AyamLvJidat
Naruto © Masashi kishimoto
AyamLvJidat © Yusha'Daesung AyamLvJidat
Warning :
SasuSaku,NejiTen, NaruHina, SaIno Pairs. AU. OOC. T semi M. Etc.
Enjoy With This One
Kumpulan para siswa-dan siswi itu berkali memandang kearah asal suara keributan. Karena jujur saja, gadis blondie itu tengah membuat suasana kelas yang tadinya sepi menjadi gaduh karena teriakannya yang cukup membuat seorang Tenten menggeram tertahan, "Demi Tuhan, apa kau tak bisa berbicara sedikit pelan, Ino?" tanyanya menutup buku comic berwarna coklat gading pudar dengan cover seorang gadis berwajah murung yang tengah mengenakan jaket di bawah sebuah payung. Tampaknya comic yang cukup 'ngeh' untuk gadis semacam Tenten, heh?
Sakura hanya melirik kedua temannya sekilas, kemudian kembali memejamkan mata dengan jemarinya yang beradu dengan meja saling mengetuk dan kepala yang mengikuti irama lagu yang Ia dengar via MP4 miliknya. Baginya mendengarkan music bervolume tinggi lebih baik di banding harus mendengarkan ocehan err- debatan tak jelas dari Ino maupun Tenten.
"Kau akan sangat membenci Hell Four setelah mendengar ini." Ino menggerutu di tempat duduknya, kemudian memutar bangku menghadap Sakura yang tampaknya masih asik dengan jubelan playlist-nya.
Tenten, menggumam kecil dengan geram. "Apa hubungannya dengan geng bejat itu?" Selidik gadis itu menyelipkan jemarinya menahan lembaran yang tengah dibacanya, lalu menatap Ino. "Jangan bilang kau mengikuti jejak Hinata dan-" Ia menyeringai menggantungkan ucapannya, "-jatuh cinta pada si ketua karate berambut coklat itu, heh?"
Ino mendelik, "enak saja!" kilahnya. "Bukan Hyuuga itu. Tapi-" wajahnya berubah masam, "Sai, si mayat mesum!"
Hampir tersedak ludahnya sendiri, Tenten melotot. "A-apa! Kau?-" Ia menunjuk Ino, "-menyukai Sai?"
Ino mendengus. "Dalam mimpi. Kau pikir aku gila apa?" sahutnya cepat, sembari mengambil sebuah buku dan mulai berkipas. "Aku setidaknya masih punya selera." Ia melrik Tenten. " Kau tahu tidak?-"
Bola mata Tenten berputar bosan, Ia memukul pelan kepala Ino dengan comic-nya. "Mana ku tahu, bodoh! Kau saja belum cerita."
Ino nyengir, mengelus kepalanya. Lalu menarik lengan Sakura, membuat sepasang emerald itu menyalak padanya. Gadis itu paling tidak suka saat ini, saat di mana 'ritual' santainya terganggu. "Apa!" tanyanya, atau lebih seperti bentakan kepada Ino. Ia melepas sepasang headset itu dari telinganya, dan mematikan playlist lagu kesukaannya.
Kedua orang itu menatap maklum Sakura yang maniak. Tenten menghela nafas, mulai kembali membuka suara. "Ino punya kabar yang- semoga saja penting. Dan ini-" Ia melirik Ino, "-Menyangkut Hell Four, tepatnya Sai, salah satu anggotanya."
Alis Sakura terangkat tinggi, "Sai? Si pucat itu?" tanyanya, mengingat-ingat salah satu anggota Hell Four yang tak kalah mesumnya dari si Sasuke- enemynya..
Tenten mengangguk, lalu menyentuh lengan Ino. "Ayo ceritakan!" suruhnya, sembari menatap Ino dengan tatapan menuntut.
Ino mendelik, setengah merengut. "Iya, iya." Gadis blondie itu menghela nafas mulai bercerita. "Kemarin dia ke rumahku-"
Sakura dan Tenten tak mampu menahan ekspressi kagetnya, keduanya menatap Ino antusias.
Sai memang datang ke sana seperti cerita kita pada bagian kemarin. Dan itu cukup menimbulkan keterkejutan luar biasa bagi Ino. Sebelumnya Dia memang tidak pernah dekat dengan Sai bukannya apa-apa, kalian tahu bukan, anggota Hell Four itu mewarisi sifat mesum yang mendalam dan tampaknya menurun pada masing-masing anggota. Kita lihat dulu, siapa ketuanya. Uchiha Sasuke.
Pemuda itu datang saja sudah membuatnya kaget, setengah tidak percaya dan sedikit takut. Pasalnya, orang tua Ino kala itu sedang tidak ada, andai mesumnya datang, mungkin- dan tidak menutup kemungkinan bagi Sai- si mayat mesum itu melakukan hal-hal asusila terhadapnya. Jujur, Ino belum siap hamil muda
–heh?
Dengan tampangnya, yang- menurut Ino sama sekali aneh itu, pemuda itu menjelaskan tantang status mereka. Hampir saja, Ino menamparnya, saat Ia- Sai- mamanggil dirinya sendiri sebagai calon suami Ino. Demi Tuhan yang menciptakan, pemuda itu benar-benar terlihat seperti orang yang –eng apa ya? Um, mungkin tak tahu malu, heh. Apa dia lupa ya, bagaimana hubungan 'manis' antar geng-nya itu? Atau . . .
Apa kepalanya sudah terbentur benda tumpul, heh?
Tidak. Bahkan Ia mengatakannya dengan tampang bangga. Well . .
Pemuda itu menceritakan semuanya pada Ino, mulai dari awal, pertengahan, dan ending. Bagian-bagian itu sanggup membuat gadis cantik bagaikan berbie itu menganga tidak mau percaya.
Ia bilang bahwa Ia adalah takdir untuk Ino, dan itu sudah menjadi suratan yang tentu saja tidak bisa diganggu gugat oleh pihak mana-pun. Gila bukan? Tentu saja jawabannya. Iya. Bagaimana bisa pemuda itu memutuskan seenaknya saja takdir, memangnya dia Tuhan, apa?
Saat itu, Ino hanya terpaku dengan tampang bingung stadium akut. Sedang Sai, sudah mengecup pipinya sembari membisikan sesuatu yang menggelikan.
"Kau. Milikku." Ino mengakhiri kisahnya masih dengan desahan nafas keras, gusar sekaligus kesal.
Saling pandang, Sakura maupun Tenten tidak melakukan apa-apa selain cekikikan tak jelas. Bahkan Tenten geli tertawa sembari memukul-mukulkan comicnya pada meja. Sedang Sakura hanya memegang perut, namun tertawa nyaring.
"Kalian kenapa tertawa, heh? Ini bukan kasus biasa. Ini menyangkut aku. Sahabat. Kalian." Geram Ino memanyunkan bibirnya meremas buku.
"Baiklah, baiklah." Sakura menghentikan tawanya, menarik nafas. Menatap Ino ragu. "Lalu? Apa rencanamu selanjutnya?" tanyanya dengan nada mulai serius, "bisa saja yang dikatakan Sai adalah benar. Dan kalian-"
Tenten masih tampak menahan tawanya, entah mengapa, Sai itu lucu, namun di sisi lain amat sangat menjijikan, baginya.
"-adalah jodoh yang terpisahkan!"
Well tawa keduanya meledak seketika. Sedang Ino mengetuk-etukkan tangannya yang mengepal pada lantai, lalu mengetuknya pada jidatnya sembari bergumam 'amit-amit jabang bayi' tapi tunggu dulu, seandainya itu benar bagaimana, heh?
××XX××
Sasuke menyeringai di depan kaca smbari melirik sobat berwajah datarnya, Sai. Neji hanya diam menyender pada badan tembok dengan posisi santai bersidekap. "Aku? Suka Sakura?"
Keduanya mengangguk, Neji mendekat kearah Sasuke, menepuk pundaknya. "Ayolah! Semua dari kami sudah mengaku-" Neji mengandik pada Sai meminta dukungan, dan Sai mengangguk sembari ikut mendekat kearah Sasuke.
"Neji benar. Bahkan Naruto saja sudah ambil start duluan untuk itu." Tambah pemuda itu tanpa ada ragu sedikit-pun.
Mengangkat bahu, Sasuke tampak cuek. Ia menarik longgar kemejanya hemnya, lalu membelakangi cermin sebelum sempat menyeringai. "Kau tahu aku bukan." Tanyanya pada kedua sobat karib satu geng-nya itu.
"Sakura itu beda, Sasuke." Frustasi Neji, Ia menyandar lagi pada kaca besar itu. "Makanya gadis itu banyak disenggani disini." Lanjutnya.
Sai hanya terdiam, namun berharap semua sesuai dengan rencana awalnya. Ya, membuat Uchiha Sasuke mempunyai cinta.
"Itu yang ku suka dari Seorang gadis-" Ia berbalik menatap kaca lalu menyeringai, "-seperti, Haruno Sakura."
××XX××
Hinata menahan tawa, setelah mendengar cerita kecil dari Tenten, Sebenarnya, Ia agak menyesal datang terlambat karena menunggu sang kekasih yang merupakan raja telat disekolah. Ia jadi ketinggalan segmen dari cerita Ino, bukannya apa-apa ya, cerita itu akan lebih seru, jika si pemilik-lah yang menceritakannya secara langsung. Rasanya ada kenikmatan tersendiri.
Sepanjang jam pelajaran, otak Hinata juga jadi tumpul karena memikirkan pokok apa yang akan dibahas oleh Tenten kali ini. Pasalnya, awal Ia menjejakkan kakinya di kelas ini, guru-nya sudah ada di sana. Dan itu membuatnya tidak bisa mengobrol pada teman satu 'perjuangan' nya ini. Tenten dan juga Sakura hanya berbisik- tentu saja sembari tertawa kecil membisikan sesuatu padanya, mengenai Ino dan pasangan barunya. Sai. Heh! Itu cukup membuat gadis pemalu itu penasaran dan berulang kali menyenggol lengan Sakura yang ada di sampingnya- meminta sobat sekaligus leader-nya itu untuk menceritakan barang sepenggal kisah padanya. Tapi itu ketahuan guru pengajarnya, membuat dirinya –dan juga Sakura- mendapat teguran keras dan mengundang ejekkan dari Hell Four, tanpa Naruto pastinya.
"Ta-tapi sepertinya dia be-benar-benar menyukai Ino, Tenten." Hinata berasumsi, menatap Ino err tidak melirik secara diam-diam tepatnya, gadis pirang itu tengah sedang sibuk memainkan alas bedak dengan serbuk putih pada permukaannya, dan memoles benda tersebut pada wajahnya. Ia menatap cermin dengan raut serius. Hinata pikir, Ino hanya akan serius jika dalam hal ini, tapi kalau sudah soal ujian. Ck! Jangan tanya.
Tenten menanggapi dengan mengangkat bahu. "Aku sih tidak tahu, tapi andai benar-" si gadis menghela nafas, memainkan batang sedotannya pada gelas bercairan orange. "-bagaimana dengan Sakura? Apa dia akan menyetujui hal itu, heh?" hardiknya. Hinata hanya menatap Tenten dengan raut tak terbaca.
Keduanya melirik spontan secara bersamaan ke arah Sakura yang tengah membaca novel dengan senandung-senandung dari MP4-nya. Leader mereka memang tak menuntut, tapi mereka sadar akan sumpah pertama anggota Heaven Four dulu. Ya. Sebuah sumpah untuk tak pernah jatuh cinta pada geng musuh. Seperti yang kita ketahui, Hinata melanggarnya. Sampai sekarang-pun tidak ada yang tahu apa yang dirasakan Sakura, entah leader-nya itu kecewa atau semacamnya. Karena, Sakura tak pernah mengungkapkan dan menunjukkannya.
Ino baru saja selesai dari 'kegiatannya' gadis itu menarik jus sirsak milik Hinata ke arahnya dan mulai menyeruputnya pelan. Ia mengernyit aneh pada dua sobatnya itu, kenapa memandangi Sakura sampai segitu detailnya?
"Kalian kenapa?" tanyanya, menyingkirkan gelas itu kembali pada Hinata. "Ada masalah pada Sakura?" sambungnya, dengan alis bertaut.
Tenten tak menjawab, mulai membuka comic- kesekiannya untuk hari ini- dan mulai tenggelam dalam dunianya. Sedang Hinata hanya menggeleng dengan gugup saat Ino menatapnya seolah menginrogasi dirinya.
"Huah~" mereka serentak menoleh ke sumber suara, kecuali Sakura yang kian asik dengan miliknya.
"Ternyata Heaven Four ada di sini ya?"
Ketiga gadis itu mendelik, ketika para pemuda yang tergabung dalam geng Hell Four itu bergabung pada meja kantin milik mereka. Tak suka berbagi rupanya.
"Bejad." Gumam Tenten, melirik kearah Neji yang tengah menyeringai ke arahnya, lalu menghenyakkan dirinya seenak jidat pada bangku di depan Tenten. Pemuda itu mengusap pelan pipi ranum Tenten, membuat lengan si gadis menangkisnya kasar.
"Kau memang gadisku~" ucapnya mencondongkan diri kearah Tenten dan berbisik pelan, "-manis."
Tenten mendorongnya.
"Apa mau kalian?" gertak Ino penuh penekanan.
Keempat orang itu menyeringai.
"Loh?"
Akh! Rupanya Sakura baru sadar akan ini. "Mau apa kalian? Bukannya meja kalian di sana, heh?" Ia mengandik sebuah meja kosong berhalat lima meja dari meja mereka.
Sasuke menatapnya. "Memang kenapa kalau kami di sini?" tantangnya. Tanpa melepaskan mata Sakura.
Jade itu berputar bosan. "Susah ya bicara pada orang IQ rendah." Ejek si gadis, ketiga temannya menyeringai –termasuk Hinata.
"Kau katanya Uchiha, tapi-" Ia berkata pelan dan penuh penekanan, "-bodoh!" diiring dengan seringai cantiknya.
"Maaf, nona-" Sai menyela, "-jika kami mengganggu kalian." Ia tersenyum palsu kearah Sakura. Gadis itu menilik bingung. "Kami pikir kalian kesepian?" dan wajah itu tampak tanpa dosa sedikit-pun.
Bangkit, Sakura mengitar bangku, lalu berjalan kearah Sai. Anggota Heaven Four hanya menopang dagu menonton dengan seringai berkembang. Gadis itu menarik Sai berdiri dari bangku di hadapan Ino.
"Kesepian?" tanyanya dengan nada lembut, lalu tangannya meraba rahang Sai dengan jarak begitu dekat. "Tampaknya kau benar~" sambungnya, dengan selanjutnya menyandarkan kepalanya pada pundak Sai. Gadis itu meniup pelan leher si pemuda, membuat Sasuke menggeram pelan di mejanya. Dan Sai merasa merinding.
"Apa kau dan teman-temanmu mau menemani kami?" tanya Sakura setelah mengangkat pandang dan menatap manja wajah Sai, pemuda itu tidak berkata apa-apa.
Neji menyela. "Berhenti menggoda teman kami, Haruno." Mata peraknya berputar bosan. Tenten memegang tangan Neji, mengelusnya. "Kau ada urusan dengan ku~" ucapnya, lalu menarik Neji pergi dari sana. Pemuda itu mengangkat bahu cuak pada pandangan teman-temannya.
"Kau akan di temani aku!" detik berikutnya, Sakura sudah di tarik oleh Sasuke dari sana.
"Jadi?" Naruto mengulum senyum, "Kita juga, kau ada urusan dengan ku. Hinata."
Well, Ino membatu di tempat saat Sai menyeringai mencondongkan tubuhnya kearah Ino. "Apa yang kau pikirkan, sayang~" membuat kantin riuh dengan bisik-bisik antar sesama pelajar.
××XX××
Neji hanya diam sembari menelaah Tenten yang menyeringai kearahnya, matanya tak melepaskan sosok gadis yang dicintainya itu. Ayolah, kapan lagi Ia dapat dengan puas menatap Tenten secara terang-terangan seperti ini?
"Neji~" panggil Tenten, "kau kenapa diam, huh?~" tanyanya merajuk, sembari maju meraba dada Neji pelan.
Darah Neji berdesir parlahan.
"Kau mau aku yang memulainya duluan?" Ia memiringkan kepalanya, memandang Neji dengan raut manja. Tangannya masih bertengger pada Neji.
Neji menarik Tenten dengan melingkari pinggang gadis itu, kepalanya menyandar pada bahu Tenten yang lebih rendah, menyesap aroma milik Tenten lamat-lamat.
"Hem?"
"Aku boleh jujur?"
Tenten meraba punggung Neji, "aha?"
Pemuda itu mendesah rendah mulai berkata dengan nada palan dan berat. "Aku menyukaimu, Tenten." Bibirnya mencium sekilas tangkuk Tenten, "sangat menyukaimu."
Mata Tenten spontan melebar, mendorong Neji cepat.
"A-apa!"
Perak itu menatapnya. "Kenapa? Kau tak percaya?" tanyanya.
"Gila kau!" sembur Tenten dengan bersungut-sungut.
Tenten hampir mati mendadak tadi. Rasanya ini seperti khayalan buruk yang menjadi nyata. Neji menyukainya. Menyukainya! Kata-kata itu mengiang berputar-putar. Pusing? Ugh, tentu saja. Tuhan! Kenapa pemuda ini begitu tampan! Dan membuat keyakinannya hampir runtuh!
Heh?
Apa tadi?
Tidak. Tidak.
"Aku memang sudah lama menyukaimu, apa salah?"
Tentu saja, bodoh!
"Itu hakmu. Tapi aku-" dengan ragu, "-tidak menyukaimu." Sahut Tenten.
"Masa?" tantang Neji, kembali menarik gadis karate nan manis itu kedalam pelukannya. "Tolak aku jika kau mampu, heh!"
Dan ternyata Tenten hanya diam. Maksud hati ingin mengejai eh malah kena kerjai.
"1-0, manis." Neji melepaskan pelukannya, menatap Tenten dengan wajah datar. "Kau pikir aku serius, hah?" ucapnya dengan seringai yang perlahan muncul. "Yang tadi itu hanya lelucuon, kau tahu?"
Tenten menatapnya tak percaya, matanya menyirat kecewa walau sekilas. "Brengsek!"
PLAKK
Mata Neji sukses melebar saat Tenten menampar dan beranjak pergi darinya.
"Aku belum selesai, bodoh." Gumamnya dengan nada rendah.
Kenapa Tenten kecewa heh? Ya ya ya. Tenten memang menyukai Neji, jauh dari awal berdirinya dua sekutu ini. Heaven Four dan Hell Four. Neji kapten dari klub karatenya, pemuda itu tampan, baik dan keren. Tenten mengaguminya. Sangat amat mengaguminya. Tapi sekarang tampaknya dendamnya pada Hell Four akan kian menambah, dan perasaan suka itu akan berubah.
××XX××
Hinata mendongak saat Naruto menyelipkan bunga di telinganya, sebuah bunga kembang sepatu berwarna merah dengan rupa mawar.
"Mer-mereka punya re-rencana apa, Na-naruto?" tanyanya.
Pemuda berwajah ceria itu merendahkan tubuhnya, menyubit gemas hidung mancung Hinata sekilas. Lalu duduk di sebelah si gadis. "Kau mau tahu?" tanyanya.
Hinata mengangguk dengan cepat namun gugup. "Y-ya."
"Ini dulu!" Naruto menekan pipi kanannya dengan telunjuknya.
Wajah Hinata memerah. Ragu Ia menatap pipi Naruto. Dan . . .
CUP!
Naruto sudah mencium bibir Hinata sekilas, kemudian nyengir. "Kau lama sekali sih."
Dasar Naruto, jantung Hinata bisa jadi cepat rusak kalau begini caranya.
"Tapi lain kali, kau yang , memulainya ya?" sambung Naruto. "Baiklah-" Ia menatap Hinata dalam arak ini, "-kau mau tahu apa rencana kami?"
Masih memerah Ia mengangguk dalam diam.
"Mereka hanya menyatakan apa yang mereka rasakan."
Perak itu melebar.
'A-apa?'
××XX××
Haruno Sakura.
Uchiha Sasuke.
Berdiri berhadapan, dengan death glare romantis 'khas' mereka. Tak ada yang bersuara, hanya saling tatap.
Dalam pikiran Sakura. Gadis itu tengah sibuk merekam sosok Sasuke. Menelaahnya dari mulai wajah dingin menyebalkan itu. Hey, hey. Ternyata Sasuke- si mesum itu tampan juga ya? Tampan? Tidak! Bukan itu. Dia sangat tampan. Atletis pula, beuh! Pantas saja ada grup pencinta pemuda itu di sekolah ini. Lihat mata itu tajam dan, ya, ya, ya walau malas dan setengah agak tak rela, Sakura mengakui mata onyx itu . CUKUP. Indah. Sakura juga kadang bingung sendiri, kenapa dan atas dasar apa, Uchiha ini selalu saja menggodanya. Kalau suka bilang saja, kenapa?
Wew!
Dan lagi, Sakura tahu Ia adalah leader dari geng Heaven Four. Tapi bukankah ada The Hell Girls Devil yang ketuanya lebih seksi dan 'ngeh' kalau gadis itu tidak lupa namanya, eng- Karin, ya Karin. Gadis itu-kan menyukai Sasuke, heh, jadi sah-sah saja bukan? Paling juga, Karin takkan keberatan digoda oleh Sasuke.
Sakura adalah musuhnya. Catat itu! Korban dari beberapa kali tindak asusila oleh Uchiha Sasuke.
Lain Sakura, lain lagi di pikiran Sasuke.
Pemuda itu malah bingung sendiri, untuk apa dia membawa Sakura ke tempat ini, sunyi, sempit, berdebu lagi. Ck! Bisa-bisa, Asma Sasuke kambuh di sini nanti. Tapi tampang harus tetap cool, ya walau mengidap penyakit yang eng- kau tahu lah.
Hoy, hoy, kalau dilihat-lihat, si Pinky ini manis juga ya? Tak salah Sasuke menggodanya selama ini. Rambut bubble gum. Mata emerald, sepasang berkilau dengan indah. Bibirnya tipis, pink-pink basah menggoda batin. Belum lagi pipinya yang agak chubby itu. Well. Selera tinggi seperti kebanyakan orang-orang Uchiha. Gadis sempurna yang menantang.
"Kenapa memandangku seperti itu?" Sasuke hanya mendengus, matanya yang tadi tampak mengamati Sakura berputar bosan kearah lain. "Jangan berpikiran mesum ya kau, ayam jelek!" tuding Sakura berkacak pinggang.
"Mesum bagaimana maksudmu? Jidat?" sahut Sasuke, berjalan mendekat kearah Sakura. Menipiskan jarak keduanya.
"Jaga jarakmu, ayam!" lengannya mendorong Sasuke dengan keras, pemuda itu terhuyung mundur.
"Apa maksudmu membawaku ke gudang? Kalau mau ke sarangmu, jangan bawa-bawa aku." Runtuk si gadis dengan gerutuan jelas.
Menyeringai, Sasuke memasukan kedua lengannya pada kantong celana, menyipit dengan pandangan aneh kearah Sakura yang menarik ujung alisnya bingung.
"Kau kesepian bukan?"
Sakura membeku, kata-kata itu aneh terdengar. Sasuke jadi tampak separti wanita malam, heh?
"Aku punya satu penawaran untukmu-" Ia maju beberapa langkah, lalu menggenggam tangan kanan Sakura. "-maukah kau jadi pacarku, jidat?" ucapnya sembari berlutut mengecup pelan punggung lengan Sakura.
Menunduk mengarah ke Sasuke yang tengah berlutut, mata emerald itu melebar sempurna dengan keadaan mulut agak merenggang.
Otak Uchiha ini, sudah di ambangnya. Ayam sakit!
Hell and Heaven to be continue
××XX××
Balasan rieview :
Indrichan : Ini lanjutannya ^^
Ryosuke Michi626 : Hehehe, iya tuh #lirik-lirikSasuSaku-PLAKK-# hueeee gomen, inilah kemalasan saya, malas mengecek ulang –innoncentsmile- trims udah mampir ^^
Sasu-saku fever : Kita sama, suka yang mesum-mesum #disepak# Gaara ya? Khekhekhe tunggu chap selanjutnya ya –smirk- makasih loh udah mampir, berkunjung lagi ya ^^
Kimyu : Sasuke suka Sakura? Tebak aja sendiri –PLAKK- liat di chap ini, udah ngejelasin belum gimana perasaan Sasu ke Saku, kalo belum tunggu chap berikutnya ya ^^ kayaknya sih bakal panjang dan menjenuhkan, trims udah RnR. Jangan bosen yaw! ^^
Hime Youichi Uchiha : Suka scane tinju-tinjuan ya? Chap depan mungkin ada lagi –bocoran- Yosh! Makasih udah mampir, RnR, lagi? ^^
Agnes BigBang : AOO #alateletubies# Agnes, makasih RnR-nya sayang ^^Gaara nge-ganggukan cuman numpang lewat doang Nes, tenang aja –padahal ada udang di balik tepung-?- tingkat kemesumannya dikurangin, takut khilaf –Plakk- RnR lagi ya ^^
Cheries : Hehe tapi suka-kan –toel-toel Cheries- Udah updet! RnR, lagi? ^^
Yunna –chan : Di chap ini di jelasin saying, jadi jangan bingung yaw ^^ Makasih RnR-nya, lagi?^^
Meytazza Uchiha : Makasih, scane mesum cumin hiburan kok-apaansih?- RnR lagi yaw! ^^
Higurasi cherry blossom : Makasih sayang –peyuk-peyuk- Soal orang ketiga liat chap selanjutnya aja ya-innoncent- dan soal Sasu cemburu khekhekhe, entah kenapa suka banget liat ekspressinya . Soal InuYasha, hwaaaa dia anime pertama favourite saya –jadi inget utang di fandom sebelah-pundung- Kamu suka juga ya? Makasih banyak ya, datang lagi? ^^
Akira Hikaru : Salam kenal juga sayang ^^ Sasuke emang chara terfav, dia emang kaya karakter hehehe. Suka berat ya ama si Ayam ?-CHIDORI-tepar- alamat FB? Cari aja Yusha D' Daesung, itu saia. Nanti saling sapa ya ^^ Makasih ^^
misterious girl : ^^ Makasih banyak-peyuk-peyuk- ini updetannya, semoga suka! ^^
uchiha ritsu : Judulnya aneh? –pundung sambil main congklak-?- tapi Makasih udah mau baca, ripiu pula ^^ salam kenal, RnR, lagi? ^^
diosas : Sabar sayang, ini updet ^^ maafffff nunggu lama, RnR lagi ya? ^^
Makasih semuanya termasuk silent readers ^^ masih setia sama fict ini, sumpah, kemaren bawaannya males ngetik –watados- tapi waktu baca ripiu-ripiu kalian Yusha jadi pengen cepet-cepet updet deh, hehehe. Gimana, pasti makin Gj? Beuh Yusha mah udah ngerasa –pundung- tapi moga aja kalian nggak bosen.
Mungkin ini akan jadi panjang ceritanya, secara banyak banget chara yang mau nggak mau juga kudu ikut di ceritain di sini, jadi sabar ya ^^
Hup! Ada kuis, apa coba jawaban Sakura? Diterima, ditolak atau Sasuke malah disembelih-disepak- monggo silahkan menjawab, siapa yang menang, Yusha bikinin satu buah fanfict dengan ide dan pairing's sesuai keinginan kalian deh, well khusus buat yang menang ^^
Ditunggu di kotak ripiu ^^
Jaaaaaaa ^^
