a/n : Aq abis baca fanfic orang lain, jadi gak bisa konsentrasi pas ngetik
Sorry kalo banyak yang salah ketik ato bikin bingung, setiap pertanyaan diterima ^^
Halo semuanya. Pertama, Kimchi dan Sun Hi sangat berterima kasih pada para author maupun reader tak ber-akun yang setia menanti (halah) fanfic ini. Kimchi sempat kehilangan keinginan untuk publish soalnya waktu itu gak ada review sama sekali, tapi berkat para readers dan reviewers tercinta, Kimchi semangat lagi untuk publish, dan pastinya Sun Hi juga senang menerima review kalian. Gamshahamnida, chingu.
Special thanks to Calcal9095, tee-tah, and Rei Sakaki for the first-five review.
And here it is, the fourth chapta! RnR will be high-appreciated.
Our "Three Times" Relationship
-Disclaimer-
Sun Hi
1st LIFE (part four)
One, two, three...
Pengendara kuda itu berhenti tepat sebelum kudanya menerjang tempat pernikahan itu. Apabila sang joki tidak menghentikan lari kudanya, sudah bisa dipastikan tempat itu akan runtuh dalam sekejap. Joki yang tegap dan berotot itu menyerahkan gulungan kertas yg dibawanya sambil berusaha mengatur nafasnya.
"A-anda Pak Lee? Sa-saya harap a-anda bisa ikut saya segera. Pu-putra anda sedang berada dalam masa kritis. Ta-tabib sudah menunggu...," kata joki itu dengan nafas terengah-engah.
Untuk sesaat, semua yang hadir berusaha mencerna kata-kata joki itu. Sampai akhirnya Changmin tiba-tiba berlari ke arah kuda yang dibawa joki tadi. Dengan mudahnya, ia ayunkan tubuhnya ke atas pelana dan dipacunya kuda itu dengan kecepatan yang luar biasa. Hyung, bertahanlah, aq akan segera ke sana, batin Changmin. Matanya semakin kabur, air mata menghalangi pandangannya. Tapi, ia tau ke mana ia harus pergi. Hanya ada satu tabib yang mungkin didatangi oleh hyung, pikir Changmin lagi. Ya, karena tidak ada di keluarga kita yang tau soal tabib itu kecuali Jaejoong-hyung..., Sooyun-umma..., dan... aku. Tunggulah hyung, aku segera ke sana...
Semua orang bagaikan membatu. Mancerna semua kejadian ini dengan perlahan, dan yang pertama menyadarinya tentu joki yang kudanya dibawa lari Changmin. "Heh, dia membawa kabur Si Hitam! Kuda paling bagus yang pernah kumiliki, kuda kesayanganku! Awas saja kalau Si Hitam sampai kenapa-napa! Pak, saya akan segera meminjam kereta, saya punya kenalan di dekat sini. Bapak mau ikut dengan saya?" tanya si joki.
"O ya, tentu saja," jawab Pak Lee yang masih belum bisa mencerna apa yang tengah terjad.
Sementara itu, Yunho tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ke mana Changmin? Apa yang sebenarnya terjadi? Jaejoong, Jaejoong kritis? Apa maksudnya itu? Lalu pernikahan ini bagaimana?
Beribu pertanyaan masuk ke kepala Yunho yang kini berada di dalam kereta kuda dengan appa, umma, Shan Lee, dan kedua adiknya. Kedua adiknya menangis dalam dekapan Shan Lee. Ummanya pun tidak terlihat seperti biasanya, menyandarkan kepala ke bahu appanya dan memejamkan mata. Ia bisa melihat tangan ummanya yang mengepal bergetar hebat.
Lalu dilihatnya wajah appanya. Yunho tidak dapat menggambarkan ekspresi wajah appanya. Terlihat sedih, marah, gelisah... Yunho tidak yaikn akan apa yang dirasakan appanya. Dipalingkannya wajahnya ke arah jendela. Tanpa sengaja, matanya bertemu dengan mata Shan Lee. Hanya 2 detik yang singkat, tapi cukup untuk mengetahui bahwa Shan Lee merasakan hal yang sama dengannya.
Aku harus kuat, pikir Yunho. Aku juga adalah anak tertua, sama seperti Jaejoong. Aku harus bisa mengendalikan diriku sendiri. Yunho mengepalkan tangan kuat-kuat, kukunya yang tajam menyakiti telapak tangannya tapi ia tidak peduli. Shan Lee menatapnya dari seberang. Ditundukkannya kepalanya, air mata menumpuk di pelupuk matanya.
Akhirnya kereta tadi berhenti di depan sebuah bukit yang terjal. "Tabib itu tinggal di atas," kata joki itu sambil meloncat turun dari kursinya. Diikatkannya tali kekang kedua kuda penarik kereta itu ke sebuah pasak. bersama-sama mereka meniti jalan ke atas bukit. Di kejauhan, nampak rombongan besar menuju ke arah mereka (para tamu undangan nikahannya JJ 'n Shan Lee)
Akhirnya ke-7 orang itu tiba di puncak bukit. Di sana, terdapat sebuah gubuk kecil yang sudah doyong, seakan-akan tiupan angin yang tak seberapa dapat merubuhkannya dalam sekejap. Di depan gubuk itu, tertambat kuda hitam yang sedang merumput dengan gagah, bulunya hitam mengkilat tertimpa cahaya matahari.
Joki yang mengantar mereka langsung menghampiri kuda hitam itu dan mengelusnya dengan lembut. "Hitam, kau tak apa-apa kan? Kalian langsung masuk saja, tabib sudah menunggu di dalam," ujar joki itu sambil menggosok kuda hitamnya dengan jerami, tanpa menoleh sedikit pun pada mereka. Segera saja Pak Lee masuk diikuti istri dan anak-anaknya.
Gubug itu ternyata tidak sekecil yang terlihat. Terdapat beberapa ruangan, di setiap ruangan terdapat 2 kasur yang sudah lapuk dan disekat dengan tirai. Dari kamar yang terletak di ujung, terdengar suara isakan. Pak Lee, Hyunjae-umma, Shan Lee, Yunho, Yoochun, dan Junsu berjalan perlahan menuju ke kamar itu.
Tampak suatu pemandangan yang indah sekaligus menyesakkan. Seorang pemuda tampan berkulit putih pucat terbaring di atas tempat tidur. Disampingnya, seorang pemuda yang masih sangat belia berlutut dan menagis sambil menggenggam erat tangan pemuda yang tengah terbaring itu. Cahaya matahari menembus masuk ke ruangan itu dari jendela di belakang mereka. Seorang laki-laki tua berjenggot panjang bersandar ke kusen jendela, hanya memperhatikan mereka dalam diam. Tiba-tiba, laki-laki tua itu menoleh ke pintu dan menatap ke arah rombongan yang baru datang itu dengan tajam.
Perlahan, ia bangkit dari tempatnya bersandar dan berjalan dengan terseok-seok ke arah mereka.
"Pak Lee bukan?" tanya laki-laki tua itu. "Saya tabib yang berpraktek di sini." Matanya yang tajam meneliti orang-orang di depannya. Yunho hanya bisa diam. Jantungnya berdegup kencang ketika tabib tua itu menatapnya dengan seksama. Kedua adiknya pun sudah berhenti menangis, bersembunyi di belakang Shan Lee dan melirik tabib tua itu dengan sembunyi-sembunyi.
Tiba-tiba tabib tua itu berhenti di hadapan ketiga gadis yang ketakutan itu dan tersenyum lembut. "Kalian tidak perlu takut, aku tidak makan anak perempuan kok. Aku juga tidak suka mengisap darah gadis cantik," katanya sambil tertawa pelan. Ketiga gadis itu tersenyum, tidak lagi merasa ketakutan.
"Appa, umma..." kami semua melihat ke dalam kamar. Jaejoong membuka matanya. Changmin yang ada di sebelahnya mengangkat kepalanya, kedua tangannya masih menggenggam tangan Jaejoong erat. "Nak...," Hyunjae-umma berlari ke arah keduanya, memeluk Changmin dan mengelus rambut Jaejoong dengan perlahan.
"Appa, umma, mianhe... Yoochun, Junsu, maafkan oppa ya..."
"Yunho.. uhuk.. uhuk.." Jaejoong berusaha duduk tegak, tubuhnya berguncang saat ia menahan batuknya.
"Hyung, jangan paksakan dirimu!" seru Changmin dengan nada membentak. Semua yang ada di sana hanya bisa diam. Belum pernah aku melihat Changmin seperti ini, pikir Yunho. Dia pasti sangat menyayangi Jaejoong, lebih daripada aku sendiri, pikir Yunho lagi. Hatinya sakit, mengingat dia selalu merasa sebagai saudara yang paling dekat dengan Jaejoong. Tapi, dia bahkan tak tau apa yang terjadi pada Jaejoong. Aku tidak bisa bereaksi saat mendengar kalau Jaejoong sedang kritis. Aku tak tau apa-apa. Hati Yunho terasa perih memikirkan hal itu.
Aku tidak lagi mengenali Jaejoong dan Changmin, pikir Yunho lagi. Ia terkejut juga akan pikirannya sendiri, tapi hatinya mengatakan bahwa apa yang dipikirkannya ada benarnya juga. Belum sempat berpikir lebih jauh, ia merasakan bahwa dirinya tengah diperhatikan. Benarlah, Jaejoong sedang menatap ke arahnya. Yunho tidak bisa membalas pandangannya, ia merasa wajahnya merah padam.
"Appa, umma, mianhe.. Aku tau aku seharusnya memberi tau kalian tentang penyakitku. Tapi, aku tidak sanggup mengatakannya. Maaf ya, Yoochun, Junsu. Shan Lee, aku juga ingin minta maaf padamu... Mianhe..." kata Jaejoong sambil tersenyum lemah.
"Tidak apa-apa oppa," kata Shan Lee lembut. Ia berlutut di samping Jaejoong dan menggenggam tangannya. "Sekarang, yang penting oppa sembuh dulu." Hyunjae-umma yang ada di sisi lain tempat tidur hanya bisa menangis.
"Jangan begitu, hari ini kan seharusnya jadi hari terindahmu. Mana mungkin aku membiarkan adik perempuanku yang manis ini melewatkan pernikahannya. Semua persiapan juga sudah selesai, iya kan tetua?" tanya Jaejoong sambil memandang ke belakang Shan Lee.
Semuanya menoleh ke arah pintu dengan terkejut. Karena terlalu terfokus pada Jaejoong, tak ada yang menyadari kalau para tamu undangan yang tadi menyusul sudah tiba. Di pintu, berdiri seorang laki-laki yang bahkan lebih tua lagi dari tabib pemilik rumah. Ia masuk dengan dibantu oleh Nyonya Sun dan Pak Lin, orang tua Shan Lee.
Tetua keluarga Lee berjabat tangan dengan sang tabib. "Lama tidak bertemu" Mereka berdua berpelukan erat.
"Tetua...," panggil Jaejoong. Yang dipanggil menoleh dan mendekati Jaejoong lalu bertanya, "ada apa, Nak?" tanyanya lembut.
"Aku ingin kau melanjutkan acara pernikahan ini," jawab Jaejoong, mengeraskan suaranya supaya semua yang hadir bisa mendengarnya.
"Tapi kau kan sedang sakit, tidak bisa ditunda dulu? Aku tidak mungkin menikahkan kalian sekarang, mengingat tubuhmu yang masih sangat lemah," jelas tetua.
"Bukan aku yang akan menikah," kata Jaejoong pelan. Semuanya terkejut. Apa maksudnya ini?, tanya Yunho dalam hati.
"Nak, coba jelaskan apa maksudmu. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kau katakan," tanya tetua perlahan.
Jaejoong hanya tersenyum. "Seperti yang semuanya ketahui, hari ini adalah hari pernikahanku dengan Shan Lee. Tetapi, aku tidak pantas untuknya. Dengan tubuh yang lemah ini, aku tidak akan bisa menjadi suami yang baik baginya. Selain itu, aku selalu mengganggapnya sebagai seorang adik. Ia juga tidak mencintaiku." Jaejoong berhenti sebentar. Shan Lee hanya bisa menundukkan kepalanya.
Setelah menghela nafas sejenak, Jaejoong meneruskan kata-katanya,"seperti yang telah kukatakan tadi, aku tidak akan bisa menjadi suami yang baik baginya, yang bisa melindunginya dan mencintainya sepenuh hati. Karena itu, aku rasa... akan lebih baik apabila Shan Lee menikah dengan..." Jaejoong menatap semua orang yang hadir. Ia pun menghentikan pandangannya pada Yunho.
"Yunho. Ia akan menjadi suami yang baik bagi Shan Lee. Aku juga yakin kalo mereka sebetulnya saling mencintai."
Ap-apa? Nggak mungkin, tadi Jaejoong bilang aku? Dia tidak bercanda kan? Yunho merasakan wajahnya memerah. Dia benar-benar tidak tau harus berbuat apa.
Dunia serasa berhenti berputar. Yunho bahkan merasakan bahwa nafasnya tertahan sesaat. Jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat (nggak mungkin bgt sih). Ia hanya membatu di tempat. Namun mata Jaejoong yang tajam terus saja memandangnya.
Tanpa peringatan, Pak Lin berjalan ke arah putrinya, menggenggam lembut kedua tangannya, dan bertanya,"Apakah yang dikatakan Jaejoong itu benar? Jawablah dengan jujur, aku tidak marah kok," tanya Pak Lin lembut. Shan Lee hanya terdiam, lalu mengganggukkan kepalanya. "Ya, appa. Ak-aku menyukainya."
"Yunho, bagaimana denganmu?" tanya Jaejoong tajam. Belum pernah ia berbicara setajam ini sebelumnya, pikir Yunho. "Kutanya sekali lagi, apa jawabanmu?" tanya Jaejoong dengan nada yang lebih keras.
"Kurasa, aku juga menyukainya..." Kata-kata itu meluncur keluar begitu saja dari mulut Yunho. Yunho tidak bisa berpikir, ia bahkan tidak yakin dengan apa yang baru saja diucapkan.
Dengan agak ragu, diangkatnya kepalanya. Yunho melihat Shan Lee menatapnya tak percaya, sementara Jaejoong tersenyum senang. "Kemarilah Yunho," panggilnya. Kaki Yunho pun bergerak menuju ke samping tempat tidur Jaejoong. Yunho berdiri berhadapan dengan Shan Lee yang tak berani menatap wajahnya.
Suasana hening dan mencekam. Sampai kemudian, Jaejoong menarik satu tangan Yunho dan meletakkannya di atas tangan Shan Lee. "Bisa kita mulai sekarang?" tanya Jaejoong pada tetua tanpa mempedulikan gumam pelan dari pasangan yang berusaha menarik tangannya itu.
Tetua hanya tersenyum, lalu berjalan mendekat. Ia berjalan perlahan, tubuhnya yang bongkok berguncang seiring langkahnya. Ditumpangkannya kedua tangannya yang sudah keriput di atas tangan Yunho dan Shan Lee. Ia lalu menatap Yunho dengan lembut dan berkata,"Nak, jawablah pertanyaanku dengan jujur dan serius. Apakah kau, Lee Yunho, mencintai Lin Shan Lee, bersedia menjadi suaminya, dan akan menjaganya dalam sehat maupun sakit? Serta menuntunnya dalam suka maupun duka?"
"Ya, aku bersedia," jawab Yunho mantap.
Tetua tersenyum dan mengalihkan pandangannya kepada Shan Lee. "Tatap aku, Nak." Shan Lee mengangkat kepalanya dan menatap tepat ke mata tetua. "Apakah kau, Lin Shan Lee, mencintai Lee Yunho, bersedia menjadi istrinya, dan akan mengasihinya dalam sehat maupun sakit, dalam suka maupun duka? Serta mengikutinya apapun yang akan terjadi?" tanya tetua.
Shan Lee hanya diam. Ia menatap Yunho tajam, barulah menjawab,"Ya, aku bersedia."
Tetua tersenyum. "Dengan ini, kunyatakan kalian resmi menjadi suami istri. Dan kuucapkan selamat untuk Tuan dan Nyonya Lee yang baru," kata tetua sambil tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi yang ompong. Terdengar sorakan gembira dari para tamu undangan yang hadir.
"Lebih baik kalian semua kembali ke rumah dan merayakannya di sana," sela Jaejoong di tengah-tengah keramaian itu. "Iya, ayo keluar semuanya," kata tabib sambil mengusir para undangan yang ribut. Kini tinggalah Yunho, Shan Lee, dan Changmin yang berada di ruangan itu. "Sebelum kalian pergi, aku ingin mengucapkan selamat," kata Jaejoong.
"Ah ya, kamsahamnida oppa. Berkat oppa, aku jadi tau kalau Yunho-oppa ternyata menyukaiku, seperti juga aku menyukainya," Shan Lee meremas tangan Jaejoong lembut. Jaejoong hanya tersenyum. "Aku ada hadiah untuk kalian," kata Jaejoong sambil merogoh-rogoh sakunya. Dia mengeluarkan sepasang benda bulat mungil dengan lubang di tengahnya.
"Ini disebut cincin," jelas Jaejoong. "Di negeri lain, yang terletak di seberang lautan yang tidak kita kenal, benda ini digunakan untuk menyatukan dua pasangan yang menikah seperti kalian. Kenakanlah di jari manis pasangan kalian." Jaejoong menyerahkan cincin itu pada Yunho dan Shan Lee. Dengan malu-malu mereka pun saling memasangkan 'cincin' tersebut di jari manis pasangannya.
"Sekarang kalian sudah resmi terikat sebagai suami istri. Yunho, jaga Shan Lee baik-baik. Awas kalau kau membuatnya sedih. Shan Lee, kalau Yunho macam-macam padamu, laporlah pada oppamu ini ya," canda Jaejoong. "Akan kujaga dia baik-baik, tak akan pernah kulepaskan," jawab Yunho santai sambil menggenggam erat tangan Shan Lee, membuat wajah gadis cantik itu merona. Namun, Shan Lee terlihat bahagia. Dibalasnya genggaman Yunho erat, seakan tak mau melepaskannya.
"Pasti oppa, aku akan melapor padamu kalau Yunho-oppa macam-macam," kata Shan Lee sambil tersenyum. Manisnya dia.
"Nah, sekarang pergilah. Nanti para tamu menunggu lho. Bisa-bisa waktu kalian datang makanannya sudah habis," goda Jaejoong lagi. Mereka pun pamit, tapi Changmin belum juga beranjak dari sisi Jaejoong. "Changmin, pergilah, aku akan baik-baik saja. Bersenang-senanglah," kata Jaejoong sambil mengelus rambut Changmin perlahan. Yunho berhenti berjalan dan melepaskan genggamannya dari Shan Lee, menyuruh gadis itu keluar terlebih dahulu. Ia kembali ke kamar tempat Jaejoong berada.
"Ayo Changmin, ikutlah dengan Yunho. Dia hyungmu juga, kau harus mematuhinya," bujuk Jaejoong lembut. Changmin menatap ke arah Yunho, matanya menyiratkan kekalutan yang dalam. Yunho tau ini sebuah ujian untuknya. Aku telah berhasil melalui ujian cintaku, dan kini aku siap menghadapi ujianku yang berikutnya, pikir Yunho. Yunho mengulurkan tangannya perlahan, sementara matanya terus menatap mata Changmin lembut. Perlahan Changmin mengulurkan tangannya pada Yunho. Jaejoong tersenyum memandang pemandangan di hadapannya itu.
"Nah, sekarang kalian pergilah, aku mau istirahat dulu. Changmin, ingat kata-kataku tadi. Dia adalah hyungmu, turutilah kata-katanya. Yunho, aku titip Changmin padamu. Dia adalah dongsaeng kesayanganku, awas ya kalau dia kenapa-napa," ancam Jaejoong.
"Iya, iya. Dia dongsaeng kesayangaku juga, kok. Lagipula, aku dongsaengmu juga kan? Berbaik hatilah sedikit padaku. Dari tadi kau main ancam saja," kata Yunho sambil memanyunkan bibirnya. Jaejoong tergelak. Jawabnya, "dongsaeng macam apa yang bersikap tidak sopan pada hyung-nya sepertimu? Sudah, sana pergi." Keduanya pun pergi menuju pintu, diiringi tatapan sayang Jaejoong. Jaejoong melambaikan tangannya, sampai akhirnya sosok keduanya lenyap dari pandangan.
Ya, aku perlu istirahat sebentar, pikir Jaejoong. Dibiarkannya tubuhnya merosot lemas, rasa sakit menggerogoti seluruh tubuhnya. Ia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan tabib, atau melihat apa yang dilakukannya.
Tiba-tiba, seluruh ruangan bercahaya. Dan di langit-langit gubuk, ia melihat sosok yang sudah tidak asing lagi, sosok yang sangat ia rindukan.
"Umma..." bisiknya pelan. Jaejoong pun memejamkan matanya, tidur pulas dibalik selimut yang disampirkan oleh tabib tua itu. Nafasnya semakin lama semakin pelan, hingga akhirnya tidak berhembus lagi...
Semua orang tengah berpesta di rumah Pak Lee. Yunho menyelinap keluar dari pesta, dan duduk di bawah pohon yang terletak di atas bukit. Dengan tersenyum dilihatnya langit malam yang bertabur bintang. "Oppa," panggil sebuah suara.
Yunho tersenyum. "Shan Lee ah~, duduklah di sini," katanya sambil menepuk tempat di sampingnya.
"Oppa, apa yang sedang kau pikirkan? Apa.., apa kau merasa menyesal, telah menikah denganku?" tanya Shan Lee. Keraguan terpancar jelas dalam suaranya
"Aku tidak sedang memikirkan apa-apa. Menyesal? Yang benar saja, aku akan menyesal seumur hidupku kalau tadi Jaejoong tidak menikahkan kita," kata Yunho sambil membelai kepala Shan Lee lembut.
"Oppa..." Shan Lee tersenyum senang. Yunho pun tersenyum, ditariknya dagu Shan Lee mendekat. Wajah Shan Lee memerah, namun ia tak memberontak. Dipejamkannya matanya. Di bawah pohon yang rindang, dengan disaksikan bintang-bintang, mereka beciuman dengan hati penuh cinta...
Pesta yang meriah itu berlangsung sepanjang malam. Semua bersuka ria menyambut pasangan yang baru saja menikah.
Tragis, keesokan harinya, Jaejoong meninggalkan mereka. Tubuhnya yang pucat tergolek dalam peti kayu. Hyung seperti sedang tidur, bukannya mati, pikir Changmin. Matanya terasa panas, tetapi tak ada air mata yang mengalir.
Di upacara pemakaman Jaejoong, semua tamu yang kemarin bersorak gembira, menangis sedih. Shan Lee menangis di bahu Yunho, Yunho merangkulnya erat dengan sebelah tangannya. Tangan Yunho yang lain menggenggam erat tangan Changmin, yang tidak meteskan setitik pun air mata.
Jaejoong, akan kujaga keluarga kita. Aku berjanji, ikrar Yunho dalam hatinya. Setetes air mata mengalir turun, membasahi wajahnya...
