IM NOT A GOOD BOY (Kaisoo Ver.)

.

"It only takes few seconds to hurt but sometimes it takes years to repair the damage."

.

Chapter 4

Hujan begitu lebat mengguyur kota Seoul siang itu. Semenjak sejam yang lalu Jongin hanya duduk di kursi mobilnya memandang rumah besar yang merupakan tempat tinggal Presiden Shinwa bersama istrinya, Do Hyemi. Hancur memang, Jongin merasa cintanya benar-benar telah usai, namun tetap saja Hyemi masih memenuhi rongga dadanya. Akhirnya setelah kekalutan hatinya, dia membawa payung dan beranjak menuju gerbang rumah besar tersebut sambil membawa amplop yang beberapa waktu lalu dititipkan Hyemi untuknya. Sebelum menaruh amplop tersebut pada kotak surat di depan gerbang, dia teringat ucapan Taemin sebelum pemuda tersebut berpamitan pada Jongin akan pergi ke luar negeri bersama kekasihnya.

"Jangan kau kembalikan semua uang itu kepadanya, Jongin. Ambilah 10% saja. Anggap sebagai upah yang pantas untukmu. Toh bagi Hyemi noona uang segitu hanya untuk membeli satu tas saja."

Namun Jongin tetaplah Jongin, meskipun dirinya telah menjajakan tubuh, di depan Hyemi dia tetap ingin terlihat sebagai seorang yang memiliki harga diri tinggi.

Jongin menyelipkan uang dalam kotak surat rumah besar tersebut. Dia hendak menuju mobilnya kembali sebelum ponsel dalam sakunya bergetar menunjukkan nama Yeri.

"Halo, Yeri"

"Oppaaa!"

Jongin nampak panik karena di seberang telpon Yeri berteriak sambil menangis.

"Kenapa kau menangis? Apa kau sakit lagi?" Tanya Jongin terburu karena sangat khawatir.

"Ada polisi di rumah, mereka mencari Oppa dan mereka menggeledah semua tempat." Ujar yeri sambil terisak.

Jongin terdiam, dia tidak tahu penderitaan apa lagi yang menanti di depan matanya. Dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh karena tangisan Yeri yang tak kunjung berhenti.

Sesampainya di rumah dia mendorong pagar dalam keadaan hujan yang masih deras dan terlihat beberapa polisi yang membawa beberapa barang sitaan dari rumahnya.

"Oppa! Oppa!" Yeri langsung menubruk Jongin dan memeluknya erat.

"Apa kau yang bernama Kim Jongin?" Tanya salah satu polisi yang mengetahui kedatangannya.

"Ya benar."

"Saya detektif Kim Kyung Ho dari kepolisian Chong Ro. Do Hyemi menuntut Kim Jongin karena pemerasan." Ujar polisi yang memakai jubah hujan tersebut sambil menunjukkan tanda pengenalnya pada Jongin.

Jongin maupun Yeri terbelalak.

"Apa yang kau katakan?" Jongin menatap polisi tersebut tidak percaya.

"Kenapa Oppa dituduh memeras? Oppa tidak mungkin melakukan itu!" Yeri berteriak pada polisi tersebut sambil menghalau dingin akibat hujan yang masih membasahi tubuhnya.

"Sebaiknya kita ke kantor polisi dulu." Polisi tersebut mulai menyeret Jongin.

"Tidak, kalian tidak boleh membawa Oppa!" Yeri histeris dan berusaha meraih tangan kakaknya yang sudah diseret polisi. Namun tetap saja, tenaganya tidak seberapa dibandingkan polisi yang membawa Jongin. Akhirnya Yeri hanya menangis di depan rumahnya melihat Jongin akan di bawa ke kantor polisi.

"Siapa nama orang yang menuntutku barusan?" Tanya Jongin memastikan dan menghentikan langkahnya sebentar.

"Do Hyemi." Jawab si polisi.

Sesampainya di kantor polisi ternyata Hyemi sudah berada disana bersama sekretaris Han. Jongin melangkah gontai menuju ruang interogasi dan hanya menatap datar Hyemi yang duduk menahan gugup luar biasa. Jongin diseret polisi untuk duduk di depan Hyemi dan melakukan interogasi.

"Nyonya Do Hyemi, Anda berkata bahwa tertuduh memeras Anda dengan informasi rahasia tentang keluarga Anda. Dan dia meminta uang sebesar 1 milyar won. Benarkah?" Tanya detektif Kim memulai interogasi.

Namun Hyemi hanya diam, dia tidak mengatakan apa-apa.

"Benarkah itu, Nyonya?" Ulang detektif Kim.

Hyemi masih bungkam. Jongin menunggu apa yang akan dikatakan Hyemi dengan wajah tidak menunjukkan ekspresi apapun.

"Di hadapan tertuduh anda harus mengkonfirmasi terlebih dahulu tentang laporan anda, Nyonya." Detektif Kim mulai jengah melihat Hyemi yang hanya diam.

"Silakan, Nyonya." Sahut Sekretaris Han.

Hyemi kembali menatap Jongin yang ada di depannya beberapa saat dan akhirnya buka suara.

"Orang yang ada di hadapanku ini, memeras dan mengancam keselamatan keluargaku. Dia mengetahui informasi rahasia soal manajemen perusahaan. Untuk menjamin dia tidak membocorkan rahasia tersebut dia meminta bayaran sebesar 1 milyar won." Hyemi terlihat berkaca-kaca menatap Jongin setelah menyelesaikan kalimatnya.

Jongin mencoba tenang di tempat duduknya, dan mempertahankan raut datarnya. Meskipun dalam hatinya dua begitu sesak. Bagaimana mungkin seorang Hyemi bisa menuduhnya begitu kejam tentang hal yang tak pernah dilakukannya.

"Tertuduh, apa anda mengaku bersalah atas dakwaan tersebut?" Lanjut detektif Kim.

Lagi-lagi Detektif Kim menghela nafas kasar, karena interogasi berjalan alot yang disebabkan Jongin juga tidak terlihat tanda-tanda akan menyanggah tuduhan dan hanya menatap Hyemi dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.

"Kim Jongin, apa anda mengaku bersalah?" Detektif Kim menginterupsi keterdiaman Jongin. Namun lagi-lagi Jongin hanya diam.

"Aku ingin mencoba memahami-" Ucap Jongin dalam hati.

"Sekali lagi, tertuduh apakah anda mengakui kesalahan anda?" Sebal detektif Kim yang tidak juga mendapat jawaban Jongin.

"-bahwa aku tidak lagi berhak memiliki Noona. Nonna dan aku adalah dua orang berbeda yang hidup dalam dua dunia yang berbeda. Aku sudah memahami hal itu. Kau tidak perlu melakukan ini. Aku sudah bermaksud untuk melupakanmu, Noona. Kau tidak perlu melakukan ini karena aku sudah bermaksud merelakanmu, Park Hyemi, pada pria yang kau inginkan." Lanjut Jongin dalam hati tanpa niat untuk menjawab pertanyaan sang detektif.

"Yak! Kim Jongin apa kau tidak akan menjawabnya? Kalau kau seperti ini, kami tidak punya pilihan selain menganggapmu bersalah seperti tuduhan ini."

"Bolehkah aku bertanya?" Akhirnya Jongin membuka suara namun tidak ditujukan untuk detektif Kim melainkan pertanyaan itu ia tujukan pada Hyemi yang hendak beranjak setelah detektif Kim mempersilakan pulang karena Jongin tak kunjung bicara.

Hyemi menoleh pada Jongin yang masih terduduk.

"Dunia seperti apa disana? Dunia yang kau tinggali sekarang- aku bertanya-tanya seperti apa disana. Bagaimana kau bisa membuat orang biasa menundukkan badan, merasa segan padamu, kehilangan akal dan menyerahkan segalanya padamu?" Ujar Jongin datar menatap manik Hyemi yang berkaca.

"Dasar kurang ajar! Saat aku bertanya padamu bibirmu terkunci. Omong kosong apa yang kau katakan?" Itu Detektif Kim yang membentak Jongin.

Hyemi menghala nafas sebelum menjawab pertanyaan Jongin.

"Jika aku memberitahumu, dapatkah kau memahaminya? Dunia ini sangat mengagumkan dan menakjubkan, bagaikan mimpi yang membuatmu sulit bernafas. Jika aku memberitahumu, dapatkah kau membayangannya? Seseorang sepertimu?"

Hyemi meninggalkan ruang interogasi setelah menjawab Jongin bersama sekretaris Han.

Sesampainya di rumah, pembantunya menyerahkan amplop yang ditujukan untuknya namun tidak terdapat nama pengirim.

Hyemi tercengang, ternyata isi amplop itu adalah cek uang 1 milyar won yang kemarin dia berikan pada Kim Jongin.

.

.

.

"Apa kau sudah gila, Kyungsoo? Apa kau masih bisa berpikir dengan benar?" Teriak Tuan Do sang presiden Shinwa.

"Permintaan serikat pekerja untuk menjadikan beberapa pekerja menjadi karyawan tetap itu masuk akal. Aku membuat keputusan bahwa jumlah tersebut tidak akan mempengaruhi seluruh perusahaan. Selama dua tahun ini serikat pekerja setuju untuk membantu kita menunda kenaikan upah karena resesi ekonomi. Jadi kurasa kita harus membalas mereka." Jawab Kyungsoo mantap.

"Jadi kau berkompromi sekarang? Maka dengan mudahnya mereka akan melupakan nilai kompromi itu. Selanjutnya mereka akan minta dua, tiga, dan lebih. Itu adalah sifat manusia juga karakter dasar dari serikat pekerja!" Bentak Tuan Do dan menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan. "Mereka akan berterima kasih padamu saat ini, tapi bagaimana jika kemudian mereka memintamu untuk menambah jumlah dari pekerja tetap? Bagaimana jika terjadi resesi ekonomi lagi dan kita harus melakukan PHK agar tidak bangkrut? Apa kita bisa memecat pekerja tetap dengan mudahnya? Bagaimana kita dapat menanggung semua pekerja tetap itu?"

Kyungsoo tersenyum miring, sebelum menanggapi bentakan ayahnya.

"Kita pasti bisa. Jika kita bekerja sama dengan serikat pekerja sekarang semua pasti lancar." Jawabnya di akhiri dengan senyuman.

Prank!!!!

Ayahnya melemparkan gelas kaca pada tembok di ruangan kerjanya dan pecahannya menggores sedikit pipi Kyungsoo. Pemuda penuh ambisi itu hanya memejamkan mata sejenak menikmati ketika darahnya sedikit mengalir di pipinya. Kemudia dia kembali menatap ayahnya seperti sedia kala.

Tuan Do mendengus dan kembali menatap anak sulungnya.

"Inilah kenapa mereka bilang kau hanyalah seorang pemuda yang tidak berpengalaman. Bekerja sama? Kau pikir serikat pekerja akan mempertimbangkan kesulitan perusahaan? Jika mereka mendapat tawaran yang lebih bagus dari orang lain mereka akan menghianati kita kapan saja. Aku sudah mengajarimu begitu banyak, tapi kau masih belum memahaminya juga? Apa kau bodoh? Sampai kapan aku harus menunggumu, bodoh?"

Tuan Do berhenti sejenak menunggu respon Kyungsoo. Namun anaknya hanya diam.

"Aku tidak akan menyerahkan Shinwa kepada seseorang yang tidak becus. Aku masih memiliki pilihan lain selain kau. Masih ada Hyemi dan Jiwon. Jika kau tidak bisa mengatasinya, tinggalkan saja. Pergi saja seperti yang ibumu lakukan."

Kyungsoo menggemeretakkan giginya menahan amarah karena dengan mudahnya Tuan Do menyebutkan nama Hyemi dan Jiwon sebagai calon penerus Shinwa dan begitu mudahnya sang ayah menyuruh anaknya pergi. Namun, Kyungsoo tahu, ayahnya hanya sedang menggertak dirinya. Sehingga tanpa membalas ucapan Tuan Do, pemuda itu kembali ke kamarnya dengan pikiran yang kacau.

Kyungsoo merenung di atas kasurnya sebelum Hyemi datang membawa teh hangat untuk anak tirinya.

"Apa kau baik-baik saja, Kyungsoo?"

"Mungkin tidak, luka ini akan berbekas." Jawab Kyungsoo menunjuk luka di pipinya dengan pandangan remeh pada Hyemi.

"Istirahatlah.." Ujar Hyemi sebelum berbalik hendak keluar kamar Kyungsoo.

"Bagaimana pemeriksaan sidang tadi?" Kyungsoo kembali menginterupsi.

Hyemi berhenti dan menggerakan maniknya gusar sebelum berbalik menghadap Kyungsoo lagi.

"Pria itu mungkin akan dibebaskan karena kurangnya bukti. Tadi aku ditelepon oleh Sekretaris Oh. Tertuduh tidak mengaku bersalah. Dia menolak menjawab semua pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Tidak ada bukti kuat yang mendukung tuduhan yang ditujukan kepadanya. Bagaimana dengan uang 1 milyar won itu, kemana uang itu?" Cecar Kyungsoo yang membuat Hyemi Jengah. Wanita itu hendak berbalik tanpa menjawab sebelum Kyungsoo berbicara lagi.

"Kau tahu nama panggilanku adalah Anjing Gila, kan? Polisi yang memutuskan untuk membebaskannya, tapi aku tidak akan membiarkannya, aku ingin tahu bagaimana pendapatmu tentang hal ini?"

Hyemi yang menahan amarah sedari tadi akhirnya menghampiri Kyungsoo.

"Uang itu sudah kembali padaku."

"Bagaimana bisa?" Remeh Kyungsoo.

"Karena dia gagal menjalankan misi. Aku memintanya untuk membunuh anak dari pernikahan pertama suamiku tapi dia gagal dan membiarkanmu hidup. Kenyataan bahwa kau pernah ditahan karena narkoba dan dibebaskan tujuh tahun lalu. Jika para pemegang saham mengetahui hal itu mereka tidak akan tinggal diam. Kesempatanmu untuk meneruskan memimpin perusahaan akan hilang. Aku dan Jiwon sangat berterima kasih karena telah mengetahui kartu As-mu."

"Jadi, apa inti ancamanmu?"

"Jangan kau berlagak dan membuat aku marah yang akan menjadikan alasan untukku membuka kartu As-mu, mari kita menikmati permainan ini. Kita akan lihat siapa yang akan menang dan siapa yang akan hancur." Hyemi langsung berbalik meninggalkan Kyungsoo yang terdiam di tempatnya.

.

.

.

Jongin benar-benar dibebaskan karena kurangnya bukti, dia sangat terpukul karena ternyata Yeri masuk rumah sakit dan masih tak sadarkan diri. Di saat seperti ini, dia ingat kecerobohannya dulu yang membiarkan Yeri menahan sakit sementara dia pergi melindungi wanita yang telah menghancurkan hidupnya saat ini. Jongin benar-benar marah, maka dia melampiaskan kemarahannya dengan mengendarai motor sport nya dengan kecepatan tinggi, membelai tebing, semak, pegunungan. Dan di tengah jalan dia terkejut mendapati seseorang yang juga sama-sama memakai kostum balap dengan motor sport nya melaju kencang dan melewatinya. Hal ini memacu Jongin untuk melakukan balap dengan seserang yang entah siapa itu. Terjadi saling salip menyalip antara kedua motor tersebut selama beberapa menit. Sampai tiba-tiba salah satu pengendara tersebut tidak melihat ada pohon yang tumbang di tengah jalan yang mengakibatkan motornya hilang keseimbangan dan jatuh ke jurang. Helm sesorang yang ternyata adalah Kyungsoo itu terlepas dan dirinya tersangkut pada ranting pohon begitu pun motornya.

Jongin melihatnya dan berusaha membawa tangan Kyungsoo naik keatas tebing. Ranting itu patah dan Jongin dengan sekuat tenaga menahan tangan Kyungsoo agar tidak terjatuh.

Brukkk!!

Kyungsoo terjatuh menindih Jongin saat pemuda tan tersebut berhasil menyelamatkannya. Jongin bernafas lega. Namun, lagi-lagi Jongin dibuat heran dengan pemuda di depannya yang hendak kembali ke motornya yang tersangkut pada ranting di jurang. Dia segera menarik tangan Kyungsoo untuk menjauhi tebing namun Kyungsoo berontak sambil menangis.

"Lepaskan aku bodoh, aku harus kesana!"

"Kau akan jatuh jika kesana pemuda bodoh!"

"Apa pedulimu, cepat lepaskan!"

Jongin terdorong oleh tenaga Kyungsoo yang akan turun ke tebing. Melihat Kyungsoo yang benar-benar terlihat depresi, Jongin segera bangkit lagi dan menghentikan aksi pemuda di depannya.

"Apa kau mau bunuh diri, hah? Kau bisa membeli motor baru, untuk apa kau berusaha mengambil motor itu!" Bentak Jongin yang mencoba menyadarkan Kyungsoo.

"Sap- sapu tanganku, sapu tangan ibuku tertinggal disana, aku harus mengambilnya, lepaskan aku."

Jongin mengusap kasar wajahnya.

Kyungsoo masih berusaha turun, sebelum lagi-lagi Jongin menahan pundaknya.

"Biar kuambilkan untukmu. Kau ingin mengambil sapu tanganmu?"

Kyungsoo akhirnya menatap Jongin, dan mengangguk dengan penuh kepanikan karena satu-satunya kenangan dari ibunya tertinggal dibawah sana.

Jongin mengaitkan tali pada ranting pohon yang lain untuk membawa tubuhnya turun dan mengambilkan sapu tangan Kyungsoo. Sementara pemuda keras kepala itu terduduk dengan tubuh gemetar melihat Jongin yang sedang berusaha turun.

Namun, naas...

Tali tersebut sudah rapuh dan akhirnya putus membuat Jongin membelalakkan matanya karena tali sudah tidak tersangkut pada ranting pohon. Dia memejamkan matanya, dan berkata dalam hati mungkin inilah akhir dari hidupnya. Namun jika dia berakhir seperti ini, siapa yang akan menjaga Yeri? Bayangan Taemin tiba-tiba muncul di kepala Jongin. Ya! Dia yakin setelah kepergiannya, Yeri akan baik-baik saja dengan Taemin.

"Maafkan Oppa, Kim Yeri.. Oppa sangat menyayangimu..."

Dan saat itulah tubuh Jongin terjatuh di Jurang, Kyungsoo yang panik pun membelalakan matanya dan tidak percaya tentang apa yang dilihatnya saat ini.

To Be Continue

.

.

Author's Note

Masih ada yang inget cerita ini nggak? maaf yang baru bisa kambek lagi membawa FF amburadul ini.

Pertama, maaf yaah bagi yang nunggu kaisoo moment belom bisa aku kasih banyak, karena emang dramanya begitu. Nyesek banget di awal. Tapi ntar sweet kok..

Mohon reviewnya yah readers, supaya aku gak kena males nulis lagi haha :D

xoxo,

Baby Blue