Diam.

Hanya itu yang dapat ia lakukan saat ini. Mata itu terus menatap dirinya, menatapnya dengan artian yang amat berbeda. Naruko merasa genggaman Naruto semakin erat, memegang tangannya.

Apa yang barusan ia dengar?

Perlahan, genggaman erat itu mulai mengendur, Naruto dengan kasar melepaskan tangan Naruko. Gadis itu pun tersentak kaget, namun iris matanya tak lepas dari kepala Naruto yang masih menunduk, menatap lantai... tak mau memandangnya.

Kenapa?

Entah kenapa, di pandangan Naruko, kakaknya itu sekarang... berbeda. Naruko dapat melihat laki-laki di hadapannya ini sekarang seperti sedang memikul beban yang cukup berat. Perlahan, mata Naruko yang tadi terbuka lebar, perlahan mulai melunak saat melihat bahu kakak kembarnya itu mulai bergetar.

Naruto... menangis?

Langkah kaki itu mulai terdengar, Naruko menatap Naruto yang perlahan mulai melangkahkan kakinya keluar, ke pintu rumah mereka. Dengan gerakan pelan, Naruto segera memakai sepatunya dan berjalan untuk membuka pintu.

Dan refleks, tangan Naruko yang disentuh Naruto tadi mulai bergerak, terlentang, seperti ingin meraih kakaknya itu.

"Nii-san..."

Suara lembut itu mulai terdengar, membuat Naruto memberhentikan pergerakannya. Ingin rasanya Naruto segera menutup pintu dan berlari sejauh mungkin dari sini. Tapi ia tak bisa... dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya saat mendengar suara lembut sang adik menggelitiki indera pendengarannya.

Naruto melirik Naruko dari ekor matanya, dan ia dapat melihat pandangan itu serasa kosong. Naruko menatap Naruto dengan pandangan kecewa, namun ia tak bisa mengagetkan dirinya ketika melihat tetesan air mata itu keluar dari pelupuknya.

"N-Nii-san..."

Naruko menundukkan wajahnya, bahunya bergetar, ia tidak berani menatap Naruto sekarang, setelah mendengar perkataan itu. Ia tidak bisa.

Dia benar-benar tidak bisa.

Suasana canggung mulai menguar disana. Mereka tidak berbicara apa-apa, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah perasaannya keluar, kini Naruto bisa sedikit lega. Biarlah adiknya itu berpendapat apa, yang jelas ia sudah mengeluarkan perasaan tabu ini dari dirinya.

"Tidurlah."

Naruko tersentak saat mendengar suara berat Naruto terdengar. Sang adik hanya mengunci bibirnya, matanya terpaku pada sesosok Naruto yang kini berbalik sepenuhnya, tersenyum kecil pada dirinya.

"Maafkan aku, aku sudah banyak salah padamu..." Naruto berbisik, namun Naruko masih bisa mendengarnya, "Mulai sekarang, kau bebas menentukan jalanmu, Naruko."

Ya, sudah saatnya ia mulai melepaskannya, melepaskan adik kesayangannya, sang adik tercinta. Ia tidak akan mengganggu masa depannya, mulai detik ini... mereka akan menentukan jalan mereka masing-masing dan suatu saat, Naruto berharap perasaan ini akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu.

"Aku tidak akan melarangmu lagi."

Mulai sekarang, ia bisa menentukan takdirnya sendiri, dan adiknya pun demikian. Mereka akan berjalan bersebrangan, tidak akan berdampingan lagi. Mungkin Naruto akan mencari pengganti sang adik dalam hatinya, mencoba untuk mencari wanita yang lain untuk mengisi kekosongannya.

Naruko menggigit bibirnya, iris birunya tak kuasa untuk mengarah ke arah lain, ia sama sekali tak kuat untuk menatap Naruto.

Perkataan sang kakak tadi membuat Naruko membatu. Naruto melepaskannya, dan pria itu sekarang tidak akan berada disampingnya lagi. Mereka berdua sekarang sudah besar, tidak ada alasan lagi bahwa Naruto akan disampingnya selalu. Ia akan menentukan jalannya, dan Naruto pun akan menentukan takdirnya pula.

Tapi dalam batinnya... ia tidak mau.

Naruto adalah seseorang yang selalu melindunginya, selalu ada dimana ia sendirian, menuntunnya hingga ia menjadi seseorang yang sekarang ini. Semuanya berkat Naruto. Dan gadis itu ingin Naruto mendampinginya selalu... dan selamanya.

"A-Aku..."

"Sudahlah," Naruto menarik nafas dalam-dalam, mencoba untuk menahan air mata yang entah kenapa ingin cepat-cepat keluar. Ia tidak mau dianggap seorang pria cengeng hanya karena sebuah perasaan konyol ini. Ia mencoba tegar, ia tidak mau kalah oleh perasaan sialan ini!

"T-Tapi, Nii—"

"Anggap aku tidak pernah bicara apa-apa, dan kuharap... kau melupakan perkataanku tadi," Naruto terkekeh pelan, namun tawa kecil itu serasa janggal di telinga keduanya. Dan ia tidak bisa menyangkal kalau satu tetesan air mata mulai lolos dari mata kirinya, "... aku sayang padamu."

Naruko menggeleng cepat, kakinya dengan cepat melangkah, mencoba untuk mendekati Naruko yang jauh di depannya. "T-Tidak! Naruto-nii, aku juga—!"

Sebelum tangan kecil itu meraihnya, dengan cepat Naruto membuka pintu dan menutupnya dengan bantingan, membuat Naruko membeku di tempat. Ia hanya terdiam di depan pintu, menatap dengan tatapan kecewa sekaligus terkejut ketika merasakan dirinya sendirian.

Naruto meninggalkannya.

"Naruto-nii..."

Naruko meletakkan dahinya di daun pintu, tangan kecilnya mencoba untuk membuka pintu, namun tidak bisa. Tetesan air mata gadis itu semakin deras saat Naruto meninggalkannya dengan perasaan berkecamuk dan berbagai pertanyaan sudah berlintas di otaknya.

"B-Buka pintunya..."

Tangan itu mencoba untuk menarik pintu, tapi dirinya sama sekali tidak bisa. Naruko menggertakkan gigi, dan iris birunya menutup, mencoba mengeluarkan air mata yang semakin banyak dari perasaannya.

Naruto mengunci pintunya dari luar, membuat Naruko tidak bisa mengejarnya.

Tubuh Naruko merosot jatuh, namun dahi gadis itu masih tertempel disitu, ia menepuk dahinya dengan alas pintu, mencoba untuk membuka pintunya meski itu terasa sia-sia. Ia merasa berantakan, wajahnya pucat, hidung serta matanya memerah, dan rambutnya acak-acakan.

Tapi dirinya tidak peduli.

Yang ia inginkan... hanyalah sang kakak kembali kesini, bersamanya.

Sedangkan diluar, Naruto hanya menatap sebuah kunci di genggamannya dengan tatapan kosong. Ia memandang pintu rumahnya dengan iris biru yang berkaca-kaca. Perlahan ia mulai berbalik, berjalan tanpa arah keluar dari pekarangan rumahnya. Ia memasukkan kedua tangannya di saku celana, kemudian menatap langit malam yang dihiasi oleh bintang serta bulan yang menemaninya.

Mungkin ini yang terbaik, 'kan?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto by Masashi Kishimoto

Beside Me by stillewolfie

Namikaze Naruto x Namikaze Naruko

Rated T-M

Genre: Romance/Drama/Family

Warn: OOC, AU, typos, Incest, etc.

.

.

CHAPTER 4. Frozen Tears

Naruko membuka matanya dalam diam. Matanya bengkak, wajahnya pucat. Ia hanya terpaku menatap langit-langit ruang tengah. Ia tidak bisa menyangkal kalau dirinya sekarang tidak sehat saat ini. Namun, ia tetap membangkitkan diri, iris birunya yang redup mulai berkeliling, mencoba untuk melihat apakah ada seseorang yang lain selain dirinya disana. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa saat menyadari kalau hanya dirinya sekarang, tidak ada siapa-siapa.

Kakinya mulai beranjak, menopang tubuhnya yang terasa berat. Tangannya memegang apapun agar dapat menyeimbangkan tubuhnya yang terasa oleng. Ia berjalan kearah pintu depan dan mulai menyentuh kenop pintu. Dan perlahan, mata Naruko yang serasa kosong perlahan mulai melebar saat merasakan tangannya memutar kenop pintu rumahnya.

Ckrek..

Pintunya terbuka.

Dengan cepat—tanpa menutup pintunya pula—Naruko segera berlari ke lantai dua, berlari kearah pintu kamar milik sang kakak, dan membuka pintunya dengan keras.

Tidak ada.

Naruko pun menutup matanya. Ia merasa Naruto tadi pulang tanpa sepengetahuannya, namun ia sama sekali tidak menyangka kalau kakaknya itu akan menghindarinya seperti ini.

"Kenapa... Nii-san menghindariku?"

Naruko menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lagi-lagi ia menangis, mencurahkan segala perasaannya melewati tangisan. Ia tidak peduli dengan semuanya, ia hanya ingin Naruto sekarang. Ia ingin merasakan pelukan kakaknya itu, mencium rasa bau khas yang menguar dari tubuh Naruto. Tapi itu percuma... karena sekarang lelaki itu tidak ada, menghilang entah kemana.

Naruko menyadarinya. Meskipun ia menangis, Naruto tidak akan kembali kepadanya. Ia harus berusaha, tidak boleh duduk sambil menangis seperti ini. Tapi dimana ia harus mencarinya?

Uchiha. Uchiha Sasuke.

Ah, ya. Tentu orang itu pasti bisa membantunya. Sasuke adalah sahabat terdekat Naruto, pasti ia bisa membantu mencari kakaknya tersebut. Dengan langkah gontai, ia segera berjalan ke kamarnya dan bersiap-siap untuk sekolah.

Selama ini... Naruto terus berusaha untuk melindunginya. Dan sekarang... dialah yang akan bergerak.

Apapun resikonya, Naruko akan mencari Naruto sampai bertemu dengannya.

~oOo~

Uchiha Sasuke melipat kedua tangannya di dada, menatap tajam pada seorang gadis yang berdiri tak jauh darinya. Iris onyx miliknya tak henti-hentinya mengintimidasi Namikaze Naruko yang sudah bergerak-gerak gelisah di hadapannya. Gadis itu menelan ludahnya gugup, Naruko meremas-remas kedua tangannya sembari menggigit bibirnya.

"Jelaskan padaku, apa yang terjadi dengan Naruto."

Naruko menutup matanya. Ia tidak menyangka kalau si jenius inilah yang menyadari kejanggalan Naruto sedari awal. Dan ia cukup terkejut saat tau Sasuke-lah yang bergerak duluan, menghampirinya dan meminta untuk berbicara secara empat mata.

"Aku tau kau mengetahui sesuatu. Sekarang, cepat katakan."

Pertama kali dalam hidupnya, Naruko dapat merasakan tatapan membunuh dari sang Uchiha. Selama ini, Sasuke selalu baik padanya, namun untuk sekarang... Naruko meragukan hal itu.

"A-Aku juga.. tidak tau, Uchiha-san." Naruko menjawabnya dengan mantap, menatap langsung Sasuke yang sekarang menyipitkan matanya. Ia dengan cepat meneliti wajah Naruko, dan dia dapat melihat sebuah keraguan tercetak disana.

Sasuke menyeringai samar.

"Aku tau kau mengetahui sesuatu, Naruko."

Saat ini, mereka sedang berdua di lapangan belakang. Sasuke bersandar di sebuah pohon sakura yang berkembang di pertengahan musim semi ini. Sedangkan Naruko hanya mematung disana, tak bisa bergerak ataupun mendekati si Uchiha angkuh tersebut. Ia tak habis pikir bagaimana orang itu bisa mengetahuinya. Oh, apakah Sasuke sudah mengetahui perasaan itu?

Naruko tersentak.

Itu tidak mungkin... 'kan?

"U-Uchiha-san..."

Suara mencicit dari sang Namikaze membuat Sasuke menegakkan tubuhnya, menghela nafas sejenak dan menatap bosan Naruko yang sudah berani melihatnya, menatapnya dengan rasa penuh ingin tahu akan sesuatu. Dan itu membuat Sasuke terpancing, ia segera meladeni tatapan serius Namikaze itu dengan sebuah tatapan tajam khas Uchiha.

"Apa Nii-san... pernah memberitahumu... sesuatu?"

Jelas sekali ada nada ketakutan disana, Sasuke dapat menangkapnya dengan jelas. Sesuatu itu adalah hal yang sangat berarti bagi kedua kembar tersebut. Dan karena sesuatu itulah... membuat Sasuke tak dapat tahu keberadaan Naruto yang sekarang entah berada dimana.

"Tidak."

Naruko mengangguk mengerti, tatapannya masih terfokus pada tanah yang ia pijak. Gadis itu menutup matanya, mengenang masa terakhir ketika Naruto bersamanya saat itu.

'Kenapa dari semua perempuan... aku harus mencintaimu..?'

Naruko menggigit bibir bawahnya. Sekarang sudah jelas, dimana letak kesalahannya berada. Semuanya sudah terkupas, dan karena hal itulah Naruto berubah... menjauhinya. Ia tidak tau dan sama sekali tidak menyadari kalau mereka sudah sedekat itu, sampai-sampai perasaan sayang sebagai adik-kakak menjadi perasaan yang terlarang untuk mereka berdua.

Nii-san...

Sasuke hanya memandangnya bosan ketika Naruko sudah menangis sesenggukkan di depan sana sambil meremas rok seragamnya. Tubuh gadis itu bergetar hebat, ia benar-benar tak kuat untuk menyembunyikan semuanya. Ia juga tidak mau menanggung beban ini sendirian, ia ingin Naruto segera ditemukan, dan mereka akan berbicara secara empat mata.

Dan karena itulah, Sasuke harus mengetahuinya.

Mereka hanya terdiam sesaat, membiarkan angin musim semi menerbangkan rambut mereka kearah berlawanan. Sasuke berdecak singkat, laki-laki itu ingin cepat-cepat pergi dari sini dan menemui kekasihnya, Sakura. Tapi karena kelambanan dan sifat cengeng dari adik sahabatnya ini membuatnya lama menunggu, dan Sasuke benar-benar tidak suka dibuat menunggu. "Aku tidak akan menyebarkannya, katakan saja kalau itu penting, Naru."

Naruko tersentak dan segera menatap Sasuke dengan perasaan berharap. Apakah benar, Sasuke akan merahasiakannya? dia akan memegang janjinya, 'kan? Naruko pun akhirnya memantapkan hatinya, ia sudah memutuskan... Sasuke akan mengetahuinya dan membantunya untuk mencari saudara kembarnya.

"S-Sebenarnya.." Naruko meneguk saliva-nya, "Kemarin sore, ada seseorang yang menemuiku."

Sasuke mengangguk mengerti, ia memasukkan kedua tangannya di saku, kemudian menatap Naruko dengan seksama saat gadis itu sudah mulai memulai pembicaraannya. "D-Dia memintaku untuk membantunya mencari alamat, dan aku pun menurutinya." katanya. "Awalnya, semuanya menyenangkan. Orang itu juga sangat baik, dan sepertinya seumuran dengan kita." perlahan, sebuah senyuman tipis terhias di wajahnya, namun secepat kilat meluntur dan matanya kembali sayu. "T-Tapi, Naruto-nii menemukan kami di depan pintu rumah, dan d-dia... marah."

Oke, Sasuke akhirnya menangkap inti dari pembicaraan ini. Sudah jelas salah satu yang membuat Naruto jengkel di dunia ini adalah adik satu-satunya yang ia miliki sedang berjalan berdampingan dengan seseorang yang bahkan tidak Naruto kenal, dan sudah jelas seseorang itu adalah kaum Adam yang bisa membuat keselamatan gadis itu terancam.

Bibir Naruko bergetar. Sungguh, ia tidak mau melanjutkan perkataannya tadi, tapi dirinya sudah terlanjur mengatakan hal ini pada Sasuke, dan dia tidak boleh mundur. "N-Naruto-nii sangat marah, dia bahkan hampir memukul orang itu, l-lalu mereka melakukan perdebatan kecil." Naruko lagi-lagi menelan ludahnya, gugup. "Akhirnya, kami masuk ke rumah, Nii-san memarahiku habis-habisan, dia bahkan..."

Sasuke mendelik kearah Naruko, bahkan apa?

Naruko menggeleng cepat, tangisan dan jeritan kecil mulai keluar dari bibirnya. Ia meremas rambutnya. Lututnya lemas, segera ia jatuh dan berlutut di depan Sasuke, membuat pria itu terkejut bukan main dan segera menghampiri Naruko yang sudah seperti orang stress di depannya. Namun sebelum tiga langkah menghampiri gadis itu, langkah kakinya terhenti ketika mendengar jelas gumaman Naruko yang sangat ganjil di telinganya.

"K-Kenapa... dia mencintaiku..!?"

Langkahnya benar-benar terhenti.

"D-Dia mengatakan itu... Uchiha-san, Nii-san mencintaiku..!" Naruko menutup mulutnya, mencoba untuk meredam suaranya agar tidak sampai berteriak, namun air mata masih tetap setia menghiasi kedua pipinya, "A-Aku tidak percaya... t-tapi, d-dia memang mengatakannya..."

Mulut Sasuke bungkam, ia menatap Naruko dengan pandangan tidak percaya.

Benarkah?

"Naruko, kau..."

"Aku tidak tau harus berbuat apa saat Nii-san hampir pergi.. a-aku benar-benar tidak berguna..!" Naruko menjerit, "Aku memang lemah, melarangnya pergi saja aku tidak bisa! A-Aku... aku..." Sasuke pun berlutut dengan kaki kanannya sebagai tumpuan, ia memegang pundak Naruko yang berguncang, "Aku tidak bisa, Uchiha-san... tidak bisa…"

Sasuke menatap nanar Naruko yang menangis, dengan ketakutan yang terpancar di kedua matanya.

Apa yang terjadi padamu, Dobe?

~oOo~

Orang itu berbaring di tengah rerumputan, angin semilir menerbangkan helaian pirangnya seiring dengan matanya yang sedang tertutup. Namikaze Naruto berbaring di lapangan yang penuh dengan rerumputan itu. Mulutnya menggigit sebatang rumput dan dimainkannya perlahan, kepalanya menengadah keatas, dan mengerjap saat matanya tertabrak dengan langit biru yang cerah.

Biru.

Warna yang sama dengan matanya, dan juga mata perempuan itu. Ia pernah membaca buku tentang warna, dan biru merupakan warna dari sumber komunikasi, perlindungan, dan... cinta. Biru juga merupakan warna dari air yang segar, yang berarti cukup untuk memberikan ketenangan bagi setiap orang yang memandangnya. Semua benda yang berwarna biru pasti berupa hal baik, ya 'kan?

Sama seperti ketika ia memandang mata gadis itu, adiknya, Naruko. Ketika ia menatap adiknya itu, ia terasa aman. Ia terasa ingin selalu melindunginya dan selalu berada di samping gadis itu. Itu sah-sah saja, 'kan? Lagipula Naruto adalah kakaknya, itu merupakan hal yang wajar ketika seorang kakak begitu protektif jika menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan sang adik. Tapi—

—tapi apakah ia bisa saat semua ini terjadi?

Naruto begitu menyayanginya, sampai-sampai ia tidak menyadari kalau perasaan itu sudah melewati batas.

Naruto menarik nafas dalam-dalam saat jantungnya kembali berdentum. Ia tidak dapat memungkiri kalau perasaan ini memang nyata, bukan khayalan biasa, dan itu membuatnya sangat frustasi. Naruto mencengkram dadanya sembari menutup mata. Ini tidak boleh.. ini tidak boleh terjadi!

Ia masih ingat saat Naruko menatapnya, tatapan itu seolah-olah gadis itu merasa bersalah, entah bersalah karena apa. Namun, Naruto tak mau melihat adiknya itu menangis, apalagi karena dirinya. Tapi, dia baru saja melakukan itu.

'Naruto-nii... buka pintunya...'

Suara serak seperti habis menangis itu sangat jelas di telinga Naruto. Gadis itu mencoba untuk berbicara, namun Naruto melarangnya. Ia benar-benar tidak kuat kalau selalu ada di samping perempuan itu. Jika ia selalu ada disana, ia tidak bisa menjamin keselamatannya.

Ya. Keselamatan.

Alasan dia berada disini adalah demi keselamatan Naruko. Yap, itu benar. Jika ia ada di rumah, di sekolah, bersama perempuan itu, Naruto benar-benar ragu akan keselamatan Naruko.

Naruto menggeram.

Dirinya benar-benar takut sekarang.

Naruto melirik ke samping saat merasakan keberadaan seseorang di belakangnya. Sabaku no Gaara menyesap nikotin di mulutnya seiring dengan langkahnya mendekati Naruto. Kemudian tanpa permisi dulu, ia segera duduk di samping sahabatnya itu, sambil menyerahkan sebuah amplop panjang berwarna coklat kepadanya.

"Ini data yang kudapat tentang pria itu."

Naruto meliriknya sebentar, kemudian tangannya mengambil amplop tersebut dan membukanya. Matanya menyipit saat iris matanya mengerling kearah satu-satunya foto yang ada di amplop tersebut. Pria berambut merah serta bermata coklat itu ada di sana, dengan data biografi yang hampir lengkap kini sudah ada di depan matanya.

"Kau benar, dia salah satu anggota Akatsuki."

"Hn, aku berutang padamu, Gaara."

Gaara menyeringai, "Tidak masalah."

Hening sejenak, Gaara duduk sambil menyilangkan kedua kakinya, sedangkan Naruto kembali berbaring di rumput, menempatkan amplop itu di wajahnya, menutupi matanya yang terlihat lelah.

"Sampai kapan kita harus mengawasi Akatsuki, Naruto?"

"Sampai aku membalaskan dendamku."

Gaara terkekeh, "Kau benar-benar sayang pada Naru-san, ya.."

Terdengar dengusan dari Naruto, pria itu hanya diam saja, tidak mau menjawab perkataan Gaara.

Gaara pun menyesap rokok-nya lagi, "... Dia khawatir padamu, Sasuke mengatakan itu padaku."

Naruto terdiam sebentar, namun mulutnya sedikit terbuka. "... Aku tau."

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Itu sama sekali bukan urusanmu."

Gaara tertawa pelan, ia benar-benar tertarik dengan kepribadian ganda Naruto. "Terserahlah, tapi dia perlu berbicara denganmu.. berdua."

Alis Naruto bertaut ketika mendengar kabar dari lelaki berambut merah tersebut. Sasuke ingin bicara dengannya? Ada apa gerangan?

"Katanya ini berkaitan dengan Naru-san, yah.. begitulah intinya."

Kata-kata itu sukses membuat mata Naruto melotot.

Cepat-cepat, Naruto segera duduk, menyilangkan kedua kakinya dan menatap Gaara dengan pandangan intens. Pria itu pun kembali terkekeh, merasa lucu saat melihat sahabatnya itu kembali bertingkah konyol. Dan itu semua hanya karena masalah sang adik. Haha, sungguh menyenangkan, ya?

"Dia berkata apa lagi padamu?" tanya Naruto was-was.

Gaara menaikkan bahu, "Hanya itu yang dia katakan."

Naruto mengangguk mengerti. Ia kembali menatap amplop tersebut dan kembali membukanya. Matanya dengan cepat melihat dan mencerna apa saja yang Gaara dapatkan tentang pria itu.

"Hei, Gaara..."

"Hng?"

Naruto melirik kearahnya, "Dia berasal dari Hokkaido, dia pindahan?"

Gaara mengangguk, "Dia baru pindah ke Tokyo sejak orang tuanya meninggal, sekarang dia tinggal bersama nenek tua yang membuka usaha pembuatan boneka. Namanya Akasuna Chiyo."

Naruto menyeringai, kemudian tertawa pelan. Ia menepuk bahu Gaara dengan tegas, membuat si lelaki berambut merah menaikkan alis.

"Terima kasih, kau memang bisa diandalkan."

Gaara memutar bola matanya, "Kau sudah mengatakan itu beratusan kali, Naruto."

"Ah ya, satu lagi," Naruto bergumam tak jelas saat menanggapi perkataan Gaara yang satu itu. "Kemungkinan orang itu akan pindah ke sekolah kita.. besok."

~oOo~

Kriing. Kriiing. Kriing.

Naruko menuruni tangga dengan terburu-buru saat mendengar suara telepon rumahnya berbunyi nyaring. Dengan nafas tertahan, ia mengangkat ganggang telepon dan menyapa dengan cepat. "H-Halo?"

"Naruko-chan! Apa kabar?"

Mata Naruko berkedip, "Ka-Kaa-san?"

"Bagaimana keadanmu? sehat-sehat saja 'kan?"

"I-Iya.." Naruko tersenyum lemah, "Bagaimana keadaan kaa-san, sehat juga?"

"Tentu! semuanya berjalan sukses. Nii-sanmu dimana? Kaa-san mau bicara."

"I-Itu.." Naruko meneguk ludahnya, "Nii-san sedang keluar, Kaa-san. Barusan saja.."

Tubuh Naruko terasa panas dingin saat Kushina menanyakan keberadaan Naruto. Padahal dia saja tidak tau kakaknya itu berada. Gadis itu terpaksa berbohong pada ibunya itu.

Dia tidak mungkin memberitahukan hal ini pada mereka, 'kan?

Setelah berbincang-bincang mengenai keadaan, rumah, dan sebagainya, akhirnya Kushina memutuskan untuk mengakhiri percakapan mereka. Dengan lemas, Naruko menaruh ganggang telepon ke tempatnya, gadis itu menghela nafas berat.

Naruto-nii...

Ckrek.

Tatapan mereka pun bertemu.

Naruko menatap orang itu tak percaya, matanya sedikit melotot saat Namikaze Naruto sedang berdiri di depannya.

Naruto... kembali.

"Nii-san.."

Belum saja Naruko dapat menyentuh pria itu, Naruto sudah melepaskan sandalnya dan berjalan melewatinya, meninggalkan Naruko yang membeku di tempat. Gadis itu segera berbalik dan berjalan mengikuti kakaknya itu, sampai di depan kamar Naruto, Naruko terus mengekorinya layaknya anak ayam.

"Naruto-nii.."

Suara gugup itu memberhentikan tangan Naruto yang baru saja meraih kenop pintu kamar. Laki-laki itu berbalik dan menatap gadis satu-satunya di rumah itu dengan pandangan malas. Naruto melepaskan hoddy jaketnya, membuat helaian pirangnya kembali terlihat. "Apa?"

"I-Itu.." Naruko meremas kedua tangannya gugup, "Naruto-nii.. darimana saja?"

"Bukan urusanmu," Naruto mengernyitkan alis, "Jangan ganggu aku sekarang, ada sesuatu yang harus kukerjakan."

Naruko menatap Naruto nanar, ia kembali meneguk ludahnya. "T-Tadi malam, mengenai pembica—"

"Jangan bahas itu lagi," suara menusuk dari Naruto membuat lengan Naruko bergetar, "Aku sudah malas membicarakannya."

Saat pertama kali bertemu dengan Naruko di depan pintu rumah tadi, jantung Naruto seperti berhenti berdetak. Di matanya, gadis yang merupakan adiknya itu terasa semakin cantik dari waktu ke waktu. Tangan Naruto pun terkepal, mencoba menyakinkan dirinya kalau semua ini harus segera diselesaikan.

Dan mereka akan kembali ke kehidupan mereka seperti biasa.

"Nii-san, k-kenapa kau bisa..." bibir gadis itu bergetar, sudah sangat jelas di matanya. "... k-kenapa itu bisa terjadi?"

Tangan Naruto lama-lama ikut bergetar juga. Suara lembut dan cicitan adiknya itu begitu indah di telinganya.

"A-Aku minta penjelasan darimu.." Naruko menunduk, "Aku ingin Nii-san menjelaskannya padaku!"

Dukh!

"...!?"

"Dengar," suara desahan nafas itu begitu terdengar jelas di telinganya, membuat Naruko menutup matanya. "Kemarin kau sudah dengar 'kan..." Naruto menyeringai saat merasakan tubuh gadis di depannya ini bergetar hebat, "... aku menyukaimu, baka..."

Naruto mendekatkan kepalanya ke telinga Naruko, dan lidah kasar itu pun jelas-jelas menjilatnya dengan lembut, membuat Naruko seketika menutup mulutnya, menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara-suara yang membuat Naruto... semakin menjadi. "N-Nii-san.. ini tidak boleh—"

"Kau yang membuatku terpaksa melakukannya, Naru.."

"Eh—aahn~!"

Suara lenguhan indah itu akhirnya keluar dari bibir kecilnya, membuat Naruto menyeringai puas dalam pergerakannya. Pria itu tanpa ampun mejilat telinga Naruko, sampai terdapat sebuah saliva lengket yang mengalir di sudut lehernya.

"Naru..."

"Henti—naahhn!"

Tangan kanan Naruto yang sedari mencengkram kedua tangan Naruko semakin mengerat saat suara desahan Naruko semakin menjadi-jadi. Pria itu menurunkan kepalanya ke bawah, tempat leher jenjang perempuan itu terekspos.

"T-Tidak, Nii—hnn!"

Lututnya lemas, nafas gadis itu memburu, wajahnya memerah. Naruko sudah tidak tau apa yang harus ia lakukan ketika terkunci dalam keadaan seperti ini. Dirinya tidak bisa melawan, karena kedua tangannya sudah dicengkram erat oleh orang di hadapannya.

Kepala laki-laki itu turun ke bawah, mengendus sebentar leher itu dan kemudian menjilatnya dengan lidahnya yang berlumuran saliva. Menjilatnya tanpa ampun, lalu menggigit di beberapa tempat tertentu, sampai bercak merah itu terlihat di leher Naruko. Gadis itu menyipitkan mata, wajahnya sudah memerah hebat, ia benar-benar tak tau harus berbuat apa...

"Naruto-nii..hentikan—ahhn!"

Naruko menjerit keras ketika Naruto menciumi daerah tengkuknya, yang merupakan area sensitif dari gadis itu, tempat nadi lehernya berdenyut. Naruto menyeringai samar, setelah mengetahui rahasia adik kecilnya, ia dengan segera menggigitnya dan terciptalah bercak merah yang sangat kontras dengan kulit putihnya.

Tubuh keduanya lemas. Gadis pirang itu merosotkan tubuhnya, saking tidak kuatnya menahan sensai mendebarkan yang diciptakan Naruto untuknya.

"Kau milikku, Naru... milikku.."

"N-Nii-san..."

Tubuhnya panas. Ia ingin segera membuka semuanya.

"Naru..." suara serak itu membuat Naruko sedikit membuka matanya, ia mengerling ke depan, menatap langsung iris biru yang sudah memancarkan sinyal bahaya. Naruko menggigit bibir bawahnya ketika Naruto memajukan wajahnya, menipisi jarak antara mereka berdua. "Naruko..."

Naruko menutup matanya pasrah saat bibir itu menyentuh bibirnya, menekannya dengan rasa gairah dan nafsu yang teramat sangat. Dengan lihai Naruto menjilat bibir merah muda itu, meminta ijin untuk mengakses lebih dalam permukaan bibir Naruko.

"Hmnh.."

"Hmffh.."

Suara redaman ciuman itu terdengar nyaring di lorong lantai dua kediaman Namikaze. Naruto memasukkan lidahnya dan dengan cepat mengabsen mulut Naruko dengan menggebu-gebu. Pria itu mengulum bibir gadis itu dengan penuh gairah, meminta sesuatu yang lebih yang hanya dapat Naruko berikan padanya.

Ya, hanya Naruko yang dapat memberikannya.

"Nii—nnmh..!"

Menciumnya dengan nafsu, bukan penuh rasa cinta dan lembut. Meskipun tidak memiliki pengalaman yang bagus tentang berciuman, tapi Naruko dapat membedakan antara berciuman atas nafsu atau cinta. Saudara kembarnya ini menuruti nafsunya, hasrat dan gairahnya untuk memiliki seorang wanita, bukan atas dasar cinta yang memang berdasarkan dari hatinya.

Naruto melakukan ini karena nafsu...

Dan jauh dari lubuk hati Naruko, gadis itu kecewa dengan fakta tersebut.

Naruko menundukkan wajah ketika Naruto melepaskan ciuman mereka karena oksigen yang semakin menipis. Saliva bergelantungan di bibir dan dagu perempuan itu, membuat Naruto menggeram saat tubuh kecil itu menggeliat di pelukannya, serta dada Naruko yang naik-turun membuat gairah Naruto semakin memburu.

Dia ingin memilikinya. Memiliki adiknya!

"Naruko—"

"N-Nii-san..."

Deg!

"K-Kenapa..." sembari mengatur nafasnya, Naruko menaikkan wajah, menatap langsung iris biru yang sama dengan miliknya itu.

Naruto terkejut saat melihat pemandangan di depannya.

Naruko menangis.

"K-Kenapa... kau melakukan ini padaku...?" Tidak ada sesenggukan, tidak ada wajah memerah, tidak ada bibir bergetar khas orang menangis. Yang ada hanyalah tetesan-tetesan air mata serta mata yang kosong. Bibir Naruko sedikit terbuka, membuat Naruto terpaku melihatnya.

"H-Hanya karena kau menuruti nafsumu... kau melakukan ini.. padaku?"

Seperti tersengat listrik, perkataan itu membuat Naruto tertohok. Dengan gerakan pelan, tangan kanan Naruto yang sedari tadi mengunci kedua tangan Naruko di atas kepala gadis itu mulai terlepas, membuat gadis itu bisa menurunkan tangannya.

Naruto menatap adiknya itu iba saat Naruko mengusap wajahnya dengan kedua tangan, bermaksud untuk menghapus air mata yang sempat keluar tadi. Saat pandangan mereka bertemu, Naruko tersenyum kecil, namun bukan senyuman sayang seperti biasanya...

Senyum kecewa.

"Nii-san hanya menganggapku.. sebagai pelampiasan, ya?"

Tangan pria itu mengerat sampai kuku jarinya memutih. Ia menatap Naruko dengan tatapan khas miliknya, namun gadis itu membalasnya dengan tatapan kosong serta senyuman menenangkan. Mereka berdua bertatapan, sebelum Naruto menundukkan wajah, memilih untuk melihat kedua kakinya yang berlutut di lantai.

"A-Aku hanya.." suaranya tercekat, bibir pria itu bergetar entah karena apa. "Aku hanya ingin mengatakan kalau perasaan ini nyata, Naruko..."

Tatapan yang menajam itu melunak, saat iris birunya tertabrak oleh iris biru yang hampir sama dengannya. "Aku sayang padamu. Sangat. Sampai perasaan ini berubah, a-aku.. bahkan tidak menyadarinya sejak awal..."

Naruko pun menghela nafas berat. Ia menunduk, menatap kedua tangannya yang lemas di atas pahanya.

Namun ia sedikit tersentak saat kedua tangannya di sentuh oleh kakaknya, Naruto mencengkram lembut kedua tangan Naruko yang kecil. Wajah pria itu memerah, namun masih menatap Naruko yang melongo tak percaya. "Aku tidak peduli kalau kau mencintaiku atau tidak..."

"Tapi, anggaplah aku seorang laki-laki, bukan seorang kakak.."

Dahi mereka saling berbentur, Naruko menatap mata Naruto yang tertutup. Gadis itu pun menutup kedua matanya saat nafas berat pria itu menggelitiki hidung serta bibirnya, menghadiri sensasi khusus untuknya.

Seorang laki-laki, bukan seorang kakak.

Bisakah dirinya menerima Naruto? Menerima untuk dicintainya?

"A-Aku..." Naruko membuka kedua matanya, "Aku tak tau..."

Suara itu membuat mata Naruto sontak terbuka, menatap wajah gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Semuanya bercampur, antara kecewa, sakit, marah, dan sedih. Diam-diam, Naruto menggigit bibir bawahnya, dan ia pun menjauhi jaraknya dengan gadis itu.

Ia melepaskan tangannya yang mencengkram kedua tangan Naruko. Tanpa berkata apapun, ia segera berdiri, meninggalkan adiknya itu dan memasuki kamarnya, menutup pintunya dengan sedikit bantingan. Gadis yang rambutnya diikat dua itu hanya bisa menunduk, menatap lantai dengan pandangan kosong dengan iris safirnya yang pucat.

Dirinya ingin menangis.

Tapi.. air matanya sudah habis akan hal itu.

Air matanya seakan hilang, tertelan habis oleh hatinya yang sudah menjerit keras.

Lagi-lagi, Naruto meninggalkannya. Tanpa alasan yang jelas.

Kenapa semuanya jadi begitu rumit?

.

.

.

.

.

Sedangkan di dalam, Naruto menyandarkan tubuh tegapnya di pintu. Iris matanya kosong, ia kembali teringat kejadian tadi, kejadian dimana ia hampir... memperkosa gadis itu.

Naruto menggeleng cepat, ia mengacak rambut duriannya frustasi.

"H-Hanya karena kau menuruti nafsumu... kau melakukan ini.. padaku?"

"Nii-san hanya menganggapku.. sebagai pelampiasan, ya?"

"Tapi, anggaplah aku seorang laki-laki, bukan seorang kakak.."

"A-Aku... aku tak tau..."

Ia menyentuh dadanya erat, menyentuh jantungnya yang masih berdegup kencang. Ia tau ini perasaan ini salah.. sangat salah, dan ini merupakan dosa yang sangat berat ditanggung oleh manusia sepertinya. Tapi inilah jadinya, ia sudah terjerumus oleh hal-hal brengsek seperti roman dan cinta.

Itupun cinta yang tidak logis.

"A-Aku..." Naruto menyandarkan kepalanya di pintu, lengannya menutupi area kedua matanya, membiarkan bibir pucat pria itu bergetar terlihat.

Aku menyayangimu, Naruko..

Naruto pun menghela nafas dalam-dalam. Ia menyayanginya, semua orang bahkan tau dengan sifat protektif yang ia berikan kepada Naruko. Tapi tidak semua orang juga yang menyadari kalau dirinya sudah berubah, Naruto menyayanginya, mencintainya, menyukai Naruko sampai ingin melindunginya dari pria brengsek yang mencoba untuk mengganggunya.

Termasuk pria itu.

Tapi bagaimana sekarang? Naruko tadi barusan sudah menolaknya. Tidak ada gunanya bila terus mencoba.

Nah, apa yang harus kau lakukan... Naruto?

~oOo~

Haruno Sakura menyipitkan matanya, bibirnya mengerucut, wajahnya mengintimidasi. Gadis itu memajukan wajahnya untuk meneliti wajah sahabatnya yang kini seperti mayat hidup, tak ada semangat ataupun perjuangan dari wajahnya itu. Perempuan berambut merah muda panjang itu pun memundurkan wajah, memiringkan kepala, dan melipat kedua tangannya di dada.

"Kau kenapa sih, Naruko-chan? Dari tadi diam terus."

Namikaze Naruko yang sedari tadi melamun sambil menyesap ramen asin pun menengadahkan kepalanya dengan malas. Bibir pucatnya mengulum senyum kecil, kemudian menggeleng lemah. "Tak apa, Sakura-chan. Aku hanya tak enak badan.."

Iris hijau emerald itu mengerling kearah syal tebal berwarna kuning cerah yang melingkar rapi di leher jenjang Naruko. Ia pun memiringkan kepalanya lagi, mencoba untuk menangkap apakah ada sebuah kebohongan dari wajah imut nan polos dari sahabat kesayangannya itu. Sakura pun menyesap jus alpukat-nya, "Kalau begitu kenapa masuk? Kau 'kan bisa ijin tadi.."

"K-Kurasa aku masih kuat, jadi tidak apa 'kan?" Naruko terkekeh, ia meminum air putihnya dengan tenang.

Sakura pun menghela nafas, gadis pirang itu benar-benar keras kepala. "Dimana Naruto? dia masuk juga?"

Mendengar nama kakaknya itu disebut, Naruko tersentak sedikit, "Y-Ya.. kurasa."

"Kalian tidak berangkat sama-sama tadi?"

"T-Tidak."

Sakura menggigit roti bakarnya, "Dasar durian itu, akan kuhajar nanti!" gumamnya, pelan.

Naruko pun tidak menanggapi perkataan Sakura, ia terus melahap ramennya dengan lesu.

"HEI!"

Naruko melototkan mata, Sakura tersedak.

"Pig! kau mengagetkanku!" Sakura memukul lengan Ino yang tertempel di meja, membuat gadis pirang berpony tail itu tertawa malu. Ia segera duduk di samping Naruko, namun berhadapan dengan Sakura. Iris aquamarine-nya tampak berbinar-binar, "Naruko-chan, aku mau tanya dong~"

"E-Eh? tanya apa?" Naruko sedikit merinding saat Ino sudah menempel padanya, dan tangan Ino melingkar di lengannya.

Sakura mendongkol, "Apa sih, jangan begitu dong, pig!"

"Hehe, maaf maaf," gadis itu terkikik, ia mengerling genit kearah dua sahabatnya. "Ada anak baru, di kelasku!"

Naruko mengernyitkan alis, dan Sakura pun semakin mendongkol. "Kau sudah mengatakan itu beratusan kali padaku! Jadi jangan membahasnya lagi, baka!"

"Siapa yang ngomong sama kau, forehead!" Ino menjulurkan lidah, membuat Sakura menggeram, "Naruko-chan, kau kenal Akasuna Sasori, 'kan?"

Naruko mengerjap-ngerjapkan matanya, ia tampak berpikir keras. Rasanya nama itu sudah tidak asing...

"Uhm.. m-mungkin?" bibir Ino mengerucut, Naruko tertawa malu, "Maaf, aku lupa.."

"Daritadi pagi dia terus mencarimu loh, katanya ada sesuatu yang harus ia bicarakan." Ino mencolek pipi Naruko, "Sudah ada ya~?"

"A-Apaan sih," wajah gadis itu memerah, Naruko membuang muka, "Aku juga tak terlalu kenal dengannya, jadi—"

"Iya iya deh," Sakura tertawa saat wajah Ino kembali masam, "Kau ini memang tidak pernah asik kalau diajak bergossip ya, Naruko-chan.."

Naruko pun hanya menaikkan bahu, acuh tak acuh dengan kalimat Ino tadi. Merasa tidak di perhatikan lagi, Ino pun menyandarkan punggungnya di kursi.

"Hei, Naruko-chan.."

"Hm?"

"Waktu aku sedang berjalan kesini, aku melihat Naruto sedang bicara dengan cewek, tadi."

Naruko berkedip.

"Hah?" Sakura-lah yang dengan cepat merespon, "Masa sih? Naruto 'kan tidak mau dekat dengan cewek, ngobrol pun tak pernah! jadi bagaimana bisa—"

"Jangan tanya aku, forehead! makannya aku kesini, bertanya pada Naruko-chan!"

Mata mereka pun melirik kearah Naruko lagi, yang sukses membuat mereka terkejut bukan main. Bibir itu mengatup rapat, matanya melotot, dan tangan yang sedang memegang sumpit itu terjatuh.

'Aku melihat Naruto sedang bicara dengan cewek.'

Ino... dia bercanda, 'kan?

"S-Siapa?" sontak Naruko menjilat bibirnya pelan, heran saat pertanyaan itu tadi keluar dari bibirnya.

Ino tersenyum lebar, kemudian tertawa. "Hazuki Shion, kelas 10-2, dia manis kok. Aku tak menyangka Naruto punya selera yang bagus!"

"..."

Saat mendengar kakaknya itu sedang berdekatan dengan seorang gadis, tubuh Naruko jadi tidak enak. Gadis itu menjadi gelisah, jantungnya berdegup aneh.

Ia menatap Ino sayu, "B-Benarkah itu, Ino-chan?"

Ino mengangguk antusias, "Uhm! aku tidak salah lihat, suer!" gadis itu tanpa merasa bersalah memamerkan gigi putihnya seiring dengan tangan kanannya membentuk tanda peace.

'Dengar.. aku menyukaimu, baka...'

'Kau milikku, Naru... milikku..'

'Kenapa aku harus mencintaimu..?'

Jadi semua perkataan itu hanya bualan? apa perasaan itu benar-benar nyata?

Naruko meremas syal yang ia pakai di lehernya, gadis itu menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya.

Gadis itu akan segera memastikannya.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Horeee, aku balik lagi, lanjutin fict yang sempet terabaikan ini. maaf ya bagi yang sudah mau menunggu, aku seneng sama kalian!

sorry banget kalo chap ini nggak bagus, masih banyak typos, saya ini ngetik di sela-sela belajar loh, soalnya besok saya udh TDS. ==

Haha, maaf ya kalo elek, tpi aku dah menggunakan kemampuan maksimal! :)

rencananya aku update nanti maunya di bulan maret nanti, cuman rasanya karena review di chap kemaren kebanyakan banyak yg protes kalo fict ini baru di update 4 bulan sekali, hahaha. sorry banget lah, kan masih hiatus. daripada dua tahu nggak kulanjutin? yaa.. begitulah, hahahaha.

Terima kasih ya sudah baca, aku seneng sama kalian semua! :D

.

.

SPECIAL THANKS TO

Guest, Kuroko Takahasi, miaw miaw110, guest, Vermthy, Guest, Akasuna D Raga, , mocha-mochin, Uzumaki 21, faridaanggra, Daisy Faustian Panthomhive, Luca Marvell, Dark – AraStev, shinn kazumiya, uzumakimahendra4, Vin'DieseL No Giza, MORPH, andypraze, A, Namikaze Sholkhan, minyak tanah, redcas, , Guest, W.M.R.M, Vicestering, narufanart232

.

.

Oh iya, untuk Sasori dan Shion, mereka bakal muncul di chap depan, stay tuned ya~! :D

.

.

.

Review? Makasih :)