Hidan melepas bekapan tangannya dari mulut Karin saat ia rasa suara semak bergerak itu telah berhenti.

Namun, sama sekali ia tak menurunkan kesiagaan. Sering berburu di hutan membuat indranya lebih peka terhadap suara pelan sekali pun.

Deidara yang berjalan paling belakang-di antara semua-memang dia yang kurang sabar. Dengan masa bodoh pemuda berambut gondrong itu menghidupkan senter lalu mengarahkan cahayanya ke wajah Hidan.

"Mau sampai kapan berdiri di sini?!" Lontarnya seolah tak peduli jika cahaya tersebut bisa saja berisiko pada keselamatan mereka.

Silau, mata Hidan menyipit.

Menyadarinya, Deidara segera mematikan lagi senter di kepalanya.

"Bodoh, apa yang kau lakukan?!"

Dugg ...

"Akh!"

Temari menginjak kaki Deidara yang membuat lelaki itu langsung berjingkik-jingkik memegangi sebelah kaki. Jelas, sol sepatu Temari yang bergerigi membuat kaki Deidara yang hanya dibalut sendal gunung kesakitan.

"Berengsek! Kau mau membunuhku?" tukas Deidara. Baginya Temari adalah wanita terbodoh, sialan, kurang ajar yang pernah ia kenal.

"Tch, diinjak saja tak kan mencabut nyawamu. Kecuali kau diinjak badak, baru nyawamu melayang. Dasar otak udang."

"Kau tak sadar, huh? Kau itu badak betina!"

"Sini biar kuremat mulutmu!"

"Apa kalian tak bisa tenang sedikit?!" Gaara menoleh. Suaranya terdengar tegas meski sengaja dibuat lirih.

Sasori pun turut menepuk kening. "Haaah ... kalian ini,"

Bukan hal baru lagi melihat pertengkaran Deidara dan Temari. Di mana pun, mereka selalu tampak seperti anjing dan kucing yang tak mau berdamai. Kapan tim ini benar-benar bisa kompak?

Usai merasa situasi sudah aman, Hidan menginstruksi teman-temannya agar segera melanjutkan perjalanan.

"Oke, formasinya mssih sama seperti tadi. Ayo!"

Pertama cari tanah datar untuk mendirikan tenda. Kemudian bersiap-siap memulai perburuan.

Seperti sebelumnya, yang memimpin dan berjalan paling depan adalah Hidan. Mereka kembali melangkah menyusuri setapak sempit yang hanya dapat dilalui satu orang.

Berjalan di belakang Hinata, membuat atensi Gaara jadi gagal fokus lantaran terus memandangi punggung gadis berambut panjang yang berjalan di depannya. Bukan apa-apa, Gaara hanya berpikir, apakah Hinata tidak kecapekan? Dia sendiri juga tak tahu apakah dulunya gadis itu pernah pergi ke sebuah hutan atau belum.

"..."

Gemuruh di langit kala ke-tujuhnya melangkah hampir 3 km ke dalam hutan. Sepertinya sebentar lagi hujan benar-benar turun. Sejak awal berangkat, langit memang tak menunjukkan tanda-tanda bersahabat. Sudah mendung, angin juga berembus sedikit lebih kencang.

Sadar akan cuaca yang semakin buruk, Hidan memutuskan untuk mendirikan tenda. Tempat ini sepertinya cocok, lokasinya juga tertutup oleh pohon-pohon yang masih berdiri tegak, jadi risiko tenda mereka roboh nantinya kecil. Pohon-pohon pula masih berdiri dengan kukuh. Tak ada yang perlu dikhawatirkan soal pohon tumbang.

Baik Hidan, Gaara, Sasori dan Deidara segera menurunkan tas punggung mereka.

Terlebih dulu Sasori memeriksa arah angin supaya mudah memutuskan tenda dibuat ke arah mana. Satu tenda ukuran sedang, dibangun. Cukuplah kira-kira menampung sampai 7 orang.

"A-akh ... aku tak tahan lagiii ..."

Karin menggerak-gerakkan pinggul. Tangannya berada di bawah perut seperti seseorang yang sekuat tenaga menahan kencing.

"Kau kenapa?" tanya Temari sambil melepas helmnya. Sebelum Karin menjawab, sepertinya ia terlebih dulu memahami situasi macam apa yang Karin alami.

"A-anterin ..."

Temari membuang napas, Kenapa tidak buang air kecil sendiri sih? Lagipula dia bisa buang air kecil di semak yang di sebelah sana.

Ketika kepalanya menoleh ke arah semak yang tak jauh dari posisi tenda mereka akan dibangun, sekelebat bayangan hitam tampak bergerak dan menghilang di balik belukar lebat itu.

Temari yang terkejut bahkan sampai menjatuhkan helmnya.

Bugg ...

"Te-Temari, ada apa?!" Karin yang menyadari sikap aneh sang sahabat bertanya. Pupil mata Temari yang membulat sempurna membuat Karin turut memperhatikan ke mana arah pandangan gadis itu.

"A-ada apa?"

Temari meneguk ludah. "Ta-tadi aku melihat ada seseorang di sana ..."

Kembali memperhatikan arah semak-semak, tapi Karin tak mendapati apa pun. Hanya belukar yang tinggi dan gelap.

"Mu-mungkin pantulan dari pohon yang terkena sinar bulan?"

Jangan bercanda. Langit sedang mendung, bahkan mau hujan sekarang.

Karin ikut meneguk ludahnya dan seperti keajaiban, hal itu langsung membuat ia yang tadi ingin buang air kecil jadi tak terasa lagi.

"Yosh, selesai!"

Di belakang mereka, Hidan berseru. Tenda sudah berhasil didirikan, yang kebetulan berbarengan dengan gerimis yang mulai turun.

"Karin, Temari, ada apa?" tanya Hidan melihat ekspresi tak biasa di wajah keduanya.

"I-itu-"

"Bu-bukan apa-apa. Tadi ada kelinci yang keluar dari semak-semak. Aku hanya sedikit kaget." Temari sungguh tak ingin kawan-kawan yang lain jadi cemas. Boleh jadi itu memang bayangan pohon yang diterpa sinar rembulan, meski kemungkinannya sangat kecil. Atau dia sedang berhalusinasi sehingga muncul sebuah imaji di depannya. Temari segera menggelengkan kepala.

"Kenapa kau berbicara seperti itu?!" Karin tak habis pikir. Kalau benar-benar orang bagaimana? Apalagi kalau justru hewan buas. Sebaiknya memang berkata jujur biar semua paham situasi ini. Para laki-laki tersebut juga tak kan tinggal diam bila ada penguntit kan?

"Bukan apa-apa. Kau jadi buang air kecil tidak?"

Mendengar cerita Temari saja sudah membuat bulu kuduknya merinding, apalagi bila harus ke sana untuk buang air kecil. Bagaimana kalau yang dibilang Temari benar? Dan siapa yang berdiri di sana? Hantu? Atau justru hewan buas?

"Ti-tidak. Ki-kita kembali saja. Aku sudah tak ingin buang air kecil."

Karin buru-buru berlari.

Ia masuk ke dalam tenda.

"...?" Temari mengedikkan bahunya.

"Ya sudah deh kalau tidak jadi."

Gadis itu berniat mengambil lotion anti nyamuk dulu sebelum turut masuk.

.

"Haah ... gila saja kalau harus ke sana-!"

Entah kenapa kakinya mendadak melangkah mundur kala di dalam ia melihat tengah mengelap sebuah pisau dengan ujung sangat runcing menggunakan kain.

Sekali, Karin pernah melihat pisau itu di museum saat mengunjungi Kyoto bulan lalu. Pisau tajam yang memiliki bentuk putaran hingga bagian ujungnya. Saking bahayanya, jumlah produksi pisau itu dibatasi. Luka yang dihasilkan pun juga membutuhkan waktu serta usaha yang lama bagi para dokter untuk dapat menutupnya.

Jagdkommando, dari mana gadis seperti Hinata mendapatkannya?

Di saat yang sama, sepasang iris ametis milik Hinata juga menoleh menatap Karin. Tak seperti orang yang baru terpergok, Hinata masih mengusap pisau itu dengan santai sebelum ia memasukkannya lagi ke dalam sarung.

"Karin?" sapa Hinata tak berselang lama lantaran Karin masih saja diam di ambang pintu tenda. Pupil matanya terlihat sesaat membulat, sebelum akhirnya menjawab sapaan Hinata dengan gugup.

"Hi-Hinata-san,"

Dalam benaknya, Karin masih bertanya-tanya. Dari mana gadis seperti Hinata bisa mendapat salah satu senjata paling berbahaya saat Perang Dunia Satu itu?

"Agak aneh melihatmu berdiri di sana. Kau ingin masuk kan?" senyum yang sama masih terlihat di bibir Hinata.

"A-hahaha ... aku hanya sedikit terkejut. Pi-pisau itu milikmu?" ujar Karin lalu masuk. Ia memang tipikal perempuan yang to the point. Daripada penasaran, lebih baik bertanya kan.

"Ah, ini, bukan kok. Hehehe. Gaara sedang menyiapkan senapannya. Dia memintaku mengurus ini."

Sedikit lega perasaan Karin. Lagipula sangat mustahil pisau langka itu di miliki Hinata. Menurut Karin, dari wajahnya Hinata merupakan gadis , lembut, dan tak mungkin mengoleksi benda-benda tajam. Rasanya gadis itu juga baru kali ini berburu.

"Kau tahu ini pisau apa? Bentuknya agak aneh." ujar Hinata menyodorkan pisau yang sudah dibungkus sarung itu kepada Karin.

Karin mengangkat tangannya sebagai jawaban bila ia menolak memeriksa. Bila benar itu milik Gaara, maka ia tak mau menyentuh apa pun. Lelaki itu sangat pelit dengan senjatanya. Pernah sekali ia bermain-main dengan revolver milik pemuda itu, dan akhirnya ia dimarahi.

Melihat hal tersebut, Hinata menyembunyikan pisau itu ke belakang ia duduk.

.

"Ah, di sini saja."

Deidara menarik resletingnya. Sudah dari beberapa menit lalu ia menahan kencing. Lega kala akhirnya bisa dikeluarkan. Teman-temannya saat ini pasti sedang bersiap untuk berburu.

"Tch, lihat saja. Aku pasti dapat buruan besar malam ini."

U-uuhh ...

Srakk ...

"...!"

Deidara tersentak mendengar suara yang sama seperti saat di perjalanan tadi; suara semak bergerak. Cahaya yang minim ditambah cuaca yang sedang gerimis membuatnya sulit memprediksi darimana arah suara itu. Parahnya, ia tak membawa senter. Hanya ada cahaya HP, itupun tak seberapa.

Srakkk ...

"Siapa?!"

Buru-buru Deidara menoleh cepat usai menaikkan resleting celananya.

Srakk ...

Suara itu seolah terdengar acak dan dari beberapa sisi. Hewan buas kah, orang, atau apa? Oh, jangan-jangan ini ulah teman-temannya yang ingin mengerjainya?

"Oi, keluar kau Hidan, Sasori, Gaara, atau siapa pun! Kau pasti kesal karena tadi aku menghidupkan senter di kepalaku kan?! Jangan berpikir aku bakal takut ya, kau salah besar!" teriak Deidara.

Tch, mau mengerjaiku.

Suara itu selanjutnya tak terdengar lagi. Gerimis jadi bulir-bulir besar yang lebih pantas disebut hujan. Ia akan basah bila berlama-lama di sini. Perburuan pasti dimulai saat hujan reda. Suasana malam ini sungguh senyap. Udara bahkan seakan tak bergerak, suara dedaunan, pun serangga malam juga tak ada. Satu-satunya yang bersarang di telinga adalah gemericik air hujan yang perlahan membasahi badan.

Tengkuk Deidara bergidik menyadari ia di sana seorang diri. Serem juga, batinnya. Deidara pun memutuskan untuk segera menuju tenda. Namun
belum benar-benar ia mengambil langkah, pupilnya sudah lebih dulu dibuat membola oleh apa yang berdiri di depannya.

Sosok tinggi dan besar. Wajah serta anggota tubuh tersamar oleh kegelapan malam.

"Si-siapa kau?!"

Refleks, Deidara menarik langkah mundur. Akan tetapi ...

Guaaaarrrrrr

Suara raungan terdengar keras bersama jerit Deidara yang tenggelam di dalamnya.

"Le-lepaaas!"

Kaki Deidara ditarik oleh sosok itu. Diseret; membuat tubuhnya bergesekan dengan tanah, batu, dan tak jarang rumput liar berduri seperti putri malu.

Deidara meronta, sayangnya tak seorang pun yang dengar. Di sana sangat sepi, terlalu sepi.

Terdengar deru napas keluar dari kegelapan di salah satu sudut hutan. Napas-napas kelaparan, liur yang menetesi moncong, taring yang seolah tak sabar mengoyak daging hidup yang seakan sengaja sebentar lagi dijadikan umpan.

Anjing-anjing liar itu keluar dengan tatapan siap menerkam.

Tubuh Deidara dilempar ke arah 10 anjing liar kelaparan.

Terdengar raungan keras sekali, saat darah mulai tak tahu diri membasahi bajunya, dan dagingnya yang mulai berpisah dari tulangnya.

Malam itu, rantai makanan seakan berputar sesaat. Anjing memangsa manusia.

.

.

.

"Apa menurut kalian Deidara tak terlalu lama?" Temari melongokkan kepala, mengintip kondisi di luar dari resleting pintu tenda yang ia buka sedikit. Hujan rupanya semakin deras.

"Dia kan begitu, suka main-main dulu. Tunggu saja, nanti juga kembali." Ujar Sasori membuka cup ramennya untuk disiram air panas. Hujan-hujan begini paling enak memang menikmati yang hangat-hangat. "Nih, punya kalian sudah kuberi air semua," lanjut si rambut merah itu.

Temari terdengar mendesah. Namun tak lama ia terlihat berbalik dan mengambil salah satu ramen tersebut. Dalam hatinya masih khawatir pada pemuda berambut pirang itu mengingat sifatnya yang bodoh dan ceroboh. Meskipun ia dan Deidara kerap bertengkar, tapi ada rasa khawatir tersendiri bila saat hujan-hujan begini dia belum juga kembali.

"Sudah makan saja," timpal Sasori melihat Temari melamun.

Gadis itu sedikit terkejut saat Sasori berucap. Ia hanya mengangguk, lalu tampak meniup ramennya dan menyantapnya pelan-pelan.

"Ini punyamu," ucap Gaara kala menyodorkan 1 cup ramen instan siap makan pada Hinata.

"Terimakasih,"

"Awas panas-"

"A-akhh!"

Baru Gaara mengingatkan, cup ramen yang dipegang Hinata jatuh mengenai celana yang dipakainya.

Buru-buru Gaara mengambil sapu tangan-lantas mengusap paha Hinata yang masih dibalut celana-mengingat air mendidih yang baru dituangkan ke ramen ditambah bumbu pedasnya pasti membuat paha Hinata kepanasan.

"Kau tak apa-apa kan?"

"Ma-maaf aku ceroboh,"

"Kau bawa celana ganti?"

Hinata menggeleng.

Bagaimana ini, masa dia pakai celana yang ketumpahan kuah ramen?

"Aku bawa kalau kau mau," sela Temari di tengah Gaara yang kebingungan. Syukurlah. Raut Gaara pun berubah lega.

"Bukan celana sih, tapi jumpsuit. Kalau kau mau akan kuambilkan."

"Ma-mau, aku mau mau."

.

"Nah, ganti di sini saja ya?"

"U-um."

Mereka keluar dari tenda. Situasi di tenda tidak memungkinkan untuk Hinata berganti di sana. Tenda itu tak memiliki sekat sama sekali. Jadi walau hujan masih turun, Hinata memilih berganti di luar dengan membawa payung. Bukan dia sih yang memegang, melainkan Gaara; pemuda itu menunduk, menatap sepasang sepatunya yang kotor oleh lumpur, sementara di hadapannya, Hinata sedang mencoba menurunkan pakaian untuk berganti baju. Lelaki dengan tato di kening tersebut mengenakan mantel. Ia mengulurkan payung ke depan guna melindungi Hinata yang berdiri dua langkah di depannya. Gaara memalingkan pandangan, saat tanpa sengaja matanya melihat celana Hinata turun sampai tumit.

"..."

"A-aku tidak melihat. Percaya padaku. Cepatlah."

Ia berusaha membuang segala sesuatu yang melintas di otaknya. Dia lelaki normal. Wajar jika imajinasinya mendadak liar setelah melihat hal seperti ini. Pasti yang berdiri di depannya sekarang, saat ini hanya memakai bra dan celana dalam saja. Kulitnya yang putih itu, pasti lembut sekali bila disentuh.

Aaagrr ... buang jauh-jauh pikiran kotormu itu Gaara! Gaara mengumpat.

"Sudah?" Ia lantas bertanya mendengar Hinata semenjak tadi hanya diam. Memakai jumpsuit tidak sulit kan?

"Etto ..."

"Ya?"

"Mm ... ka-kau bisa menarik resletingnya ke atas? Ta-tanganku sulit menjangkau itu."

Degg ...

Seolah Hinata melakukan ini dengan sengaja untuk mengetes apakah ia bisa mengendalikan diri atau tidak. Tangannya bahkan gemetar ketika hendak menyentuh resleting yang posisinya benar-benar di belakang tulang ekor. Ia bahkan masih bisa melihat celana dalam Hinata, dan tentu saja bokong sintalnya yang sedikit menyembul.

Dua langkah terhapus sudah, membuat posisi mereka menjadi begitu dekat. Hinata memunggunginya. Posisi pegangan payung sekarang juga telah berpindah tangan. Ganti Hinata yang memegang.

Sial sial siaaal!

Keringat dingin, Gaara saat menarik resleting itu ke atas. Kulit Hinata sungguh putih tak ubahnya susu. Jakunnya sempat sesaat dibuat turun naik melihat itu.

"..."

Perlahan tapi pasti. Gaara kembali mengalihkan pandangannya dari punggung Hinata kala melihat tali biru yang melingkari belakang dada perempuan itu.

Ini bra kan?

Sret!

Selesai.

"Sudah."

Akhirnya ...

"Ah, terimakasih."

Mereka lalu kembali ke tenda.

.

Langit sudah berhenti meneteskan air setelah 2 jam berlalu. Kali ini rasa was-was menjalar hampir di hati semuanya, lantaran sampai sekarang Deidara belum juga kembali.

"Bagaimana? Apa kita bagi tim saja?" ujar Sasori.

"Boleh, tapi menurutku yang perempuan tetap tinggal di tenda. Kita yang mencari-"

"Aku tidak mau, Hidan!" potong Karin

"Karin?"

"Sayang, lebih baik aku ikut denganmu. Di sini seram. Kalau hanya perempuan yang berjaga, kalau ada hewan buas masuk, bagaimana? Aaakh ... aku tidak mau. Aku memilih ikut!" Karin masih teringat bayang-bayang hitam yang ia lihat saat hendak buang air kecil tadi. Sampai sekarang, ia bahkan belum bisa memastikan itu apa. "Aku tetap menolak kalau harus berdiam di sini!"

Haaah ...

Hidan membuang napas. Ia hafal betul sifat sang kekasih. Karin pasti tetap ngotot tidak mau, sekali pun dia bersikeras membujuknya. Melihat gadis-gadis ini-Karin, Temari, dan teman Gaara yang tampak pendiam, yaitu Hinata-memang tak ada yang bisa diharapkan kalau hewan buas masuk ke dalam. Pasti ke-tiganya bakalan teriak-teriak.

"Hmm ... ok. Kita bagi menjadi 2 kelompok dengan titik temu di tenda ini lagi. Mungkin Deidara tersesat. Aku melihat senternya di atas tas miliknya. Kemungkinan dia salah jalan karena gelap."

"Bisa juga dia terperosok ke jurang, hmm ..."

Semua langsung menoleh ke arah Sasori kala pemuda berponi itu berujar demikian.

"Apa?" timpal Sasori bingung melihat semua mendadak menatapnya.

"Berpikirlah positif. Jangan yang aneh-aneh seperti itu,"

"Loh, aku kan berujar kemungkinan terburuk. Itu tidak mustahil. Gelap, hujan, sangat memungkinkan Deidara melalui jalur yang salah. Jalanan yang berlumpur tentu membuat sendal gunungnya licin kan?"

"Hmm ... yang kau pikirkan ada benarnya juga," Temari menimpali.

"Ya sudah, kita bagi tim jadi 2. Fokusnya yang satu ke dalam hutan, dan yang satu lebih ke pinggir. Kita mencari dalam satu jam, setelah itu, apa pun yang terjadi kita harus kembali lagi ke sini. Jika terjadi sesuatu, jangan lupa 1 kali tembakan ke udara."

"Baik!"

"Yosh."

Hidan tampak memakai lagi senternya di kepala.

Dei, di mana kau?

.

.

.

Bersambung