Rasanya seperti sedang berada di surga.

Kecuali, kaki Hiroto Maehara masih menapak di tanah—di lantai keempat gedung kuliahnya, lebih tepatnya. Tidak ada awan-awan di sekitar. Pemandangan di depan matanya itulah yang bagaikan nirwana. Sungguh untung Yuuma Isogai mengajaknya duduk di barisan depan saat kuliah tamu dadakan itu. Bahkan pendingin ruangan pun memanjakannya.

Dosen tamunya orang Eropa, perempuan berambut pirang yang masih muda dan bertubuh sintal. Sepanjang kuliah itu Hiroto berdoa semoga hidungnya tidak berdarah; pasti bikin malu. Beruntung sekali Karasuma-sensei bisa punya kenalan dosen bule sedemikian wah. Hiroto menyiapkan ponsel, bersiap meminta kontak sang dosen bule setelah kuliah berakhir. Lampu notifikasi ponsel di genggamannya berkedip-kedip, didapatinya seseorang dengan kontak yang asing mengiriminya pesan.

"Ah, paling sms mama minta pulsa."

.

.

...***...

...***...

.

.

Gaudeamus Igitur

Mozaik 4 : Vadite ad superos

.

.

...***...

...***...

.

.

"Hiroto Maehara, makalahmu tertukar dengan skripsiku. Tolong antarkan, aku kepepet deadline dan nggak bisa nge-print lagi, padahal dosenku mau pergi. Kampus kita toh dekat. Tolong ya. Eren Yeager."

Pesan itu bukan sms mama minta pulsa atau tipu-tipu undian deterjen berhadiah rumah. Kening Hiroto berkerut saat menatap layar ponselnya.

Hah! Siapa ini Eren Yeager? Dan dari mana dia dapat nomor ponsel Hiroto? Apa ini sejenis penipuan dengan berkedok skripsi yang tertukar? Memangnya ini sinetron?

Pertanyaan absurd sahut-menyahut di pikirannya. Sebelum Hiroto bisa membalas apa pun, sebuah pesan masuk lagi.

"Aku yang tadi nge-print di kios fotokopian Kunugigaoka."

"Oh," seloroh Hiroto paham, tapi sayangnya agak terlalu keras. Bapak dosbingnya yang angker menatapnya tajam dari kursi moderator selagi sang dosen bule terus berbicara. Hiroto pura-pura batuk. Lekas disimpannya ponsel di balik tas dan dipasangnya wajah tanpa dosa. Hiroto bersyukur pandangan mata tidak bisa membunuh orang, karena kalau bisa, dirinya pasti sudah dibikin jadi kadaver oleh Karasuma Tadaomi.

Yuuma menoleh ke arahnya, bicara tanpa suara, "Ada apa?"

Hiroto hanya menggeleng pelan-pelan, takut diterkam Karasuma-sensei yang mengawasinya bagai elang pemangsa. Namun kealiman palsu Hiroto dicobai oleh pesan-pesan lain yang masuk ke ponselnya. Tas yang dipangkunya itu bergetar-getar terus. Untung saat itu Karasuma-sensei berdiri, membacakan kesimpulan kuliah tamu yang di-setting mirip seminar itu. Merutuki dirinya yang lupa mengubah ke silent mode sebelum kuliah, Hiroto curi-curi membuka ponsel lagi.

"Tolong aku, ya."

"Nanti pahalamu berlimpah, amin."

"Kita 'kan sama-sama mahasiswa tua."

"Kamu pasti tahu seberapa pentingnya naskah itu buatku."

"Hiroto, balas dong. Setiap detikku sangat berharga, nih."

Eren ini cowok tulen atau aslinya cewek, sih? Bawelnya kok kebangetan. Hiroto bahkan belum pernah menemukan mahasiswi target pedekate yang demikian sadis membombardir ponselnya ketika chat-nya tidak segera dibalas. Hal pertama yang Hiroto perlu lakukan adalah mengecek isi tasnya, bukan membalas berondongan pesan.

Diambilnya berkas yang tadi di-print di tempat Pak Bos dan baru saat itu dibacanya dengan teliti. Ternyata itu memang bukan makalah Hiroto. Di cover-nya tertulis sebuah kata mahaindah yang menjadi impian tiap mahasiswa untuk segera diakhiri,

SKRIPSI.

Di bawah sana tertera nama Eren Yeager, angkatan yang sama, jurusan farmasi Universitas Royal Capital. Uh-oh. Jadi makalahnya betulan tertukar? Sekarang pahamlah ia, bahwa ada alasan kenapa si Yeager itu bermuka kusut, berkantung mata abnormal, dan menyahut galak saat ia ajak ngobrol di fotokopian.

Hiroto sadar bahwa ia dan orang itu juga sama-sama penghuni kampus level bangkotan, sama-sama menghadapi skripsi, dan pastinya sama-sama banyak keluar duit demi tugas akhir. Dengan senyum sarat makna, segera dibalasnya pesan mahasiswa kampus sebelah bernama Eren itu.

.

.

...***...

...***...

.

.

Sementara itu, lima menit sebelumnya, Eren masih berada di kantin Kunugigaoka bersama Karma. Bagi orang yang menunggu, waktu terasa bergulir sangat lama. Namun bagi orang yang melakukan hal yang disenanginya, waktu menggelinding terlalu cepat seperti uang saku mahasiswa rantauan yang tiba-tiba ludes di pertengahan bulan. Eren ingin sekali menggabungkan keduanya, mempercepat respons Hiroto dan memperlambat keberangkatan Prof. Levi.

Setelah mengirim pesan ke Hiroto, Eren membongkar isi mapnya untuk mengecek kembali jadwal akademik satu semester ke depan. Dengan setengah berharap yang mustahil, Eren memelototi tanggal wisuda targetnya itu, berharap bisa digeser satu minggu saja, karena pasti terlewat kalau sampai dia tidak berhasil bimbingan dengan Prof. Levi hari ini. Setelah meratapi nasib sejenak, barulah dia beranjak dari tempat itu. Karma masih menikmati susu stroberinya yang kedua sambil mengulum senyum.

"Semoga berhasil," ujar si rambut merah.

"Trims," sahut Eren, membatin bahwa ternyata berandal satu ini cukup tulus juga. Eren agak merasa bersalah sudah berburuk sangka.

Eren meninggalkan area kantin, dihirupnya napas dalam-dalam sebelum diembuskan perlahan lewat mulut. Ia berlalu, tangan kirinya mengapit map sambil melambaikan tangannya yang bebas kepada Karma, sedikit meniru pose jagoan hendak berangkat tawuran dari film aksi lawas.

Eren pun harus segera kembali ke kampusnya. Sehingga, saat Hiroto—dan skripsinya— sampai, ia bisa langsung menghadap ke dosbingnya. Atau kalau gagal, mungkin ia menghadap dosbingnya untuk mempersembahkan kepala. Eren menampol pipinya sendiri, ia masih sayang kepalanya! Takkan ia biarkan hal itu sampai terjadi.

Saat akhirnya tiba di area kampusnya, ia mendapati Hiroto membalasnya dengan,

"Oke. Maaf aku baru tahu kalau tertukar, tunggu ya. Otw."

Senyum Eren terkembang dan ia tak kuasa menahan diri untuk berteriak girang, "Puja kerang ajaib!"

Namun, ada satu hal yang Eren tak tahu, tadi Karma sempat membajak ponselnya.

.

.

...***...

...***...

.

.

Berondongan pesan dari Eren Yeager membuat Hiroto mengurungkan niat untuk minta kontak sang dosen tamu. Baru saja majelis ditutup, Hiroto langsung minggat dari aula itu.

"Oi, ikut aku ya?"

"Eh?"

Perlu orang untuk digaet ke mana-mana? Langsung saja tarik Yuuma Isogai. Sohib Hiroto yang satu ini punya hati yang baik budi, kesabaran hakiki, dan jangan lupakan muka ikemen level peri. Turun dari lantai empat, menyeberangi kantin, mengitari pohon beringin, Hiroto menyeret kawan sejak kecilnya itu menuju halaman kampus. Saat melewati warung fotokopian Pak Bos, didapatinya tulisan,

"Sedang melakukan pekerjaan sampingan."

"Pak Bos sibuk sekali," gumam Hiroto.

"Kita ke mana?" Yuuma bertanya, mereka akan menyeberang jalan.

Hiroto tidak menjawab, malah nyengir kecil. Ada ambulans yang akan masuk ke rumah sakit besar di sebelah gedung Kunugigaoka, membuat kendaraan-kendaraan menepi atau berhenti, dan sang casanova menyeberang dengan mudah. Tak lupa, membawa si sohib di tangan.

"Oi?"

"Kita ke surga," sahut Hiroto sambil nyengir.

"Hah? Aku tidak mau disuruh bunuh diri, ya! Adik-adikku masih kecil, tahu!"

Hiroto menatap Yuuma dengan pandangan remeh. Ia kemudian mencegat seseorang berambut pirang yang sedang melintas di depan warung soto.

"Permisi, Nee-chan. Boleh nanya?" Senyum ala iklan pasta gigi ditampilkan oleh Hiroto.

"Ya, nanya apa?" sahut si mahasiswi, tampak merasa aneh dipanggil seperti itu, barangkali karena dia masih maba—menilik mukanya yang imut-imut dan posturnya yang mungil—sementara Hiroto lebih menjulang dan kelihatan tua. Perempuan selalu punya sejuta cara membuat citra tampak lebih muda, jadi Hiroto simpan saja dulu prasangka.

"Nee-chan kuliah di Royal Capital?"

"Ehm ... iya."

"Jurusan apa?"

"Ekonomi bisnis."

"Wah, keren ya. Lulus nanti bisa jadi manajer eksekutif, dong. Atau barangkali menteri keuangan."

Sedikit kernyit di dahi sang mahasiswi. "Ehm ... iya, semoga." Dia terlihat gelisah sekarang, matanya melirik ke kiri-kanan, lalu menatap Yuuma yang juga belum mengerti apa-apa.

"Nee-chan angkatan berapa? Ada akun medsos apa aja?"

Muka si mahasiswi tampak bete, terlihat sangat tidak nyaman sekaligus takut merasa tak sopan. Hiroto melihat gelagat ini dan cepat-cepat membungkuk.

"Oh! Aku lupa kenalan. Namaku Hiroto Maehara. Maaf, kalau nanya tentang angkatan kadang bikin sensitif beberapa orang. Kutebak, Nee-chan mahasiswi tahun keempat ..."

"... Betul."

"Nama Nee-chan siapa?"

"Ehm ... Armin Arlert."

"Wow, nama yang indah. Seindah orangnya."

"Maaf ya, aku buru-buru. Dan ... aku tidak punya medsos, maaf."

"Sayang sekali, Nee-chan. Semoga kita bisa ketemu di lain waktu. Aku kuliah di kampus sebelah, kok." Hiroto mengacungkan ibu jari melewati bahunya. "Oh, satu hal lagi yang mau aku tanya. Kampus jurusan farmasi ada di mana, ya?"

"Sebelah timur rumah sakit," jawab mahasiswi bernama Armin itu sekenanya sambil berlalu cepat-cepat, seperti ingin segera hengkang.

Yuuma bersuara, "Maehara, orang itu kayaknya bukan ...."

Hiroto bicara di saat yang sama, "Kamu tahu timur itu arah mana?"

"Hah?"

"Eh?"

"Kamu bilang apa?" Yuuma bertanya.

"Timur rumah sakit. Sebelah mana itu? Soalnya Nee-chan yang tadi cuma bilang timur rumah sakit. Aku nggak begitu kenal daerah sini, "Hiroto mengulang.

Yuuma Isogai mematung. "Sepertinya ... sebelah sini," ujarnya ragu-ragu.

Satu poin plus dengan menjelajah kampus asing bersama sohibmu, adalah tidak perlu takut kesasar sendirian. Kesasar berdua masih mending, lah ...

"Oke. Aku harus mengantar skripsi punya seseorang, dia kuliah di kampus ini. Tadi tertukar saat aku nge-print di tempat Pak Bos."

"Universitas Royal Capital? Tapi tadi kamu bilang semacam, 'kita ke surga'? Kukira kamu mulai sinting karena belum dapat kiriman duit terus menyuruhku bunuh diri biar bisa menjual organ-organ dalamku di pasar gelap!"

"Ck ... ck ... ck ..., Isogai, inilah sebabnya aku menyarankanmu membuat akun medsos." Hiroto menepuk-nepuk pundak kawannya layaknya guru silat mendidik murid. "Kamu pasti tidak tahu ada akun khusus bernama Kings and Queens of Royal Capital di medsos. Isinya adalah foto dan profil mahasiswa Royal Capital yang cantik dan cakep menurut survei, beberapa bulan sekali di-update ...."

"Lalu?"

"Queens-nya cantik-cantik! Angkatan berapa pun mereka, ras apa pun mereka, kayak bidadari. Ah, itu ada satu. Queen fakultas hukum, yang rambutnya pirang panjang," Hiroto mengedikkan kepala ke serombongan mahasiswi yang hendak jajan. Senyum-pasta-gigi-nya dipajang lagi dan rombongan itu tiba-tiba heboh. Mereka saling sikut dan berbisik-bisik, melihat ke arah duo Kunugigaoka.

"Hai," sapa Hiroto saat mereka lewat. Yuuma juga tersenyum karena mereka menyahut, "Haiiiii," dengan agak kelewat antusias, terutama sang Ratu yang tampak agak malu-malu.

"Kalian tahu kampus farmasi di sebelah mana?" Yuuma bertanya.

"Di sana," rombongan enam-tujuh mahasiswi itu menyahut, menunjuk suatu arah yang berlawanan dengan yang dikira sebelumnya.

"Sebelah timur rumah sakit?" tanya Hiroto.

"Iya," mereka semua kompak menjawab, mata berbinar-binar masih menatap Yuuma.

"Terima kasih," ujar si ikemen.

"Sama-sama!" Bagaikan paduan suara tanpa dirigen mereka menjawab. Hiroto nyengir kecil, bersama si ikemen rasanya seperti membawa magnet yang menarik mahasiswi-mahasiswi rupawan. Hiroto sebenarnya cukup tampan, tetapi agaknya masih kalah kinclong untuk bersaing dengan ketampanan hakiki sohibnya.

Hiroto dan Yuuma berlalu, menyitir di pinggir jalan karena tampaknya lebih mudah. Namun, sesampainya di depan pagar bertuliskan nama jurusan yang dicari, mereka dapati pagar itu tertutup. Setidaknya lokasi gedungnya sudah di depan mata. Maju sedikit lagi, mereka bertanya pada orang lain yang ada di situ, tampaknya tukang kebun kampus, yang sedang menjalankan mesin pemotong rumput.

"Pak, masuk ke gedung yang itu lewat mana, ya?" Hiroto bertanya.

"Hah?" Pria paruh baya itu mendongak lalu mematikan mesinnya yang berisik. "Apa?"

"Kami ingin ke gedung yang itu, Pak. Kami bisa masuk lewat mana?" kali ini Yuuma yang bertanya.

Pendengaran si tukang kebun tampaknya sudah menurun. Dia menempatkan satu tangan di sebelah telinganya. "Apa?"

"Farmasi." Hiroto menunjuk plang nama fakultas itu, mengeraskan suara. "Masuk lewat mana?"

"Oh!" Si bapak mengangguk takzim. "Kalian harus memutar, maju ke arah sini. Atau, kalian berbalik, di samping warung soto yang ramai di sana itu, ada pintu kecil yang tembus ke situ."

Baik Hiroto dan Yuuma tampak tidak mengerti. Padahal plang nama fakultasnya ada di depan sini, mengapa jalan masuknya bukan di tempat yang sama? Saat menoleh lagi, mata Hiroto mendapat pemandangan bagus lainnya. Serombongan mahasiswi baru saja keluar dari salah satu warung makan. Ada beberapa wajah yang ia kenal lewat media sosial.

Melihat dua orang yang memakai seragam asing, sang bapak bertanya dengan nada bangga, "Kalian mencari siapa? Saya kenal nama-nama mahasiswa sini, juga dosen-dosennya."

"Wah, kebetulan!" Hiroto bergembira, berusaha fokus pada lawan bicaranya, sementara ekor matanya mengerling ke kumpulan mahasiswi itu. "Kami mencari yang namanya Eren ... tunggu ... Eren siapa ya ...?" Hiroto mengingat-ingat sejenak. Rasanya nama itu agak asing, entah mengapa mengingatkannya akan makhluk hidup kingdom animalia asli Amerika Tengah.

Panthera onca?

"Ah, Eren Jaguar!" ujar Hiroto akhirnya.

Si bapak berpikir-pikir sejenak, sejatinya dia merasa tidak kenal nama yang disebut, tapi 'kan gengsi.

"Kalian lewat sini saja, jalan lurus sampai ke pertigaan sebelah rumah sakit, iya, yang di sebelah sana itu, lalu belok kiri."

"Baiklah. Terima kasih, Pak ...." nada Hiroto menggantung.

"Mike."

"Terima kasih Pak Mike. Ayo, Isogai."

"Semoga berhasil," ucap Pak Mike sembari menyalakan kembali mesin pemotong rumputnya. Hiroto dan Yuuma mengangguk sopan dari kejauhan.

"Terima kasih Pak Mike. Oi, kenapa belok ke situ dulu?"

"Hitung-hitung tambah kenalan baru. Siapa tahu Nee-chan-tachi ini mau mengantar kita ke orang yang kita cari."

Sesungguhnya, Mike Zacharias baru saja menyebutkan jalan menuju fakultas kedokteran hewan. Karena menurut pemikiran ngawur Mike, jaguar itu pasti berhubungan dengan mahasiswa kedokteran hewan.

Namun, biarlah ... biar Mike Zacharias dan Tuhan saja yang tahu.

.

.

...***...

...***...

.

.

Jam sebelas kurang sepuluh menit. Eren Yeager duduk dengan gelisah di depan meja resepsionis kantor dosen, mengawasi pintu kantor Prof. Levi yang masih tertutup, sementara ponselnya digenggam erat seolah perangkat itu lebih berharga daripada nyawanya.

Yah, untuk saat ini, bisa dikatakan begitu. Eren jadi teringat mimpi buruknya tadi pagi dan merutuk dalam hati.

Sejak tadi ia hanya berjaga-jaga di situ, berharap waktu keberangkatan Prof. Levi bisa ditunda, dan kalau memang sudah akan berangkat maka Eren berharap masih bisa mencegatnya. Beliau tentunya menuju parkiran mobil lewat sini. Tapi, memangnya apa yang mau dilakukan Eren untuk menunda kepergian sang dosen? Kapan si Hiroto datang menyelamatkan dirinya? Eh, kenapa kedengarannya seperti Hiroto ini pertolongan yang datang dari surga? Pikiran Eren makin semrawut, waktu makin melarut.

Tepat jam sebelas pintu kantor Prof. Levi terbuka. Eren langsung bangkit berdiri.

"Mana skripsimu?" tanya sang dosen, tas kerja di tangan, aura gergasi dari tubuh yang terbilang mini menguar demikian hebat.

Gelagapan, Eren mencoba bicara,

"Maaf Prof ..., saya ... saya tadi sudah print. Tapi karena saya terburu-buru, naskahnya tertukar dengan milik orang lain. La-lalu flashdisk saya ketinggalan di tempat print dan tempatnya tutup. Laptop saya sedang diservis, saya tidak punya back-up datanya. Mohon maaf, Prof ... tapi saya sudah berusaha untuk bisa bimbingan hari ini."

Levi Ackerman bergeming. Eren membungkuk minta maaf, ingin menangis rasanya. Namun Eren pantang menangis, nanti kalau Mikasa tahu dia bisa malu.

"Pesawat saya sebetulnya berangkat jam tiga siang," ujar sang dosen dengan nada yang melunak.

Mendengar itu, Eren dilanda euforia. Jadwal pesawatnya jam tiga? Berarti, paling tidak, check in jam dua? Demi Fortuna!

"Be-begitu ya, Prof..."

"Saya tadinya mau masak dan makan siang di rumah, tapi tidak jadi. Saya mau ke kantin."

Wow. Jadi, Eren masih punya perpanjangan waktu sampai kira-kira jam satu siang!

"Terima kasih banyak, Prof..." ujar Eren terharu, berpikiran bahwa dosennya ini ternyata sungguh pengertian.

Sambil mengunci pintu kantornya, Levi Ackerman berkata,

"Saya ada janji dengan Erwin-sensei di kantin, membahas proyek penelitian hibah bersaing. Temui saya di kantin sebelum jam dua belas."

Eren merasa seolah barusan Prof. Levi membuang balok semen ke perutnya. Sudah terbang tinggi namun terbanting lagi ke tanah, menggelepar-gelepar. Dewi Fortuna, engkau memang kurang kerjaan memberi mahasiswa malang ini ketidakberuntungan sedemikian berat ....

Eren hanya bisa mengeluarkan cicitan, "Baik, Prof."

Sementara dosennya berlalu menuruni tangga, Eren jadi bimbang apakah mau tetap menunggu di tempat itu atau kembali ke Kunugigaoka, menunggui Hiroto di depan ruang kuliah seperti ia menunggu Prof. Levi keluar kantor tadi? Tapi tadi Hiroto sudah membalas pesannya dan berkata akan segera mengantar. Jadi Eren kembali menanti, mengasihani diri sendiri, ingin ikut turun ke kantin tapi takut ketemu Prof. Levi lagi sebelum membawa skripsi.

Dengan penuh determinasi, Eren mengetik pesan di ponsel lagi.

.

.

...***...

...***...

.

.

Hiroto Maehara mengulas cengiran sambil menatap layar ponselnya. Dapat satu lagi nomor baru! Tunggu balasan yang bersangkutan, lanjutkan chatting kalau potensial, langsung tembak kalau ada sinyal. Sementara itu, Yuuma menoleh sekeliling, mengamati mahasiswi Royal Capital yang diajak kenalan Hiroto barusan dan dimintai nomor ponselnya di tengah perjalanan menuju laboratorium—dan si ikemen baru menyadari kalau mereka sudah salah area.

Kalau sudah kalap begini, Hiroto memang dapat dikhawatirkan hilang di kampus orang. Yuuma memang orang yang tepat untuk menarik Hiroto kembali ke dunia nyata.

"Oi, Maehara."

"Hm?"

"Jam berapa ini? Orang yang skripsinya tertukar itu pasti sudah menunggu lama."

"Oh! Iya, benar juga. Jam sebelas lewat tujuh menit. He?" Hiroto mematung, menatap papan majalah dinding yang berisikan tips merawat kucing yang baru melahirkan. "Ini bukan fakultas yang kita tuju."

"Iya, ternyata bukan. Coba kauhubungi dulu orang itu, kasihan. Aku akan coba tanya orang lagi." Yuuma bergegas mendekati pos satpam.

Ketika Hiroto mencoba mengirim pesan, dia baru sadar pulsanya ludes. Sekali ini dia tidak ingat bahwa pedekate selalu menuntut tumbal pulsa yang cukup besar. Melihat ada konter penjual pulsa di area fakultas kedokteran hewan, Hiroto merogoh saku untuk mencari dompet, tetapi langsung urung. Dompetnya 'kan sudah khatam riwayatnya.

Yuuma kembali dari pos satpam, berusaha tidak terlihat panik karena kesasar di kampus orang, tetapi ketika dilihatnya raut muka sohibnya mau tak mau Yuuma jadi ikut cemas. Hiroto memelas.

"Aku pinjam ponselmu dong, Isogai. Pulsaku habis, si Eren ini sms aku lagi, dan aku nggak bisa balas."

Maksud hati tentu ingin memberi, tapi ada daya, pulsa ponsel Yuuma juga sedang tak terisi (kecuali kuota khusus telepon ke nomor ibu di luar kota).

.

.

...***...

...***...

.

.

Mozaik 4 : Selesai

.

.

Catatan penulis [20 Juni 2018]:

Arti judul "Vadite ad superos" kurang lebih adalah "Pergi menuju surga" :P

Terima kasih sudah membaca, kritik dan saran sangat diterima :D Eren berkejaran dengan waktu, sementara Hiroto berkejaran dengan kenalan-kenalan baru, plus kesasar pula. Bagaimana nasib skripsi Eren dan target wisudanya? Nantikan Mozaik 5!

.

.

...***...

Mozaik Lepas I

...***...

Mike Zacharias masih menyapu dedaunan kering di suatu senja temaram ketika sesosok laki-laki lewat menuju parkiran mobil.

"Selamat sore," sapanya sopan, riang. Balasan berupa anggukan kecil tanpa suara datang dari sang profesor: Levi Ackerman, yang rumornya tahun depan bakal dicalonkan jadi dekan, atau malah rektor. Mike sudah bertahun-tahun bekerja di fakultas ini untuk tahu bahwa Levi selalu memarkir mobilnya di pojok lahan sebelah kiri yang terdapat kanopi, agar mobilnya yang kinclong tidak kehujanan atau kerontokan daun.

Di tangan dosen itu ada sebuah kotak kertas. Sebelum menuju ke mobilnya, Levi mendekati si tukang kebun.

"Untuk Anda saja," ujarnya.

"Terima kasih." Bahkan dengan kotak tertutup, aroma daging ayam sampai ke indera penciuman Mike. Pasti konsumsi rapat dosen tadi siang.

"Lembur, Prof.?" tanya Mike.

"Ya. Banyak proposal yang harus diperiksa."

"Untung sudah akhir pekan ya, Prof."

"Maksudnya bisa santai? Tidak juga. Agenda malam ini memasak dan beres-beres gudang. Meja kerja saya di rumah juga sudah dua hari tak terurus."

Sambil mengosongkan isi pengki ke tong sampah, Mike berpikir-pikir, mungkin ini alasannya Levi Ackerman belum menikah sampai sekarang. Beliau terlalu mandiri, masak dan bersih-bersih saja bisa sendiri.

...***...

.

.

...***...

Mozaik Lepas II

...***...

Gakushuu membaca sebuah chat di ponselnya seraya mengumpat. Ia lelah sekali memperbaiki naskah proposalnya berkali-kali. Hanya ada satu orang yang berani mati untuk mengejeknya, dan itu Karma Akabane dari jurusan sebelah.

Namun, kali ini ia sama sekali tak punya ide tentang siapa pemilik nomor asing yang mengiriminya teks panjang mengenai hipertensi beserta gambar lansia minum obat yang wajahnya diedit menjadi wajah Gakushuu. Dikira tensi Gakushuu itu mudah sekali inflasi.

Padahal Gakushuu sudah memblokir kontak yang hobi mengganggunya. Ia menggulirkan layar ponselnya, dan ada sebaris nama di akhir pesan itu,

"Eren Yeager, Bachelor of Pharmacy?"

Maka anggap saja setidaknya ada orang yang mendoakan Eren segera menjadi sarjana.

...***...

.

.