Here U Are

chap 3

Cast: Kim Jong In, Oh Sehun, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Wu Kris

Menyambut para pendatang baru adalah tugas untuk Kim Jong In, dan dia akhirnya membantu Oh Sehun yang tidak ramah dan menjulang tinggi, jenis orang yang melakukan segala sesuatu yang tidak disukai. Tapi setelah lebih mengenal satu sama lain, ia menemukan bahwa raksasa itu tidak seburuk yang ia kira... Hunkai!~

/

Tuan Oh sudah menyiapkan makanan di meja makan, ia memasak sendiri untuk dirinya dan juga Sehun.

"sehun" panggilnya, ia mengambil beberapa potong telur dan sayuran di depannya

"setelah kau makan, beli tiket kereta dan kembalilah kesekolah. Tentang keluar dari sekolah aku tidak ingin kau mengatakannya lagi" ucap tuan Oh sambil memasukan satu potong telur ke mulutnya

"sekolah benar-benar membosakan dad" jawab Sehun

"itu karena kau yang membuat setiap hari membosankan, jika kau punya rencana lain dan berfikir itu lebih baik untuk mengundurkan diri, aku tidak akan menahanmu lagi" tuan Oh berucap dengan tatapan tegas sang ayah.

"tapi, jika kau hanya bertindak sembarangan, aku tidak akan menyetujuinya" tambah tuan Oh, Sehun hanya diam sambil menatap makanannya. Ia tampak berfikir sejenak mendengar perkataan ayahnya, ia memalingkan wajahnya sebentar lalu tertunduk

"tapi! Kau akan sendirian dirumah, dan aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkanmu dad"jawab Sehun, tuan Oh tetohok sambil menyembunyikan tawanya

"bagaimana mungkin, ah matamu seperti mata ibumu. Dan kau hanya melihatku sebagai laki-laki tak berdaya eoh?" tuan Oh tersenyum kecil, ia terlihat seperti ayah dengan kelembutan hati. Walaupun semenjak ditinggal istrinya ia merasa sedikit kesepian

"bukan begitu" suara getar dari ponselnya mengalihkan perhatian Sehun. Layar persegi itu tampak bercahaya lalu Sehun mengambilnya dan melihat ada pesan masuk. Matanya sedikit terbuka melihat isi pesannya

Oh Sehun, ini Kim Jong In. Jangan kembali ke sekolah terlalu larut, jika gerbangnya sudah di tutup mungkin kau tidak akan bisa masuk lagi. Jika kau sudah kembali tolong hubungi aku.

Kim Jong In

'banyak sekali missed call dan aku tak mendengarnya sama sekali' gumam Sehun

"siapa itu?" tanya tuan Oh

"seseorang dari sekolah, memberitahuku untuk segera kembali" jawab Sehun sambil mengecek ponselnya.

...

Setelah ia menjawab perkataan Jong In, ia dengan tampang dinginnya berjalan melewati Kim Jong In yang sudah memerah wajahnya karena marah.

'Mothef... bocah satu itu benar-benar berani berbicara seperti itu' ucap Jong In kesal wajahnya bak kepiting rebus, entah karena kesal atau cuaca memang agak panas hari ini.

"yea...yea... lakukan apapun yang kau suka, itu bukan urusanku! Bukan urusanku!" ia pergi meninggalkan taman sambil kesal dengan menghentakkan kakinya keras-keras karena kesal persis seperti anak TK yang tidak dapat permen. Langkahnya berhenti, wajahnya benar-benar lucu sekarang bibirnya ia poutkan karena masih kesal dengan tindakan bocah barusan. Sebuah pesan pada ponselnya membuat getaran, ia membaca pesan yang dikirimkan pembimbingnya

Jong In setelah kelas selesai temui saya di kantor~

Sesuai dengan perintah dari sang pembimbing, Kim Jong In pergi ke ruang guru setelah kelas selesai. Ia menyandarkan tangannya pada pembatas meja guru. Setiap meja akan ada pembatas agar tidak membuat sang guru lebih asyik mengobrol dibandingkan bekerja.

"jadi bagaimana hubunganmu dengan grub 2?" tanya sang pembimbing

"lumayan" jawab Jong In "semua siswa di orientasi sangat bersemangat sekali" ya Jong In bisa bohong sedikit soal Sehun si bocah sialan itu.

"kau ingat Oh Sehun siswa yang sangat tinggi itu? dia sudah absen dari kemarin" pembimbing mengalihkan pandangan dari layar komputer pada Jong In

"ah aku ingat, dia diam-diam kabur dari sekolah baru-baru ini" Jong In meletakan dagunya pada lengan kiri yang ia sandarkan pada pembatas meja.

"tentang itu, aku bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu, aku sedikit khawatir dia terlihat tidak cocok dengan semuanya. Tadinya aku ingin membicarakannya denganmu" ucap sang guru sambil membenarkan letak kacamatanya

"apa? Dia kan bukan anak kecil lagi, apa yang bisa aku lakukan untuknya?" protes Kim Jong In

"hmm berikan senyuman keibuan, atau aku tidak tahu?" Jong In mencoba memperagakan apa yang ia ucapkan, wajahnya ia paksakan sebaik dan semanis mungkin saat bibir itu ia tarik menjadi tersenyum.

"sebetulnya,..." sang pembimbing menjeda ucapannya "ibunya sudah meninggal dalam kecelakaan saat mereka dalam perjalanan berlibur" Jong In tertohok mendengarnya,

"apa?"

"ayahnya meneleponku, dan berkata ia kembali ke rumah kemarin" Jong In seakan hilang kesadaran memandang sang pembimbingnya

"hah?"

"itu karena ayahnya sendirian dirumah dan ia tidak bisa berhenti khawatir jadi ia kembali kerumah"

'jadi dia bukan kabur hanya untuk main-main?' Jong In menyalahkan dirinya atas apa yang ia ucapkan pada Sehun sebelumnya

"benarkah" hanya itu jawaban yang bisa berikan sebagai tanggapan

"semenjak ia kecil Oh Sehun itu pendiam dan tak banyak bicara, ibunya meninggal dan itu membuatnya terpukul. Ditambah sekarang ia berada di tempat yang tidak familiar. Jadi ayahnya lebih khawatir" sang pembimbing menyandarkan punggunya pada kursi yang ia duduki

"menjadi orang tua harus seperti itu, ketika anaknya pergi keluar mereka selalu gelisah"ia melirik Jong In yang kini justru duduk di pegangan kursi sebelah mejanya.

"tetapi kau adalah anak muda yang dapat dibanggakan dan pantang menyerah" pembimbing itu tersenyum manis sekali. "aku adalah seorang guru dan aku tidak dapat berbuat banyak untuk membantunya. Jadi sebagai asisten grub itu adalah tanggung jawabmu" pembimbing cantik itu berdiri sambil memegang bahu Jong In meyakinkan.

"kau harus banyak memperhatikannya, dan banyak mengobrol dengannya"

"eh"Jong In kaget mendengarnya lalu ia menunduk mencerna apa yang sudah dijelaskan pembimbing panjang lebar barusan

"hmm baiklah aku mengerti" ia menunduk 'damn, dan aku baru saja mengutuknya'

...

Malam hari ini terasa sedikit berbeda, setelah pembicaraannya dengan pembimbing siang tadi membuat Jong In sedikit berfikir. Ya walau otak kecilnya sulit memikirkan banyak-banyak, ia memilih pergi keluar dengan Chanyeol sang ketua Osis. Ia memilih untuk makan disebuah restoran yang tak jauh dari sekolah untuk meluapkan kekesalannya. Chanyeol adalah orang satu-satunya yang mengerti dalam dan luar seorang Kim Jong In, bersamanya seakan tak ada rahasia yang harus ditutupi.

"Chanyeol!" Jong In menghentakan gelas minumannya di meja sedikit keras.

"kau bilang kau akan memeberiku tugas baru, setiap hari aku harus datang ke pelatihan. Aku bisa mati karena sengatan sinar matahari kau tau! Dan banyak sekali masalah" teriak Jong In Kesal

"benarkah?tapi saat itu kau bilang kau bosan dan mengingan sesuatu yang baru untuk mengatasi rasa bosan" Chanyeol hanya tertawa mendengarnya, sambil mengaduk-aduk masakan didepannya.

"hmmp" Jong In menumpu pipinya pada pinggiran meja sambil mendesah sebal

"aku hanya tidak ingin..." ia menundukan wajahnya pada belahan tangan yang ia letakan dimeja. Chanyeol memandang tak percaya pada Kim Jong In lalu tersenyum kemudian. Chanyeol mengurulkan tangannya berniat untuk mengusak rambut pria didepannya mencoba untuk menenangkannya.

"sebenarnya kau tidak perlu mengkhawatirkannya" ucap Chanyeol Jong In memandangnya dari balik lengannya

"hmm?"

"aku dengar soal anak baru itu, sejak ia menjadi siswa baru, apa semuanya bisa selesai? Jauh dilubuk harinya ia mengerti apa yang ia lakukan" jelas Chanyeol. Chanyeol terlihat dewasa jika sudah berbicara seperti ut

"tidak perlu kau terus memperhatikannya, kau bisa tenang sedikit" Chanyeol tersenyum sorot matanya yang syarat akan ketenangan membuat orang yang didekatnya ikut damai. Jong In berfikir sebentar memikirkan kejadian beberapa waktu soal ia menantang dan berkata dengan nada kesal padanya.

"baiklah, sebetulnya aku sedikit keberatan soal dia dan itulah alasanku bertindak seperti ini" kelapanya bangkit dari meja menjadi bertumpu pada ujung tangannya.

"itu karena ia berkelakuan sangat buruk, dan itu membuatku sangat marah"ucap Jong In

"padahal jika ia adalah junior dengan kelakuan yang baik, mungkin aku tidak akan memperlakukannya seperti ini" Jong In mempoutkan bibirnya sambil memainkan sumpit di atas makannya

"hahah, kau selalu keras kepala. Minta maaf padanya besok ok?" tawa Chanyeol

"tidak mau, aku akan tetap berpura-pura tidak tau tentangnya" Jong In itu seperti anak kecil yang keras kepala. Tetapi jika di depan anak baru dan teman-temannya maka ia akan menjadi Jong In yang ramah sekaligus menyeramkan.

"kenapa juga aku harus menundukan kepalaku dan meminta maaf pada bocah seperti dia" ucapnya lagi

"hahaha kau hanya perlu mengatakannya"

"ya Park Chanyeol kau sialan, berhenti tertawa" dan malam itu mereka menghabiskan waktunya di tempat makan sambil diiringi oleh sesi curhat tuan Kim.

Paginya datang, hari berikutnya masa orientasi dan hari ini seperti hari sebelumnya cuaca cerah dengan backgroundnya dan awan-awan yang akan mengitari sekitarnya. Jong In sudah siap dengan Hoodie pinknya ia berjalan menuju lapangan, ia tetap harus mengatakannya bagaimanapun caranya.

"ah haari ini dia datang untuk kegiatan orientasi" ia melirik pada Oh Sehun yang sedang duduk dan berteduh di dekat pohon rindang pinggir lapangan. Jong In mencoba menghampirinya dan duduk disamping tubuh tinggi itu, ia menyodorkan sebotol minuma dan mengintrupis perhatian Sehun.

"minumlah, hari ini sangat panas" ucapnya tapi Jong In sama sekali tak menoleh pada Sehun, ia memberikan minuman tanpa melihatnya. Oh Sehun menerimanya dalam diam,

"kemarin, apa yang aku bicarakan sangat menganggu aku sedikit banyak bicara. Aku merasa tak enak, jadi maaf" Jong In masih tak memandang Sehun dan ia justru menggosok punduk kepalanya karena gugup.

"ah bukan masalah, tidak perlu difikirkan" jawab Oh Sehun yang sukses membuat Jong In menolehkan kepalanya

'waw diluar ekspetasi'

" ya bagaimanapun, aku tetap berharap kau bisa bersikap baik pada peraturan sekolah. Dan kau bisa berkomunikasi dengan teman-temanmu"Jong In masih mengusak punduk kepalanya

"jika kau merasa tidak terlalu dekat dengan teman sekelasmu...-

Kau bisa mencariku aku adalah asisten grub" ucap Jong In dengan suara kecil di beberapa akhir kalimat. Ia merasa sangat tidak nyaman mengatakannya, ia sampai berkeringat karena berbicara dengannya.

'apa yang sedang ku bicarakan, aku berharap kau tidak mendengar apapun!' gumam Jong In

"thanks" ucapnya, ya walaupun Sehun hanya membalasnya dengan 1 kata sedangkan Jong In menjelaskan panjang kali lebar dengan mulut berbusa serta gugup yang amat sangat Jong In masih bahagia karena ia membalas ucapannya.

"okey" Jong In akhirnya sedikit tenang setelah mengutarakan kata maaf, keduanya saling pandang lalu Kim Jong in tersenyum amat manis pada pria dihadapannya ini.

"okeh aku harus pergi sekarang" satu tangannya terulur menggapai pundak lebar Oh Sehun dan ia pamit untuk pergi

'setelah aku mengatakannya dengan lantang aku merasa tenang'

"sunbae... kau akan pergi sekarang

"hmm ne"

"anginya sangat kuat sekarang"

"mungkin angin typhoon segera datang" Sehun memperhatikan Jong In yang sedang berbicara dengan siswa perempuan, terlihat sangat akrab.

"kalian hanya terlalu berharap hujan akan turun kan? Hahha" Jong In tertawa dan seketika membuat seorang Oh Sehun menghentikan acara minumnya.

...

Jika kalian tahu jika kegiatan orientasi selesai, akan ada acara pengakraban dimalam hari. Itu adalah acara dimana para junior dan senior merasa nyaman dan akrab satu sama lain. Itu juga menjadi ajang dimana para senior akan menggaet para junior wanita. Dan sebaliknya junior laki-laki bisa menjahili para seniornya.

"hahah bagaimana rasanya mendapatkan pacar untuk pertama kalinya?"ucap salah satu senior dan dilanjutkan gelak tawa dari semuanya.

"pertanyaan ini sangat bagus hahaha"

"hmmm aku belum pernah mempunyai pacar" ucap junior dengan gugup, astaga betapa polosnya dia. Gelak tawa masih terdengar dari tengah lapangan. Kebahagian benar-benar terpancar disana.

"bohong.."

"okeh kau bisa menuliskan nomormu cepat" suasana bahagia terpatri jelas dengan gelak tawa mewarnai.

"sunbae..."

"hmm" Jong In menoleh saat seorang gadis menepuknya

"setelah orientasi selesai apa kau tetap menjadi asisten grub?" tanyanya

"hmm setelah sekolah resmi dimulai, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan"

31

Antara 1 sampai 31

"lalu kita tak bisa melihatmu lagi" tanyanya

"tidakk juga, kau bisa menemuiku jika kalian butuh bantuan. Kalian tau dimana kalian bisa menemukanku kan"

Suara para siswa masih mendominasi di tengah percakapan antara Jong In dan juga siswi barunya.

Apa kau punya nomorku

Tentu

"tch" seorang siswa baru dengan tampang kesalnya medecak saat melihat bagaimana para wanita itu mendekati Kim Jong In seniornya.

15

Antara 1- 15

Ah sunbae kau harus memilih nomornya

"hmm 12 aku memilih 12" teriak Jong In girang

"wow lucky"

"hahah jadi ini giliran hahah" ia mengucek mata di balik kacamatanya lalu ia berdiri dan menghampiri salah satu juniornya.

"sunbae, apa yang akan kau pilih truth or dare?" tanyanya

"hmm aku pilih truth" jawabnya. Jadi para siswa sedang memainkan permainan truth or dare dan sekarang giliran Jong In yang mendapatkan pertanyaan

"oh okey, then wh...

"hey Sunbae, apa benar kau itu gay?" teriak salah satu junior menyelak pertanyaan dari junior yang seharusnya bertanya. Bagai di tancap jarum tajam Jong In dibuat kaget menddengarnya, jangankan Jong In bahkan semua siswa disana saja sudah kaget dan geram mendengarnya.

"hahah kau sangat kejam"

"benarkah?" kedua junior di ujung sedang tertawa akan apa yang mereka tanyakan. Keduanya seakan berniat untuk menjatuhkan pamor dari Kim Jong In. Tapi mereka tidak tahu apa-apa soal Kim Jong In yang dapat memutar balikan segala keadaan dengan cepat.

"kenapa? Apa kalian tertarik padaku" wajahnya dibuat se evil mungkin sudut bibirnya tertarik sedikit. Semua orang mentertawakan junior yang memberikan pertanyaan itu. see kalian bisa melihat bagaimana seorang Kim Jong In bisa merubah keadaan dengan cepat. Wajah dari junior itu terlihat pucat kaena malu.

"hahahah kau tidak ada kesempatan" ucap para gadis dan siswa lain

"ck sial, lelucon apa itu aku normal ya normal!"

"sudah sudah~"

"hummpp" Jong In memberikan smirk yang menyeramkan sekali.

"waw sunbae kau benar-benar, malangnya nasib kita!" ucap para gadis

"sunbae, apa kau punya kekasih saat ini?"

"coba tebak" jawab Jong In tersenyum

"okey, mari kita lanjutkan" teriak Jong In

69

Haha giliranmu

99

Sunbae giliranmu lagi

"ha~" Jong In mendesah mendengarnya

"tetapi saat ini, kau hanya boleh memilih dare" ucap lawannya

"okey aku tidak akan kabur tenang saja" si lawan tertawa karena ia mengagumi Jong In

"cari orang ke 6 yang duuduk di sebelah kirimu dan gendong bagai seorang putri" semuanya bengong mencerna ucapan si gadis itu. 6 orang di sisi kiri? Jong In merubah ekspresi wajahnya dari anak kecil menjadi seorang laki-laki manly.

"apa pria straight kecil ini mau bekerja sama denganku?" tanya Jong In mengulurkan tangannya pada pria yang memberikan pertanyaan padanya tentang gay tadi.

"what the..." eskpresi wajah si junior benar-benar lucu, ia terlihat ketakuta dan semua orang menertawainya

"cie cie di lamar tuh..."

"fuck! Apa-apaan ini, aku tidak mau main game ini lagi"dan selanjutnya junior itu berjalan meninggalkan kerumunan ditengah lapangan

"wah dia seperti itu ternyata. Kenapa dia jadi marah-marah tiba-tiba."

"ya guanlin... apa kau bercanda keterlaluan" teriak temannya pada pria yang berjalan meninggalkan grub.

"sunbae,, aku minta maaf sola itu"

"tidak masalah, but orang ke 6 sudah pergi sekarang aku tidak bisa berbuat apapun" Jong In memberikan ekspersi seperti tersenyum dengan juluran lidah.

"ah tunggu sebentar, jika guanlin pergi makan orang keenam adalah, Oh Sehun" ekpresi Jong In tidak terbaca saat mendengar nama itu.

"sunbae, bisakah kau menggendongnya bagai seorang putri?"

"kau ingin aku mati ha?" protes Jong In, ia melirik pada Sehun

"oh ini akan sangat lucu! Oh Sehun sebagai pasangannya akan luar biasa!" semua orang memperhatikannya tetapi orang yang diperhatikan hanya diam sambil menatap lurus pada semua orang sudah mentertawakannya.

'wow... ia melihat kearahku' gumam Jong In saat mata tajam itu melirik kearahnya membuat Jong In gugup

"kenapa kau memanggil Sehun? Bagaimana bisa ia melakukannya"

"lupakan"

"hahah jangan di permasalahkan, ayo kita ganti "dare" dengan hal yang mudah untuk dilakukan" Jong In berbalik untuk kembali ke tempat duduknya, tetapi Oh Sehun sudah beranjak dari tempat duduknya

"atau..." Jong In berbalik

"hmm" Sehun berjalan mendekat lalu menggendong Jong In bak princess sebelum dirinya berbalik sempurna. Wajah kaget dan tak percaya Jong In saat dirinnya tiba-tiba sudah berada di atas tangan kekar Oh Sehun. Semua orang berdecak kagum melihatnya.

Wwhoaaaaa

Sehun? Jangan ditanya wajahnya datar bak tembok yang baru dicat.

"fuck! Apa yang kau lakukan, siapa bilang kau boleh menggendongku?" teriak Jong In meski menjaga suaranya agar tak terdengar yang lain.

"turunkan aku" Jong In bak orang kesetanan sekarang

Awhnn, Oh Sehun menggendong Kim Jong In. Sepertinya lebih baik "dare" dirubah menjadi sesuatu yang lebih baik

Ah benar

Sangat mempeson

Wahhh

Semua siswa sudah siap dengan ponselnya masing-masing berniat mengabadikan momen tersebut.

Tidak perduli, sunbae meskipun kau tidak bisa melakukannya kau dengan cepat memperbaikinya

Jong In sudah melarang semua siswa untuk tidak memotretnya

"hey hey hey jangan memotret" ah Jong In menutup wajahnya malu.

'dan ini pertama kalinya aku digendong tangan seseorang. Sial! Terlebih oleh pria straight! Bagaimana ini sangat memalukan' gumam Jong In

"jangan bergerak" Jong In kaget saat dirinya hampir saja terjatuh

"letakan tanganmu pada pundakku" ucap Sehun

"ha?" Jong In memundurkan kepalanya saat Sehun memajukan kepalanya saat berbicara, ia melirik ke belakang punggung Sehun dan benar ia tidak menyentuh pundak Sehun sama sekali dan membiarkan lengannya mengambang di udara. Keduanya menatap satu sama lain, lalu Sehun memutus tatapan lebih dulu. Jong In tersenyum

"kekuatan lenganmu tidak terlalu buruk, lalu maaf dan terima kasih soal ini" tangan Jong In akhirnya menggapai pundak tegap Sehun menyeimbangan kan tubuhnya agar tidak terjatuh. Lalu keduannya kembali menatap satu sama lain dengan jarak yang sangat dekat.

...

Malam sudah lebih larut dan semua siswa dianjurkan untuk kembali ke kamar masing-masing. Lapangan sekolah juga sudah sepi dan lampu-lamu mulai dipadamkan, hanya akan ada beberapa lampu yang menyala menyinari jalan setapak. Dibalik kegelapan itu suara nafas dan sepatu yang tergesek dengan tanah lapangan terdengar. Sehun sedang berlari mengitari lapangan, berolahraga ditengah malam sambil menelepon sang ayah.

"hello dad" ia berhenti sejenak, nafasnya terasa memburu

"aku baru saja menyelesaikan lariku, yea orientasi sudah selesai. Bagaimana denganmu disana?" tanyanya

'...'

"minggu ini aku akan pulang"

'...'

"tidak, pokoknya minggu ini aku harus pulang" ucapnya tegas

'...'

"tidak ada apa-apa disini, tidak masalah jika aku pergi sebentar" Sehun mendengakan suara ayahnya dengan seksama pada headphone ditelinganya. Ia memandang sekeliling lapangan yang gelap dan sepi.

"ya tidak banyak" ucapnya sambil berjalan kembali menyusuri lapangan.

Disisi lain, Jong In masuk kedalam asrama putra. Ia mendorong pintu masuk dengan perlahan

"ha... anak muda jaman sekarang bermain hingga larut seperti ini" ucapnya sambil membuka pintu asrama

"dan aku tidak perlu bangun pagi esok" ia meregangkan tubuhnya yang terasa pegal karena 3 hari ini ia mengurus sesuatu banyak sekali. Saat ia meragangkan beberapa anggota tubuhnya, matanya melirik guanlin sedang memilih minuman pada vending mechine didekat asramanya. Matanya menyempit dengan tatapan sinis sekali

"ah sepertinya aku melupakan sesuatu" Jong In berjalan ke arah guanlin

"yack... guanlin tunggu sebentar" teriak Jong In. Guanlin menyandarkan tubuhnya pada vanding machine sambil satu tangannya masuk kedalam saku. Wajahnya dibuat segarang mungkin saat ia berbicara pada seseorang dihadapannya

"apa yang membuatmu memanggilku?" tanyanya

"semua orang bergembira saat ini, kenapa kau pergi begitu saja?" tanyanya

"sepertinya baik-baik saja, tetapi jika kau bertindak seperti itu itu akan membuat teman grub menjadi menyebalkan. Kenapa kau tampak kesal? kau terlalu mendramtisir" ucap Guanlin tak memperdulikan jika Jong In adalah seniornya. Tubuhnya dibuat bersandar pada mesin dan dirinya sibuk dengan ponsel ditangannya enggan melihat Jong In.

"kau punya masalah denganku?" tanya Jong In

"tch" Guanlin tersenyum meledek

"aku hanya ingin melihat kau malu, bagaiman?" Guanlin menyilangkan kedua lengannya didada lalu melangkah maju

"dan bagaimana bisa orang sepertimu menjadi asisten grub hah? Kau pasti menipu banyak orang, terlihat olehku" ucapnya sinis, Jong In hanya diam sambil memasukan kedua tangannya pada saku celena pendeknya.

"tidakah itu akan berfek buruk pada pendatang baru? Mati kau"

"pff" Jong In menunduk sambil memegang kepalanya

"kau sangat menyenangkan"

"apa?" Guanlin mulai meradang, belum sempat ia melangkah tubuhnya lebih dulu terdorong hingga menubruk vanding mechine. Minuman yang dipegangnya jatuh hingga isinya tumpah.

"sekarang. Semacam itu belum pernah kudengar dalam waktu yang lama. Ohh aku sudah bersikap baik dengan banyak orang dengan sifat sepertimu!" Jong In menekan tubuh guanlin dengan kuat, tangan kanannya mencekik leher guanlin dan guanlin tampak kesakitan. Wajah Jong In sangat santai dengan senyumannya, khas seperti psychopat.

"darimana kau dapat sifat dan kelakuan seperti itu eoh?" tanya Jong In

"kenapa kau tidak melihat kaca dan melihat apa yang kau lihat disana lalu kembali dan ceritakan itu padaku" tangan Jong In beralih dari leher ke pipi Guanlin.

"ungh.."keluh Guanlin

"atau jangan-jangan kau hanya ingin mendapatkan perhatianku?" tanya Jong In,kepalanya ia miringkin senyumannya sedari tadi belum menghilang dari sana. Justru membuat kesan menakutkan lebih terlihat dari sebelumnya.

"berhenti dengan segala omong kosong ini, dasar psycho!..."Guanlin menghentak tangan Jong In, lalu ia pergi meninggalkan Jong In

"pelan-pelan nanti kau jatuh" belum satu menit Jong In bicara, Guanlin terjatuh di lantai akibat air yang tumpah dan itu sukses membuat Jong In tertawa.

"fucking idiot" ia melanjutkan aktivitas sebelumnya, kembali ke asrama tetapi saat ia berjalan ia justru berpapasan dengan Sehun yang baru saja selesai berolahraga. Berniat untuk menyapanya tetapi Oh Sehun hanya berjalan melewatinya membuat Jong In bengong

"hey apa ada masalah?" tanyanya

"ah tidak ada! selamat malam" tanpa menoleh ia mengucapkan selamat malam dibarengi dengan mengangat tanganya menandakan ia baik-baik saja. Sehun menunduk dan membalik badanya, ia berjalan mendekat pada Jong In. Tangan kanannya memmbalikan tubuh Jong In, karena tubuh Sehun yang tinggi Jong In harus menolehkan kepalanya keatas hanya untuk bertemu dengan mata Oh Sehun.

"hmm?" Sehun menyodorkan segelas kopi yang ia beli

"untuk apa ini? Untukku?" tanya Jong In menerima pemberiannya

"hmm"jawab Sehun lalu berjalan meninggalkan Jong In

"oh thanks" balas Jong In saat Sehun sudah menghilang di belokan. Semua ini membuatnya bertanya-tanya. Ia memandang segelas kopi ditangannya lalu tersenyum.

"bocah itu sedikit-sedikit menjadi cukup baik" Jong In berjalan sambil meminum kopinya

"ugh... sangat manis terlalu banyak gula."

/

TBC

gimana ceritanya? boseninkah? hmm?

jangan lupa review like and follow

jika ada salah kata typo2 ya mengertilah aku mengerjakannya SKS soalnya~ annyeong sampai ketemu di chap 4