...

Bantingan keras pada pintu berlapis baja terdengar nyaring. Chanyeol dengan langkah tergesa keluar menuju kerumunan orang-orang di sana. Waktu masih menunjukkan pukul 3 dini hari ketika ia mendapatkan sambungan telepon darurat dari Suho. Membuatnya harus rela meninggalkan kopi yang bahkan baru beberapa menit ia taruh di meja kerjanya.

Suara gaduh orang-orang yang bersahutan mulai terdengar, berbaur menjadi satu bersama suara dan lampu blicth kamera yang terlihat beberapa kali. Minggyu berdiri dibarisan paling depan, dengan tubuh besarnya ia mencoba menghalau beberapa orang yang nekat melangkah mendekat. Merentangkan kedua tangan panjangnya sekaligus menunjukkan wajah garang pada pria-pria dewasa yang ada di hadapannya.

"Dilarang mengambil gambar!" Minggyu memperingati, mendorong pria berjas biru itu dengan sebelah tangan. "YAKK! Maju selangkah maka akan kupangkas habis kakimu!" Teriaknya sadis, menunjuk dengan jemari tanpa sadar saking kesalnya dengan tingkah para pencari berita yang tak ada takut-takutnya sama sekali dengan pihak polisi. Alih-alih pergi, mereka malah terus saja merangsak masuk garis kuning yang telah dipasang sepanjang area.

"Kami hanya ingin mengambil sekali saja, aku janji." Wartawan di depannya tetap memaksa, mencoba mendorong tubuh Minggyu yang jelas saja berbuah sia. "Tidak bisa! Aish—cepat pergi sana!" Usir Minggyu dengan suara beratnya.

Chanyeol membelah barisan itu sedikit kasar, membuat beberapa wartawan bahkan sampai terjengkang ke tanah karena ulahnya. Well, dia tidak perduli. Siapa suruh berdiri dan menghalangi jalannya? Padahal tulisan dilarang melewati garis polisi sudah terpampang jelas dengan capslock dan tulisan yang menebal. Tapi, memang dasarnya sudah tuntutan pekerjaan jadilah seperti ini.

"Oh, Chanyeol? Akhirnya kau datang juga." Suho bangkit, membuka masker putih yang ia kenakan sebelum membawa langkah pada si surai hitam kelam.

Pria yang dimaksud hanya menundukkan kepala sebentar sebagai salam hormat pada seniornya kemudian memilih mendekat pada Sehun yang masih berjongkok di samping tubuh seorang bocah. Tangannya terkepal tanpa sadar, semakin geram dengan tingkah sang pelaku. Terlebih saat melihat tanda itu kembali terukir di dada korban yang hanya mengenakan celana bahan selutut. Sedang bagian atasnya sengaja dibiarkan terbuka begitu saja agar tanda itu dapat terlihat dengan jelas.

"Si brengsek itu!" Chanyeol menggeram, segera menerima sepasang sarung tangan karet untuk ia kenakan.

Dengan perlahan dia menyentuh sekitaran luka. Masih sama dengan pola korban yang sebelumnya, terdapat bentuk hati di sana walau darah merah itu terlihat sudah mulai mengering.

"Sepertinya ini belum lama terjadi." Sehun menyentuh beberapa bagian di tubuhnya, merasakan panas tubuh yang samar masih tertinggal.

Kepalanya ia tolehkan ke kanan dan kiri, melihat apakah ada CCTV yang terpasang di area taman ini. Pepohonan yang rindang sedikit menghambat pekerjaannya hingga ia memilih bangkit dan mencoba mengitari area terdekat. "Itu dia." Menjentikan jari refleks ketika dia mendapatkan satu buah CCTV di arah jam 12.

Chanyeol menoleh ketika merasakan tepukan pada bahu kanannya, "Aku akan mencari lewat CCTV, siapa tahu dia belum jauh." Ujar Sehun. "Kau ikut atau tetap disini?" Lanjutnya lagi dan Chanyeol menjawab dengan gelengan pelan, "Aku masih ingin mencari sesuatu di sini."

Sehun menganggukkan kepalanya mengerti, segera membawa langkah menjauhi kerumunan setelah sebelumnya berpamitan pada Suho yang tengah sibuk melayani pertanyaan dari salah satu wartawan. Yang seperti ini memang harus segera di beri kejelasan sebelum membawa resah pada penduduk.

"Apa ini?"

Dedaunan kering di tanah ia singkirkan, mengambil satu buah benda kecil mengkilap dari sana. Beberapa ukiran rumit terlihat didalam lingkarannya. Terasa familiar namun tak benar mengingat memori itu di kepala. Lantas benda itu segera ia masukkan kedalam saku celana, beranjak berdiri menghampiri Suho dan beberapa orang berpakaian putih dengan masker di wajah. Ahli forensik dari kepolisian.

"Aku harus memastikan sesuatu." Katanya sebelum melenggang pergi.

.

Come Back to Me

.

Pairing:
Park Chanyeol x Byun Baekhyun

.

Genre:
Crime. Drama. Romance

.

Warning! : Hati-hati banyak trap disini. Italic word for Flashback. YAOI, BL. Reinkarnasi. Pedofil. MPREG. Mature content.

.

Original Story by
Izahina98

Don't Like? Don't Read!

.

Chanyeol menambahkan satu bantal lainnya di bawah perut Baekhyun, menyamankan posisi sebelum kembali menggerakan tubuh. Menggeram bagai hewan buas saat mengejar kepuasan. Baekhyun mencoba menggapai-gapai tubuh tegap pria tingginya, mencari pegangan.

"Eungh, Chanyeoliehh peluk uhhh." Dia mulai merengek kala melihat suaminya yang justru hanya asik menggerakkan pinggul. Membuat tubuh kecilnya semakin terhentak-hentak di bawah.

Bukannya Chanyeol tak ingin, hanya saja dia takut menindih perut buncit itu tanpa sadar nantinya. Memang susah mencari gaya bercinta yang aman sekarang ini, mengingat kehamilan Baekhyun yang sudah memasuki awal Bulan ke-8. Namun walaupun kelahiran yang kian mendekat, nyatanya tak mengurangi hormone si kecil. Mereka bahkan rutin melakukannya setiap minggu. Tentu disaat Chanyeol tengah tak disibukan dengan berkas di kantor.

"Ahnn… Chanyeoliehh pelan sedikithh ahh." Baekhyun mencengkram kuat selimut di sisian tubuh, merasakan penuh di dalam sana. Perutnya yang membuncit membuatnya jelas tidak bisa banyak bergerak, hanya mampu pasrah ketika suaminya mengerjai semua titik sarafnya.

Kepalanya terkulai lemas kebelakang, memejamkan mata rapat-rapat kala penis mungilnya masuk dalam genggaman tangan besar sang suami. Nafasnya tersengal-senggal merasakan semua sengat kenikmatan yang tiada henti Chanyeol berikan. "Angh… Chanyeoliehh akuh inginn… ahh-ahh tidak berhenti!" Baekhyun menjerit parau, merasakan tempo kocokan dan sodokan semakin cepat.

"Bersama sayang."

Beberapa tusukan terakhir dan mereka menegang kala menyentak klimaks. Baekhyun menyentuh perutnya refleks, merasakan semburan panas yang memenuhi dirinya. Begitu penuh hingga sebagian cairan putih itu keluar melewati belahan bokongnya ketika Chanyeol menarik keluar kejantanannya.

Baekhyun terengah payah dengan dada kembang kempis, membuat puting yang memerah basah oleh saliva terlihat semakin menggoda. Chanyeol menghela nafas berkali-kali, mencoba mengatur hasratnya sendiri. Tak ingin kelepasan lagi hingga membuat suami mungilnya tak sadarkan diri karena kelelahan seperti kemarin. Setidaknya tidak untuk sekarang ini.

"Mmhh…" Chanyeol membawa tubuh semakin dekat, menyingkirkan dua bantal itu sebelum memutar perlahan tubuh Baekhyun. Kedua tangan kekarnya melingkar di sekeliling tubuh yang lebih kecil, memeluknya dengan sangat possessive dari belakang.

Kecupan berkali-kali diterima Baekhyun dibahunya, "Aku mencintaimu." Chanyeol berujar pelan, mengendusi aroma tubuh Baekhyun sesekali hingga anak itu merona hebat tanpa dia tahu. Pria itu memang sangat jarang mengatakan kata cinta, karena baginya cinta tak harus dikatakan setiap waktu melainkan di wujudkan dengan sikap.

Baekhyun mengulum bibir bawah sebelum menjawab, "Aku juga." Lalu menutup dengan segera wajahnya yang kian memerah padam dengan kedua tangan. Sikap malu-malu seperti ini yang selalu sukses membuat Chanyeol tersenyum penuh arti.

Namun senyumnya tak bertahan lama kali ini. Raut wajahnya berganti cemas dan khawatir ketika mengingat sesuatu di dalam pikiran. Membuat perasaannya berubah tidak enak. Bagi seorang petinggi perusahaan yang tengah maju seperti dirinya, sangat beresiko memiliki musuh. Apalagi dengan masalah yang dulunya pernah melibatkan dirinya dengan seorang kenalannya. Itu juga yang membuat dia terpaksa mengurung Baekhyun selama masa kehamilan. Terlalu berbahaya, apalagi setelah menerima surat dengan tinta merah satu minggu yang lalu.

Angin dingin di musim semi terasa ketika jendela kayu di kamar itu terbuka, membuat tirai berwarna kebiruan bergoyang di terpa angin. Juga membuat cahaya rembulan menyeruak masuk dalam ruangan temaram. Menyorot pada lembaran kertas berisi angka dan huruf yang tertempel pada dinding dengan ujung tulisan 1930 disana.

"Jika aku di beri kesempatan. Aku ingin terlahir kembali dengan kau sebagai takdirku."

Baekhyun mengeryit tak paham kala mendengar penuturan prianya yang tidak biasa. Yang ia tahu, Chanyeol bukanlah orang-orang yang mempercayai hal mustahil seperti itu. Bahkan dia selalu tertawa kerap kali dirinya bercerita hal itu dengan Chanyeol. Si mungil sudah hendak membalik tubuhnya sebelum Chanyeol menahannya tetap pada posisi awal. Kembali merengkuh yang lebih kecil sambil sesekali mengelusi perut buncit itu dengan lembut.

"Aku akan mencarimu bahkan ke ujung dunia sekalipun, itu janjiku."

Chanyeol kembali menarik tubuh kecil itu, membuat Baekhyun kembali terlentang di bawahnya. Kedua tangannya menumpu pada kasur, menjaga jarak agar tak membuat sesak bayi di dalam sana. Bayi kesayangannya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.

"Kau akan menepatinya?" Baekhyun bertanya dengan wajah menggemaskan, sukses membuat Chanyeol segera merunduk untuk mencuri satu kecupan di bibir memerah itu.

"Ya, aku berjanji."

Tidak, kau berbohong padaku.

Kedua mata yang semula terpejam rapat kini pelahan terbuka dengan setitik air yang meluncur di sudut. Baekhyun bernafas dengan sedikit terengah, terbangun di pukul 8 Pagi dengan Kyungsoo di sampingnya. Anak itu mengerjapkan mata, menghalau rasa pusing dikepala saat mimpi itu kembali datang. Mimpi ataukah memorinya yang mulai terbuka satu persatu? Baekhyun tak ingat jelas. Itu bahkan terlihat terlalu nyata untuk dikatakan mimpi.

"Kau bohong." Dia berujar lirih, "Kau tidak mencariku."

Kyungsoo segera menyentuh dagu si kecil, membuat anak itu mendongak dan menatapnya. "Apa yang kau bicarakan?" Tanya pria bermata doe itu, bingung dengan tingkah Baekhyun yang kembali murung. Padahal anak itu masih baik-baik saja semalam, mereka bahkan menghabiskan banyak waktu menyenangkan di kamar ini.

"Tidak ada."

Dia menghela nafas pelan sebelum mengulas senyuman tipis di bibir berbentuk hatinya, "Ya sudah. Ayo mandi!"

Baekhyun tak menolak ketika Kyungsoo menyentuh ujung piyama cokelat bergaris yang ia kenakan, mengangkat kedua tangan di udara saat Kyungsoo melepaskan kain itu dari tubuh. "Aku akan menggosok punggungmu, bagaimana?" Kyungsoo berujar dengan semangat sambil berjongkok untuk melepas celana bahan yang melekat di bagian bawah si kecil. Baekhyun hanya mengangguk tanpa kata.

Setidaknya mood Baekhyun terlihat lebih baik saat di dalam kamar mandi. Beberapa bebek kuning dan ungu yang mengapung di permukaan air hangat membuat pekikan girang terus terdengar dari belah bibirnya. Kyungsoo yang duduk di luar bathup terus menggerakkan spon di punggung si bocah hingga busa-busa putih muncul dan membuat bebarapa gelembung kecil berterbangan di sekitar.

"Baekhyun." Pria bermata bulat itu memanggil dan hanya dia jawab oleh deheman pelan dari yang lebih kecil. Sepertinya dia terlalu asik memainkan dua bebek di masing-masing tangannya. "Mulai sekarang bisakah kau memanggilku Papa dan Kai dengan sebutan Daddy?" Kyungsoo berujar agak ragu, berharap tak mendapatkan penolakan dari Baekhyun.

"Papa?"

Kyungsoo mengangguk, "Iya, mau 'kan?" Tanya nya sekali lagi.

Mereka memang belum membicarakan perihal pengangkatan anak itu. Masih ingin membuat Baekhyun nyaman terlebih dahulu di antara keluarga ini. Mungkin membiasakan Baekhyun untuk memanggil dirinya dan Kai dengan sebutan tersebut bisa menjadi awal yang bagus, siapa tahu mereka bisa lebih dekat. Sungguh, saat melihat Baekhyun dia seperti tengah melihat anaknya sendiri. Membuat rasa rindu yang semula terpendam di dalam hati berkurang sedikit demi sedikit di setiap harinya.

"Jika kau tidak mau ya—"

"Kyungsoo Papa." Anak itu memanggil dengan kerjapan polos, memutar tubuh untuk melihat sang Papa dari dekat sebelum menghamburkan tubuh untuk memeluk Kyungsoo. Membuat pria yang masih lengkap dengan pakaiannya itu menjadi basah karena ulah Baekhyun. "Baekki suka." Katanya dengan suara riang.

Hatinya menghangat kemudian, membalas pelukan Baekhyun seerat mungkin. Mengucapkan kata 'terimakasih' berulang kali sambil mengecupi puncak kepala si surai madu. Baekhyun menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria di depan, merasakan nyaman pelukan Kyungsoo. Memiliki keluarga yang lengkap juga salah satu keinginannya sejak dulu selain mencari Chanyeol. Siapa sangka jika dia bisa mendapatkan keduanya sekaligus. Tentu tak bisa di jabarkan lagi bagaimana senangnya dia. Ya, walau ada sedikit hal yang ia pikirkan juga.

Beberapa menit berlalu dan Baekhyun langsung berlari keluar dengan handuk yang membelit tubuh kecilnya. Membuat gaduh apartemen karena Kyungsoo yang terus saja berteriak agar anak itu tak berlarian dengan tubuh basah, takut terpeleset saja.

Kai yang baru saja selesai sarapan langsung menangkap tubuh mungil itu. "Jangan biarkan dia lari lagi Sayang!" Kyungsoo berteriak tak lama, membungkuk menyentuh kedua lutut dengan nafas terengah.

"Kau membuatnya kelelahan, Baby." Kai berkata sambil menatap Baekhyun yang masih asik melingkarkan kedua tangan kecilnya di leher. Dia menggeleng dan kembali menyembunyikan wajah di ceruk leher. "Aku tidak ingin sekolah!" Teriaknya dengan bibir bawah mencebik.

"Eh? Kenapa?"

"Di sana membosankan Daddy! Baekki tak suka." Pria itu terkesiap untuk beberapa menit saat mendengar penuturan si kecil. Dia membawa pandang pada Kyungsoo yang hanya mengulas senyuman lebar di depan pintu kamar. Seakan mengerti apa maksudnya, Kai segera memeluk tubuh itu lebih erat. Mengecup pipi kanannya sebelum melanjutkan kalimat yang sempat tertunda.

"Tapi kau harus sekolah." Ucapnya final.

"Tidak mau!" Bibirnya mengkerucut lucu, menjalin jemari dengan kepala yang lagi-lagi menggeleng protes. Kyungsoo datang dan mengusak rambut basah Baekhyun menggunakan handuk kecil di tangan.

"Katanya ingin bertemu Yifan Hyung. Kau tidak rindu dengannya?"

Perkataan itu pun tak pelak mengundang antusias dari si kecil. Wajahnya langsung berubah cerah, "Iya, Baekki rindu pada Yifan Hyung!" Dia memaksa untuk turun dari gendongan Kai, segera berlari ke kamar setelah ia menginjakkan kaki di lantai. "Yifan Hyung berjanji akan mengajak Baekki jalan-jalan!" Katanya setengah berteriak.

Kai merengkuh pinggang Kyungsoo, mengecup bibir itu cepat dengan senyuman kelewat lebar. "Semoga ini bisa menjadi awal yang baik untuk keluarga kecil kita." Dia tersenyum hingga ujung kedua matanya menyipit. "Aku berangkat dulu! Sampai jumpa nanti, Sayang." Satu kecupan terakhir di pipi sebelum ia bawa langkah keluar. Terlihat sekali kebahagiaan di wajah mereka yang berseri-seri itu.

"Ya, hati-hati di jalan."

.

Come Back to Me

.

Terhitung satu minggu penuh dia tidak kembali. Hanya sibuk dengan tumpukan berkas kasus di meja kantor yang semakin menggunung. Memaksa tubuh lelahnya untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk mengecek sesuatu. Sungguh melelahkan.

Belum lagi, dia hanya bisa menatap wajah manis si kecil lewat layar ponsel sesekali. Dia memang rindu, mungkin sangat. Chanyeol juga sudah melarang Baekhyun untuk datang ke kantor karena kondisi yang tidak memungkinkan di sini. Kantor sangat sibuk, rapat bahkan terjadi lebih sering belakangan ini.

Dia menyesap coffe latte pada gelas steroform yang baru saja di beli oleh Jongdae beberapa jam yang lalu. Chanyeol mengusap mata kirinya, menguap sekali sebelum kembali fokus memperhatikan rekaman video yang berhasil di bawa oleh Sehun kemarin. Dia memutarnya berkali-kali, memicingkan mata untuk melihat siluet buram di sana. Samar dan dia masih belum yakin jika orang itu benar sang pelaku atau hanya seseorang yang tak sengaja melintas.

"Kenapa aku merasa video ini seperti ada bagian yang terpotong ya?" Dia berkata demikian sambil membawa wajah lebih dekat, mengamati video pada durasi menuju akhir rekaman. Ini cukup menggajal pikirannya.

Apa mungkin pelaku sengaja melakukan itu? Entahlah.

"Sunbae-nim, ada yang mencarimu!"

Chanyeol menghentikan pergerakan jemarinya yang semula tengah menari di atas keyboard. Dia menegakkan tubuh guna melihat lebih jelas Minggyu di ujung sana. Bibirnya bergerak menggumamkan kata "Siapa?" tanpa suara dari tempatnya. Tak ingin membuat gaduh suasana yang sedang tenang pagi ini. Minggyu menggidikkan bahunya tanda tak tahu sebagai jawaban.

Dengan langkah malas pria tinggi itu berjalan, melewati tubuh juniornya yang masih berdiri di dekat pintu kaca. Dia memukul-mukul bahunya pelan dengan mulut yang tak hentinya menguap. Demi apapun, dia bahkan belum ada tidur sejak dua hari yang lalu.

"Oh? Yifan?"

Pria yang dipanggil segera membungkukkan tubuh, memberi salam pada yang lebih tua dengan raut gugup seperti biasanya. Oh, Chanyeol tak akan bisa lupa. Baekhyun selalu saja menceritakan kegiatan menyenangkan dengan Yifan yang selalu ada di dalam setiap ceritanya. Membuatnya merasa iri terkadang. Aneh memang.

Kris menghembuskan nafas dengan sangat perlahan, mengangkat wajah kemudian untuk menatap Chanyeol. "Ak-aku ingin meminta ijin." Ujarnya terbata, mendorong kaca mata bulatnya yang merosot dengan sedikit gemetaran. Sungguh, tatapan Chanyeol terlalu mengintimidasi, membuatnya menjadi semakin takut.

"Untuk?"

"Untuk mem-membawa Baekhyunee ke Lotte World si-siang in-ini."

Chanyeol berkacak pinggang, mengerutkan dahi dalam saat menimang-nimang niatan Yifan. Terlalu beresiko memang, tapi dia tidak mungkin membiarkan kebahagiaan Baekhyun terhalangi juga. Lagipula selama ini Yifan selalu bisa menjaga Baekhyun dengan baik. Anak itu juga sepertinya sudah teramat nyaman di sekitaran pria berkaca mata itu. Jadi dia memutuskan untuk menjawab,

"Boleh saja." Yifan sudah hendak menjerit kegirangan sebagai pelapiasan rasa senangnya sebelum Chanyeol kembali berkata. "Tapi pastikan jika Baekhyun sampai di rumah pukul 8 dengan selamat, kau mengerti?" Perintahnya penuh penekanan, membuat Yifan menganggukkan kepalanya berulang kali.

"Aku-aku akan menjaga Baekhyunee."

"Bagus kalau begitu. Kau boleh pergi."

Mobil silver itu meluncur setelah sebelumnya Yifan masuk kedalam dengan langkah cepat. Chanyeol berbalik dan terlonjak kaget begitu wajah Minggyu sudah terpampang jelas di depan. Dia hampir saja melayangkan satu geplakan di kepala sebelum Minggyu bergerak refleks menghindar. Tahu betul tabiat seniornya yang satu ini.

"Siapa dia? Aku tadi mendengar kata Baekhyunee." Tanya nya penasaran.

"Bukan urusanmu."

Pria berkulit kecokelatan itu memanyunkan bibirnya, berjalan berjajar di samping kanan Chanyeol saat memasuki gedung kepolisian. "Apa dia pacarnya?" Jawaban itu akhirnya membuahkan satu geplakan di belakang kepala, membuat Minggyu mengaduh sakit sambil memegangi kepalanya sendiri.

"Baekhyun itu masih kecil! Mana mungkin aku biarkan dia berpacaran. Kau bodoh ya?" Perempatan siku-siku muncul di dahi mulusnya dengan sudut bibir berkedut.

Kalaupun Baekhyun sudah dewasa, dia tidak akan membiarkan siapapun mendekatinya. Hatinya menolak keras kala membayangkan itu. Entahlah, rasanya tak terima saja.

"Kalau aku bodoh aku tidak mungkin bisa masuk ke sini, Sunbae-nim!" Minggyu menjawab dengan sombongnya, menarik turunkan alisnya jenaka kala menatap wajah Chanyeol. Dan langsung berlari pergi saat Chanyeol sudah mengangkat tangannya, berniat ingin memukul. "Kau bisa cepat tua kalau marah-marah mulu, Sunbae-nim!" Teriaknya di sela tawa yang menggema di lorong. Benar-benar junior yang menyebalkan.

Namun kekesalannya menghilang saat melihat Sehun melambaikan tangan, menyuruhnya untuk mendekat. Wajahnya terlihat serius, sepertinya ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan.

"Aku mendapatkan rekaman baru yang lebih jelas."

.

Come Back to Me

.

Matahari semakin terik siang ini. Tapi tak menyulutkan semangat si kecil Park yang terus saja melangkahkan kaki-kaki pendeknya mengitari seluruh area permainan Lotte World dengan sebuah permen kapas berwarna biru di tangan kiri. Sedang tangan yang lainnya tertaut langsung dengan jemari Yifan di sebelah. Beruntung hari ini tak begitu banyak pengunjung yang datang. Jadi, mereka tak harus berdesak-desakan dan menunggu giliran berjam-jam dengan pengunjung lain.

Mereka memang hanya pergi berdua tanpa Kyungsoo atau Kai. Selain karena Kyungsoo yang harus menemani rekan lamanya yang datang dari China, Kai juga sibuk dengan urusannya di kantor. Lagipula semuanya sudah diserahkan pada Yifan. Mereka sudah benar-benar menaruh percaya pada pria berkaca mata itu.

"Ap-apa kau tidak capek?" Yifan menyeka peluh di dahi Baekhyun dengan beberapa lembar tisu, "Kita bahkan be-belum makan siang." Lanjutnya sambil menahan tangan Baekhyun agar anak itu berhenti melangkah. Perutnya sungguh lapar, terus berbunyi sejak tadi pertanda minta diisi.

"Tapi Baekki tidak lapar Hyung! Baekki masih penasaran dengan badut yang ada di gerbang tadi." Baekhyun menunjuk kearah belakang, mempoutkan bibir dengan sebelah kaki terhentak. Sebal saat dirinya tak sempat berfoto dengan karakter badut beruang yang menggemaskan.

Yifan tak menjawab, dia langsung mengangkat tubuh Baekhyun untuk ia gendong. Terlalu lama kalau meminta persetujuan si kecil yang keras kepala ini. Perutnya bisa-bisa makin parah saja meraung, "Tapi hari sudah mulai sore. Ki-kita bisa terlambat pu-pulang nanti." Katanya memperingati. Bergidik ngeri kala membayangkan wajah garang Chanyeol di pikiran.

Baekhyun hanya bisa memanyunkan bibirnya di sepanjang perjalanan menuju luar area permainan. Kalau boleh jujur, sebenarnya kakinya juga sudah benar-benar pegal sekarang. Belum lagi rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang membuatnya terus menguap. Biasanya jika siang begini dia memang akan tidur setelah menyantap makan siang. Itu peraturan yang Kyungsoo buat untuknya. Katanya sih biar nanti malam bisa kuat saat tengah mengerjakan tugas Sekolah.

"Kita mampir se-sebentar di caffe depan ya pak." Yifan memerintah, menunjuk sebuah bagunan bercat hijau di ujung jalan pada supir kepercayaannya. Pria paruh baya itu mengangguk mengerti dan segera memarkirkan mobil di pinggir jalan.

Sang pria menuntun tangan si kecil keluar mobil, meletakkan sebelah tangan lainnya di bagian atas untuk mengantisipasi agar kepala Baekhyun tidak terbentur nantinya. Mereka duduk di bagian depan dekat pintu caffe, menyantap beberapa makanan yang telah dipesan. Dan tentu saja yang paling banyak makan itu sudah pasti Baekhyun. Satu piring nasi goreng kimchi ditambah soft cake juga strawberry vanilla shake. Yifan yang sudah dewasa saja hanya sanggup memakan sepiring spaggety beef.

"Pelan-pelan! Nan-nanti kau tersedak loh." Dia memperingati, prihatin dengan mulut kecil itu yang kini sudah di penuhi makanan hingga pipinya membulat lucu. Baekhyun tak perduli, justru menambah satu buah strawberry itu kedalam mulut.

.

.

.

"Tunggu sebentar!" Chanyeol agak mencondongkan tubuh kedepan, menunjuk pada layar dengan jemarinya, "Coba kau mundurkan perlahan di sini." Suruhnya sambil mengetuk-ngetuk bagian bawah kaca.

Minggyu mengangguk dan menggerakan mouse di tangan. Menggeser tanda bulat pada video di layar komputer dengan perlahan sesuai keinginan sang senior hingga Chanyeol mengangkat tangan dan berkata, "Stop!"

Mata bulatnya memincing, melihat gambar itu dengan alis yang saling bertautan. Sehun yang berada di sampingnya pun sama seriusnya dengan Chanyeol, meneliti tiap pergerakan mencurigakan sebuah mobil berwarna silver yang tengah terparkir tak jauh dari area ditemukannya korban seminggu yang lalu. Mereka tidak bisa memastikan dengan jelas seseorang dengan tas besar di punggung itu karena terhalang dedaunan rindang yang sepertinya memang di sengaja. Hari padahal masih siang pada rekaman itu, tapi kenapa tak ada seorang pun yang menyadarinya?

Chanyeol juga merasa pernah melihat mobil itu. Dan kecurigaaanya semakin menjadi ketika telepon nirkabel di meja nya berdering nyaring, mengundang seluruh atensi anggota penyelidikan yang tengah berkumpul.

"Benar dugaanku ternyata," Orang di sana menjeda kalimat, membuat Chanyeol mengepalkan tangan karna tak sabar. "Cincin itu memang cincin yang pernah di pakai oleh Direktur WYF Micro Production dan yang kudengar sudah diambil alih oleh Putra tunggalnya." Jelasnya panjang lebar.

"Siapa namanya?"

"Yifan Wu."

Chanyeol membulatkan mata, degupan jantungnya sudah mulai menggila di dalam sana. Merasakan perasaannya yang berubah tak enak ketika memori kejadian itu terputar di kepala. Dia melirik sekali lagi mobil pada layar,

"Ak-aku ingin meminta ijin untuk mem-membawa Baekhyunee ke Lotte World si-siang in-ini."

Dan benar mengingat semua itu hingga tanpa sadar gebrakan meja ia lakukan kemudian. Sukses membuat Minggyu dan beberapa lainnya terkejut bukan main karena suara debaman itu. Sehun satu-satunya yang berani mendekat, menepuk bahu kiri Chanyeol untuk menarik atensi yang lebih tinggi.

"Ada apa?" Sehun bertanya, terlihat raut penasaran di sana. "Sesuatu terjadi?" Dia kembali bertanya ketika tak mendapatkan respon apapun dari Chanyeol selain geraman tertahan di ujung tenggorokan.

"Segera cari koordinat lokasi mobil itu, sekarang!" Dia berteriak cukup keras hingga beberapa lainnya memilih segera pergi menuju meja masing-masing untuk mencari apa yang diinginkan seorang Park yang pemarah.

Chanyeol sudah hendak melenggang pergi sebelum tangannya di cekal oleh Sehun, menariknya lumayan kasar hingga tubuh mereka berhadapan kini. "Ada apa sebenarnya, Park?" Sehun ikut kesal juga di buatnya. Mereka ini sudah menjadi partner kurang lebih 5 tahun lamanya, sudah seharusnya dia juga tahu apa masalah yang sebenarnya terjadi.

"Baekhyun dalam bahaya."

.

.

.

.

.

Mobil itu berhenti tepat pada pinggiran jalan dengan lampu berkedip-kedip, di sebelah sisi kanan hanya terlihat rumput ilalang tinggi juga aliran Sungai di sisi lainnya. Yifan menatap pria paruh baya itu lewat kaca dashboard mobil, menggidikkan dagu seolah menyuruh pria itu keluar dari mobil tanpa suara. Pria paruh baya tersebut hanya mengangguk, tak berani melawan saat tatapan mata tajam itu menghunus padanya. Seolah dia bisa kapan saja meregang nyawa hanya dengan tatapan tersebut.

"Akhirnya…"

Baekhyun tetap terlelap dengan nyaman tanpa tahu jika orang di sampingnya sudah menampilkan seringaian yang selama ini jarang sekali terlihat di wajahnya. Atau mungkin tidak pernah. Entah karena efek terlalu mengantuk, Baekhyun jadi tak banyak bergerak saat Yifan mengangkat tubuhnya kedalam pangkuan, merengkuh tubuh kecil itu dengan sebelah tangan. Bahkan tanpa segan mengecupi sisian wajahnya berulang kali.

Bibirnya kembali mengulas senyum, kali ini terlihat lebih lebar hingga rasanya mungkin akan sobek sampai ketelinga. Mengarahkan kedua tangan pada bokong yang lebih kecil dengan memori menyenangkan terputar di dalam kepala. Sebuah taman dengan banyak anak-anak, juga seorang wanita paruh baya yang tengah asik mengobrol dengan anak manis di atas ayunan. Memori menyenangkan yang membuat sesuatu di dalam hati kembali menyeruak ke permukaan.

"Hehe, si manis yang berhasil kutangkap…"

.

To Be Countinue—"

.

.

.

Cuma mau ngasih tahu aja.
Hati-hati banyak trap disini hoho~

Flashback aku kasih dikit-dikit dulu dan semua pakai italic ya:') aku masukin banyak sesuatu yg terselubung disini jadi waspadalah wkwk *abaikansaja

.

Big Thanks to :
YaharS, shiro park (Sedang dalam masa pencarian wangit itumah:'v), Hyunieeja, Dodio347, dytdyt, Park RinHyun-Uchiha, Akuma Apaa Tu, Byunexo, yiamff, leorna, Keys13th, MeAsCBHS, chanbaek1597, BaekkiPark, pla614, Aisyah1, akaindhe, Sitachaan, byunlovely, baby baek (mainstream ya? Hehe, tunggu aja), yousee, cipcipchuu (Makasih banyak sarannya. Akan Hina usahakan deh^^), restikadena90 (kamutuh udah mikir anuan aja wkwk), Lussia Archery, Yana Sehunn, chanlienBee04, istiqomahpark01 (Pasti bakalan keungkap kok, ada waktunya:'3), Ellaqomah, Mas loey, CussonsBaekby, randommedy, LightPhoenix614, Ovieee, TobenMongryong, veraparkhyun, newBee3595.
.

Makasih banyak-banyak buat kalian yang udah mau review. Sesuai permintaan, aku update fast nih:'
Jangan lupa review lagi loh ya~~ wajib pokoknya mah :*

Halo tamu baru, reader dan sider kesayangan~ Minta review boleh?

#ChanbaekIsReal!
#ChanbaekMenujuHalal