Setelah Seungcheol sadar atas fanservice yang mungkin terlalu berlebihan bagi Jeonghan empat hari yang lalu, Seungcheol sangat menyesal. Gara-gara itu, interaksi antara dirinya dan Jeonghan jadi merenggang. Seungcheol merutuki dirinya sendiri. Pendekatan itu memang butuh waktu, salahkan dirinya yang tidak sabaran. Gara-gara fanservice-nya yang berlebihan Jeonghan jadi menjauh. Mungkin Jeonghan belum siap.
Sekarang Seungcheol sedang berada di kantin. Duduk termenung sendirian sambil makan roti selai kacang, makanan andalan sekolahnya. Kini Seungcheol tengah berpikir, bagaimana cara ia make up dengan Jeonghan. Seungcheol mengacak rambutnya kasar. Calon pacarnya makin menjauh darinya, membuatnya sedikit stres. 'kan selama ini, Jeonghan yang mewarnai hidupnya. Walaupun terdengar agak hiperbolis, tapi diakuinya memang seperti itu. Jeonghan mewarnai hidupnya. Setidaknya, jadi agak lebih baik dan Seungcheol bisa jadi dirinya jika itu di depan Jeonghan. Duh, sekarang Seungcheol jadi tambah merindukannya.
"Tuhan aku harus apa?" gumam Seungcheol menundukkan kepalanya dalam.
"Kau serius menjauhi Seungcheol? Gara-gara kau menjauh, dia jadi uring-uringan begitu, Hyung." Ucap Seungkwan sambil menyesap yogurt yang baru saja diantarkan Hansol untuknya. Yang tadi barusan ditanya malah diam saja sambil mengacak dan mengaduk-aduk spagetinya.
"Hyung," Seungkwan menepuk pundak Jeonghan."Kenapa kau mengabaikanku?"
Jeonghan menghela napasnya berat. "Sudahlah, Seungkwan-ah. Dia itu Cuma ingin mempermainkanku. Seungcheol itu playboy." Jawab Jeonghan seadanya.
Seungkwan duduk menghadap Jeonghan supaya lebih nyaman untuk bicara dengan Jeonghan.
"Hyung, dia itu suka padamu dengan tulus. Aku yakin itu. Jadi, kuharap jika Seungcheol menyatakan perasannya padamu, terima saja."
Jeonghan lemas. Lemas sekali ketika Seungkwan bilang seperti itu. Mungkin Seungkwan bilang Seungcheol naksir padanya. Tapi yang dipikirannya? Berbanding terbalik. Seungcheol hanya main-main padanya. Itu yang ada di pikiran Jeonghan. Kenapa bisa dirinya bilang seperti itu? Karena banyak yang suka dengan Seungcheol. Walaupun tidak menyukai secara terang-terangan, tetap saja. Seungcheol itu banyak penggemarnya, apalagi dari kelas lain.
"Sudahlah, Seungkwan-ah. Yang suka sama Seungcheol itu banyak. Aku sudah tahu. Lagi pula aku suka dengan si ketua osis sepertinya." Jawab Jeonghan.
"Kau serius? Seungcheol itu siswa yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang suka padanya. Dan si ketua osis? Jangan!"
Kenapa bisa Seungkwan seperti ini? Apa dia sudah disuap oleh Seungcheol sehingga Seungkwan bisa memaksanya hingga seperti ini. Memangnya kenapa dengan si ketua osis? Lagi pula, si ketua osis itu tidak buruk. Ya, tidak buruk untuk dijadikan 'crush' bohongan. Tidak ada tujuan lain, Jeonghan hanya ingin Seungkwan tidak lagi membahas tentang Seungcheol, pinjam sebentar nama ketua osis, menurutnya bukanlah hal kriminal.
"Ah sudahlah, aku tidak mau membahas tentang Seungcheol lagi. Dia itu Cuma teman sekelas, bagiku." Jeonghan bangkit dari tempat duduknya, melepaskan tangan Seungkwan dan pergi begitu saja.
"Aku tidak habis pikir dengan Seungkwan. Dia kenapa sih?" tanya Jeonghan sendiri dalam hati.
Pikirannya kalut sekarang. Seungcheol jadi uring-uringan karenanya? Yang benar saja. Memangnya Jeonghan punya magis apa bisa membuat Seungcheol jadi seperti itu. Tapi mendengar kabar seperti itu, membuat Jeonghan merasa bersalah. Seharusnya kan dia tidak seperti itu, apalagi mereka di dalam kelas yang sama. Entahlah Jeonghan bingung.
"Lebih baik, aku ke perpustakaan saja." Batin jeonghan dalam hati.
"Yoon Jeonghan!"
Jeonghan menoleh. Seungcheol memanggilnya, untuk apa?
Senyum Seungcheol mengembang saat Jeonghan menoleh kepadanya, dengan cepat Seungcheol beringsut berlari ke arahnya.
Kenapa anak itu berlari-lari saat di tangga? Kalau terjatuh bagaimana?
Kata Jeonghan dalam hati.
"Ehm," –Seungcheol mencoba untuk menetralkan suasana dengan berdehem. "Ada yang ingin aku bicarakan," Lanjutnya.
"Apa? Katakan saja." Jawab Jeonghan santai. Sebisa mungkin ia mengatur airmuka nya sekarang. Jangan sampai ia terlihat gugup di depan Seungcheol.
"Bagaimana jika disana?" Seungcheol mengangkat jari telunjuknya ke atas. Maksud Seungcheol itu di atap.
"Baiklah."
Dan mereka berdua pergi ke atap. Berdua. Entah membicarakan apa.
Sekarang mereka berdua sudah berada di atap ditemani dengan semilir angin sepoi-sepoi yang menampar wajah mereka. Rambut Jeonghan yang panjang sebahu sampai terbang dibuatnya. Sudah lebih dari lima menit mereka disini. Tanpa suara dan tanpa kata yang terucap.
Jadi tujuannya kesini, hanya untuk ditampar angin? Lebih baik pulang saja jika begitu.
"Jeonghan," Panggil Seungcheol. Akhirnya bersuara juga.
Jeonghan menoleh. Matanya seolah berkata "Apa" pada Seungcheol.
"A-Aku, Aku minta maaf,"
Jeonghan tak bergeming. Lebih tepatnya ia bingung.
"Minta maaf untuk apa?"
"Entahlah kukira aku harus minta maaf padamu. Aku tidak tahu persis kesalahanku itu apa, aku hanya ingin minta maaf saja." Jawab Seungcheol final.
Kali ini Jeonghan yang semula berdiri jauh dari Seungcheol, berjalan mendekati Seungcheol.
"Kau tidak perlu minta maaf jika kau tidak melakukan kesalahan, Seungcheol."
"Aku melakukannya karena kau menjauhiku, itulah sebabnya aku minta maaf padamu."
Seungcheol memindahkan tangannya yang bersandar pada balkon atap ke bahu Jeonghan. Sambil menatap mata Jeonghan dalam, meminta ketulusan dan kepastian disana.
"Aku minta maaf, maafkan aku ya?"
Dan Jeonghan melihat keseriusan di matanya Seungcheol. Seperti terhipnotis, Jeonghan menganggukkan kepalanya sembari berkata, " Eo~ aku memaafkanmu."
Jeonghan dan Seungcheol. Mereka pulang bersama. Tangan seungcheol dengan bebasnya melingkar di bahu Jeonghan. Dan Jeonghan tidak mempermasalahkannya. Seungcheol agak tenang, karena tidak seperti biasanya jika kena sentuh sedikit Jeonghan bisa melayangkan tangannya di area mana saja dan yang paling parah, dirinya bisa mencium tanah gara-gara jeonghan yang menarik dasinya hingga ke bawah. Itu sih dulu, sekarang Jeonghan sudah jinak. Memikirkannya membuat Seungcheol terkekeh.
"Kau kenapa tertawa? Ada yang lucu?"
Dengan cepat Seungcheol menjawab, "Tidak. Tidak ada."
Jeonghan benar-benar jinak sekarang, karena masalah sekecil itu pun, tidak lagi di permasalahkannya.
Setelah agak lama mereka berjalan, mereka sampai bus juga. Hari sudah sore, yang naik bus agak banyak karena orang-orang pulang dari kerja. Melihat pemandangan dalam bus yang ramai, membuat jeonghan penat juga, ditambah lagi badannya yang terasa remuk. Jeonghan jadi ingin cepat-cepat pulang.
"Jika kau lelah, kau bisa bersandar di bahuku untuk sementara." Kata Seungcheol saat mereka berdua sudah duduk di bangku bus.
Jeonghan langsung menyanggah pernyataan seungcheol cepat. "Tidak, tidak perlu Seungcheol-ah."
Sepertinya jeonghan benar-benar lelah, sampai ia tidak sadar jika ia menyapa seungcheol dengan ahiran –ah dibelakangnya. Seungcheol mengulas senyum tipisnya.
"Ya sudah jika seperti itu maumu."
Seungcheol agak sedikit kecewa karena Jeonghan tidak mau bersandar padanya. Tapi tidak apa karena ia punya cara lain.
Seungcheol mengeluarkan ponsel beserta earphone-nya dari tas. Dicarinya lagu yang bernada sendu di ponselnya. Lalu memasangkan earphonenya ke telinga Jeonghan. Beruntungnya Jeonghan menurut saja, mendengarkan lagu yang diberikan nya.
Agak lama, Seungcheol merasakan bahunya makin berat. Ada beban lain di bahunya. Ya, itu kepalanya Yoon Jeonghan. Jeonghan kelelahan ditambah lagi dengan lagu yang mengundang untuk tertidur, Jeonghan memejamkan matanya.
"Cantik sekali," Seungcheol merapikan poni Jeonghan yang menutupi matanya.
"Sumpah, aku menyukaimu Yoon Jeonghan."
"Maaf ya."
Seungcheol mengerutkan keningnya.
"Untuk?"
Jeonghan menundukkan kepalanya.
"Kau pasti keberatan, itu, yang tadi."
Seketika Seungcheol mengerti arah pembicaraan Jeonghan.
"Ohh! Tidak apa. Aku tahu kau kelelahan. Santai saja."
Jeonghan Cuma bisa menyunggingkan senyum canggungnya.
Seungcheol mengantar Jeonghan sampai rumahnya. Dan sekarang mereka ada di depan pagar rumah Jeonghan. Keduanya bingung, bagaimana untuk mengakihiri percakapan ini.
"Ehm,"
"Aku, pulang ya."
Jeonghan menganggukkan kepalanya, mengiyakan Seungcheol.
"Hati-hati ya, Seungcheol." ucap Jeonghan.
"Dah~"
Seungcheol melambaikan tangannya pada Jeonghan
"Dah Seungcheol, aku duluan."
Jeonghan balas melambaikan tangannya pada Seungcheol lalu menghilang masuk ke dalam rumahnya.
Seungcheol takjub. Ada perasaan aneh seperti ada yang menggelitik di perutnya membuatnya tidak bisa untuk tidak tersenyum.
.
.
To be continued
.
.
A/N :
waaaa aku nulis sudah ch.4 yah huhu. sudah ch.4 tapi yang review segitu-gitu aja. sepertinya tidak ada yang baca ya? entahlah~ saya sebagai penulis sangat mengharapkan review yang berisi komentar/? yang bisa memotivasi untuk melanjutkan cerita ini~untuk yang sudah baca dan review serta follow/fav story, terima kasih yaa saya akan menulis lebih baik lagi. kalo banyak yang review saya bakalan cepet loh updatenya~ makanya ditunggu reviewnya~ bye~
