Minna~~~~~~~! Gomen gomen gomen gomen go-#disumpel CD
Saya lama updatenya ya, gomennasai minna. Sebenernya dari minggu lalu Author udah mulai PSG (Pendidikan Sistem Ganda) kalau bahasa saya mah PKL tapi bilang aja magang deh. Beneran deh, saya seminggu ini kecapean banget. Nulis ini fic aja ampe 5 hari baru selesai T^T, terus satu masalah yang lebih gawat dan ngebuat author boke alias kanker alis ga punya duit yaitu MODEM RUSAK, oh my Goat(?) sumpah deh ntu modem author jatuh dari tempat tidur bersama LAPTOP! KALIAN DENGAR LAPTOPNYA! Dan jadilah ntu medom penyok alias bengkok ampe kartunya juga ikut bengkok,TTATT
Mau tahu apa yang dibilang tukang service nya saat saya bawa ntu modem,
Kagari : Abang, modem saya jatoh. Bisa dibenerin ga kira-kira?(nunjukin modem)
Service man : Saya cek dulu ya.(ngcek modem)
Kagari: Gimana bang?
Service man : Hadoh, ini modem diapain neng ampe bengkok begini?(garuk-garuk kpala)
Service man 2: Coba saya benerin dulu ya.(abang servis yang lain nongol)
Kagari : Ya udah, besok saya kesini lagi.
Besoknya.
Kagari : Gimana bang, bisa ga?
Service man : Modemnya belom bener neng, harus diganti USBnya.
Kagari : Parah ya bang?
Service man 2 : (Ngambil modem author yang udah dipretelin) ini susah neng, noh ampr kartunya ikutan bengkok juga. Saya periksa dulu ya, takutnya dalemnya juga ikut rusak.
Kagari : Kira-kira kapan benernya bang?
Service man : Wah ga tentu neng, abis ampe penyok begitu. Emang kamu apain neng?
Kagari : Jatoh dari tempat tidur sama laptopnya bang.
Service man : Lah pantes aja neng, haduh si neng nih. Belum ge sebulan ntu laptop ama modem belinya udah dibanting aja neng kamu mah.
Kagari : Hehehe(nyetados 'nyengir tanpa dosa') ya udah ntar saya balik lagi
Dua hari kemudian
Kagari : Gimana bang?
Service man : Nyerah saya mah neng, ini dalemnya juga rusak.
Dan pada akhirnya saya yang lagi ga punya duit akhirnya minjam tanpa bilang duit Cemceman saya buat beli modem baru. Jangan bilang-bilang tar saya dimasukin penjara lagi.
Wokeh curhat saya kepanjangan, kita balas riview and guest dulu~
Namikaze Lin Chan : Huum, Naru punya kpribadian lain selain Kirsune, dia adalah jeng jeng jeng Runa!
Makasih jawabannya, walau saya jadi rada bingung.
Makacih sudah review^^
Hikari Shinji : Sasu sudah diputuskan ngikut dunia gelap gulita.~
Makasih udah review^^
Uzumaki Wulan : Wulan san, kan disitu dah dibilang sama Iruka apa yang terjadi sama Kyuubi.
Nih udah update, baca ya. Harus baca awas law ga baca bakal dikejer sama saya ampe alam baka(?)
Makasih udah review^^
Jamcomaria : Runa itu kepribadiannya Naru~
Sanca White Snake? Artinya apaan ya, saya mikir-mikir dulu ya. Si BakOro juga masih lamaaaaaaa banget munculnya
Mengenai Sasu sudah saya putuskan qok.
Ne makasih jawabannya`
Makasih juga dah reviewh ^^/
Review log in sudah saya balas di PM ^^
Louisia vi Duivel dan Kagurra Amaya
Yang sudah Fav FIC ini terimakasih ya \^^/
Okeh kita mulai saja ya,,,,
Enjoyed~!
Disclaimer : Naruto punyanya Kishimoto sama, juga milik baka teme
Genre: Romance, Family,Crime.
Rated: masih T tapi M aja biar aman
Pairing: SasuNaru(tidak tampil dichap ini) slight GaaNaru(?),PainNaru(tidak tampil dichap ini) dan akan berkembang sesuai jalannya cerita.
Warning: yaoi, BoyXBoy, sho-ai,BL,Alur kadang cepat kadang lambat,Typo(moga aja sekarang udah gak ada),bored,aneh,gaje etc.
Menurut fic yang udah DON'T LIKE DON'T READ, tapi silahkan baca terlebih dahulu setelah itu berikan komentar anda dengan riview!^^
(FLASHBACK sedang dalam tahap pengerjaan)
Author lagi-lagi melupakan satu penjelasan.
Naruto : 17 tahun ======== Secret chara : 25 tahun
Sasuke : 23 tahun ======== Kushina : 44 tahun(tua amat)
Sasori : 31 tahun
Deidara : 22 tahun
Itachi : 24 tahun
Pain : 22 tahun
Iruka : 22 tahun
Suigetsu : 21 tahun
Karin : 22 tahun
Maaf bila Chapter ini mengecewakan. (-,-)
Sekilas Chapter 3
Iruka berancang-ancang untuk mendobrak pintu, namun kegiatannya terhenti saat pintu itu perlahan terbuka.
Cklek
"Naruto! Kau baik-baik saja! Jangan buat paman takut sayang." Iruka langsung mendekap bocah didepannya itu, rasa lega terpancar dari wajahnya karena Naruto tidak melakukan hal bodoh seperti dulu.
"Naruto kun baik-baik saja Iruka,"
Deg
"A apa maksudmu Naruto?" Iruka melepaskan pelukannya dan menatap Naruto yang tersenyum lembut padanya.
Tapi, setelah Iruka perhatikan, Iruka terkejut. Bukan, yang didepannya ini bukan Naruto anaknya, bukan Naruto majikannya, orang didepannya ini...
"Runa..."
Chapter 4
"Otouto! Kenapa kau bisa terlambat? Kau tahu kan rapat tadi sangat penting untuk kemajuan perusahaan kita! Dan kau Suigetsu,sebagai seorang asisten pribadi seharusnya kau memberi tahukan itu pada Sasuke!" omelan demi omelan terdengar dari sebuah ruangan yang bernama Presiden Direktur, didalam ruangan itu Uchiha sulung sedang duduk dibelakang meja kerjanya. Napasnya memburu menahan amarahnya yang sudah meluap-luap. Bagaimana dia bisa marah? Silahkan tanyakan pada si Uchiha bungsu yang berdiri didepan meja kakaknya dan dengan ekspresi seperti biasa, datar.
"Hn." Tanggap Sasuke.
"Kami sama apa yang harus kulakukan padamu Otouto." Ucap Itachi, tangannya terulur memijat pelipisnya menandakan betapa tidak sanggupnya ia menghadapi sang adik.
"Gomennasai Itachi sama, saat dalam perjalanan kami mendapatkan sedikit masalah." Ucap Suigetsu menjelaskan.
"Memang apa yang terjadi? Jika hanya menabrak orang, tinggalkan saja, nanti suruhan kita bisa menanganinyakan." Ujar Itachi.
"..." kedua orang didepannya hanya diam mendengar penuturan Itachi dan memandang horor kepadanya.
"Sebenarnya, bukan menabrak hanya hampir." Jelas Suigetsu lagi.
"Terserah, Otouto bukankah sudah ku bilang jangan pernah ulangi hal ini lagi. Setiap ada rapat kau pasti terlambat. Kuharap ini yang terakhir, kau adalah pewaris keluarga Uchiha sama sepertiku. Sebagai seorang calon pemimpin seharusnya kau lebih bertanggung jawab atas semua yang kau lakukan Otouto." Ceramahan Itachi terus berlanjut namun apa daya, Uchiha bungsu tak mendengar bahkan masuk kuping kanan keluar kuping kiri saja tidak.
"Kau mengerti Otouto?" tanya Itachi di akhir ceramahnya.
"Hn." Setelah ceramah panjang lebar dari sang kakak selesai, Sasuke dengan santainya melenggeng pergi dari ruangan itu. Tak mempedulikan kakaknya yang sudah memulai ceramahan baru.
Suigetsu menyusul Sasuke setelah mengucapkan beberapa kata pada Itachi. Didalam ruangan, Itachi menggeram kesal melihat kelakuan adiknya. Itachi memang seorang penyabar, tapi jika berurusan dengan sang adik kesabarannya entah hilang kemana. Selalu menanggapi sikap acuh sang adik, lama kelamaan jadi dongkol sendiri hatinya.
Tring !
Bagai orang yang bersuka cita ketika lampu dirumah menyala setelah pemadaman listrik oleh PLN selama 8 jam, betapa senangnya Itachi saat mempunyai sebuah ide untuk memberi pelajaran pada adik tercintanya.
Tuut tuut tu-
"Ya?"
"Pain, sepertinya aku punya usul mengenai anggota baru."
"Siapa?"
Seringai terbentuk diwajah Itachi.
"Kita bicarakan besok, dirumahku."
"Baiklah."
Tut tut tut
"Nah. Otouto ku tersayang, bersiaplah menghadapi penderitaanmu." Ucap Itachi, seringai masih lekat diwajahnya.
.
.
"Ada apa Sasuke?" tanya Suigetsu, melihat Sasuke menghentikan langkahnya.
"Tidak." Jawab Sasuke lalu kembali berjalan.
'Perasaanku tidak enak.' Pikir Sasuke cukup merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi padanya dan tentu saja hal itu berhubungan dengan sang Uchiha sulung.
################*################*##############*##################*#######*######*############*######
~~~~_~~~_~~~~_~~~_~~~~_~~~_~~~~_~~~_~~~~O. Kagari Hate The Real World .O~~~~_~~~_~~~~_~~~_~~~~_~~~_~~~~_~~~_~~~~
"Tidak...mungkin." lirihnya saat melihat pemuda didepannya, pemuda yang telah bertahun-tahun dijaganya, pemuda yang sekarang tersenyum manis padanya.
Jika dihadapannya kini adalah memang pemuda yang dikenalnya, dengan senang hati Iruka akan membalas senyuman itu. Tapi bukan, pemuda yang didepannya bukanlah dia yang sekarang ini.
"Iruka, maaf aku membuatmu terkejut."
"Runa...anda, Naruto apa yang terjadi?" Iruka berkata dengan terbata-bata, Runa kepribadian dari Naruto selain Kitsune. Terbentuk dari rasa kehilangan, kesedihan, kesepian dan kebutuhan akan kasih sayang, kpribadian yang lemah lembut, 'gadis' yang sangat sempurna bila sungguh 'nyata'.
"Aku keluar sebelum Naruto kun melakukan sesuatu," Runa tersenyum.
Iruka diam, ini salahnya sampai-sampai kepribadian Naruto yang lain keluar. Ini sungguh salahnya tak bisa menjaga Naruto.
"Iruka, maaf jika aku mengambil alih, aku hanya tidak ingin Naruto kun melakukan sesuatu yang berbahaya." Tatapan sendu Runa mengarah pada Iruka, ia tahu betapa sayangnya Butler keluarga Namikaze satu ini pada Naruto.
"Tidak apa, saya berterimakasih karena anda mengkhawatirkan Naruto," senyum tipis terlihat diwajah Iruka.
"Ya, aku disini sampai Naruto benar-benar stabil. Jangan merasa bersalah seperti ini Iruka." Tangan Runa telulur menyentuh wajah Iruka, memberikan senyuman hangatnya agar laki-laki didepannya ini tidak terlalu menyiksa diri.
Senyum lirih Iruka menanggapi ucapan Runa, dia tak bisa lagi berucap. Terlalu lelah baginya mengurusi beberapa hal sekaligus.
Drrt drrt drrrt
Getaran pada saku celananya mengalihkan perhatin Iruka, diambilnya sesuatu yang bergetar itu. Terlihat pada layar handphone sebuah nama yang tak asing baginya.
'Kushina sama?' pikir Iruka
"Hallo? Kushina sama, ada apa anda menelepon?" ucap Iruka pada orang diseberang telepon sana.
"Ah! Iruka, aku hanya ingin memberi tahu jika tiga hari lagi aku pulang." Kushina yang penelpon berucap dengan riang.
"Pulang, apa urusan anda di Inggris sudah selesai?" tanya Iruka.
"Yah, begitulah. Hanya tinggal beberapa yang belum diselasaikan." Jawab Kushina.
"Baiklah, saya akan mempersiapkan kedatangan anda. " Iruka merogoh saku celananya, mengambil sebuah buku kecil yang selalu dibawanya kemana-mana, "Anda akan menggunakan penerbangan pribadi atau umum Kushina sama?"
"Mungkin aku akan menggunakan pesawat pribadi Namikaze saja, akan lebih cepat juga kan." Kushina menjawab.
"Baiklah, saya akan menjadwalkan kedatangan anda tiga hari lagi." Iruka mencatatkan sesuatu kedalam buku kecilnya.
"Iruka," panggil Kushina.
"Ya, Kushina sama. Apa ada yang anda perlukan lagi?" jawab Iruka.
"Apa Naruto ada?" kali ini suara Kushina terdengar lirih.
"Naruto? Ya, dia sedang bersama saya. Anda ingin bicara dengan Naruto, Kushina sama?" Iruka tersenyum setelahnya, jarang sekali majikannya ini menanyakan tentang Naruto. Bukan hanya karena kesibukannya dalam pekerjaan dan sebagai nyonya Namikaze saja yang membuatnya jarang bertemu Naruto, tapi sejak kejadian itu sikap Kushina berubah 180 derajat terhadap Naruto.
"Aku harus kembali bekerja, sudah ya Iruka."
"Tap-"
Tut tut tut
"Hallo, Kushina sama?" Iruka menatap sendu layar handphone nya, selalu saja begini memilih untuk menghindar pikir Iruka.
"Itu dari kaa san ya?" pertanyaan dari Runa membuat Iruka menoleh padanya.
"Iya, yang menelpon tadi adalah Kushina sama." Jawab Iruka, wajahnya masih sendu.
"Masih sama ya?" Runa tersenyum kecut.
"Anda tidak usah terlalu memikirkannya, mereka memang seperti itu kan,"
"Ya, tapi bila begini terus kasihan Naruto kun." Memilih untuk menundukan kepalanya, Runa tidak ingin air mata yang siap tumpah kapan saja terlihat oleh Iruka.
"..." Diam, Iruka tak mau berkomentar tentang apa yang diucapkan Runa barusan.
"Saya permisi untuk menyiapkan makan siang." Ucap Iruka, memilih menghindar dari topik pembicaraan ini.
"Iruka," panggil Runa.
"Ya?" jawab Iruka menghentikan langkahnya.
"Apakah Kitsune sering keluar?" tanya Runa, wajahnya menampakan keseriusan.
"Ya, hampir setiap malam." Jawab Iruka
Menghela napasnya, Runa berbalik memegangi kenop pintu kamarnya(kamar Naruto).
"Kurasa dia tak akan menyerah soal menjadi pribadi utama." Gumamnya sebelum memasuki kamar.
Iruka menatap lekat pintu kamar Naruto, guratan kesedihan mulai terlihat diwajahnya.
"Seandainya kalian tahu apa yang sudah kalian perbuat, ku jamin kalian pasti menyesalkan?" ucapan lirih dari Iruka yang entah ditujukan pada siapa.
.
.
.
"Iruka," panggil Runa, saat ini ia sedang menuruni tangga ke lantai satu.
"Saya baru saja akan memanggil anda, silahkan duduklah makan siang sudah siap." Ucap Iruka yang sedang menata meja makan.
Runa tersenyum lembut, lalu mengambil tempat duduk bersebrangan dengan Iruka.
"Kalian kembalilah ke mansion belakang." Ucap Iruka kepada para maid yang membantunya menata meja makan.
"Baik," jawab para maid serempak, dengan teratur para maid itu meninggalkan mansion utama.
"Seperti biasa, masakanmu terlihat enak Iruka." Puji Runa saat melihat masakan yang tersaji dimeja makan.
"Terimakasih, saya tersanjung anda memuji masakan saya," Iruka menuangkan strawberry juice dalam gelas Runa.
"Terimakasih." Ucap Runa.
Runa dan Iruka pun makan dalam diam, tak ada topik pembicaraan yang mereka anggap layak untuk mengisi kesunyian itu.
.
.
.
"Iruka," panggil Runa saat mereka selesai makan siang.
"Ya?" jawab Iruka.
"Apa kita beritahu saja keadaan Naruto kun pada mereka?" tanya Runa ragu, ia menggiigit bagian bawah bibirnya.
Iruka menghentikan aktivitasnya membereskan meja makan dan terdiam.
"Entahlah, saya tidak tahu. Apa mereka akan berubah jika tahu nanti? Mereka terlalu sibuk untuk sekedar mengetahui keadaan Naruto selama ini," jawabnya,
"Haah, tapi mereka harus tahu apa yang telah m,ereka perbuat." Runa menundukan kepalanya.
"Terlalu sulit untuk memberitahu mereka, apalagi dengan ketidak pedulian mereka seperti sekarang ini." Hati Iruka sakit mengingat apa yang telah dilalui majikannya selama ini. Kesepian yang dialami majikannya membuat hatinya teriris, perih sangat perih hatinya.
"Ya, kau benar.." Runa bardiri dari duduknya, "Aku akan kembali kekamar, kepalaku sedikit pusing."
"Mau saya ambilkan obat?" tanya Iruka.
"Tidak, tidak perlu. Aku hanya butuh istirahat saja." Tolak Runa, melangkahkan kakinya menaiki tangga.
"Baiklah, oyasumi Runa sama." Ucap Iruka.
"Ya," tanggap Runa.
Runa menaiki tangga dengan wajah lesu, setelah sampai dilantai dua ia segera melangkahkan kakinya kesebuah pintu dan membukanya.
Cklek
Masuk kedalam, ruangan yang biasanya 'cerah' itu kini terlihat gelap. Tak mau repot-repot menyalakan lampu, Runa memilih melangkahkan kakinya ke tempat tidur dan merebahkan diri diatasnya. Lelah yang ia rasa perlahan mengikis kesadarannya, membawanya menuju dunia mimpi. Sweet dream Runa.
######################***#*#############*##################*###############*#*#################*######
~~~~_~~~_~~~~_~~~_~~~~_~~~_~~~~_~~~_~~~~O. Kagari Hate The Real World .O~~~~_~~~_~~~~_~~~_~~~~_~~~_~~~~_~~~_~~~~
"Sasuke kun, ingat jaga kesehatanmu. Akhir-akhir ini kau tampak tak peduli dengan itu." Seorang wanita tampak membereskan peralatan pengobatannya.
"Huh, kau pikir Sasuke kun'mu' itu akan mendengarkan ucapanmu." Ucap seorang pemuda yang berdiri didekat pintu.
"Kau diam saja! Dasar hiu, yang dokter disini siapa hah! Kau atau aku?" teriak wanita itu, tangannya menunjuk pemuda yang bicara tadi.
"Disini tidak ada dokter, hanya ada monster merah pemarah." Ucapnya.
"Kau! Kemari kau anak hiu sialan!"
"Karin hentikan, Suigetsu berhenti menggoda Karin." Sasuke yang mulai jengah dengan pertengkaran dua orang didepannya akhirnya bersuara.
"Ah, Sasuke kun. Bukan aku, hiu itu yang mulai." Ucap wanita yang dipanggil Karin.
"Ada apa dengan nada bicaramu, menggelikan sekali." Ucap Suigetsu.
"Diam kau hiu!" teriak Karin.
"Kita pergi Suigetsu," ucap Sasuke, tidak ingin lagi mendengar pertengkaran yang tidak ada ujungnya ini.
"Sasuke kun, jangan lupa dua minggu lagi ya." Ucap Karin saat melihat Sasuke keluar dari ruangan.
"Cih! Dasar murahan." Cibir Suigetsu yang langsung lari saat Karin berancang-ancang melempat pot bunga ditangannya.
Praak
"Kemari kau hiu bodoh, akan kukuliti kau." Raungnya yang membuat orang yang melewati depan ruangannya lari terbirit-birit.
"Hey, Sasuke?" Ucap Suigetsu ketika ia dan Sasuke sudah meninggalkan tempat Karin.
"..."
"Kenapa kau bisa tahan dengan wanita centil macam Karin sebagai doktermu?" tanya Suigetsu.
Sasuke melirik Suigetsu dari ekor matanya lalu kembali menatap kedepan.
"Kau tahu alasannya, untuk apa bertanya." Jawab Sasuke. Sekarang mereka sedang berada dilantai bawah, tempat pemarkiran mobil.
"Yeah, karena kakekmu." Ucap Suigetsu dengan nada tak suka.
Sasuke memasuki mobil sportnya diikuti Suigetsu dan berlalu kejalanan.
SKIPSKIpSKipSkipskipTIMEskip skiPskIPsKIPSKIP
05.48 a.m
Mansion Namikaze
"Ohayou Iruka," sapa Runa tersenyum manis, melangkahkan kakinya mendekati Iruka.
"Ohayou Runa sama, silahkan sarapan anda sudah siap." Ucap Iruka yang sedang menata makanan dimeja makan dibantu oleh beberapa maid.
"Kalian boleh kembali kemansion belakang," ucap Iruka yang dijawab serempak oleh beberapa maid yang berada disana.
Runa duduk dikursi biasanya, ia menatap makanan didepannya dengan seulas senyum terpantri diwajahnya.
"Iruka," panggil Runa.
"Ya?"
"Apa kau akan kekantor hari ini?" tanya Runa pada Iruka yang sedang mengambilkan sarapan untuknya.
"Ya, saya harus mengurusi beberapa hal dikantor." Jawab Iruka, "Memangnya ada apa?" lanjut Iruka.
"Tidak, sebaiknya kita segera makan." Runa memotong-motong steak yang tersaji dipiringnya dan memakannya dengan anggun.
Ting tong teng
Bunyi bel pintu menggema diseluruh ruang makan keluarga Namikaze, Iruka segera berdiri menuju pintu depan untuk mengetahui siapa yang bertamu pagi-pagi begini.
"Siapa Iruka?" tanya Runa saat Iruka kembali keruang makan.
"Naruto?" Sebuah suara dari belakang Iruka mengalihkan perhatian Iruka, Runa tersenyum ketika mengetahui siapa yang memanggilnya barusan.
"Gaara kun, Ohayou." Sapa Runa pada tamu yang mendatangi rumahnya yaitu Gaara.
Gaara terdiam, didepannya ini tentu saja bukan Naruto. Suara lembut yang didengarnya hanya bisa dipastikan jika yang didepannya ini adalah "Runa..." gumam Gaara.
Gaara berjalan dengan cepat kearah Runa dan mencengkram bahunya, "Katakan apa yang terjadi?" tuntut Gaara.
"Du duduklah Gaara kun, aku akan menceritakannya." Jawab Runa, merasakan bahunya yang sakit akibat cengkraman Gaara.
"Maaf," sesal Gaara, ia melepaskan cengkramannya dan duduk dusebelah Runa.
"Jelaskan." Ucap Gaara, ia benar-benar butuh penjelasan tentang ini(dan readers juga butuh penjelasan bagaimana Gaara bisa tahu itu Runa dan bukan Naruto, tentu saja Gaara adalah salah satu dari beberapa orang yang tahu Naruto punya DID, untuk penjelasan silahkan nantikan flashback~#ditimpuk galon *Qu*), selama yang ia tahu Runa hanya muncul disaat Naruto sudah tak sanggup lagi menanggung beban emosinya.
"Haah," helaan napas mengawali penjelasan Runa, "Naruto kun histeris lagi." Ucapnya.
Gaara terkejut mendengar apa yang diucapkan Runa, wajah yang biasanya datar itu kini terbelalak. Histeris, bagaimana mungkin Naruto histeris lagi setelah sekian lama ia baik-baik saja begitulah kira-kira apa yang ada dalam pikiran Gaara saat ini.
"Ba bagaimana bisa?" tenggorokan Gaara terasa kering, apa yang terjadi sampai-sampai sahabatnya ini histeris kembali.
"Iruka bilang Naruto kun hampir tertabrak mobil, aku juga merasakan ketika ia mulai histeris tapi saat itu aku tidak keluar karena...ada yang menenangkannya." Ucap Runa agak ragu dibagian akhir.
Gaara terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkan Runa sampai ia menemukan sesuatu yang janggal dari ucapan itu, 'menenangkan?' pikir Gaara.
"Siapa?" tanya Gaara, tak perlu menjelaskan apa yang ia tanya.
"Namanya Uchiha Sasuke," kali ini Iruka yang menjawab.
"Uchiha?" Gaara mengulang.
Iruka mengangguk, "Dia juga yang mengantar Naruto pulang,"
"Dan saat itu Naruto kun kembali histeris hingga aku keluar," lanjut Runa.
"Jadi, apa Naruto mengingat Kyuubi?" tanya Gaara.
"Tidak, aku rasa Naruto kun tidak ingat." Jawab Runa.
"Ngomong-ngomong tentang Uchiha Sasuke, ada yang ingin saya sampaikan pada anda sejak kemarin." Dua orang pemuda didepan Iruka menatapnya, menunggu lanjutan dari ucapannya.
"Beberapa hari yang lalu saya menerima fax dari Deidara dan fax itu berisi tentang data lengkap Uchiha Sasuke." Ucap Iruka, raut muka Runa dan Gaara berubah serius. Tidak mungkin hanya sebuah kebetulan jika jika Naruto dan Kitsune mengenal Uchiha.
"Data Uchiha Sasuke? Untuk apa Kitsune menginginkannya?" tanya Gaara.
Iruka menggeleng, "Saya tidak tahu, tapi firasat saya mengatakan itu bukanlah hal baik." Ucapnya.
"Kitsune ya, itu juga menjadi alasanku kemari." Ucap Gaara.
"Apa yang diinginkannya?" tanya Runa.
"Dia ingin aku ikut dengannya malam ini," jawab Gaara.
Wajah bingung tersirat diwajah dua orang didepannya.
"Kitsune bilang malam ini akan diadakan pertemuan dan dia ingin aku datang sebagai Shukaku, aku sendiri tidak tahu jelasnya " terang Gaara.
Runa juga Iruka terdiam mendengar ucapan Gaara.
"Jadi malam ini dia akan keluar ya." Gumam Iruka.
"Iruka, aku akan mengembalikan kesadaran Naruto kun sekarang." Ucap Runa, berdiri dari kursi dan melangkah menuju tangga.
"Apa Naruto sudah baik-baik saja?"
"Ya, keadaannya sudah baik sekarang, lagi pula..." Runa melirik jam dinding yang terpasang diruangan itu, "Ini waktunya Naruto kun berangkat sekolah." Lanjutnya.
"Baiklah," Iruka mengikuti Runa menuju kamarnya.
"Oh ya, Iruka katakan pada Naruto kun kalau dia pingsan kemarin karena tidak makan," ucap Runa sebelum memasuki kamar bernuansa cerah milik Naruto.
"Baik," jawab Iruka.
Runa membaringkan diri ditempat tidur king sizenya, menutup matanya untuk mengembalikan kesadaran Naruto.
Iruka berdiri tepat disamping tempat tidur untuk memulai acara pagi seperti biiasanya. Menarik napas, Iruka pun mulai bicara.
"Naruto! cepat bangun, kau tidak ingin terlambat sekolahkan!" tak lama teriakan Iruka terdengar dari kamar itu.
"Hmm, lima menit paman." Gumam Naruto tak jelas.
"Bangun, didepan ada Gaara sama menunggumu." Yang dengan berhasil membuat Naruto terduduk bangun dan langsung menoleh padanya.
"Gaara! Gaara disini?" tanya Naruto antusias.
"Ya, Gaara sama menunggumu dibawah." Jawab Iruka.
Tap bag big bugh bruuk!
Suara-suara itu tercipta dari Naruto yang tunggang langgang untuk mencapai kamar mandinya, " Katakan pada Gaara, tuinggu 10 menit!" lalu menutup pintunya.
Iruka hanya menggelengkan kepalanya melihat sifat yang berbeda jauh dari semua kepribadiannya yang lain dan berlalu meninggalkan kamar Naruto.
Mansion Uchiha
"Ohayou Otouto," sapa Itachi saat melihat sang adik Uchiha Sasuke menuruni tangga.
"Hn," ucap Sasuke yang tampak acuh, dia terus berjalan kemeja makan dan mendudukan dirinya disalah satu kursi berseberangan dengan kakaknya.
"Haah, jawab yang benar Otouto." Ujar Itachi.
"Tou san kemana?" Sasuke bertanya tanpa mempedulikan ucapan kakaknya barusan.
"Tadi pagi-pagi sekali ayah sudah pergi ke China untuk urusan perusahaan, kalau kan bertanya tentan Kaa san dia sedang mengunjungi temannya di Inggris." Jawab Itachi.
"Hn," tanggap Sasuke,
Mereka makan dalam diam, tidak ada yang bicara seperti biasanya hingga seorang maid berjalan mendekati Itachi dan menunduk padanya.
"Maafkan saya telah mengganggu sarapan anda Itachi sama," ucap maid itu.
"Hn, ada apa?" Tanya Itachi.
"Diluar ada Pain sama," Jawab maid itu.
"Suruh dia masuk," ucap Itachi.
"Baik Itachi sama, saya permisi," Maid itu berjalan kebelakang dan segera menuju pintu depan Uchiha Mansion, tak lama naid itu kembali dengan membawa seseorang dibelakangnya.
Sasuke mengerutkan alisnya, ia seperti pernah melihat orang itu disuatu tempat ah! Benar ia pernah melihat orang ini di bar malam itu.
"Pain, silahkan duduk." Ucap Itachi mempersilahkan.
Pain duduk disebelah kiri Itachi dan langsung menatap orang disebelahnya.
"Aku sudah bicara dengan para Jinchuuriki." Ujar Pain.
"Hasilnya?" tanya Itachi.
"Pertemuan malam nanti." Jawab Pain singkat.
"Sudah kuduga, kau memang buruk jika berurusan dengan hal ini." Itachi mengambil ponsel dari kantung celananya dan menekan beberapa huruf sebelum mengirimnya pada beberapa nama kontak email sekaligus.
"Tapi aku benar-benar tidak menyangka tentang Kitsune," ucap Pain.
'Kitsune? Bukankah dia pemimpin Jinchuuriki?' batin Sasuke saat mendengar nama kelompok Yakuza yang sangat terkenal belakangan ini.
"Kau bertemu Kitsune?" tanya Itachi.
"Ya, dan coba tebak. Kitsune yang kukira adalah laki-laki cerdas dan mempunyai wibawa tinggi ternyata hanya seorang bocah, sungguh dugaanku itu sangat meleset bukan?" ujar Pain menjelaskan.
"Bocah? Sangat berani bila mereka menempatkan seorang anak dalam posisi ketua, seperti apa Kitsune itu?" Itachi yang memang seorang yang gila akan informasi tidak akan melewatkan hal sekecil apapun tentang ini.
"Dia itu bocah laki-laki yang manis, mungkin umurnya baru 16 tahun ah tidak 17 tahun mungkin. Dia juga mempunya mata yang indah, biru lautan, tangannya juga halus, rambut blodenya yang acak-acakan." Pain menjelaskan ciri-ciri Kitsune.
"Dan kurasa kau tertarik padanya." Ucap Itachi, sebenarnya yang ia tanyakan adalah sikap dan sifat dari kitsune bukan perawakan Kitsune. Toh nanti malam juga dia akan melihat langsung orangnya.
"Terlihat jelas ya?" tanya Pain.
"Sangat." Jawab singkat Itachi. Tanpa mereka sadari, Sasuke yang mendengar percakapan mereka mengeratkan genggaman tangannya pada sendok dan garpu ditangannya.
'Dobe..." batinnya.
Back to Naruto's place
Jalanan pagi ini cukup ramai, orang-orang berlalu lalang dengan brbagai kendaraannya menyesakan diri untuk saling mendahului dijalan.
"Huft, kenapa kita tidak jalan kaki saja sih?" ucap lebih tepatnya rengekan pemuda blode dalam sebuah mobil bmw hitam.
"Tidak." Jawab singkat pemuda lain disampingnya.
"Ah, Gaara jalankan lebih sehat, lagi pula aku pusing mendengar kebisingan jalan raya." Ucapnya pada pemuda yang bernama Gaara.
"Kita akan terlambat jika kita jalan kaki Naruto, lagi pula tidak ada salahnya memakai mobil sesekali." Ucap Gaara.
"Kau lupa ya! Sekarang itu kita sedang mengalami yang namanya global warming, asap kendaraan bisa memperparah keadaan bumi kita Gaara. Lebih baik kita jalan kaki saja hitung-hitung hemat energi bumi juga kan?" jelas Naruto yang sudah mirip aktivis lingkungan hidup saja.
Orang yang diajak bicara hanya menaikan sebelah alisnya, apa mungkin anak ini anggota WHO? Pikir Gaara.
"Mobilku sudah lolos uji emisi dan untuk BBM, apa kau lupa mobilku memakai tenaga baterai matahari." Ucap Gaara.
"Huuu, tetap saja aku lebih suka jalan kaki," ucap Naruto.
"Kita sudah sampai Gaara sama," ujar supir pribadi Gaara.
"Ayo turun," Ajak Gaara pada Naruto.
"Huft." Naruto keluar dari mobil dengan wajah masam.
"Naruto! Gaara!" Panggil seorang puppy manis eh ralat panggil seorang pemuda bersurai coklat jabrig dengan segitiga terbalik dipipinya yang sedang berlari menuju gerbang sekolah.
"Kiba! Ohayou!" Sapa Naruto, melambaikan tangannya pada Kiba.
"Kau berangkat bareng Gaara ya?" Tanya Kiba saat ia sampai didepan Naruto.
"Hehe, iya. Tadi Gaara menjemputku lho~!" jawab Naruto dengan cengiran khasnya.
"Enak ya bisa berangkat bareng, sayang sih rumahku tak searah denganmu dan Gaara." Ucap Kiba dengan raut muka sedih yang dibuat-buat yang membuat para seme disekitarnya tak tahan untuk tidak menyerangnya. Tapi ya jangan khawatir selama ada penjaganya para anjing kelaparan itu takan bisa menyentuh Kiba, siapa lagi kalau bukan Gaara yang dikenal dengan sebutan uke dingin berhati iblis.
"Salah sendiri beli rumah di Glamourich Paradise, dasar orang kaya, uek!" ucap err sindir Naruto dan memeletkan lidahnya.
"Dasar menyebalkan, Gaara~ lihat Naruto mengejekku," Kiba sedang mengadu pada ibunya #dikemplang Gaara ekhm maksudnya Gaara yang sedang berjalan mendekat.
"Dia bohong Gaara~" Sekarang Naruto pun ikut-ikutan.
"Ayo masuk kelas," ucap Gaara, malas menghadapi dua sahabatnya yang otaknya sama-sama agak waras setengah itu.
"Kaa san jaha~t, hueee~" Naruto dan Kiba sama-sama menangis sambil berpelukan karena diacuhkan Gaara.(Tentu saja bohong,). Malunya dirimu Gaara punya sahabat edan semua,# digigit Akamaru+diinjek Kyuubi.
Sementara Naruto dan Kiba masih berteletubies ria, Gaara terus berjalan semakin jauh pikirannya masih melayang pada pembicaraannya dengan Iruka tadi disaat Naruto sedang mandi.
Flashback~~~~~~~~
"Gaara sama," Panggil Iruka saat ia sedang menuruni tangga.
"Ada apa Iruka?" Tanya Gaara.
"Mengenai yang tadi..." Iruka menggantung ucapannya, "Mengenai Kitsune," lanjutnya.
"Tenang saja, aku akan mengawasinya dan Iruka cari tahu tentang Uchiha Sasuke. Aku ingin tahu apa yang diinginkan Kitsune darinya," ucap Gaara.
"Baik," jawab Iruka.
Flashback end~~~~~
"Ohayou minna!" Sapa dua pemuda nan tampan menjurus kemanis saat mereka baru saja tiba didalam kelas.
"Ohayou Naru chan~, Ohayou Kiba chan~"
"Ohayou."
"Ohayou uke-uke manisku~!"
"Ohayou sayang."
"Kyaa! Naruto, seme yang mendapatkanmu pasti sangat beruntung!"
"Ohayou mani~s,"
Itulah beberapa jawaban dari sapaan yang Naruto dan Kiba berikan pada teman-teman sekelasnya. Yang memberi sapaan hanya sweatdrop mendengarnya.
"Huft, aku tidak manis Temujin~. Aku ini laki-laki bukan perempuan, tapi uke itu apa sih?" Naruto memiringkan kepalanya tanda dia tak mengerti.
Hampir saja Temujin, pemuda yang ditanya Naruto mengalami pendarahan hidung akut akibat melihat calon ukenya yang begitu manis ini bersikap bagai anak kucing yang ingin dielus.
"Naru chan jangan memasang pose begitu, aduh~ rasanya aku tidak tahan ingin melahapmu." Temujin memalingkan wajahnya sebelum kembali menatap Naruto.
"Dan untuk uke, maksudnya-"
"Ekhm!" suara deheman cukup keras terdengar dari belakang Temujin, menyebabkan temujin menghentikan ucapannya.
Aura tak mengenakan terasa saat Temujin membalikan tubuhnya, mata ungunya(bener ga mata Temujin ungu?) bertemu dengan emerald tajam yang menatapnya lekat-lekat.
"Eh, emm, hai Gaara ku~n," ucap Temujin, sebutir keringat jatuh dari dahinya.
"Gaara!"
Grep
"Kau tega sekali meninggalkan aku dan Naruto!" Kiba dan Naruto memeluk Gaara dengan erat, para seme? Mereka hanya mengusap air liur mereka yang menetes.
"Sudahlah, kita duduk." Ucap Gaara kembali ketempat duduknya.
Naruto dan Kiba pun menurut, mereka pun duduk ditempat mereka masing-masing.(Author lupa menjellaskan, Naruto duduk dengan Gaara dipojok dekat jendela dan Kiba duduk didepan Naruto.)
"Naru kemarin kau kenapa tidak masuk?" tanya gadis bercepol dua, Tenten.
"Kemarin? Emm, ada sedikit masalah saat aku berangkat sekolah." Ucap Naruto, ia sedang mengeluarkan buku pelajaran dari tas ranselnya.
"Masalah apa Naru?" Tanya Tenten lagi.
"Bukan masalah besar kok, aku hanya hampir tertabrak mobil itu saja," jawab Naruto tanpa tahu jika jawabannya itu menyebabkan respon berlebihan dari teman-teman sekelasnya.
"APUAH!" Teriak sekaligus beberapa siswa dan siswi dikelas itu.
"Tertabrak mobil! Naru chan mana yang luka? Mana yang sakit? Kau tidak apa-apakan?" tanya beruntun Tenten yang mengawali pertanyaan lain dari beberapa orang lainnya.
"Aduh kalian ini kenapa sih, kapan aku bilang kalau aku tertabtak mobil!" ucap Naruto kesal karena dengan tiba-tiba tenman-temannya berdesak-desakan mengelilingi tempat duduknya.
"Kan tadi kau yang bilang," jawab Kiba yang ikut-ikutan nimbrung.
"Kubilangkan hampir bukan tertabrak betulan. Lagi pula aku baik-baik saja" jelas Naruto.
"Tidak bisa begitu Nar, kami ini khawatir padamu!" ucap Kiba yang disertai anggukan dari teman-teman pertanda mereka juga khawatir.
"Lagi pula siapa sih orang yang hampir menabrakmu itu, kalau aku bertemu dengannya akan ku hajar dia!" Kiba mengepalkan tangannya.
"Eeh! Tidak usah, lagi pula si teme itu juga sudah tanggung jawab dengan mengantarku pulang kok!" ujar Naruto cepat saat mendengar teme'nya' akan dihajar.
"Eh? Teme?" Kiba menatap bingung pada Naruto.
"Iya, si teme mesum yang hampir menabraku itu sudah tanggung jawab kok jadi tidak usah dibesar-besarkan okey? Hehehe," ucap Naruto disertai cengirannya.
"Te teme mesum?" wajah Kiba dan beberapa orang lainnya terlihat horor mendengar julukan Naruto pada orang yang hampir menabraknya itu.
"Hah, orang yang berani menabrak Naru chanku memang pantas mendapat julukan itu. Jika aku sampai bertemu dengannya, akan kuberi si mesum itu pelajaran!" ujar Temujin, tangannya sudah siap untuk merangkul Naruto dari samping.
"Ekhm!" Temujin menarik kembali tangannya saat Gaara menatapnya datar namun penuh ancaman.
'Berani kau sentuh, kupotong tanganmu.' Begitulah ancaman yang diberikan Gaara dari matanya. Wew hebat bener!
Ribut-ribut dikelas itu berhenti ketika sensei yang mengajar memasuki kelas, para penghuni kelas yang tadinya mengerubungi tempat Naruto segera beranjak menuju tempat masing masing dan pelajaran pun dimulai.
Back to Uchiha Mansion
"Jadi, siapa?" tanya Pain pada orang disampingnya.
"Kau sudah melihatnya," jawab Itachi, matanya melirik Sasuke yang sedang sibuk menatap gadget(tulisannya benarkan?) canggih ditangannya.
"Sasuke," panggil Itachi.
"..." Sasuke tak menjawab, ia lebih memilih memperhatikan layar gadgetnya.
"Kau akan bergabung dengan Akatsuki," ucap Itachi.
Sasuke menegakan kepalanya, menatap Itachi dengan salah satu alisnya yang terangkat. Apa kakaknya ini tidak waras? Tentu saja dia tidak mau, untuk apa melakukan hal yang merepotkan begitu. Sekarang kenapa ia terdengar seperti temannya yang pemalas, melabeli semua hal dengan kata merepotkan.
"Tidak," tolak Sasuke, berdiri dari duduknya Sasuke segera melangkahkan kakinya.
"Kau tidak bisa menolak Otouto," ucap Itachi.
Sasuke menghentikan langkahnya, "Terserah," ucapnya.
"Sebelum kau pergi, cepat berikan proposal perjanjian kerjanya. Dari kemarin kau selalu sajamenghindar saat kutanya." Ucap Itachi.
"Hn, ada di meja kerjamu." Ucap Sasuke, lalu melangkah kembali melewati pintu depan mansionnya. Disana mobil sport biru tuanya terparkir manis, siap untuk dikendarai olehnya.
Sasuke menaiki mobilnya dan segera melesat kejalanan, pikirannya dipenuhi oleh banyak pertanyaan dan semuanya berhubungan dengan bocah dobe itu.
Kembali kedalam Mansion
"Sorot mata yang tajam." Gumam Pain.
"Apanya?" Tanya Itachi karucap Pain ketuanya ini bergumam tak jelas.
"Adikmu, sepertinya sangat menarik." Ucap Pain.
Itachi memandang Pain sedikit horor.
"Bukan menarik seperti yang kau bayangkan, Itachi!" ucap Pain segera saat dirasanya pandangan Itachi berubah mengancam.
tO bE CONTInue...
REVIEWnya ?
