Eren melenguh pelan, saat merasakan sapuan lembut di sisi wajahnya. Rasa nyaman mendera, secara tak sadar Eren menenggelamkan wajahnya pada sesuatu yang sedang ia peluk erat.

Udara berubah hangat. Usapan yang Eren rasakan berpindah, menyusuri punggung nya. Membuat gerakan menggoda, melewati setiap pori-pori kulitnya, dan berakhir pada lehernya. Mengurutnya pelan. Eren menikmati setiap sentuhan itu.

Udara berubah panas. Ketika usapan itu turun, menemui lehernya, semakin turun, melewati dadanya, semakin turun, mengusap perutnya, yang Eren rasa itu sensitif. Eren kembali melenguh.

Dengan keadaan setengah sadar, Eren membuka matanya. Menampilkan sepasang manik yang cantik. Awalnya pandangan terasa kabur, efek bangun tidur. Setelah mengerti keadaan kenapa tidurnya serasa begitu menggairahkan, Eren melotot kaget. Saat sadar bahwa usapan yang ia rasakan bukanlah mimpi—yang ia pikir itu mimpi basah—tapi, usapan itu memang nyata.

Pikiran Eren seketika beku, mendapati Heichou, sang atasan, tidur seranjang dengannya, memeluknya, mengusapnya. Secara refleks, Eren beringsut menjauh. Memilih nempel dengan tembok kamar, dibandingkan Rivaille. Hell, masih se-pagi ini dan sudah di beri pemicu jantungan mendadak.

"ng, Heichou. Kenapa Anda berada di—?"

"kau yang membawa ku kemari. Kau lupa? Dan jangan menatap ku seperti itu." Rivaille memotong perkataan Eren cepat, agak tersinggung dengan Eren yang menatapnya seakan-akan dia penjahat kelamin kelas atas.

Rentetan ingatan seketika memenuhi pikiran Eren. Ah, dia lupa, mungkin efek baru bangun. Kalau semalam ia membawa Rivaille kemari karena mabuk. Didorong oleh perasaan aneh dan mendesak, Eren mengecek setiap inci tubuhnya lalu menatap Rivaille.

"lalu err—apakah kita melakukan..." Eren menggerakkan jarinya, menunjuk ke arah dirinya dan Rivaille.

"Tidak." Rivaille menjawab tegas.

"Tidak terjadi apa-apa?"

"tidak terjadi apa-apa."

"benarkah?"

"seratus persen." Rivaille menghela nafas, merutuki pemikiran Eren. "lagi pula, kau tidak mabuk seperti ku Eren, ku yakin kau sangat ingat setiap detail yang terjadi semalam tanpa ku jelaskan."

"ah, tidak mungkin.." Jujur, baru pertama kali ini Eren kecewa mendapati dirinya bangun dengan berpakaian lengkap. "Tapi, kenapa Anda, maksud saya, tangan Anda berada di tubuh saya?" Eren merasa ingin mati saja, muka nya pasti merah.

"ah itu, terbawa suasana." Jawabnya tanpa beban.

Eren mendadak kikuk mendengar jawaban Rivaille. Agak keki sih mendengar jawaban nya. Tapi, tak dapat menutupi perasaan nya yang luar biasa senang. Mendapati permintaan dari seseorang Rivaille, seseorang dengan harga diri tinggi, seseorang yang di sebut atasannya, seseorang yang ia pikir menarik, memintanya untuk tidur bersama. Tanpa sadar hati Eren menghangat.

"kalau begitu aku akan kembali ke ruangan ku." Suara berat Rivaille mengembalikan Eren dari lamunannya.

Tanpa sadar Eren membentuk wajah kecewa. Secepat itukah, padahal Eren masih ingin lama-lama dengan Rivaille. Masih ingin menatap wajah Rivaille. Masih ingin memeluk Rivaille. Masih ingin menciumi bau Rivaille yang menurutnya unik—ada campuran bau alkohol juga—tapi membuatnya nyaman.

Dan tanpa dapat di cegah, Eren menarik pelan pergelangan Rivaille. Menariknya tetap duduk di pinggiran kasur. Lalu menatap Rivaille dalam.

"kau kenapa? Lepaskan aku, masih banyak hal yang harus kukerjakan." Kening Rivaille mengkerut bingung, saat Eren masih setia menggenggam pergelangan tangannya. Sebenarnya bisa saja Rivaille melepaskan tangannya dari Eren, tapi tatapan Eren mencegahnya.

"ini masih terlalu pagi untuk bertugas Heichou. Lagi pula, apa Anda lupa, sekarang akhir pekan, kegiatan Anda setau saya adalah mengawasi para pasukan berlatih dan itu di laksanakan sore hari, Heichou." Tegas Eren. Secara perlahan ia menarik Rivaille untuk sepenuhnya berada di kasur. Rivaille menerima tanpa penolakan.

"kau... ingin aku berada di sini lebih lama, begitu?" bisik Rivaille saat Eren semakin menariknya mendekat. Dan semakin dekat.

"itulah yang saya inginkan dari Anda." Saat jarak mereka menipis. Tangan Eren bergerak menuntun kedua tangan Rivaille untuk merangkul pinggang nya.

"tapi... aku harus segera membersihkan ruangan kerjaku." Tangan Eren menyentuh dagu mengangkatnya, lalu menatap dalam Rivaille.

"itukan bisa lain waktu." Ibu jari Eren bergerak, menyusuri wajah Rivaille. Mengusap keseluruhan, dan berakhir pada belahan rubi merah pudar itu.

"Eren.." Rivaille menutup kedua matanya.

"hm..?"

"kenapa kau melakukan ini?" Sejujurnya Rivaille agak canggung dengan semua perlakuan Eren terhadapnya. Mau bagaimanapun Eren adalah laki-laki begitu pun dirinya. Agak aneh tapi, semua ini serasa menantang menurutnya. Ah, ingatkan Rivaille untuk tak pernah lupa, tentang sensasi yang menggairahkan ini.

"ah itu, terbawa suasana." Eren tersenyum kecil saat Rivaille mendengus jengkel padanya.

"Heichou, boleh saya mencium Anda?" kata Eren, setengah bercanda. Mata Rivaille terbuka, dan menatapnya.

"kenapa tidak?" jawabnya sambil berbisik.

"A-anda serius?" Agak shock sih, Eren kira bakal di tolak.

"apa aku pernah kelihatan bercanda?" Mata Rivaille kembali terpejam saat jari-jari Eren menginvasi bibirnya.

"Tidak pernah, sir."

Kepala Eren bergerak maju. Mempersempit jarak yang ada. Meraih tenguk Rivaille. Meremat pelan helai rambut nya, sebelum mempertemukan bibirnya dengan bibir Rivaille. Menempel untuk beberapa saat. Dan melepaskannya menjadi kecupan yang lembut dan hangat.

Dengan wajah yang memerah, Eren sekali lagi mengecupkan bibirnya pada Rivaille. Lagi. Lagi. Lagi. Dan lagi.

Udara seketika mendingin. Tapi tak memadamkan panas yang mendera di antara keduanya. Suara deru nafas berderu jelas.

Eren membaringkan Rivaille pelan. Tanpa melepaskan tautan mereka. Dari kecupan hangat dan manis berubah menjadi ciuman yang panas dan menggairahkan saat Eren berada di atas Rivaille.

Sedikit membelai belah bibir Rivaille yang hangat, lidah Eren melesak masuk. Menyusuri, mengecapi, menikmati, dan merekam dalam otak tentang ciuman pertama Eren yang begitu hebat.

Tangan Rivaille bergerak liar, menyusuri setiap inci tubuh Eren. Meremat kedua bisep lengan Eren, mengatakan bahwa ini adalah hal yang luar biasa.

Ciuman terhenti saat mereka kekurangan oksigen. Tampak berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya.

Sebelum melanjutkan ciuman, Eren berusaha beranjak menuju pintu. Untuk mengunci pintu, berjaga-jaga bila ia akan kepergok.

Well, sepertinya dewi fortuna sedang tak memihak pada Eren. Karena sebelum dia beranjak dari kasur, ada seseorang yang lebih tepatnya orang sialan yang mengganggu momen nya dengan Rivaille. Shit, kenapa harus kuda sialan itu yang memergokinya, rutuk Eren.

Karena terlalu shock, Eren hanya diam saja, menatap Jean—orang sialan yang dimaksud—sedang memasang tampang yang menurutnya sangat-sangat idiot, bila di kata. Yang benar saja, untuk apa Jean megap-megap kayak ikan, jangan lupakan wajah Jean yang merah tak terkira.

"ah.. itu.. aku.. ehm.. tidak-tidak melihat apa pun, sumpah.. silakan lanjutkan maaf mengganggu!" Lalu Jean berlalu begitu saja, diiringi suara 'braak' dari pintu yang dia banting.

"Eren, apa kita kepergok?" setelah sadar akan keadaan, Rivaille bergumam kecil pada Eren.

"sepertinya begitu Heichou, Maafkan saya, saya lupa untuk mengunci pintunya." Mata Eren menatap Rivaille yang juga memandangnya. Bibir Rivaille agak bengkak dan terlihat basah. Lalu Eren menjatuhkan tubuhnya menimpa Rivaille, menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Rivaille. Menikmati harum yang ada.

"ah, baiklah. Kalau begitu aku akan kembali ke tempatku. Jadi bisakah kau pindah? Kau berat Eren." Pinta Rivaille agak sesak.

"tapi, apa tidak apa-apa bila ada orang yang tahu. Bagaimana kalau dia memberi tahu orang lain." Jelas Eren. Berusaha menyembunyikan tujuan untuk menahan Rivaille lebih lama lagi.

"dia tidak akan berani melakukan itu, kecuali dia ingin kepalanya menjadi pajangan di ruangan ku." Ujarnya pada Eren. "dan Eren bisakah kau hentikan itu?" Rivaille agak bergidik ngeri saat merasakan benda hangat dan basah—lidah Eren—memutari telinganya.

"kenapa tidak Heichou?" Eren cemberut, tampak kesal. Tapi, tak menghentikan kecupan kecil pada leher Rivaille.

"ruangan kerja ku pasti sangat kotor, aku harus segera membersihkannya, dan lagi ini masih terlalu pagi."

"pagi?"

"ya dan, cepatlah kau bangun, sebelum ku tendang." Ancamnya.

Eren sedikit mengerutkan kening, tampak berpikir. Lalu menyeringai senang setelahnya. "jadi, kalau kita lakukan selain pagi hari, boleh?"

Rivaille harus tertawa pada saat itu, yang benar saja.

"terserah kau, bocah." Merutuki perkataan nya sendiri, lalu kembali berucap. "aku akan ada di perpustakaan setelah latihan."

-

Seperti yang di jadwalkan setiap pekan. Sore ini Eren tengah berlatih fisik dengan yang lain. Mikasa dengan Sasha, Cony dengan Armin, Eren dengan Jean. Dan Hange dengan Rivaille akan mengamati jalannya pelatihan.

Pelatihan nya cukup sederhana, yaitu kalahkan lawanmu dengan tangan kosong. Termasuk mudah, karena lawanmu adalah manusia.

Ya, begitulah yang Eren pikirkan. Tapi bagaimana bila lawanmu itu menatap kau seakan-akan kau adalah penjahat kelamin kelas atas. Eren merasa aneh sendiri.

Hell, dia tak melakukan apa pun ok. Dia hanya kepergok berciuman dengan Rivaille, belum melakukan lebih dari itu. Ok, belum.

Oh my, mengingat kejadian tadi sedikit membuat Eren kesal, andai saja tak ada yang mengganggu pasti sekarang ia dapat melakukan lebih dari sebuah ciuman panas.

"Jean bisakah kau berhenti menatap ku seperti itu?" Ujarnya pada Jean. "aku tahu kau mungkin kaget saat kau melihat ku berciuman dengan—" sebelum Eren menyelesaikan perkataannya Jean keburu histeris.

"kau meperkos—" Eren membekap paksa mulut Jean. "shit, jangan berteriak, bodoh!" desisnya, lalu menyeret Jean ke tempat yang lebih sepi. Setelah di rasa aman, Eren mencoba kembali berbicara.

"aku tak memperkosa nya ok, aku hanya menciumnya, dan itu pun dengan izin nya!" tegas Eren.

"kau memperkosanya!"

"aku tak memperkosanya!"

"kau memperkosanya!"

"aku tak... ok, berhenti memojokkan ku dengan perkataan itu. Nyatanya aku hanya menciumnya." Tengah Eren. "aku harap kau tak mengatakan pada siapa pun tentang ini, kau tahu Heichou akan membunuh mu."

Seketika wajah Jean muram. Salah apa dia sehingga berada di posisi mengenaskan seperti ini.

"ok, dengan satu syarat kuharap kau menuruti ku." Tawar Jean.

"ok." Dengan berat hati Eren mengiyakan.

Dalam hati merutuki kelakuan Jean yang tak tahu diri.

-

"oh my! Bukankah Eren terlihat seksi dengan kaus itu, di tambah keringatnya, membuat tubuh Eren tercetak jelas. Ah lihat, senyuman itu membuat ku meleleh. Dia manis sekali bukan? Dan lagi, stamina nya kuat sekali, bukankah dia sudah dari tadi berlatih.." Hange komat-kamit di samping Rivaille yang diam menikmati latihan para pasukan pengintai. Jujur kupingnya serasa panas. "menurutmu, dengan stamina sebesar itu, berapa lama Eren tahan bergulat di atas kasur—"

"Hange, kau menjijikkan." Komen Rivaille pada akhirnya. "bisakah kau diam, aku sedang konsentrasi untuk mengevaluasi para prajurit."

Hange memutar matanya. "maksudmu menikmati pantat Eren kali."

Rivaille pura-pura tak mendengar.

"ah, aku tak begitu tahu permasalahan mu dengan Eren. Tapi, kalau kau memang tertarik padanya lebih baik kau bilang. Mempunyai teman seorang gay bukanlah hal yang buruk, ku pikir." Nasehat Hange penuh bijak, dan Rivaille hampir mengeluarkan pisau kecil yang terselip di pakaiannya.

"aku, bukan gay."

Hange menatap wajah Rivaille, lalu menghela nafas lelah. Well, bagaimana Hange bisa tahu tentang hubungan Rivaille dan Eren, tanyakan saja pada riset yang Hange lakukan secara diam-diam.

"oh yeah, bisakah kau jelaskan kenapa kau bisa horny dengan hanya melihat Eren keringatan di sana."

Rivaille menatap Hange sadis sambil mengacungkan pisau. "aku tidak horny, sialan... dan bisakah kau tidak menyelipkan kata-kata jorok dalam semua perkataan mu.. kau membuat ku jijik."

"oh ayolah Levi kau tak usah seperti ini. Aku tahu kau memiliki harga diri kelewat tinggi dibandingkan tinggi tubuhmu. Sebagai teman aku hanya menasihati mu."

"aku tak butuh nasihat dari mulut sialan seperti mu, dan.." pisau dalam genggaman Rivaille menempel pada pipi Hange. "jangan pernah membahas hal yang berkaitan tentang tinggi badan ku." Desisnya penuh ancaman.

Hange sedikit bergidik, menyesali mulutnya yang kelewat ember.

-

Setelah semua laporan dari pelatihan tadi sore rapi, Rivaille buru-buru bergegas menuju perpustakaan. Meninggalkan Hange yang mencak-mencak tak jelas. Ada sedikit hal yang harus dia lakukan di sana.

"cepat sekali?" ucap Rivaille saat Eren sudah di sana.

"saya pikir ini lebih baik dari pada membuat Anda menunggu." Eren tersenyum, menarik Rivaille padanya. Melempar sembarangan kertas kerjaan Rivaille.

Rivaille marah ketika kerjaan nya di lempar begitu saja, sebelum Eren mengecupnya pelan, di bibir. Rasa marah nya menjadi berkurang.

"Anda bekerja begitu keras." Bisiknya tepat di telinga Rivaille. "apa Anda tak lelah?"

"sedikit." Jawabnya.

"Anda bisa sakit." Eren menarik secara perlahan dan tenang, membawa Rivaille dalam kehangatan.

"Tidak akan." Eren menarik alisnya sedikit, agak lucu dengan sifat angkuh Rivaille. Kembali mengecup. Hangat dan manis.

Sebelum udara berubah panas dan basah, kali ini. Pintu perpustakaan diraih, dan di tutup rapat. Sangat rapat. Menimbulkan bunyi 'klik' yang bergema. Menandingi suara deru nafas, membekap udara panas di dalamnya.

-

A/N:

Halo!!!

Sebelum berbacot ria aku ingin mengucapkan... HAPPY HOLIDAY!

Selamat liburan kalian semua dan untuk diriku sendiri. Hehe.

Dan aku juga ingin mengucapkan maaf sebesar-besarnya karena telat update. /telat bgt malah/

Lalu ucapan terima kasih yang sangat besar untuk kalian, yang sudah mau meriviuw, membaca, dan mengapresiasi karya abal ini. /Arigatou/

Oh ya, jujur aku ketawa melihat riviuw di kolom komentar saat membahas adegan 'anu', haha. Kalau adegan 'anu' hanya sebatas ciuman aku masih sanggup. Tapi kalo lebih dari itu, mikir-mikir dulu. /padahal tiap hari bacaan ku gak jauh-jauh dari rated-M, loh/ lol.

Jadi ya, kuharap kalian puas dengan adegan di atas. Hehe.

Segitu dulu bacotan ku...

See you!