Naruto milik Masashi Kishimoto

Rate: T/T+

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning :
- Naruhina Alternate Universe
- Ide murni milik saya
- Jika ada kesamaan alur, karakteristik cerita dan tokoh, atau lain-lain maka murni merupakan ketidaksengajaan
- Typo(s)
- DLDR.

...

Magnetic

Chapter 4 : Pertemuan Pertama -2

...

Happy Reading

...

Naruto masih memasang raut masamnya ketika memasuki Tokyo Midtown. Sasuke dan Sai menyerat dirinya dari rumahnya hanya untuk makan siang bersama kekasih-kekasih Sasuke dan Sai.

Naruto baru tiba tiga hari yang lalu di Tokyo. Awalnya Naruto berniat langsung tinggal di sebuah apartement, namun langsung ditolak mentah-mentah oleh neneknya. Terpaksa Naruto harus tinggal setidaknya satu sampai dua minggu kedepan dirumah neneknya.

Siang ini teman lama Naruto, Sasuke dan Sai mengunjunginya. Naruto cukup kaget menemukan mereka didepan pintu rumah neneknya, padahal Naruto tidak mengabari siapapun perihal kepulangannya, kecuali kakek dan neneknya.

"Bagaimana kalian tau aku ada di Tokyo?" Naruto bahkan belum mempersilahkan Sasuke dan Sai masuk, namun kedua laki-laki itu menerobos masuk dan duduk disofa.

Setelah mendudukkan diri disofa yang empuk barulah Sasuke menjawab, "Kakekmu yang bercerita pada ayahku."

"Dan pada ayahku juga." Sai menambahkan

Tidak mengherankan pikir Naruto.

Ketika kakeknya masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan, kakek dan ayah Naruto berteman baik dengan ayah Sasuke dan Sai.

Ketika Minato menjabat sebagai Kepala Staf Gabungan Organisasi Militer, ayah Sasuke, Fugaku Uchiha merupakan Kepala Staf Lapangan Angkatan Darat. Sementara Shimura Danzo, ayah Sai menjabat sebagai Sekjen Komisaris Badan Kepolisian Nasional.

Naruto, Sasuke dan Sai pun menjadi akrab karena ayah-ayah mereka. Mereka bertiga juga berada di Sekolah Menengah yang sama. Sampai masa perkuliahan Naruto yang singkatpun mereka berada dijurusan yang sama sebelum akhirnya Naruto masuk Akademi Militer.

Meski telah pensiun, kakek Naruto dan ayah Sasuke serta Sai masih sering bertemu, karena Fugaku lah yang menggantikan Jiraiya menjabat Menteri Pertahanan, sementara Danzo juga naik jabatan menjadi Komisaris Jenderal.

"Ku dengar kau juga akan kembali kuliah Naruto?" Sai menyadarkan Naruto yang masih berdiri diambang pintu.

Naruto menghela nafas dan berjalan mendekati teman-temannya. "Begitulah, kurasa besok aku sudah bisa ikut perkuliahan, seluruh administrasi sudah diurus nenek."

Sai bersiul, "Itulah untungnya punya nenek seorang President Universitas"

"Itu sama sekali tidak untung jika kau tidak berniat kuliah sama sekali." Naruto menghempaskan dirinya kesofa dan duduk disamping Sasuke.

"Kau mau jadi prajurit selamanya dobe?" Sasuke melirik Naruto yang bersandar dengan mata terpejam.

"Itu menyenangkan."

Sasuke dan Sai menatap Naruto yang masih terpejam. Mereka pikir Naruto sudah berubah selama tiga tahun terakhir ini, namun sepertinya itu hanya harapan kosong.

"Kurasa kita harus bergegas sekarang Sasuke, para gadis itu akan mengunyah kita hidup-hidup jika membuat mereka menunggu."

Mata Naruto terbuka mendengar kata-kata Sai. Ia menegakkan punggung dan menatap kearah mereka. "Kalian mengetuk pintu rumahku dan mengganggu waktu istirahatku, menerobos masuk dan duduk seenaknya tanpa izin tuan rumah, dan sekarang berniat pergi begitu saja? sebenarnya apa mau kalian kesini?"

"Siapa bilang kami mau pergi begitu saja, kau ikut dengan kami." perintah Sasuke.

"Aku? ikut bersama kalian dan gadis-gadis kalian makan siang? Terima kasih, aku sangat tersanjung tapi aku menolak."

"Ayolah Naruto, kau pasti belum keluar rumah sama sekali semenjak berada di Tokyo, kau perlu melihat dunia luar." Sai mencoba membujuk Naruto.

"Apa perlu kami meminta bantuan nenekmu untuk membujukmu?" Sasuke pikir percuma menghabiskan waktu berdebat dan membujuk Naruto, ia harus langsung mengeluarkan kartu As nya.

Mendengar neneknya yang akan diseret-seret, Naruto bedecak kesal, "Cih, jangan coba-coba mengancamku dengan menggunakan nenekku."

Meski begitu Naruto tetap naik ke kamarnya dan berganti pakaian, sementara Sasuke dan Sai tersenyum puas.

.
.

"Berhentilah merengut Naruto dan bersikaplah menawan didepan gadis-gadis kami." Sai kesal melihat Naruto yang terus menekuk wajahnya semenjak mereka berangkat.

"Mereka gadis-gadis kalian, kenapa harus aku yang bersikap menawan." sahut Naruto

"Karena jika melihat wajah menyebalkanmu mereka bisa ikut kesal dan menyalahkan kami." Kali ini Sasuke yang menjelaskan karena ia juga lelah jika harus menghadapi gerutuan Sakura.

Naruto memutar bola matanya menanggapi perkataan Sasuke yang tidak masuk akal baginya. Mereka berdiri disamping pilar di lantai dasar sambil menatap kearah para pengunjung.

"Itu mereka." Sai menatap kearah eskalator.

Naruto yang sedang melamun mendongak menatap kearah pandangan Sai dan Sasuke.

"Yang mana?" Tanya Naruto

"Tiga orang gadis dengan warna rambut pirang, pink dan biru gelap disana." Jelas Sai.

Tidak perlu banyak waktu untuk menemukan mereka. Warna-warna rambut mereka sangat mencolok diantara kerumunan orang.

Naruto mengamati para gadis itu di ujung sana. Mereka belum menyadari kehadiran kekasih-kekasih mereka hingga si pirang mendongak dan menatap kearah mereka berdiri.

Si rambut pirang dan pink berjalan dengan cepat menuju kearah mereka, meninggalkan si rambut biru tua yang terdiam ditempat.

Naruto mengernyit melihatnya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu. Ketika kekasih-kekasih Sasuke dan Sai hampir mencapai tempat mereka berdiri, baru gadis biru gelap itu melangkah.

Namun belum setengah jalan, gadis itu menabrak seseorang didepannya.

Tiba-tiba saja dari arah samping, seorang pria dengan mantel panjang yang membungkus setengah badannya dan menggunakan topi yang menutupi kepalanya, mengaitkan tangannya keleher gadis itu dan menariknya menjauh dengan cepat -terlalu cepat-.

Pria itu mengangkat tangannya yang bebas dan memegang pistol, menembaknya keatas, tembakan peringatan untuk menarik perhatian pengunjung lain.

Naruto langsung bersiaga, ia bisa mendengar teriakan pria itu.

"DIAM ! Jangan ada yang bergerak atau bukan cuma gadis ini yang kutembak tapi kalian semua juga akan kuledakkan!"

Sakura dan Ino yang sudah berada dihadapan mereka memekik mendengar suara tembakan dan reflek berbalik menghadap asal suara.

"Astaga! Itu Hinata-chan!" Sakura menyadari seseorang sedang menyandera temannya. Sakura hampir berlari kearah Hinata namun langsung dicegat Sasuke.

"Jangan bertindak bodoh."

"T-tapi Hinata-chan dalam bahaya." Sakura menatap wajah kekasihnya dengan pucat.

"Aku tau, tapi akan semakin bahaya jika kita mendekatinya."

Sakura dengan sangat terpaksa menyetujui perkataan Sasuke. Sakura dan Ino benar-benar merasa ketakutan melihat pria itu kini menodongkan pistolnya ke kepala Hinata.

Pria itu tiba-tiba terlihat kesal. Ia menyibakkan mantel yang menutupi tubuhnya. Orang-orang kemudian semakin memekik dengan panik. Pria itu memasang bom disekeliling tubuhnya.

"Jangan ada yang bergerak! atau aku akan meledakkan bom-bom ini!"

Ini buruk pikir Naruto, Ia tidak membawa senjata apapun. Satu-satunya cara hanya menyergapnya dengan tangan kosong.

"Oi Sasuke, aku perlu bantuanmu." Naruto maju mendekati Sasuke yang berdiri didepannya.

Sasuke mendengarkan dengan seksama.

"Kau harus mengalihkan perhatiannya. Tanyakan apa maunya, bernegosiasilah dan ulur waktu. Aku akan menyelinap mendekatinya. Kita perlu cepat, kesempatan kita terbatas, jika dia melihat pihak berwajib datang dia akan semakin waspada."

Sasuke mengangguk mengerti, kemudian ia menghadap Sai, "Sai, kau jaga Sakura dan Ino disini, jangan biarkan mereka ikut mendekat."

Naruto hendak beranjak namun lengannya ditahan oleh tangan Sakura. "Apa yang akan kau lakukan?! kau bisa membuat Hinata-chan terbunuh."

Naruto menatap tajam pada Sakura, "Dan jika aku tidak bergerak, maka kita semua yang akan terbunuh. Serahkan saja padaku, aku bisa mengatasi ini."

Tanpa menunggu jawaban Sakura, Naruto melepaskan cengkraman Sakura dan mulai begerak.

Sasuke juga maju mendekati pria itu secara perlahan, sementara Sai menenangkan kedua gadis itu dan meyakinkan kedua lelaki itu tau apa yang mereka lakukan.

Pria itu melihat Sasuke yang berjalan mendekatinya dan langsung bersiaga. Ia semakin menekan ujung pistolnya pada kepala Hinata.

"Jangan mendekat!"

Sasuke mengangkat kedua tangannya kedepan dada tanda menyerah, ia berhenti mendekat setelah perhatian pria itu teralih padanya.

"Apa yang kau mau?"

Pria itu tidak menjawab, ia masih mengedarkan pandangannya kesekelilingnya.

Sementara itu Naruto yang menyelinap diantara para pengunjung juga terus mengamati pria itu.

Sasuke maju lagi satu langkah.

"Kubilang jangan mendekat!" Pria itu kembali

"Apa yang kau mau?" Sasuke mengulangi pertanyaannya.

Pria itu terlihat semakin gelisah, matanya terus bergerah tidak fokus.

"Aku ingin kalian semua mati!"

Naruto tidak suka ini, penyandera ini hanya orang gila. Sayangnya dia orang gila yang punya pistol dan bom.

Jarak mereka masih terlalu jauh untuk Naruto bisa mengidentifikasi jenis bom yang ada di tubuh pria itu. Kalaupun dirinya punya senjata dan bisa langsung menyingkirkan pria itu dengan mudah, bom yang ada ditubuhnya bisa saja terhubung dengan tubuh pria itu. Banyak orang gila yang melakukannya. Bom meledak jika yang membawanya mati.

Dan kemungkinan terburuk lainnya, pria itu punya atasan yang memegang pemicunya dan sedang mengawasi.

Naruto berhenti bergerak. Ia mengamati sekali lagi laki-laki itu dengan seksama, meneliti arah pandangannya untuk mencari petunjuk. Pria itu memang terlihat gelisah, namun tidak ada petunjuk yang membuatnya seperti itu. Entah dia sedang dibawah tekanan seseorang atau memang dia gila dan pikirannya yang menekan dirinya sendiri.

Naruto harus membuat keputusan secepatnya. Terlalu banyak orang disini untuk dicurigai sekaligus diselamatkan.

Naruto mengambil resiko dan kembali mendekat. Melihat Naruto yang berjalan menuju sisi kanan pria itu, Sasuke kembali mengarahkan perhatian pria itu pada dirinya.

"Kenapa kau melakukan ini? Apa alasannya?"

"DIAM! jangan bicara lagi atau aku akan meledakkan bom ini!"

'Pria ini benar-benar orang gila.' pikir Hinata. Hinata mengamati Sasuke yang mencoba membujuk pria itu. Sasuke memang selalu berwajah stoic seperti itu, tapi ini terlalu mengkhawatirkan. Hinata tidak tau apa rencana Sasuke, sementara Sai sedang menjaga Sakura dan Ino dibelakang sana. Mereka terlalu bodoh, seharusnya mereka cukup pintar untuk menyelinap keluar dari sini secepatnya daripada menghadapi penyandera gila ini.

Hinata tanpa sengaja melirik kesamping kanannya. Ia melihat pria itu juga mendekat ke arah mereka. Pria berambut pirang yang tadi bersama Sasuke dan Sai.

Naruto menyadari matanya bertemu dengan mata gadis berambut biru gelap tersebut. Naruto mencoba mengisyaratkan padanya agar tetap tenang.

Pria itu tidak menyadari keberadaan Naruto, tapi jarak mereka masih tiga meter lagi. Sasuke harus berhasil mengambil atensi penuh pria itu atau jika tidak ia bisa melihat Naruto.

Gadis itu masih melihat Naruto dari sudut matanya. Kemudian gadis itu membuka mulutnya mengatakan sesuatu. Naruto tidak bisa mendengar kata-katanya. Namun apapun itu, berhasil menyita perhatian pria itu. Pria itu melotot pada gadis itu dan semakin mengeratkan pistolnya dikepalanya.

Naruto mengambil kesempatan itu dan berlari secepat mungkin.

Naruto menendang tangan kanan pria itu yang memengang pistol hingga pistol itu terlepas. Kemudian Naruto menyikut pelipis kanan pria itu dengan keras hingga melonggarkan kaitannya pada leher Hinata. Hinata langsung bereaksi dan membebaskan diri berlari menjauh.

Pria itu cukup kuat tapi tidak terlatih. Ia berdiri sempoyongan akibat hantaman Naruto. Naruto memelintir kedua tangan pria itu kebelakang tubuhnya, dan menendang kaki pria itu hingga pria itu berlutut.

"Dimana pemicunya?!" Naruto berbisik dibelakang pria itu sambil terus menahan tangan pria itu dengan kuat.

Pria itu hanya meringis dan tidak mau menjawab.

Naruto kemudian memanggil Sasuke. "Sasuke geledah pria ini, cari pemicunya."
Sasuke segera bergerak maju dan menggeledah pria itu. Tidak butuh waktu lama, remote pemicu itu ditemukan disaku mantel kirinya.

Petugas keamanan dan polisi mendekati mereka. Naruto melepaskan tangan pria itu untuk diborgol oleh polisi. Sasuke juga menyerahkan remote pemicu tersebut pada petugas polisi.

Polisi meminta mereka berdua untuk ikut ke kantor polisi sebagai saksi. Naruto dan Sasuke mengangguk namun meminta waktu untuk menjelaskan pada teman-temannya.

Hinata sudah berada dalam dekapan kedua sahabatnya yang menangis histeris. Sai tidak biaa lagi menahan Sakura dan Ino yang langsung berlari mendekap Hinata begitu melihat Hinata terlepas dari penyandera itu.

"Kalian pulanglah lebih dulu, aku dan Naruto akan ikut kekantor polisi, Sai antarkan mereka pulang." Setelah mengatakan itu Sasuke berbalik dan berjalan mengikuti polisi.

"Apa kau merasa baik-baik saja Hinata? apa kita perlu mampir kerumah sakit dulu?" tawar Sai.

Hinata menggeleng, "Aku baik-baik saja, aku hanya ingin segera berada dirumah. Ino-chan dan Sakura-chan juga pasti lelah dan ingin beristirahat."

Sakura langsung menyelanya, "Kami akan menginap dirumahmu malam ini Hinata-chan."

Hinata langsung menolaknya. "Aku baik-baik saja Sakura-chan, sungguh."

Ino terlihat ingin membantah namun bahunya ditahan oleh Sai, "Kurasa Hinata ingin menenangkan diri dulu Ino, biarkan Hinata beristirahat sendirian dirumahnya."

Ino dan Sakura terdiam. Hinata langsung menggandeng lengan mereka berdua dan mengajak mereka pulang secepatnya kerumah masing-masing.

.
.
.
TBC

Note's:
-Disini saya gak bikin Danzo jahat lho yaa, jadi jangan berpikir Sai mungkin akan berkhianat atau apa. Sebenarnya saya cuma bingung apa nama marga Sai dan siapa yang cocok jadi ayahnya. Karena gak ada pilihan lain, jadilah saya pinjem nama Danzo. Dia gak akan berperan banyak juga kok, cuma numpang nama doang?

-President Universitas itu kalau di Indonesia sama dengan Rektor.