Kode Merah: OOC (Out Of Character)–DOC (Death Of Character), CCD (CaCaD), AU (Alternative Universe), RivaEre/RiRen/RiEren. CCD mencakup miss type serangkai menjamur, mengantuk, menyesal, bengong ga ngerti, author gila kemalesan yang nulis.
"Levi."
Haruskah ia memperkenalkan dirinya juga? Atau mungkin Levi sudah mengetahui namanya? Pandangannya apa adanya begitu setelah menerima jawaban.
"Oh..." Ya, sekedarnya balasan Eren.
Kepala berambut hitam itu membalikan pandangannya kembali setelah matanya melihat kalau orang yang menginginkan jawaban kini hanya diam seolah sudah mengerti dan tak ada yang harus pertanyakan lagi.
Beberapa detik kian berubah menjadi menit, sementara Eren masih terjebak antara pikiran-pikirannya yang ingin menjerumuskan dirinya ke jalan masing-masing.
Sebenarnya Eren ingin ngobrol banyak dengan Levi, entah membicarakan apa tapi inginnya kalau dengannya ia bisa menceritakan semuanya. Sepasang matanya yang bewarna terang masih memandang sosok yang membelakanginya, seolah benar-benar benci kepadanya. Padahal, ingin sekali mengakrabkan diri dan memecahkan tembok besar di antara mereka.
"Terimakasih sebelumnya sudah mau datang ke mari," , "dan... maaf jika aku menyebalkan."
Di rumah yang senyap itu suaranya tidak mungkin tidak terdengar, Eren mulai ragu apakah dirinya mendapat sebuah hirauan atau tidak. Seulas nafas yang mengecewakan lagi-lagi muncul dari dirinya, mungkin kalau diberitahu kejadian akan kacang seperti ini, demi apapun dia tidak akan mengatakan kata-kata yang membuat dirinya terlihat bodoh walau sudah sulit untuk mengucapkan kalimat sepanjang itu. Hei, mendapatkan sebuah kesan pertama dengan orang baru itu penting, bisakah memperbaikinya?
Tak lama semenjak hatinya diruntuhkan oleh suggest dirinya sendiri, seorang yang sudah diketahui bernama Levi berbalik dari kesibukannya dan menatap Eren tetapi dengan tangan penuh, ia sudah selesai dengan masak-memasaknya. Manik hijau itu seakan mendapatkan seberkas sinar lagi untuk ditatap, pandangannya yang agak menunduk tadi kian diangkat sejalan dengan langkah Levi yang mendekat.
Kiranya kalau memang ini saatnya untuk makan, maka Eren akan makan bersama. Tetapi setelah laki-laki dingin di hadapannya selesai menaruh wadah-wadah itu di meja, ia tidak menarik kursi, malah ia menjauh dan terus menjauh.
"Kau mau pergi ke mana?"
Eren kembali harus menelan kata-katanya yang terbuang begitu saja sia-sia, berikut dengan keyakinan baiknya terhadap orang itu... Sungguh tidak usah berucap kalau begini jadinya. Nampaknya ada sebuah pintu yang amat sangat susah untuk dibuka walau mengetuknya hingga lelah. Pandangan yang kecewa itu ada, menerima sekaligus ikhlas juga ada, ia akhirnya hanya bisa menatap makanan itu dan merasa segera harus ia mengisi perut.
Lihatlah sebenarnya, memang benar kok Levi sudah mengatakan untuk merelakan hasil karyanya kepada anak berambut cokelat yang termangu akan dirinya. Ia bahkan sudah menyediakan peralatan makan di depan mata Eren, agar dengan mudah pikirannya itu melakukan apa yang menjadi kebutuhannya tanpa ba-bi-bu lagi. Warna kuning omelet yang dilihatnya seolah merekah memberikan senyum, tetapi tidak bisa menghibur hatinya.
Benar-benar ketika mulutnya akan menyambut asupan, langkah-langkah mengetuk datang menghampiri pendengarannya, langsung Levi lewat di depan matanya begitu saja. Ia lihat laki-laki itu membawa mangkok yang ada di kamarnya tadi yang terlantar. Daaan.. mengenai itu, melihatnya lagi Eren tidak sadar betapa makanan yang sedang dilakuaknnya ini sungguh tak ada rasa yang mencecik, tidak enak, atau pahit, tidak seperti yang sebelumnya. Sebenarnya Eren tidak terlalu memerhatikan rasa yang ada di mulutnya saat ini, karena hanya lapar yang ada di kepalanya, makannya pun cepat, tapi kalau ditanya ya lebih baik yang ini daripada tadi.
Tapi entah apa maksudnya kenapa bisa begitu, kenapa bisa berbeda. Kenapa kedua rasa makanan itu bisa berbeda?
Kalau ditanya, maka Eren akan menjawab bahwa Levi akan pergi ke dunia antah berantahnya lagi dan meninggalkan dia, tetapi tidak. Tahu-tahu di meja makan yang agak kelebaran untuk 2 orang yang sedang ditempatinya berbunyi kursi berderit, seseorang megambil tempat tepat di depannya secara vertikal. Pandangannya sempat teralih, namun dirasa cukup hanya sebuah pandangan untuk mengetahui, tak perlu bicara dan tak perlu bertanya apa.
Kiranya sih begitu, tapi ternyata bagaikan sedang melihat sesuatu yang penting dan serius itulah yang dirasakannya dari seberang, Eren mulai merasa terganggu. Lihatlah tatapan yang membosankan dan tidak terhibur itu, apa maunya? Kenapa memerhatikannya terus dengan pandangan menelsik?
"Apa?" Akhirnya Eren tidak tahan juga, nadanya agak kesal.
"Kupikir aku akan ikut makan bersamamu, tetapi ternyata kau menghabiskannya sendirian."
Langsung ia turunkan segenap harga dirinya, sekaligus genggaman-genggaman dengan peralatan makan itu. "Ma- maaf kalau begitu! Kukira ini..."
Bisa dikatakan panik, Eren menatap wajah itu yang ambigu di saat begini. Tapi nampak tak berkutik membuat si manik hijau bingung.
"Teruskanlah," , "aku hanya bercanda."
Eren termangu dengan 'candaan' itu.
Demi... apapun, sungguh sangat-sangat 'menghibur', Pak, dengan wajah seperti itu kau memberikan candaan. Lagipula, badai yang masih berderu di hati Eren, lalu ini. Manik hijau agak wtf melihatnya, melihat muka talenan dengan seulas senyum tipis yang masih tersungging sambil bercanda tadi... oh ini ledekan? Tak ada setitik keinginan untuk tertawa atau hal-hal yang lain bagi Eren.
"Serius? Kalau kau ingin memakannya, aku akan menyisahkannya," tanya Eren masih ragu-ragu.
Mungkin Eren memang keterlaluan, tetapi mungkin juga tidak. Sebenarnya makanan itu cukup banyak di meja, tapi bisa dikatakan tidak cukup untuk berdua. Ada omelet, lalu kari, sempat sekali dia jam segini menyiapkan kari, miso tidak ketinggalan. Ketahuilah ia telah menempuh bermil-mil.
"Tidak perlu," tirai besi di wajahnya kembali menutup.
Hanya itu kata terakhirnya lalu pergi memenuhi ekspektasi Eren sebelumnya, manik hijau hanya mampu memberikan pandangan selamat tinggal. Sedikit, tersisa rasa malu di hatinya merasa ada orang yang menyadari bakat makannya.
Walau kedatangan Levi sesaat tadi aneh, tetapi Eren tersenyum diam-diam saat tidak ada yang melihatnya. Setidaknya, ia bisa melihat sedikit bahwa... mungkin saja tidak sedalam itu kau membenci diriku.
Wadah-wadah bersih itu ditatapnya, kok rasanya cepat juga menghabiskan semua ini? Hanya sebuah kata terimakasih dalam hati yang dapat didengarnya sendiri. Bagaimana dia menyiapkan semua makanan dan membuat seenak ini? Cepat juga.
Tidak ada rasa baginya kok untuk membersihkan bekas makannya sendiri, malah ia pelan-pelan mengikuti bekas jejak yang semu seorang laki-laki. Eren rasa Levi pergi ke luar rumah, ke halaman lewat pintu belakang yang sempat dilupakannya. Omong-omong bagaimana mahluk cebol itu terlihat lihai sekali bergerak kesana-kemari seenaknya di sini? Seperti di rumah nenek saja.
Eren akhirnya sampai di mana dia harus memutuskan iya atau tidak, tetapi sampai di depan pintu belakang ia tak menyentuhnya dengan seujung jari pun. Pintu itu memiliki kaca-kaca sebening kristal mengkilat tetapi apalah tanpa sebuah sinar dari matahari? Manik hijau itu menerawang di luar sana tidak ada sosok yang dicari.
Lalu ia berpindah ke sebuah benda persegi lainnya, jendela di sebelah kirinya. Jendela itu ada dan besar di setiap sisi, kebesarannya membuat cahaya dapat menembus kebeningannya dengan leluasa tetapi entah walau kelihatan panas di luar tak ada yang menenmbus. Hanya ditutupi sebuah kain bernama gorden yang suci, putih, hampir transparan, helaiannya pun ditarik agak kasar. Siang yang cukup terik rupanya membuat ketidakberadaan sosok putih itu jelas, tak ada ia, tak ada yang dicari. Sejauh-jauhnya ia telah menaruh pandangan itu menerawang, hanya ada rumput karpet menghampar dan beberapa pohon rindang agak jauh dari jangkauan.
Akhirnya Eren berbalik kembali, nyatanya dia salah.
"Ah!"
Sosok yang dicarinya sendiri ada di sebelahnya. Hampir saja ia lontarkan kata-kata terlarang itu, untung saja tidak latah. Apa kali ini candaan juga untuk mengagetkannya?
Mungkin sebenarnya tidak terlalu mengagetkan, toh posisi Levi tidak terlalu dekat dengannya. Terlihat juga sebenarnya laki-laki itu tidak sedang melakukan permainan untuk mengagetkan orang, ia sedang membersihkan hordeng. Eren terdiam di posisinya menatap masih jengkel karena merasa kaget sendiri, menyadari ada yang tidak suka, sepasang mata gelap itu memberikan balasan.
"Ada apa?" Hanya pertanyaan yang nggak peka abis keluar dari mulutnya, "mencariku?" Sebuah panah serasa munusk tepat ke jantung Eren.
"Tidak," Eren menyembunyikan perasaannya, "siapa juga?"
Akui saja kekalahanmu. Eren bersumpah tidak akan mengatkan bahwa ia sebenarnya sedang mencari... mahluk yang sudah cukup membuatnya jengkel berkali-kali ini.
Eren akhirnya hengkang sendiri.
Setelah penuh dengan emosi yang diinjak-injak pun masih belum padam, ia memasuki kamar di pojokan itu, apa lagi destinasinya. Tetapi baru saja sedetik masuk, ia keluar lagi begitu menyadari telah melupakan sesuatu yang sangat penting untuk mengisi daya handphonenya.
Kali ini ia terbangun karena sesuatu yang rasanya menggelikan terjadi di bawah kakinya yang terbujur.
"!"
Lagi-lagi sebuah kejutan untuknya.
"Apa yang kau lakukan?!" Cepat-cepat Eren menarik sebelah kakinya.
"Kau pikir apa?" Wajah itu makin tidak enak dilihat, karena perlakuan yang barusan diterimanya.
Manik itu mulai menampakkan kebingungan, gerangan kenapa Levi ada duduk di ranjangnya? Apa yang dia lakukan selama ia tertidur? Tapi Eren melihat lagi kepada mahluk di depannya, apa yang ada di tangannya dan apa yang dilakukannya, sekiranya.
"Aku tidak tahu harus minta maaf... atau beterimakasih kepadamu."
Satu hal yang mungkin sering dilupakannya adalah, Levi ada dan datang untuk kesembuhannya sendiri, apapun itu walau masih dipertanyakan.
Walau masih menjadi misteri penyakit kronis apa sebenarnya.
Tetapi, dari Levi jawaban Eren bukan ucapan, cukup kasar ia menarik kaki kanan Eren kembali lalu melihatnya, "kau merusaknya."
Apapun itu Eren tidak mengetahuinya, tetapi benar dia adalah perusak bahkan untuk dirinya sendiri. Terlihat kain putih sprei sedikit ternoda karena sesuatu yang ditimbulkan oleh gerakan spontan mayat yang baru bangun. Nampaknya itu obat sejenis salep atau gel, penampakannya sih gitu.
"Maaf..."
Eren cukup menyesal, tetapi Levi terlalu sabar untuk membuka pintu ampunannya, karena baginya tak ada yang perlu diampuni, tak ada yang perlu dimaafkan. Dengan pelan dan rapi tanpa mengatakan apapun, ia kembali mengusapkan jeli yang sebenarnya dingin rasanya di kaki. Singkat cerita, segaris luka bakar di punggung kakinya sedang diobati.
Ingin Eren mengatakan ia bisa melakukannya sendiri, atau ia merasa... apa ini merasa fantastis juga kakinya bisa berada di atas paha orang yang sudah membuat dirinya tarik ulur urat.
"Berhentilah mengucapkan kata-kata itu," suaranya yang dingin dan jarang keluar tiba-tiba terdengar.
"Kata-kata apa?" Eren kurang tangkap.
"Maaf dan terimakasih."
'Oh...'
Eren diam saja, setelah tangan yang terasa memperlalukannya dengan lembut berhenti memanjakan kakinya ia menghembuskan nafas berat sembunyi-sembunyi. "Sebenarnya kau tidak perlu melakukan ini," ucapnya tanpa menatap wajah lawan bicaranya.
"Kenapa? Kau akan merusaknya lagi?" Oh, baiklah, Eren akui dirinya yang terbangun dan menggila dalam sedetik menggoser kakinya ke kasur membuat gel itu malah menempel kepada seprei ranjang.
"Bukan!" Keras banginya, "karena kurasa... aku sudah terbiasa dengan luka-luka," ahh.. menyesal juga ia mengatakan ini, pasti terdengar aneh jadi curhat begitu. Eren segera menundukan kepalanya saat menyadari manik gelap didepannya menatap.
"Kau pikir bersama siapa kau sekarang, Bocah?" Balasnya.
"Bocah...?" Eren mengerutkan dahi mengulang sebutan untuknya, rasanya kurang senang dia.
Sebelum pembicaraan itu semakin panjang, Eren membulatkan matanya tak percaya begitu disadarinya bahwa jendela di sebelahnya menampakan pemandangan yang sudah tidak terang.
"Jam berapa sekarang?!" Kedengarannya panik, kaget, langsung ia angkat seluruh pandangan menatapnya penuh dnegan keberanian.
"Hampir malam."
"Aku tertidur selama itu?!" Ia tak percaya dengan kelakuannya sendiri, dan sosok di depannya hanya bisa menampilkan talenan yang takkan menjawab.
Sejujurnya Eren memang tidak begitu mengingatnya tapi, ia yakin kalau dia tidak pernah mengantar dirinya sendiri ke kamar dan berniat untuk tidur atau berbaring. Pandangannya pun ia tolehkan lagi kepada wajah parkinson di depannya, lagi-lagi tidak ada yang bisa dibaca, bagaikan orang yang sulit mengubah ekspressi karena syaraf-syarafnya sudak tidak benar.
Sebuah sisi dari kepalanya yang lain mengatakan bahwa, apakah Levi memberikannya obat tidur? Lalu menggendong, baiklah abaikan kata menggendong itu mungkin Eren diseret ke kamar dan membuat-buat kalau ia sengaja tidur. Tidak... Eren yang lain menoba menyingkirkan dugaan yang menyakitkan hati itu, tapi bagaimana kalau benar? Bagaimna kalau..
"Mungkin tubuhmu sedang kelelahan."
bagaikan memecah ombak yang sedang berderu di kepala berambut cokelat.
Lgai-lagi kata-katanya, tidak benar tidak salah namun hanya membuat embun di kacamata Eren makin tebal. Perilakunya, masih buram.
Eren merasa tenang untuk sesaat, atau juga tidak.
"Oh, baiklah..." , "Ah, aku tidak perlu mengucapkan terimakasih kan?" Kata remaja beranjak dewasa itu, yang mulai leluasa.
Lalu hening, Levi nampaknya membiarkan saja tungkai dari seorang 170cm hinggap di pahanya sementara Eren sendiri mulai lupa diri.
Tetapi tidak begitu ia rasa pandangan mata hitam itu makin intens, segera ia tarik kembali kakinya. "Apa kau sudah tahu namaku?" Tanya Eren, mencari dan beralih topik.
"Eren," jawabnya cepat, tetapi tidak begitu antusias.
Eren lalu terhenyak sendiri, mencari cari topik lain karena sebenarnya ia masih ingin bersama seorang yang sedang memberikan tatapan tanya kepadanya, menanti apalagi yang menghambat kepergiannya dari sini. "Oh ya... silahkan panggil saja begitu."
Setelah keheningan menyerbak lagi, Levi mengangkat dirinya merasa moment ini tersudahi...
"Kau mau ke mana?" Eren spontan bertanya, sudah 2 kali dalam sehari ia ucapkan kat-kata ini.
Kepala hitam itu menoleh kepadanya, "apa kau ingin aku terus di sini?"
Eren diam sejenak... Inginnya, sih menanyakan dengan jelas soal selama ini... semua-muanya yang tidak jelas. Apakah kau memasukan obat ke dalam makanan? Apakah penyakit yang kau maksud? Kenapa bercandamu lucu sekali?
"Pergilah!" Usir Eren, tidak peduli dirinya terlihat keji.
Akhirnya tidak ada lagi yang menghambat jalannya menuju Roma, menjauh sosok putih itu semakin mejauh dan menjauh saja hingga tak terlihat. Eren hanya memandangnya dari belakang.
Dan ketika semuanya hening...
Tunggu dulu, sepertinya ada yang tertinggal... Levi memanggilnya 'bocah'? Eren tersenyum miris, miris karena laki-laki itu tidak mengetahui dirinya siapa sebenarnya. Lagi, sebenarnya tidak ada salah satu di antara mereka yang pernah mengatakan soal umur, tetapi... Eren tidak ingin mengakui kalau Levi tidak terlihat setua itu –awet muda— untuk memnaggilnya 'bocah'. Malah, ia rasa dengan tubuhnya yang mini itu... mungkin dia memalsukan umur untuk bekerja jadi perawat demi membantu ekonomi keluarga? Baru kali ini, dalam seumur hidupnya ada yang meremehkannya, merasa tidak pernah diremehkan sebelumnya.
Eren mengengok kembali ke jendela, sungguh gelap sekarang nampaknya. Tetapi entah walau dirinya baru terbangun dari tidur, rasa berat masih hinggap di kepalanya... tidur yang dialaminya pun terasa sangat dalam. Mungkin memang benar dia diracun dengan obat tidur... Eren hanya memegangi kepalanya sebelum ia benar-benar kembali menjatuhkan seluruh tubuh dan pikirannya ke kasur, ia tidak bisa berfikir atau mengatakan apapun lagi, apapun.
Saat pagi dirasanya sudah cukup terik menerpa wajahnya yang menghadang jendela, ia membuka mata lalu melamun dengan posisi yang masih telentang tidak langsung bangkit. Sebentar saja, ia mengingat-ingat berada di mana sekarang, merasa alas rebahannya berbeda. Handphone miliknya yang masih terhubung dengan sebuah kabel charge di steker tembok diambilnya, untuk melihat jam berapa sekarang. Ternyata tidak terlalu siang untuk bangun, yaitu pukul 6.30. Eren cepat-cepat berdiri lalu berlari ke luar, yang diharap-harapkannya adalah sebuah hidangan.
Tetapi tidak, setelah tiba di dapur jawabannya adalah dapur yang masih bersih sekaligus bersih dari makanan, meja makan juga bersih. Tidak ada apapun kecuali bukti bahwa dapur itu belum ada yang menyentuhnya, apalagi Levi sudah jelas tidak ada di sana, Eren henyak sendiri. Apakah semalam ia hanya bermimpi?
Eren mulai melangkahkan kaki-kakinya, mencari di manakah sosok putih itu? Apa dia berada di sebuah ruangan di rumah ini?
Eren tidak ingin membuka pintunya satu-satu, dan ia sebenarnya tidak ingin terlihat peduli hingga meluangkan perasaannya untuk khawatir. Jari-jarinya menarik secuil gorden untuk mengintip lewat jendela yang diam, dan tidak ada siapapun di sana, hanya sebuah pemandangan hijau halaman belakang luas terekpos cahaya.
Apa mungkin Levi sudah pergi untuk selama-lamanya? Hanya hari itu saja dia datang untuk menjadi gangguan yang menghibur bagi dirinya? Dia tidak pernah mengatakannya dan aku tidak pernah bertanya. Eren menyimpan jari-jarinya kembali, mencoba menutupi hatinya yang sedikit kecewa.
Eren membantiing dirinya ke sofa di ruang tengah, seharusnya ia lega selega-leganya. Tapi entah kenapa hati kecilnya berteriak itu terlalu cepat... dirinya masih ingin, kalau diberi kesempatan, lebih jauh mengenal sosok Levi.
Tapi secuil memorinya mengingatkan, mungkin saja si sosok putih memang suka bermain sembunyi-sembunyi lalu tiba-tiba saja mengagetkannya dari belakang. Eren terenyum pelit, membayangkan.
Kaki-kakinya akhirnya terangkat lagi untuk mencari sesuatu yang sebenarnya juga tidak tahu. Akhirnya sebuah keinginan kecil untuk melepaskan dahaga di tenggorokannya muncul, ia ingin minum. Dapurlah kini tujuannya.
Ternyata ia tak sadar, begitu melewati kaca dapur yang sebenarnya sudah dilewatinya tadi.
Sesungguhnya Levi ada kok, sedang menjemur pakaian yang keliahtannya familiar sekali bagi Eren karena kemungkinan besar memang adalah miliknya. Sepasang matanya mengakomodasikan pandangan, ia ingat ia pernah meninggalkan bajunya yang kemarin sudah kucel abis di kamar mandi saat membersihkan diri. Kemudian dari pada itu, kenikmatan dan rasa syukur bahwa ia masih ada di sini bukanlah sebuah fatamorgana kan?
Eren merasa cukup sia-sia membuang rasa takut ditinggalkan dan cemas yang beradu. Bathinnya menghela, entah ini lelucon lagi, manuver ngagetin lagi, atau apapun itu. Ia merasa kepintarannya menurun jauh semenjak kehadiran Levi, yang by the way selalu mengenakan pakaian putih-putih hingga ke ujung kaki... Seperti sosok putih berhantu di film seram.
Eren mendekatkan langkah ke jendela, hanya mendekatkan, "harusnya dia menyiapkan sarapan untukku," gumamnya sendiri.
Walau Eren tidak sampai mengambil jarak amat dekat seperti menempelkan dirinya ke jendela untuk melihat Levi, ia melihatnya agak jauh jadi sedikit rabun. Selama ini manik hijaunya yang berkilauan hanya bisa menatap dari kejauhan, tak dapat didekati, tak dapat disentuh. Mungkin saja kalau disentuh akan hancur seperti gelembung sabun. Walau sebenarnya ia ingin ucapkan 1000 kata tentang kehidupannya sambil bercerita, bertanya, mengakrabkan diri. Tapi nyatanya tanpa berani mengatakan sesuatu yang ia ingin katakan. Diri itu tidak mengetahuinya sendiri, kenapa rasanya sulit mencairkan gunung es di depannya.
Tanpa sadar bola mata hitam itu ternyata menatapnya juga, manik hiaju Eren langsung membuang padangan jauh-jauh. Ia pikir jendela itu menggunakan kaca riben, seharusnya orang tidak bisa melihat dari luar ke dalam. Entah tanpa kepastian apa Levi benar melihatnya, tapi ia dan perasaannya yang masih bimbang pergi sendiri.
Levi akhirnya kembali dan melanjutkan untuk menggugurkan kewajibannya selanjutnya, memasak. Eren tidak mau terus-terusan menunggu, dia sempat hendak membantu tetapi diusir oleh penguasa dapur. Tidak sampai ½ jam Eren berpangku tangan di meja makan hingga sarapan sudah siap, segeralah ia bersorak sorai dalam hatinya saat Levi menaruh piring di depan wajahnya.
Eren tahu setelah ini Levi akan pergi, kalau tidak langsung pergi, paling duduk sebentar dan endingnya pergi juga.
"Aku tidak pernah melihatmu makan."
Levi yang memang hendak pergi langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kepada Eren, nampak mulut itu terkunci setelah kata-katanya yang cepat terdengar dan spontan.
"Apa itu masalah?"
Eren tahu, jawaban seperti itu sudah terbayang di kepalanya. Lihatlah rautnya seolah petanda dirinya tak pernah merasa terhibur. "Bukan..."
'Tapi bagaimana kalau ini mengandung obat tidur jadi kau tidak mau memakannya?' Eren hanya bergumam dalam hati, sisi darinya yang itu masih belum musnah. Raga sendiri juga tidak tahu harus memihak yang mana.
Kalau bukan dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi, maka Levi akan pergi. Eren pun diam merasa gagal dikit dalam mengutarakan maksdunya, sambil menghela dalam hati. Akhirnya manik cerah itu membuang pandangan dan harapannya yang tersudahi.
Tetapi memang benar Levi menjauhkan jaraknya, baru saja Eren ingin menyuap pancake yang sudah dipotongnya ke dalam mulut. Bagaikan tak rela, masih saja sepasang manik hijau memerhatikan kepergiannya dari belakang. Sebenarnya belum sejauh itu, Levi nampak sedang mencuci tangan di bak cuci piring atau washtafel dapur. Tetapi tidak ketika manik hijau mulai melebar melihat gerak-gerik selanjutnya, pria itu berjalan mendekatinya sambil membawa piring yang sama dengan hidangan yang sama.
Sambil mengunyah, 'dia mau makan bersamaku?' Dan sambil menatap Levi yang sudah duduk di hadapannya.
Padahal Eren tidak bermaksud mengkode Levi atas perkataannya tadi. Tapi kalau memang benar apa yang dilakukan laki-laki di hadapannya yang sudah mulai makan adalah karena perkataannya, itu cukup impresif bagi Eren. Apaan ya dia terlalu peka? Tetapi kalau makan bersama ini sebenarnya bisa terjadi, maka akan sangat bagus. Diam-diam Eren tersenyum tipis.
Eren baru saja membuka mulutnya, bukan untuk memasukan makanan ke dalamnya namun untuk mengeluarkan sesuatu bernama suara dari sana. Tetapi begitu menyadari Levi di depannya menatap gerakannya yang terbata, ia lipat lagi bibir itu rapat-rapat.
Sebenarnya Eren ingin mengucapkan sesuatu... sesuatu yang mungkin terdengar bagus kepada seorang yang sekarang sudah mau menemaninya makan, tetapi tidak. Cukup melihat wajahnya dari dekat saja sambil mengingat bahwa diri sendiri tidak dapat menghancurkan tembok di antara mereka, sudah menyakitkan.
Keheningan pun berlanjut, hanya dentingan-dentingan yang khas terdengar. Kalaulah pria berambut hitam itu memang benar-benar senyap, maka suara berisik datang dari Eren. Inginnya, inginnya ia membuat sebuah percakapan yang seru atau sekedar mengomentari soal makanannya, tetapi lagi-lagi hanya bisa menatapnya dari kedekatan yang terasa jauh.
"Aw!"
Keheningan mendadak pecah karena ulah Eren, ia mendadak berhenti dari kegiatan yang dilakukannya. Levi di depannya pun mendadak teralih perhatiannya.
Menyadari sepasang mata tengah menatapnya, Eren menatap balik seraya mengulum bibirnya yang barusan tanpa sengaja digigit olehnya sendiri.
Eren kira, sosok putih itu akan bertanya tentang keadaannya atau apa. Tapi tidak, yang selanjutnya ada di wajah temboknya, walaupun itu tipis adalah senyum jahat yang rasanya meledek. Sementara di sudut yang tersakiti hanya bisa membalasnya dengan padangan tidak senang.
Baru saja sedetik yang lalu Eren merasa senang akan perlakuannya, namun sekarang orang yang sama tersenyum 'manis' di atas penderitaannya.
Tetapi Eren tidak ingin berkomentar dan menyimpan semuanya dalam hati.
Kalau diingat, ia tidak membaca doa sebelum makan seperti yang biasanya ia lakukan, ia juga tidak mengucapkan selamat makan seprti yang diajarkan kepadanya, apalagi mengucapkan terimakasih atas hidangannya... maka hingga acara makan sudah selesai, Eren kembali terjebak dalam kebimbangannya itu tanpa jalan keluar. Ia masih duduk manis di sana menatap Levi yang mulai menghampirinya.
"Sudah selesai?" Eren menggangguk pelan. Levi lalu mengambil piring yang sudah bersih seperti habis dijilat, mengumpulkannya berniat untuk mencucinya. Sebenarnya ia tidak mencuci piring karena, bahkan Eren tidak tahu kalau ada mesin pencuci piring bersembunyi di meja dapur.
Eren serasa berpacu dengan waktu soal kata-kata yang inginnya ia ucapkan namun sulitnya sampai mati, ia hanya berani menoleh kepada mahluk yang berdiri di depan dishwasher . Tapi untuk apa niat tanpa perbuatan? Untuk apa cinta tanpa pembuktian? Tak ada artinya. Sebelum menyesal karena Levi pastiii akan pergi lagi, tangannya mengambil apa yang ada di depannya dulu. Segelas susu yang entah susu apaan, atau hanya air tajin beracun. Langsung saja ditenggaknya, sekali teguk langsung habis.
"Terimaka–"
Perasaan, seingatnya, saat di kamar kemarin orang yang akan menerima ucapannya sendiri mengatakan 'berhentilah mengucapkan kata-kata seperti itu', kalau bisa Eren ingin menutup mulutnya sekarang tapi sudah cukup dengan kata yang berhenti di tengah ini. Sepasang mata yang kelam pun menengok ke arahnya, melihat gerangan burnette, Eren gugup sendiri kalau sudah begini jadinya maka yang ada ia hanya akan terlihat aneh.
"Maaf–"
Langsung Eren menutup mulutnya dengan kedua tangan, menyadari kesalahannya makin menjadi. Kedua maniknya memberi tatapan akan permohonan kepada Levi yang mulai mendekatinya, apalah nanti yang akan dikatakannya. Tapi tidak, lelaki itu lewat di depan matanya hanya untuk mengambil gelas kosong yang baru dihabisi Eren.
Eren membuka mulutnya kembali, mengambil nafas banyak-banyak.
Kalau tirai besi itu tidak mau menerima maaf dan terimakasih, maka apa yang bisa diberikan kepadanya untuk sedikit saja memperlihatkan isi di dalamnya.
"Apa yang bisa kulakukan untukmu?"
Tidak, Eren menyesalinya tidak sampai sedetik kemudian, menyadari kalimatnya macam drama seperti ia akan melakukan pengorbanan atas hidupnya.
"Ah.. maksudku, ada yang bisa kubantu?"
"Kalau kau diam saja tidur di kamarmu seharian, itu sudah sangat membantu."
"..."
Lagi-lagi Eren hanya bisa meredam nafasnya yang berat dalam-dalam, ingin ia membuat balasan dari kalimat itu namun mendadak dibatalkan. Ah entahlah, ingin ia mengutuk dirinya sendiri, orang kutub utara di depannya ini, dan semua orang di dunia yang telah membuatnya merasa bersalah... karena tidak dapat menghancurkan tembok besar di antara ia, dan siapa lagi coba kalau bukan Levi?
Akhirnya Eren pergi sungguhan, entah apa maksudnya menyindir Eren yang tidak melakukan apapun, atau dia sebenarnya serius. Baru saja ia serasa ditinggikan, namun dihempaskan sedetik kemudian.
Eren melihat bantal yang kebetulan adalah satu-satunya di kamarnya, ia ingin ambil itu membenamkan wajahnya ke sana dan teriak sekencang-kencangnya yang ia bisa kalau mungkin sampai pita suaranya pecah. Tapi tidak, itu terlalu emosional, drmatis, dan berlebihan. Eren mengambil hpnya yang baterenya ternyata sudah penuh, mungkiin sejak beberapa jam yang lalu.
Akhirnya berjam-jam ia habiskan dengan chatting bersama teman-teman dutanya, ia bukanlah sosok penyendiri yang cupu, percayalah, bahkan ia memmiliki banayk koneksi dengan orang lain di luar sana. Menanyakan bagaimana keadaan tanpanya, bagaimana perkembangan berita soal kebakaran kilang minyak, dan berbagai hal termasuk candaan-candaan konyol yang tidak begitu penting tapi menghibur.
Sudah pukul 3 siang tanpa sadar, saat Eren keluar ingin ke kamar kecil. Oh, ia melewatkan makan siang dan tidak ada yang memberitahunya, huh? Apakah hidangan belum siap? Eren geli sendiri membayangkan ia akan menghardik seorang pembantu baru karena kerjanya yang belum becus, kalau saja... tapi becus, sih.
Tetapi tiba-tiba mendapati pemandangan yang ia rasa adalah kesempatan untuknya, sepasang manik hijau membulat.
Levi sedang tertidur di sofa depan. Eren pelan-pelan menghampiri dengan perasaan-perasaan yang beragam, sesampainya ia melambai-lambaikan tangan ke depan wajah tidur itu untuk mengecek apakah ini kesungguhan? Seuah keinginan pun muncul di kepalanya, Eren tersenyum sendiri sekaligus terkekeh geli.
Akhrinya Eren menunjukan handphone yang kebetulan sekali sedang dibawanya, dibukalah kamera depan lalu kepalanya sempat menoleh ke belakang lagi, berharap sleeping beast masih berada di awang-awang. Jadilah sebuah foto, namun tidak hanya sekali, 4 kali tepatnya sekurang-kurangnya untuk dibuat grid dengan ekpressinya yang berganti-ganti. Kalau bisa sisanya ia jadikan foto tunggal dengan caption 'bae is sleeping'. Atau... nanti dia bisa menunjukan foto itu kepada teman-temannya dan menanyakan apa sosok putih dalam gambar cukup rupawan?
Eren menoleh ke belakang, lagi, memastikan kedua mata si sleeping beast masih tertutup.
Tetapi, kaki-kakinya tidak akan pergi secepat itu. Eren menundukan dirinya sendiri di depan Levi, lalu akhirnya ia benar-benar duduk di lantai. Untuk apa lagi kalau bukan untuk memandangi wajah dingin itu lebih dekat?
Objek di depan matanya bagai patung di musium yang hanya boleh dilihat dan dikagumi dalam sebuah jarak dengan sebuah papan menempel bertuliskan 'jangan disentuh'. Eren hanya bisa tersenyum untuk berkali kali, tak menyadari jarak antara wajah mereka makin dekat.
Lihatlah rambut poninya yang nakal dan menghalangi keningnya, matanya tertutup sempurna... lalu warna kulitnya yang putih dingin malah membuat Eren meleleh, bibirnya... serasa ingin... ia menelan ludah, memohon malam ini ia bisa tidur tenang tanpa memimpikan yang tidak-tidak.
Baru kali ini saja wajahnya terlihat damai, tak ada rasa sakit yang diterima oleh manik hijau kalau warna hitam itu sedang menutup. Biasanya dari jauh pun sudah terasa mengerikan, tetapi jika sedekat ini Eren merasa dirinyalah yang akan menjadi mengerikan.
Tak ingin berlama-lama sebelum singa itu bangun, Eren kembali pergi ke alamnya lagi.
Tapi Eren tidak tahu saja selepas langkahnya pergi, sepasang mata itu langsung membuka memperlihatkan segelap-gelapnya warna.
Merasa sudah melewatkan makan siang, Eren menghampiri dapur.
Ternyata memang tidak ada alasan bagi Eren untuk marah kepada pembantu baru itu, lebih dari sekedar pembantu sebenarnya. Dengan nafsu yang sudah memuncak, sebilah tangannya menarik kursi dan duduk. Menunya? Entah Eren tidak tahu namanya, namun home-style cooking nampaknya ya. Ada beberapa tumisan seperti sayuran dan daging yang ditaburi wijen, apakah itu bulgogi? Akhir-akhir ini Eren jadi suka atau ikut-ikutan suka tepatnya karena rekan sejawatnya beberapa kali mengajaknya makan di restoran Korea.
Baru saja, Eren bangun lagi untuk mengambil nasi di rice cooker, tetapi mahluk yang seharusnya melakukannya sudah ada di sana. Mungkin sudah terbiasa dengan penampakannya yang tiba-tiba, hati manusia 17 tahun itu sudah tak terkejut lagi. Melihatnya, Eren mengurunkan niat lalu duduk manis kembali hingga Levi menaruh semangkuk nasi di hadapannya.
"Kau akan makan bersamaku 'kan...?"
Tanya Eren begitu saja saat Levi ada di depan matanya, manik hitam kebiruan langsung memberikan tatapan sebagai balasannya. Sementara si penanya mulai ragu akan jawabannya...
"Itu yang kau harapkan, bukan?" Jawabnya dengan nada yang dingin, seraya berlalu.
Walau kedengarannya tidak manis, peduli setan, entah karena suruhan darinya atau dari drinya sendiri Levi makan bersama dengannya... yang penting bisa makan bersama. Untuk saat ini, mungkin Eren hanya dapat mensyukuri pilihan pertama, Levi makan bersamanya mungkin karena terpaksa. Tapi rasanya kalau mahluk es itu memang tidak mau, dia bisa saja tidak melakukannya, kan? Tapi kenapa dia mau? Eren tersenyum diam-diam dengan pikiran-pikirannya.
Sebenarnya saat acara makan, rasanya seperti kau sedang bekerja lalu di sampingmu ada atasanmu yang galak. Eren menjaga bunyi-bunyi diantara mereka terdengar tetap sopan, ia tidak mau tiba-tiba dikritik karena makannya berisik. Sebenarnya itu tidak pernah terjadi, tapi kalau orang macam Levi mungkin saja, nampaknya saja, ia akan menegurnya kalau memang benar.
Tetapi, ada hal yang bagi Eren cukup mengganggu dan serius.
Levi tidak menyentuh daging dengan wijen di meja, padahal rasanya enak, apa dia vegetarian? Eren mulai memandangi wajahnya yang sedang serius makan.
Hei Eren yang baik, bagaimana kalau daging itu sebenarnya diracun?
"Kenapa kau tidak memakan daging?"
.
.
"Kupikir kau menyukainya, jadi kuberikan semuanya untukmu."
Eren tidak tahu harus apa mendengarnya.
Sebenarnya tidak sepenuhnya benar kalau Eren suka daging, tapi penampakannya yang seperti bulgogi membuat Eren cukup terpesona. Lagi rasanya itu kira-kira 11-12 dengan restoran, ia tak mau menyebutkan kata sempurna. Mungkin Levi melihat keberingasannya saat makan, dan ia mundur. Sedikit Eren merasa malu sendiri, apakah terlihat seperti itu ia dimatanya? Ia memperlambat kunyahannya agar terlhat lebih tenang, sehingga tidak memunculkan anggapan-anggapan lainnya.
Benarkah hatinya harus luluh dengan jawaban seperti itu?
Eren ingin menahan tawa kecil, akhirnya dia diam-diam tersenyum entah miris pada dirinya sendiri yang jahat, atau miris kepada orang baik yang dijahatinya.
"Kalau begitu... kau seharusnya sudah tahu bagaimana penilaianku tentang masakanmu," ucap Eren sambil tersenyum. Sedikit bangga ia terhadap dirinya karena akhirnya bisa mengucapkan sebuah kalimat walau Levi tidak menjawabnya apa-apa.
Tak ada lagi pembicaraan hingga selesai makan.
Seperti biasa, Levi lekas mengusir Eren yang membuat dirinya sendiri terlihat ingin membantu. Walau mereka nampaknya sudah tahu maksud masing-masing, Eren tahu kalau Levi akan menolaknya, begitu pun sebaliknya. Hanya sekedar menunjukan bahwa, sebenarnya walaupun sudah tahu akan ditolak tapi ia maish ingin berusaha. Seperti usahanya selama ini meruntuhkan tembok di antara keduanya.
Tetapi Eren tidak berniat untuk mengganggunya lagi, ia hendak berkeliling sekedar menghibur kebosanannya.
Ketika kakinya berjalan di dalam rumah, kepalanya berfikir bahwa mungkin saja... atau memang begitu kalau Levi juga pasti membersihkan rumah, dan melakukan segalanya. Sebenarnya sungguh tak ada hubungannya dengan merawat lukanya yang sudah tak terasa. Dia mungkin datang hanya menjadi budak, bagus juga sebenarnya karena kalau Eren sendiri, yang ada rumah itu yang akan kacau.
Walau... ia tetap tidak dapat menanyakan maksud kedatangannya yang sesungguhnya, atau apapun itu. Rasanya sekarang Eren sudah tidak peduli datang untuk membunuhnya atau datang untuk kebaikannya, ia sudah senang dan bersyukur seumur hidupnya ia bisa melihat, berbicara, dan tinggal serumah dengan orang bernama Levi.
Manik hijaunya kemudian menangkap jemuran yang ada di halaman belakang, sekiranya sih sudah kerng, hendaklah ia mengambil itu. Harap-harap bisa meringankan beban orang dalam, tapi baru saja sebilah tangannya menarik ujung bajunya, di sisi lain sudah ada tangan lain yang menariknya juga.
Eren memberikan pandangan dan pasti tak ada yang lain lagi di sana, kecuali si pembantu telah datang. Sempat terjadi adengan tarik-tarikan kecil, tetapi Eren mengalah dan mundur, hasilnya ia hanya melihat dan membuntuti Levi sampai masuk lagi ke dalam rumah.
Melihat kalau yang akan dilakukan tangan-tangan itu adalah melipat baju, Eren segera minggat karena ia tidak suka melipat baju.
Karena bajunya sedikit, Eren rasa tak akan lama Levi dengan pekerjaannya, ia bisa lebih cepat untuk mengganggunya lagi nanti.
Tetapi ketika sedang asyik dengan dunianya di dalam kamar, Eren terkejut ketika seseorang memasuki pintunya.
Eren tampak tidak senang, apa ini manuver untuk mengagetinya lagi? Apa ini candaan lagi? "Lain kali ketuk pitunya."
Eren masih diam di ranjang, ia hanya memerhatikan gelagat orang yang masih saja pakai baju putih-putih di hari ke2 memasukan bajunya ke lemari Armin.
"Kenapa kau selalu memakai baju putih-putih?" Atasan putih, bawahan putih. Eren keluarkan saja suaranya langsung.
"Apa itu artinya kau sedang berkabung...?"
Sebenarnya itu bisa menjadi dugaan yang benar, dalam sebuah kebudayaan istri disuruh untuk mengenakan baju putih untuk beberapa waktu sebagai tanda berkabung suaminya yang meninggal. Hanya saja Eren tidak melanjutkan kata-katanya hingga ke sana, ia takut akan mendapatkan bogem nanti.
"Apa itu benar?" Masih ia ajukan lagi tanya, merasa belum puas terjawab.
Tapi Levi tidak menjawabnya dengan suara, malah ia hanya memberikan tatapan yang sudah dilihat Eren ribuan kali sebelumnya.
Eren sama sekali tidak bisa membacanya.
Benar-benar Levi tidak menjawabnya. Setelah Eren kedengaran seperti bermonolog, ia keluar.
Sepasang mata hijau yang masih terpaku dengan pintu tertutup di depannya mulai mengira-ngira. Seharusnya ia bisa menjawab... atau setidaknya bisa mengatakan balasan pamungkasnya yang hanya menunjukan bahwa dirinya tidak senang ditanya.
Atau diam itu memang berarti benar?
Benarkah?
Tapi Eren rasa, ini bukan topik yang akan terus ia ungkit hingga ia mendapatkan jawabannya. Hanya lain kali saja ia akan mengubah arah pembicaraannya sampai mendengar yang diinginkannya, ia jadi makin penasaran untuk menembus tirai besi itu.
Arm in arm
Kapan kamu akan pulang?
Tidak tahu, ini sepertinya masih lama *sad*
Masih lama?
Tidak tahu *sad*
Kapan-kapan kalau sudah mau pulang kabari aku ya.
selamat bersenang senang!
Malamnya ketika Eren tengah bersiap untuk tidur, ia melihat Levi yang masih ada di ruang tengah, lalu dilontarkanlah sebuah pertanyaan darinya, "semalam kau tidur di mana...?"
Levi pun perlahan duduk di sofa yang berada di sana, "di sini," jawabnya
"Kau tidur di luar?" Raut Eren agak sedikit berlebihan.
Levi diam saja, menganggap jawaban sebelumnya tidak salah tidak ada yang perlu dikoreksi.
Eren pikir rumah ini memang benar luas, ya memang luas. Tetapi Eren rasa Armin akan mengunci kamarnya dan pamannya atau apapun itu. Kalaupun tidak rasanya tidak enak juga, ia datang ke sini sebagai tamu yang baik bukan untuk menerobos atau mencuri. Walau ia bisa bertanya kepada pemilik rumah apakah ada kamar lain? Tidak, nanti ia bisa tahu kalau ada sesorang yang lain di sana... untuk sementara ia tidak ingin ada seorang pun yang tahu tentang Levi.
Karena akhirnya tidak ada kata-kata yang keluar, Eren hengkang ke kamarnya.
Boleh saja kalau sosok berbaju putih itu ada di sampingnya saat tidur, tapi tidak.
Malam-malam Eren terbangun karena hujan turun amat sangat deras, petanda siang tadi panas sekali. Merasakan angin dingin yang masuk, ia menyempitkan jendelanya agar tidak terbuka terlalu lebar. Ingat dengan dinginnya saat ini membuatnya teringat kalau ada manusia yang lebih dingin sesungguhnya di luar sana. Oiya, bagaimana dengan Levi?
Sebenarnya Eren tahu, rumah ini takkan bocor, dan bagaimanapun juga Levi tidak akan menangis di depan sana karena hujan. Tapi ia ingin agar dingin ini jangan sampai menambah jarak diantara mereka. Eren keluar untuk melihat, ternyata lampu tengah dimatikan dan hanya siluet-siluet yang terlihat, secercah cahanya tiba-tiba datang dari kilat yang menyambar. Sosok itu masih ada di sana nampak tertidur berbaring lelap tanpa menyadari apapun, melihatnya membuat Eren kembalikan kaki-kakinya ke dalam untuk mengambil selimut dari lemari.
Eren sempat menyenggol meja kopi hingga suaranya keras di sela hujan yang deras, ia harap tak seorang pun terbangun. Sambil mengaduh di dalam hatinya, ia pun menyelimuti sosok yang sedang terbaring di depannya dengan selimut yang dibawa pelan-pelan. Setelahnya cepat-cepat ia kembali sambil menjinjit.
Sesampainya, ranjang itu menerima benturan keras karena seseorang membantingkan tubuhnya ke permukaan empuk. Eren mengadah ke jendela dan jalur-jalur yang dibuat hujan. Dirasakannya pula begitu kembali ke kamar lebih hangat, berarti di luar lebih dingin.
Tetapi dalam deru hujan, tiba-tiba sesosok mahluk datang ke kamarnya, langsung Eren bangun dan membetulkan posisinya seolah panik. Levi datang sambil membawa selimut yang diberikan kepadanya. Kepala cokelat itu tidak tahu apa yang akan dilakukan sosok yang agak horor gelap-gelap begitu, tetapi detik selanjutnya ia malah menerima lemparan keras yang empuk, "aw!"
Begitu selesai ia menyingkirkan buntalan itu dari wajahnya, ia melihat sosok putih dalam gelap kini sudah tiada. Segera ia menurunkan kaki dari singgasananya untuk mencari.
Levi tidak akan pergi kemana juga, Eren segera menarik tangan itu dengan kasar.
"Kenapa kau mengembalikannya?!" Tanya Eren dengan nada kencang takut tidak kedengaran karena hujan deras, petir menderu lagi.
"Kau sendiri apa yang kau lakukan?" Levi kedengarannya mulai tidak senang.
"~!"
Eren tidak ingin melontarkan kata-kata bahwa sebenarnya ia peduli.
Untung saja gelap, Eren sudah tidak tahan wajahnya memerah karena menggenggam tangan seorang Levi. Eren tidak bisa melihat ke depan bahwa sepasang mata kelam menatapnya, ia pun tak dapat memberikan apapun karena badai yang sesungguhnya ada di dalam hatinya. Lama-kelamaan tangan yang digenggam pun meronta.
"Apa kau tidak melihatnya?" Ucapnya mulai pelan, Eren melonggarkan genggamannya hampir lepas. Sementara kepalanya yang sempat menunduk terangkat.
"Bahwa aku–"
Petir menyambar besar-besaran hingga mobil seseorang di luar sana terdengar bunyi nyaring alaramnya menyala, dengan ini, suara Eren habis teredam. Di dalam hati, ia melipat bibirnya menyesal mengatakannya karena malu, tapi lega nampaknya tak terdengar. Tapi akhirnya benar-benar ia lepaskan genggaman itu lalu pergi.
.
.
.
.
.
And I will make sure
To keep my distance
Say "I love you"
When you're not listening
How long can we keep this up, up, up...?
.
.
.
.
.
Tebece...
Haaaaaa lo tau ga sih gue setiap tanggal publish rasanya kayak cinderella malem2 ngudak kereta kencana sebelum jem 12 :'''vv
tapi apalah dayaku akhirnya hanya bisa ikut kereta selanjutnya *nangis 2 ember*
Sorry gw tulis Levi berwajah tirai besi, but its not Russian-Communist thing. Tapi, filosofinya itu maksudnya orang2 yang mukanya dingin, tertutup, dan gapernah senyum gitu :v
Love in progress, readers.. jadi sabar yaa
Special thanks to HyunminCho137 & Hikaru Rikou
The song and lyrics are owned by their respective owner, which are not affiliated or associated in any way with this fiction
This fan fiction IS NOT a songfic
Keeping Lines Blurry
Mission 2
The Great Wall between Us
By
Howa
Disclaimer
Hajime Isayama
Rating
T
Pairing
RiRen/RivaEre
Genre
Crime & Romance
Maaf apabila ada kesalahan pada penulisan nama/gelar saudara/i
Untuk mendukung author, anda bisa meluangkan waktu sebentar untuk review, follow, atau fave juga bisa banget.
Terimakasih pake banget yang sudah mau membaca ff ini, apalagi yang udah ngikutin sejauh ini, howa akan selalu memerhatikan views and visitors
