Naruto (c) Masashi Kishimoto

Stay Beautiful (c) Taylor Swift

I don't own the Picture

Pairing: SasoSaku, other slight pairings included

Warning: AU, OoC, drama, nyinet, dan warning lain-lain aja deh, ye /mendadakpusing/ Dan catat: super duper mega ultra annoying and antagonistic Sakura

Happy reading~


"Terkadang, aku berpikir bahwa hidup ini tidak adil."

Kelas pagi itu tampak sangat sibuk dan terdengar riuh. Suara-suara obrolan, teriakan, gurauan, terdengar di sana-sini. Suara gesekan besi dengan lantai, terdengar saat meja praktek tergeser dari satu tempat ke tempat lain.

Dan oh, apa itu? Suara muntahan?

Ya, tidak heran sih, mengingat pagi ini, merupakan jadwal untuk praktek autopsi. Para mahasiswa/i yang di kemudian hari akan dicetak menjadi lulusan bidang kedokteran, kini tampak sibuk sendiri dengan kegiatan mereka. Jas-jas berwarna putih bersih menjadi dress code tersendiri jika tidak ingin diusir keluar oleh Dosen Killer macam Anko-Sensei. Bagi mahasiswa, jika diusir keluar dari kelas, bukan masalah ilmunya yang disayangkan, tetapi absennya. Untuk bisa mengikuti ujian akhir, absen penuh itu prioritas, pintar-bodoh itu urusan belakangan (1).

Untuk itulah, tak heran jika kelas tampak dan terdengar bak kapal pecah begini. Maklum, Anko-Sensei belum datang. Jika Dosen itu sudah ada di kelas, jangankan ngobrol dan teriak-teriak begitu, untuk bernafaspun harus hati-hati jika tidak ingin mendapat satu sabetan penggaris kayu di kepala.

"Oh, sepertinya pembicaraan ini mulai menuju ke arah yang sensitif," cibir Deidara geli saat mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh teman satu jurusan dan satu kos dan satu tim dengannya itu.

Terkadang Deidara berpikir, bahwa Kisame terlahir untuk menjadi bayangan Deidara.

Habis, kemana-mana tuh cowok ngintilin Deidara mulu. Masih untung mereka tidak dicap gay. Ih, amit-amit.

Sedangkan Kisame hanya mendekap tangannya di dada, memandang dengan ekspresi datar pada sesosok mayat tanpa kedua tangan yang terbujur kaku di meja praktik di depannya.

"Tuh, enak banget jadi dia," Kisame, masih dengan ekspresi datar, menunjuk mayat itu dengan dagunya, "Tiduuurrr mulu. Tanpa perlu ada beban lagi."

Deidara yang mendengar, menjadi merinding sendiri mendengar Kisame berbicara dengan mayat seperti tanpa beban saja seperti itu. Lagipula... kenapa kalimatnya harus begitu, sih? Jangan-jangan tuh cowok ada niat buat bunuh diri?

"Emang kau mau mati?" canda Deidara setelah melirik sekilas pada tubuh yang terbujur kaku dan pucat di depannya itu. Dalam kuliah selama empat semester ini, ia masih sama sekali belum terbiasa dengan praktik yang berurusan dengan mayat. Ini masih mending masih utuh. Coba saja nanti waktu kegiatan pembedahan dilakukan. Bisa dipastikan tuh cowok blonde akan ijin keluar ke toilet untuk menguras isi perutnya.

"Pengennya sih, gitu," ujar Kisame nyantai, membuat Deidara sejenak membelalakkan kedua matanya, "Tetapi first kiss-ku masih belum kuberikan ke siapapun," lanjut Kisame separuh becanda separuh curcol.

"Haha," Deidara mendengus geli, "Kau hidup hanya untuk first kiss doang? Sesudah itu kau berikan, kau pengen langsung mati, begitu?"

Kisame merengut, "Katanya mahasiswa kedokteran pasti laku dan pamornya tinggi. Apaan, bullshit banget."

"Yeee... sewot nih orang. Di mana-mana, cewek itu, yang ada di mata mereka cuma tampang dan uang. Lha kau? Uang pas-pasan, wajah ngos-ngosan," Deidara tertawa geli. Entah, selalu ada perasaan senang dan nikmat tersendiri saat menghina Kisame. Author juga merasa demikian (?).

"Sialan kau. Kagak bisa disensor dikit apa, hinaannya?" Kisame menyikut Deidara sebal, "Buktinya Sasori. Dia 'kan juga gak bisa dibilang kaya. Tapi cewek-cewek rasanya ngelihat dia kayak lagi ngelihat Orlando Bloom aja."

Deidara mencibir Kisame, sebelum ia memegang kedua bahu Kisame kuat-kuat, lalu secara paksa membalikkan tubuh Kisame hingga tuh cowok menghadap ke arah pintu kelas mereka yang berkaca.

"Kau liat, deh. Apa kulit Sasori biru?"

Kisame menaikkan sebelah alisnya sebelum menggeleng pelan, "Tidak."

"Apakah dia punya gigi-gigi bak taring yang bisa bikin cewek kabur karena takut dimakan?"

Kisame menggeleng lagi, "Tidak."

"Apakah dia punya lubang-lubang kecil di pipinya bak abis digampar ama parutan kelapa?"

"Ti– Wait. KAU MENYINDIRKU, YA, HEH!?" Kisame langsung berbalik dan mencekik Deidara.

"Hekh," Deidara merasa nafasnya tercekat, "Iyalah, bego! Kau sih, pake tanya kenapa Sasori populer di kalangan cewek. Udah jelas, 'kan, jawabannya."

"Hiiihhh, aku akan mengganti mayat praktek ini dengan mayatmu sendiri, Deidaraaa!" Dan cekikan Kisame makin menguat.

"Argh!"

BRAK.

"Semua, kembali ke tempat masing-masing. Segera bekerja dan lakukan tugas kalian seperti di petunjuk praktek di halaman 367. Waktu kalian hanya dua kali empat puluh menit untuk meneliti dan membuat laporan. Lebih dari itu, tidak akan saya terima pengumpulan tugasnya," dengan cepat dan tanpa tedeng aling-aling, Anko-Sensei yang baru masuk ruangan, segera memberi perintah dengan cepat, padat, dan mengesalkan.

"Dan hei, pasangan homo Kisame-Deidara, berhenti saling mencekik begitu dan kerjakan tugas kalian!"

Selain galak, dia adalah seorang fujoshi akut.

Itulah alasan lain selain mayat, yang membuat Deidara tak pernah kerasan berlama-lama dalam mata kuliah ini.

-oOo-

"Selamat, Hyuuga. Kau memang pandai sekali."

.

"Siapa yang bisa mengerjakan soal di papan tulis? Tak ada? Hyuuga, apakah kau bisa? Ya, silahkan maju."

.

"Sudah sopan, ramah, pandai pula. Bukankah dia cewek yang mengesankan?"

.

"Kau tahu gadis yang bermarga Hyuuga di sekolahmu? Ayah dengar, dia merupakan salah satu gadis berprestasi di sana. Dia juga baik dan populer akan kebaikan dan kesederhanaannya. Sebagai pemilik sekolah kita, Ayah ikut bangga padanya."

.

"Harusnya kau bisa seperti dia, Sakura. Kerjaanmu hanya ke mall dan ke salon saja, sih."

Memori-memori akan kenangan itu, terus-menerus berputar dan terulang di ingatan Sakura. Bagai sebuah kaset rekaman dari sebuah film yang usang, yang tanpa henti dan akhir, menampilkan adegan-adegan yang sama, yang begitu ingin ia lupakan.

Dari awal, dari pertama kali bertemu, Sakura sudah tahu dan memutuskan bahwa ia tak akan pernah sanggup berbaur dan berteman baik dengan gadis bermarga Hyuuga itu. Sakura, yang seorang fashionista dan peduli sekali dengan penampilan, langsung memandang rendah pada Hyuuga yang waktu pertama kali mereka bertemu, memakai sebuah sweeter lusuh hijau muda yang merangkapi kemeja seragamnya. Belum lagi dengan kedua bola mata aneh berwarna lavender yang seolah menyimpan seluruh pengetahuan dan ilmu yang ada di dunia.

Dan yang paling membuat Sakura risih adalah cara bicaranya yang gagap dan malu-malu. Sakura dulu, bahkan sekarang, merasa tak bisa menahan untuk tidak memutar bola matanya dengan muak saat mendapati gadis Hyuuga tersebut berbicara tersendat-sendat dan menampakkan semburat rona di kedua pipinya.

Cari perhatian, ya? Begitu pendapat dan pikir Sakura tiap kali melihat sang Hyuuga.

Dan rasa aneh dan risih itu, berubah menjadi rasa benci dan muak saat si Hyuuga mulai menunjukkan kemampuan-kemampuan dan keahliannya dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Entah berapa piala dan penghargaan yang sudah ia dapatkan dan persembahkan untuk sekolah ini dari berbagai macam kompetisi dan lomba SAINS yang diikutinya. Berbagai pujian sering didengar Sakura untuk si Hyuuga di sana dan di sini, mengomentari betapa cemerlangnya otaknya. Belum lagi sifat dan sikapnya yang sopan dan santun itu, membuat tiap orang selalu mengaguminya. Selalu membanggakannya.

Bahkan Ayah kandung dari Sakura sendiri, sepertinya lebih bangga akan dia daripada Sakura, anaknya sendiri.

Dan puncak dari kekesalan dan kebencian itu adalah pagi ini, saat pelajaran matematika dimulai dengan pemberian soal di papan tulis. Dan sialnya, Sakura lah yang ditunjuk si guru untuk mengerjakan soal pertama di papan tulis tersebut.

"Apa kau yakin jawabanmu itu benar, Sakura?"

"Errr... I-iya... ?"

"Siapa yang bisa menunjukkan di mana letak kekeliruan dari Haruno-san? Ya, Hyuuga-san. Kau mengerti? Oke, majulah."

.

"Excellent. Jawabanmu tepat seperti harapan, Hyuuga-san. Terima kasih. Haruno-san, bisa kau meminta tolong pada Hyuuga-san untuk menunjukkan di mana letak kesalahanmu?"

"Tidak."

"Maaf, Haruno-san, apa kau bilang?"

"Aku tidak akan pernah mau meminta bantuannya, Sensei."

"Sombong sekali, heh? Bersikap sok begitu?"

"Se-sensei, tolong ja-jangan salahkan Haru-Haruno-sa"

"Tidak usah sok membelaku, Hyuuga! Kau senang, 'kan? Kau selalu senang, 'kan, jika perhatian semua orang tertuju padamu?! Kau selalu senang, 'kan, melihatku tersingkir ke sudut dan tertutupi di balik sinar kebaikan dan kepintaranmu?! Dasar munafik!"

"Cukup, Haruno-san! Keluar! Dan kau saya skors di pelajaran saya selama tiga pertemuan ke depan! Tak peduli siapapun dirimu dan Ayahmu, kau memang sekali-kali perlu ditekankan pentingnya tata krama dan sopan santun!"

Mengingat semua itu, membuat darah Sakura makin mendidih dari semula. Tak hanya ia dipermalukan di depan orang yang sangat dibencinya, namun ia juga kehilangan martabat di depan seluruh warga kelasnya. Dan Sakura tak bisa mentolerir lagi. Ia tak bisa menahan amarahnya lagi.

Langkahnya semakin cepat dengan jarak yang lebih lebar. Tangannya yang mungil, terkepal kuat bersamaan dengan matanya yang semakin berkilat tajam. Dan akhirnya ia berlari, berlari cepat, sembari menoleh ke sana dan kemari, memastikan bahwa sejauh ini ia tetap sendiri dan tak ada pasang mata yang mengikuti.

Ia telah sampai di parkiran sekolah, khususnya parkiran murid. Dengan cepat, matanya menyalang tajam ke sana-ke mari, setelah dapat apa yang tengah dicarinya, segera ia beranjak pergi dan menghampiri sebuah sepeda mini berwarna putih yang terparkir di antara jejeran motor di bagian timur parkiran.

Dengan cepat, ia mengambil sebuah gunting yang sejak semula telah ia persiapkan di saku kemejanya. Dan tanpa ragu dan berpikir dua kali lagi, dengan gemas ia tancapkan ujung gunting itu arah ban dari sepeda tersebut.

Lagi.

Lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

"Rasain!" umpat Sakura gemas sembari masih menghujam ban yang sudah kempes itu dengan ujung guntingnya, "Aku membencimu, Hinata. Aku membencimu! Oh Tuhan, aku membencimu, Hinataaa!"

"Jika itu bisa membuatmu puas, hujamkan saja berkali-kali guntingnya."

Gerakan tangan Sakura yang hendak menghunjam ban itu untuk yang kesekian kalinya, terhenti di udara saat sebuah suara lembut menyapa telinganya dari arah belakang.

Dengan cepat ia menoleh, dan pandangannya berubah makin tajam dan berkilat marah saat mendapati siapa yang kini tengah berdiri di depannya sana.

"Mau apa lagi kau setelah ini?" desis Sakura geram, "Mengadukanku? Memasang muka dan ekspresi sedih dan kecewa ke yang lain? Menangis bak anak baik yang baru saja dianiaya oleh anak jahat sepertiku? Membuatmu semakin dipuja dan disanjung, sementara aku semakin tenggelam di balik pamor dan popularitasmu?!"

Sedikit Hinata terlonjak ke belakang saat Sakura tiba-tiba membentaknya saat mengatakan kata terakhirnya tadi. Namun, gadis itu mencoba menguatkan diri untuk tetap berdiri di tempat di mana ia berada dan tidak mundur selangkahpun lagi dari hadapan gadis berambut cerah tersebut.

Hinata menggeleng pelan sembari kedua alisnya melengkung ke bawah—ekspresi sedih dan menyesal, "Aku tidak akan pernah melakukan hal itu, Haruno-san."

"Bohong!" sergah Sakura tajam, "Kau mungkin bisa bersikap sok baik pada mereka. Tapi tidak padaku, Hinata."

"Apa yang kau bicarakan, Haruno-san?"

"Hah, gadis baik nan manis nan sok polos sepertimu...," cibir Sakura, "Kau itu sangat memuakkan, Hinata. Kau tahu?"

Meneteslah satu butir kristal cair dari sebelah mata Hinata. Pipinya yang putih halus, kini tampak memerah menahan segala rasa yang ada.

Sesak. Sakit. Kecewa. Dan sedih.

Sakura hanya mendengus kesal melihat perubahan ekspresi wajah gadis di depannya itu. Dengan tenang, ia merapikan blazer yang merangkapi kemeja seragamnya, lalu menyimpan kembali gunting itu ke dalam saku kemejanya.

"Jika yang lain merasa prihatin dan kasihan padamu saat kau menangis," ujar Sakura sembari berbalik, menjadi punggungnya yang menjadi objek tatapan Hinata sekarang, "Maka, aku justru merasa senang dan puas jika bisa membuatmu menangis, Hinata."

-oOo-

"Kisame's eyes are like the jungle, he smiles, it's like the radio... He wishpers song into your window in (shark) words nobody knows."

Sebuah suara gumaman kecil terdengar dari mulut si pemuda bongsor itu. Langkah pelan, tampak tidak tergesa-gesa dan dengan membuat tubuh tinggi itu tersinari lebih lama oleh sinar matahari senja awal musim semi yang menenangkan.

"There's pretty girl on every corner that watch him as he walking home, saying, does he know? Will you ever know?"

Kepalanya bergerak-gerak kecil menikmati alunan lagu yang tersalur dari earphone HP yang tersimpan di balik saku jaketnya. Kedua matanya terpejam, dengan santai berusaha untuk menyesapi sinar hangat matahari dan hembusan sejuk angin senja musim semi.

"Kisame's beautiful, every little piece loves. Does he knows, he's really gonna be someone, ask anyone. Once he finds, everything he looked for, you hope his life leads him back to your front door, oh but if it don't, stay beautifuuu–UCK!"

Pemuda itu pada akhirnya mengumpat keras saat ia rasakan sebuah jitakan keras mampir dengan tidak elitnya di kepalanya yang tertumbuhi rambut berwarna biru sensasional. Dengan kesal, ia menoleh ke samping dan memberi death glare terbaiknya ke pemuda di sampingnya, yang malah memberi satu jitakan bonus lagi di jidatnya.

"WOTDEHEL, DEI!" protes Kisame keras yang kali ini mengganti death glare-nya dengan pandangan merengut sembari memegang dahinya, "Ga bisa ya, kau biarin aku sehari saja, damai, tenang, sentosa, rest in peace?!"

"Kau itu, yang bisa gak, sehari saja tidak mengeluarkan suaramu yang O-Tuhan-telingaku-berdarah-saat-mendengarnya itu?" kali ini Deidara yang protes, "Lagian, sumpah ya, itu tadi lagu country Taylor Swift kok kedengarannya jadi nge-rock banget kayak lagunya Corn coba? Lagian apaan tuh? Kisame beautiful?"

Kisame makin memanyunkan bibirnya dengan kesal, "Sejak kapan ya, ada undang-undang dilarang nyanyi kalau suaranya jelek? Oh, Demi Tuhan, akan kulaporkan ini sebagai pelanggaran HAM ke PBB!"

"Hah!" cibir Deidara, "Paling-paling orang PBB entar malah nyerahin kau ke kelompok Greenpeace, dikira spesies hiu langka."

Kisame memutar bola mata dengan muak, "Yeah, whatever, Mr. Racist."

Deidara tertawa dan memutuskan untuk diam. Lama-lama kasihan juga. Bukannya apa, tetapi sepertinya sahabatnya itu sudah cukup menderita dengan semua hinaan dan ejekan yang diterima tak hanya oleh Deidara, namun mahasiswa lain, dosen, bahkan demi Tuhan, tukang sampah fakultas pun pernah mengejeknya!

Hm, benar kata Kisame, dunia ini mungkin agak kurang adil, bagi Kisame.

Kalau Deidara? Ah, sejauh ini yang ia keluhkan hanyalah Anko-Sensei dengan sifat fujoshi-nya dan juga praktek autopsi.

"Ngomong-ngomong, kau masih ingat, 'kan, majalah fakultas beberapa waktu yang lalu?" Deidara memulai pembicaraan saat matanya melihat ada sebuah gaun berwarna pink yang ada di etalase toko, yang menarik perhatiannya.

Bukan, Deidara bukanlah pemuda yang mengidap kepribadian ganda hingga ia tiba-tiba punya hasrat untuk tampil girly seperti itu. Hanya saja, warna dari gaun itu, dengan kurangkerjaannya, mengingatkannya pada sesuatu.

"Yang mana?" tanya Kisame menanggapi.

"Itu, berita tentang Sasori dan seorang cewek rambut pink," ujar Deidara.

"Aa," Kisame mengangguk, "Bahkan sampai sekarang masih ada bahasan tentang hal itu, sekalipun bukan di headline majalah lagi," kata Kisame.

"Yeah, Sasori semakin populer saja," ujar Deidara dengan pandangan dan nada sedikit envy, "Bahkan populer banget sampai ke SMA swasta Haruno."

"Hm, dari seragamnya, cewek itu kayaknya murid sana," ujar Kisame, "Tetapi apa benar mereka punya hubungan dekat? Maksudku, ayolah, sekeren-kerennya Sasori, masak dia bisa punya kenalan yang punya mobil secanggih itu, sih? Anak SMA pula."

"Dan sebagai sahabatnya, aku tak pernah ingat Sasori pernah menceritakan sesuatu mengenai SMA Haruno atau seorang cewek tajir, dan terlebih, atau seorang cewek berambut pink."

Dan obrolan mereka terus berlanjut sepanjang perjalanan menuju kos. Sumpah, jika ada orang yang mencuri atau gak sengaja dengar obrolan mereka, mereka lebih kelihatan seperti ibu-ibu arisan tukang gosip daripada mahasiswa universitas Tokyo.

"Aku akan menanyakannya!" ucap Deidara dengan seringai licik, "Hah, dia punya bakat jadi playboy, ternyata."

-oOo-

Gerakan jemari Sasori yang menari lincah dan cepat di atas tuts keyboard laptop-nya, terhenti sejenak. Kedua matanya memandang tajam pada layar laptop yang menampilkan jendela Microsoft Word yang halamannya telah tertulisi oleh beberapa kalimat. Kedua alisnya sesekali mengerut bingung setelah kedua matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, membaca ulang kalimat yang barusan ia ketik.

Ia menghela nafas keras sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi berwarna putih yang didudukinya. Namun pandangan matanya tetap mengarah pada layar dari laptop berwarna semerah helai yang kini tengah ia acak-acak dengan kesal. Raut frustasi tampak begitu jelas di wajahnya. Tampaknya si jenius ini tengah mengalami suatu masalah dan kesulitan dalam tugas yang tengah ia kerjakan.

Dan Sasori tak tahu lagi apa yang bisa membuatnya frustasi lebih dari in—

BRAK.

"Yo, Sasori mamen."

—i.

Ya, gangguan sudah datang bahkan saat dia baru mengetik separuh dari jumlah total halaman yang dibutuhkan untuk penulisan tugasnya.

"Hah? Sudah mengerjakan?" Deidara yang belum sempat melihat betapa pandangan Sasori menyiratkan rasa terganggu, langsung melihat layar laptop Sasori dan sedikit terbelalak, "Bahkan tugas ini 'kan baru dikumpulkan dua hari lagi. Ckckck..."

"Kau datang ke sini hanya untuk mengomentari jadwal kegiatanku, Deidara?"

GULP.

Deidara menelan ludah dengan sulitnya saat ia mendengar nada suara yang sangat tertekan dan penuh dengan aura ancaman itu. Well, bad timing, boy. Bad timing.

"O-oh, tentu saja...," Deidara tertawa kikuk saat untuk pertama kalinya, ia melihat kedua mata Sasori dan mendapati betapa dua bola itu menyipit tajam ke arahnya, "...tidak..."

Sasori hanya terdiam tanpa bergerak sedikitpun. Kedua matanya tetap memandang tajam dan ekspresinya masih demikian datar. Secara tak lisan menantang Deidara untuk melanjutkan ucapannya dan menyelesaikan apapun urusannya dengan Sasori sekarang juga.

"E-eniwei...," Deidara mengutuk dirinya sendiri secara mental mendapati gaya bicaranya yang jadi tergagap demikian, "Sejauh mana kau mempercayaiku sebagai sahabatmu?"

Krik.

Satu derikan jangkrik berbunyi.

'WOTDEPAKISDETSUPOSTTUMIN!' Secara mental, Deidara facepalm. Pertanyaannya itu tergolong aneh, dan ia lebih tak ingin membayangkan apa yang menjadi respon Sasori saat ia mendapati bahwa kegiatannya terganggu hanya untuk pertanyaan galau seperti itu.

"Ma-maksudku...," buru-buru Deidara meralat, "Jika kau memang menganggapku sebagai sahabat, harusnya tidak ada yang kau sembunyikan dariku, 'kan? Dalam hal ini, Kisame juga. Karena tak peduli betapa dia terlihat bagai bukan bagian dari spesies Homo Sapiens, tetapi dia juga telah menjadi sahabat kita."

Semua orang tahu, dan sudah menjadi fakta, bahwa tak peduli betapa serius suatu keadaan, jika berbicara menyangkutpautkan Kisame, maka hasrat untuk menghinanya tak dapat terelakkan. Author juga demikian (?).

"Apa... yang kusembunyikan darimu," dengan pelan, Sasori menyuarakan pertanyaan yang bernada pernyataan tersebut. Pemuda itu lalu sedikit melebarkan matanya dengan satu alisnya yang terangkat, "Lalu... Apa tujuanmu bertanya demikian? Jika kau memang sahabatku, tak perlu membuat lingkaran setan seperti ini."

Mulutmu adalah harimaumu, itu kata suatu pepatah. Tetapi dalam hal ini, bagi Deidara, mulutmu adalah harimaumu, singamu, buayamu, pitonmu, kobramu, dan gorilamu. Intinya, semua perasaan tidak enak langsung ia rasakan saat ia menyadari apa konsekuensi jika ia harus berterusterang tentang motif dan tujuannya ke sini.

"Eeerrr... Hah! Baiklah! To the point katamu? Oke!" Deidara melempar kedua tangannya ke udara, tanda menyerah akan mind game yang tengah dijalankan oleh sahabatnya itu, "Katakan padaku, wahai SAHABAT, siapa cewek berambut pink yang tampak tengah memelukmu di lapangan parkir fakultas, seperti yang terpampang di foto headline majalah fakultas dua bulan yang lalu?"

Pertanyaan yang cukup frontal dan berani. Tetapi bodo amat, jika Sasori marah dan niat melempari Deidara dengan benda tajam, Deidara tinggal kabur saja lewat pintu kamar yang dari awal sengaja ia buka lebar-lebar sebagai persiapan jalur melarikan diri.

Namun, tak seperti dugaannya, alih-alih berteriak dan membentak, Sasori cuma menghela nafas sembari berujar pelan, "Jadi itu tujuanmu."

"Ya," Deidara yang menduga bahwa ia masih dalam 'safety zone' karena respon Sasori belulmlah frontal, melanjutkan ucapannya, "Siapa cewek itu? Kenapa pelukan ama dirimu? Di depan umum juga? Oh Demi Tuhan, aku bahkan tidak tahu!"

Siapapun yang tidak mengenal dan tidak mengetahui hubungan persahabatan Sasori dan Deidara, dan siapapun yang belum mengetahui fakta bahwa orang berambut pirang panjang nan halus itu ternyata seorang pria, pasti akan menganggap kalimat Deidara tadi adalah kalimat pengungkapan perasaan cemburu terhadap kekasihnya.

"Dan sejak kapan kau berpikir bahwa kau mempunyai hak untuk mengurusi kehidupanku?" balas Sasori tenang, namun kini mulai menunjukkan rasa tidak suka akan ke mana pembicaraan ini mulai mengarah.

"Oh, entahlah. Persahabatan kita yang telah berjalan sejak kita SMP mungkin? Atau rasa percayaku padamu yang membuatku selalu menceritakan bahkan hal yang paling privasi sekalipun?" ujar Deidara sarkastis, "Lagipula, kenapa tidak kau jawab saja, sih. Jika kau memang tidak menganggapnya spesial, untuk apa menutupinya?"

"Kau tidak mengerti," kata Sasori tenang, sembari mengalihkan pandangannya menuju ke layar laptop-nya, "Lagipula, apa urusanmu dengan semua ini?"

"Aku hanya ingin tahu saja," kata Deidara jujur, "Demi Tuhan, dia murid SMA Haruno dan membawa mobil Bugatti Veyron seperti itu dan mengenalmu?"

"Dia kenalan dari Guru Kakashi. Nah, jika kau sudah puas, sekarang pergilah," kata Sasori pelan, namun dengan nada yang seolah-olah menantang Deidara untuk membantahnya.

"Hah, ngibul!" dan Deidara pun benar-benar membantah perintah tersebut, "Pasti lebih jika dia berani memelukmu seperti itu."

"Kau tadi membicarakan soal kepercayaan terhadap sahabat, bukan, Deidara? Lalu mengapa kau kini mempertanyakan kejujuranku?"

"Aku akan percaya padamu kalau kau jujur padaku."

"Kalau begitu tak ada gunanya membahas ini lebih jauh lagi. Dari awal tak ada gunanya. Nah, sekarang, bisakah kau pergi?"

"Ck! Jika memang kau jujur...," Deidara berhenti untuk melirik pemuda yang menatap datar pada layar laptop-nya tersebut, "Kau tak keberatan, 'kan, jika aku memberitahu 'dia' tentang in–"

BRUK.

"Ugh!"

Dan Deidara mendapati sebuah tangan melingkari lehernya dengan erat, sementara tubuhnya terdorong kuat ke tembok di belakangnya. Kedua tangannya mencoba melepaskan lengan yang mencekik lehernya, tetapi sungguh, lawannya terlalu kuat sehingga Deidara hanya bisa memejamkan mata dan meringis kesakitan.

"Jangan. Pernah. Coba-coba. Melibatkan. 'Dia', Iwa Deidara," nada itu terdengar sangat dingin di telinga Deidara, penuh dengan ancaman dan janji untuk menepatinya jika Deidara berani melanggar, "Sekalipun sejujurnya aku sama sekali tidak berkhianat, tetapi hati'nya' yang rapuh akan mudah memercayai apa yang dia dengar. Dan kau!" cengkeraman di lehernya menguat, "Urusi urusanmu sendiri."

BRUK.

"Uhuk! Uhuk!"

"Pergilah. Tugasku masih jauh dari kata selesai."

-oOo-

"Gila itu orang, sumpah! Ouch! F**k!"

Sudah beberapa menit berjalan dan berlalu, kalimat-kalimat umpatan dan gerutuan masih saja terkumandangkan dari mulut si pemuda berambut pirang. Sejak ia keluar dari rumah kos dengan dua lantai bertembok hijau tersebut, sebelah tangannya selalu menempel di lehernya yang jika dilihat dengan seksama, aku menunjukkan bekas lebam di sana.

"Gak bisa biasa saja, ya? Aku 'kan cuma becanda. Kenapa selera humor itu orang miskin banget, sih?" ia mengernyit kesakitan saat rasa ngilu di lehernya sesekali terasa. Oh, demi Tuhan, apa yang membuat sahabatnya tadi kesurupan begitu? Deidara bisa saja mati di tangannya tadi, 'kan?!

Dia akan menjadikan ini sebagai pelajaran untuk tidak mencoba melawak di depan Sasori.

Langkah kaki berbalut celana jeans biru lapuk itu perlahan mendekati sebuah sebuah kafe kecil yang terletak di tepi jalan, beberapa blok jauhnya dari lokasi kosnya berada. Dilihat dari sini, pemuda itu mendapati bahwa kafe itu cukup ramai ternyata. Malam hari awal musim semi, memang cocok sekali jika digunakan untuk menghangatkan diri dengan secangkir kopi atau teh.

Dan Deidara bukanlah pengecualian. Dalam kondisinya yang habis sekarat dan nyaris tewas secara ironis di tangan sahabatnya sendiri, ia membutuhkan secangkir latte panas tak hanya untuk menghangatkan diri, namun juga untuk menenangkan hatinya yang masih merasa sumpek dan empet banget ama makhluk berambut merah yang mungkin kini tengah mengerjakan tugas tanpa beban apapun juga.

Bunyi 'Ding!' dari bel di atas pintu kafe terdengar saat Deidara membuka pintu, memberi tanda bagi pekerja kafe bahwa ada tamu baru yang datang. Begitu melihat keadaan di dalam, mau tak mau Deidara harus melepas imej cool-nya saat mata aquamarine-nya membelalak lebar dengan mulut sedikit ternganga.

Demi apa, kenapa kafe ini ramai sekali, sih?! Ini bukan hari Natal, 'kan? Bukan perayaan Valentine, 'kan?

Bahkan sejauh mata memandang, Deidara mendapati semua kursi penuh dijejali oleh segerombolan manusia. Kalo seperti ini, sih, Deidara pikir pihak kafe ini perlu untuk merekonstruksi bangunan kafe agar lebih luas.

Pandangan Deidara terlempar ke sana-ke mari. Dengan masih berdiri di jalan masuk depan pintu kafe, ia berusaha untuk mencari satu tempat kosong—satu saja kursi kosong, yang mampu untuk meletakkan pantatnya yang pengen banget istirahat ini.

Dan ketemu.

Di pojok, dekat jendela. Meski cuma ada satu kursi kosong, itupun di meja yang dikelilingi lima kursi lain yang sudah penuh dengan manusia lain, tapi tak apa daripada Deidara harus meminum latte-nya dengan berdiri.

Maka, pemuda pirang itu melangkahkan kakinya dengan riang ke kursi tersebut. Entah, kesenangan ini karena usaha pencariannya berhasil dan mendapatkan kursi, atau karena dia sudah tak sabar menikmati latte-nya, atau hanya simpel karena dirinya saja yang autis.

Manusia yang merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan. Begitulah kata pepatah. Dan sayangnya serta untungnya, Deidara bukanlah Tuhan. Jadi ia hanya bisa merencanakan ingin duduk di satu-satunya kursi kosong di kafe penuh sesak ini, tetapi Tuhan menakdirkan bahwa ada tangan lain selain miliknya yang memegang punggung kursi, saat ia hendak menarik kursi tersebut untuk didudukinya.

Begitu ia menoleh, Tuhan pula yang menentukan bahwa ada makhluk lain bagai belahan pinang dari dirinya.

"AAARRRGGGHHH!"

Oh Deidara, malam ini sepertinya wibawa cool-mu benar-benar habis ternyata.

-oOo-

"Ini semua salahmu, kau tahu itu?!"

"Apa?! Salahku kau bilang?! Siapa yang merebut kursi yang sudah menjadi incaranku dari awal?!"

"Incaranmu?! Aku sudah datang lebih dahulu darimu, bodoh!"

"Apa?! Kurang ajar! Dasar orang gak punya gaya yang bisanya niru model rambutku aja!"

"Cih? Aku? Rambut situ?! Yang benar saja!"

Dan begitulah, bahkan setelah pihak kafe menendang mereka keluar dari kafe kecil tersebut, cekcok dan adu kata-kata kasar dan hinaan, masih mereka lanjutkan di luar kafe.

Semua berawal hanya karena kursi.

Dan itu, diam-diam mereka mengakui, sangatlah hal bodoh dan kekanakkan untuk diributkan.

Tetapi, ini menyangkut harga diri, hei! Jadi, tidak ada kata mengalah.

Dari mulai kata-kata yang masih sopan semacam 'Permisi, kupikir aku sudah mengincar kursi ini lebih dahulu' atau 'Maaf, tetapi aku lebih dahulu memegang kursi ini daripada kamu' hingga beranjak ke debat paling panas semacam 'F**k! Kenapa kau tidak bisa cari tempat lain saja?! Dasar wanita tak tahu tata krama!' atau 'Berbicara soal tata krama, ya, hei, pria yang mengumpat dan mengusir seorang wanita? Mengapa kau tidak berusaha untuk menjadi gentleman dan membiarkanku duduk dan kau pergi saja dari sini?' dan berakhir dengan penyiraman teh panas ke kemeja bagian dada si pria dan tumpahan es krim sundae di kepala si gadis.

Dan perang pun dimulai hingga Manager kafe turun tangan dan mendepak mereka keluar demi menghindari lebih banyak lagi hidangan pengunjung lain yang terlempar oleh mereka.

"Huh, demi apa, kau membuat rambut yang baru kemarin aku smoothing, sekarang lengket dan bau begini karena es krim itu!" si gadis mendekatkan ujung poni yang menutupi mata kanannya. Saat itu juga, ekspresi wajahnya tertekuk masam dan lidahnya terjulur seperti tengah membau sesuatu yang tidak mengenakkan, "Yuck! It's so gross!"

Sedangkan Deidara memutar bola matanya, "Beruntunglah kau tidak merasakan panasnya air teh yang tersiram di kulitmu."

"Hei! Kau menyalahkanku lagi?!" si gadis menghadap ke arah si pria dan berkacang pinggang, siap untuk memulai babak baru dari pertengkaran mereka.

"Tentu saja! Tindakanmu tadi itu bisa dibilang penganiayaan tahu! Bersyukurlah aku tidak menuntutmu!"

"Kau pikir kau cukup benar untuk menumpahkan es krim di rambutku!? Uangmu pun tak akan bisa membayar biaya perawatan rambutku setelah ini, tauk!"

Dan mereka bertengkar lagi.

Merupakan suatu pemandangan yang aneh sesungguhnya. Mereka saling berteriak di depan wajah satu sama lain, saling membentak hingga menampakkan urat di leher mereka, tetapi kenapa sejak keluar dari kafe, mereka berjalan beriringan terus?

Ah, mungkin mereka masih belum menyadarinya.

-oOo-

"Demi apa, dia sama sekali jauh dari kata gentleman, kau percaya?"

Sakura terkikik geli mendengar cerita dari sahabatnya yang sudah berjalan setengah jam ini. Jarum jam dinding berbentuk Teddy Bear yang tergantung di atas pintu kamarnya, sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih dua puluh menit. Tetapi rasa kantuk belum juga datang menghampirinya. Oleh karena itu, dengan senang hati ia meladeni pembicaraan, lebih tepatnya curhatan emosi sahabatnya via telepon.

"Seperti adegan di manga-manga cantik saja, Pig," gurau Sakura, "Jangan-jangan kalian akan memiliki hubungan yang lebih baik dan manis dari ini."

"Ew. Tidak. Terimakasih. Kau mau bicara bahwa aku akan hidup bersama lelaki yang tidak bisa menghargai wanita seperti itu?"

"Oops. Aku tidak berbicara begitu, lho."

"Sakuraaa!"

"Hahaha."

"Apanya yang lucu? Habis dari sana aku langsung ke salon hingga sekarang. Kau tahu, itu menyebalkan! Bahkan sampai sekarang aku masih mampu mencium bau eskrim di rambutku."

Dan obrolan pun terus berlanjut. Kebiasaan dan sifat alami cewek, jika mereka sudah berkumpul dan bercakap, pasti obrolan itu tidak akan mengenal kata kehabisan topik. Begitu topik curhat masalah rambut dan es krim selesai, atau secara tidak sengaja dan tidak sadar terselesaikan, pembicaraan akan mengarah ke topik yang lain. Lalu ke yang lain. Dan yang lain. Tanpa ada rasa bosan. Tanpa ada niat untuk mengakhiri pembicaraan–

Klik.

–sampai baterai HP yang berbicara.

"Yah!" Sakura memandang kesal dan kecewa pada layar HP nya yang menghitam pekat, "Padahal lagi seru-serunyaaa."

Dengan malas dan ogah-ogahan, gadis berambut merah muda itu turun dari ranjang ukuran king size-nya, lalu menghampiri sebuah outlet listrik yang ada di dekat meja di samping tempat tidurnya. Diambilnya charger HP yang tergeletak begitu saja di atas meja tersebut, lalu disambungkannya dengan HP nya dan mencolokkan ujung yang lain ke outlet listrik.

Gadis itu meletakkan telapak tangan kanannya untuk menutupi mulutnya kala rasa ngantuk mulai menyergap dan membuatnya menguap lelah. Kedua matanya berair tanda hasrat ingin memejamkan mata.

Dengan langkah yang masih gontai, ia hendak menuju kembali ke arah tempat tidurnya yang empuk dan tampak sangat nyaman sekali saat dirinya merasa ngantuk seperti ini. Jam sudah menunjukkan bahwa hari telah larut, dan untungnya besok adalah hari sabtu, yang artinya hari libur, dan artinya ia bisa menghabiskan setengah harinya di atas kasur kesayangannya.

Tetapi pergerakkannya terhenti saat kedua matanya tanpa sengaja menatap sebuah buku yang ada di meja di samping tempat tidurnya. Sebuah buku berwarna pink dengan gambar Putri Snow White di sampulnya, dengan gambar rangkaian bunga yang membingkai keempat tepi sampulnya.

Ia kembali menyeret kakinya ke tempat tidurnya sembari membolak-balik halaman-halaman buku yang mencatat peristiwa-peristiwa khusus yang terjadi sepanjang hidup si pemilik. Mulai dari peristiwa saat dia upacara penerimaan murid SMA, gabung di klub cheerleader yang pada akhirnya harus ia tinggalkan karena trauma terjatuh saat membentuk tatanan piramid, mendapat hadiah Bugotti Veyron dari Ayah, hingga—

Pandangan Sakura berubah menjadi sendu saat tatapannya membaca kalimat di sebuah halaman yang baru saja ia buka.

Hari ini, aku melepaskan ciuman pertamaku pada cinta pertamaku pula.

Sakura menghela nafas pelan. Ia buka halaman berikutnya, dan ketika membaca apa yang pernah ia tulis di sana, hatinya kembali merasa sesak saat membaca curhatan pribadinya yang isinya memang berbeda dari curhatan sebelumnya, tetapi temanya tetap untuk satu hal yang sama. Lalu halaman berikutnya, masih tentang tema yang tak berbeda. Lalu halaman depannya lagi, lagi, dan lagi, dan semua hanya berisi perasaannya kepada si pemuda berambut merah!

Dengan kasar, Sakura menutup diary tersebut. Lalu dilemparkannya ke sisi ranjang di samping ia duduk.

Sakura menekuk kedua kakinya, lalu memeluk lutut dan menenggelamkan wajahnya di balik tumpukan kedua tangannya di atas lututnya.

Sudah berapa minggu berlalu sejak hari itu? Sudah berapa lama waktu bergulir sejak terakhir kali ia melihatnya? Sudah berapa waktu yang lalu saat ia melihat punggung tegap itu berjalan menjauh dari dirinya?

Dan sudah berapa lama sejak ia melihat kedua mata itu bersorot tajam dan marah kepada kedua bola emerald-nya?

Lama sekali.

Sakura tahu bahwa semua itu berlalu hanya enam minggu yang lalu.

Tetapi tetap saja, entah mengapa, rasanya sudah berabad bumi ini berputar tanpa ada dia sebagai poros kehidupan Sakura.

Entah ini perasaan suka, atau kagum, atau cinta, atau obsesi, Sakura tak ambil pusing. Ia tak peduli. Yang ia pedulikan hanya rasa sesak di dadanya tiap mengingatnya. Yang ia pedulikan hanyalah rasa sedih setiap ingat bahwa pemuda itu membenci dirinya. Yang ia pedulikan hanyalah bahwa ia tak akan pernah bisa lagi berada di dekatnya, karena pemuda itu sendiri pun tidak mau berurusan apa-apa lagi dengannya.

Yang ia pedulikan, hanyalah bahwa ia amat, sangat, dan begitu merindukannya.

Tetapi apa yang bisa ia perbuat?

Mungkin benar kata orang bahwa uang memang berkuasa, tetapi tidak semua hal dikuasai oleh uang. Ada sesuatu yang tak akan bisa tertebus bahkan oleh satu gunung emas dan permata. Ada yang tak bisa dibeli tak peduli betapa banyak harta dan kekayaan keluarga Haruno Sakura.

Dan yang tak bisa dibeli adalah penerimaan maaf dari satu pemuda Akasuna.

Tak peduli betapa kuat dan gigihnya Sakura merajuk pada Ayahnya agar menarik Sasori kembali untuk bekerja menjadi pegawai di sini, tetapi tidak bisa. Selama ini, Ayahnya tidak pernah mengecewakannya. Ia selalu menuruti apa yang Sakura minta. Apa yang Sakura mau sekarang, satu jam kemudian pasti langsung ia dapatkan.

Tetapi tidak untuk sekarang. Bahkan waktu dua bulan telah berjalan, dan keinginannya tak kunjung menjadi kenyataan.

Dan malam itu, dihabiskan sang Tuan Putri meringkuk di atas ranjangnya.

Menangis.

Menyesal.

Dalam keputusasaan dan ketidakberdayaannya, pertama kali dalam seumur hidupnya.

Buku diary yang tadi ia lempar di sisi ranjang di sampingnya, tergeletak begitu saja dengan posisi terbuka di sebuah halaman.

Sebuah halaman yang berisi gambar asal-asalan yang jauh dari kata artistik dan indah, karena hanya merupakan goresan asal dari tangan anak SMA.

Namun cukup terlihat manis karena gambar itu memperlihatkan seorang laki-laki berambut merah dan seorang gadis dengan helai lebih cerah, tampak saling menatap dan tersenyum, sembari saling menggandeng tangan satu sama lain.

Doctor Akasuna no Sasori & Nurse Akasuna no Sakura.

(1) Kalian akan mengerti arti kata ini setelah kalian menjadi mahasiswa/i :'D

Haha, di sini penuh dengan penindasan harga diri seekor hiu XD Dan yah, Sakura di sini sifatnya antagonis banget, ya :) No wonder kalau Sasori anti banget sama dia :D Hoho

Comments and criticisms are wholeheartedly appreciated

Thank You

Yukeh ketjeh