Disclaimer: To buy Bleach, I need to at least being a millionare. I am not a millionare—you do the math.

This chapter is brought to you by a cup of milk. That's it. Just plain white milk. #gluk, gluk, gluk#

Edited in June 29th, 2012.


.

.

Terdengar suara tiga pasang kaki bersepatu yang membentur lantai marmer putih di koridor gelap yang didominasi oleh warna putih, krim, dan perak. Pemilik kaki-kaki tersebut masing-masing mengenakan celana panjang putih dan orang yang memimpin di depan mengenakan jubah berwarna putih yang menjuntai hingga ke mata kakinya.

"Keadaan sesuai dengan rencana," kata salah seorang dari mereka. "Ia setuju memberikan putrinya pada kita."

"Bagus sekali. Dengan begini, orang tersebut akan tunduk pada kata-kata kita. Kita bisa menguasai kerajaannya dengan mudah."

"Kenapa kau menginginkan gadis itu? Kalau kau memang ingin menguasai kerajaannya, kenapa kau tidak memerasnya saja dan ambil harta kerajaannya? Itu akan mempermudah masalah, bukan?"

"Jika langsung memeras dengan tujuan uang, kita tidak akan jauh berbeda dengan orang-orang yang derajatnya lebih rendah dari kita." kata orang yang berada paling depan. "Lagipula, kita tidak cuma memeras harta mereka, kita akan menguasai kerajaan mereka tanpa harus menyebabkan kepanikan di kerajaan tersebut. Kalian tahu aku tidak suka mengambil resiko yang tidak perlu."

"Itu benar. Kau lupa kalau perang hanya akan menghabiskan waktu dan uang? Lagipula, aku selalu benci perang."

"Ah, Kaname, kau selalu orang yang membenci kekerasan." kata orang tersebut. "Ada apa memangnya? Kau tidak menyukai gadis itu, Gin?"

"Bukan begitu, Aizen-sama. Aku hanya penasaran saja dengan motif anda. Lagipula aku sudah melihat rupa gadis itu, ia terlihat begitu lucu dan innocent. Kau lihat bagaimana dia berada dalam balutan warna putih? Ia hampir seperti bidadari, kau tahu. Aku tidak sabar untuk segera mewarnai tubuh sang bidadari putih itu dengan warna darah." katanya. "Hei, Kaname, apakah menurutmu bidadari itu bisa terbang bila kujatuhkan dari menara Las Noches?" tanyanya dengan senyum licik.

Terdengar sebuah tawa rendah, "Gin, setelah kau menikahi gadis itu, kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan padanya. Tapi bila ia hamil, jangan lukai anaknya. Kau tahu kalau seorang anak yang tak tahu apa-apa bisa menjadi potensi yang besar untuk kerajaan kita bila kita besarkan."

"Sayangnya, Aizen-sama, aku punya berita buruk."

"Apa itu?"

"Gadis itu diculik."

"Oh? Siapa yang berani melakukan itu?"

"Pencuri lihai di daerah itu—mereka menyebut diri mereka The Four Musketeers."

Aizen terkekeh mendengar informasi yang terakhir. Ia menganggap hal itu lucu. "Lucu sekali. Mereka pencuri tapi berani menyebut diri mereka Musketeers. Apa mereka bahkan tahu apa itu Musketeers?"

"Perlu anda tahu, mereka bukan orang-orang yang bisa diremehkan, Aizen-sama. Mereka lihai, cerdas, dan tahu betul cara membela dan melarikan diri. Kabarnya gadis itu pun diculik juga karena kelengahan orang itu—kau mengerti bukan siapa yang kumaksud?"

"Benarkah? Padahal aku sudah menyuruhnya untuk mengamati anak itu." Aizen terdiam sejenak, seolah memikirkan sesuatu. "Suruh dia untuk menghadapku nanti. Aku ingin tahu apa yang terjadi di sana. Ia orang yang lebih dari cukup untuk mengamati tempat itu, tapi aku ingin tahu bagaimana bisa ia membiarkan pencuri-pencuri tengik itu kabur dengan membawa harta kita."

"Dia adalah aset yang berharga kan, Aizen-sama?"

"Gin, kau tahu sendiri bahwa Kuchiki Rukia adalah harta yang berharga." Senyum Aizen saat itu dapat membuat pria paling tangguh sekalipun bergidik—tapi Ichimaru Gin adalah orang yang dingin walaupun senyum sinis selalu terulas di wajahnya sehingga senyum licik Aizen tidak pernah membuatnya merasa terancam. Suara sepatu Aizen yang membentur lantai marmer terus terdengar saat pria dengan senyum licik itu menuju ke aula. "Setelah aku menemukan gadis itu, aku akan menyingkirkan tikus-tikus yang menghalangiku tersebut dan mengambil permatanya dengan tanganku sendiri." katanya dengan tenang dan licik. "Sudah saatnya mewarnai salju dengan warna darah."

.

.


.

.

Ichigo membuka mata dengan cepat dan melompat duduk di atas tempat tidurnya. Napasnya memburu dan keringat dingin mengalir dari tengkuk ke lehernya. Ia melihat sekeliling dengan gugup. Apa itu tadi? Mimpi buruk? Ia mengusap keringat yang muncul di dahinya dan menutup mata, mencoba mengingat-ingat mimpi buruk apa yang sudah membangunkannya, tapi ia tidak bisa ingat apa-apa. Apakah mimpi tentang malam itu? Tapi kalau memang mimpi itu, ia pasti mengingatnya dengan jelas. Kalau begitu apa yang telah membangunkannya? Tak ada yang mengetuk pintu dan tak ada siapapun yang masuk ke kamarnya diam-diam. Ia menatap korden warna krim yang menutup jendela. Terlihat sedikit sinar memancar dari balik korden—hari sudah mulai pagi. Ichigo memutuskan tak ada gunanya lagi ia kembali tidur—lagipula ia takkan bisa tidur dengan tubuh basah karena keringat. Yang ia butuhkan saat ini adalah mandi—dengan air panas.

.

.

Setelah mandi, Ichigo mengenakan kemeja hitam polos dengan sulaman berbentuk tengkorak di punggung dan celana panjang berwarna abu-abu tua—ia tak terlalu mempedulikan fashion style. Di ruang makan, ia melihat Yuzu sedang memasak—baunya seperti pancake, perut Ichigo keroncongan hanya memikirkannya—dan Karin sedang mencuci piring dan menata meja. Karin memang tidak terlalu cekatan dalam melakukan pekerjaan rumah tangga seperti Yuzu, tapi paling tidak ia bisa mencuci dan menata ruangan. Ketika Karin melihat kakaknya yang berambut oranye, ia tersenyum.

"Kak Ichi!" serunya girang.

"Selamat pagi, Karin," sapa Ichigo.

"Pagi. Kak Ichi, aku ingin bertemu dengan gadis yang kau bawa pulang itu, kak! Itu, gadis yang bisa mengalahkan Renji dalam pertarungan satu lawan satu!" katanya dengan antusias. "Jarang sekali ada perempuan yang berani menghadapi Renji, apalagi menantangnya dan menang. Kak, kau harus putuskan pacarmu Senna itu! Ruika yang kau bawa pulang itu jauh lebih baik kualitasnya!"

Ichigo tersenyum geli dan mengusap kepala adiknya, "Namanya Rukia, bukan Ruika. Dan jangan menyebut keahliannya dengan kualitas—dia manusia, bukan barang. Mengerti?" Adiknya menggumamkan maaf dan mengangguk pelan. Ichigo tersenyum puas, "Bagus. Tentang Senna, sebenarnya aku memang berniat memutuskannya. Kau tahu sendiri dia cuma melihatku sebagai balon udara—dianggapnya aku bisa mengangkat derajatnya bila ia berpacaran denganku. Kau tahu istilahnya... numpang populer, kurasa? Pokoknya, aku memang berniat memutuskan hubungan dengannya."

"Aku ingat waktu Renji menghina Senna habis-habisan." Karin terkekeh geli. "Dia menangis dan keluar dari rumah ini dengan cepat. Setelah itu dia tak mau bicara denganmu selama seminggu. Apa kau membujuknya sampai dia mau bicara denganmu, Kak Ichi?" tanya Karin.

"Tidak. Aku tidak perlu membujuknya. Ia yang membutuhkanku. Bila dia butuh, dia akan kembali lagi padaku. Lagipula aku tidak terlalu menginginkannya. Dia terlalu manja dan cengeng." balas kakaknya sambil melipat tangannya di depan dadanya.

"Yeah, kau harus segera memutuskan hubungan dengannya, Kak. Rukia sudah mendapat restuku untuk menjadi kekasihmu!" kata Karin sambil mengacungkan jempol.

Kedua pipi Ichigo memerah, "Re-restu? Siapa yang membutuhkan restumu, anak konyol?" balasnya main-main, tapi masih dengan kedua pipi yang berwarna merah. Karin hanya terkikik dan setelah menganggu kakaknya beberapa kali, ia memasuki dapur untuk membantu Yuzu. Keadaan kembali tenang dan Ichigo duduk di kursi besarnya yang berada di paling ujung. Ichigo mengusap kursi besarnya yang berlengan dan berwarna merah marun itu. Di meja makan, terdapat aturan-aturan yang harus diikuti. Misalnya, orang yang duduk di paling ujung dan dengan kursi terbesar adalah orang dengan pangkat tertinggi di rumah tersebut. Dulu, kursi besar yang ia duduki ini diduduki oleh ayahnya—kepala Klan Kurosaki yang ke-delapan. Tapi saat orang tua mereka meninggal di malam yang mengubah hidup mereka itu, Ichigo menggantikan posisi ayahnya dan sekarang kursi besar ini adalah miliknya. Sebelum Yuzu dan Karin lahir, ayahnya sering mendudukkan Ichigo yang masih berumur enam tahun ke pangkuannya di atas kursi besar ini dan berkata bahwa suatu saat kursi besar ini akan jadi miliknya dan begitu juga rumah ini. Ichigo menutup matanya pada kenangan itu dan menyandarkan dirinya ke kursi besar yang paling empuk itu.

"Kak Ichigo," panggil Yuzu tiba-tiba. Ichigo menoleh ke belakang. "Tolong bangunkan yang lainnya, ya. Sarapannya sudah hampir siap." Ichigo tak menjawab, tapi adiknya tahu bahwa kakaknya bergerak melakukan apa yang diminta. Belum sempat Ichigo keluar dari ruang makan, Chad masuk ke dalam dengan mengenakan kemeja berwarna cerah dan celana panjang putih. Ichigo mengangguk dan tersenyum—mengetahui kehadirannya, Chad membalas dengan mengacungkan jempolnya. Ichigo berjalan ke tikungan yang membawanya ke koridor tempat kamar Ishida dan Renji berada.

Ia meraih handel pintu dan baru saja akan membuka pintu kamar Ishida ketika pintu tersebut terbuka dan Ishida keluar dari kamar tersebut. Ishida mengangkat sebelah alis melihat Ichigo berada di depan pintunya dengan pose siap membuka pintu. Ia mendesah. "Bukankah sudah berkali-kali kukatakan kalau aku tahu waktu, Kurosaki? Aku tersanjung kau begitu mengingatku, tapi kusarankan daripada membuang waktumu padaku, sebaiknya kau bangunkan saja Renji. Kau tahu sendiri kalau orang bodoh itu tidak pernah datang pada waktu yang dijanjikan." kata Ishida dengan tenang sambil melewati pria berambut oranye yang berpangkat tertinggi di rumah tersebut. Ichigo memutar mata pada sarkasme Ishida yang tidak perlu dibalasnya dan mendekati pintu kamar Renji yang berlawanan dengan pintu kamar Ishida.

Tanpa membuang waktu, pria itu meraih handel pintu dan langsung masuk ke dalam. Ia mendapati Renji yang berambut merah itu masih mendengkur di tempat tidurnya dengan posisi tidak karuan dan selimutnya hampir jatuh ke atas lantai marmer. Dia mendengkur keras sekali dan setetes air liur mengalir dari mulutnya yang terbuka lebar. Ichigo memutar mata. Bila ia sudah tidur seperti ini akan sulit untuk dibangunkan. Satu-satunya cara untuk membangunkan orang ini adalah... Mata cokelat Ichigo bertemu dengan teko porselen di atas kabinet di samping pintu dan ia menyeringai. Dengan segera disambarnya teko porselen itu setelah memeriksa bila masih ada airnya dan menyiramkannya pada Renji hingga ia basah kuyup dan terbangun dengan kaget. Renji langsung marah dan menerjang Ichigo. Tapi pemimpinnya itu lebih cepat dan gesit dibandingkan dirinya—apalagi Renji masih lemas sehabis bangun tidur—sehingga Renji berakhir dengan kepala menyambut lantai marmer terlebih dahulu dan tetap terbaring di sana. "Selamat pagi, Renji. Sarapan sudah siap. Pastikan untuk menggosok gigimu dulu sebelum kau memakan masakan Yuzu atau kau takkan mendapatkan makanan lagi di rumah ini." kata Ichigo dengan santai. Ichigo selalu mengulang-ulang peraturan Yuzu pada Renji setiap ia membangunkannya sebab ia tahu pria berambut merah itu lebih bodoh dari kelihatannya. Ia berjalan melewati ranjang Renji yang berantakan, meletakkan teko tersebut ke tempatnya semula dan keluar, menutup pintu dengan tenang tanpa ingin tahu kata-kata balasan Renji nanti.

Sekarang tinggal Kucing Kecil itu, pikirnya. Ichigo meletakkan kedua tangannya di dalam kantung dan berjalan ke koridor yang menuju ke arah dalam, koridor yang akan menuntunnya ke kamar Rukia yang berada di antara kamar Ishida dan kamarnya. Kamar Chad berada di sebelah ruang tamu. Ichigo sengaja menempatkan ia paling depan karena dengan begitu, ia bisa melindungi Renji dan Ishida bila ada yang menyerbu dari pintu utama. Sedangkan kamar Ichigo berada di tempat yang paling belakang, di belakang kamar Karin dan Yuzu yang berada di belakang dapur. Dengan begitu, bila ada yang menyerbu dari pintu belakang, Ichigo yang akan melindungi adik-adiknya. Kemarin ketika ia membangunkan sang putri, Ichigo masuk saja ke dalam ruangan itu. Memang mengetuk pintu bukanlah kebiasan dalam rumah ini karena sebagian besar penghuninya adalah laki-laki dan tak ada yang keberatan bila kepergok sedang bertelanjang dada oleh adik-adik Ichigo. Ketika Ichigo masuk ke ruangan yang sedang ditempati oleh Putri Kuchiki itu, wangi melati dan chamomile yang biasanya terhirup dalam ruangan kosong itu sudah berubah menjadi wangi mawar musim dingin dan anggrek dengan sedikit wangi daun jeruk. Ichigo sadar bahwa wangi tersebut berasal dari gadis yang tidur di ruangan tersebut. Ia bersyukur, karena wangi chamomile dan melati selalu mengingatkannya pada ibunya yang memang beraroma seperti itu. Pagi kemarin, ia sempat memandangi wajah Rukia yang tertidur. Ia hampir tidak tega membangunkannya karena wajahnya begitu damai dan sepolos bidadari. Yang tidak ia sadari adalah, ia sempat duduk di tepi ranjang dan menempelkan hidungnya pada rambut Rukia—menghirup dalam-dalam wangi mawar di rambutnya. Setelah itu, Ichigo baru menyadari apa yang ia lakukan dan pipinya memerah. Tapi ia memutuskan untuk menggoda gadis itu sedikit. Ia tak menyangka ulu hatinya akan dipukul sekuat itu—apalagi oleh gadis yang setengah sadar. Tapi sudahlah. Ichigo tak sabar ingin segera menghirup wangi Rukia lagi—ia tak menyadari kerutan di dahinya hilang ketika ia memikirkan Rukia.

Ketika tiba di depan kamar Rukia, Ichigo berpikir untuk mengetuk, tapi ia pikir mungkin gadis itu masih tidur, jika ia mengetuk maka akan membangunkannya dan ia tak mau gadis itu sadar saat ia mencium wanginya. Lagipula, Ichigo tak tega melihat gadis itu terbangun. Maka, Ichigo membuka pintu perlahan-lahan dan tanpa suara, berharap gadis itu tidak terbangun dengan kedatangannya. Ia berharap akan menemukan Rukia masih terbaring di atas tempat tidur dengan selimut berwarna krim itu menutupi seluruh tubuhnya, wajah polosnya saat tidur dengan bibir sewarna mawar yang sedikit terbuka dan pipi berwarna pink karena suhu yang hangat di dalam selimut. Karena itu, ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan disambut dengan pemandangan seperti ini.

Mata Ichigo melebar selebar-lebarnya dan mulutnya terbuka. Matanya memindai dari bawah; dari jari kaki, menuju ke atas, tumit, betis dan kaki yang ramping, paha yang putih dan mulus, dan punggung yang terbuka. Mengetahui apa yang ada di hadapannya, mulut Ichigo berair. Rukia, berdiri setengah telanjang dan hanya memakai celana dalam putih berenda yang menutupi kedua bagian belakangnya. Rambutnya yang pendek tidak menutupi apapun di punggungnya sehingga Ichigo mendapatkan pemandangan penuh punggung putih, mulus, dan tanpa cacat gadis itu. Ichigo menatap kedua kaki ramping gadis itu, bagaimana mungkin gadis sependek Rukia bisa memiliki kaki yang ramping dan panjang bak penari balet? Mata cokelat Ichigo menggelap dengan penuh gairah. Bayangkan, bila bagian belakangnya saja bisa membuatnya seperti ini, bagian depannya mungkin bisa membuat Ichigo menerjangnya dan langsung mengambilnya di sini, sekarang juga.

Rupanya tatapan Ichigo yang penuh gairah seolah akan menerkam mangsanya itu dirasakan oleh Rukia yang merasakan tengkuknya berdiri. Gadis itu menoleh ke arah pintu dan mata keduanya melebar ketika melihat sang pria berambut oranye sedang menatapnya dengan penuh gairah. Ia segera berbalik, menutupi bagian depan tubuhnya dengan baju yang ia genggam agar pria berambut oranye berotak mesum itu tidak mampu melihat tubuhnya. Kedua pipi pucat gadis itu memerah hebat dan alisnya menyatu seperti sayap elang—sementara mata Ichigo yang semula penuh gairah menjadi penuh teror melihat wajah Rukia dan wajah tampannya mulai kehilangan warna melihat kemarahan dan kemurkaan di mata Rukia. Dengan cepat, Rukia berubah dari seekor kucing liar menjadi jelmaan seekor jaguar, "KUROSAKI ICHIGO!"

Pagi itu, burung-burung dan binatang-binatang kecil yang hidup di sekitar mansion Kurosaki kabur ketakutan mendengar suara seruan kemarahan sang putri dan memutuskan untuk mencari sarang yang baru.

.

.

Sarapan pagi itu tidak bisa dibilang menyenangkan. Rukia menusuk-nusuk pancakenya dengan gusar dan dengan kekuatan yang sesungguhnya tidak perlu, hingga pancake malang yang tak berdosa itu berubah menjadi adonan tak berbentuk. Aura kemarahannya dapat terasa dalam diameter lima meter dengan gadis itu sebagai pusatnya. Sementara, Ichigo makan dengan memar yang hampir membiru berbentuk telapak tangan kecil di pipi kirinya dan di bawah rahang sebelah kanan. Ia makan sambil berusaha untuk tidak terganggu dengan tatapan mematikan yang diarahkan kepadanya dari gadis yang duduk satu setengah meter di hadapannya itu. Bila tatapan bisa membunuh, Ichigo yakin sekarang ia sudah mati delapan kali dan terkubur sedalam enam kaki. Ishida yang dapat merasakan kemarahan sang putri, sama sekali tidak bersuara. Ia tidak ingin membuat tuan puteri lebih marah lagi dari yang sekarang. Sedangkan Renji yang tidak pernah melihat pemimpinnya ditaklukkan oleh siapapun, sekarang melihat Ichigo menggeliat-geliat di bawah tatapan mematikan sang putri—ia tidak berani mengatakan sesuatu yang konyol. Ia sudah mencobanya, tapi tak ada seorang pun di meja yang tertawa—sedangkan Renji memucat dan hampir kencing di celana ketika tatapan mematikan Rukia justru beralih kepadanya. Sedangkan Sado—seperti biasa—masih diam, tapi kali ini dengan sikap gugup. Ia tentu lebih merasakan aura Rukia yang sedang marah karena ia duduk tepat di sebelah kirinya. Ia hampir meminta ijin untuk tukar bangku dengan Ishida, tapi ia memutuskan untuk tidak melakukannya karena itu hanya akan lebih menyakiti hati Rukia yang memang sedang tidak enak hati. Dengan kata lain, pagi itu, keempat pria di meja tersebut mempelajari satu hal; jangan meremehkan kemarahan seorang wanita. Sedangkan untuk Ichigo, ia mempelajari satu hal lagi; jangan masuk ke kamar Rukia tanpa mengetuk lebih dulu.

.


.

Aula latihan pagi itu kosong tanpa ada penonton. Ishida, Sado, dan Renji pergi untuk membagi-bagikan hasil curian pada orang miskin yang tinggal di perbatasan wilayah hutan. Biasanya Ichigo juga ikut, tapi karena sekarang pria itu sedang ada urusan yang harus diselesaikan, maka Ichigo menyuruh mereka pergi sendiri. Tentu saja mereka juga tahu kalau Ichigo masih akan berurusan dengan gadis yang sedang marah di rumah mereka itu. Maka mereka tidak perlu disuruh dua kali untuk segera pergi, mereka paham kalau Ichigo perlu waktu privasi untuk mengurus masalahnya dengan gadis itu.

Ichigo memasang kuda-kuda yang biasa di pakainya ketika bertarung, kuda-kuda dasar yang harus diketahui setiap petarung. Kedua lutut ditekuk, kaki kanan dipisah selebar bahu di depan kaki kiri, tangan kiri diangkat, dan tangan kanan mengacungkan pedang kecil yang digunakan oleh setiap musketeers. Kedua mata lurus ke depan, menatap sang wanita mungil yang menjadi oponennya. Mata cokelatnya memindai tubuh mungil wanita itu. Ia mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang kebesaran di tubuhnya dan celana hitam yang terlalu ketat sehingga Ichigo harus mengertakkan giginya untuk mencegah imej Rukia yang berdiri setengah telanjang datang kembali ke otaknya. Wanita itu juga memakai sepatu bot cokelat yang sama sekali tidak pantas dengan pose dan ukuran tubuhnya yang begitu elegan seperti penari balet. Wanita itu dari jauh tak terlihat berbahaya—oh, tentu saja, siapa saja akan tertipu dengan ukuran tubuhnya yang mungil dan senyumnya yang seperti malaikat itu—siapa yang tahu kalau tangan-tangannya yang mungil itu ternyata memiliki hook, jab, dan uppercut yang mematikan. Ichigo meringis, ia akan mengalahkannya. Akan ia tunjukkan siapa yang harusnya dominan di sini—di rumah ini. Kau akan jadi milikku, Kucing Liar.

Rukia menutup mata dan membukanya lagi. Kedua kakinya dirapatkan—tidak seperti pose petarung, tapi seperti pose penari balet yang akan menari. Kaki kanannya berada di depan kaki kiri, punggung tegak, tangan kiri diletakkan pinggang dan tangan kanan yang menggenggam pedang disilangkan di depan tubuhnya ke arah bawah. Ia menatap pria berambut oranye yang berinisiatif untuk menjadi oponennya kemarin. Oh, dia akan menyesal—ia akan menyesal karena telah menyelinap ke kamarnya dengan diam-diam dan berani menatap tubuhnya. Tamparan di pipi kiri dan tinjuan di rahang sebelah kanan masih belum cukup baginya. Ia bersumpah tadi ia melihat air liur menetes dari mulut pria brengsek itu ketika ia memergokinya menatap tubuhnya tanpa malu-malu. Ia akan mengalahkannya dan membuatnya malu. Lihat saja! Rukia bersumpah, ia membuat pria itu menyesal telah berani melihat tubuhnya!

Rukia melihat mata pria itu mengeras sebelum ia maju dan menyerang. Dengan cepat, Rukia mundur dari ayunan pedang Ichigo dan menangkisnya. Kecepatan dan style Ichigo berbeda 180 derajat dari Abarai. Dia lebih cepat dan tidak hanya bergantung pada kekuatan brutal saja. Ia memiliki presisi dan akurasi yang tepat. Bila Rukia tidak segera menghindari dari tusukannya, ia yakin lengan bajunya akan sobek. Selain itu, ia memiliki stamina yang lebih besar. Tapi tak masalah, kalau masih sejauh ini, Rukia masih bisa mengikutinya. Ichigo kembali menyerang, Rukia terus menangkis—ia masih belum memiliki kesempatan untuk menyerang. Tiba-tiba setelah Rukia menangkis, pedang Ichigo memantul dari pedangnya dan menuju ke perut sebelah kanannya. Mata Rukia melebar. Seolah ia sedang berada dalam film, Rukia melompat melewati ujung pedang yang berniat menusuk perutnya itu, melakukan loncat harimau dengan pedang itu sebagai rintangan, ia mendarat dengan tengkuk dan bahunya. Ia berbalik—masih dalam keadaan bersimpuh—dan kembali menangkis serangan lain dari Ichigo.

"Kau cukup lincah, Kucing Manis." kata Ichigo pelan, cukup untuk Rukia mendengar, tapi tak akan ada seorang pun yang akan mendengarnya selain dia. Rukia tak menjawab, tapi alisnya semakin menyatu. Napas Rukia sudah agak memburu, tapi kalau hanya segini, Rukia masih bisa mengikutinya. "Ada apa? Napasmu memburu." komentar Ichigo dengan sikap menantang. Alis Rukia semakin mengkerut tapi ia tetap tak bicara.

Rukia menyerang, menusuk dan menebas dengan pedang kecilnya, ia mendorong pria itu dengan sedikit kekuatan yang dimilikinya hingga wajah mereka hanya terpisah beberapa senti hingga Rukia dapat merasakan napas hangat Ichigo di wajahnya. "Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan, Kucing Liar?" Rukia menaikkan alis, karena ia memanggilnya dengan 'liar' dan atas kesepakatan yang ditawarkannya. "Kalau kau mengalahkanku, aku akan melakukan apapun yang kau mau." Rukia mundur dan kembali menyerang sementara Ichigo menangkis. Sekali lagi, Rukia memojokkan Ichigo—meskipun ia tahu pria itu menahan diri. Wajah Rukia kembali terpisah beberapa senti dengan wajah Ichigo, "Kalau aku yang menang, kau akan jadi milikku." Alis Rukia mengkerut pada kata-kata itu.

"Aku menolak." katanya sebelum menjauh dan kembali menyerang.

"Takut, ya?" tanya Ichigo dengan sikap mengejek. Rukia memutar mata dan menusukkan pedangnya ke pedang Ichigo, tapi dengan cepat ditampik oleh pria itu.

"Itu provokasi yang sia-sia, Serigala." kata Rukia dengan tenang sambil terus menyerang. Ichigo maju dan Rukia mundur, pedang mereka bertemu dan terlihat sedikit percikan api dari besi yang bertemu dengan besi. "Kesepakatanmu hanya akan merugikanku karena kau tahu gayaku sebelum kau bertarung denganku." katanya, masih sambil menangkis serangan bertubi-tubi dari Ichigo, dan ia tahu bahwa pria itu masih menahan diri.

Pria berambut oranye itu mundur, "Apa boleh buat, Kucing Liar. Itu satu-satunya cara untuk membuatku bertarung denganku tanpa menahan dirimu." Rukia mengangkat satu alis. Dia berpikir ia menahan diri? Bukankah tadi ia sudah tahu kalau Rukia hampir kehabisan napas mengikuti kecepatan pedangnya? "Kau memang cepat, tapi kekuatanmu bukan hanya segini, bukan? Kalau kau tidak menahan diri, maka aku pun akan punya alasan untuk tidak menahan diri." katanya sambil tersenyum dan memasang kuda-kuda lagi. "Akan menyenangkan untuk bertarung tanpa menahan diri dengan putri dari Kuchiki Byakuya."

Rukia berkedip dua kali melihat senyum Ichigo yang terkesan licik baginya dan menundukkan kepala. "Wah," desah Rukia. "Aku baru tahu kalau latihan ini ternyata hanya samaran untukmu benar-benar membunuhku." kata Rukia pelan. Ia mendongak dan matanya kosong. Ichigo melebarkan mata melihat mata safir yang disukainya kosong tanpa ekspresi—Ichigo tidak tahu kenapa ia memikirkan hal itu, tapi yang ia tahu hanyalah ia lebih suka melihat mata itu berkilat dengan kemarahan daripada kosong dan dingin seperti sekarang ini. "Baiklah, kalau begitu. Kuterima kesepakatanmu bila itu kau inginkan, Serigala. Tapi pegang kata-kataku—biarpun kau menang, aku takkan jadi milikmu." katanya seraya memperkuat kuda-kudanya. Wajah Ichigo berubah, tak ada lagi cahaya berapi-api di mata cokelatnya meskipun ia tetap mempertahankan kuda-kudanya. Sedangkan mata Rukia tetap kosong tanpa ekspresi.

Setelah dua detik yang sunyi, Rukia menyerang lebih dulu dan membawa turun pedangnya ke arah Ichigo. Ichigo segera menangkis dengan sigap dan menampik pedang Rukia, tapi kemudian Rukia menyerang dari kanan bawah, membawa pedangnya ke perut sebelah kanan Ichigo, sehingga Ichigo kembali membawa pedangnya turun untuk menangkis. Tapi ketika ia mengira pedang Rukia akan membentur pedangnya, ternyata Rukia membelokkan pedangnya, menusukkan pedangnya ke bahu kiri Ichigo. Pria itu melebarkan mata. Secara refleks, Ichigo mencondongkan tubuhnya ke kanan untuk menghindar dari serangan itu dan mundur tiga langkah dari Rukia. "Kau semakin cepat, Kucing Liar." komentar Ichigo sambil menghapus keringat yang mulai muncul di dahinya. Rukia tak menggubris komentar tersebut dan maju, mengayunkan pedang pada Ichigo. Ichigo tak tinggal diam, ia juga maju dan membenturkan pedangnya pada pedang Rukia. Segera setelah pedang mereka berbenturan, Rukia berputar seperti penari balet dan membawa pedangnya ke perut sebelah kiri Ichigo dari bawah yang langsung ditampik oleh pria itu. Mata pria itu melebar. Tapi tidak hanya sampai situ. Rukia menari—benar-benar menari—dengan pedangnya. Dia terus berputar seperti penari balet, membawa pedangnya untuk menebas pria itu. Ichigo mulai kewalahan dengan teknik Rukia dan dengan satu sentakan, ia membenturkan pedang Rukia dengan pedangnya dan mendorong pedang Rukia—juga gadis itu—dan mengambil tiga langkah mundur darinya. Gadis itu menyeimbangkan tubuhnya dengan kaki kirinya setelah Ichigo mendorongnya menjauh dan kembali memasang kuda-kuda. "Teknik apa itu tadi? Aku belum pernah..." tanya Ichigo tanpa melanjutkan kata-katanya. Napasnya mulai memburu sedangkan ia melihat bahwa Rukia hanya sedikit kehabisan napas setelah beberapa gerakan balet dan serangannya.

"Itu teknik yang kukembangkan sendiri dengan menyatukan tarian balet dengan ilmu pedang. Guruku menamainya Tarian Salju Berdarah. Tapi menurutku pribadi, nama itu terlalu garang, jadi kuganti menjadi Tarian Pedang Salju. Jujur saja, teknik ini lebih efektif kalau menggunakan dua pedang." Rukia mengangkat bahu tapi tidak mengendurkan kuda-kudanya. "Jadi? Kau mau bertarung atau tidak?" tanyanya sambil mengangkat alis.

Ichigo meringis, "Kau satu-satunya perempuan yang telah membuatku kewalahan, Kucing Liar." katanya sambil memasang kuda-kuda. Aku benar-benar akan memutuskan Senna setelah ini, pikirnya dengan antusias.

"Akan kuanggap itu pujian." jawab Rukia dengan bosan. Kemudian ia kembali maju dengan cepat dan menebas dari kanan—gerakan yang tidak biasa karena Ichigo sedari tadi mengamati bahwa Rukia selalu menyerang dari kiri. Ichigo segera menebas gadis itu dari kanan, tapi ia salah langkah, karena setelah Rukia menangkis pedangnya, gadis itu mengaitkan ujung pedangnya ke handel pedangnya dari kiri—mata Ichigo melebar, ia lengah!—dan melontarkan pedang tersebut dari genggaman tangannya hingga jatuh sejauh dua meter di sampingnya. Mata Ichigo melebar menatap pedangnya yang terbaring sejauh dua meter di sampingnya. Hampir tak ada yang bisa membuatnya kehilangan senjata dengan cara seperti itu kecuali ayahnya. Ia mengerutkan dahinya melihat Rukia yang menodongkan pedangnya ke arah lehernya dengan mata kosong dan dingin. Tapi ia takkan kalah dengan hanya begini saja. Dengan tiba-tiba, Ichigo menampik pedang Rukia ke samping dengan tangan kosong. Rukia yang terkejut—tidak menyangka Ichigo akan senekat itu untuk menampik pedang dengan tangan kosong—oleng ke kanan. Ichigo menggunakan kesempatan itu untuk meluncur dengan kakinya dan meraih pedangnya yang terletak dua meter darinya. Ichigo mendengar langkah kaki gadis itu menuju ke arahnya dan masih dalam keadaan bersimpuh di atas alas, Ichigo menodongkan pedangnya ke arah gadis itu di saat yang bersamaan saat Rukia menodongkan pedangnya ke arahnya. Seri.

Mata mereka berdua bertemu. Hazel bertemu dengan safir selama beberapa detik; aula tersebut menjadi sunyi. Kesunyian tersebut dipecahkan oleh Rukia yang menarik napas dalam-dalam dan merendahkan pedangnya. Ichigo pun melakukan hal yang sama. "Seri," gumam Ichigo. "Aku mengaku kalah. Kau satu-satunya perempuan yang setara denganku dalam pertarungan."

"Kalah? Bukankah hasilnya seri?" tanya Rukia dengan wajah dingin walaupun matanya mengatakan lain. "Jangan sok keren dengan sengaja mengalah dalam pertarungan yang hasilnya seri. Kalau kita seri, itu artinya kekuatan kita berdua sama dan kita satu level. Benar bukan? Karena itu, kesepakatan kita batal karena tak ada kata seri dalam kesepakatan kita. Aku tidak akan jadi milikmu dan aku tidak akan menyuruhmu macam-macam." kata Rukia sambil mengambil pedang mereka berdua dan menyimpannya kembali dalam lemari. Ia tak menyadari bahwa Ichigo mengamatinya dengan wajah polos dan mata cokelat yang melebar—ia benar-benar sedang mendengarkan gadis itu berbicara. Biasanya bila ada perempuan yang memenangkan kesepakatannya, mereka akan menyuruh Ichigo melakukan ini dan itu—padahal tak ada yang bisa mengalahkannya kecuali Tatsuki. "Dan jangan kira dengan sengaja mengalah dalam pertarungan kita aku akan memandangmu sebagai orang yang gentleman. Sado adalah pria yang paling gentleman dalam daftarku sejauh ini. Selain itu, aku sudah memberimu pelajaran karena sudah mengintipku saat sedang ganti baju." Ichigo nyengir tanpa dosa saat Rukia menyebutkan fakta yang terakhir. Rukia melihat cengiran itu dan langsung memberinya tatapan maut. Ichigo langsung menciut dalam tatapan maut gadis itu. "Jangan berpikiran macam-macam, brengsek! Lihat saja nanti kalau kau sekali-sekali masuk ke kamarku tanpa mengetuk." Rukia mengancamnya sambil menodongkan pedang yang sedang berada dalam genggamannya ke arah pria itu.

"Baiklah, baiklah," kata Ichigo sambil mengangkat kedua tangan seakan menyerah. Ia tersenyum kecil. "Aku minta maaf karena sudah tidak sengaja melihatmu berganti baju." Ia mendengar Rukia menggumamkan sesuatu seperti 'tidak sengaja apanya', tapi ia tidak menggubris dan tetap melanjutkan, "aku janji akan selalu mengetuk pintumu mulai sekarang. Tapi itu bukan berarti kau boleh mengunci kamarmu—hanya aku dan adik-adikku saja yang berwenang atas kunci pintu di rumah ini."

"Aku tahu. Aku kan masih 'tawananmu', ya?" kata Rukia dengan senyum kecil. "Sudah jam berapa sekarang? Kenapa perutku jadi lapar?"

"Ah, kita terlalu keasyikan berlatih tadi. Ini masih pukul sepuluh," kata Ichigo sambil melihat arloji milik ayahnya yang selalu dikantunginya di kantung dada. Ia mengantungi benda yang berharga baginya itu lagi ke dalam kantungnya dan berpaling pada Rukia, "Yuzu biasanya membuat muffin atau pai strawberry di saat seperti ini. Waktu selingan sebelum makan siang sebentar lagi tiba. Bagaimana kalau kita tengok ke dapur? Siapa tahu Yuzu akan berbaik hati untuk mengijinkan kita mencicip sedikit." Ichigo nyengir dan berjalan menuju ke pintu keluar.

Mendengar kata muffin dan pai, perut Rukia keroncongan dan dengan senang hati, ia mengikuti Ichigo yang ia tahu akan menuntunnya ke dapur. Ia tersenyum dan bersumpah bahwa ia baru saja mencium wangi pai yang baru saja diambil dari oven—tapi mungkin itu hanya imajinasinya saja.

.

.


.

.

Byakuya menatap sisir di tangannya dengan sikap kecut. Ya, benar. Sisir tersebut milik putrinya. Ia mengenalinya karena sejak anak berambut perak itu menghadiahinya sisir itu, setiap kali Toushirou datang berkunjung, Rukia tidak pernah lupa mengenakan sisir tersebut di ikatan rambutnya. Terkadang ia juga mengenakannya di saat makan malam walaupun Toushirou sedang tidak di kerajaan itu. "Di mana tadi kau menemukan benda ini?" tanya Byakuya pada pangeran kecil yang bersimpuh di hadapannya.

"Tepat di jalan setapak di samping Hutan Primrose, Paduka." jawabnya—masih sambil berlutut dengan satu kaki.

Hutan Primrose adalah hutan kecil yang membatasi Kerajaan Senbonzakura dengan Tebing Lagoon yang di dasarnya terdapat sungai beraliran deras dan Gunung Perak yang dari kejauhan memang berwarna keperakan. Kawasan di sana sangat terjal sehingga sedikit orang yang berani menginjakkan kaki di dekat Tebing Lagoon. Hutan Primrose sendiri terletak lebih dari empat puluh mil dari desa paling pinggir di Kerajaan tersebut. Karena letaknya yang terpencil, hampir tak ada seorang pun yang ingin menghabiskan waktu di tempat tersebut—walaupun sebenarnya hutan itu tidak terlalu menakutkan. Hutan Primrose itu kecil—hampir mirip seperti taman, hanya saja lebih lebat—banyak terdapat binatang-binatang herbivora dan serangga-serangga cantik mengerumuni bunga-bunga (karena tempat itu dekat dengan tebing, hanya sedikit—atau hampir tidak ada—harimau atau binatang karnivora lainnya). Kabarnya, bibit bunga Azalea dan Lili terbaik yang tumbuh di halaman istana berasal dari hutan tersebut. Orang-orang di desa terdekat terkadang menjual bunga-bungaan yang dipetik dari Hutan Primrose ke kota—atau menjual benihnya saja. Biasanya orang-orang di desa itu berburu kancil atau rusa yang banyak terdapat di hutan tersebut dan tersasar ke padang rumput yang letaknya terlalu dekat dengan pemukiman penduduk—untuk kemudian di konsumsi sendiri atau dijual ke kota. Daging rusa terkenal enak, empuk, dan gurih sehingga harganya menjadi mahal. Tapi tetap saja kawasan di sekitar Hutan Primrose tidak banyak penduduknya karena sering sekali terjadi pencurian dan pembunuhan dan dilakukan oleh pencoleng-pencoleng yang bermarkas di dalam hutan ramah tersebut. Guardians telah berhasil menangkap para pencoleng tersebut, tapi para penduduk di desa masih percaya bahwa masih ada bekas-bekas pencoleng yang tinggal di dalam hutan itu sehingga produksi daging rusa menurun. Sedangkan jalan setapak yang berada tepat di samping hutan tersebut adalah satu-satunya akses untuk menuju ke kerajaan tetangga—yaitu Kerajaan Hyourinmaru—yang berada di sisi lain Gunung Perak.

Di antara Kerajaan Senbonzakura dan Kerajaan Hyourinmaru terdapat wilayah tak berpenghuni yang luasnya sekitar seribu hektar—mungkin lebih bila Tebing Lagoon dan Hutan Marigold yang terletak di sekitar kaki Gunung Perak juga ikut dihitung. Dulu ada pemerintahan kecil yang menghuni tempat kosong tersebut dan ada sedikit penduduk yang hidup makmur selama beratus-ratus tahun sebelum Kerajaan Senbonzakura bahkan dibangun. Bahkan setelah Kerajaan Senbonzakura berdiri, pemerintahan tersebut menyatu dengan pemerintahan Keluarga Kuchiki sehingga penduduk kecil di tempat tersebut hidup semakin makmur. Tapi setelah terdapat tragedi tujuh belas tahun yang lalu, pemerintahan itu hilang dan penduduk yang telantar mengungsi ke desa terdekat di Senbonzakura, atau menghidupi diri mereka sendiri dengan mengambil hasil alam.

"Kenapa benda ini bisa berada sejauh itu?" gumam Byakuya sambil menatap sisir yang mengingatkannya pada putrinya. "Baiklah. Suruh anak buahmu menyisir kawasan tersebut. Bila kalian melihat pemukiman, cari Rukia di sana—tapi jangan bakar tempat itu. Katakan bahwa kalian datang dengan damai—aku tak mau ada lagi pemberontakan atau penyerangan di Kerajaan ini."

"Daulat, Paduka." Toushirou menunduk lagi dan segera berbalik pergi tanpa bertanya-tanya.

"Ingat, Pangeran," Toushirou berhenti ketika Raja tersebut berbicara, tapi tidak berbalik untuk menghadapnya. "Kau berada dalam misi untuk mencari putriku dan bukan untuk mencari musuh."

Toushirou mengangguk, "dimengerti, Paduka."

Setelah pangeran cilik itu berlalu, Ukitake mendekatinya, "Byakuya," Ia tak menjawab, tapi Ukitake tahu Raja itu mendengarkan. "Apakah ini berarti Rukia-sama dibawa keluar dari Senbonzakura?" tanyanya. "Kalau itu terjadi, maka ancaman Aizen takkan berlaku lagi bagi kita."

"Lalu apa yang harus kulakukan, Ukitake? Kalau aku tidak menemukan putriku, istriku akan tumbang," Dan begitu pula denganku, tambahnya dalam hati. "Tapi bila ia terus hilang hingga batas perjanjian itu habis, ancaman Aizen takkan berlaku dan aku bisa menyelamatkan Kerajaan ini dan putriku. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa bila keadaan putriku tidak jelas seperti sekarang ini." Byakuya memijat dahinya.

"Aku sarankan, kita menunggu." kata Kyouraku yang sedari tadi berada di ruangan itu. Ia melipat tangannya. "Aku yakin Rukia-sama bukan orang bodoh. Ia pasti bisa menemukan cara untuk menghubungi kita bagaimana pun caranya. Bila dia baik-baik saja, ia pasti akan menghubungi kita."

Byakuya menatap Kyouraku dengan sikap pasrah. "Kuharap kau benar, Kyouraku-san."

"Aku memiliki berita yang mengejutkan mengenai Four Musketeers, Paduka. Mungkin anda akan tertarik melihat ini." Kyouraku berdiri dan memilah-milah dokumen yang berserakan di atas meja kerjanya. Byakuya diam tapi ia tetap mendengarkan.

"Insiden Four Musketeers pertama kali terjadi tujuh tahun yang lalu, dan yang pertama kali dirampok adalah keluarga bangsawan Matsushita. Pada saat itu pun mereka sudah memiliki kelihaian dalam membela diri dan melarikan diri. Banyak laporan Guardians yang menyatakan bahwa Four Musketeers yang membunuh tetua bangsawan yaitu Matsushita Chiyo, tapi tidak ada bukti yang menguatkan bahwa pembunuhan tersebut adalah perbuatan orang luar. Grimmjow Jeagerjackquez, kapten Guardians divisi enam, ketahuan menyembunyikan bukti yang memperkuat bahwa pembunuhan tersebut merupakan perbuatan orang dalam. Tapi sampai sekarang, Kapten Grimmjow terus menyatakan bahwa pembunuhan tersebut merupakan perbuatan Four Musketeers." Kemudian ia mengambil dokumen lain.

"Masih terkait dengan Guardians; enam belas tahun yang lalu seluruh Klan Kurosaki dinyatakan terbunuh tanpa ada penerus—anda tentu mengerti siapa pemimpin Klan Kurosaki dan apa hubungannya dengan keluarga anda, bukan, Yang Mulia?" Byakuya mengangguk pelan ketika ditanya. Kyouraku melanjutkan, "saksi mata mengaku bahwa mereka melihat kira-kira sepuluh orang yang berseragam Guardians bertamu dan memasuki residen Kurosaki hanya satu jam sebelum terjadi ledakan yang menghanguskan seluruh klan tersebut—sedangkan satu divisi Guardians baru datang kira-kira satu jam kemudian untuk memadamkan api—yang tentu saja api sudah membumi-hanguskan kediaman tersebut hingga tak ada satu pun yang selamat." Setelah itu, keadaan sunyi sekitar satu menit. Kyouraku memberi waktu pada sang Raja untuk mencerna semua informasi ini di dalam kepalanya. Kemudian ia kembali melanjutkan, "masih ada beberapa kejadian yang diduga terkait dengan Guardians," katanya sambil membolak-balik file. "Setelah insiden terhadap Klan Kurosaki, terjadi juga pembantaian terhadap kaum Quincy. Anda tentu mengerti kaum Quincy ini, bukan, Paduka?" Byakuya mengangguk dan menyuruh Kyouraku untuk meneruskan. "Kebetulan banyak saksi mata yang mengaku bahwa setiap kaum Quincy ini terbunuh bila kebetulan ada seorang atau dua orang yang berseragam Guardians di dekat mereka. Tadinya hanya ada tiga, empat orang saja yang terbunuh setiap hari, tapi kemudian meningkat drastis menjadi tiga puluh orang per hari sehingga keberadaan kaum ini akhirnya hilang." Kyouraku berhenti sejenak sambil kembali memilah-milah file yang berserakan di atas mejanya. "Kemudian terbunuhnya orang-orang miskin yang berada di pinggir negeri ini—terutama di sekitar Hutan Primrose. Saksi mata di desa sebelahnya mengaku bahwa mereka melihat satu divisi Guardians berkuda yang membakar rumah orang-orang miskin tersebut hingga satu desa terlalap api—dan yang melihat juga bukan hanya satu dua orang, tapi ada dua belas orang lebih."

Kyouraku melihat bahwa kerutan di alis Byakuya semakin dalam atas setiap informasi tentang Guardians yang ia berikan. Ia tahu bahwa karena banyak kejadian mengerikan yang terkait dengan Guardians, maka Byakuya sempat menghentikan operasi kerja Guardians selama beberapa tahun. "Kejadian terakhir terjadi lima tahun sebelum Four Musketeers muncul dan dua bulan sebelum anda memutuskan untuk menghentikan operasi kerja Guardians. Kejadian itu adalah peristiwa pemukulan hingga mati yang dilakukan beberapa orang dari Guardians secara terang-terangan. Lima orang saksi mata sempat membela, tapi korban tidak dapat diselamatkan." Kyouraku membuka sebuah file. "Korban yang dipukuli adalah seorang kakek bernama Yasutora Yaiba, ia memiliki darah keturunan Meksiko. Almarhum hidup sambil merawat cucunya bernama Yasutora Sado. Tapi sejak kakeknya dikuburkan, tak ada lagi yang pernah melihat anak itu. Dua bulan setelah kejadian tersebut, anda menghentikan operasi Guardians. Tiga hari kemudian, Ulquiorra Schiffer datang mencalonkan diri sebagai agen mata-mata di bawah Komandan Soi Fong."

Kyouraku menutup file yang ada di tangannya dan meletakkan tangannya di pinggang sementara ia bersandar pada mejanya. "Lima tahun kemudian, Four Musketeers muncul dan membuat keributan selama tiga bulan sehingga anda terpaksa mengijinkan Guardians untuk kembali beroperasi. Tidakkah menurut anda semua kejadian ini berhubungan, Paduka?" tanyanya dengan tenang, walaupun matanya mengatakan hal lain.

Byakuya menutup mata dan membalikkan badannya untuk berdiri di balkonnya, menatap seluruh tanah kekuasaannya. Ia mendesah pelan lalu bersabda, "aku memberikan seluruh wewenang padamu untuk menyelidiki apa hubungan Guardians dengan Four Musketeers, Kyouraku-sama. Aku khawatir bila ada sesuatu di balik semua kejadian ini." Yang lebih buruk lagi, adalah sebenarnya Byakuya tidak tahu apakah diculiknya Rukia oleh Four Musketeers adalah hal yang baik atau tidak.

.

.


.

.

"Biarkan aku menulis surat pada ayahku," pinta Rukia.

"Dan membiarkanmu membocorkan semuanya pada ayahmu? Tidak akan!" tukas Ichigo sambil melipat tangannya.

"Kumohon. Kau boleh membacanya dulu kalau kau mau—untuk memastikan apakah aku tidak akan membocorkan posisimu atau identitasmu. Tapi kumohon, biarkan aku menulis surat pada ayah dan ibuku. Mereka pasti cemas." Rukia melipat tangan di atas pangkuannya. "Ibuku sejak dulu sakit-sakitan. Ia melahirkan aku dengan konsekuensi besar—ayah tidak akan mendapatkan anak laki-laki untuk menjadi penerusnya. Walaupun begitu, ayah dan ibuku sangat sayang dan memanjakanku. Bila mereka sama sekali tidak mendengar sesuatu dariku, aku takut ibuku akan tumbang. Ayahku juga—ia sangat mencintai ibuku. Aku tak mau melihat ayah patah hati bila ibuku meninggal atau juga ikut jatuh sakit bila ia terlalu cemas padaku. Aku tidak siap kehilangan ibuku atau ayahku." Ichigo menatap gadis itu dari kursi besarnya, tatapannya sendu. "Kumohon. Aku bersumpah, aku tidak akan mengatakan apapun tentangmu dan teman-temanmu. Aku hanya ingin ibu dan ayahku tahu bahwa aku baik-baik saja." Kali ini Rukia menatap Ichigo dengan wajah memelas. Matanya yang safir berkilau memantulkan air mata yang mulai menggenang di pelupuknya.

Ichigo menutup mata dan mendesah. Ia memang selalu lemah terhadap topik 'ibu' dan gadis yang menangis. "Baiklah. Kau boleh menulis pada ayahmu. Tapi aku akan membaca semuanya dulu, untuk mengetahui apakah kau akan menuliskan petunjuk tentang identitas kami atau di mana kau sekarang." Kata Ichigo dengan tegas.

Seketika itu juga, Rukia tersenyum—wajahnya berseri-seri seperti bulan purnama. Senyum yang tulus dan lembut yang membuat jantung Ichigo berhenti sejenak kemudian kembali berdetak dalam ritme yang cepat. "Terima kasih. Aku janji tidak akan menuliskan bahkan satu petunjuk pun tentang dirimu ataupun teman-temanmu. Aku tidak mungkin memberitahu tempat ini—kau menutup mataku dalam perjalanan, ingat?" Rukia berkata begitu masih dengan senyum yang tulus. Rukia berdiri dan berbalik dari ruang makan menuju ke koridor tempat kamarnya berada. "Terima kasih, Ichigo." katanya sekali lagi sebelum menghilang di balik tikungan. Jantung Ichigo berdetak lebih cepat lagi. Itu adalah pertama kalinya Rukia memanggilnya dengan nama kecilnya. Mungkin ia harus belajar untuk memanggil gadis itu dengan nama kecilnya juga. Ichigo tersenyum—ia tak menyadari bahwa kerutan di alisnya menghilang.

.


.

"Katakan, apa kalian pernah membunuh orang sebelumnya?" tanya seorang gadis pada temannya.

"Apa maksudmu? Tentu saja tidak!" jawab teman pria di sampingnya dengan cepat.

"Benarkah? Berarti kalian tidak pernah membunuh orang saat mencuri atau merampok?"

"Tatsuki, membunuh dan merampok adalah dua hal yang berbeda—atau itulah yang selalu dikatakan Ichigo dan Ishida padaku."

"Renji, kau ini benar-benar bodoh, ya." Tatsuki menggelengkan kepalanya.

Renji meringis sambil mengusap kepalanya, "aku sering mendengarnya—dan, yah, aku ini memang bodoh, sih."

.

.

.


.

.

.

Author's Note:

Aaaand that's a wrap, I guess. Aku sudah membeberkan terlalu banyak di chapter ini. Kurasa semuanya sudah mulai jelas kan ya. Oh, dan kaum Quincy di cerita ini maksudnya kaum pemberontak—tapi bakal dijelasin lebih lanjut di chapter selanjutnya. Di akhir cerita ada sedikit Rentats, request courtesy of bathroom concert-san, but seriously, I've never made Rentats before, so... sue me. aku akan mencoba bikin Rentats lagi kalau chapternya memungkinkan—tapi Hitsuhina aja susah bikinnya, apalagi Rentats. *apus keringet* So... haruskah aku ganti rate jadi T after what happened in Rukia's room? Kalian pasti bisa bayangin kan? Mungkin enaknya ganti T aja ya, daripada dituntut. Well, anyway, I won't give you facts anymore, karena halamannya terbatas, so... saatnya membalas review dari yang gak login!

Chadeschan: no problem, Chadeschan. Hehehe, iya, aku dapet ide itu juga dari fic laen. Hmm... apa itu judulnya yah? Iya, sumpah, chapter 2 kemaren cuman 5—sekarang udah nambah sih. Terima kasih reviewnya c: review lagi yah XD

xxxx: bosen? Gak usah dibaca dong. Wahahaha XDD

fishy: hahaha, aku gak maksa siapapun utk review kok. Tapi aku akan tetap lebih bahagia kalo ngeliat review boxku penuh XD setiap author pun akan merasakan itu. Terima kasih reviewnya, review lagi ya :D

Shinichi kamisaka: bukan maksudku bikin fic kepanjangan, tapi scr pribadi aku lebih suka chapter yg panjang dan rapi walopun updatenya lama. Aku akan coba bikin fic yg gak terlalu panjang lain kali, tapi ingat, aku gak cuman nulis buat kamu saja. Kan selera orang beda2, & banyak jg reader yg ngeluh kalo chapter tll pendek.

Ingat, aku tidak pernah memaksa siapapun untuk mereview (kecuali adikku yg emang gak pernah review). Bagiku lebih baik gak review daripada menyakiti hati orang laen. Sooo... anyway... you can review if you want. After all, like one flamer 'nicely' said, "review itu tanda cinta", so I'm not gonna force anyone ato 'nagih' siapapun utk review. Kesannya kayak debt-collector aja. And remember, I've told you in first chapter that if you don't like this, then don't read (and don't leave any evidence that you're here). Simple ain't it? Kalau kalian merasa ingin berdebat ato mendampratku krn chapter ini, feel free to PM me, asal jgn lakukan itu di dlm review box because honestly, I will delete them tanpa menggubrisnya. But please, I beg you, who still have a heart, to review. So, now, REVIEW! XDD