Namjoon mendekap erat tubuh Jungkook, mencoba menyalurkan kehangatan ditubuhnya ketubuh anak itu. terkadang ia mengelus surai merahnya.
Tapi rayuan dari rasa mengantuk itu tidak pernah berhenti menggodanya, dan pada akhirnya kesadaran Namjoonpun akhirnya kalah oleh godaan itu dan langsung membawa kesadarannya kekegelapan menyusul anak yang kini tengah dipeluknya.
Mereka tertidur.
.
.
Please See Me
Author : L ( XVLove )
Cast : Kim Namjoon / Rap Monster, Kim Seokjin / Jin, Jeon(Kim) Jungkook / Jungkook
Pair : NamJin, NamKook slight Other
Rate : T
Genre : Romance, Angst, School life, Sad
Summary : Jin bersahabat sangat dekat dengan Namjoon, bahkan Namjoon sudah mengenal dekat keluarganya Jin. Tapi Jin sebenarnya memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat, perasaan yang juga dirasakan oleh adiknya, Kim Jungkook. Rumit? Well itu belum seberapa, ini berisi tentang cerita sang adik yang mencintai hyung kandungnya, sahabat yang mencintai sahabat, anak remaja abg yang bahkan tidak tau siapa yang dicintainya. ups, ini adalah boys love
Warning : BL/Boys Love, Typo, OOC dan kekurangan Author lainnya
.
Something Called Beggining
.
Putih, mulus, tampan, cantik. Ya seperti itulah orang-orang memuja keindahan tubuh Jin yang bagaikan porselen itu. Bahkan keindahan itu mampu melelehkan hati seseorang yang cuek sepertinya, seperti dirinya. Namja bertampang sangar namun dibalik itu semua ia memiliki senyum rahang yang sangat mempesona, yah jika kalian mau tau tentunya. Matanya terus menatap lembut wajah damai Jin yang sangat Angelic yang saat ini tengah tertidur pulas di tempat tidurnya.
Ia ingin sekali menyentuh wajah itu dan setelah perdebatan cukup panjang dengan pikirannya sendiri akhirnya ia memutuskan untuk menggerakkan tangannya hendak menyentuh wajah itu. walaupun pada akhirnya tangan itu tidak pernah sampai, karena entah kenapa tangan itu berhenti ketika kulitnya hampir bersentuhan dengan kulit wajah Jin yang ia yakin sangat lembut itu. Ia menatap tangannya tajam seolah-olah tangan itu akan merusak kulit Jin jika sampai kulit mereka bersentuhan.
Sejak kapan ia begitu menganggap namja dihadapannya ini penting? Pandangan pertama? Cinta pada pandangan pertama?
Mungkin, mungkin memang ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama-meskipun bukan pertama kali ia memandang wajahnya- pada namja populer dihadapannya ini. Siapa yang tidak kenal pada artis terkenal Kim SeokJin, anak dari model terkenal kelas dunia Jessica, dan memang harus diakui olehnya kalau SeokJin itu memang tampan terlebih lagi cantik apalagi setelah ia melihatnya secara langsung. Namja ini, Kim Seokjin telah berhasil mencuri hatinya.
"Nnghh..." Erangan manis meluncur keluar dari bibir pink kissable Jin.
Kelopak matanya terbuka dengan perlahan menampilkan manik indah miliknya. Ia melihat kesekeliling dengan kebingungan, matanya terhenti pada sesosok namja yang kini tengah memperhatikannya dari sudut tempat tidur. Percayalah, namja itu berusaha sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak "menyerang" Jin saat namja itu mengerjapkan matanya dengan lucu.
1 detik
2 detik
3 detik
4 det-
"GYAAAA! Tolong aku! aku diculik oleh preman pasar ini! UMMA! APPA! Tolong! OH Tidak! Bahkan aku sudah berada di ranjangnya! Jangan mendekat!" Sweatdropped... Oh ayolah, memangnya apa yang akan kalian lakukan jika seandainya kalian berada di posisi namja itu?
Ditambah lagi... kenapa ini serasa deja vu ya?
"Haah... haruskah kita mengulangi kejadian kemarin?" Ucap namja itu malas.
"Eh, tunggu... kemarin? Oh! Kau namja itu! Err... Siapa namamu... aku lupa hehehe" namja itu menghela nafas berat mendengar penuturan Jin barusan.
"Yongguk, Bang Yongguk. Dan kau tidak lupa, tapi dari kemarin kita belum berkenalan, yah walaupun tak butuh berkenalan bagiku untuk mengenal orang yang terkenal sepertimu"
"Ohh... hahaha..." Jin tertawa canggung. Sejujurnya ia tidak tau harus bagaimana sekarang. Kalian ingat cerita masa kecilnya kan? Tapi sejujurnya ada hal lain yang mengganggu pikirannya saat ini.
"Ummm... Ke-kemarin, apa m-maksudmu dengan kemarin?" Suara nya menjadi gugup saat bertanya. Bukan karena ia malu, atau memang karena ia merasa sedikit malu tapi hei, ini bukan karena itu! ini karena tiba-tiba saja Yongguk naik keatas tempat tidur dan bersandar disebelahnya! Dan entah kenapa itu membuat jantungnya berdegup kencang...
"Kau lupa? Kemarin setelah mengantarmu ketempat pemotretan aku tetap menunggumu karena melihat keadaanmu yang lelah. Dan benar saja, kau pingsan ketika pemotretan selesai dan tidak ada orang disana. Dan karena aku tidak tau rumahmu dimana makanya aku membawamu ke apartemenku." Jin mengangguk mendengar penjelasan Yongguk sambil terus menikmati wajah ehem tampannya.
'YA! APA YANG KUPIKIRKAN!?'
"Em.. S-sudah berapa lama, a-aku tertid-ur?" Tanya Jin dengan susah payah, entah apa yang terjadi padanya saat ini.
"Kau pingsan sekitar jam 7 malam, dan sekarang sudah jam 2 pagi, itu artinya kau tidur selama 7 jam."
"Mwo!? Jam 2 pagi!? Kalau begitu aku harus segera pulang!" Ucap Jin langsung bangkit dan mengambil tasnya dan merapikan penampilannya,
"He-Hey! Kau mau kemana! Ini sudah malam!" Yongguk menahan pergelangan tangan Jin dan membuat sang empunya tangan beralih dan menatapnya.
"Aku harus pulang! Adikku Jungkook sendirian dirumah! Aku belum menelpon Namjoon untuk menjaganya! Dia pasti kesepian!" Ucap Jin dengan suara yang penuh dengan perasaan khawatir dan sedih yang memenuhi hati dan pikirannya.
"Tapi ini sudah larut malam! Lebih baik kau tinggal disini dulu, aku akan mengantarkanmu nanti pagi"
"Aku sudah bilang Jungkook sendirian dirumah! Bagaimana kalau di-"
"Ya sudah! Kau benar-benar keras kepala! Silahkan pergi!" Jin menatap Yongguk yang kini melipat tangan didadanya kemudian memunggunginya. Sejujurnya ia merasa bersalah, tapi Jungkook tetaplah yang terpenting untuknya.
"Oh iya, didaerah sekitar sini sering ada sekumpulan anak-anak berandalan yang suka berkumpul dan berkeliling area disekitar sini. Berhati-hatilah jika bertemu mereka."
*DEG
Entah kenapa rasanya tangannya sangat sulit untuk digerakan, padahal ia hanya tinggal membuka pintu dan keluar dari tempat ini dan pulang menemui adiknya, tapi tetap saja, kenapa rasanya sulit sekali ya?
'Tidak, tidak mungkin. Dia pasti berbohong... biar bagaimanapun juga aku harus pulang' batinnya berusaha untuk menyemangati dirinya.
*KLEK
Dan sepertinya itu berhasil karena sekarang ia berhasil membuka pintu itu dan berjalan keluar apartemennya. Ia baru sadar ternyata apartemen Yongguk berada didalam sebuah gedung yang cukup tinggi dan apartemennya itu berada di lantai... mungkin lantai 15. Ah sudahlah, ia adahal yang lebih penting saat ini. Ia kembali berjalan menuju lift yang ada disana.
Namun jari lentiknya itu tiba-tiba saja berhenti ketika ia hendak menekan tombol disana.
'Tidak-tidak! Dia pasti berbohong!' ia menggelengkan kepalanya dengan kuat ketika kembali teringat ucapan Yongguk tadi. Ia terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa Yongguk berbohong dan menekan tombol itu.
Ia menunggu dengan gusar didalam lift itu sambil tetap meyakinkan dirinya sampai pintu lift itu terbuka. Dengan langkah cepat ia berjalan keluar dari sana. Ia sebenarnya masih lelah saat ini, tapi pikiran tentang Jungkook yang ketakutan sendirian di rumah mereka membuatnya lupa akan rasa lelah itu dan terus berjalan. Namun saat keluar dari apartemen itu ia menyadari kalau ia melupakan hal lain yang tidak terpikirkan olehnya.
Untuk apa seorang Bang Yongguk berbohong padanya?
'Sial' rutuk Jin pada dirinya sendiri karena tidak mendengarkan ucapan Yongguk. Ia menatap horror sekumpulan orang yang ia tebak anak remaja sma seangkatan dengan adiknya itu dan terus berjalan. Bulu tengkuknya langsung berdiri ketika salah seorang anak itu melihatnya dan membisikkan sesuatu pada teman-temannya yang Jintidak tau apa itu tapi hal itu membuat teman-temannya melihat kearahnya dan sukses membuat Jin menghentikan langkahnya. Ia dapat melihat remaja-remaja itu menyeringai dan mulai berjalan kearahnya dengan perlahan.
'Baiklah, sepertinya aku tidak memiliki pilihan lain' batinnya kemudian perlahan melangkahkan sebelah kakinya mundur dan detik berikutnya ia sudah menghilang dari pandangan, meninggalkan sekumpulan remaja tadi berkedip bingung.
.
*Cklek
Jin membulatkan matanya ketika melihat Yongguk masih berdiri membelakangi pintu keluar tanpa merubah posisinya sedikitpun, menurunkan tangannya saja tidak. Dan entah kenapa, melihat Yongguk seperti itu membuatnya merasa bersalah, karena tidak mendengarkannya, karena membuatnya marah, dan entah karena apa lagi, yang jelas ia merasa sangat bersalah sekarang. Ia berjalan perlahan mendekati Yongguk.
"Hei" Panggilnya ketika jaraknya sudah dekat dengan Yongguk.
"Umm... maaf karena tidak mendengarkanmu sebelumnya." Ucapnya namun tidak ada balasan dari Yongguk.
"Aku mengerti jika kau marah karena itu aku minta maaf" Hening, Jin mengepalkan tanganya kesal.
"HEI! Aku kan sudah minta maaf, jadi ucapkan sesuatu!" Ucap Jin yang kini merasa sangat kesal karena dari tadi Yongguk tidak juga bersuara.
"Ya sudah kalau kau tidak mau berbicara! Aku juga tidak akan berbicara!" Jin menyikangkan tangannya dan mulai mem-poutkan bibirnya kesal. Andaikan saja Yongguk tidak membelakangi Jin, ia pasti sudah luluh dan langsung mencium bibir Jin yang Kissable itu.
1 detik
2 detik
3 detik
Walaupun baru berapa detik berlalu selama kebisuan mereka, namun bagi Jin ini sudah berjam-jam dan ia merasa sangat kesal, sedih dan juga lelah disaat yang bersamaan. Ia bingung kenapa namja yang baru saja ditemuinya bisa membuatnya merasa resah seperti ini.
"Aku mohon... berbicaralah..." Ucapnya dengan suara yang bergetar. Yongguk dapat merasakan remasan Jin pada baju belakangnya.
"Aku mohon... ber- hiks.. berbicaralah... katakan sesuatu.." Jin dapat merasakan kakinya yang entah kenapa kehilangan tenaganya, membuatnya jatuh berlutut dan menempal kepalanya ketubuh Yongguk tanpa melepaskan pegangannya pada baju namja itu.
"Kalau kau marah.. katakanlah sesuatu... jangan seperti ini... jangan membuatku terluka.. jangan.. hiks.. membuatku merasa.. hiks.. kesepian..." Suara bergetar Jin yang berusaha menahan air mata dan suara yang keluar dari mulutnya mau tak mau membuat Yongguk meluluhkan hatinya dan berbalik kemudian mengangkat tubuh Jin sambil memegang kedua bahunya. Jin mengangkat kepalanya dan kini Yongguk dapat melihat betapa rapuhnya namja dihadapannya ini. Dan betapa brengseknya ia telah mempermainkan perasaan namja serapuh ini, padahal ia hanya berniat memberikannya pelajaran tapi ia sadar, kalau ia memang keterlaluan. Ia benar-benar menyesal telah membuat Jin menjadi seperti ini.
Why it hurts so much?
"Maafkan aku. Aku mohon jangan menangis." Ucap Yongguk dengan suara lembut dan menghapus air mata Jin.
"Aku akan mengantarkanmu besok pagi, jadi apa kita bisa tidur sekarang?" Tanyanya masih dengan nada lembut yang kau tidak akan pernah sangka dapat keluar dari seorang Bang Yongguk.
Jin menganggukan kepalanya dan mengusap kedua matanya. Dan detik berikutnya, pipinya bersemu merah ketika melihat Yongguk tersenyum kearahnya dan membantunya berjalan kearah tempat tidurnya. Yongguk membantunya untuk membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur kemudian ia mematikan lampu dikamar itu sebelum berjalan kesisi lain tempat tidur.
Jin berusaha untuk tertidur, tapi pikirannya yang masih saja khawatir dengan adiknya membuat ia tidak bisa berjalan dengan tenang kedunia mimpi. Hatinya sangat resah memikirkan keadaan adiknya saat ini. apa ia baik-baik saja? Tiba-tiba dikepalanya terlintas sesuatu.
Dengan cepat ia meraih saku celananya dan mengambil sesuatu disana. 'Semoga masih ada..' doanya dan senyum langsung mengembang diwajah tampannya ketika melihat masih ada 1 titik di bateray handphonenya. Dengan cepat ia mengetikan pesan singkat kepada seseorang kemudian meletakkan hpnya di meja yang ada dipinggir tempat tidur itu dan mulai kembali berusaha untuk tertidur. Tapi entah kenapa ia tetap tidak bisa tenang. Ia kemudian merubah posisi tidurnya menyamping menghadap kearah hpnya berharap akan ada balasan dari orang yang dikirim pesan singkat olehnya tadi. Ia menunggu dengan gusar dan sangat khawatir. Ia benar-benar tidak tenang sekarang.
Matanya membulat ketika merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya, dan ia dapat merasakan nafas yang hangat ditengkuknya. Dan anehnya, hal itu malah membuatnya merasa tenang, hembusan nafas ditengkuknya seolah-olah mengusir beban-beban yang selama ini menumpuk disana. Pelukan dipinggangnya membuatnya merasa aman dan seolah-olah kekhawatirannya sedari tadi lenyap entah kemana dan menenangkan nafasnya namun tidak dengan detak jantungnya. Namun, dengan detak jantung yang secepat itu, ia malah merasa sangat mengantuk.
Perlahan, ia menutup matanya, menikmati cumbuan dari kegelapan dan suara detak jantungnya.
.
"Nggghhh" Erang namja bersurai merah itu, perlahan ia membuka matanya dan menampakan iris menawan sang empunya mata. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya. Senyuman mengembang diwajahnya ketika melihat sepasang tangan tengah memeluknya erat saat ini, dan senyumanya semakin melebar ketika melihat wajah namja bersurai blonde yang tertidur pulas sambil memeluknya dari belakang ini.
Sungguh sangat disayangkan memang, jika moment yang selama ini kau tunggu-tunggu harus berakhir ketika kau bangun tidur tapi mengingat ia harus pergi kesekolah dan juga mereka berdua harus makan ditambah lagi tidur di sofa dengan posisi duduk bukanlah hal yang bagus.
"Haaaahh..." Desahnya kecewa, tapi ia tidak memiliki pilihan lainkan? Lagi pula ia harus berhenti bersikap seperti anak-anak kan.
"Hyung..." Panggilnya namun tidak mendapat respon apapun. Ia kemudian memutar posisinya tanpa melepaskan pelukan tangan Namjoon dari pinggangnya. "Hyu...ng.." Entah kenapa ia merasa sulit sekali bernafas dalam posisi seperti ini. Posisi dimana ia dapat melihat dengan jelas wajah namja yang selama ini disukainya. Cukup lama ia memandang wajah Namjoon, mengagumi paras tampan miliknya dan memastikan ia masih tertidur sebelum matanya kini tertuju pada bibir menggoda yang tepasang manis diwajah namja itu,
'aku pasti sudah gila' batinnya kemudian merangkak dan duduk dipangkuan Namjoon.
Dengan perlahan ia mendekatkan kepalanya kearah Namjoon, memperpendek jarak diantara mereka, sangat dekat dan ia mulai memejamkan matanya. Ia dapat merasakan hidungnya bersentuhan dengan Namjoon. Ia berhenti sejenak, menikmati sentuhan antara kulit hidung mereka sebelum kembali mendekatkan wajahnya dengan sangat perlahan.
Perlahan
Sangat perlahan
Sampai ia dapat merasakan bibirnya menyentuh sesuatu yang lembut dan hangat. Diam, menikmati sentuhan antara bibir mereka, merasakan kehangatan dari orang yang selama ini dipuja olehnya. Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa bahagianya dia saat ini, ia bahkan bisa merasakan jantungnya yang berdetak seakan-akan ia akan melompat keluar dari dadanya. Dadanya bergemuruh saat menyesapi rasa hangat yang mengalir di bibirnya, yang mengaburkan pikirannya, memanggil kupu-kupu yang kini menari didalam perutnya. Kenapa rasanya begitu indah? Kenapa rasa ini membuatnya terus mengiginkannya lagi dan lagi?
From where the brave came from?
Dengan mengumpulkan seluruh keberanian yang ada didalam dirinya, ia mulai menggerakan bibirnya dengan perlahan mencium bibir itu. Entah sejak kapan, tapi yang jelas ia begitu mencintai namja yang ada dihadapannya ini dan itu terbukti dari ciumannya pada namja itu dengan penuh cinta meskipun namja itu sama sekali tidak merespon. Ia ingin menikmatinya, menikmati suasana yang mungkin tidak akan pernah terjadi lagi. Ia ingin menikmatinya, dengan sepenuh jiwa dan raganya. Karena ia telah jatuh cinta pada namja ini, ia telah jatuh cinta pada Kim Namjoon, jatuh dengan sangat dalam sampai ia tidak tau bagaimana caranya untuk bangkit lagi.
"Hmm.." Matanya membulat dan dengan cepat ia segera melepaskan bibirnya, namun ketika ia ingin beranjak dari pangkuan Namjoon, ia malah kehilangan keseimbangan.
"AH!" Untunglah Namjoon memiliki reflek yang cepat dan menahan pinggang Jungkook dengan tangannya yang masih memeluk dongsaeng kesayangannya itu. "Kau tidak apa-apa Kookie?" ucapnya.
"Eh... ia hyung aku tidak apa-apa" Jawabnya pada Namjoon dengan canggung. Ia berdoa mati-matian semoga Namjoon tidak mengetahui apa yang baru saja ia lakukan. "Syukurlah kalau kau tidak apa-apa" Jungkook tertegun melihat wajah Namjoon tersenyum, apalagi dari jarak sedekat ini, entah kenapa ia merasa wajah itu sangat mempesona. Ketakutan di hatinya seolah-olah sirna begitu saja.
"HHMPPP" "Ahh!" teriak mereka berdua kaget
Baiklah, tadi ketika Jungkook sedang asik-asiknya terpesona dengan ketampanan wajah Namjoon, sang empunya paras sedang berusaha untuk memindahkan posisi mereka agar lebih nyaman, tapi saat bergerak, sesuatu yang berada diselangkangan Namjoon yang memang sudah keras sejak awal, kebiasaan para namja kalo dipagi hari, menyentuh tepat ke sesuatu yang berada di belahan pantat Jungkook dan sontak membuat wajah mereka berdua memerah dan Jungkook menunduk malu.
"M-maaf" Ucap Namjoon dengan canggung. Jungkook turun dari pengkuan Namjoon dan berdiri dihadapannya masih dengan wajah yang memerah. "T-tidak apa hyung" Ucapnya tak kalah canggung, entah kenapa ia merasa sangat malu dan ehemsenangehem disaat yang bersamaan.
Cukup lama mereka terdiam dalam suasana yang bisa dikatakan "awkward" itu. "Err... hyung, apa Jin-hyung sudah pulang?" Tanyanya.
"Entahlah, aku rasa belum, tapi aku akan melihat kamarnya." Ucap Namjoon kemudian bangkit dari sofa.
"K-Kalau begitu aku akan mandi dan bersiap-siap untuk pergi kesekolah" Ucapnya
"Aku pulang!" Baru saja mereka hendak pergi dari tempat itu, namun kini seluruh perhatian mereka tertuju pada arah asal teriakan yang mereka yakin berasal dari seseorang yang mereka tunggu dari tadi malam. Dan benar saja, itu memang dia.
"Jungkook!" Teriaknya langsung memeluk Jungkook. "Maafkan hyung karena tidak pulang semalaman" Ia kemudian melepaskan pelukannya dan melihat kearah Jungkook. "YA! Hyung kemana saja!? Aku dan Namjoon-hyung menunggumu dari tadi malam" Ucapnya sambil memukul bahu hyungnya tersebut sambil bercanda.
"Ahahahah maafkan hyung karena meninggalkanmu tadi malam, hyung tidak bisa pulang karena ada sesuatu hal yang penting. Tapi syukurlah kau tidak sendirian. Sudah sekarang mandi sana, hyung yakin kalian belum makan, jadi hyung akan memasak sekarang" Senyuman di wajah Jungkook semakin melebar mendengar ucapan hyungnya itu dan menganggukan kepalanya dengan semangat kemudian berlari kekamarnya sambil berteriak "YEEY" dengan sangat keras dan membuat Jin menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku adiknya yang lucu itu.
Tapi ekspresinya langsung berubah menjadi dingin ketika melihat Namjoon sedang menatapnya.
"Kau kemana saja hyung?" Namjoon menggerakan tangannya kearah Jin hendak mengacak-acak rambutnya seperti biasa.
"Kau juga mandilah, kau bisa gunakan kamar mandiku" Ucap Jin dingin yang langsung meninggalkan Namjoon yang terdiam mengepalkan tangannya.
.
Jam istirahat adalah saat-saat yang paling ditunggu oleh semua siswa, termasuk siswa dari sekolah internasional Toei yang terkenal dengan fasislitas yang lengkap dan mewah, murid-murid yang pintar, dan juga berasal dari kalangan atass tentunya. Waktu seperti ini adalah waktu yang paling ditunggu oleh Jungkook dan juga dua hyung seangkatannya, Taehyung dan Jimin. Kalau kalian bingung kenapa Jungkook bisa seangkatan dengan mereka berdua yang sudah kelas 3, jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah karena Jungkook itu siswa akselerasi, jadi jangan heran kalau ia sudah ada di kelas 3 diumurnya yang masih muda.
Tidak kalah dengan kakaknya Kim SeokJin, Kim JungKook juga mewarisi paras tampan dan menawan layaknya sang kakak yang sepertinya memang warisan orang tua mereka. Oh siapa yang tidak terpikat dengan wajah tampan miliknya, baik yeoja maupun namja, jika sudah melihat dengan jelas ketampanan wajahnya, tidak akan ada yang bisa menolak kata cinta yang menghampiri mereka. Tapi yang jelas mereka semua harus saling bersaing untuk mendapatkan cinta mereka yang tak terbalaskan oleh Jungkook. Yah, kalaupun kau orang yang percaya diri bisa merebut hati seorang Jungkook, tapi nama Kim Taehyung dan Park Jimin akan menjadi dinding yang besar bagimu. Well, satu anak sekolahan sudah tau mereka itu bersahabat sekaligus bersaing untuk mendapatkan hati Kim Jungkook.
Bagaimana mereka tidak tahu, lihat saja sekarang, saat Jungkook tidak berada disekitar mereka berdua, mereka malah saling bertanding "siapa yang mati lebih dulu dengan tatapanku", bukankah itu sudah cukup jelas menggambarkan betapa saling jatuh cintanya mereka? Tapi sayang mata dan hati Jungkookie mereka hanya tertuju pada seorang Kim Namjoon. Sungguh ironi.
"Jadi.. kenapa kau ikut kursus dance?" Tanya Park Jimin dengan nada yang sangat serius dan terlampau sinis untuk wajah imutnya.
"Tentu saja agar aku bisa menari dengan baik, memangnya apa lagi?" Jawab namja dihadapannya, Kim Taehyung tak kalah sinis.
"Kalau kau memang hanya ingin menari dengan baik, kenapa harus kursus ditempat yang sama dengan aku dan Jungkook? Bukannya banyak tempat yang lebih bagus dari tempat kursus kami!?" Taehyung menyeringai, ia sudah tau sejak awal kalau pembicaraan ini akan mengarah kearah 'sana'.
"Aku punya banyak alasan Tuan Park. Yang pertama karena kursus itu adalah kursus langsung yang ditawarkan oleh sekolahku, yang kedua karena temanku yang bodoh berada disana, dan yang ketiga dan paling penting, karena orang yang kucintai berada disana dan aku tidak akan membiarkan temanku yang bodoh itu mendapatkan kesempatan untuk berdua dengannya lebih banyak dariku" Jimin menggeram kesal mendengar perkataan sahabat sekaligus rival cintanya sejak kecil.
"Kau ini! Kita berdua sama-sama tau apa yang Jungkook sukai dan kita sama-sama bersaing dalam hal itu tapi perlu kau tahu kalau kau berpikir dapat menyaingiku dalam hal ini kau salah besar. Kau tidak bisa menari Taehyung, kau tidak akan bisa menjadi lebih baik dari aku dan kau tidak akan bisa menjadi lebih disukainya dalam hal menari. Kau tidak akan menang!" Ucap Jimin kesal, ia bahkan hampir berteriak diakhir namun untung saja ia berhasil menahannya.
Taehyung menatap sahabatnya ini tidak percaya. Jimin telah mendeklarasikan sebuah perang kepadanya, dan ia dengan senang hati akan menerima tawaran untuk berperang itu, dan ia tidak akan kalah! Paling tidak, tidak sebelum berjuang! Ia menatap tajam Jimin begitu pula dengan Jimin yang menatapnya dengan tatapan yang sangat serius, menyiratkan persaingan cinta yang amat rumit diantara dua sahabat ini. Heeh, inilah yang menyebabkan Jungkook selalu aman dan terjaga dari orang-orang yang 'tidak pantas' mencintainya.
"Hyung! Ini aku bawakan makanan kalian!" Ucap Jungkook riang sambil meletakkan pesanan mereka diatas meja dan juga mengakhiri acara 'tatap-tatapan' kedua hyungnya. Jungkook dengan bahagia dan tersenyum lebar kemudian memasukan salah satu kentang goreng yang tadi dipesan olehnya kedalam mulutnya yang sedang tersenyum senang itu, membuat kesan 'Delicious Kookies for Your Day's' bagi setiap orang yang memandangnya termasuk kedua hyungnya itu. Mereka berdua memandang Jungkook dengan tatapan yang mencurigakan, memang Jungkook itu termasuk anak yang periang, tapi entah kenapa 'riang'nya Jungkook kali ini terasa berbeda.
"Kau kenapa?" Ucap hyungnya yang paling kekar, Park Jimin.
"Kenapa apanya?" Tanya Jungkook yang bingung dengan pertanyaan hyungnya itu.
"Kau terlihat ceria hari ini" Taehyung menjawab pertanyaan Jungkook dengan ekspresi yang errr... penasaran, mungkin? Bahkan author tidak bisa menebak ekspresi 4D milik Alien kita itu -_-.
"M-Memangnya kenapa? Bukannya kita memang harus melewati setiap waktu dihidup ini dengan bahagia?" Ucap Jungkook yang entah kenapa membuat Jimin dan Taehyung semakin curiga sampai-sampai mereka berdua memicingkan mata mereka.
"M-E-N-C-U-R-I-G-A-K-A-N" Eja mereka berdua bersamaan membuat Jungkook menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung bagaimana bisa kedua hyungnya ini bisa mengetahui kalau memang ada yang 'beda' dari dirinya? Apa orang yang habis kehilangan 'ciuman pertama' itu akan terlihat dengan jelas? Jungkook menepis pemikirannya dan dengan cepat ia memikirkan cara untuk menghilangkan kecurigaan dua hyungnya itu.
"A-aku senang karena... karena Taehyung-hyung akan ikut kursus dance bersama kita! Iya karena itu! aku bahagia sekali karena kita bisa selalu bersama!" Ucap Jungkook se'normal' mungkin agar hyungnya itu tidak curiga. Namun tanpa sadar pernyataannya barusan membuat salah satu hyungnya melayang keangkasa dan hyungnya yang lain ingin mengubur dirinya sendiri karena ia yang mulai bertanya.
"Lagipula aku harus selalu ceria setiap hari, kalau tidak wajahku akan cepat berkeriput seperti kalian berdua"
"YA! Jungkookie!" Teriak mereka berdua sebelum kemudian tertawa bersama.
Ah... inilah yang membuat Jungkook sangat nyaman berada bersama mereka berdua. Semua masalah yang selama ini dialaminya seolah-olah menguap tanpa bekas dan setiap kali ia merasa bahagia, kebahagiannya akan terasa sangat sempurna ketika bersama mereka. Entah akan jadi seperti apa hidupnya jika tidak ada mereka. Ia tidak tau dan tidak akan pernah mau tau.
.
Ada 3 hal yang Jimin dan Taehyung tau paling menarik untuk Jungkook. Yang pertama adalah menyanyi, yang kedua adalah menari dan yang ketiga adalah Kim NamJoon. Jungkook sangat suka menyanyi begitu pula Taehyung yang suaranya juga tak kalah bagus dari penyanyi-penyanyi papan atas, tapi Jimin juga tidak bisa diremehkan dan menurut Jungkook mereka semua sama-sama memiliki suara yang sangat bagus dan Jungkook menyukai hal itu, tapi itu tidak memuaskan mereka. Jungkook juga sangat suka menari, ia bisa menghabiskan berjam-jam hanya untuk menari, dan Jimin sangat baik dalam hal menari, ini membuat posisinya lebih unggul dari pada Taehyung dan Taehyung tidak menyukai hal itu. Karena itulah ia sangat bersikeras ingin mengikuti kursus dance yang juga diikuti oleh kedua sahabatnya itu. Jimin juga dengan gamblang menunjukkan rasa sukanya pada Jungkook, Jimin juga selalu lebih baik darinya, karena itulah Taehyung tidak pernah mendapatkan keberanian untuk menunjukkan rasa sukanya pada Jungkook, walaupun entah bagaimana Jimin bisa mengetahui perasaannya.
Taehyung tau ia tidak terlalu baik dalam hal dance, tapi setidaknya ia akan terus berusaha untuk menari, ia akan terus menari untuk Jungkook. Membayangkan dapat melihat senyumannya saat ia bisa menari dengan baik dihadapannya sudah cukup untuk membuat semangatnya terbakar. Ia akan berusaha agar bisa menari lebih baik lagi! Itulah yang tertanam didalam hatinya saat ini.
"Baiklah cukup untuk hari ini!" Mereka yang ada disana langsung menghela nafas lega dan kelelahan ketika mendengar kalimat yang cukup mereka tunggu-tunggu dari tadi. Taehyung, Jungkook dan Jimin langsung mengambil tempat di sudut ruangan ini. Jungkook memberikan minum pada Jimin dan Taehyung yang langsung dihabiskan oleh mereka, sepertinya mereka benar-benar lelah. Apalagi untuk Taehyung, melakukan gerakan dance Growl, merupakan suatu tantangan untuk Taehyung yang masih pemula. Padahal ia sudah mengatakan pada pelatih mereka kalau ia masih sangat pemula tapi pelatihnya malah tersenyum dengan senyuman yang sangat hangat dan ehmtampanehm menurutnya dan menyuruhnya untuk tetap menari jadi si pelatih bisa melihat sampai dimana kemampuan Taehyung dan apa yang perlu dia ajarkan.
"Baiklah! Terima kasih untuk hari ini untuk kalian semua yang hadir disini! Aku sedih harus berpisah dengan kalian sekarang tapi aku tetap memiliki hidup yang harus dilanjutkan. Tapi kalian bisa menghubungiku kapanpun kalian ingin latihan atau ingin curhat juga boleh karena biaar bagaimanapun juga I'm Your Hope!" Ucap pelatihnya dengan ceria terutama saat mengatakan kalau ia adalah 'harapan' mereka. Pelatihnya itu benar-benar orang yang ceria dan geer dan aneh menurut Taehyung yang seperti kacang yang lupa pada kulitnya :v. Tapi justru entah kenapa menurut Taehyung hal itu menarik. Tuhkan author bilang juga apa, sama-sama absurdnya :v #ditendangV.
"Silahkan gunakan ruangan ini sesuka kalian tapi jangan merusakan apapun, Annyeong" Dan satu hal lagi yang Taehyung temukan sangat menarik dari pelatihnya itu, senyumannya benar-benar sangat cerah dan... mempesona. "Dia benar-benar ramah" Gumam Taehyung pelan namun masih bisa didengar oleh dua sahabatnya.
"Oh... Pelatih kita itu memang seperti itu." Ucap Jungkook
"Dan yang lebih mengagumkannya lagi, dia itu salah satu mahasiswa di TU dan sedang kuliah untuk mendapatkan gelar magister di jurusan manajemennya." Taehyung memandang Jimin tak percaya. Padahal menurutnya pelatihnya itu seperti mahasiswa S1 atau dibawahnya, ternyata ia sedang menjalani S2 nya, benar-benar namja yang mengagumkan. "Ditambah lagi kemampuan skill dance nya yang sangat mengagumkan ia semakin terlihat sempurna. Tapi aku tidak terlalu suka dengannya karena ia itu seorang casanova" Ucap Jungkook dengan wajah kesal karena teringat kalau pelatihnya pernah mengajaknya berkencan dan pernah meremas bongkahan pantatnya. Terkadang ia bingung kenapa ia masih saja betah kursus ditempat ini walaupun pelatihnya sering sekali 'mencabuli'nya saat sedang latihan dengan modus memperbaiki posisinya.
"Ayo kita pulang" Ajak Jungkook pada mereka dan mendapatkan anggukan dari Jimin. "Mmm... Lebih baik kalian pulang saja terlebih dahulu, ada hal yang harus kulakukan" Ucap Taehyung menatap Jungkook dan Jimin yang sudah berdiri siap untuk pulang kini tengah menatapnya. "Urusan apa?" Tanya Jungkook.
"Rahasia" Ucap Taehyung sambil memeletkan lidahnya, membuat Jungkook mendengus sebal.
"Ya sudah, ayo kita pulang Jimin" Ucap Jungkook yang langsung berjalan keluar tanpa memperdulikan kedutan dikepala hyungnya.
"YA! Kim Jungkook!" Teriak Jimin mengejar Jungkook meninggalkan Taehyung yang tertawa lepas sebelum keheningan kembali merasuki ruangan itu.
Taehyung menghela nafasnya dengan berat dan meletakkan telapak tangannya di wajahnya. Ia tidak bisa mendapatkan Jungkook dengan 'keadaan'nya yang sekarang dan ia tahu itu, tapi tetap saja ia tidak akan menyerah dan terus berusaha. Ya, iya harus.
Ia meregangkan tangannya kedepan dan memandang tangannya yang diterpa cahaya lampu ruangan itu. Entah kenapa kini kepalanya dipenuhi oleh sebuah nama, nama dari orang yang memiliki senyuman dan pribadi yang sangat cerah, seolah-olah ia mampu menerangi dunia ini hanya dengan senyumannya, seseorang yang dengan percaya dirinya ia mengakatakan kalau dirinya adalah 'harapan' semua orang. Taehyung tersenyum mengingat hal itu, mengingat orang itu.
"Jung... Hoseok..."
.
Jin melangkahkan kakinya masuk kedalam rumahnya dengan wajah yang err... datar, tidak dengan wajah ceria dan juga memesona seperti yang selama ini ia tunjukkan. Wajahnya sekarang ini tidaklah jelek, bahkan sangat jauh dari kata itu. Kim SeokJin tetaplah tampan dan memesona apapun ekspresi yang ia tampilkan di parasnya yang indah itu. Tapi tetap saja, Jin yang sekarang ini bisa terasa sangat menyakitkan hati semua orang hanya dengan memandangnya. Kenapa tidak berpaling? Well, memangnya ada yang bisa menolak pesona dari seorang Kim SeokJin?
Jin yang sekarang ini bukanlah Jin yang selama ini mereka kenal tetapi itu tetaplah Jin.
Rumit? Ya, memang seperti itulah perasaan Jin sekarang. Wajahnya yang datar dan ekspresinya yang dingin berusaha menyembunyikan kegelisahan dan kesedihan yang mendalam jauh dilubuk hatinya yang terdalam.
Wajahnya kini terlihat lebih dingin dan lebih datar dan juga lebih... sedih. Namun tetap tidak menghilangkan pesona dari seorang Kim SeokJin yang selalu membuat semua orang ingin memandangnya, bahkan dirinya yang sekarang. Membuat semua orang memandangnya dengan pandangan yang terpesona, memancarkan kesedihan dan kepedihan yang langsung menusuk kehati setiap orang yang memandangnya, dan tanpa bisa menolak, mereka akan hanyut kedalam pesonanya yang menyayat-nyayat hati mereka tanpa kuasa menolak, menyiksa mereka didalam keindahan dan pesona seorang Kim SeokJin.
It hurts in beautiful way with an inevitable charm
Dan meskipun telah bertahun-tahun terlewati, 'keindahan' yang dipancarkan oleh Jin saat ini tidak pernah disukai oleh Namjoon. Tampan memang, Namjoon mengakui kalau Jin itu selalu tampan dan mempesona kapan pun, dimanapun, saat seperti apapun itu, namun 'keindahan' yang di pancarkannya saat ini adalah yang paling tidak disukainya. Jin mungkin terlihat tampan dan keren, namun Namjoon tetap dapat merasakan kesedihan, kesakitan, dan kepedihan yang mendalam, membuatnya terlihat lebih rapuh seolah-olah ia akan hancur dengan satu sentuhan saja, dan itu membuat Namjoon merasakan sesak dan sakit dijantungnya, seolah-olah ada sebuah belati yang menusuknya dengan telak hingga menembus tubuhnya.
Dan yang lebih menyakitkan dirinya lagi adalah Jin yang seolah-olah tidak memperdulikan dirinya. Itu sudah cukup untuk membuatnya merasa sangat sedih dan bersalah pada namja yang sedari tadi ia ikuti dari universitas mereka sampai kerumah namja itu. Memang sedari tadi Jin terus menghindari Namjoon dan tidak mau berbicara kepadanya. Misalnya saja saat Jin sedang kesusahan membawa banyak sekali buku untuk dikembalikan keperpustakaan dan Namjoon hendak membantunya namun Jin hanya melewatinya bahkan tanpa melirik sedikitpun kearahnya, atau saat dikantin ketika seperti biasa Namjoon dan Jin makan bersama dengan sahabat mereka, Hyosang dan Yoongi, di kafetaria, Jin sama sekali tidak memperdulikan Namjoon, tidak memperdulikan apapun yang dikatakan olehnya, dan yang paling membuat Namjoon kesal adalah Jin tiba-tiba saja dengan seenak jidatnya membatalkan duet mereka yang direncanakan untuk tampil di 'festival sekolah'. Ia mengatakan kalau ia ingin bernyanyi solo dengan piano, jadi panitia harus memilih penampilan solonya, atau penampilan solo Namjoon dengan rapnya, atau membuat dua jadwal untuknya dan Namjoon.
Dan itu membuat Namjoon semakin yakin kalau Jin sangat marah saat ini, karena Namjoon tau, sifat sassy dan princess nya yang menyebalkan itu sangat menganggu dan menyebalkan ketika ia marah, kecewa atau sedih. Dan sekarangpun Jin masih mengacuhkannya dengan berpura-pura sibuk menyiapkan makan malam. "Haahh..."Akhirnya ia memutuskan untuk melangkahkan kakinya mendekati namja yang sedang sibuk memotong kubis, wortel dan bahan masakan lainnya.
'Sup?'
Namjoon sepertinya tidak memiliki pilihan lain selain menurunkan tangannya untuk masalah ini. "Mau sampai kapan kau seperti ini?" Ucapnya sambil melingkarkan tangannya kepinggang namja bersurai merah itu, namun tanpa disadarinya hal itu malah membuat pandangan Jin semakin terlihat sakit. Ia melepaskan pelukan Namjoon dari pinggangnya dan kembali melanjutkan kegiatannya tanpa mengeluarkan suara sekecilpun, dan itu membuat kedutan didahi Namjoon, tapi ia tidak melakukan apapun, tidak bisa dibilang begitu juga. Karena sejujurnya saat ini ia sedang diam memandangi Jin yang sibuk memotong-motong wortel, ia tidak pernah bosan mengagumi sosok Jin yang terlihat seperti malaikat saat ia sedang memasak.
Bukan berarti ia tidak menganggap Jin yang selama ini tidak memesona atau tidak mengagumkan tapi saat memasak seperti ini, Jin terlihat lebih tenang, lebih cantik, dan penuh dengan kasih sayang. Ia selalu mengagumi sosok Jin walaupun namja itu tidak mengetahuinya dan mungkin tidak akan pernah.
"Ahh!"
"Ada apa!?" Namjoon menghampiri Jin dengan sangat khawatir mendengar Jin mengeluarkan suara kaget seperti itu. Hatinya terasa sakit saat melihat darah keluar dari ujung jarinya yang terluka karena irisan pisau. Dengan cepat dan penuh perhatian Namjoon memasukan jari itu kedalam mulutnya, mencoba untuk menghentikan darah yang mengalir keluar darinya, mencoba untuk menenangkannya, mencoba meredakan rasa sakit yang diterima oleh sang pemilik jari. Kim NamJoon, dengan segenap jiwanya, tidak ingin Kim SeokJin, merasakan sedikit pun rasa sakit. Kalaupun ia merasakannya, Kim NamJoon dengan seluruh jiwa dan raganya, akan berusaha untuk menghilangkan rasa sakit itu meskipun harus mengorbankan dirinya sendiri. Ya, seperti itulah perasaannya terhadap seorang Kim SeokJin.
"A-apa yang kau lakukan!?" Ucap Jin kaget namun dengan wajah yang memerah, ia langsung menarik jarinya keluar dari mulut NamJoon.
"Aku bisa mengurus lukaku sendiri! Aku tidak membutuhkanmu!"
Bagaikan sebuah belati yang sangat tajam. Ya, kira-kira seperti itulah kata-kata SeokJin barusan, menusuknya tanpa ampun, membuatnya menderita karena sakitnya, sakit yang tidak pernah ia rasakan selama ini, benar-benar sakit. Ia memandang Jin yang kini tengah membersihkan jarinya dengan air keran dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
Kesal...
Marah...
Sedih...
Sakit...
Kenapa?
Karena apa?
Untuk apa?
Tapi ini bukanlah apa, melainkan siapa. Jawaban dari semua pertanyaannya hanyalah satu orang, seseorang yang telah menemaninya dari ia kecil hingga sekarang, orang yang jauh dari dalam lubuk hatinya ia anggap sangat penting. Ya, siapa lagi jika bukan Kim SeokJin.
Jin tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya saat tiba-tiba NamJoon membaliknya hingga kini mereka berhadapan. Jin bisa melihat tatapan NamJoon yang sekarang sangat... menakutkan untuknya. Tidak karena ia terlihat marah, yah mungkin memang sedikit tapi keseriusan yang ditampilkan mata itu lebih menakutkan baginya. Ia bisa merasakan tangan Namjoon memegang erat kedua bahunya.
"Katakan padaku ada apa" Ucap Namjoon pada Jin namun ia malah memalingkan wajahnya dan membuat bibir Namjoon mengerut kesal.
"Katakan padaku kenapa kau menghindariku seharian ini!?" Tanyanya lagi dengan nada yang meninggi.
"Katakan!" Ucapnya lagi saat ia tidak mendapat jawaban juga dari namja didepannya ini
Cukup lama mereka berdua terdiam sebelum akhirnya Jin memutuskan untuk mengeluarkan suaranya. "A-aku tidak menghindarimu..." Ucapnya yang kini akhirnya memberanikan dirinya untuk menatap mata Namjoon. Yah, walaupun pada akhirnya ia menyesal karena sekarang mata itu terlihat lebih 'menyeramkan' dari sebelumnya.
"YA! KATAKAN PADAKU! KENAPA KAU MENGHINDARIKU SEHARIAN INI!?" Kelopak matanya langsung menutup melindungi matanya dari pandangan 'mengerikan' orang yang ada dihadapannya saat ini. Nafasnya secara mendadak menjadi tidak beraturan begitu pula dengan detak jantungnya. Ia tidak menyangka Namjoon yang selama ini sangat baik dan perhatian padanya bisa membentaknya seperti itu. Namjoon mungkin sering kesal dan marah padanya sebelum ini, namun tidak pernah sampai membentaknya seperti barusan. Entah kneapa tapi ia benar-benar takut sekarang, takut kalau bayangannya selama ini tentang Namjoon yang meninggalkannya akan menjadi kenyataan.
"S-sakit.." Namjoon membulatkan matanya saat melihat Jin yang merintih karena pegangannya pada bahu Jin yang terlalu kuat sampai tanpa ia sadari menyakiti orang yang penting untuknya. Kini belati itu kembali menambah luka dihatinya.
Dengan perlahan ia melepaskan pegangannya dari bahu Jin, Ia memandang namja yang kini masih memejamkan matanya karena takut pada dirinya. Seperti itukah ia sekarang? Seorang monster yang menyakiti orang yang berharga baginya.
"Maaf... aku tidak tau harus berbuat apa lagi agar hyung mau mengatakan padaku kenapa hyung menghindariku" Lirihnya dengan kepala yang menunduk dalam bahkan buku-buku tangannya pun memutih karena tangan itu mengepalkan tangannya terlalu kuat. Menyiratkan betapa menyesalnya dirinya saat ini.
Entah apa yang merasuki dirinya, entah itu cinta atau apa ia tidak tau tapi yang jelas saat ini, meskipun dengan perlahan kelopak matanya kini terbuka. Hatinya terasa remuk saat melihat namja yang selama ini dicintainya begitu terluka. Tapi kenapa? Bukankah ini yang namja itu inginkan? Jin sama sekali tidak mengerti kenapa ia begitu terluka.
"B-bukannya kau yang menginginkan ini?" Ucapnya namun dengan suara yang sangat kecil, sepertinya ia masih shock dengan kejadian barusan. Namun meskipun suaranya begitu kecil Namjoon masih dapat mendengarnya.
"Apa maksudmu hyung?" Namjoon mengerutkan dahinya.
"Bukannya kau yang mengatakan ingin agar aku bisa melakukan sesuatu sendirian!? Bukannya kau yang bilang agar aku bisa berjuang dan bertahan sendirian saat dirimu pergi meninggalkanku!?" Namjoon membulat mendengarkan alasan dari sikap Jin yang sangat menyebalkan har ini. Ia semakin menyesal saat merasakan betapa tersakitinya Jin saat mengatakan itu dengan kepala yang tertunduk.
"Kenapa!? Kenapa Namjoon!? Kenapa kau sebegitu inginnya untuk meninggalkanku!? Kenapa!? Apa karena aku selalu merepotkanmu selama ini!?" Ucap Jin menatap Namjoon dengan tatapan yang menunjukkan betapa sangat bingung, marah dan sakitnya ia.
"Karena itulah... karena itulah aku ingin menunjukkan pada dirimu, kalau meskipun aku sendirian aku tetap bisa bertahan dan berjuang. Agar kau tidak perlu merasa terepotkan lagi olehku, agar kau dapat dengan nyaman berada disisiku tanpa harus merasa tersusahkan, agar kau tidak pergi dariku, tidak meninggalkanku. Karena itulah, Namjoon aku mohon padamu jangan pernah meninggalkanku! Aku akan melakukan apapun agar kau tidak meninggalkanku... sendirian..." Jin mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, bahkan jari-jarinyapun memutih, memejamkan matanya dengan erat sampai-sampai dahinya ikut mengkerut, detak jantung semakin cepat dan matanya semakin panas. Tapi semua itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang ia tahan dengan sekuat tenaga saat mengucapkan kalimat panjang barusan.
Yah kalo kata author sih itu udah termasuk paragraf :v #DitendangJindanReaderkarenangerusaksuasana.
BTS (BackToStory)
Namjoon tersenyum, menggerakan jemarinya membelai rambut hyungnya itu, kemudian menangkup wajah Jin dengan kedua tangannya dan membawanya untuk menatap matanya. "Hyung maafkan aku karena ucapanku kemarin, aku tidak bermaksud menyakitimu, aku hanya ingin agar kau bisa bersosialisasi dengan orang lain. Jadi saat aku meninggalkanmu ka-"
"Jadi kau benar-benar ingin meninggalkanku!?" Potong Jin sambil memalingkan mukanya dan melepaskan tangan Namjoon dari wajahnya.
"B-bukan begitu hyung. Aku tidak ingin meninggalkanmu, tapi seandainya aku harus-"
"Kalau begitu jangan! Jangan pernah meninggalkanku! Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku dan jangan pernah berpikir kau akan MENINGGALKANKU!" Ucap Jin sambil menatap Namjoon. Ia dapat melihat keseriusan dan amarah yang terpancarkan dari mata itu.
Tapi ucapan Jin barusan benar-benar menyadarkannya, seolah-olah ia telah tersesat didalam hutan yang begitu gelap, dan ucapan Jin bagaikan suara air yang mengalir, menuntunnya ke pemukiman, menyelamatkannya dari ketersesatan.
Ia menggerakan jemarinya untuk menghapus tetesan air mata yang ada dipelupuk matanya yang bahkan sang empunya mata tidak tau kalau ia ada disitu."T-tapi apa kau tidak mendengar apa yang akan mereka katakan padamu? Mereka bahkan mengatakanmuu Princess yang tidak bisa apa-apa tanpa pengawalnya, apa kau tidak takut apa yang akan mereka katakan padamu selanjutnya?" Jin mendengus mendengar pertanyaan Namjoon barusan.
"Kalau begitu aku bertanya padamu, Apakah kau merasa terganggu jika aku menjadi Princessmu?" Ucapnya yang kini lagi-lagi memalingkan wajahnya namun kali ini dengan sedikit semburat merah diwajahnya.
"Tidak, tap-"
"Kalau begitu itu saja sudah cukup untukku. Jadi tetaplah berada disisiku, Kim Namjoon"
Bahkan seorang Kim Namjoonpun tidak dapat menolak pesona yang dipancarkan oleh mata itu. apalagi dengan suasana yang seperti ini, mata itu semakin dan terus semakin memesonanya, membuatnya tidak ingin memutuskan ikatan diantara mata mereka.
Tapi Jin benar, ia benar-benar bodoh. Ini memang salahnya karena berpikir kalau ia akan meninggalkan Jin, ia tidak dan tidak pernah menginginkan hal itu, dan seharusnya ia tidak akan pernah berpikir seperti itu. Jin benar, Jika ia memang tidak ingin meninggalkan dirinya maka ia seharusnya berusaha untuk selalu bersamanya, bukan malah berpikir apa yang akan terjadi jika ia tidak ada. Ia tidak akan meninggalkan Kim SeokJin kecuali memang ia harus dan harus itu berarti adalah keadaan antara 'hidup dan mati'.
"Aku berjanji, tidak akan pernah meninggalkanmu dan tidak akan pernah berpikir atau membayangkan aku akan meninggalkanmu lagi hyung. Aku juga ingin selalu bersamamu" Senyuma mengembang diwajah Jin. Ia sangat senang sampai-sampai meloncat dan langsung memeluk Namjoon yang juga menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Tidak berapa lama Namjoon kembali menarik tubuhnya namun tidak melepaskan pelukannya. "Jadi apa kita sudah baikan sekarang?" Jin menampilkan wajah tampak berpikir kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya, membuat Namjoon juga mengembangkan senyuman diwajahnya sebelum mereka kembali berpelukan.
Menikmati kehangatan masing-masing yang sudah sangat mereka rindukan padahal mereka baru berpisah dua hari, tapi kenapa pelukan ini terasa seperti mereka telah lama berpisah, seolah-olah tubuh mereka juga saling merindukan sentuhan antara satu dan yang lainnya. Entahlah tapi yang jelas, hati, kepala, nafas bahkan detak jantung Jin menjadi sangat lega saat ini.
Cukup lama mereka berpelukan sampai
"HYUNG!"
Jin yang kaget langsung reflek melepaskan pelukannya dari Namjoon.
Ia memandang adik sematawayangnya yang kini tengah berdiri dipintu ruang dapur dengan wajah yang mengkerut kesal. "A-ada apa Kookie?" Tanya Jin yang entah kenapa ia serasa habis tertangkap basah sedang berbuat mesum oleh adiknya sendiri.
"YA! Hyung ini sudah jam berapa!?" Ucapnya sambil menunjuk jam yang tertempel di dinding dapur mereka. Jin membulatkan matanya melihat kearah jam tersebut. Ia baru sadar kalau Jungkook itu selalu pulang malam saat hari selasa sampai kamis karena ada jadwal kursus dancenya. Dan jika sekarang ia sudah mendengar suara Jungkook itu artinya adiknya itu sudah pulang, dan jika adiknya itu sudah pulang berarti...
Damn..
19.38
Apa saja yang ia lakukan dengan Namjoon!? Sampai-sampai ia tidak sadar sudah malam begini, pantas saja adiknya itu marah. Well, padahalkan itu bukan alasan utama si imut Kookie marah :3 kekekekekek.
"M-maaf, hyung akan segera membuatkan makan malam untuk kalian berdua" Ucapnya merasa bersalah dan langsung melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
"CEPATLAH!" Teriak Jungkook kesal.
Sementara Namjoon? Ia sedang menikmati tontonan gratis dihadapannya dengan semangkuk cemilan yang ia ambil tanpa ijin sang punya rumah.
Rainbow will always come after long rain if there was a hope and forgiveness
Tidak ada yang tau seberapa besar Taehyung mencintai Jungkook, bahkan dirinya sendiri juga tidak. Tapi yang jelas Taehyung tau kalau ia jatuh cinta pada Jungkook, sejak saat pertama kali mereka bertemu. Cinta pada pandangan pertama? Mungkin.
Ia sangat mencintainya dan mengetahui hal itu adalah hal terpenting dalam hidupnya.
Seberapa besar cintanya? Taehyung tidak bisa mengatakan cintanya sebesar samudra, atau seluas jagat raya, atau hal-hal lainnya, karena sejujurnya ia tidak tau sebesar apa cintanya, karena yang ia tau hanya kata cintalah yang memenuhi hati, jiwa dan raganya. Cinta seorang
Kim Taehyung untuk Kim Jungkook. Aneh? Baginya kata itu sudah menjadi nama tengahnya.
Meskipun ia tidak tau seberapa besar cintanya pada Jungkook, tapi yang jelas namja itu sudah berhasil membuatnya untuk menghilangkan kelemahannya, dance. Bahkan sejak dulupun ia memang tidak terlalu baik dalam dance tapi jika itu untuk Jungkook, ia akan melakukan apapun bahkan jika harus mengorbankan dirinya.
Seperti itulah cara seorang Kim Taehyung mencintai Kim Jungkook.
Bahkan ia rela untuk menghabiskan waktu istirahatnya malam ini untuk melanjutkan latihannya. Ya, ini adalah urusan yang dikatakan Taehyung tadi. Ia terus saja berlatih semenjak Jungkook dan Jimin pulang hingga sekarang, bahkan murid-murid yang tadi juga ingin latihan sejenak sudah pulang kerumah mereka masing-masing.
Taehyung terus menari mengikuti irama musik Overdose dari EXO.
Someone call the doctor nal butjapgo malhaejwo
Sarangeun gyeolguk jungdok overdose
Ia sesekali berhenti dan mengulangi gerakannya yang salah atau kurang kemudian kembali melanjutkan gerakannya. Ia tidak pernah berpikir kalau menari bisa semenyenangkan ini, bahkan bisa membuatnya lupa akan waktu dan dunia. Taehyung sangat menikmati melakukan gerakan dance, hal itu dapat dilihat karena sedari tadi tanpa ia sadari sepasang mata tengah mengamati gerakannya.
Sepasang mata itu memandang takjub tekad kuat milik Taehyung yang ingin mahir dalam dancing. Ia terpesona akan gerakan yang dilakukannya, yah walaupun sejujurnya ia tidak hanya terpesona dengan gerakan yang dilakukan oleh Taehyung tapi juga terpesona oleh wajah sempurna pahatan yang maha kuasa itu. Ia bisa tahan berjam-jam walaupun hanya memandanginya menari.
Mata itu membulat ketika melihat Taehyung tiba-tiba saja berhenti menari dan langsung terjatuh kelantai ruangan itu. Dengan cepat ia berlari kearahnya, menaruh kepala Taehyung dipangkuannya dan menepuk-nepuk pelan pipi Taehyung namun ia tidak juga kunjung sadar. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebua aroma terapi. Ia mendekatkan aroma terapi yang berbentuk seperti lipstik itu pada hidung Taehyung, dan dengan perlahan akhirnya Taehyung membuka kelopak matanya juga.
"P-pelatih!" Ucap Taehyung kaget dan langsung ingin duduk namun Hoseok menahannya agar tetap duduk."Minumlah" Titahnya pada Taehyung setelah memberikannya tempat minum miliknya yang selalu ia bawa. Ia kemudian mengelap keringat dikepala Taehyung dengan sapu tangannya saat Taehyung minum. "Aku akan mengantarkanmu pulang, dimana rumahmu?" Taehyung langsung mendudukan dirinya dan menatap pelatihnya itu dengan kaget.
"T-tidak perlu, hyung. Lagipula aku masih ingin berlatih" Ucap Taehyung yang tanpa sadar memanggil pelatihnya itu dengan 'hyung' tapi entah kenapa Hoseok justru senang mendengarnya.
"Ya! Kau ingin masuk rumah sakit hah!? Tubuhmu sudah terlalu kelelahan!"
"T-tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian! Aku tidak mengizinkanmu menggunakan ruangan ini lebih lama lagi! Aku yang memiliki kunci ruangan ini dan dipercayakan untuk mengurusnya!" Taehyung mendesah sebal mendengar ucapan pelatihnya itu, ternyata selain ceria dan aneh, pelatihnya ini juga cerewet. Taehyung ga nyadar diri banget yah =..=.
"Jadi dimana rumahmu?" Bukannya menjawab Taehyung malah berusaha meraih tasnya dengan lucu namun tetap saja pada akhirnya Hoseoklah yang mengambil tas itu dan memberikannya pada Taehyung. Hoseok bingun saat melihat Taehyung mengeluarkan hpnya. Ia sempat berpikir kalau Taehyung lebih memilih untuk meminta dijemput dari pada harus pulang bersamanya tapi ternyata ia salah. Taehyung memberikan hpnya yang kini tengah menjalankan aplikasi GPS yang mengarah langsung kerumahnya itu pada Hoseok.
"Baiklah ayo!" Ucap Hoseok menerima handphone tersebut kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu ruangan itu. Namun ia berhenti sejenak karena sepertinya ia tidak mendengar suara langkah kaki mengikutinya, malahan suara rintihan yang ia dengar. Dan tentu saja hal itu membuatnya membalikkan tubuhnya dan tersenyum melihat Taehyung yang kini berusaha berdiri namun sepertinya sangat kesusahan itu baginya sangatlah lucu.
Taehyung menghentikan kegiatan 'ayo berdiri'nya dan memandang Hoseok yang kini berjalan mendekatinya. Matanya membulat ketika Hoseok menarik tubuhnya dan membawanya dipunggungnya. "H-hyung- M-maksudku pelatih-"
"Sssstt.. tenanglah, malam ini sangat indah." Ucapnya. Taehyung harus menyetujui ucapan pelatihnya itu karena memang malam ini terlihat sangat indah, kesunyiannya bukan membawa suasana seram atau creepy tapi justru menambah keindahan dan kenyamanan malam ini, membuat Taehyung melupakan seluruh kata-kata yang ingin keluar dari mulutnya.
"Dan... kau boleh memanggilku hyung" Ucap Hoseok pelan namun masih dapat didengar oleh Taehyung. Ia kemudian mengangguk walaupun Hoseok tidak akan bisa melihatnya.
Dan ia baru sadar, lingkungan universitas mahasiswa disekolahnya ini sangat lah indah, banyak pepohonan yang rindang, lampu taman yang tertata rapi, ditambah lagi suara air mancur yang kini sedang mereka lewati, menambah rasa damai dihati Taehyung membuatnya tanpa sadar menguap.
"Hei, aku belum tahu siapa namamu?" Entah itu sebuah pertanyaan atau pernyataan untuk Taehyung, ia sudah terlalu lelah untuk memikirkannya dan tanpa sadar ia membenamkan kepalanya diceruk leher Hoseok.
"Kim... Taehyung..."
Itulah kata-kata terakhir yang diucapkannya sebelum menyesap aroma mint yang menenangkannya dari tubuh Hoseok dan membiarkan kegelapan merasuki dirinya.
.
TBC
.
HWAAAAA! AKHIRNYA SELESAI JUGA! Pertama-tama L mohon maaf banget L udah lama ga update ff ini hehehe... bukannya ga mau tapi L emang sibuk banget mau UN terus sekarang L lagi sibuk persiapa ujian buat masuk universitas makanya L mohon maaf banget L ga sempet update. Dan sekarang akhirnya L update juga yah walaupun sekali lagi L mohon maaf banget kalo seandainya kependekan atau kurang ngena feelnya... mohon maaf banget. Soalnya L juga ngerasa kalau L engga memberikan yang terbaik di ch ini :(
Dan yang kedua makasih banget buat seluruh reader yang masih ngikutin sampe chapter ini! makasih banget, L harap bakalan terus ngikutin dan nungguin chapter-chapter kedepannya #bow
Tapi L suka banget karena banyak banget yang review ff ini, dibandingin ff L yang lainnya #curcol. Yang bikin L paling semangat itu ya ini, review dari kalian yang terus nyemangatin L buat update! L jadi semangat.
Dan selamat buat .39 karena tebakan kamu bener! Namja itu adalah Bang Yongguk dengan senyum rahang dan hadiahnya dibawah, seluruh couple yang bakal muncul wkwkwk... #akujugagatauitutermasukhadiahatauengga.
Review buat sejauh ini PSM udah 4 chapter, gimana nih ceritanya? Menarik ga? L udah masukin konflik pasangan cinta miris Vkook, Jikook yang tidak terbalaskan karena ada Kookiemonster wkkwkwkw. Terus juga konflik antara cinta sahabat kecil NamJin, NamYoon, ama JinDoh. Sekarang ditambahlagi deh orang barunya yaitu si namja tampan dengan senyum rahang memesona, Bang Yongguk! Jadi bakal ada couple BangJin, jangan tanya kenapa harus dia, tapi L kesemsem aja sama Bang Yongguk, ngebayangin dia ama Jin mulu :3 tapi tetep L dukung couple papih dan mamih BTS NAMJIN. Terus juga Hobi akhirnya muncul! Tapi aku masih bingung masukin Vhope atau engga Hehehehe
Oh iya berkat Shin, para reader-nim bakalan L kasih tau salah satu couple yang bakalan ada disini, yaitu hubungan saudara dan incest dari dua orang! ^_^ udah gitu aja #plak.
Nah spesial Thanks dari L untuk Hwimangbwi karena dia udah bantuin L mengkoreksi bagian yang typo, ternyata L banyak bikin typo juga wkwkwkkwk.
Last but not Least
Bales Review!
[ .39] : Maaf ya, L emang maksud kok wkwkwk #becanda. Kamu bener kok itu Yongguk! Kok bisa tau!? Kayanya aku ga bisa jadi orang misterius nih #apahubungannya?. BTW makasih ya udah ngikutin ff ini. aku jadi terharu banget XD
[zhiewon189] : iya nih si mamih Jin kasian tersakiti Cuma karena kesalah pahaman kecil T^T. Aku juga ga tega, siapa sih tuh yang buat!? #dilempar. Dan untungnya aja Jin ga liat, kalo liat juga L bingung mau nulis apa diatas #plak. Makasih udah baca!
[ Bubble] : Segi tak terhingga :v. Wkwkwkwkwkwwk. Tenang aja pasti dilanjut kok, Cuma L minta kesabarannya aja soalnya L juga lagi sibuk-sibuknya T^T jadi ga bisa kaya dulu. Thanks for Read XD
[she3nn0] : wew, hati-hati lho jadi setan penasarah wkwkwk #becanda. Si cowo misterius itu adalah Bang Yongguk! L masukin kidoh karena kan Jin itu dulu deket banget katanya ama Kidoh makanya dimasukin jadi sahabatnya :3. L juga sebenernya ga ngerencanain adegan itu sih, tiba-tiba aja muncul wkwkwk awalnya L pikir ga bakal lucu, syukur deh ada yang bilang lucu. Makasih udah baca!
[Kira ] : Namjoon itu ga mesum, Cuma 50% Yadong, 50% lagi hentai :v. Vminkook emang ngegemesin bingitss wkwkwk. Terus baca ya!
[zelomfg] : wkwkwkwk, jangan gitu, meskipun begitu juga maksud Yoongi itu baik karena biar gimana pun juga dia itu teman masa kecilnya Jin, tapi caranya aja yang salah... #Ciyebahasanya. Kenapa!? Ada apa dengan pantatnya Jin!? O_O. Terus baca ya!
[laxyovrds] : Tapi L masih terlalu polos untuk bikin nc :3. Wkwkwk disini bukan cuma Jin doang yang bakal kesiksa, tapi semuanya juga! Termasuk para readernya 3:) #evilsmirk. Makasih udah ngikutin ff ini XD.
[Mrs vanilla ice cream] : Demi langit dan bumi! Namjoon itu pekanya emang ga ketulungan! Bahkan diduta juga! _. Yang nganterin Jin itu si namja tampan dengan senyum rahang memesona, Bang Yongguk! XD NamJin forever! XD
[Esyahzkrisho] : sama-sama! Indonesia emang susah buat nyari Namjin karena rata-rata pada bikin Vjin... tapi ga usah khawatir, NamJin bakalan terus ada kok.. wkwkkw XD L juga otpnya Vhope, Jikook, ama Namjin sih wkwkkw. :* masalah bakalan jadi Namjin atau Kookie Monster, itu urusan nanti wkwkkw yang penting makasih udah mau baca dan ngikutin ampe sini dan mau ngereview. #ketjhubbasah
[Enjieee] : WAAAHHH! Makasih ff aku dibilang keren! Jadi terharu :'), btw namja yang muncul itu bukan Hobi tapi Yongguk wkwkwk ga papa kan? Emang L rencananya kepengen bikin Vkook, Jikook sih soalnya Vkook itu tantangan buat L karena mereka bukan otp L wkkwkw.
[hyuniee] : Ia mereka emang co cwit banget! XD semoga ga kecewa ya sama ch ini, hehehhe. Tetep baca dan ngikutin ff ini ya!
[aru] : Makasih udah mau baca! Tetep ikutin ya! XD
[KimElin] : Udah dilanjutnih XD! Makasih ya udah bilang cerita aku keren. Tetep ikutin ya! XD
[kisss] : wkwkwk personil bangtan itu kekar semua kok! Cuma jimin aja yang absnya paling bagus dan paling sering diliatin. Aku juga sempat syok liat abssnya suga. Wkwkwkwk kita liat aja entar apa kris bakal muncul atau engga hehehe.
[x] : Udah update kok! Hehehe maaf ya udah bikin nunggu lama
[ARU] : Hai! Makasih ya udah nungguin! Aku jadi terharu banget :'). Maaf ya udah bikin nunggu lama! XD
Nah selesai juga deh. L emang cape jadi author, karena itulah L ngebutuhin kalian para reader L yang memberikan L tenaga dengan review kalian! L janji seandainya L punya banyak waktu luang L pasti bakal usahain untuk update XD
Bales review itu sebenernya ga kalah nyapein dibanding nulis ceritanya. Tapi bukan berarti L ga suka, suka banget malah! Bagian yang paling L suka itu ya bales review. Makanya L nungguin banget review dari para reader-nim sekalian.
Sekian dari L makasih banget udah mau baca dan ngikutin ampe chapter ini L seneng banget! XD
Thank you
Mind to Review?
