Part 4: Mengamuk

Suho menggigil ketakutan. Antara rasa sedih yang begitu mencengkramnya ia merasa rohnya tengah keluar dari raganya. Mata kelam Suho bergetar. Wajahnya pucat pasi dengan gigi bergemeletuk. Tanpa sadar tangannya mengepal menggenggam rumput liar mencari pegangan.

"Mama…"

Ia tak tau kenapa hidupnya selalu terasa begitu menyedihkan. Dari kecil ia terbiasa untuk tegar menghadapi apapun. Saat ayahnya meninggal ketika ia berumur tiga tahun, ia dapat terus menjalani hidupnya.

Tapi melihat betapa mengenaskannya ibunya saat ini ia merasa begitu tersakiti. Dulu ia masih memiliki ibu dan adik yang menjalani hidup dengannya. Tapi sekarang semua keluarganya hilang satu persatu. Menyisakan Suho yang meratap tanpa kekuatan yang tersisa.

Air mata meleleh dari pelupuknya dengan deras. Selama tujuh belas tahun hidupnya, keadaan saat ini merupakan titik terberat dari cobaannya selama ini.

Kini ia tak tau apa yang harus ia lakukan.

Kini ia tak memiliki seseorang pun yang menunggunya pulang.

Ia meraung.

Suara pilunya ditengah keheningan malam bagai melodi kesedihan yang begitu menyayat hati.

Warga-warga desa mengintip dengan takut.

Iba namun tak berbuat apapun.

Suho nyaris saja terjatuh, lemas, kehilangan banyak tenaga karena menangis.

Lalu sebuah lengan keras dan kasar memegangnya. Sesuatu menggigit bajunya memberinya kekuatan untuk duduk dengan nyaman. Suho menggugu bagai balita saat menatap mata coklat yang membara.

Saat ia melihat pantulan wajahnya di bola mata itu, ia dapat melihat seorang remaja lelaki yang terlihat menyedihkan. Raut wajah yang seakan dunianya tengah berakhir. Wajah pucat tanpa adanya semangat kehidupan.

Suho tertegun. Menyadari betapa hancurnya dirinya. Menyadari betapa sedihnya Kris akan kondisinya.

Saat ia mengelus sisi wajah sang naga, ketenangan kembali menyergapnya. Seperti halnya saat hewan itu muncul dengan wujud manusianya. Rasanya seakan ia mendapat kekuatan baru walau tenaganya sebenarnya tak ada.

Sang naga mendekatkan wajahnya yang kasar kepipi Suho. Mengelusnya dengan lembut.

Aku tak suka melihatmu seperti ini Suho.

Mata coklat itu menyorot geram.

Kau seakan ikut membuatku hancur.

Suho tertegun. Memeluk Kris erat berusaha menenangkan sang Naga yang terlihat murka.

Lalu kemudian Kris meraung marah. Wajahnya mendongak kilat melepaskan pelukan Suho padanya.

Ia menggeram lagi. Mengelilingi tubuh Suho yang terjatuh dengan gestur melindungi.

Suho mengerjap, baru menyadari puluhan perajurit yang mengelilinginya dengan tombak runcing yang mengarah padanya dan Kris.

Sebuah tombak meluncur cepat kearahnya. Suho tertegun. Pikirannya blank saat Kris mengepakkan sayapnya sebagai perisai.

"Wow, tak kusangka hewan kuno benar-benar telah terlahir. Ramalan itu benar-benar terjadi." Seseorang dengan jubah mewah muncul dari kerumunan prajurit itu. matanya menatap tertarik kepada Kris dan Suho dengan menyelidik.

Seringainya muncul, "Penyihir muda dengan hewan terkuat diantara hewan kuno." Ia melangkah maju, tak takut sama sekali dengan kemarahan Kris. "Raja benar, masih ada yang selamat saat pembantaian penyirih ratusan tahun lalu."

Suho mengernyit, tak paham sama sekali dengan perkataan lelaki itu.

"Yah, untungnya naga ini masih begitu muda untuk menjadi ancaman kita."

Ia menggerakkan tangannya dan para prajurit bertubuh besar itu siaga. Siap untuk melempar puluhan tombak kearahnya dan Kris.

Saat itulah ia merasakan panas mengalir ditubuhnya. Rasanya seakan ia tengah terkuliti dengan bara api tapi tak satupun kulitnya yang melepuh. Suho tau itu merupakan perasaan Kris yang mengamuk. Sadar bahwa naga itu kini tengah menahan amarahnya yang kian memuncak.

Hembusan angin yang kencang membuatnya menutup mata. Debu-debu tanah beterbangan menampar wajah Suho saaat Kris terbang dengan raungan. Lalu sesuatu meluncur tepat mengenai tanah disamping kanannya. Sedikit merobek kulit kakinya. Suho tak berani mengintip walau ia sudah dapat menebak tombak runcing itu berusaha untuk membunuhnya.

Bau bara api dan suara tanah yang terbakar membuatnya mendongak. Rasa panas benar-benar mengelilinginya. Membuat dinginnya malam terbakar bersama rumput liar. Beberapa teriakan menyentak Suho untuk melihat sekelilingnya. Dan ia sadar bagaimana lingkaran api itu mengukungnya dan membuat langkah perajurit berhenti. Beberapa diantaranya terbakar karena api.

Pemandangan itu terlihat mengerikan. Bagaimana sebuah tangan yang keluar dari api. Berusaha untuk menggapainya. Lalu wajah terbakar, tubuh yang gosong dan suara kesakitan muncul. Merangkak kearahnya. Suho tak sempat berpikir ia berteriak ngeri, perlahan merangkak mundur tanpa menyadari jika dirinya tengah berada diujung lingkaran api yang melindunginya.

Lalu kemudian Kris datang, masuk kedalam lingkaran itu tepat didepannya. Ia meraunng, meluncurkan api ketengah langit malam dan kemudian membakar perajurit yang telah gosong didepannya.

Suara kulit dan daging yang terbakar mendesis nyaring ditelinga Suho. Raungan Kris satu-satunya yang menyadarkannya jika ia tengah duduk ditengah api dan menjadi saksi pembantaian dari hewan miliknya.

Ia sadar api biru itu tidak membakarnya.

Ia sadar raungan kengerian orang-orang yang terbakar. Bagaimana tangisan anak-anak desa menusuk tulang belakangnya.

Dan ia seperti tak melihat Kris disosok hewan buas didepannya.

"Kris…" ucapnya terbata berusaha untuk menemukan suaranya, namun yang terdengar hanya hembusan angin.

"Kris…" ucapnya lebih nyaring. Berusaha menarik atensi Kris kearahnya.

Naga itu terbang tinggi lagi. Membakar apapun yang ada dihadapannya. Suho berdiri, berusaha menemukan kekuatan diantara kakinya yang lemas.

"KRIS HENTIKAN!"

Hewan itu menghentikan raungannya. Mata coklat yang biasanya terlihat menggemaskan kini menatapnya tajam. Menilik mata Suho dengan seksama sebelum melembut menyadari betapa takutnya Suho.

Ia turun rendah, mencapai Suho yang berada dibawahnya. Naga itu mengusap sisi wajahnya kewajah Suho mencari ketenangan.

Suho kau tidak apa-apa kan?

Suho mengangguk. Menangkup wajah besar sang naga.

"Jangan marah, kau membuatku takut. Kau membuat warga desa ketakutan."

Tapi mereka berusaha menyakitimu.

Suho tersenyum lembut.

Ia sadar betapa marahnya Kris kepada perajurit utusan kerajaan. Tapi tidak dengan melukai warga Jeera.

"Ayo pergi. Aku tak ingin kau kembali mengamuk."

Kris menundukkan tubuhnya berusaha membuat Suho lebih mudah untuk naik kepunggungnya.

Suho pegangan, aku tak ingin kau jatuh.

Tekanan udara mengagetkannya saat Kris dengan cepat meluncur terbang. Ia berpegangan erat dengan mata yang terpejam.

Saat sudah terbiasa dengan penerbangan ini, Suho membuka matanya. Menatap api biru yang menghancurkan sebagian desa. Warga berlari ketakutan dan mayat-mayat gosong yang teronggok terabaikan. Kemudian ia melihat tiang ditengah lapang, lidah api melahapnya, melahap wajah tua yang selalu ada dihidupnya.

Suho memeluk leher Kris erat, tak sanggup melihat pemandangan kacau dibawahnya.

Terlalu lelah. Terlalu sedih.

Kris meraung lemah dalam batinnya. Menemani Suho yang menangis tanpa suara.

.

.

Mereka mendarat ditengah hutan Jeera yang lapang. Suho masih terdiam diatas Kris. Tidak menemukan kesadarannya untuk turun dan mengistirahatkan diri. Kejadian tadi masih terus terngiang dikepalanya.

Ekor panjang sang naga menepuk kepalanya, menyadarkan Suho.

Ia turun melompat dan sadar akan sengatan sakit di paha kanannya.

Dagingnya terkoyak dan rembesan darah mewarnai kain celananya yang robek.

Kau terluka!

Suho mengangguk, mengingat kembali tombak yang sempat meluncur kearahnya.

Sebelumnya karena rasa terpukul yang hebat ia sampai tak menyadari jika tombak itu berhasil melukainya. Dan kini rasa sakitnya seakan melumpuhkan seluruh sendinya.

Suho mendesis, berpegangan pada sayap Kris.

Ia duduk dengan hati-hati. Melepas rompinya sebelum membalut lukanya. Kain kasar itu berhasil menimbulkan rasa sakit yang membakar pada daging yang terbuka.

Kris menatapnya khawatir. Ia ikut mengernyit saat Suho mendesis sakit karena pergerakannya membalut luka.

Apa yang bisa kulakukan?

Suho tertegun, ia rasanya ingin merenung semalaman memikirkan ibu dan adiknya. Ditinggal seorang diri oleh keluarganya secara mengenaskan berhasil membuat Suho kehilangan separuh hidupnya. Selama terbang tadi ia selalu berpikir untuk hilang saja dari dunia.

Usapan lembut Kris dikepalanya membuat Suho tersenyum lemah kearah hewan tersebut.

Kau masih memilikiku.

Suho mengangguk, walau hanya beberapa bulan sejak kelahiran Kris ia merasa hewan tersebut merupakan keluarga lamanya yang kembali. Ia memeluk Kris. Berhati-hati merebahkan diri di perut sang naga.

"Sebaiknya kita tidur."

.

.

Raungan Kris dipagi itu membangunkan Suho secara paksa. Kepalanya berdenyut nyeri karena rasanya ia hanya tidur beberapa menit saja. Semalaman ia memejamkan mata, bayang-bayang kepala ibunya terus menghantuinya. Membuatnya gelisah dan tidak bisa terlelap.

"Wuaaa!"

Suho berusaha untuk berdiri. Matanya berkunang-kunang dan rasanya pandangannya berputar. Ia berpegangan pada pohon di sampingnya. Berjalan gontai dengan kaki pincang menuju suara tersebut.

Kemudian ia merasakan Kris disampingnya. Berdiri disampingnya agar Suho berpegangan pada tubuhnya.

"Suho…"

Suho membuka matanya. Memfokuskan pada mata biru yang menatap takut pada hewan disampingnya.

"Paman George?"

Lelaki tua berambut pirang itu menatap Suho dengan sedih. Ia seperti ingin mendekat dan memeluk Suho tapi urung saat melihat hewan disampingnya yang mendesis tajam.

"Tidak apa-apa, ini paman George." Suho mengusap pipi hewan itu menenangkannya.

"Hewan apa itu Suho?"

Suho berusaha duduk, ia ingin sekali berbicara berdua dengan paman George tapi Kris terlihat enggan meninggalkannya. Sedangkan jika naga itu tetap disana, ia merasa tak enak dengan wajah ketakutan paman George.

Tidak aku tetap disini, aku tidak ingin manusia ini menyakitimu.

Suho mengabaikannya dan menatap paman George seperti ingin menangis. Ia mengingat ibunya kembali.

"Paman, duduklah, ada banyak yang ingin kutanyakan padamu."

Suho mengusap matanya yang berair. "Sebelumnya ini Kris, aku tidak tau ia hewan apa, tapi ibu mengatakan jika ia adalah naga. Ia satu-satunya keluargaku saat ini." Suho tersenyum menatap Kris dibelakangnya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu?"

Paman George menyorot sedih mata Suho. Mata birunya berkaca-kaca saat ia menatap Suho. Ia memeluk Suho. Mengusap punggungnya dan hal tersebut membuat Suho ingin kembali menangis. Tapi ia menahannya.

"Paman juga tidak tau apa yang terjadi. Pagi-pagi sekali banyak kapal yang menepi di pantai." Paman George melepasnya, "Awalnya kukira para saudagar datang lebih cepat untuk membeli rempah-rempah kita. Tapi yang turun dari kapal-kapal itu adalah perajurit kerajaan yang berbaris rapi."

Paman George meneguk ludahnya, terlihat enggan untuk kembali bercerita.

"Mereka mengacau di desa. Mendobrak paksa rumah-rumah dan berlaku kasar pada wanita dan anak-anak." Suho menyimak dengan tenang. Tangan terpaut erat untuk menguatkan dirinya. "Kemudian ibumu diseret menuju tanah lapang. Rambutnya ditarik dengan kasar dan dihempaskan begitu saja." Paman George menatapnya tak enak. Suho memberi gestur untuk nelayan itu melanjutkan kisahnya.

"Kami tak tau apa yang terjadi. Perajurit itu ikut menyeret warga desa menuju tanah lapang. Ibumu meraung saat seorang perajurit maju. Mereka… mengatakan hal yang tak masuk akal, tentang penyihir, elf dan ramalan. Atau tentang raja yang menginginkan ibumu mati. Maksud paman bagaimana mungkin mereka mengepung wanita tua yang sakit-sakitan seakan ibumu merupakan ancaman yang sangat berbahaya bagi mereka. Percayalah Suho kami berusaha untuk membantu, tapi mereka menyandera anak-anak. Lalu mereka berlomba-lomba berusaha menyakiti ibumu. Tapi, kurasa kau tidak akan percaya, mereka terpental sebelum sampai untuk menyentuh ibumu. Kami semua bingung dan pemimpinnya maju. Mereka berbicara lagi. Ibumu saat itu sangat pucat. Pimpinan perajurit bertanya tentang anaknya. Paman hanya mendengar samar apa yang mereka bicarakan. Kemudian ibumu terjatuh, wajahnya pucat dan lemas. Lalu pimpinan itu, kau tau…, dia…" paman George terdiam bingung memilih kata-kata yang tepat bagaimana ibunya meregang nyawa. Suho memukul tanah disampingnya. Menggeretak kesal dengan bayangan peristiwa yang terjadi.

"Kau tau apa yang terjadi selanjutnya? Mereka membebaskan kami. Dan tak ada satupun yang berani keluar rumah. Peristiwa itu sungguh menakutkan dan menyisakan trauma untuk anak-anak yang melihatnya. Hingga kau datang dan hewan disampingmu mengamuk."

"Maafkan aku paman. Maafkan aku dan Kris, Jeera menjadi kacau balau."

Suho menunduk sedih, merasa tak nyaman dibawah tatapan paman George.

"Tapi kami bersyukur hewan itu mengalahkan para perajurit, mereka benar-benar berlaku buruk kepada wanita dan anak-anak." Paman George terlihat mengepalkan tangannya. Jelas ia merassa sangat kesal dengan ketidakmampuannya untuk menjaga desa.

Suho mengangguk.

"Yang paman ingin katakan adalah kau ingat kisah yang paman ceritakan saat di pantai dulu? Paman rasa ibumu adalah seorang penyihir dan kamu harus mencari tau tentang jati dirimu Suho. Mereka sejak tadi malam membicarakan ramalan, penyihir dan elf sambil membersihkan para mayat di lapangan. Jika paman menghubungkan semua cerita mereka. Anak ibumu, yang berarti kamu ataupun Dyo, merupakan ancaman untuk raja sehingga ia mengerahkan begitu banyak perajurit untuk mendatangi ibumu ke pulau terpencil ini."

Suho mengangguk membenarkan. Ia semakin pusing dengan segala teka-teki ini. Belum lagi rasa amarahnya terhadap kerajaan yang semakin menguat. Dan masalah adiknya bahkan belum dapat dipecahkan dan Dyo masih hilang entah dimana.

"Tadi pagi beberapa kapal perang kembali berlabuh di pantai. Dan sepertinya mereka akan mengejarmu kedalam hutan. Pergilah Suho, paman hanya ingin memperingatimu tentang hal ini." Paman George menyorot sedih dirinya. Merasa enggan untuk membiarkan remaja tujuh belas tahun itu berkelana. Bagaimanapun ia sudah menganggap Suho seperti anak sulungnya yang hilang saat berlayar bersamanya.

"Terima kasih paman, aku sungguh berhutang padamu." Suho memeluk erat paman George. Pikirannya berkecamuk penuh cabang untuk merencanakan agar ia tetap bertahan hidup.

Ia mengucapkan perisahan dengan nelayan baik hati itu.

"Hati-hati Suho dan tetaplah hidup."

Suho mengangguk. Berusaha berdiri dengan bertopang pada Kris. Perlahan ia meninggalkan paman George dan berjalan pincang masuk kedalam hutan.

Dalam hatinya ia bertekad untuk mengungkap semua ketidakadilan ini. Mengungkap misterri apa yang selama ini ibunya sembunyikan.

Ia memegang erat kalungnya dan berjanji akan menepati janji terakhirnya kepada ibunya.

Ia akan menemukan adiknya.

oOo

Sorry, for being lazy and take the update too long. Semoga chapter ini sedikit menjelaskan apa yang terjadi pada chapter sebelumnya. Dyo nya kita keep dulu untuk kejutan yang lain, okay.

Btw, saya memutuskan untuk mengganti rated ff ini menjadi M karena deskripsi pertarungannya (That's kinda violence, right?). Dan ff ini juga publish di wattpad dalam akun jeyyou.

Thanks for reading and review. All your comments really made my day ^^

Saya tetap mengharapkan kritik dan sarannya.