Title : Am I A Papa?

Author : Descaqueen

Genre : Family and Romance

Rating : T

Cast : Bangtan Sonyeondan

And other

Disclaimer : All them belong to themselves, family and GOD. But story is mine.

Warning : GS,Typos yang bertebaran, Geje , cerita yang pasaran, No bash! Don't like it? Don't read it please. ^^

Summary :

Sanggupkan Namjoon menjalani peran barunya sebagai papa? Bagaimana dia menghadapi Yoongi yang dingin dan pemarah, Hoseok yang Cengeng dan ceroboh, si kembar Jimin yang pemalu dan Taehyung yang hiperaktif dan juga Jungkook si bayi. Serta si Gadis super cerewet bernama Kim Seokjin. Satu yang pasti dunianya sudah tak seperti dulu.

** Descaqueen Present **

Am I A Papa?

Dream, Reality

"Nuna kita mau kemana sih?" Jimin yang berdiri disebelah kiri menarik ujung baju Seokjin yang nampak celingukan di pinggir jalan.

"Kesuatu tempat" jawab Seokjin singkat

"Nuna Taetae lapal" rengekan disebelah kanan Seokjin dari Bocah yang masih belum bisa menyebut R dengan benar membuat Seokjin menunduk

"Aish, ini nih kalau tidak nurut sama nuna. Nuna kan bilang Taetae harus banyak makan, malah katanya kenyang. Sekarang malah lapar" gerutu Seokjin sedangkan bocah yang menerima gerutuan hanya memanyunkan bibirnya.

'Tadi kan memang kenyang, nanti kalau Taetae muntah nuna juga malah-malah" balas Taetae tak terima.

Seokjin memutar matanya malas. Bocah itu memang paling jago memutar keadaan. Daripada mereka berdebat dipinggir jalan Seokjin memilih mengangsurkan sepotong roti dari dalam tasnya. Yang diterima Taetae dengan mata berbinar.

"Makasih nuna" Seokjin hanya bisa tersenyum. Anak-anak ini selalu membuatnya kesal dan bahagia disaat bersamaan.

"Chimchim mau roti juga" tawarnya dan yang ditanya hanya menggeleng.

"Chimchim cudah kenyang. tadi minum cucu picang" Nah kalau Taehyung susah menyebut R Maka Jimin lebih parah lagi masih susah menyebut R dan S yang berakhir menjadi L dan C. Padahal usia mereka sudah 6 tahun. Setahun lagi mereka akan bersekolah dasar. Dan itu kali pertama mereka bersekolah. Harusnya mereka kini mengenyam pendidikan Taman Kanak-kanak tapi karena Panti kekurangan biaya jadi hanya Seokjin yang mengajari mereka di Panti. Bersyukurlah, Seokjin ingin sekali berterima kasih pada orangtua si kembar karena telah membuat dua anak yang pintar untuk seusianya. Meski Seokjin juga ingin sekali memukul kedua orang tua bodoh yang tega menelantarkan anaknnya.

Mereka tengah berdiri di depan halte. Seokjin tadinya ingin duduk sejenak namun melihat banyak yang tengah menunggu di halte itu mending dia berdiri. Karena akan kerepotan jika nanti mereka berebut tempat duduk di bus. Karena demi tuhan Seokjin membawa dua bocah kecil di kedua genggamannya. Dan seokjin akhirnya bernapas lega saat dia berhasil mendapatkan satu tempat duduk untuk jimin. Sedangkan Taehyung lebih baik duduk dipangkuannya. Selain menghemat ongkos, Seokjin bisa mengukung tubuh aktif Taehyung yang kalau tak di peluk erat akan bergentayangan kemana-mana. Jujur saja, menghadapi Taehyung sangat menguras tenaga.

Perjalanan terasa lama. Karena memang lokasi yang dituju sangat jauh. Mereka start dari pinggir kota seoul menuju hingar bingar kota Seoul yang menawarkan dunia hedon masyarakat perkotaan. Suara dengkuran halus Taehyung membuat senyum diwajahnya tertarik. Dagunya sengaja disandarkan di kepala Taehyung. Matanya melirik Jimin yang mulai terkantuk-kantuk.

"Jimin tidur saja. Nanti kalau sudah sampai nuna bangunkan" Jimin menggeleng lemah, mengucek matanya sambil sesekali melirik Taehyung. Seokjin sedikit terkekeh.

"Mau tidur dipelukan nuna juga?" godanya dan Namja kecil itu mengangguk lemah. Dia juga ingin dipeluk Seokjin Nuna untuk yang terakhir kalinya. Karena entah kenapa perasaan namja kecil itu mengatakan bahwa ini adalah kali terakhir mereka bertemu. Nunanya akan membawa mereka pergi jauh. Dan meninggalkan mereka disuatu tempat seperti teman-teman pantinya yang lain. Namun daripada menentang kali ini namja kecil itu pasrah. Meski masih kecil dia mengerti bahwa nunanya tidak bisa bersama dirinya. Nuna nya akan memiliki orang lain. Keluarganya mungkin. Dan memikirkan Seokjin berbahagia dengan keluarganya sedikit membuat namja kecil itu tercubit sedih.

"Kok Chimchim nangis?"

"Ya udah, Jimin berdiri dulu, Biar Taetae tidur dikursi." Seokjin menarik tangan kecil Jimin bangkit. Lalu menundukkan Taehyung dikursi setelah menepuk paha namja itu pelan takut Taetae terbangun. Lalu merelakan ranselnya menjadi bantalan Taehyung masih tertidur nyenyak. Dirasa Taehyung sudah di posisi pas, Seokjin buru-buru mengangkat Jimin kepangkuannya. Jimin menangis tanpa suara dan itu membuatnya dua kali lebih khawatir.

"Chimchim kenapa menangis?" suara Seokjin melembut mengusap surai kecoklatan Jimin. Jemarinya menghapus riak-riak kecil air yang mengalir di pipi tembam Jimin. Seokjin sengaja menunggu sampai Jimin tenang.

"Jimin lelah? Sabar yah sayang" Jimin tak menjawab malah membalikkan badan memeluk leher Seokjin dalam. Wajahnya tenggelam dalam ceruk leher Seokjin. Dan kali ini isakan lirih dapat didengar Seokjin.

"Jimin sakit yah? Jimin liat nuna.. jimin"Seokjin menggoyangkan bahunya khawatir. Jimin malah tak melepaskan pelukannya

"Nuna hiks nuna hiks, jangan tingalkan chimchim" satu perkataan Jimin mampu menusuk perasaannya. Anak yang dia rawat dengan kedua tangannya tengah memelas untuk tak ditinggalkan. Tapi Seokjin tak bisa berbuat apa-apa yang ada dia memeluk Jimin dengan erat menciumi helaian rambut Jimin dan berusaha keras untuk tak menjatuhkan kristal bening yang menampung penuh dikelopak matanya.

'Mianhe Jimin-ah, Taehyung-ah'

.

.

.

Yoongi menyuapkan bubur yang baru saja dihangatkan Namjoon. Akhirnya Namjoon bersedia menghangatkan saat anak itu mengatakan ancaman tersirat bahwa dia bisa saja menghancurkan dapurnya, bahkan membumi hanguskan apartemennya hanya demi bubur yang hangat. Karena Yoongi dan Dapur adalah musuh besar.

"Hyung, makan yang banyak" Cengiran lebar Hoseok hanya di balas anggukan tak berselera Yoongi. Hoseok nampak bersemangat memakan jjajangmyunnya.

"Sakit karena kelaparan? Kekanakan sekali" meski Namjoon tengah menyibukkan diri di sofa di temani carikan kertas dihadapannya Yoongi tahu sekali bahwa dia tengah disindir oleh Laki-laki dewasa itu.

"Aku memang masih anak-anak" balas Yoongi tak terima.

Dan Namjoon leih memilih fokus kelembar-lembar lirik yang akan menjadi track di album barunya.

"Hem, hyung makanannya enak yah. Terima kasih Aboeji atas makanannya" Hoseok masih tersenyum cerah sedangkan Namjoon tak mempedulikannya sama sekali. Yoongi yang melihatnya merasa kasihan. "Sudahlah Hoseok, kau makan saja. Daripada kau harus bicara dengan tembok." Dan Hoseok cuman menunduk takut kalau sampai Namjoon marah dengan ucapan tak menyenangkan Yoongi. Kalau mereka adu mulut lagi itu menjadi salahnya. Namjoon mendengar perkataan Yonggi itu namun berusaha tak diacuhkannya. Sekarang Namjoon bertekat tak menganggap kedua anak itu. Tapi tingkah keduanya selalu saja membuatnya berpaling. Ingin menabok mereka satu persatu. Apalagi Yoongi, yang sejak awal seakan mengibarkan bendera perang kepadanya.

Dengan cepat kilat mereka menyelesaikan makanan pertama mereka di Apartemen sang ayah. Yoongi masih punya rasa berterimakasih kepada laki-laki yang telah memberi mereka makan dengan mencuci piring bekas makannya dan Hoseok. Membuang makanan yang tidak mereka makan karena takutnya hanya akan membusuk dan basi. Hoseok setia disampingnya. Meski tak membantu sama sekali. Tentu saja karena Hoseok tak terbiasa dengan kegiatan itu. Namun demikian Hoseok siap disuruh Yoongi kesana kemari. Mengambil sabun cuci piring misalnya. Hoseok tak berniat sama sekali meninggalkan Yoongi. Dia tak cukup keberanian untuk kembali kekamar. Kalau dia nekat dia sama saja melangkah ke mulut buaya. Karena untuk kekamar dia harus melewati sang ayah yang duduk di sofa. Hoseok merasa takut setiap berhadapan dan berdekatan dengan Namjoon.

"Ayo kekamar" suara Yoongi memecah keheningan diantara mereka. Mereka baru bertemu hari ini namun mereka berusaha menghilangkan kecanggungan diantara keduanya. karena mereka yakin, mereka butuh satu sama lain menghadapi Sang ayah yang nampaknya tak menerima mereka sama sekali. Senasip Seperjuangan bukan?

Hoseok mengangguk dan tersenyum. Baru sehari tapi Yoongi yakin bahwa Hoseok anak yang berkelebihan semangat. Meski dia tersenyum ada banyak ketakutan yang dirasakan bocah yang 2 tahun lebih muda darinya. Dengan berjalan beriringan mereka berjalan melewati Namjoon. Berulang kali, Hoseok mempercepat langkahnya berusaha mengimbangi Yoongi. Yoongi nampaknya berjalan sambil sedikit berlari. Meski terlihat Sok dan berani, Yoongi jujur saja juga takut pada Namjoon. Dia anak-anak bukan? Jadi wajar saja dia takut.

"H-Hyung" nada pelan dikeluarkan Hoseok yang pada akhirnya karena terlalu takut di tinggal Yoongi, menjadi tersandung oleh kakinya sendiri. Anak itu jatuh tepat dihadapan meja Namjoon yang dipenuhi kertas dan juga segelas kopi dingin yang setia di meja Namjoon. Sebuah debuman bisa dirasakan Namjoon. Saat Hoseok memandang kedepan saat itu pula ketakutannya bertambah 100 kali lipat saat matanya bertatapan langsung dengan mata Namjoon. Badannya bergetar ketakutan. Mencoba bangkit dengan tergesa tak peduli gerakannya menanbrak apa saja.

"M-Mi-mian"

Byurrrr

"Oh gooood,, kertas laguku.. YAAAAKKK!"

"HUWEEEEEEEE MIANHEEE HUWEEEEE"

.

.

Namjoon kembali memijit kepalanya yang migrain kanan kiri atas bawah. Jika saja kepalanya sangat tak penting dia akan senang hati meledakkannya ketimbang menanggung rasa sakit yang tak berujung.

"Kau.." telunjuk mengarah ke Hoseok yang tersedu-sedu disamping Yoongi yang memegang erat lengannya. Posisinya masih seperti tadi. Hoseok tak berani alias tak bertenaga.

"Bisakah turun kan sedikit nadamu Daddy, He is so scared." Yoongi mencoba membela Hoseok.

"SHUT UP" bentakan Namjoon kepada Yongi dan itu membuat kedua anak itu terkejut dan bahkan Yoongi tak menatap Namjoon. Di lepasnya genggamannya dilengan Hoseok dan tangannya mulai bergerak asal. Namjoon melihat itu. Sedikit merasa bersalah namun kejadian ini tak bisa dengan mudah dimaafkan. Dengan kesal di rapikan kertas-kertas liriknya. Menyelamatkan yang bisa diselamatkan dari tumpahan kopi yang disenggol Hoseok tadi. Dan yang sudah tak bisa diselamatkan dibuangnya ketempat sampah dengan kasar. Setelahnya mulai membersihkan tumpahan di meja tanpa peduli dua anak yang satu menangis teriak dan satunya gemetar tak karuan.

"Huhhh" helaian napas panjang penuh frustasi dilontarkan Namjoon. Manik matanya mau tak mau menyadari eksistensi dua anak yang baru saja mengakui dirinya sebagai ayah.

"Kalian berdiri dan duduk di sofa" perintahnya namun tak ada satupun yang bergerak.

"Apa kalian harus kugendong supaya duduk di sofa disamping kalian? Kalian bukan bayi yang baru lahir bukan?" sarkastik sekali ala Namjoon memaksa keduanya bergegas duduk. Hoseok duluan yang bangkit bahkan menarik Yoongi untuk duduk

"Hapus airmata kalian. Laki-laki tak perlu menjadi cengeng" dan Yoongi mendapatkan keberaniannya mengangkat wajah menampilkan ekspresi penuh dendam kepada Namjoon yang dibalas bola mata namjoon yang memutar malas.

"Minumlah dulu, terlebih kau Jung Hoseok" baik Hoseok dan Yoongi tak sadar sudah ada dua gelas teh madu hangat yang tertata di meja. Dan keduanya seakan kompak memandang ragu gelas teh dihadapannya. Namjoon barus saja membentak merekamdan kini menghidangakan teh hangat. Mencurigakan sekali.

"Tak ada racun, tenang saja. Kalau aku berniat mracuni kalian kenapa tak saat ku panaskan makanan kalian tadi" ujar Namjoon cukup tersinggung. Hey, dia bukan kriminal. Meski diakui kini otaknya berpikir bagaimana caranya mengenyahkan dua anak ini tanpa ada unsur kejahatan, pembunuhan apalagi. Dia adalah makhluk hidup yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Memanusiakan gadis-gadis yang bersedia melayani nafsu bejatnya mungkin.

"Siapa tau saja kau baru berniat meracuni kami" ucapan yang sangat di harapkan dari Yoongi yang tepat menghargai munman Namjoon. Meminumnya seteguk bersama Hoseok yang meminum banyak tegukan.

"Kalian sangat berharap kuracuni rupanya? Ok, mungkin bisalah untuk minuman yang lain kali ku hidangkan" balasan santai Namjoon. Dirinya menyamankan diri i sofa yang disandarnya. Menyilangkan kaki untuk memulai negosiasinya dengan dua bocah itu.

"Oke aku tak ingin membuang waktuku, sekarang aku harap kalian jujur, apa benar ayah mu adalah aku?" tanya Namjoon dengan wajah seriusnya

"Dan kenapa kalian yakin aku adalah ayah kalian" ujarnya lagi

Hoseok melirik Yoongi mempersilahkan Yoongi menjawab terlebih dahulu.

"Tentu saja sangat yakin, meski kalau bisa memilih kau bukan ayahku tapi apalah daya aku lahir dari benihmu" Namjoon cukup terkejut dengan penuturan anak 12 tahun dihadapannya yang bisa mengucapkan kata-kata yang harusnya menjadi kosa kata orang dewasa. Bukan pada umurnya kini.

"Dan bukti, kurasa nama Mommyku sudah cukup. Sunny. Min Sunny. Min Sunkyu. Apalagi yang kau harapkan? Bahkan Dongyuk Ahjussi masih mengenal Mommy. Apakau lupa dengan Mommy? Ah, aku punya diary Mommy yang menyebutkannya sebagai pengalaman pertamamu. Benarkah itu Daddy?" Namjoon bersumpah ingin mengenyahkan smirik dari wajah Yoongi yang dingin itu. Yoongi rupanya meledaknya.

"Dan selamat, pengalaman pertamamu itu membuah kan hasil yang mengagumkan. Sepertiku" Yoongi melipat kedua tangannya didada. Bersikap sombong rupanya. Melupakan dirinya yang beberapa saat yang lalu masih memainkan jarinya asal karena ketakutan.

Namjoon hanya memutar mata malas lalu melirik Hoseok yang memperbaiki duduknya lebih tegap dengan kikuk. Tangannya berulangkali mengelus betisnya menghalau gugup.

"Ho-ho-hoseok ju-juga sa-sama"

"Perbaiki nada bicara mu boy, kau sudah meminum habis teh mu kupikir kau sudah tenang"

"Hemm, Hoseok juga liat diary umma. Dan kata Yuju Umma, ayah Hoseok namanya Rap Monster yang dulunya bernama Ruch Randa, seorang Rapper underground. Da-dan Rapper yang bernama Rap Monster Ruch Randa itu Aboeji kan? Hoseok sudah search di internet hanya ada foto Aboeji dan juga Yuju umma bilang nama grup Rapper Aboeji itu Daenamhyup. Ah Aboeji juga punya Hotel N-Moon kan? Aku punya alamatnya dari yuju umma. Kemarin aku diantar kesana dan ketemu Eunkwang Haraboji "

"Tunggu dulu tadi pagi kau bilang nama ibumu Jung Umji, kenapa sekarang Yuju? Kau mencoba menipuku yah?" tantang Namjoon

"Tii-tidak" Hoseok mengelap keringat didahinya. Digigitnya bibirnya sebelum meluapkan pembelaan.

"Ho-hoseok tidak menipu. Hoseok tahu dari Yuju umma. Karena Hoseok tidak pernah bicara dengan Umji umma. Kecuali di kuburannya" nada Hoseok mulai melemah lagi.

"Umji umma meninggal karena melahirkan Hoseok, hiks. Semua salah Hoseok. Mianhe" isakannya kembali lagi

"Yak aku tak menyuruhmu menangis. Diamlah, hey Yoongi tenangkan adikmu" pinta Namjoon yang lebih pada sebuah perintah.

Adik? Yoongi merasakan perasaan aneh saat Namjoon menyerukan kata adik. Rasanya seperti dia harus melindungi namja dua tahun dibawahnya itu. Sedangkan Namjoon yang tak menyadari apa yang diucapkan nampak mencoba mengingat Jung Umji, yang sama sekali tak terbayang batang hidungnya. Kapan dia mengencani Jung Umji? Nama yang sangat tak familiar dihidupnya. Tapi toh, bukannya Eunkwang Samchon sudah membawa sampel untuk tes DNA. Jadi kalau saja bocah itu berbohong, Hoseok akan berhadapan dengan singa buas. Kalau soal Yoongi, Namjoon menatap Yoongi yang mencoba menenangkan Hoseok.

"Kamu kok cengeng sih" menenangkan sambil menggerutu. Sangat Namjoon Style. Sunny, yah bocah dihadapannya adalah jelmaan Sunny. Liat saja tubuhnya yang cukup pendek mirip Sunny. Kebiasaan yang suka meledak-ledak namun juga pengertian. Itupun mirip Sunny. Jangan lupa mulutnya yang tak bisa dikontrol. Selalu sesuka hati. Itupun mirip Sunny. Meski Namjoon akui itu juga adalah sebagian dari banyak hal buruk yang dimilikinya. Namjoon melirik Yoongi sekali lagi dan pada akhirnya dia mengelus lehernya canggung. Jika benar dia adalah ayah mereka apa yang harus dia perbuat. Sungguh dia tak punya pengalaman apapun soal anak. Berdekatan dengan anak kecil? Yang ada anak-ank pada ketakutan seakan dirinya adala Badut yang dapat menyerang anak-anak kapan saja. Aish.. Meski begitu Namjoon memilih menunggu hasil tes DNA mereka. Untuk lebih meyakinkan tentu saja. Cukup bersyukur Namjoon tak dihadapkan pada bayi ataupun balita. Bisa ke surga ah belum tentu ke nereka sepertinya dirinya. Menggendong keponakannya saja TIDAK PERNAH.

"Hey tenanglah, dan dengar. Aku tak bisa percaya omongan kalian jika tanpa bukti akurat. Aku sudah mengambil helaian rambut kalian untuk di tes dirumah sakit kalian tau tes DNA kan? Jika hasilnya negatif segera angkat kaki dari sini. Jika hasilnya positif..."

"Daddy yang angkat kaki dari sini?" celetukan tak berfaedah dari Yoongi. Namjoon mengepalkan tangannya diudara memasang gaya memukul. Selanjutnya menghela napas lagi

"Kau, Min Yoongi, positif atau negatif kau yang paling pertama ku usir dari sini jika kau macam-macam" ketus Namjoon

"Kok bisa begitu, kalau Positif aku anakmu, kau harus menerima ku. Singa saja tidak ada yang tega menelentarkan anaknya" Protes Yoongi dibarengi anggukan antusias Hoseok. Selanjutnya Hoseok memasang wajah penuh pengharapan.

"Kalau hasilnya positif, oke kalian bisa tinggal disini. Tapi jangan harap aku bisa jadi ayah yang baik untuk kalian. Sekedar informasi, aku alergi dengan anak-anak"

"Hyung" Hoseok bersorak menghadap Yoongi.

"Kita harus ke apotik sekarang!" serunya dengan panik. Sedangkan Yoongi dan Namjoon memandang aneh. Kenapa lagi ini anak. Tadi menangis sekarang panik.

"Kita harus cari obat untuk Aboeji. Aboeji kan alergi anak-anak. Kita anak-anak hyung. Nanti Aboeji kayak Hoseok yang gatal-gatal karena alergi kacang" kali ini tangan Yoongi yang melayang diudara memberi kesan memukul dibarengi ekspresi muak.

"Kau ini. Sudah diam saja" ketusnya

"Aish terserah kalian. Untuk sementara sebelum hasilnya keluar kalian boleh tinggal dikamarku. Tapi ingat jangan menyentuh barang-barang disana. Bergeser sedikit kudepak kalian dari sini. Dan juga jangan pernah masuk keruang kerjaku apalagi sampai merepotkanku. Sekarang kalian kekamar. Aku bukan gatal-gatal berhadapan dengan kalian malah semakin stress" usir Namjoon yang dengan senang hati kedua anak itu meninggalkan Namjoon.

"Dia kira apa kita tidak stress menghadapinya" bisik Yoongi ke Hoseok saat mereka meninggalkan Namjoon. Yang diangguki Hoseok cepat.

Sedangkan Namjoon terdiam memandang bagian belakang bocah-bocah itu.

"Apa tadi dia bilang, alergi kacang? Kok sama ya?" Ujarnya pada tembok dihadapannya.

.

.

.

.

.

Seokjin asli pegal-pegal menggendong Jimin menusuri jalanan. Sialan memang. Dia kekasar alias salah naik bus. Dan berakhir sepanjang hari berpetualang dengan Bus dengan dua anak yang bergantian dipangkuannya dan sekarang gilirannya Jimin yang tertidur digendongannya. Satu-satu informasi yang diapunya adalah ayah dari dua bocah ini adalah Rap Monster yang fotonya tengah dipegang Seokjin. Dan Rap Monster adalah Member grup Rapper Bangtan dan beragency Bighitstar. Seokjin sudah mensearch itu di internet. Beserta alamat Bighitstar. Awalnya Seokjin pikir akan mengalami proses rumit, berderai peluh memperjuangkan dua anak yang diantarnya. Tapi syukurlah tuhan sayang sekali pada Seokjin yang malang ini. Saat di Bighitstar setelah sejam menyusun rencana dengan menitipkan Taehyung dan Jimin di ruangan Satpam dengan sedikit akting bahwa dia adalah keluarga salah satu staff disana Seokjin bisa masuk ke Bighitstar. Bahkan satpam tadi mengira dirinya seorang Trainee disana. Seokjin menggaruk kepalnya yang tidak gatal. Setahunya Bighitstar adalah Agency yang menaungi para pria. Dia cukup lama berhenti di pintu kaca. Melihat dandanannya. Hoodie kuning kebesaran dengan celana jeans kumal. Rambut coklatnya yang pendek yang ditutupi topi hitam biasa. Tidak ada satu pun barang bermerek yang dipakainya. Paling mahal di belinya di toko-toko pakaian biasa. Fix satpam itu salah kira dirinya lelaki. Tapi syukurlah kalau begitu. Dan saat dirinya menanyakan keberadaan Rap Monster di resepsionis, dia bertemu teman sekolah dasarnya Lisa yang ternyata menjadi staff disana. Bersyukurlah lagi dengan baik hati Lisa memberikan alamat Namjoon. Tanpa embel-embel dan sogokan. Sepertinya Lisa tak peduli bahkan sekalipun dirinya ingin menjahati Rap Monster. Sebenarnya Rap Monster ini beneran artis atau warga biasa? Ataukah Rap Monster tidak berharga? Lalu anak-anak itu hidupnya nanti bagaimana?

"Nuna Taetae mau tidul juga" Tehyung menggoyangkan tangannya kasar. Matanya memerah saat ini memang sudah malam. Terlebih dengan perjalanan yang panjang. Tapi tangannya hanya dua, badannya hanya dia bisa menggendong keduanya yang bahkan dia harus memegang dua buah tas besar berisi pakaian.

"Sabar ya sayang, Kita sudah hampir sampai." Dan Taehyung mana mengerti. Dia mengantuk dan harus tidur. Mau membangunkan Jimin juga tidak tega. Akhirnya dia turut menggendong keduanya. Badan mereka belum besar meski usianya sudah 6 tahun. Makan seadanya di panti salah satu alasaannya. Meski begit keduanya masih terpenuhi gizi seimbangnya.

Seokjin berusaha berjalan menuju Apartemen mewah yang alamatnya ditulis Lisa tadi. Seorang satpam menghampiri Seokjin yang nampak menyeret langkahnya. Bayangkan saja dipunggungnya ada tas ransel berisi dompet dan sebagainya. Di kedua tangannya ada Jimind an V yang tertidur pulas. Dan tangannya juga harus memegang dua buah tas besar. Bahkan Seokjin bersyukur tak menabrak apapun sejak berjalan tadi.

"Ada yang bisa di bantu tuan?" Tuan lagi. Tapi sudahlah Seokjin tak mau memusingkan.

"Ah iya saya ingin ke kamar 1204. Tapi barang bawaan saya banyak. Apa Ahjussi bisa membantu?" Ucap Seokjin sopan. Satpam didepannya berusia sekitar 40 tahun tersenyum ramah.

"Tentu saja. Mari saya tunjukkan"

Dan disinilah Seokjin. Didepan kamar 1204. Dia telah menekan bel. Berulang-ulang malahan. Tak peduli penghuni rumah yang menanyakan dirinya melalui intercom. Tangannya sudah sangat kram. Dan di sudah tak punya daya untuk berdiri sekedar menunggu penghuni apartemen yang sungguh sangat lelet seperti keong.

"Ya, kau tidak diajari sopan santun kah?" seorang pria dengan wajah memerah membuka pintu dengan nada marah. Tapi Seokjin tak peduli. Dia meringsek masuk. Tak peduli geraman protes dari penghuni rumah. Saat dilihatnya Sofa Seokjin meletakkan Jimin terlebih dahulu. Selanjutnya Taehyung di sofa lainnya.

"KAU SIA—"

"Sstttttt.. nanti mereka bangun" Seokjin cukup tinggi untuk melompati lelaki dihadapannya sekedar membekap mulutnya. Menyeret laki-laki itu kedepan pintu tadi. "Rap Monster kan?" tanyanya setelah dirasa sudah cukup jauh dari si kembar

"YAK KAU SIAPA?" Teriak lelaki di depannya frustasi

"Rap Monster kan?" Seokjin mengulang pertanyaannya

"KAU MAU MEMERASKU YAH" tuduh lelaki yang disebut Rap Monster alias Kim Namjoon

"CK, RAP MONSTER KAN?" kali ini Seokjin jengah, menarik foto yang diselipkan dikantong celananya saat tai dia kerepotan menggendong kembar.

"Kamu Rap Monsterkan? Kamu yang difoto ini kan?" Namjoon mengambil foto yang disodorkan. Ini dalah fotonya 7 tahun lalu. Saat dia mulai mengejar karier di dunia Rapper entertainment. Bukan Underground lagi. Menjadi member Bangtan dan Meninggalkan Daenamhyup.

"Dari mana kau dapat foto ini? Kau sasaeng ya? Penguntit?" cerca Namjoon dan Seokjin merasa tak terima.

"Jadi kau benar Rap Monster. Saya Kim Seokjin dari Panti Asuhan Sarang" Seokjin memperkenalkan dirinya sopan. Tangannya kram jadi dia memilih untuk tak mengulurkan tangan. Dan dia juga malas untuk berjabat tangan dengan artis.

"Panti asuhan? Mau minta sumbangan? maaf saja saya rasa anda salah tempat. Saya tidak bisa meladeni pengurus panti yang ingin meminta sumbangan."

"Wow anda kasar sekali. Tapi maaf saja, dari pada meminta sumbangan saya meralat perkataan anda. Saya kesini mengantarkan dua anak anda." Jika ada kamera sekarang Para hatersnya akan sangat menikmati ekspresi wajah Namjoon sekarang.

"Kau bilang apa?"

"Anak anda. Si kembar Kim Jimin dan Kim Taehyung" Seokjin menatap namja dihadapannya. Jelas sekali keterkagetannya.

"Seperti sebentar lagi anda jantungan. Tapi sebelum dari itu saya hanya ingin bilang bahwa tugas saya sudah selesai. Jadi saya mengundurkan diri. Ah Rap Monster ssi, Jimin sangat tidak bisa memakan seafood jadi mohon diawasi dan Taehyung sangat mencintai seafood. Dan juga-"

Namjoon merasa tuli. Apa lagi ini? Dalam dua hari dia mendapatkan serangan mendadak. Dia bisa mati kapan saja. Bahkan detik ini. Kenapa diusianya ke 32 tahun saat yang bagus untuk berkarya sebanyak-banyaknya sebelum tua dia malah harus mendengar kabar buru. Anak? Anak yang didalam kamarnya saja belum tentu anaknya sekarang ada lagi. Kembar pula.

"Jadi begitu Rap Monster ssi. Apa anda mendengar saya? Rap Monster ssi"

"Kau mau mencoba menipuku juga?" nada rendah dari Namjoon menyentak Seokjin. Tapi seokjin mencoba tenang. Tentu saja reaksi begitu yang akan diterima nya.

"Saya rasa saya tak pernah berniat demikian" balasan santai dari Seokjin membuat amarahnya diubun-ubun tapi Namjoon tak ingin memancing pertengkaran.

"Kim Jimin dan Kim Taehyung ditemukan di depan Panti Sarang 6 tahun yang lalu. Dan hanya selembar foto itu yang ada bersama mereka. Tadi anda membenarkan bawa diri anda Rap Monster dan juga Foto itu adalah foto anda. Jadi dari mana tipuan itu muncul? Tenang saja saya hanya mengantarkan anak-anak itu. Saya tak berniat untuk menipu, memeras, bahkan meminta sumbangan dari anda. Saya rasa mulut saya sedikit lagi akan berbusa jadi saya pamit"

Seokjin memilih melangkahkan kakinya secepat mungkin sebelum hatinya memberontak keras untuk tak berpisah dari Jimin dan Taehyung. Sepanjang menyusuri apartemen airmatanya menetes perlahan. Diabaikannya satpam ahjussi yang tadi berbaik hati mengangkat tas si kembar. Sampai dirasa dirinya cukup jauh kakinya berhenti. Airmatanya terus mengalir. Rasanya sakit berpisah dengan Jimin dan Taehyung. Seokjin cukup bersyukur si kembar dalam keadaan tertidur nyenyak. Jadi dia tak akan melihat airmata anak itu. Sebab berpisah secara terang-terangan jauh lebih menyakitkan. Jam menunjukkan pukul setengah 10 malam. Dan seokjin bergegas mengejar bus terakhir menuju kampung halamannya.

.

.

Yoongi keluar kamar saat didengarnya ada suara ribut-ribut. Dirnya merasa haus. Ingins egera kedapur melepaskan dahaga saat Matanya memicing melihat pemandangan di sofa. Ada dua anak berusia balita yang meringkuk tertidur nyenyak. Satunya terlihat tinggi dan satunya memiliki pipi yang tembam. Tadi kata Daddy, dia alergi anak kecil lalu anak-anak siapa itu? Jatuh dari langit.

Yoongi mengamati Namjoon yang baru muncul dari pintu depan yang dua kali nampak frustasi. Dan apa itu dalam gendongan Namjoon. Mata Yoongi membulat, Bayi?

"BAYIII?" Teriak Yoongi dan suara Yoongi membangunkan seorang ah tidak 3 orang anak disana. Dan Namjoon akan segera menendang Yoongi kejalanan jika tidak ada bayi Jongkook digendongannya. Dan 2 anak kembar disofa yang menangis keras melihat dirinya di tempat asing sendiri ah tidak berdua dengan kembarannya tanpa melihat seseorang yang sangat dikenalnya. Nuna. Seokjin Nunanya tidak ada.

"NUNAAAAAAAA"

"HUWEEEEEEEE"

Inilah paduan suara terburuk yang pernah Namjoon dengar selama 32 tahun hidupnya. Apakah ini mimpi? Jika ia, Namjoon bersedia mengeluarkan seluruh harta warisannya kepada siapa saja yang berhasil membangunkannya dari deretan mimpi buruknya hari ini. Mimpi yang nyata atau semuanya terlalu nyata untuk sekedar menjadi mimpi.

..

..

..

...

TO BE CONTINUE.

...

..

..

..

Part ke empat hadir untuk kalian. Maafkan yang harinya gak maju-maju. Desca memang bayangin anak-anaknya datang dalam satu hari. Cuman yah gitu karena kepanjangan baru di part sekarang mereka ketemu semua. Terima aksih buat yang sudah membaca, mereview, like dan follow.

YEAAAAAHHH BANGTAN COMEBACK. Lagu apa kesukaaan kalian? Aku suka Illegirl eh illegal eh dimple :p So i call you Illegirl~~ illegirl~~ Semua lagunya di album Love Yourself bikin jatuh hati. Dan Video DNA ddaebak colorfull. Comeback mereka sangat dinanti dan tidak mengecewakan sama sekali. Ayo terus dukung bangtan! Hwaiting!

Special Thanks To: qwertyxing | kim widy | | Nam0SuPD | Rrn49 | Nadhefuji | Phoenix929 | | BLUEFIRE0805 | Park RinHyun-Uchiha | wela | ZiFanNamJin | Guest

*Descaqueen*

20 September 2017 21:05

Bersandar manja di tembok retak

Song Play: DNA (Sambil menganga liat keseksian BTS di Mv :p )

SELAMAT MEMBACA SEMUANYA :*:*