bawahnya terasa begitu menggila hingga membuat Rukia harus mengikuti permainan orang gila ini.
"Teruslah memohon seperti itu. Karena sebentar lagi kau benar-benar akan jadi milikku..."
Dengan sekali sentakan, entah apa itu, Rukia langsung membelalakan matanya. Rukia tak sanggup melihat apa yang terjadi di bawa sana. Dia tak bisa melawan karena ikatan tangannya.
"Arghh! SAKIT! Arghhh! Ahh!"
Rukia menggigit bibir bawahnya dengan kuat hingga berdarah. Tubuhnya mengejang hebat karena dirinya dimasuki sesuatu yang lebih parah daripada jari-jari pria brengsek itu.
Rukia bukanlah wanita bodoh. Sejak 'benda' asing itu memasuki dirinya, tubuh Rukia langsung lemas mendadak. Rasa perih seperti terkoyak itu pastilah mengenai harga dirinya. Sekarang Rukia... bukan lagi gadis baik-baik. Tubuhnya sudah kotor dan menjijikan.
Dan pria di atasnya tetap menikmati apa yang terjadi di bawah sana sambil sesekali mendesis nikmat dan membelai tubuh telanjang Rukia. Memijat dada mungil Rukia hingga membuatnya tak bisa bergerak sama sekali. Semua yang diawali dengan paksaan sama sekali tidak menyenangkan untuk Rukia.
Karena terlalu lelah menangis dan memberontak, akhirnya Rukia justru jatuh tertidur saat pria itu sedang gila-gilanya memasuki dirinya dan memberikan klimaks akhirnya pada tubuh Rukia.
Rukia hanya berharap ini hanyalah mimpi buruk. Mimpi...
Kaien... dono...
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Hola Minna... pada kangen sama saya? *dilemparbatubata* ehehehehe
ok, ini adalah chap flashback yang saya janjikan waktu itu. ehmmm... chap flashback ini gak cuma satu. mungkin akan ada dua atau tiga chap. soalnya saya harus menceritakan bagaimana akhirnya Rukia bisa menerima Ichi dengan tulus ya? padahal udah digituin... aduh... kalo saya sih... nggak bisa mikir lagi mau gimana.. hehehe oh ya, buat yang nungguin Cry Away, maaaaaaaaff banget. fic itu gak bakal ada sekuelnya sama sekali. itu akan tetep berakhir seperti itu. dan masalah tbc-nya udah saya ganti kok. hehehe silahkan di cek.
ok deh balas review dulu...
ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... hehehee iya nih emang kasian Ruki-nya. soal flashback 11 tahun itu bakal dijelasin juga. tapi gak sekarang. hehehe LastRose kebetulan lagi ngestuck abis. heheheeh maaf kalo munculnya agak lama yaa...
shiianhia el kuchiki : makasih udah review senpai... nih udah update lagi. hehehe
Shirayuki Umi : makasih udah review senpai... hahaha tenang aja bakal saya bikin seprotektif mungkin Ichi ke Ruki hehehe, nih chap flashbacknya. semoga suka... heheheh makasih udah suka fic saya. jadi terharu deh hehehe
RK-Hime : makasih udah review rika... nah kamu juga jangan panggil saya senpai dong... heheheh iya nih chap flashbacknya. ada yang suka?
Nyia : makasih udah review senpai... nih udah update... hehehe
Oda Kurosaki : hmmm... nih, saya udah update. beneran begadang gak tuh? hehehehe jangan begadang dong, ntar mata kamu item kayak panda. mau?
Ninda Uchiharuno : makasih udah review senpai... hohoho jadi mau dipanggil apa nih? ehheh nih udah update kok... hohoo
Mey Hanazaki : makasih udah review Mey... hahah iya nanti dikasih tahu kok. tapi untuk beberapa chap kedepan masih ngebahas IchiRuki. Grimmnya belum nongol. hohohoo...
Kurosaki Sora: makasih udah review senpai... hehehe nih udah update loh... review lagi yaa... hehehe
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... hahhahaha tenang kok. gak bakal segawat itu. nih chap flashback satu setengah tahun yang lalu, kalo yang 11 tahun itu cuma flashback sampingan aja nenk. heheheh
Voidy : makasih udah review senpai... heheheh sayapun tak tahu apa Ichi suka garam apa nggak? hehehe maksudnya siapa nih yang ada hati ama dikendalikan balas dendam senpai? nah ini malam pertama mereka. hehehe oh ya senpai... ngecek FB kah? saya kirim sesuatu di sana.. hehehe
Moekokurodo : makasih udah review senpai... ya... saya gak bisa bikin lemon satu chap penuh... ntar laptopnya banjir darah... hahahah salam kenal juga.
hirumaakarikurosakikuchizaki : makasih udah review senpai... hehehe makasih udah difaveritin... hehehe iya nih udah update loh... hehhe
mitsu-tsuki maaf gak login : makasih udah review senpai... kayaknya sih si Ichi pyscho juga. hahaha... ehm... Last Rose beneran lagi ngstuck parah. ehh... gimana fic rikues kamu ntar kamu kasih ide ke saya? gimana? biar saya yang ngetiknya. soalnya saya belum nemuin ide yang bagus nih. hehhe
Yukio Hisa : makasih udah review Yuki... hahaha iya, nih flashback mereka hehehe kalo cewek yang ninggal itu bakal dibahas di beberapa chap lagi. hehehe
lola-chan : makasih udah review senpai... heheh iya nih udah diupdate kok... hehehe wah semuanya? ok deh, ntar saya usahain semua update... hehehe
meyrin kyuchan : makasih udah review senpai... ini chap flashbacknya... soal Grimm ntar dibahas habis chap flashback. hehehehe
akimoto yumi : makasih udah review senpai... nih udah update... hehehe
Naruzhea AiChi : makasih udah review eva... hehehe saya gak tahu kalau kamu punya akun loh... hehehe nih chap flashbacknya... hehehe
males login : makasih udah review senpai... wah kalo suka Grimm, jadinya nanti GrimmRuki dong? hehehe iya nih udah update. makasih udah suka fic saya. terharu banget nih... hehehe
ok deh... tetap berterima kasih pada semua senpai yang udah berpartisipasi pada fic ini dalam bentuk apapun. saya sangat menghargainya. hehhe seneng deh kalo ada yang menanggapi positif soal fic saya. itu jadi semangat baru buat saya dalam berkarya selanjutnya... hehhe
sekali lagi review amat sangat ditunggu supaya saya tahu apakah fic ini layak lanjut atau nggak. hehehehe
Jaa Nee!
