The School of Blood © Saiya Mika-chan
Genre: Humor, Mystery, Romance, Tragedy, and Horror
Warning(!): OOC, Typo(s), Abal-abal, dan Garing. :p
Fairy Tail © Hiro Mashima
Pair: NaLu, GrUvia, and JeRza.
.
.
Chapter 4: Murid baru dan Grup Detektif Baru!
.
Setelah melewati kejadian mengerikan, kegiatan sekolah kembali berjalan lancar. Kejadian kemarin belum bisa dipecahkan, sebab tidak ada tanda-tanda adanya barang bukti disana—padahal aku yakin disana ada barang bukti. Yang bikin aku semakin kesal adalah kasus kemarin itu dirahasiakan dari polisi maupun inspektur. Rasanya aku ingin membentuk agen detektif saja di sekolah ini secara diam-diam!
"Hai, Luce!"
Lamunanku membuyar begitu mendengar suara orang yang kukenal.
Natsu! Teriakku girang dalam hati.
"Hai juga, Natsu." Sapaku sambil tersenyum kearahnya.
"Hmm… Luce…. Boleh enggak, aku bicara denganmu secara empat mata?" tanya Natsu sambil nyengir-nyengir gajeness.
Deg… Deg… Deg…
Jantungku hampir meloncat keluar dari tubuhku. Mukaku memanas. Tubuhku bergetar hebat mendengar ucapannya.
Aku kan baru beberapa minggu disini? La-lalu ke-kenapa aku bisa tiba-tiba ditembak cinta sama seorang cowok? Apa jangan-jangan, pangkatku jadi naik drastis karena kecantikanku? *Buih mantep dah Lucy*
Oke, aku narsis banget dan tolong jangan samakan aku dengan Itachi Uchiha yang ada di fandom sebelah yang sifatnya terlalu narsis itu.
"Luce..."
Sial, dia mulai bicara.
"Bolehkah aku..."
Aduh, jantungku semakin lama semakin mau lepas dari badanku. Apalagi, aku yakin wajahku semakin lama semakin merah padam.
"Se-sebenarnya aku malu sih mengatakannya…. Tapi aku harus!"
Glek!
Aku menelan ludah mendengar dan bisa merasakan tekadnya yang kuat itu dalam tubuhnya. Kulihat pipinya merona merah. Aduh, aduh.
"Boleh enggak sih aku…"
"pinjem pr mu?"
Jleb!
Aku melongo mendengar kata-katanya.
Ja-jadi di-dia….?
Tanpa tahu malu(?), aku berteriak—seolah-olah aku mengeluarkan seluruh amarahku lewat teriakan itu.
"NAAATTTSSSSUUUU!"
~OoO~
Teng… Teng.. Teng…
Bunyi bel sekolah berbunyi, menandakan siswa-siswi harus masuk keruangan masing-masing.
Ruanganku adalah ruang XI-B, tempat anak-anak berwatak preman dan wajah rada psikopat, anak rajin tidak naik kelas dan sejenisnya, berada dalam satu kelas ini. Sebenarnya sih ya, tidak semua anak berwatak seperti itu. Contohnya, aku—Ya jelaslah, aku kan anak alim:p—.
"Ohayou, kodomo-tachi!"
"Ohayou, sensei!"
Aku menjawab sapaan guru itu dengan nada malas. Kejadian memalukan tadi masih terngiang-ngiang di otakku. Memalukan untukku ya, kalo Natsu itu gak bakal mungkin malu, dia kan muka badak.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Cheney-san, silahkan masuk."
Aku merasakan bangku ku sedikit bergoyang. Aku menoleh kearah teman sebangku ku, Juvia. Aku sedikit memajukan wajahku, agar aku bisa melihat ke wajahnya yang tertutup rambutnya itu.
Matanya sedikit membulat, mulutnya sedikit terbuka, keringat mengucur di dahinya, dan badannya menegang.
Kuedarkan pandanganku kearah yang lain. Semuanya biasa saja, kok. Tidak ada yang tidak memiliki reaksi seperti Juvia.
Uh-oh, atau jangan-jangan ini reaksi Juvia saat bertemu murid baru? Ah… Sepertinya, itu tidak mungkin.
"Ehem. Watashi wa Rogue Cheney desu. Hajimemashite."
Aku menatap sosok laki-laki berambut hitam pekat dengan mata berwarna merah yang hanya terlihat di sebelah kiri. Aku menatap laki-laki bernama Roger atau Boga(?) atau siapalah itu dengan tatapan penuh selidik.
"Hati-hati dengannya... Dia terlihat cukup berbahaya"
Glek!
Aku meneguk ludahku begitu mendengar suara bisikan hantu(?) terdengar di telingaku.
"Cheney-san, silahkan duduk sebelah Blendy-san…" ucap guru sambil menunjuk kearah cewek berambut merah kepink-pinkan(?) itu. Orang yang bernama Boga(kurasa namanya dia lebih cocok seperti ini dibanding Roger) itu berjalan menuju cewek berambut merah kepink-pinkan, dengan langkah cool sehingga banyak cewek-cewek yang mimisan termasuk Sherry itu yang hanya terpisah dua bangku di belakangku.
Tanpa memperdulikan cewek-cewek pada mimisan dan akibatnya banjir darah, guru itu memberi tugas. Sialnya, yang paling menyebalkan adalah tugas itu sampai 5 halaman yang katanya sedikit. Belum ditambah soal dan jawaban panjang! Dasar guru aneh.
Tunggu sebentar, sepertinya ada seseorang yang menatapku dengan tatapan menusuk. Kutolehkan pandanganku kearah Juvia. Dia sedang mengerjakan soal dengan serius. Kutolehkan kearah Erza, si Ketua OSIS, sedang menulis di sebuah buku, entah apa soal tugas itu atau apa. Dan sekali lagi, aku tolehkan pandanganku ke arah Gray dan Natsu yang sibuk saling melempar deathglare.
Siapa sih?
~OoO~~Istirahat~OoO~
"Anak-anak, tugas kalian di buat di rumah. Besok dikumpulkan. Sekarang boleh istirahat.."
Aku menghembuskan nafas lega. Aku lega bukanlah karena tugasku sudah selesai. Aku lega karena…
"Waktunya makan!"
Natsu berteriak kencang tanpa memperdulikan tatapan teman-temannya itu. Entah kenapa wajahku memerah melihat dia berteriak.
"Hei, ada apa denganmu Lucy? Kamu sakit?"
Aku sedikit terkejut mendengar sumber suara yang aku kenal.
"Sa-sakit? E-enggak kok, Erza... A-aku hanya melihat Natsu—Kyaa!"
Aku menutup mulutku sementara Erza hanya menatapku dibalik kacamatanya dengan geli sementara Juvia yang entah kapan didepanku hanya tersenyum.
"Ne, Lucy! Aku baru tau, kamu bisa jatuh cinta. Awalnya aku kira kamu benci banget sama Natsu karena bikin kamu basah kuyup, eh ternyata… Uh-oh, atau awalnya kamu benci sama Natsu lalu cinta ama dia… Ternyata benar, benci itu bisa berubah menjadi cinta... " goda Erza sambil menyentil jidatku.
"Hei!" ringisku sambil memegang jidatku yang disentil Erza.
"Bagaimana dengan Jellal, Erza?" tanya Juvia sambil memasang muka datar alanya.
"Eh, Jellal? Siapa Jellal?" tanyaku bingung begitu mendengar nama begitu asing di telingaku.
"Pacar Er— Auch! Sakit, Za!" ringis Juvia sambil memegang jidatnya yang barusan kulihat di sentil oleh Erza.
"Jangan gosip disini!" ucap Erza dengan nada marah. Juvia hanya tersenyum datar melihat tingkah Erza itu.
"Ya sudah. Kita makan dulu, yuk. Laper perutku nih…" selaku.
"Ayo!" jawab Erza paling semangat diantara kami. Gila, aku baru tau sifat Erza yang ke kanak-kanakkan itu. -_-
Aku hanya bisa sweatdrop dan jawdrop berjamaah melihat sifat Erza yang kelewat OOC itu sementara Juvia masih menampilkan wajah senyum datarnya. Kenapa dengan anak ini?
~OoO~Kantin~OoO~
Setelah kami memesan makanan di kantin, kami duduk di meja yang dekat jendela(dan katanya sih, meja incaran para orang populer).
Aku duduk di sebelah Erza sementara Juvia duduk di depanku. Keadaan diantara kami menjadi hening. Aduh, kok rasanya enggak enak begini ya...? Hm, lebih baik aku mencair keheningan itu.
"Ne, Juvia, Erza... aku punya usul, bagaimana kita membuat grup detektif khusus sekolah ini?" saranku dan berusaha mencairkan keheningan itu.
"Grup detektif?" tanya Juvia sambil memiringkan kepalanya bingung.
"Yep. Grup detektif. Ada yang salah?" tanyaku mencoba mencari kesalahan.
"Tidak. Tapi apa tujuan membuat grup itu?" tanya Juvia.
"Tujuannya untuk memecahkan kasus lah… Bagaimana?" kataku.
"Apa nama grup detektif itu?" tanya Erza dengan mulai wajah tertarik.
"Hmm… Trio Detective?" usulku sambil menggarukkan kepalaku yang tidak gatal, bingung.
"Terlalu kampungan." Kata Erza dengan nada tegas.
"Bagaimana kalau Detective of Girl?" usul Erza.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. "Terlalu panjang…"
Suasana mendadak menjadi hening kembali. Semua sibuk dalam pikiran masing-masing. Hanya aku yang tidak. Aku hanya melihat ke jendela yang terpampang pemandangan lapangan hijau yang luas dan yang tadinya sepi mendadak ramai oleh cowok-cowok superganteng. Ya elah, pantes aja meja ini meja incaran…
Natsu….
Hanya kata-kata itu yang terbesit di pikiranku. Sial! Dan kalau andai kata aku suka, apa yang aku sukai? Tubuhnya yang berotot? Mungkin saja. Atau jangan-jangan otakku udah di dengkul, ya? Aduh, sepertinya aku harus mandi kembang tujuh rupa, biar tempat otakku seperti semula yaitu di kepala bagian dalam. *apa hubungannya-_-?*
"Ah, aku tau…" gumam Juvia yang sukses membuyarkan lamunan gak jelas itu. Sepertinya aku harus berterima kasih padanya atas membuyarkan lamunanku yang gak jelas itu.
"Tau apa?" tanya Erza.
"Nama grup detektif yang cocok buat kita..."
"Lo aja kali gue enggak!"
"Udah diem, Za. Nah, Via... Beritahu apa grup detektif yang cocok buat kita-kita ini?" kataku yang menurutku fatal banget. Gimana gak fatal? Masa sih, ada anak yang berani bilang "Udah diem, Za" pada ERZA SCARLET*capslock jebol XD* ? Apalagi anak-anak preman mana berani mengatakan seperti itu.
"Bagaimana kalau..." Bibir Juvia melengkung keatas bertanda secercah harapan, eh salah, maksudnya ada ide terbesit di pikirannya.
"Guardian Angel?"
Mataku terbelalak kaget, mulutku menganga lebar. "Guardian Angel? Malaikat pelindung? Alasannya apa menurutmu?"
"Hmm… tidak ada alasan sih sebenarnya…" jawab Juvia sambil mengendikkan bahu.
Aku menaikkan sebelah alisku. "Tidak ada alasan?"
Juvia mengangguk mengiyakan.
"Oke, tidak apa-apa. Btw, nama grupnya boleh juga tuh! Wokeh, jadi nama grup detektifnya Guardian Angel? Setuju?"
"Setuju!"
"Okay, mulai sekarang we're Guardian Angel Detective! Are you ready for first case?"
"Yeah!" jawabku dengan nada semangat.
Akhirnya grup detektif kami terbentuk dengan nama Guardian Angel yang dipelopori Lucy Heartfilia, Erza Scarlet dan Juvia Lockser. Di akhir kata kami hanya tertawa riang(kecuali Juvia-_- dia hanya nyengir-nyengir saja) melihat grup kami sudah terbentuk layaknya Jepang masuk ASEAN. *woy, Jepang gak masuk ASEAN!*
Yeah, keren banget grup kami itu. Habis namanya "Guardian Angel" sih! Layaknya kita adalah seorang pahlawan wanita seperti Raden Ajeng Kartini, Christina Marthiahahu dan Cut Nyak Dien yang masuk dalam sebuah grup peperangan khusus wanita. *Woy!-_-*
"Hm... Kasus apa yang akan kita pecahkan dahulu?" tanyaku mengawali.
"Hmmm, aku rasa kita harus memecahkan misi yang ada kaitannya dengan Lisanna yang nyaris mati…"
~OoO~Unknown Place~OoO~
"Hee…? Mereka membuat grup detektif?"
"Benar! Dan mereka akan menghancurkan misi yang kita buat selama ini secara matang-matang..."
Sosok misterius itu tertawa dalam kegelapan, "Hahaha... Bisa apa mereka? Mereka kan hanya orang-orang yang bodoh yang tidak tau apa-apa… Jadi tak usah dipikirkan…"
"Oh ya, terimakasih atas infonya…"
"Sama-sama. Senang membantumu."
Satu sosok itu pergi. Sementara sosok yang satu lagi hanya terdiam lalu menggeram marah.
"Mereka mau menghancurkan misi yang aku buat matang-matang? Tak akan kubiarkan kalian!"
~OoO~To Be Continiue~OoO~
Mika-chan: Yah~ Ceritanya To Be Continiue-_- Bikin penasaran aja, gak sih?
Erza: Woy, author bin sarap! Kenapa elo bikin gue jadi OOC?
Lucy: Gak kamu aja, Erza-_- Aku juga...
Juvia: Juvia akan membunuhmu!
Mika-chan: Gomenne... Maafkan kalau kalian jadi OOC banget. Soalnya saya suka banget sih ngeliat kalian OOC karena lucu. A-ano sebenernya aku itu salah satu fans kalian.
Lucy&Erza: AKU GAK MAU PUNYA FANS KAYAK KAMU!
Juvia: *sambil gigit sarung tangan* Juvia tidak akan memaafkanmu kalau kamu mengambil Gray-sama!
Mika-chan: Iye, iye. What ever lah. Mari kita balas review dari para reader! :)
Nacchan-droid: "Hehehe… Iya.. Aku juga fans berat Lexie Xu! Waduh! Idenya kayaknya ketahuan, Nacchan! XD Hah... Tapi tidak apa-apa kok. ^_^ Sebenarnya Lisanna itu bisa dibilang hampir mirip Eliza. Tapi yah… Pokoknya masih rahasia deh, Nacchan! Gomenne watashi! Oh, maafkan saya kalau salah pen name… Biasalah, author yang satu ini tidak pernah teliti. Nah, Naachan sekarang udah update nih chapter 4 nya! Ditunggu chapter selanjutnya ya! Arigatou Review!"
Erin. .9: "Gomen banget buat Erin-chan, karena Lucy nya nongolnya dikit… Soalnya saya buatnya mungkin beberapa chapter itu POV orang tertentu. Namun yang akan paling sering saya buat POV Lucy, Natsu, Juvia, Gray, Erza, dan Jellal. Tapi tenang aja, ya, Erin-chan! :) Nanti saya akan memperbanyak Lucy dan Natsunya. Yang nguntit Juvia dan Gray itu saya, lho. Soalnya, saya penasaran ngeliat mereka berduaan naik sepeda! *PLAK!* Kekeke… Arigatou 'ganbatte' nya dan sekarang chap 4 nya udah update! Tunggu chapter selanjutnya! Dan arigatou lagi review!"
Regina Mocha Leonarista(chapter 2): "Udah keluar kok horornya waktu chapter 2 kalau gak salah.*ya ampun, cerita sendiri lupa-_-* Soal hubungan KCLH sama cerita horor itu sebenarnya ada. Tapi saya gak tau hubungannya apa. :/ *Plak* Kikiki, saya juga baru sadar permainan itu mirip permainan jelangkung. Thanks review."
Regina Mocha Leonarista(chapter 3): "Yang nguntit Juvia dan Gray itu saya, lho... O ya. Soal Pov Lucy ganti yang tiba-tiba ganti Juvia Pov itu, karena beberapa chapter itu ada memang saya sisipkan POV orang tertentu. Tapi saya akan memperbanyak Lucy Pov dan Natsu Pov! :) Udah lanjut! Tunggu chap selanjutnya. Trims review."
Ellen: "Hehehe, sebenarnya, saya baru pernah denger papan itu sejak baca novelnya. Iya, saya berpikir juga begitu, Ellen-chan. Kayak mirip permainan jelangkung. Udah lanjut, kok. Tunggu next chapter. Arigatou review."
Mika-chan: Selesai deh bales reviewnya! Oh ya, aku ulangi sekali lagi ya, cerita TSOB ini dalam beberapa chapter yang full/sebagian/seperempat/sepertiga/sepersatu(?) akan diisi dengan Pov entah itu Juvia POV atau Erza POV atau Jellal Pov atau Gray Pov atau Natsu Pov atau Lucy Pov. Karena saya sangat menyukai menggonta-ganti Pov chara. Tapiiii! Aku akan menetapkan, yang paling banyak keluar Pov nya adalah NALU! Okeeyyy? Biar gak ada yang protes atau apalah-_- Yosh! Kalau tidak mengerti dengan balasan review saya, silakan PM atau masukkan surat di kotak review.
Sekedar info, next chapter itu ada NALU nya! Dan chapter selanjutnya akan lebih serem lagi dan seperti biasa kurang greget-_- Jaa nee!
So, Review(criticism, suggestions or flame) please!
