Chapter 3
Kyungsoo terus menjelaskan sesuatu yang harus dilakukan Baekhyun dalam kelas nanti. Bagaimana caranya menyerap pelajaran dengan baik. Kemudian mencatat dengan cepat supaya pelajaran yang dijelaskan tidak sia-sia.
Pemuda bermata bulat itu khawatir karena selama ini Baekhyun selalu bergantung pada buku catatan miliknya.
"Jadi nanti catat hal yang penting menggunakan pena merah, paham!?" Baekhyun menekuk bibirnya ke bawah. Masih belum sanggup menerima kenyataan jika Kyungsoo akhirnya berpisah kelas dengannya.
"Kau tidak akan mati hanya karena berpisah kelas denganku, Baek!" Kyungsoo kesal dan sedikit risih karena Baekhyun terus memandangnya dengan mimik wajah berkabung.
"Kau tahu aku hanya baik dalam pelajaran kesenian. Nilai kesenian tidak mampu mengatrol nilai-nilai ku yang lain, Soo"
Kyungsoo mengaduk mie instan yang dipesan karena kebetulan tidak sempat sarapan. Sementara Baekhyun hanya memesan air mineral.
"Bagaimana kalau kita pergi ke pusat mading? Di sana ada daftar siswa. Mungkin saja ada salah satu dari teman kita yang satu kelas denganmu?" tawaran Kyungsoo tidak menarik. Baekhyun hanya ingin satu kelas dengan sahabatnya itu saja. Mungkin semua guru di sekolah ini sengaja memisahkan mereka karena tahu jika otak udang Baekhyun hanya sia-sia tanpa seorang Kyungsoo.
"Kau tahu? Aku sedang kesal dengan Krystal!" Kyungsoo mengangkat kepala tanpa berniat meninggalkan mie instan di depan wajah.
"Kenapa?"
"Dia itu kenapa semakin hari semakin aneh. Bisa-bisanya memonopoli ponselku" Kyungsoo mengangguk saat mendengar orasi Baekhyun.
"Aku rasa dia tidak salah seratus persen. Paket data malam milikmu jadi tidak sia-sia" Baekhyun melirik sahabatnya penuh selidik.
"Jangan-jangan kau satu spesies dengan Krystal ya!?" tembak Baekhyun dengan telunjuk. Membuat Kyungsoo hampir terjungkal karena terkejut.
"Baek, berhenti mengoceh atau ku tusuk hidungmu dengan garpu!" keduanya kemudian terbahak karena kekonyolan yang terjadi.
Baekhyun mencoba berdamai dengan nasibnya. Mereka hanya pisah kelas, bukan pisah sekolah. Masih bisa bertemu saat jam istirahat, di kantin misalnya. Atau bertemu saat pelajaran olah raga, kelas renang. Sebab kolam renang hanya dibuka tiga kali seminggu. Per kelas akan digabung untuk alasan kebersihan. Untung fasilitas kolam renang mereka cukup besar. Bisa menampung banyak orang dewasa.
Terlalu seru bersenda gurau. Baekhyun dan Kyungsoo baru sadar jika kantin sudah sepi. Semula masih banyak siswa atau siswi menikmati jajanan pagi. Kini sisa mereka berdua saja.
"Baek, apa kau merasakan hal yang sama?" Kyungsoo bertanya dengan nada horor. Baekhyun terbawa suasana menanggapi dengan anggukan patah-patah.
"KITA TERLAMBAT!" / "KITA TERLAMBAT!" teriakan serempak dibarengi dengan acara bangkit dari kursi kantin. Mereka berlari tunggang langgang tidak peduli jika menabrak tong sampah. Kyungsoo dan Baekhyun masih menyempatkan pelukan perpisahan sebelum berjalan ke kelas masing-masing yang berlawanan arah.
"KYUNGSOO, NANTI BERTEMU DI KANTIN LAGI!" teriakan tidak tahu malu Baekhyun itu menggema di antara lorong sekolah. Ia mengatur nafas sebelum masuk ke dalam kelas.
-Rhapsody-
Kepala sekolah sekaligus guru Fisika itu berdiri di depan kelas. Mengernyit bingung karena pintu kelas terbuka cukup keras, dan menampakkan sosok Baekhyun yang tengah tersengal.
Kaca matanya sedikit diturunkan. Salah satu pembuat onar yang sudah memenuhi buku guru BP. Memang Baekhyun masuk ke dalam jajaran siswa tidak terpuji karena sering membuat gaduh. Juga hobi Baekhyun menyalin tugas teman sebangkunya selama dua tahun berturut-turut. Itulah mengapa atas pertimbangan dan keputusan Suho. Baekhyun serta Kyungsoo dibedakan kelasnya.
Baekhyun dan Suho itu tidak pernah satu pemikiran. Mereka sering sekali berdebat. Dan perdebatan legendaris saat itu adalah tentang bumi itu bulat atau lonjong.
"Byun Baekhyun" cengiran Baekhyun menjadi sambutan pertama. Matilah dia. Hari macam apa ini? Sudah beda kelas dengan Kyungsoo. Terlambat masuk kelas. Bertemu dengan guru Kim pula.
"I-iya pak"
"Darimana saja?" Baekhyun menggaruk belakang kepalanya. Bingung mencari alasan yang sedikit masuk akal. Ia sedang malas berdebat, terlebih ini hari pertama ia masuk kelas baru.
"Maaf pak, saya salah masuk kelas. Saya pikir masih kelas yang lama"
"Apa kau tidak melihat mading? Ya sudah sana duduk" Baekhyun mengedarkan pandangan pada seluruh penjuru kelas baru yang akan ditempatinya sampai lulus nanti. Jumlah siswa sekitar 30 orang itu dipenuhi wajah baru yang hanya dikenal Baekhyun beberapa saja.
Ia tersenyum kala Yixing dan Jongdae melambaikan tangan tidak seberapa tinggi. Syukurlah masih ada teman sekelasnya dulu.
Tidak ada bangku kosong. Sebenarnya ada. Tapi bangku itu ditempati oleh sebuah tas yang Baekhyun yakin harganya sangat mahal. Karena merek itu tidak akan mampu dibeli oleh siswa biasa sepertinya.
Bangku nomor dua dari belakang dengan seorang laki-laki berwajah datar. Itu tempat strategis seharusnya karena di depan ada Jongdae juga Yixing. Jadi Baekhyun tidak perlu merana terlalu dalam karena kehilangan Kyungsoo.
"Pak, tidak ada bangku kosong?" Baekhyun masih berdiri di depan kelas. Mengadu pada Suho jika tidak ada bangku untuknya duduk. Suho ikut mengedarkan pandangan. Dahinya berkerut heran karena hanya bangku milik Chanyeol yang kosong. Tidak apa-apa ini awal yang baik karena Chanyeol adalah anak pendiam juga pintar. Siapa tahu hal itu akan menular pada Baekhyun.
"Park Chanyeol, tolong singkirkan tasmu biar Baekhyun duduk di sana"
"Tidak bisakah dia mencari bangku lain?" Baekhyun membulatkan mata. Sialan! Dia sudah ditolak.
"Hey bung, kita bayar sama rata setiap bulannya. Aku juga bayar uang gedung. Apa tas mu membayar iuran juga?" satu kelas tertawa mendengar ocehan Baekhyun.
Tanpa menunggu jawaban berikutnya dari Chanyeol. Baekhyun berjalan ke belakang. Mengangkat tas mahal Chanyeol dan meletakkan di depan pemiliknya. Sehun yang duduk tepat di belakang bangku Chanyeol hanya bisa menyenggol lengan Jongin. Menahan tawa geli karena aksi lawak Baekhyun barusan.
Chanyeol itu pembawaannya memang tenang, tapi menusuk. Ia tidak akan meladeni hal yang menurutnya remeh seperti Baekhyun ini.
Dua tahun duduk sendiri dan sekarang harus berdampingan dengan pemuda aneh seperti Baekhyun sungguh membuat Chanyeol sakit kepala.
"Sudah tertawanya! Siapkan buku catatan dan catat materi yang saya tulis di papan" Suho memberi instruksi.
"Aku Byun Baekhyun" Baekhyun sedikit berbisik. Meskipun tadi sempat berdebat. Tapi ia masih memiliki adab dengan memperkenalkan diri untuk teman sebangkunya ini. Karena bagaimanapun mereka akan duduk berdampingan selama satu tahun ke depan.
Chanyeol hanya melihat uluran tangan Baekhyun. Bukannya balas menjabat, ia malah sibuk mengeluarkan buku catatan serta alat tulis.
Baekhyun mengibas-ngibaskan tangannya di udara. Tapi kemudian disambut oleh Jongin yang sedikit bangkit. Dari tadi Jongin dan Sehun tidak pernah mengalihkan pandangan dengan tingkah Baekhyun. Jujur saja Baekhyun itu lucu, cerewet, tapi terlihat masih polos. Itu tidak bisa dipungkiri dari sikapnya yang alami tanpa berusaha menutup dengan kemunafikan.
"Hai, namaku Kim Jongin. Dan dia-" Jongin melirik Chanyeol yang fokus menatap papan tulis. "-Park Chanyeol. Sikapnya memang dingin. Tapi dia baik. Percayalah. Dan di sebelahku ini namanya Oh Sehun" Baekhyun menghadap belakang untuk melirik Sehun yang kini tengah tersenyum padanya.
Demi apa tangannya dijabat oleh orang tertampan di Sekolah. Oh astaga rasanya Baekhyun tidak akan mencuci tangannya seminggu. Dijabat oleh kapten basket seperti Jongin. Karena jujur, Baekhyun ingin seperti Jongin. Sudah tampan, terkenal, dan baik hati. Bukan seperti manusia di sampingnya sekarang.
"Selamat bergabung, semoga kau betah berada di lingkaran kami"
Baekhyun bisa menyimpulkan jika lingkaran yang dimaksud Jongin adalah mereka bertiga. Terdiri dari 3 orang tampan dengan sifat masing-masing. Jadi ini yang dijuluki pangeran sekolah. Formasinya ada 3 orang.
-Rhapsody-
Chanyeol memegang sebelah telinganya dengan kesal. Ini baru setengah jam mereka duduk bersama dan Chanyeol sangat terganggu. Tetangga sebelahnya itu tidak tahu diri. Mengoceh di jam pelajaran. Kadang menyanyi random.
Dari setengah jam itu total Baekhyun bisa melakukan banyak kegiatan yang Chanyeol sendiri tidak paham. Bukunya berserakan sampai melewati meja Chanyeol. Alat tulisnya pun demikian. Sepatunya dilepas, dan kaki dilipat di atas kursi. Seperti tarzan jika Chanyeol bisa simpulkan.
Kemudian Chanyeol harus memecah konsentrasinya sebab Baekhyun terus mengobrol dengan bangku deretan depan. Bisakah mereka nostalgia nanti saja di jam istirahat?
"Iya aku sedih karena tidak bisa satu kelas dengan Kyungsoo" Baekhyun memulai ceritanya pada Jongdae dan Yixing.
"Ada kita, Baek"
"Bisakah kalian diam!" suara berat Chanyeol terdengar menakutkan. Yixing dan Jongdae otomatis memutar tubuhnya untuk menghadap depan kembali. Semantara Baekhyun hanya menampilkan wajah tengil.
"Ku pikir tidak ada orang di sampingku!" Chanyeol menoleh. Dilihatnya Baekhyun yang mulai sibuk dengan buku catatan.
"Aku orang"
"Oh benarkah? Ku pikir kau hantu tak kasat mata" Chanyeol membanting penanya keras. Tersinggung dengan ucapan Baekhyun.
"Sebenarnya aku malas meladeni orang bodoh sepertimu ini. Tapi aku rasa sekarang perlu. Kau bukan level ku" Baekhyun terkekeh remeh.
"Aku juga tidak ada maksud untuk masuk ke dalam levelmu"
"Dan aku tidak berteman dengan orang pendek!" Baekhyun sungguh reflek saat menjewer telinga Chanyeol. Satu, karena sejak tadi dia gemas. Bagaimana bisa ada telinga manusia selebar itu. Kedua, karena ia kesal dengan kata pendek yang baru saja diucapkan Chanyeol.
"Kau menjewerku!? Dasar kurang ajar!"mereka berdua sama-sama berdiri. Seolah bersiap untuk saling adu pukul.
"Kau juga kurang ajar mengatai fisik seseorang! Itu body shaming namanya. Kau bisa dituntut atas pencemaran nama baik"
"Tuntut saja" tantang Chanyeol tak kalah berani.
"Ya! Sudah cepat kalian duduk sebelum pak Kim turun tangan" Jongin kuwalahan menengahi dua orang di depannya itu. Bukan apa-apa, jika guru Kim tahu itu tidak akan berakhir baik.
"DIAM!" / "DIAM!" Baekhyun dan Chanyeol berteriak serempak. Itu sebenarnya ditujukan untuk Jongin yang berusaha melerai. Tapi mereka salah besar. Teriakan itu justru terdengar sampai ke telinga guru Kim.
"Siapa yang kalian perintahkan untuk diam?" Chanyeol dan Baekhyun satu-satunya yang berdiri hanya mampu menunduk ketika guru Kim bersuara.
"Ini hari pertama kalian sudah membuat onar! Saya tidak suka ketika menjelaskan materi tapi ada siswa yang sibuk sendiri. Kalian itu sekolah supaya pintar. Byun Baekhyun dan Park Chanyeol. Bersihkan lapangan dan kamar mandi lantai satu. Jangan coba-coba kabur sebelum hukuman kalian selesai" Suho sudah menduga sejak awal. Baekhyun selalu saja membuat masalah.
"Pak, ini semua karena si pendek ini" Suho membulatkan mata. Tersinggung dengan ucapan Chanyeol tentang tinggi badan.
"Park Chanyeol! Keluar sekarang juga kalian!"
Setelah dipaksa untuk keluar kelas. Baekhyun mengumpat keras melihat betapa luas lapangan sekolah mereka ini.
Masing-masing dari mereka sudah memegang sapu untuk membersihkan daun yang gugur atau bungkus bekas cemilan para siswa.
"Dasar tuan muda! Memegang sapu saja tidak becus" cibir Baekhyun pada Chanyeol yang sejak tadi hanya berputar-putar pada tempat yang sama. Bukannya menyapu, sampah di sana malah diobrak-abrik.
"Ini semua gara-gara kau ya pendek sialan!"
Baekhyun berkacak pinggang. Menyaksikan Chanyeol menyapu dengan susah payak.
"Kau ini ku kira pendiam. Tapi sekali bicara ucapanmu cukup berbisa"
"Aku bukan orang baik memang! Jadi ucapan Jongin tadi hanya pencitraan" Baekhyun tertawa remeh.
"Aku juga ragu kau orang baik"
"Aku juga tidak peduli jika kau ragu. Dan aku harap kau bisa pindah dari sampingku" Baekhyun melempar sapunya ke arah Chanyeol.
"Jangan khawatir. Aku juga tidak sudi duduk di sampingmu selama satu tahun. Dan selesaikan dengan cepat!"
-Rhapsody-
Hukuman diselesaikan dengan tempo kurang lebih satu jam. Sebenarnya bisa lebih cepat jika saja Chanyeol bisa memegang sapu dan sikat WC dengan baik.
"Sialan sialan sialan!" Baekhyun menyambar minuman milik Yixing yang masih utuh. Sementara si pemilik hanya melihat dengan takjub. Minumannya musnah sudah.
Kyungsoo tertawa memegangi perutnya mendengar cerita Jongdae dan Yixing tadi sebelum Baekhyun datang.
"Bagaimana rasanya enak ya?" goda Kyungsoo.
"Enak kepalamu!? Ini masih setengah hari tapi sekolah seragamku sudah tidak berbentuk"
Jongdae memberi Baekhyun beberapa lembar tissue untuk mengusap peluh.
"Sungguh aku bisa gila jika sebangku dengannya selama satu tahun"
"Sudahlah Baek, bukannya kau sendiri yang berkata untuk berdamai dengan nasibmu?"
Baekhyun sudah terlalu lelah untuk semuanya. Mulai sekarang ia bertekad untuk melawan Chanyeol. Tidak akan berpindah tempat. Ia akan bertahan sampai Chanyeol yang memutuskan angkat kaki dari bangku di sampingnya.
"Hai, Baek?" Baekhyun dan teman-temannya terkejut ketika Jongin dan Sehun berdiri di samping meja kantin yang mereka tempati.
"H-halo"
"Boleh kami bergabung?"
"S-silahkan"
Semacam ada tingkat kasta tak kasat mata. Kelompok Baekhyun dan kelompok Jongin ini memiliki perbedaan yang signifikan. Itu terlihat mencolok. Bagaimana aura Jongin dan Sehun yang elegan serta tampan dalam waktu bersamaan. Kemudian gerombolan Baekhyun yang biasa-biasa saja.
"Kau lucu Baek" Baekhyun berkedip-kedip mendengar pujian Sehun. Karena sejak tadi Baekhyun belum pernah mendengar Sehun berbicara. Hanya senyum tipis yang ramah saja.
Entah itu semacam pujian atau hinaan. Lucu disini bisa memiliki dua arti. Antara benar-benar lucu menggemaskan, atau lucu yang memalukan.
"Seumur hidup Chanyeol tidak pernah memegang sapu. Aku harap dia tidak menyusahkanmu" Baekhyun mengangguk kikuk. Teman-temannya hanya diam karena merasakan aura canggung yang dibawa oleh Jongin serta Sehun.
"Chanyeol! Kami disini" Chanyeol yang baru saja sampai kantin karena ada urusan dengan tim Osis melambaikan tangan tampan. Tapi kemudian langkahnya menjadi pelan saat matanya menangkap Baekhyun juga ada disana.
"Pindah!" perintah Chanyeol kasar.
"Kubilang pindah! Tidak cukupkah kita satu bangku di kelas saja?" Baekhyun yang merasa kesakitan karena lengannya dicengkeram Chanyeol, hanya bisa meringis.
"Chanyeol, tapi kita yang menumpang. Baekhyun dan teman-temannya sudah lebih dulu disini" jelas Sehun pelan sambil melerai tangan Baekhyun yang dicengkeram Chanyeol tadi.
"Lain kali tanya dulu. Jangan asal serang, dasar dumbo!" Chanyeol rasanya ingin sekali menyiram Baekhyun dengan segelas es susu milik Sehun.
"Kalian jangan bertengkar terus. Kata orang, terlalu benci itu bisa jadi cinta" Yixing itu memang polos sekali. Sampai lupa jika Chanyeol dan Baekhyun sama-sama lelaki.
"Meskipun dia satu-satunya manusia yang tersisa di jagat raya ini. Aku lebih baik sendiri sampai mati" Baekhyun berkata yakin dengan menunjuk-nunjuk hidung Chanyeol.
"Dan aku juga tidak sudi!"
Semua orang ikut pusing. Padahal selama ini hidup Chanyeol sangat tenang. Cenderung malas mengurusi urusan orang. Tapi dengan Baekhyun. Chanyeol seolah perlu mengurusi meskipun perdebatannya sejak tadi tidak ada yang penting.
.
.
.
happy satnite yorobun. love u. coba absen satu satu. hehehehe.
