YAHOO!
Aku balik lagi nih update fic Seiyuu no yureii, tapi gomen namanya diganti ya kayaknya kurang sreg aja judulnya. Judulnya jadi Hope: Reach A Sunlight, bagus kan?#enggak! (pundung)
dan ceritanya juga sedikit dirombak soalnya sebagian cerita udah lupa karena udah lama banget gak update hehe#lama gak up malah ubah cerita! bakar author! (UWAA) T_T
Ampun readers, sorry banget soalnya aku baru bisa aktif lagi nih bikin cerita. Akhir-akhir ini aku juga baru aktif di situs cerita tetangga. Sebenarnya aku juga berat sih ganti alur ceritanya, tapi gimana ya...sebagian ending yang udah aku buat matang-matang hilang gitu aja karena udah lama hiatus buat ngurus berbagai macam hal di dunia nyata, jadinya gini deh aku bikin cerita baru dengan endingnya yang baru juga. Maafkeun aku yang tidak bisa memegang janjiku hiks-hiks...#ngeles.
Tapi sekarang aku bakal komitmen kelarin cerita aku yang ini kok, soalnya lagi fokus nih sama cerita ini hehe.
Jadi my dear reader jangan marah ya, please (puppy eyes)
Oh iya, kalo kalian berkenan tolong bantu aku juga koreksi cerita ini ya. Kalo ada kesalahan-kesalahan biar bisa langsung aku revisi. Tapi aku sudah buat ceritanya dengan sebagus mungkin dan berusaha agar tidak ada kesalahan (typo lucknut) lagi kok. Hanya buat jaga-jaga aja#lu manfaatin reader ya thor? BAKAR (UWAA! gomen!)
Semoga kalian suka dengan cerita remake ku ini. Happy reading guys! ;)
Chapter 4
Gerombolan siswi yang sebelumnya sibuk masing-masing di aula utama sekolah tiba-tiba saja heboh saat 3 orang pemuda disana masuk dan berjalan angkuh melewati mereka.
Tidak sedikit juga yang menjerit histeris memperhatikan 1 dari mereka yang sempat curi-curi pandang sambil menunjukkan senyuman menawannya ke gadis-gadis sekelilingnya. Mereka adalah 3 orang siswa kelas 2 paling populer dan terkenal pintar di Konoha Senmon Gakkou. Wajah tampan, tubuh atletik, karismatik, elegan, dan pintar. Semua itu dimiliki mereka. Mereka adalah Sabaku No Gaara, Inuzuka Kiba, dan Uchiha Sasuke.
Dari ketiga pemuda itu, yang paling menjadi pusat perhatian adalah Uchiha Sasuke. Bukan hanya ketampanannya saja yang menjadi sorotan, dia juga adalah anak bungsu dari owner Uchiha Group, yang notabene adalah keluarga terkaya no. 3 di Jepang dengan memiliki 23 perusahaan dalam berbagai bidang IT dan entertainer.
Uchiha Group juga adalah salah satu investor terbesar di Konoha Senmon Gakkou, jadi tak heran jika dia sudah sangat populer di kalangannya. Gaara dan Kiba adalah anak dari akuntan dan sekretaris pribadi ayah Sasuke yang bekerja 20 tahun menemani dan membantu ayah Sasuke selama beliau terus berkarir, jadi tak heran juga kalau mereka selalu berada di sisi Sasuke, yang notabene selalu menemani Sasuke bermain sejak kecil.
"Aku gak bisa berhenti senyam-senyum nih...yang cantik-cantik ngeliat kesini semua~" mulai Kiba menyeringai nakal dan bermain mata dengan siswi-siswi yang memperhatikannya dan dua temannya.
"Eh-eh tuh lihat, yang itu cantik tuh. Kayaknya dia anak kelas 1, aku gak pernah ngeliat. Eh lihat deh tuh...tuh...tuh, manisnya~" lanjutnya menarik-narik lengan Sasuke dan Gaara bergantian.
"Begitukah?" sahut Gaara masih sibuk membaca buku tutorialnya, tak tertarik sedikitpun.
"..." Sasuke mulai menutup telinga nya dengan headset.
Mendengar respon seadanya dari kedua temannya itu, Kiba pun mendengus jengkel. Ia melirik kedua temannya itu yang saling sibuk masing-masing. Gaara, temannya yang sulit diajak ngobrol-ngobrol ringan, bahkan selama 12 tahun ini dia mengenalnya pun, dia masih tetap kesulitan akrab dengan anak dari sekretaris pribadi ayah Sasuke itu. Karena Gaara adalah orang yang paling singkat dalam hal berbicara apalagi kalau membahas hal sepele, Gaara bahkan terkadang tak buka suara. Kesukaannya adalah "Buku" dan "Komputer". Dia hanya banyak bicara kalau sedang dalam acara penting saja atau disaat terdesak. Kiba sering menjulukinya di dalam hati dengan sebutan "Mulut Kantong Plastik" karena sosialisasi nya yang sangat terbatas.
Jika Gaara adalah orang terdiam, beda lagi dengan Sasuke yang paling diam. Bahkan dia mengakui bahwa Gaara lebih baik dari Sasuke, karena Gaara masih bisa diajak bicara walaupun singkat. Tapi beda lagi ceritanya kalau dengan anak konglomerat itu. Dia sangat dingin, cuek, angkuh, dan sangat-sangat irit sama kata maupun ucapan. Bahkan disaat penting atau terdesak pun jarang sekali dia mendengar Sasuke bicara panjang.
Sasuke paling suka suasana sepi dan tenang, apalagi jika ada pohon, sudah seperti pasangan sehidup semati dengan pohon, tidak mau pisah sama sekali. Sasuke juga orang yang keras kepala dan pilih-pilih dalam hal makanan, apalagi tomat. Setiap kali ada yang memaksanya makan hal yang tidak ia sukai pasti bakal langsung membuang makanannya itu ke tong sampah beserta piring-piringnya. Kiba juga mendapatkan julukkan untuknya yaitu "Pangeran Es".
Kiba tidak percaya bagaimana dirinya bisa berteman dengan mereka, padahal jelas-jelas sikap mereka dengannya itu berbanding terbalik, jika orang lain yang tidak dikenal memperhatikan dia dan kedua temannya itu, pasti berfikir bahwa mereka itu jauh dari kata akrab. Setiap membuka mulut dan mengobrol-obrol tak disahuti, menunjukkan senyuman dan mengangguk pun tidak, kalau mau jalan cuma dia yang berisik, melihat gadis cantik lewat cuma dia yang heboh sendiri. Jika ibaratkan barang, Kiba itu seperti berjalan dengan patung.
Kiba pun juga tak tau awal dari pertemanan mereka, yang dia ingat cuma mengikuti alur saja. Sampai sekarang.
"Kalian gak bosen apa diem terus?"
"Jawab kek?!"
"Kau seharusnya tau aku seperti ini," sahut Gaara sedikit malas dengan pertanyaan tak penting Kiba.
"..." Sasuke membuka smartphone nya, sibuk mencari-cari musik kesukaannya.
"Ya tapi seenggaknya kasih respon gitu ke fans kita, gak takut apa fans-fans kita kecewa?" keluh Kiba merengek kecil bak bayi anjing. Gaara menghela nafas dan mempercepat langkah kakinya mencoba menghindari Kiba.
"Woi!" teriak Kiba sambil melebarkan kedua matanya saat melihat Gaara semakin jauh dan menghilang di pertigaan koridor sekolah di depannya.
Kiba beralih ke Sasuke, dengan senyuman yang ia buat se alami mungkin kemudian ia merangkul Sasuke. Sasuke meliriknya sekilas dengan tatapan dingin yang seakan memperingatkan, namun tak dihiraukan Kiba yang terus saja mencerocos.
"Sasuke. Kau, aku dan Gaara kan sudah 14 tahun berteman. Kita sudah melewati berbagai macam masalah bersama-sama, suka dan duka. Tapi kenapa aku merasa kalau cuma aku yang mencoba akrab, gimana pandangan orang tentang kita? kamu tahu 'kan kita ini terkenal di kalangan kita dan orang-orang di sekitar kita. Cewek-cewek juga mengharapkan kita banget seakan ngasih kode ke kita. Jadi tidak masalah lah kalau cuma cari perhat..."
"Aku mau ke taman," potong Sasuke singkat sambil melepaskan rangkulan Kiba yang menempel di bahu kirinya dan melesat pergi meninggalkan Kiba sendirian yang tidak terima ditinggalkan.
Kiba mendengus dan mendecih memperhatikan Sasuke yang juga sama-sama menghilang di pertigaan koridor.
"Mirip bener mereka, kenapa gak sekalian saja kalian menikah?! sialan!" rutuk Kiba mengejek dengan wajah tampannya yang ia ubah sejelek mungkin. Ia melanjutkan lagi "Padahal niatku baik mau ubah suasana biar kalian baikan lagi dan gak canggung, malah gak ditanggapin. Dari dulu sampe sekarang sulit sekali kalian diajak baikannya, sekarang jalan pun misah-misah," dengan nada pelan.
Tak lama saat dia kembali melangkahkan kakinya, kedua temannya menyapanya dari belakang dan akhirnya Kiba pun berjalan bersama mereka.
Seiyuu No Yureii
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Author: Selly Yamazaki Uchiha
Rate: T
Pair: SasufemNaru, GaafemNaru, KibafemNaru
Genre: Romance, Drama, School, Humor, Ghost, Bestfriend, Family, Slice Of Life
Warning!: Banyak OOC, OC, Typo, AU, gaje
DLDR
No Flame! (Kalo yg membangun dan jelas gpp (: )
HAPPY READING!
"OH MY GOD!"
Naruto terbelalak kaget dirinya menindih orang yang tidak dikenal, dan parahnya dia juga menciumnya, tepat di bibirnya.
Naruto melesat bangun dan langsung berdiri tegak dengan gerak gerik canggung sambil memperhatikan pemuda yang mengambil ciuman pertamanya itu bangun dengan merintih kesakitan.
"M-maaf, aku gak sengaja. Bang-bangkunya ti-tiba saja gak seimbang. Aku minta maaf!" mulai Naruto membungkukkan badannya merasa bersalah.
Sasuke mendongah dan menatap intens Naruto yang membungkuk tepat didepannya. Dengan alis yang berkerut, ia berdiri dan menatap tidak suka dengan tingkah laku tidak sopan Naruto tadi. Namun, belum dia sepenuhnya berdiri, Naruto menegakkan tubuhnya kembali, tepat saat Sasuke setengah membangunkan badannya. Kepala belakang Naruto dan dagu Sasuke berbenturan dan lagi-lagi mereka merintih kesakitan, namun kali ini lebih kompak.
"Duh-duh-du-duh," rintih Naruto dan Sasuke kesakitan. Naruto berjongkok dan mengusap-usap belakang kepalanya. Sasuke kembali berbaring ke tanah dan membuka lebar-lebar mulutnya yang terasa nyeri dan sedikit berdarah karena lidahnya tergigit. Matsuri terbang cepat menghampiri mereka karena sangat khawatir, terutama dengan Naruto.
"Naruto! kau tidak apa-apa?! ya ampun slebor banget sih kamu. Niatnya mao minta bantuan malah ngerepotin ah!" keluh Matsuri sambil memperhatikan belakang kepala Naruto cemas.
Naruto melirik Matsuri tidak suka, dia mendengus dan berdiri tegak sambil berbisik "Kalau niat kamu mao ngeluh, gak usah nolong," dengan nada penuh penegasan. Matsuri mengerutkan keningnya dan ikut-ikutan mendengus sambil memperdekat jaraknya dengan jarak Naruto.
"Heh? siapa yang ngeluh, aku emang niat bantu kok. Baperan banget."
"Berisik!"
Sasuke mengarahkan wajahnya kebawah yang saat ini tengah berbaring, tepatnya ke Naruto. Kerutan di keningnya semakin dalam, ia semakin tidak suka dengan gadis didepannya itu. Pasalnya dia sudah berani-beraninya berteriak 'berisik' di depannya selagi dia mencoba menahan rasa nyeri pada bagian lidah dan rahangnya. Padahal yang menjadi korban disini adalah dia, tapi Naruto justru dengan tidak sopannya membentaknya dengan ucapan 'berisik'. Dengan nada keras pula. Sudah minta maaf tapi malah diulangi lagi tindakan bodohnya. Itulah yang dipikirkan Sasuke.
"Kau bilang apa barusan?" ucap Sasuke datar sembari melesat duduk dengan kedua telapak tangannya menjadi tumpuan. Naruto mengalihkan perhatiannya dari Matsuri ke Sasuke yang ada dibelakangnya.
Begitu menyadari ada sedikit darah di sudut kanan bibirnya, Naruto pun refleks jongkok kembali dan mengambil sapu tangannya. Dengan sigap dia pun mengarahkan sapu tangannya ke sudut bibir Sasuke.
"Apaan sih ini?!" bentak Sasuke menolak.
"Ada darah, diam bentar," balas Naruto memaksa Sasuke untuk diam sambil berusaha menempelkan sapu tangannya ke sudut bibir Sasuke.
Ketika sapu tangan Naruto berhasil menempel di sudut bibirnya, Sasuke membatu sesaat dengan sentuhan tangan Naruto, perasaan canggungnya mulai menjadi-jadi saat kedua mata mereka bertemu. Bukan hanya itu saja, Sasuke juga sedikit merasakan sesuatu yang asing di dalam dirinya. Padahal dirinya adalah orang yang paling tidak mau wajahnya disentuh orang lain, apalagi orang yang tidak dikenal. namun entah kenapa kekurang ajaran yang Naruto perbuat justru membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa, apalagi saat mata biru sapphire-nya tertangkap di kedua bola matanya, seakan dirinya tengah terhipnotis.
Tak lama, saat mereka menyadari kedua wajah mereka begitu dekat. Bayangan dimana mereka 'berciuman' pun tiba-tiba muncul kembali membayangi pikiran mereka. Naruto membelalak dan Sasuke melesat bangun dengan sedikit mendorong Naruto sampai terjatuh ke tanah.
"Aduh! hei!" bentak Naruto tidak suka dengan sikap Sasuke kepadanya. Sasuke yang tadinya mengalihkan perhatiannya kearah lain demi untuk menghindari mata Naruto kini memberanikan diri menatap Naruto.
"Itu salahmu sendiri, kenapa menyentuh wajahku?!" balas Sasuke tidak perduli.
"Sudah kubilang ada darah."
"Aku punya tangan, aku bisa membersihkannya sendiri," balas Sasuke lagi tidak mau kalah.
"Hei, sudah-sudah. Lebih baik selesaikan baik-baik. Jangan ikutin nafsu. Naruto..."
Saat melihat Sasuke membungkukkan tubuhnya dan kembali memperdekat jarak wajahnya dengan Naruto membuat Matsuri menghentikan ucapannya. Mata tajam Sasuke yang terlihat cool di mata Matsuri cukup ampuh membuat Matsuri menelan ludah. Mata itu seakan menginstruksikan buat jangan macam-macam kepadanya dan juga seperti memerintahkan Naruto untuk segera meminta maaf, kalau tidak kesannya Naruto bakal dibunuh.
Karena takut, Matsuri pun terbang mendekati Naruto yang membeku tersebut. Dia memegang kedua bahu Naruto dan berbisik di telinga Naruto dengan nafasnya yang dingin;
"Naruto, mendingan kau cepat-cepat minta maaf padanya. Firasatku gak enak. Instingku mengatakan dia cowok yang berbahaya."
"Dasar cewek songong," ucap Sasuke sebelum Naruto berniat meminta maaf. Karena ter provokasi dengan ucapan yang dilontarkan Sasuke, Naruto pun mengurungkan niatnya, seiring dengan emosi nya yang meluap-luap.
"Apa kau bilang?" tanya Naruto penuh penekanan memperingatkan Sasuke untuk tak mengulangi ucapannya. Disaat Sasuke memunggungi nya dan berjalan menjauhinya.
"Naru-naru, tenang Naru. Firasatku tidak enak. Jangan kau lawan...please~"
"Apa? cewek songong," sindir Sasuke saat jaraknya dan Naruto sudah 1 meter. Memancing kembali emosi Naruto.
Naruto mengabaikan peringatan Matsuri dan melesat berdiri dengan tatapan menyeramkan bak predator selagi melihat Sasuke berjalan jauh memunggunginya.
Bug!
"Aaww!" Sasuke merintih pelan kesakitan saat belakang kepalanya terasa seperti tertimpuk oleh suatu benda keras. Ia berputar dan menundukkan kepalanya.
Dan begitu terkejutnya dia saat melihat sebuah sepatu kusam di tanah. Ia menarik nafas menahan emosinya yang sudah diujung kepala, yang rasanya seperti ingin menunjukkan tanduk di kepalanya. Kepalanya yang menjadi sumber kepintarannya yang tak pernah disentuh oleh orang tuanya kini malah disentuh oleh sepatu kusam yang dilemparkan Naruto. Baginya itu namanya penghinaan yang teramat besar baginya.
"Seenaknya saja kau menyimpulkan orang dengan sebutan songong. Kau kira perasaan orang itu terbuat dari batu apa?Intropeksi dong jadi cowok. Padahal aku sudah niat mau minta maaf lagi, tapi kau malah ngajak berantem."
"Kau...?!" geram Sasuke bak predator. Matsuri yang berada dibelakangnya langsung bersembunyi dibelakang punggung Naruto.
"Sudah kubilang jangan macam-macam sama dia, lihat 'kan orangnya marah?" bisik Matsuri gemetaran dibalik punggung Naruto.
Jujur saja Naruto sedikit takut tapi dia berpura-pura berani di hadapan hantu iseng di belakangnya itu. Jika dia tahu kalau Naruto ketakutan, bisa diejek habis-habisan dia.
Dengan tangan yang sedikit bergetar dia mengangkat kedua tangannya dan mempersiapkan kuda-kudanya untuk membanting Sasuke ke tanah.
"Naruto...dia semakin dekat..."
"Naruto..."
"NARUTO...!"
Deng dong!
Suara bel berbunyi diikuti kerumunan siswa dan siswi yang berbondong-bondong menjelajahi lorong di sekeliling mereka berdua menuju kelas. Sasuke memperhatikan sejenak suasana ramai yang tidak ia sukai tersebut sebelum akhirnya kembali menatap Naruto penuh intimidasi, yang bersamaan dengan Naruto dan Matsuri yang menelan ludah karena ketakutan setengah mati.
"Awas kau...berdoalah kita gak akan ketemu kalau kau mau selamat," ancam Sasuke penuh penekanan lalu berjalan angkuh meninggalkannya.
Seakan seperti menghirup udara segar, Naruto dan Matsuri pun menghela nafas lega dengan keduanya sama-sama tersungkur lemas ke tanah rerumputan di taman tersebut.
"Seremnya~" mulai Matsuri lega, ia kembali mengambang ke langit-langit. Naruto hanya diam tidak merespon, agar tidak kelihatan takut di mata Matsuri.
"Kan sudah kubilang minta maaf, kau malah ngajak dia berantem. 'Kan masalahnya jadi runyam."
"Kau kira aku tak mau minta maaf, dari tadi juga aku berniat mau minta maaf kali."
"Terus kenapa gak minta maaf padanya?"
"Dia udah bikin aku kesel," sahut Naruto pelan, agak malu dengan jawabannya. Sedangkan Matsuri hanya bisa menghela nafas jengkel dan membantu Naruto berdiri dengan seluruh kemampuan spiritual yang ia punya.
"Jujur saja, kau takut juga 'kan?" mulainya lagi mengejek dengan senyuman jahil terlukis di bibirnya.
"G-g-gak! kata siapa?!" sahut Naruto gelagapan mencoba membela dirinya didepan Matsuri. Melihat tingkah Naruto yang sedikit mencurigakan membuat dia semakin iseng dan menggodanya.
"Ah jujur aja deh, pasti takut 'kan? aku aja yang hantu takut, apalagi kau."
"Gak, aku gak takut. Ngapain juga takut sama cowok kayak dia."
"Masa?"
"B-bodo, udah ah. Aku mau ke ruang kepsek!"
"Hahaha, ngeles aja. Hahaha! emangnya kamu tau ryang kepsek dimana?" sindir Matsuri. Membuat Naruto malu setengah mati dengan wajah merah yang ia coba sembunyikan dengan menundukkan kepalanya.
"HAHAHAHA!"
-x-x-x-x-
Setelah 3 menit Naruto mengelilingi sekolah itu, akhirnya ia bertemu dengan seorang guru. Guru itu membantu proses registrasi Naruto, dan kebetulan sekali dia juga adalah wali kelasnya. Dia memiliki paras yang masih terbilang muda, sekitar berumur 25 tahun. Tubuhnya sangat tinggi dengan postur yang ideal. Meskipun setengah wajahnya tertutupi oleh masker, namun Naruto langsung mengetahui bahwa wali kelasnya yang memiliki rambut perak berkilauan itu sangat tampan. Naruto tidak tahu dan tidak mau tahu alasan mengapa dia memakai masker, tapi yang pasti matanya yang tajam itu menyatakan bahwa dia adalah guru yang memiliki karisma unik namun mempesona.
"Proses registrasi selesai, mau ke kelas bersamaku? atau ada keperluan lain dengan pak kepsek?" tanya wali kelas itu yang tengah berniat keluar dari ruangan kepsek. Sedangkan kepala sekolah yang dibicarakan mengangkat kedua alisnya bermaksud mempersilahkan Naruto bertanya apapun.
"Tidak, tidak ada lagi pak Kepsek dan pak..."
"Kakashi."
"...Kakashi-sensei."
"Baiklah, kalau begitu mari kita ke kelas. Saya permisi pak," sahut guru bernama Kakashi tersebut yang kemudian beralih ke kepsek dengan menundukkan kepala penuh hormat sebelum akhirnya ia berjalan keluar bersama Naruto dibelakangnya.
Sesampainya mereka di sebelah kelasnya dan berada di depan pintu kelas, suara bising yang mengganggu di balik pintu itu membuat Naruto tersenyum. Suara bising itu mengingatkannya kembali pada masa-masa di sekolahnya yang dulu, berisik dan heboh saat tak ada guru. Naruto pun langsung mengingat teman-teman lamanya di sekolahnya dulu, yang selalu berada di sampingnya selama satu tahun itu. Meskipun cuma sebentar, hari dimana ia menghabiskan waktu di sekolahnya dulu itu adalah hari yang begitu berharga baginya. Dengan sedikit mendengus menahan tawanya, Naruto menundukkan kepala dan menggumam menyebutkan nama temannya yang selalu berbuat konyol saat dia mengalami masa sulitnya. "Sakura...aku kangen."
"Pagi semua," sapa wali kelas itu saat dia berjalan masuk kelas. Suasana kelas yang sebelumnya bising pun sekejap sunyi.
"Pagi Kakashi-sensei."
"Hari ini kita punya teman baru."
Lantas saat Kakashi berkata demikian seluruh kelas pun kembali gaduh diikuti dengan serbuan pertanyaan 'Dia cewek atau cowok'.
"Kalau cewek kenapa, kalau cowok kenapa?" Kakashi menyahuti setiap kehebohan itu dengan nada bercanda. Tanggapan Kakashi tersebut disambut heboh kembali oleh seluruh siswa, dan yang paling semangat diantaranya adalah Inuzuka Kiba, salah satu pemuda paling tampan di kelas dan hyperaktif bak seekor anjing.
"Baiklah Inuzuka-san, dari kau dulu. Apa pendapatmu kalau murid barunya cowok dan apa juga kalau cewek?" tanya Kakashi sambil menoleh ke kursi kedua di barisan keempat.
"Kalau muridnya cowok tentu saja kita akan menjadi sahabat, apalagi jika dia kaya, bisa mengurangi biaya hidupku," sahutnya dengan senyuman lima jari yang disambut gelak tawa teman sekelasnya.
"Kalau cewek. Yah sederhana aja si. Aku bakal buat dia jadi pacarku," lanjutnya lagi. Kali ini teman sekelasnya bersiul-siul menggoda Kiba yang berpendapat demikian.
"Masa? trus gimana kalo dia jelek?" ikut salah satu temannya bercanda.
"Di kamusku tidak ada yang namanya cewek itu jelek. Semuanya pasti cantik, tapi yang paling penting bagiku adalah hatinya. Tak perduli secantik apapun parasnya, jika hatinya tak cantik itu semua sia-sia. Bagaikan buah yang diluarnya kelihatan segar tapi didalamnya busuk," sahut Kiba percaya diri yang lagi-lagi disambut meriah oleh teman sekelasnya terutama para siswi yang berebutan mencari perhatian Kiba dengan menyebutkan 'I love you!'.
"Hahaha, sudah-sudah. Buat yang berharap dia cewek, benar murid barunya cewek. Jadi buat murid-muridku yang cewek jangan kecewa ya. Dan bagi yang mau beri pendapat lagi, kalian bisa bertanya langsung ke orangnya. Bagaimana dirinya, penampilannya dan statusnya tentu saja~"
"Weh...sensei genit~!" sambut semuanya.
"Hahaha...baiklah. Uzumaki Naruto, silahkan masuk," ujar Kakashi sembari menoleh kearah pintu kelas, begitu pula semua siswa yang juga ikut terpusat ke pintu kelas.
Begitu Kakashi menginstruksikan Naruto untuk masuk, Naruto pun membuka pintu kelas dan berjalan se alami mungkin dengan kepala tertunduk. Sesampainya ia di samping Kakashi, Naruto lantas membungkukkan sedikit tubuhnya. Bersamaan dengan Naruto yang menegakkan wajahnya untuk memperhatikan teman barunya,
"AAHH! KAU! Si KASAR!" teriak Kiba refleks dan lantas beranjak bangun menunjuk Naruto yang tengah tersenyum.
"KAU?! SI GUK GUK!," balas Naruto tidak lagi menunjukkan senyumannya. Matanya terbelalak tidak percaya dapat bertemu dengan orang yang beberapa saat lalu ia tindas itu. Ini adalah keberuntungan atau kesialannya? Sebelumnya dia memang ingin sekali membalas perbuatannya yang kurang ajar padanya, bahkan ia ingin melakukannya sesering mungkin sampai ia merasa puas, dan minimalnya membuat pemuda itu meminta ampun. Tapi dilain sisi dia juga merasa kesal sendiri, meskipun dia begitu inginnya membalasnya, tapi jika sekelas dengan Kiba maka itu berarti hubungannya bersama teman sekelasnya tidak akan harmonis. Sebab Naruto menyadari sikap yang lainnya kepada Kiba, apalagi sorotan mata mereka itu. Mana mungkin Naruto dengan blak-blakkannya membenci Kiba di depan teman-teman barunya.
Naruto menghela nafas tidak suka melihat wajah Kiba di depannya, begitupula Kiba. Sorotan mata siswa dan Kakashi dipenuhi banyak pertanyaan, apalagi saat melihat tatapan mereka yang dibilang kelihatan intens itu. Membuat mereka bertanya-tanya ada hubungan apa sampai membuat mereka berdua saling tatap sangat dalam seperti itu.
"Ano...Jadi, kalian sudah saling kenal ya?" mulai Kakashi sambil menatap Naruto yang berdiri disampingnya dan Kiba secara bergantian.
"Tidak!" jawab Naruto.
"iya!" Jawab Kiba.
Naruto dan Kiba saling bertatapan lagi, namun kini lebih dalam dari sebelumnya. Kakashi menggaruk belakang kepalanya mulai bingung dengan jawaban mereka yang tidak kompak tersebut.
"Jadi...yang benar apa? kok kalian tidak kompak sih? sensei jadi bingung."
"Ya, Aku kenal dia!" jawab Naruto.
"Tidak, aku tidak kenal dia!" jawab Kiba.
"Baiklah, anggaplah kalian saling kenal," abai Kakashi kembali menggarukkan kepalanya lagi. Ia membalikkan badannya ke papan dan dan mulai menulis huruf katakana Naruto di papan tulis.
"Uzumaki-san silahkan perkenalkan dirimu ke teman-teman kamu," lanjut Kakashi yang tengah menulis namanya di papan tulis.
"Baik sensei. Perkenalkan namaku Uzumaki Naruto, aku adalah murid pindahan dari Osaka dan aku baru saja tiba di Tokyo untuk bersekolah di sekolah ini. Sebelumnya aku punya kendala di jalan karena ada anjing jalanan yang menyesatkanku..." Naruto menekankan perkenalannya pada kata 'menyesatkan' tepat saat dia melirikkan kedua matanya ke kursi Kiba yang masih berdiri dengan ekspresi wajah tegang karena ia tahu maksud dari ucapan Naruto tersebut.
"Tapi sekarang saya tiba di sekolah ini dengan selamat. Saya tidak terlalu tahu banyak tentang sekolah ini, dan juga saya ingin banyak belajar dari kalian semua teman-teman. Mohon bantuannya ya teman-teman," ucapnya sambil tersenyum ke arah teman-temannya sebelum akhirnya menundukkan sedikit badannya.
"Baiklah, Uzumaki-san. Kau bisa duduk di sebelah Mayami-san disana, kita akan segera memulai pelajarannya," ujar Kakashi sambil menunjuk ke kursi ketiga di barisan paling pojok. Tepatnya di belakang Kiba. Naruto hanya bisa menghela nafas menerima nasibnya yang harus memperhatikan punggung orang yang paling ia benci selama berjalannya pelajaran.
"Oh iya. Bapak hampir lupa. Inuzuka-san, Uzumaki-san..."
Naruto yang baru saja duduk dan Kiba yang mendecak jengkel lantas mendongah melihat Kakashi yang memanggil namanya, mereka berdua menyerukan 'Ya sensei,' dengan kompaknya saat dipanggil. Membuat mereka berdua sekilas beradu mata lagi, tak suka harus bicara bersamaan.
"Sensei 'kan tidak tahu kalian sudah akrab sampai sejauh mana, dan kebetulan Uzumaki-san butuh pembimbing untuk menunjukkan seluruh area sekolah ini. Jadi sensei mau minta tolong ke kamu Inuzuka-san, pada jam istirahat tolong bantu Uzumaki-san memperkenalkan area sekolah ini..."
"Hah?! Aku?!"
"Iya tolong ya, Inuzuka-san."
Kiba menghela nafas pendek dan menoleh kearah Naruto didepannya, yang juga menatapnya tidak suka sebelum akhirnya mereka saling berpaling satu sama lain, sehingga membuat Kakashi tertawa kecil dan menyimpulkan bahwa hubungan Naruto dan Kiba bukan hanya sekedar teman, melainkan hubungan yang terbilang rumit.
-x-x-x-x-
Naruto yang berjalan menyusuri koridor bersama dengan Kiba yang diam saja sejak mereka mengelilingi setiap area sekolah. Naruto yang sejak tadi memelototi Kiba yang terus membungkam mulutnya membuat Naruto menjadi semakin tidak sabar dan dia pun menghentikan langkahnya dengan mendengus jengkel sambil mengipas wajahnya yang tiba-tiba saja panas. Bukan hanya kesal dengan Kiba saja, dia juga cemas dengan Matsuri. Saat ini Naruto sedang tidak didampingi Matsuri, karena saat pelajaran dimulai tadi Matsuri merasa bosan hanya diam saja di kelas sehingga dia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Naruto di kelas. Padahal disaat seperti ini dia membutuhkan Matsuri untuk menenangkan dirinya. Ia akui bahwa Matsuri memang hantu yang paling membuatnya jengkel apalagi dengan tingkah lakunya yang kurang ajar, tapi dilain sisi Matsuri juga mampu menenangkannya apalagi disaat seperti ini.
"Kenapa berhenti? sebentar lagi kita sampai ke kantin," ucap Kiba malas sambil memutar badannya.
"Kalau kau tak mau membimbingku mengelilingi sekolah bilang saja."
"Hah?"
"Aku bisa minta yang lain," cetus Naruto dingin sambil mengangkat kedua alisnya mengejek. Kiba mendengus menahan tawa mendengar cetusan Naruto.
"Kau kira aku mau? ini perintah Kakashi-sensei," balas Kiba kembali memutar tubuhnya ke awal, tepatnya dimana Naruto berjalan melewatinya dan bersikap seakan tidak perduli dengan Kiba yang sebelumnya didepannya. Naruto menghentikan langkah kakinya dan menoleh sedikit dari bahu kirinya, dengan ekspresi jengkel dia pun membalas;
"Kau 'kan tinggal tolak saja, dan bilang ke sensei buat gantiin. Susah amat."
"Kau kira mudah menolak permintaan orang?" dengus Kiba. Kini dengan nada sedikit serius, membuat Naruto mengerutkan keningnya heran dengan suasananya yang kini menjadi sangat serius.
"Aku bukan tipe orang yang gampang menolak permintaan orang. Apalagi dengan guruku. Sejak kecil aku di tuntut untuk menjadi anak yang komitmen oleh ayahku, melakukan apapun yang bisa dilakukan dan memenuhi janji walaupun itu menyakitkan. Bahkan hal yang tidak kusukai pun harus kulakukan. Jadi jangan pernah kau ucapkan bahwa itu mudah. Kau tak akan pernah tahu bagaimana dan kenapa aku begitu berpegang teguh tentang itu," cetus Kiba sedikit gemetar menahan emosi. Emosi yang tidak terlihat seperti sebelumnya, tapi seperti ada sesuatu yang menekannya untuk seperti itu. Ekspresi Naruto pun mengendur, dia memutar tubuhnya untuk memperhatikan Kiba yang bergetar itu bermaksud untuk meminta maaf. Tapi sebelum ia sempat mengucapkannya, Kiba sudah melesat melewati Naruto dengan langkah cepat, bahkan setelah Naruto memutar kembali tubuhnya ke depan, jarak Kiba dengannya sudah sangat jauh.
Naruto memandang punggung Kiba itu dari jauh. Naruto merasa meskipun punggung lebar Kiba itu terlihat sangat tegak tapi rasanya punggung itu memiliki beban. Beban yang begitu berat yang seakan ingin membuatnya terjatuh terpuruk, tapi karena Kiba mencoba mempertahankan dirinya, dia memaksa dirinya untuk tetap berjalan tegak, mencoba melawan beban itu sekuat yang ia bisa.
TBC
