ACE

Kim Junmyeon

Zhang Yixing

Other

Romance, crime, friendship

Yaoi, typo (s)

This is Sulay

© idea D'Xp ft luce

.

.

.

Saya mohon dengan sangat

untuk pelan pelan membacanya

dan silahkan nikmati scene dari tiap tokoh.

Jongin menyandarkan diri di samping mobil menunggu kepulangan Kyungsoo, banyak mahasiswa dan mahasiswi yang lewat dan menatap kagum padanya.

Bagi Jongin itu sudah biasa, atau malah dia tidak risih sama sekali. Berbeda dengan kedua hyungnya yang jika menjemput Kyungsoo akan lebih suka berdiam diri dalam mobil, risih kata mereka.

Tak menunggu waktu lama, terlihat Kyungsoo berlarian keluar bangunan gerbang

Kyungsoo keluar dengan buru buru, masih pukul 11 siang namun dia ingin segera pulang sampai di rumah untuk menyiapkan segala keperluannya nanti malam.

Begitu melihat keberadaan Jongin dan fans dadakannya Kyungsoo segera masuk ke dalam mobil tanpa bicara apapun.

Jongin mengikuti masuk ke dalam mobil dan melaju menuju rumah.

"Apa kau benar benar akan ikut?" tanya Jongin.

Mencoba berkompromi kembali dengan Kyungsoo.

"Aku akan tetap ikut." balas Kyungsoo.

"Kyungsoo, yang kita temui ini zhang yixing. Dan aku tidak mau terjadi apa apa padamu." ucap Jongin.

"Justru karena hal itu jongin, biarkan aku ada di sana. Setidaknya apapun yang terjadi pada kalian aku ada disana." ucap Kyungsoo memelan di akhir kalimat.

"Kenapa kau begitu keras kepala?!" tanya Jongin jengah.

"Ini berbahaya." jawab Jongin.

"Lalu jika itu berbahaya kenapa kalian tidak mau berhenti dari ini semua." teriak Kyungsoo tanpa sadar.

Dan berikutnya Kyungsoo menyesal telah berteriak, yang membuat wajah Jongin mengeras detik itu juga.

.

.

.

Brakk

Jongdae menyemburkan kopinya, kaget dengan pintu yang terbanting. Jongin masuk setelahnya dengan muka kusut.

"Kau kenapa?" tanya Jongdae melupakan kopinya.

"Tanyakan pada dia!" balas Jongin tanpa sadar dengan nada tinggi.

Junmyeon membawa tab di tangannya menyerahkan di depan meja Jongdae yang kering, sambil menatap heran Jongin.

"Dia kenapa?" tanya Junmyeon

Jongdae hanya membalas dengan mengendikkan bahu. Dan mulai fokus dengan layar tab yang berisikan tentang email masuk.

Kyungsoo masuk dengan wajah tertunduk ketika melihat Junmyeon dan Jongdae heran menatap ke arahnya.

"Aku tidak melakukan apa apa kok!" tegas Kyungsoo segera lari masuk ke dalam kamar.

Kedua orang di meja makan itu di buat menggeleng pelan oleh tingkah kedua adiknya.

"Mereka akan baikan setelah ini." Junmyeon meyakinkan Jongdae.

"Hmm, hyung kalau begitu kita bukannya harus pergi?!" tanya Jongdae.

Brakk

Pintu kembali terbanting, mengagetkan kedua orang yang sedari tadi di depan meja makan.

"Hyung mau pergi kemana?" tanya Kyungsoo begitu membuka kasar pintu kamarnya.

Cklek

Dan sekarang ganti Jongin yang keluar dari kamarnya. Menatap, masih dengan muka kusutnya.

"Kalian berdua tetap di rumah, aku dan jongdae harus pergi." ucap Junmyeon.

"Kenapa begitu?" tanya Jongin.

"Kalian sebenarnya kenapa?" tanya Jongdae masih penasaran.

"Dia dan segala sikap keras kepalanya tidak pernah mau mendengarkan orang lain!" ucap Jongin, menatap tajam.

Jongdae menatap serius Kyungsoo, sedikit bingung dengan kata kata Jongin. Junmyeon menghela nafas pelan, menepuk pundak Jongdae lalu berlalu meninggalkan meja makan.

Jongdae yang tau intruksi hyung pertamanya membawa tab yang dia perhatikan tadi, sebelum bicara pada kedua adiknya dan pergi.

"Jangan buat kekacauan dan selesaikan masalah kalian." pesan Jongdae lalu menyusul Junmyeon.

Sementara Jongin masi menatap tajam Kyungsoo sebelum mendengus dan berjalan ke dapur.

.

.

.

Sampai hari berganti sore, Jongin tetap dengan sikap marahnya kepada Kyungsoo, hal ini mampu membuat Kyungsoo yang sedang membaca novel di ruang keluarga risih dipandangi terus menerus.

"Apa masalahmu kim jongin." ucap Kyungsoo jengah.

"Hah?! Berhenti pura pura tidak tau Kyungsoo." jawab Jongin remeh.

"Kau ini kenapa?" tanya Kyungsoo.

"Berhenti bersikap keras kepala!" bentak Jongin tanpa sadar.

Brakk

Kyungsoo mengebrak meja di depannya penuh emosi.

"Cukup jongin! Aku sudah bilang berapa kali padamu! Aku akan tetap ikut dan itu keputusan finalku!" balas Kyungsoo sebelum pergi.

.

.

.

"Byun."

Pemuda yang di panggil nama marganya mendongak sebentar. Menatap sosok hyung juga bosnya tengah menengadahkan kepala pada sandaran kursi sambil menutup mata.

Raut wajah lelah tergambar jelas namun tidak mengurangi aura kepemimpinannya.

Kris membuka mata menatap artistik atap ruangannya, mencoba mencari makna tersembunyi yang ada dalam setiap ukiran.

Membiarkan pemuda yang sudah menjadi tangan kanan kepercayaannya termenung sejenak menunggu lanjutan dari panggilannya.

"Ya hyung?" tanya nya tidak sabaran.

Terdengar helaan nafas setelah itu,

"Terkadang aku berfikir untuk menyuruhmu menemukan dia." ucap Kris.

Sekian tahun bersama dengan Kris atau Wu Yifan, membuat pria mungil berkewarganegaraan korea itu tau jika sekarang pria china depannya ini sudah lelah dengan semua permainan para tetua.

Ya. Byun Baekhyun, harus tetap pada tempatnya. Memberi semangat dan dukungan. Setidaknya bukan sekarang waktu yang tepat untuk menyerah.

Meski dalam hati kecilnya Baekhyun sendiri kasihan dengan keadaan keluarga Wu. Tapi dia berfikir jika masih terlalu dini untuk mengakhiri semua permainan ini.

"Hahaha, kau serius hyung." ucap Baekhyun.

"Terkadang aku merasa lelah dengan topeng ini byun." balas Kris.

Mungkin sebuah ungkapan, jangan menilai orang dari luar itu ada benarnya.

Namun, semua hal itu membuat Baekhyun tidak bergeming untuk menjawab atau memberikan tanggapan. Seolah menikmati kesunyian merupakan pilihan terbaik untuknya saat ini.

"Aku benar benar takut kehilangan yixing." ucap Kris.

Baekhyun menatap Kris, tau bagaimana hyungnya itu benar benar menjaga kekasihnya.

Banyak pihak menginginkan mereka bersatu, namun banyak pihak juga yang menginginkan mereka berpisah.

"Aku merasa, aku semakin jauh dengannya." ujar Kris seraya menutup kembali kedua bola matanya.

"Hyung harus tetap bertahan." Baekhyun menyemangati.

"Aku kadang berfikir mengakhiri ini semua, menyerahkan sepenuh kekuasaan kepada dia. Membawa yixing menjauh dari segala pengaruh rasa takutku." ucap Kris lemah.

"Aku tau hyung sangat menyayanginya dan takut yixing hyung terluka." ucap Baekhyun.

"Aku lebih takut yixing akan di jadikan pelampiasan." balas Kris.

"Karena yang seharusnya menerima rasa sakit itu aku, bukan yixing." tambah Kris.

Baekhyun terdiam.

Kris rela jika harus dia yang menerima rasa sakit di bandingkan dengan Yixing yang merasakan sakit.

Wu dan segala kekuasaannya adalah hal yang rumit. Orang mana yang tidak menginginkan kekuasaan berlimpah, namun keluarga Wu memiliki cara tersendiri untuk mematangkan penerus generasi mereka dengan cara

Membuang

Dan

Memupuk rasa sakit

"Kau tau byun, menjadi penerus dengan segala fasilitas itu tidak seindah yang di bayangkan.

Jika bukan permintaan yixing juga aku tidak akan melakukan hal ini." ucap Kris.

Kris masih ingat, Yixing yang biasanya merajuk meminta ini itu dan bersikap manja menjadi sangat berbeda kala hari penobatannya sebagai pilar mafia Wu, sangat dewasa dalam pembawaan yang tenang membuat malam itu, Kris merasakan bagaimana rasanya memiliki sandaran untuk menumpahkan segala keluh kesahnya.

Dan setelah pembicaraan itu ruangan mewah ini menjadi sunyi senyap, menyisakan dua orang yang berkutat dengan pikiran masing masing.

Dengan segala macam situasi yang akan mereka hadapi dan sejuta misteri dari berbagai pihak.

.

.

.

.

Jhope datang bersama dengan Taehyung dan Jungkook keluar dari mobil jeep, begitu sampai di depan mansion Kim. Mereka keluar dan menatap Jongin yang sibuk memasukkan tas dan perlengkapan.

"Ada yang bisa ku bantu hyung?" tanya Jungkook.

"Oh, ada. Bawa tas putih ini kedalam mobil kalian, itu perlengkapan kalian." jawab Jongin.

Setelah mereka semua selesai menata perlengkapan. Jongin mengajak Jhope, Taehyung dan Jungkook masuk ke dalam mansion menemui kedua hyungnya.

Junmyeon tengah berbicara serius dengan Jongdae mengenai lokasi dan segala situasi serta strategi yang akan mereka hadapi.

Jongin masi menunggu hasil keputusan hyungnya, setiap mereka beroperasi Jongin hanya tinggal menerima intruksi dari hyungnya. Segala kemungkinan dan perhitungan dia serahkan pada Jongdae maupun Junmyeon, menurut Jongin itu lebih mudah. Karena dia tidak perlu repot lagi memikirkan banyak hal.

Kyungsoo keluar dari kamar dengan celana hitam selutut, T- shirt hitam dan jaket hijau kering sangat pas pada tubuhnya.

Namun, Jongin yang menatap kedatangan Kyungsoo hanya berdecak sebal.

Sejak diputuskannya Kyungsoo ikut dalam misi kali ini, Jongin tidak pernah berdamai dengan orang orang sekitar, selalu terlihat kusut, marah dan sangat sensitif. Jongdae sampai merasa bahwa Jongin itu mirip dengan wanita pms.

Dan lagi setiap kali menatap Kyungsoo apapun itu. Bawaannya Jongin selalu ingin marah, menatap tajam tanpa sebab dengan penuh intimidasi hingga membuat Kyungsoo takut sendiri.

"Aku merasa bahwa misi malam ini adalah misi berkemah dengan anak kecil." sarkas Jongin menatap Kyungsoo.

"Apa mereka bertengkar?" tanya Taehyung pada Jhope di balas anggukan pelan.

"Cukup, kita bersiap sekarang!" ucap Jongdae.

"Malam ini, yixing akan melakukan transaksi dengan kolega dari jepang. Berlokasi di gwangju letaknya di gudang bekas penyimpanan minyak."

"Setelah kyungsoo melacak semua keadaan baru kita semua masuk. Karena aku fikir pintu bagia depan cukup aman kita akan lewat bagian sana."

Dan Junmyeon mulai menjelaskan bersama dengan Jongdae tentang segala hal mengenai strategi dan situasi yang mereka hadapi.

"Taehyung dan Jungkook akan menjaga bagian selatan bagian belakang gudang."

"Biarkan kami yang menjaga bagian belakang gedung!"

Suara baritone dari arah pintu menghentikan sesi diskusi Junmyeon, semua orang dalam ruangan itu tercengang dengan kedatangan Sehun dan Chanyeol.

"Aku tau kalau kau akan menyerang yixing malam ini hyung. Karena itu aku datang bersama dengan sehun." jelas Chanyeol.

"Kau tidak perlu ikut campur park!" sarkas Jongin.

Tidak adakah orang yang tau jika moodnya malam ini sangat buruk. Dan kedatangan Park bukan sesuatu yang menyenangkan.

Masih ingatkan jika kedatangan mereka terakhir kali ke mansion ini justru menimbulkan kekacauan dan membuat Junmyeon meledak kala itu.

Sedangkan ini masih masalah yang sama, tetang Zhang Yixing, oh hell. Jongin benar benar ingin menyelesaikan ini dan pergi tidur.

Kyungsoo tidak dapat di peringatkan, sedangkan Sehun dan Chanyeol datang bergabung. Bukannya tidak percaya, namun kedatangan mereka masi belum bisa dipastikan apakah kedua Park ini dalam satu kubu atau tidak. Terlalu misterius tentang alasan mereka berdua hadir untuk membantu.

"Kufikir kami saja cukup." ucap Jongdae menatap Junmyeon.

"Wah waah kau tidak perlu sampai seperti itu hyung." ucap Sehun dengan seringai khasnya.

"Kami datang untuk membantu, aku tidak akan menyentuh zhang Yixing dan segala keperluan kalian." jelas Sehun membalas tatapan tajam Jongin.

Sementara Chanyeol menyeringai melihat para wajah Kim di depannya. Sambutan yang menarik ya?

Mereka pasti di anggap merusak rencana. Lalu bagaimana jika mereka benar benar merusak. Chanyeol sangat menunggu hal itu.

"Jhope kau masuk bersama dengan kami." ucap Junmyeon.

"Aku serahkan bagian belakang pada kalian, park." jawab Junmyeon singkat tidak terbantahkan membuat wajah Jongin mengeras.

Hingga dirasa semua orang mengerti dengan rencana mereka bersama sama keluar menuju mobil. Junmyeon juga meyakinkan bahwa keikutsertaan Kyungsoo saat ini juga untuk menjaga Kyungsoo agar tetap pada jangkauan mereka.

"Kyungsoo akan tetap di mobil, dia akan memeriksa cctv dalam gudang dan memperhitungkan berapa banyak orang yang terlibat. Dan sama sekali tidak keluar!" jelas Junmyeon pada Kyungsoo.

"Aku mengerti hyung." jawab Kyungsoo.

Jongdae fikir itu benar, karena keberadaan Yixing sekarang membuat semua hal yang di lakukan harus mendapat pengawalan lebih. Kim harus melangkah dengan lebih hati hati lagi.

"Aku minta taehyung dan jungkook berada tidak jauh dari mobil kyungsoo." ucap Junmyeon.

"Kami mengerti! Aku akan menjagamu dari para penjahat yang mengancam, kyungsoo ya!" balas Taehyung semangat.

Jika Taehyung menjaga Kyungsoo dari orang orang yang di anggap para penjahat, lalu apa kabar dengan status mereka semua? Mafia, apakah mafia bagian dari orang orang yang tidak jahat.

Yeah, anggap saja dalam kasus malam ini hanya pihak Yixing dan segala anak buahnya yang berperan jahat, atau sering Chanyeol sebut sebagai bidak hitam.

"Jadi, kim jongin. Bisa kau hilangkan emosi tidak jelasmu itu?" tanya Junmyeon pada akhirnya.

Jongin hanya menatap tidak suka dan mendengus. Melangkah lebih dahulu keluar. Terlalu banyak hal yang tidak disukainya malam ini.

Jongdae hanya menghela nafas pelan menepuk bahu hyungnya, menenangkan. Dan ikut melangkah keluar bersama Jhope dan Jungkook.

"Ayo kita pergi." ucap Junmyeon kepada Kyungsoo.

.

.

Brumm...Brumm...

Suara deru mesin mobil yang mulai dinyalakan pertanda mereka akan bersama sama menuju lokasi saat ini.

.

Taehyung satu mobil dengan Jungkook. Dan Junmyeon bersama Jongdae juga Kyungsoo memimpin di depan.

Sehun sudah siap dalam mobil dengan Chanyeol. Melajukan mobil jeepnya mengikuti mobil Taehyung di depan.

"Aku tidak sabar menunggu kejutan mereka sehun ah!"

Chanyeol tertawa di akhir kalimatnya sedangkan Sehun menatap mobil di depannya dengan seringai.

Jongin melemparkan kunci mobil pada Jhope menyuruhnya mengemudi. Lalu mengikuti mobil Park di belakang.

"Suasana hatimu memburuk hyung?" tanya Jhope dalam perjalanan mereka.

"Sangat!" balas Jongin tengan tatapan mata tajam.

"Aku tidak suka mereka ikut campur!" ungkap Jongin.

Sementara dalam mobil Kyungsoo hanya mencoba diam, dia tau benar penyebab kemarahan Jongin. Yaitu keikutsertaannya pada misi kali ini. Dan sudah cukup dengan segala penjelasan dan larangan hyung.

Kyungsoo bersyukur Junmyeon dan Jongdae tidak begitu marah kepadanya. Kyungsoo duduk di depan dengan diam, enggan menatap pada kursi kemudi dimana Junmyeon duduk menyetir ataupun Jongdae yang ada di kursi belakang.

"Kyungsoo!" ucap Jongdae tiba tiba.

"Iya hyung?" tanya Kyungsoo

"Aku tidak tau ini berguna atau tidak nantinya, tapi bawa ini." ucap Jongdae menyerahkan senjata api dan pisau lipat.

Dan ketika bola mata Junmyeon melihat lebih jelas senjata api jenis apa, Junmyeon menyesal. Karena pada senjata api itu terdapat ukiran nama yang sangat menyesakkan hatinya.

Membuat hatinya dilingkupi rasa menyesal.

Sangat menyesal, ketika kenangan masa lalu mereka ditarik kembali ke permukaan. Masa lalu yang membuat mereka semua sakit.

Junmyeon berharap malam ini segera berakhir tanpa ada satu anggota keluarganya yang terluka.

Tanpa ada lagi anggota keluarganya yang pergi.

Ataupun berpisah.

.

.

.

Mobil jeep milik Junmyeon berhenti pada jarak jauh yang tidak membuat kecurigaan bawahan Yixing.

Kyungsoo segera membuka laptopnya dan mulai membobol keamanan yang ada dalam gudang.

"Jumlah orang disana banyak hyung! Puluhan bukan belasan. 5 orang berada di belakang dan depan gudang. Sisanya berada di dalam." ucap Kyungsoo melihat dari cctv yang sudah berhasil di sadap.

"Jongdae, bagaimana menurutmu?" tanya Junmyeon.

"Kita tunggu saja hyung, ini akan berhasil aku yakin!" balas Jongdae

Sementara di samping mobil Junmyeon, mobil Jongin berhenti dan tidak berkomentar apapun. Kyungsoo berbicara melalui hansfree yang terdengar oleh semua orang namun Jongin tetaplah Jongin yang marah.

"Begitu transaksi mereka di mulai kita masuk!" perintah Junmyeon.

"Baik, kami keluar sekarang, hyung berikutnya." ucap Jhope keluar bersama Jongin mulai mendekati arah pintu masuk.

Seorang yang diyakini bawahan Yixing mulai curiga dengan kedatangan Jhope dan Jongin segera menghadang mereka.

"Penyusup!"

"Yeah, kami memang penyusup jadi cepat kemari dan ku habisi kau!" balas Jongin.

Jongin segera memukul telak wajah seorang bawahan yang membuatnya tersungkur ke tanah.

Beberapa bodyguard sadar akan keributan Jongin dan Jhope mulai datang menhajar, namun Jongin dan segala amarah yang menguasai mulai menghabisi satu persatu.

Jhope maupun Jongin tidak membiarkan mereka istirahat bernafas barang sebentar atau melapor kedalam .

Setelah mereka sudah menghabisi para penjaga di pintu depan dan Jhope mulai memberi kabar pada Junmyeon.

"Hyung kau bisa masuk, disini aman." ucap Jhope.

Jhope hanya menghela nafas ketika melihat Jongin masih terus menghajar seorang bodyguard yang sudah tidak sadarkan diri.

"Kufikir kau harus berhenti, kai hyung!" Jhope memperingati.

"Kita masuk." ucap Jongin masi diliputi amarah.

Sementara Kyungsoo yang mendengarkan dari handsfree mengigit bibir, dia menyesal juga takut akan keadaan Jongin. Seharusnya memang dia harus tetap berada di rumah.

Namun, usapan di kepalanya dari Jongdae melegakan sedikit rasa sakitnya. Dan berdoa semoga ucapan terakhir hyung keduanya sebelum keluar dari mobil benar benar terjadi.

"Tidak apa, semua akan baik baik saja. Kyungsoo ya." ucap Jongdae sebelum keluar.

.

.

.

Chanyeol berhenti tidak jauh dari pintu keluar belakang gedung tempat Yixing dan anak buahnya melakukan transaksi malam ini.

Terlihat 5 orang berjaga di belakang gedung, sesuai dengan penjelasan Kyungsoo beberapa menit yang lalu.

Sehun menyerahkan sebuah pisau kecil dari sakunya pada Chanyeol dibalas senyum mengembang di wajah Chanyeol.

Chanyeol tidak mungkin membalas dengan kata kata pada Sehun karena sekarang mereka tengah memakai handsfree dan akan terdengar pada semua orang.

Maka Chanyeol menunggu mainannya keluar dengan senyum menawannya. Benar,mainannya akan keluar sebentar lagi.

Dan semua akan berjalan dengan sempurna.

Yeah, inilah Park dan segala rencananya.

.

.

.

Yixing menatap kolega dari jepang dengan senyum manis, pemuda yang masi muda beberapa tahun di bawahnya itu berjalan pelan menghampiri Yixing yang berdiri di tengah gudang.

"Sesuai dengan permintaanmu, tuan zhang." ucap Yuta sambil melempar koper berisi uang ke meja di depannya.

Seokjin maju dan membuka koper memeriksa apakah sesuai dengan keinginan hyungnya atau ada hal yang lain yang mencurigakan. Setelah dirasa benar Seokjin memberikan koper berisi uang puluhan dollar itu pada bawahannya untuk di amankan dan memberi tau Yixing bahwa ini sesuai dengan perjanjian mereka.

"Sesuai hyung." ucap Seokjin

Yixing tersenyum menampilkan dimplenya sebagai balasan.

"Aku harap kau juga menepati janjimu bahwa transaksi kita tidak akan terbongkar." ucap Yuta menatap tajam pemuda yang lebih tua di depannya.

Meskipun mereka adalah kolega namun Yuta tetap tidak bisa sepenuhnya percaya. Sementara Yixing membalas dengan seringai di wajahnya, sebegitu takutkah anak pejabat di depannya ini jika rahasianya terbongkar. Keh!

"Yuta Nakamoto, anak dari salah satu pejabat di Jepang. Tengah melakukan transaksi dengan salah satu mafia China, wow itu pasti akan jadi topik yang panas!" ucap Yixing sambil menyeringai.

"Tetap pada tempatmu tuan zhang!" balas Yuta geram. Namun hanya di balas tawa oleh Yixing.

Duarrr!

Pintu hancur.

"Kita ada tamu, hyung." bisik Seokjin pada Yixing.

"Aku tau siapa mereka." ucap Yixing sambil menampilkan tersenyum manisnya.

Yixing menatap ke arah pintu masuk yang terbuka akibat ledakan dengan ekspresi senang.

Kelihatannya akan ada yang balas dendam.

Sementara Yuta menampilkan ekspresi kaget dan selanjutnya menatap Yixing tajam.

"Tuan zhang kau berjanji untuk menjaga keamanan transaksi kita!" ucap Yuta marah.

"Maafkan aku, karena sepertinya ada tamu." Yixing sambil tersenyum manis siap menyambut 'tamu' mereka.

.

.

.

.

Baekhyun mengamati pesan yang baru saja dia terima di emailnya dengan tangan gemetar dan peluh bercucuran. Ini tidak sesuai dengan harapannya.

Bukan pesan yang baik, dia takut jika pesan ini akan semakin memperkeruh suasana hati hyungnya. Namun, jika pesan ini tidak disampaikan dia juga akan takut berdampak buruk kedepannya.

Oh,Baekhyun dalam situasi yang sama sama buruk.

Dengan langkah pelan Baekhyun mendekati Kris yang nampak mengerjakan dokumen dengan raut wajah serius.

"H-hyung?" ujar Baekhyun.

Kris menghentikan kegiatannya dan mulai menatap Baekhyun, sedikit mengerutkan kening bertanya dengan gelagat Baekhyun yang terlihat tidak baik.

"Ada apa?" tanya Kris.

"Hyung kau tau-a..aku tidak yakin sebenarnya dengan berita yang aku dengar." ucap Baekhyun gemetar.

"Katakan byun." perintah Kris.

"Hyung, ada yang mengatakan bahwa banyak pihak yang menginginkan kehadiran yixing hyung di korea dalam arti yang buruk." Baekhyun mengigit bibirnya.

"Maksudmu byun?" tanya Kris.

"Menurut analisisku,ini. . .Emm." ucap Baekhyun ragu.

"Katakan yang jelas byun baekhyun!" bentak Kris tidak sabaran.

Kris takut, apapun yang menyangkut kekasih manisnya itu, terlebih sekarang mereka terpisah jarak darat dan lautan.

"Kita terjebak, dengan mengizinkan yixing hyung ke korea!" jawab Baekhyun pada akhirnya.

Brakk!

"Tidak hanya satu pihak yang menginginkan yixing hyung di tangkap di seoul, berbagai macam pihak hyung. Mereka berkomplot untuk memisahkan yixing hyung dari perlindunganmu di china." tambah Baekhyun.

Karena bagaimanapun itu, Kris sebagai tuan dan hyungnya harus tau keadaan dan situasi dari kekasihnya.

Dan Baekhyun siap menerima konsekuensi setelah menyampaikan informasi ini.

"Kurang ajar!" teriak Kris murka.

Pikiran Kris kacau, yang ditakutkan selama ini terjadi. Dan yang membuatnya tersiksa adalah dia tidak bersama dengan kekasih manisnya saat ini.

Oh shit! Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Dia harus segera menyusul Yixing.

Namun suara dari pintu yang di dorong keras dari luar mengalihkan perhatian Kris.

Brakk

"Tu-tuan!" ucap seorang bawahan terbata.

"Tuan muda yixing di jebak dalam transaksi senjata malam ini di seoul, oleh Kim dan orang orang lain yang kami tidak ketahui siapa dia." jelas bawahan itu lagi.

"Byun kau ikut aku sekarang juga ke seoul!" perintah Kris.

"Dan kau!katakan pada hyung untuk mengurus masalah disini!" ucap Kris di balas anggukan sopan bawahannya.

'Yixing, jangan bertindak terlalu jauh. Tunggu gege!'

Dan Kris berjanji akan membunuh siapapun yang telah berani menyakiti kekasihnya barang seinchi sekalipun.

.

.

.

Jongin menatap tajam pria berdimple di depannya. Satu satunya orang yang menjadi akar masalah dari semua masalah yang membuatnya uring uringan dengan kepala berdenyut.

Sementara Junmyeon menatap menyeringai, kali ini dia tidak akan kalah, kali ini kedudukan tidak akan impas. Karena malam ini Zhang Yixing harus tau siapa yang berkuasa di sini.

"Apa aku mengganggu kegiatanmu malam ini?" tanya Junmyeon menyeringai.

Junmyeon dapat melihat anak buah Yixing mulai siaga. Dia juga melihat seorang pemuda yang menjadi patner kolega Yixing malam ini.

"Kau selalu membuat aku kagum kim." ucap Yixing kalem.

"Tuan muda yuta, kita harus pergi." ucap anak buah Yuta melihat keadaan mulai memburuk.

Yuta dan anak buahnya melangkah menjauh keluar dari gedung menuju pintu belakang. Namun, keadaan di belakang gedung justru membuatnya tercekat.

Sehun mengarahkan pukulannya di perut seorang bodyguard yang mampu membuatnya tersungkur di tanah.

"Hai, yuta bagaimana hasil transaksimu?" ujar Chanyeol yang sudah selsai lebih dahulu dengan pistol di tangan kanannya.

Dapat di lihat beberapa anak buah Yixing tergeletak tidak berdaya.

Dorr

Dan tembakan itu mampu membuat sekujur tubuh Yuta membeku, anak buah yang berdiri disampingnya di tembak tepat di kepala.

.

.

.

"Kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi, zhang yixing" ucap Junmyeon dengan seringai.

Yixing tersenyum menampilkan dimplenya, sebegitu berambisi seorang Kim Junmyeon untuk menangkapnya.

"Hyung, ada orang dalam mobil tidak jauh dari pintu masuk." bisik Seokjin.

Oh ini menarik, bisa melihat amarah ketiga Kim.

"Jadi, apakah yang di dalam mobil itu adik kalian?" tanya Yixing menatap wajah Kim yang memucat.

"Hancurkan!" ucap Yixing dengan seringai.

"Baik, hyung." balas Seokjin.

Selanjutnya Seokjin menyuruh bawahannya menghancurkan mobil Junmyeon yang di dalamnya ada Kyungsoo.

Yang ditakutkan para Kim terjadi, dengan bunyi ledakan berasal dari luar membuat senyum Yixing mengembang.

Duarr

Wajah Jongin juga Jongdae memucat.

"Brengsek!" teriak Jongin

"Kyungsoo, jawab aku. Kyungsoo!" teriak Jhope pada handsfree.

Namun tidak ada balasan dari Kyungsoo.

"Sekarang, bagaimana kim?" tanya Yixing.

"Kau akan menyesal!" balas Jongdae menatap tajam.

Junmyeon tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Wajahnya menggelap membuat Yixing menghilangkan senyum dan menatap Junmyeon datar.

Jongin dan Jongdae yang di liputi rasa marah segera menghabisi anak buah Yixing dengan pukulan dan tendangan.

"Jongin buat mereka berpencar, kau urus mereka, biar aku urus zhang yixing sendiri!" desis Junmyeon diliputi amarah.

Selanjutnya, Junmyeon mengeluarkan senjata api dari dalam sakunya dan mulai menembak bawahan Yixing.

Dorr

"Oh shit!" umpat Jongin mulai mengeluarkan senjata api dan benar benar membuat anak buah Yixing berpencar.

Yang kemudian terjadi baku tembak. Mereka mencoba untuk bersembunyi di antara drum drum kosong sambil saling menembak.

Dor! Dor! Dor! Dor!

Yixing yang bersembunyi di balik drum melempar granat ke dekat persembunyian Kim.

Duarr

Seokjin berusaha membawa lari Yixing, mengamankan hyung serta tuan mudanya karena Yixing tidak bisa berkelahi jarak dekat. Dan itu yang Seokjin takutkan.

Karena ketika Seokjin menatap bola mata Junmyeon, dia seperti merasa ada sesuatu dalam diri Junmyeon yang mencoba keluar. Seperti iblis.

Seokjin fikir hyungnya salah ketika memancing amarah Kim bersaudara dengan meledakkan mobil tadi. Karena hal itu Seokjin menarik lengan Yixing untuk menjauh pergi.

"Kau tidak akan bisa lari, zhang!" teriak Junmyeon geram menembak lengan kanan Seokjin.

"Akh!" erang Seokjin kesakitan.

"Bunuh dia!" perintah Yixing geram, pada anak buahnya.

Junmyeon tidak peduli lagi dengan baku tembak yang terjadi, dia keluar begitu saja dari perlindungan dan melangkah mendekati Yixing dan Seokjin.

Junmyeon benar benar marah saat ini.

Jongin yang tau hal itu segera mengcover Junmyeon bersama Jongdae menembak setiap bawahan Yixing yang mengincar hyungnya.

Seorang anak buah Yixing berlari berniat memukul Junmyeon dengan balok kayu namun Junmyeon dengan pandangan mata menggelap justru menahan dengan telapak kanan dan tangan kiri meninju bagian perut lalu merebut tongkat dan memukul samping kepala bawahan Yixing keras sampai darah bercucuran deras dari kepala.

Yixing yang sedang memegangi tangan Seokjin di buat melebarkan kedua bola matanya menatap Junmyeon.

Karena Junmyeon yang ada saat ini adalah sosok iblis yang selama ini berdiam lama dalam dirinya.

Junmyeon melangkah semakin lama semakin dekat, membuat Yixing melempar granat ke arah Junmyeon bermaksud menghentikan Junmyeon yang terus mendekat namun justru ketika granat itu melayang, Junmyeon memukul dengan tongkat hingga berbalik arah kembali ke arah samping kanan Yixing.

Duarr!

"Sialan kau kim!" umpat Yixing menatap tajam Junmyeon.

Namun, Junmyeon hanya menatap tanpa ekspresi dan mengarahkan senjata api ke arah Yixing dan-

Dor!

Yixing tidak sempat mengelak.

"Hyung awas, ukh!" Seokjin yang melihat Junmyeon segera melindungi Yixing, akibatnya bahu belakang sebelah kanannya ikut terluka.

"Seokjin!" teriak Yixing.

Junmyeon terkekeh pelan, jadi benar kata Jhope bahwa seorang Zhang Yixing tidak bisa berkelahi jarak pendek. Dia hanya bisa melawan musuh dengan jangkauan jarak jauh.

"Kau akan kalah zhang!" Junmyeon menyeringai.

"Hyung pergi." Seokjin memperingati.

"Oh shit!" umpat Yixing.

Suara pintu yang di tendang dari arah pintu samping gudang membuat beberapa orang menatap kedatangan 2 orang laki laki.

Brakk!

"Kami sudah selesaikan bagian belakang hyung!" ucap Sehun tersenyum samar melihat kekacauan di depannya.

Yixing menatap nanar kedatangan Sehun dan Chanyeol, jadi dia saat ini di jebak?

Jongin, Jongdae dan Jhope terkekeh.

Bukan hanya Kim? Oh shit!

Hingga Yixing di tarik dengan susah payah oleh Seokjin untuk bersembunyi. Dan bertepatan saat itu juga seorang anak buahnya menembak sebuah drum yang ada di tumpukan atas dan tanpa diduga drum itu masih terisi sedikit minyak.

Setidaknya cukup,

Yixing yang melihat kesempatan itu menembakkan senjata berakhir menyebapkan ledakan.

Dor

"Hyung awas!" Jhope berteriak memperingatkan setelah menembak mati bawahan Yixing tadi.

Duarr

Jongin menarik Jongdae menjauh dari ledakan.

"Oh shit, knapa dia suka sekali dengan ledakan?!" umpat Jongin.

Perbuatan Yixing benar benar membuat gedung terbakar. Hal itu membuat Yixing tersenyum dia bisa memanfaatkan untuk menggotong Seokjin keluar dengan melewati tumpukan tumpukan kayu di belakang drum ke arah pintu keluar.

Namun, Yixing salah jika menganggap Junmyeon berhenti untuk menangkapnya.

Junmyeon yang langsung sadar setelah ledakan mulai mencari Yixing dan tersenyum iblis kala melihat Yixing kesulitan.

Junmyeon memukul drum dengan tongkat kayunya membuat Yixing terkejut dan memucat. Sungguh baru kali ini Yixing benar benar merasa takut.

Seandainya Kris ada disini.

Brakk

"Mau kemana kau zhang?" tanya Junmyeon.

Yixing tidak bisa untuk bersembunyi lagi. Maka Yixing melangkah keluar dari belakang drum.

"Mati saja kau kim!" umpat Yixing mengarahkan senjata api ke kepala Junmyeon.

Namun Junmyeon bergerak cepat ketika Yixing keluar dari tumpukan drum kosong mengacungkan senjata detik itu juga tongkat Junmyeon melayang memukul telak tangan Yixing, menyebabkan senjata terlempar menjauh.

Yixing mengerang kesakitan kala tangannya terkena balok kayu, dengan marah melayangkan pukulan ke wajah Junmyeon namun Junmyeon lebih cepat menghindar, menangkap tangan yang memiliki jemari lentik itu dan memutarnya kebelakang.

"Arrgh!" Yixing mengerang kesakitan.

"Biar aku tunjukkan padamu siapa yang berkuasa disini,hm!" Junmyeon merapatkan tubuhnya pada Yixing.

Dan entah datang setan dari sana Junmyeon sambil membisikkan kalimat tersebut sambil mengigit telinga Yixing.

"Ah!"

Junmyeon menendang kaki Yixing hingga terpaksa berlutut.

Dukk

"Akh!"

"Aku tidak menyangka akan sangat menikmati wajah kesakitanmu." ucap Junmyeon.

Bugh!

Tengkuk Yixing di pukul menggunakan balok kayu oleh Junmyeon membuat Yixing kehilangan kesadaran dan semua pandangan menjadi gelap.

"Borgol lalu bawa dia ke mobil!"

.

.

.

.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan park" Jongdae menatap Chanyeol yang sedang mendongak menatap gugusan bintang.

Malam ini semua berjalan sempurna meski sedikit susah juga menghadapi Yixing.

"Hahahaha memangnya apa hyung." tawa Chanyeol masi menatap langit.

Begitu menikmati suasana dingin malam ini dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya.

"Apa yg kau rencanakan?" geram Jongdae.

Sejujurnya, Jongdae mendapat misi untuk mengetahui apa maksud bergabungnya Park dalam misi mereka tanpa ada hal hal yang menurut mereka berhubungan dengan Park.

Dan itu membuat Jongdae benar benar ingin tau apa alasan keikutsertaan Park.

"Dibandingkan kau bertanya apa saja yang aku rencanakan hyung seharusnya bertanya apa saja yang aku tau." balas Chanyeol menampilkan seringai pada Jongdae.

"Apa maksudmu?" desis Jongdae merasa di permainkan.

"Aku tau banyak hal hyung." ucap Chanyeol.

Entahlah, menatap sosok hyung di depannya ini ketika geram menarik juga. Jarang jarangkan Jongdae yang memiliki pembawaan tenang dan selalu bisa mengontrol emosinya menjadi seperti ini.

Jongdae menatap tajam pada Chanyeol merasa bahwa percuma saja bicara dengan orang idiot di depannya ini. Jongdae jika diperbolehkan ingin menguliti Chanyeol atau memutilasi sekalian.

"Akan aku sampaikan langsung." ucap Chanyeol menghadap Jongdae.

"Aku tau banyak hal tentangmu hyung." tambah Chanyeol

Jongdae tercekat tidak percaya dengan kata kata Chanyeol, namun detik berikutnya ekspresinya berubah datar.

Tidak mungkin Chanyeol mengetahui rahasinya selama ini, bahkan Junmyeon saja tidak tau.

Ini pasti bualan Chanyeol atau sebagian permainannya.

"Tutup mulutmu park." geram Jongdae

"Hahaha." tawa Chanyeol semakin meledak, ternyata sosok di depannya ini sulit juga.

"Aku tau siapa sebenarnya kau hyung." balas Chanyeol menampilkan tersenyum miringnya.

"Keparat." umpat Jongdae.

"Bergabunglah denganku hyung." tawar Chanyeol seraya mengarahkan tangannya ke depan dengan telapak tangan terbuka ke atas. Gestur untuk memberi ajakan

"Aku menawarkan perlindungan untukmu." ucap Chanyeol menyakinkan.

Kata kata Chanyeol membuat sekujur tubuh Jongdae membeku.

Jadi Chanyeol benar benar tau akan rahasianya.

Dia benar benar tau?

Ya, Chanyeol bersungguh sungguh.

"Daripada kim yang belum tentu akan menerimamu setelah tau apa yang sudah kau perbuatan di belakang mereka." ucap Chanyeol serius.

"Bergabunglah karena rasa sakit yang kau pendam hyung dan aku akan membantumu membalasnya." tambah Chanyeol.

"Karena kau seperti kartu as untukku, hyung"

Dengan kata kata itu, Jongdae benar benar dibuat merasa kalah.

Kalah akan sebuah rasa sakit.

Kalah akan sebuah pilihan yang sulit.

.

.

.

.

TBC

.

A/n :

Haii~

Apa kabar?

Chap kali ini berhasil membuat saya frustasi sendiri, maaf karena terlambat 4 hari, karena 2 hari saya ada acara keluarga jadi mau tidak mau harus pending. Ketika saya menitipkan pesan pada D'Xp saya berjanji akan update senin atau selasa dan ini masi hari selasa bukan? Hehehe..

Maaf ya maaf sekali,

Saya berharap kalian akan menikmati setiap cerita dari semua tokoh karena kisah mereka saling berhubungan.

Terimakasih untuk reviewnya saya sangat suka, saya akan berusaha keras lagi. Terimakasih banyak~

So review please~

Siap siap chapter 5 milik HeartBreaker looh D'Xp sudah siap itu kekeke

Luce,

15 November 2016