"Rukia! Di sini!" Renji melambaikan tangan pada teman baiknya.
Gadis itu berjalan mendekati mereka dan berusaha menghindari orang-orang yang lewat berlawanan arah dengannya. Live house ramai, hari ini ada enam band indie yang akan tampil selain The Bleached.
Ruang tunggu untuk para penampil penuh dengan wajah tegang. Ini event besar karena The Los Noches, band indie yang memiliki basis pendukung yang besar akan memulai perjalanan musik mereka sebagai major band. Ini adalah konser sekaligus pesta perpisahan dan selamatan bagi mereka.
"Ramai ya?" komentar Rukia.
"Begitulah!" Renji terlihat senang dan mempersilakan gadis mungil tersebut duduk. Rukia adalah tamunya malam ini.
"Oi! Kenapa ada anak kecil di sini! Renji bawa dia keluar, nanti Urahara bisa ditangkap polisi!" Ichigo muncul di depan pintu. Jaket, rambut, celana, dan sepatunya basah. Di luar hujan turun dengan derasnya. Untung case gitarnya kedap air.
"..." Rukia memasang wajah kesal. Pria yang baru pertama kali bertemu dengannya ini sungguh menyebalkan.
"Aku yang memasukkannya ke dalam daftar tamu. Dia temanku. Rukia, ini Ichigo," Renji mengenalkan mereka berdua, "dan Ichigo, ini Rukia."
...
Disclaimer: Kubo Tite cin! Bukan eykeh!
Warning : Abal buat yang merasa, Typho(s), AU, OOC, OC, humor garing, perbuatan asusila
"Merokok dapat menyebabkan serangan jantung, kanker, impotensi dan gangguan pada kehamilan dan janin!"
Rate: M
...
Rukia menutup pintu apartemen yang ia tinggali bersama kekasihnya, dan membuka sepatunya. Sepatu yang sedikit usang itu berada di depan pintu, Ichigo berada di rumah.
"Aku pulang!" Rukia meletakkan makanan yang dibelinya di stasiun di dapur.
Beranda terbuka, dan Ichigo duduk membelakangi pintu masuk sambil merokok. Di dekatnya ada sebuah asbak dan kertas yang bertuliskan not balok berserta pensil. Pemuda itu tengah berkonsentrasi dengan gitarnya.
"Di luar mulai gelap." Rukia menutup beranda dan tirainya. Ia juga menyalakan lampu.
"Rukia? Kau sudah pulang dari kampus?" tanya Ichigo yang baru menyadari kepulangan gadis itu.
"Begitulah, kuliah terakhir batal hari ini. Kau sudah makan, Ichigo?"Rukia ikut duduk di samping kekasihnya.
"Sepertinya belum." Ichigo menggaruk-garuk kepalanya.
"Makan! Kau pasti melewatkan makan siang bukan?"
"Hehehehee..."
"Dasar!"
"Baiklah aku akan makan setelah..," Ichigo menuliskan not terakhir, "selesai!"
"Lagu baru?"
"Hum."
"Sudah ada liriknya? Judulnya?"
"Mau mencoba untuk menebaknya?"
"Tidak!"
"..."
"..."
"... Ya,ya baiklah! Judulnya, 'Rukia'."
"Yang benar saja, kau pasti bercanda..."Rukia melihat kertas itu dengan pandangan tidak percaya. Banyak coretan terpampang di sana.
"Sungguh. Liriknya belum ada," Ichigo memeluknya dari samping, "mungkin malam ini kukerjakan, ah, atau besok..."
"Cih!"
Meski memasang wajah tidak suka, Rukia membiarkan kekasihnya melumat bibirnya. Tanpa pembukaan Ichigo memperdalam ciumannya, ganas dan menuntut. Mereka saling memeluk dan memagut.
Erotis.
Kedua kelopak matanya perlahan membuka. Rukia terbangun dari mimpinya. Sebuah bab dari kisah masa lalunya.
Wanita itu membalik tubuhnya hanya untuk melihat sebuah gitar listrik mantan suaminya yang masih ia simpan. Gitar itu adalah gitar yang dipakai saat pertama kali ia datang untuk melihat penampilan band temannya. Mungkin Ichigo sudah melupakan gitar ini, karena Rukia mendapatkannya saat menyerahkan kunci apartemen yang sempat mereka tinggali bersama. Pengelola apartemen yang menyimpankannya dan menyerahkan alat musik tersebut padanya. Dengan mata yang sedih, ia menatap gitar itu. Mungkin seharusnya dulu ia tidak memutuskan untuk menyimpannya.
Rukia berbalik dan berhadapan dengan punggung putrinya. Sang Ibu memeluk anaknya dari belakang.
...
"Tiiii-DAK!" tegas Rukia.
Wanita berkacamata itu malah melipat tangannya saat menerima penolakan lawan bicaranya ini. Rukia berkacakpinggang, seniornya ini sepertinya belum menyerah. Staf-staf yang lain melewati mereka begitu saja di koridor, tidak ambil pusing dengan pembicaraan mereka.
"Lisa-senpai, aku tidak ada waktu. Serial yang kutangani sekarang bertambah."
"Aku juga, Rukia. Tapi ayolah! Sempatkan dirimu!" Editor dari majalah Seinen itu terus membujuknya.
"Senpai, aku tidak bisa..."
"Pokoknya kau sudah berhutang padaku! Anggap saja setelah ini kita impas!" Dengan semena-mena Lisa mengultimatum Rukia. Ia berbalik arah dan menaiki elevator.
"Tapiaku-"
"Jangan lupa!"
"Senpai-"
Pintu elevator tertutup, bergerak ke lantai atas dan meninggalkan Rukia. Wanita itu menghela nafas dan membeli kopi di mesin penjual minuman otomatis.
...
Sore hari ini Ichigo habiskan waktunya dengan menikmati kopi dan kue bersama Tatsuki, dan Orihime. Gadis berambut cokelat itu baru saja dikenalkan padanya oleh teman lamanya itu.
Jujur saja, Ichigo tidak bisa mengabaikan gadis ramah itu. Suaranya manis, wajahnya cantik, dan tubuhnya seksi. Pria itu pasti buta kalau tidak merasa tertarik. Lihat,sorotan matanya yang seolah-olah tengah menelanjangi gadis itu dengan pandangannya.
Orihime Inoue, sang Model, menikmati kopinya dan terus berbincang-bincang dengan ramah, ia bahkan memberitahu nomor ponsel dan alamat e-mailnya. Tatsukilah yang menyadari pandangan penuh arti pria itu. Tapi memang itulah tujuannya. Ia masih ingat betapa menyebalkan dan menyedihkannya Ichigo saat ia terpuruk oleh wanita yang ia tidak tahu itu. Sebagai teman, ia merasa ingin membantu. Apalagi ia tahu bahwa teman perempuannya juga mengagumi teman lamanya itu.
"Kuharap tidak sampai tahun depan untuk bisa mendengar lagu baru kalian. Aku sangat menantikannya, " kata Orihime. Ia tersenyum.
"Ya-"
TRRR... TRRR...
"Maaf, sebentar ya." Ichigo menjawab panggilan di ponselnya, berjalan ke sudut kafe. Orihime dan Tatsuki mengangguk, tanda mengerti.
"Ada apa Renji?" Ichigo bertanya pada orang yang menghubunginya itu, "TAHANAN?!"
Buru-buru Ichigo menoleh untuk memastikan tidak ada yang mendengarnya. Aman. Tatsuki dan Orihime sibuk berbincang.
"Apa yang sudah kaulakukan Renji?!" tanyanya setengah berbisik.
.
.
Grimmjow duduk di konter bar sendirian, memabukkan dirinya dengan bir dan lainnya. Ide dan inspirasi di kepalanya mendadak buntu, tapi ia tidak mau mengganggu Shuhei atau Ulquiorra saat ini. Mereka berdua sibuk dengan urusan pribadi masing-masing dan jangan memintanya untuk pergi ke tempat Renji. Penggebuk drum mereka saat ini ada di sel tahanan, karena tuduhan merusak fasilitas umum saat memaksa bermain ayunan di sebuah taman kanak-kanak. Manajer mereka dan Ichigo sedang mengurus masalah ini.
Pria berambut biru itu tersenyum sambil tetap memegang leher botol saat mencoba membayangkan reaksi Ginjou. Konyol, satu kata itu yang melintas di kepalanya. Grimmjow sekali lagi menenggak minumannya.
"Grimmjow?" panggil seseorang di balik punggungnya. Pria itu menoleh.
"... Aaa–—siapa?" tanyanya pada wanita itu. Mabuk membuat ingatan dan pandangannya sedikit kabur.
"Neliel Tu— "
"Ah iya! Neliel yang dicampakkan oleh si Bodoh!" Grimmjow menunjuk wajah wanita di depannya, "selamat malam, apa kabar? Sampai jumpa!"
Neliel tidak menggubris racauan setengah mabuk pria itu. Ia malah ikut duduk di konter, tepat di samping Grimmjow. Kepada bartender, aktris seksi itu memesan liquor.
Suasana hening di antara mereka berdua. Bartender sibuk melayani pesanan minuman. Orang-orang tidak peduli dengan mereka, dentuman musik menyamarkan keberadaan mereka berdua.
"Hmm...Hmm...Hmm..." Grimmjow mencoba bersenandung.
"Grimmjow," panggil Neliel sekali lagi.
"Apa?" Grimmjow tidak begitu memperhatikannya.
"Apa Ichigo—"
"Apa maksudmu, 'Ichigo menyesal memutuskanmu?' Lupakan saja, Nona! Si Bodoh itu sudah punya pacar baru!"
"Begitu ... kenapa dia memutuskanku? Memangnya aku sudah berbuat apa?"
"... Heh! Aku bukan tempat curhat, telepon saja penyiar radio atau—"
"Tapi ini menyesakkan! Aku—"
"Kau mau aku mendengarkan keluhanmu? Boleh, tapi ada bayarannya, Nona. Aku bukan pekerja sosial," kata Grimmjow sambil menoleh. Ia menenggak bir dari botolnya lagi.
...
Ichigo mengendarai mobilnya. Beberapa hari yang lalu pria itu sudah membuat janji dengan Keigo Asano, temannya. Sebenarnya, ia malas untuk memenuhinya tapi Keigo terus menghubunginya.
'Yah apa salahnya sekali-kali menyenangkan teman?' pikirnya. Sungguh kau berpikir demikian, Ichigo?
Ia menggoyang-goyangkan kepalanya dan mengetuk-ketuk kemudi mengikuti beat musik yang sedang diputar. Sungguh jauh berbeda dengan reaksinya ketika Chiaki dengan kejamnya memutar bolak-balik 'Chappy Berlari', bahkan anaknya itu akan menangis apabila ayahnya berusaha untuk mematikan pemutar musik saat gadis kecil itu tertidur. Ia nyaris mau mati waktu itu.
Sayang kegembiraannya tidak berlangsung lama.
Ichigo yang mengemudikan mobilnya dengan santai dan sesekali melihat-lihat ke kiri dan kanannya—yang merupakan kawasan wisata kuliner—mendadak menginjak rem dalam-dalam. Dengan sedikit tidak sabaran gitaris itu menekan tombol untuk membuka kaca jendela, buru-buru melongokkan kepalanya ke luar.
Di luar sana, Rukia terlihat berjalan keluar dari sebuah restauran bersama seorang pria. Suasana yang terlihat di antara keduanya cukup akrab. Ichigo bisa melihat bahwa keduanya tengah tersenyum.
TTTIIINNN TIIINNNN~!
TIIINNNN!
"OOIII! CARI MATI YA!?" teriak pengendara dari dalam mobilnya saat melaju pelan di samping mobil Ichigo. Pria itu marah karena tiba-tiba saja mobil gitaris itu—yang berada di depan kendaraannya—berhenti mendadak.
"BISA MENYETIR TIDAK?!" teriak yang lain.
Satu per satu mobil yang ada di belakang mobilnya bergerak maju meninggalkan tempat itu. Ichigo menundukkan kepalanya, meminta maaf. Tapi tetap saja para pengendara yang dibuat kesal olehnya menekan klakson tanda kejengkelan, salah satunya bahkan mengacungkan jari tengah padanya.
Baik Rukia dan pria tak dikenal itu hilang dari pandangan mata Ichigo.
.
.
.
.
"Jangan cemas Isane, aku cuma mau mengambil barangku yang tertinggal di apartemenku Rangiku. Ichigo? Dia sedang tidak bersamaku, kenapa?Ah, tidak perlu, aku sudah sampai di depan pintu. Tenang, bukan barang yang berat kok. Oke, terimakasih ya!"
Rukia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Perempuan itu mencari-cari kunci apartemen yang sempat ditinggalinya tersebut. Sayang, karena ceroboh, kunci tersebut jatuh. Pelan-pelan dia mencoba meraihnya, kehamilannya yang memasuki usia enam bulan itu membuatnya tidak bisa bergerak sebebas seperti yang sebelumnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana besar perutnya ketika umur janin yang tengah dikandungnya sudah delapan atau sembilan bulan, ini kehamilan pertama baginya.
Ketika akan membuka pintu dengan kunci, perempuan itu menyadari bahwa apartemen teman baiknya tidak terkunci.
"Ran, kau ada di rumah?" panggil Rukia pada teman lama sekaligus mantan teman satu apartemennya. Di pintu masuk, ia melihat tidak hanya sepatu temannya tetapi juga sepasang sepatu pria. Dahinya mengernyit, curiga.
Rukia berjalan ke ruang tengah. Kosong, hanya ada album foto miliknya yang tertinggal itu di atas meja –sebelumnya ia sudah menghubungi mantan apartemennya itu– Perempuan yang tengah mengandung tersebut mencari-cari temannya –dan tamunya–, ia juga bermaksud mengembalikan kunci apartemen ini. Ia mengelus-ngelus perutnya.
Suara desah manja dan nafas yang memburu terdengar dari dalam kamar. Rukia menghela nafas, ia merasa telah datang di waktu yang salah. Ia meletakkan tas di atas sofa dan mencari-cari kertas memo yang dulu seingatnya ada di dekat telepon. Ibu hamil tersebut bermaksud untuk meletakkan kunci itu di meja ruang tengah dan meninggalkan memo untuk temannya itu.
"Y-Yaahh... Ach! Ahn! Ummhh! Yahh! I-Ichiigooohh!"
"Ugh terus Ran! Kau luar ugh-biasa!"
"Achh... Ja-Jangannhh begitu- Kyyaaahhh!"
"..." Rukia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Bolpoin yang ada di tangannya jatuh dan menggelinding. Wanita itu menuju kamar tidur temannya dan membuka sedikit pintunya.
Di dalam sana, pria yang menyandang status sebagai suaminya itu tengah bersetubuh dengan teman baiknya, dengan membiarkan Rangiku yang berada di atas.
Rukia bisa melihat ekspresi kenikmatan mereka dan tangan-tangan nakal Ichigo yang meremas buah dada wanita berambut pirang itu. Suara lengkingan kenikmatan terus menerus meluncur dari bibir Rangiku, begitu juga deru nafas Ichigo. Mereka berdua tidak menyadari kehadiran Rukia.
Wanita itu kembali ke ruang tengah, menutup mulut dengan kedua tangannya dan nyaris menangis.
.
.
Bersambung...
Yup, pelan-pelan masa lalunya dibongkar... pelan-pelan... Entah kenapa, uki ngebayangin vokal Grim itu kayak vokalisnya Metallica sedangkan vokal Ichigo itu Joe Bon Jovi... ahahahahahahaha... trus lagu Champagne Supernova stuck di kepala pas ngerjain fic ini... ahahahaahahaha... ada yang salah nih. Btw meski chapter kemaren itu –ehemrekorehem- ketikan uki, ternyata banyak yang kena flownya... wooww... Buat yang nunggu Esthètique, uki rencananya ngelanjutinya mulai tahun depan. Agak repot ngerjainnya barengan ma Serenade *banyak utang*, buat yang mo memberi komentar silakan Read and Review!
