Kuu-cchi

Aishiteru yo, Naruto!

サスーナル―

Disc: Masashi punya Naruto

This Fict is mine.

Rate T

Pair: …xnaru, …xnarux…

Note: untuk minggu depan, Kuu nggak bias update semua fanfic KUu, hehehe... gomen ya kalo ada yang nunggu.

Genrenya kalian tentuin sendiri aja. Kuu bingung.

Awas! Ini cerita BxB alias gay alias yaoi, bagi yang nggak suka bisa klik back. Kalo tetep nekat Kuu nggak nangung ya. –sebenernya aman di baca sih. Cuma konfliknya aja yang agak lebay-, banya typo dan cerita aneh bin gaje. Tapi semoga suka ya… enjoy, and happy reading… ^^

サスーナル―

Chapter 4

Flashback

-サスケ-

Cih, menyebalkan sekali, kenapa aku harus ikut pertemuan menyebalkan ini sih. Huh... Aku, Sasuke Uchiha, saat ini usiaku 5 tahun, masih kecil. Butuh waktu untukku bermain, waktu bermain yang lebih banyak, tapi itu tak bisa kudapatkan, karena aku harus menghadiri pertemuan, padahal sama sekali tak ada hubungannya denganku.

"kok Suke-chan cemberut begitu sih, Kaa-san nggak suka ah."

"tapi Kaa-san, Suke tak mau ke acara menyebalkan seperti itu. Lagipula itu kan acara Tou-san. Kenapa Suke harus ikut sih?" protesku pada Kaa-san.

"yah, karena kami mau mengenalkan kamu pada teman-teman Kaa-san dan Tou-san."

"apa Tachi-nii saja tak cukup Kaa-san?" tanyaku, padahal aniki juga udah ikut, kenapa aku juga harus ikut. Menyebalkan.

"apa Suke-chan tak mau menemui teman-teman Kaa-san?"

"uhh... iya deh, demi Kaa-san." Hahh, aku nggak suka membuat Kaa-sanku sedih, akhirnya kuturuti juga kemauan Kaa-san dan Tou-sanku. Kami sekeluarga diundang kesebuah acara ulang tahun, sepertinya ini ulang tahun sahabat Tou-san. Karena Tou-san nampak bersemangat menghadiri pesta ini.

"nah, Suke-chan, kamu harus jadi anak pintar ya. Jangan membuat ribut disini." Kaa-san berpesan padaku, kelihatannya sang pemilik pesta sangat akrab dengan Kaa-san dan Tou-san. Baru sekali ini aku datang ke pesta ulang tahun yang diadakan di rumah. Biasanya teman-teman Tou-san pasti mengadakan pesta digedung yang mewah.

Tapi, rumah ini bahkan lebih mewah dari gedung pesta yang pernah kudatangi. Benar-benar besar. Disini pun banyak sekali pohon-pohonya.

Bruk..

Aduh, sialan. Bajuku kotor kena es krim.

"uhh... hiks.. hiks.. huweee.." eh? Padahal dia yang nabrak, kok malah dia yang nangis sih. Bocah pirang ini menyebalkan sekali deh. Seharusnya kan aku yang nangis, adai aja marga Uchiha tak ada di namaku..

"hei Touto. Apa yang kau lakukan ke anak manis ini?" tanya anikiku, aku mendengus kesal.

"enak aja. Bukan aku yang membuatnya nangis kok." Aku kesal, tapi aniki terlihat lebih peduli pada bocah pirang ini. Cih, menyebalkan!

"cup cup... jangan nangis lagi ya anak manis. Nanti Nii-chan ambilkan es krim yang baru lagi ya."

"hiks... hiks... Nalu... Nalu minta maaf Nii-chan... Nalu nggak cengaja.." he? Kenapa dia minta maaf ke aniki.

"lho? Naru-chan kenapa nangis?" aduh, gawat. Pasti Kaa-san bakal nyalahin aku deh.

"hiks.. ta..tadi, Nalu lali-lali, ta..tapi Nalu nablak nii-chan.. hiks.. es klim Nalu kena baju nii-chan ini.. hiks... maafin Nalu nii-chan." Kaa-san tersenyum. Eh? Kenapa tersenyum? Harusnyakan Kaa-san marah. Dia menggendong bocah pirang itu.

"nggak apa-apa kok Naru-chan, nii-chan ini namanya Sasuke, anak bibi. Suke-chan, kamu maafin Naru-chan kan?" tanya Kaa-san. Sejujurnya kau masih nggak paham apa yang mereka maksud.

"hahh... baka otouto. Maksudnya, Naru-chan nangis itu bukan gara-gara eskrimnya yang tumpah ke bajumu, tapi karena dia mengotori bajumu. Dasar baka." Eh. Aku baru sadar ternyata itu maksud bocah pirang ini.

"jadi, Suke-chan?" aku mengangguk. Kasihan juga lihat bocah ini nangis terus.

"tuh kan, Suke-nii udah maafin Naru-chan. Sudah ya, jangan nangis lagi." Kulihat bocah itu mengangguk. Siapa sebenarnya bocah ini, kok Kaa-san sebegitu sayangnya pada bocah ini.

"lho? Naru-chan kok minta gendong sama Mikoto sih?" kulihat ada seorang wanita catik, seusia Kaa-san. Sepertinya dia ibu dari bocah ini.

"Kaa-chaan... maafin Nalu.. tadi.. tadi Nalu nablak Cuke-nii... Nalu buat baju Cuke-nii kotol.." Bocah yang bernama Naru itu langsung minta gendong ke wanita yang baru aja datang.

"apa Naru-chan udah minta maaf?" eh, wanita ini kan... bibi Kushina, sahabat Kaa-san.

"um.. tadi Nalu udah minta maaf.. Cuke-niichan, maafin Nalu ya... Nalu nggak cengaja.." anak ini... manis sekali dia. Aku hanya mengangguk.

"nah, kan sudah dimaafkan, kenapa Naru-chan masih nangis?"

"Nalu mau esklim lagi..." dia berusaha turun, sepertinya mau berjalan sendiri.

"baiklah, baiklah. Hati-hati ya, jangan nabrak lagi."

"um! Cuke-nii, ayoo kita cali esklim" bocah ini, benar-benar deh, seenaknya saja menarik-nariku. Menyebalkan.

"nggak mau." Jawabku, aku tak suka dipaksa begini.

"baka otouto. Naru-chan... sama Tachi-nii aja yuk. Suke-nii emang gitu anaknya. Yuk" kulihat bocah itu melepaskan genggamannya, dan sekarang menarik tangan aniki. Cih menyebalkan sekali sih dia. Sepertinya aniki senang sekali bersama anak itu.

"wah, Sasuke-chan udah besar ya... berapa usiamu sekarang sayang?" tanya bibi Kushina.

"5 tahun bi."

"hmm... berarti Sasuke udah sekolah ya. Pasti jadi anak yang pandai ya." Aku suka pada bibi Kushina, dia penyayang.

"iya bi, aku paling pintar dikelas." Kataku bangga.

"wah, hebat ya.. apa Sasuke-chan mau mengajari anak bibi? Dia masih kesulitan menulis kanji." Eh? Sekecil itu udah belajar nulis kanji?

"wah wah, sepertinya Namikaze kecil itu mewarisi kecerdasan ayahnya ya. Hihih" Kaa-san sepertinya senang sekali memuji bocah pirang itu. Huft.

"yah, nggak heran dia bakal jadi pewaris utama Namikaze corp." Sekarang giliran Tou-san yang memujinya, apa sih lebihnya bocah pendek itu.

"ah, kau benar sayang. Padahal usianya baru 2 tahun ya." Hee? Usia 2 tahun? Apa aku tak salah dengar. Anak sekecil itu udah belajar kanji?

"ah, kalian ini. Naru-chan itu anaknya pemalas kok. Dia juga nakal." Bibi Kushina sepertinya tak suka anaknya di lebih-lebihkan begitu.

"yah, kalian tak tau saja. Dia itu bocah liar lho. Nggak mau di atur, maunya main ke alam bebas terus. Bahkan kami sampe repot dibuatnya." Mereka berempat tertawa senang. Seertinya bocah pirang itu penuh rahasia.

-サスケ-

サスーナル―

Itachi kembali bersama Naruto, digendongnya Naruto. Sepertinya itu membuat Naruto senang, Itachi juga terlihat menikmatinya. Sasuke yang melihat keakraban anikinya dengan bocah pirang itu bersungut tak suka. Padahal anikinya tak pernah bersikap lembut seperti itu.

"hey Sasuke, kau mau es krim? Ini" Itachi memberikan es krim miliknya ke Sasuke.

"nggak mau. Aku nggak suka yang manis-manis."

"kau ini, anak kecil kok nggak suka yang manis-manis sih." Itachi menurunkan Naruto, dia mendudukan Naruto di bangku yang ada, sedangkan dia berjongkok didepan Naruto.

"hey Naru-chan... kenapa berantem sama es krimnya?" Itachi tersenyum geli melihat wajah Naruto yang penuh es krim, sedangkan ekspresinya yang polos dan tak mengerti semakin membuatnya imut. Ditambah lagi kostum yang dikenakannya, kostum berwarna orange dengan bentuk rubah berekor sembilan yang amat lucu, serta tudung kepala berbentuk kepala rubah.

"Naru-chan imut deh." Itachi tertawa sambil mencubit pela pipi Naruto.

"ittai.. Cakit Tachi-nii.. pipi Nalu jangan di cubit." Naruto balas dendam, dicubitnya pipi Itachi dengan jari kecilnya yang belepotan eskrim, alhasil wajah Itachi juga blepotan.

"hihihi... Tachi-nii lucu."

"ihh, dasar. Naru nakal ya. Awas nanti." Dibersihkannya wajah dan jemari Naruto pake saputangan kesayangannya.

"dah bersih deh. Kalo sekarang baru deh boleh nyubit pipi nii-chan." Ujar Itachi. Dia juga membersihkan wajahnya. Sasuke kesal melihatnya.

"aniki pedofil." Celetuk Sasuke spontan, membuat kedua orang tua mereka juga orang tua Naruto menoleh tak percaya.

"hee? Kau bicara apa Suke?"

"Suke-chan belajar dari mana kata-kata kasar begitu sih?"

"ng? Pedofil itu... apa cih Tachi-nii?" tanya Naruto polos. Wah, kau meracuni otak suci Naruto, dasar Suke no baka.

"eh, bukan apa-apa kok Naru-chan, jadi jangan dipikirkan ya." Itachi mendeathglare Sasuke, yang dideathglare malah cuek bebek. Keempat orang dewasa itu hanya tersenyum melihat tingkah anak-anak mereka.

サスーナル―

Setelah pesta itu, Itachi dan Sasuke sering main ke rumah Naruto, begitu juga sebaliknya. Meskipn saat dirumah Naruto, mereka hanya akan bermain dengan pohon, karena Naruto suka sekali dengan pohon. Seperti sekarang ini.

"Naru-chan suka warna hijau ya?" tanya Itachi.

"nggak, Nalu cuka walna olange. Tapi Nalu cuka pohon. Pohon hebat. Dali buku yang Nalu baca, pohon bica menyelap lacun yang dikelualkan mobil dan gas belacun lainnya. Hebatkan. Padahal Cuma catu pohon, tapi bica menyelap belbagai lacun. Pohon juga buat Nalu melasa cegal dan cejuk. Nalu cuka cekali pohon." Ucap Naruto panjang lebar sambil memeluk pohon apel yang dia tanam beberapa bulan lalu. Itachi tersenyum mendengar cerita Naruto. 'anak yang cerdas' batin Itachi

"tapi pohon kan lemah. Ditebang mati, dibakar juga mati" ucap Sasuke sinis. Itachi mencubit pelan pinggang Sasuke.

"kau ini tak peduli pada lingkungan ya."

"mecki pohon lemah, mudah dibakal. Tapi Nalu akan jaga cemua pohon yang Nalu punya. Nalu nggak akan bialkan pohon yang Nalu tanam mati cia-cia, kacian pohonnya. Pohon juga kan makhluk hidup. Dia belhak hidup Cuke-nii. Coba kalau Cuke-nii di bakal, cama cepelti pohon, pasti Tachii-nii, bibi Mikoto dan paman Fugaku malah kan. Pohon juga begitu. Kalau dibakal, maka alam akan malah, kalena pohon itu anak dali alam." Sasuke diam seketika, dia bisa dikalahkan bocah yang baru berumur 2 tahun. Benar-benar memalukan. Sedangkan Itachi kagum pada Naruto, anak sekecil dia sudah begitu peduli pada alam, benar-benar menakjubkan.

"iya, Naru-chan benar, jadi sekarang kita mau menanam apa Naru-chan?" tanya Itachi, tertular semangat Naruto.

"ng... pohon jeluk.. Nalu cuka jeluk." Mereka bertiga, ah tidak, sebenarnya yang menanam pohon hanya Naruto dan Itachi, sedangkan Sasuke duduk di bangku, belajar. Dia tak mau dikalahkan lagi oleh Naruto.

_3 tahun kemudian_

Naruto berusia 5 tahun, Sasuke 8 tahun, sedangkan Itachi 12 tahun. Mereka bertiga jadi akrab, bahkan sekarang Sasuke menyukai Naruto, sama seperti anikinya. Naruto juga bilang ingin selalu bersama Sasuke dan Itachi selamanya, tapi itu tak semudah yang mereka kira. Pada hari itu, entah apa yang sebenarnya terjadi, tak ada yang tahu, tapi Naruto yang telah hilang selama 3 hari saat camping, ditemukan berlumuran darah dan terluka parah di bagian kepalanya. Dia ditemukan di tepi hutan, padahal regu penyelamat serta regu khusus yang ditugaskan sudah mencari diseluruh hutan, tapi tak ketemu juga. Benar-benar sebuah keajaiban.

Saat itu, Naruto segera di bawa ke rumah sakit terdekat. Setelahnya Naruto dirujuk ke Jerman, untuk mendapatkan perawatan medis yang memadai. Bukan berarti rumah sakit di jepang tak mampu, tapi Minato dan Kushina tak mau ada yang tau, bahwa anak mereka masih hidup. Karena tepat 3 hari setelah menghilangnya Naruto. Dikabarkan bahwa Naruto meninggal dunia. Namun Kami-sama berkata lain. Tepat satu jam setelah di umumkan berita duka itu, Naruto ditemukan ANBU, regu khusus yang dibentuk Hashirama. Berita atas selamatnya Naruto memang sengaja tak dipublikasikan, karena ada masalah internal, tentang warisan keluarga Namikaze, sepertinya menghilangnya Naruto memang sebuah rencana licik yang di bentuk oleh pihak yang tak mau harta warisan keluarga Namikaze diserahkan seluruhnya kepada Naruto. Akhirnya kesepakatan Hashirama bersama anak dan menantunya untuk memindahkan Naruto ke Jerman untuk beberapa tahun kedepan.

Dan lagi, karena kecelakaannya itu, Naruto mengalami amnesia yang parah. Dia lupa akan semua yang pernah dialaminya, termasuk Sasuke dan Itachi. Karena peliknya masalah internal keluarga Namikaze, bahkan pihak Uchiha tak diberitahu sama sekali kalau Naruto masih hidup. Naruto tinggal di Jerman selama 9 tahun. Sampai Naruto berusia 14 tahun, setelah itu dia bersekolah di jepang. Daridulu Naruto selalu bersekolah di sekolah biasa. Meskipun amnesia, tapi ada yang tak Naruto lupakan. Yaitu kecintaannya terhadap alam dan pohon. Mungkin yang menyelamatkannya saat kejadian 9 tahun lalu itu adalah alam.

Keluarga Uchiha pun baru tau bahwa Naruto selamat sekitar 2 tahun kemudian, setelah Naruto berada di Jepang. Betapa senangnya Sasuke dan Itachi ketika mendengar kabar itu. Terutama Sasuke, dia sangat senang dan sangat berterima kasih pada Kami-sama.

End flashback

サスーナル―

To be continued...

apa yang akan terjadi selanjutnya?

Bagaimana hubungan Naruto dan Gaara akan berlanjut?

Penasaran? Nggak?

Mind to review? Please?