CHAPTER 4

"Hamil?" tanya Dongwoon meyakinkan bahwa apa yang didengarnya barusan tidak salah.

"Bagaimana bisa? Kau kan seorang namja?" Junhyung terlihat tidak percaya dengan pernyataan Yoseob.

PLAK!

Dongwoon memukul lengan suaminya dengan cukup keras. "Yak! Bicara apa kau Yong Junhyung! Anakmu juga lahir dari rahim seorang namja dan kau tidak percaya ada namja yang bisa hamil?" Ia terlihat tidak terima dengan ketidakpercayaan suaminya.

"Ya… Ya… Aku percaya, aku percaya…" Yong Junhyung menggeser posisi duduknya menjauh dari sang istri yang telah berubah menjadi manusia setengah serigala.

Dongwoon melirik suaminya sekilas sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada seorang namja cute yang duduk di hadapan mereka.

"Mianhae, Yoseob, sudah jangan dimasukin hati omongan Junhyung ahjussi ini," ucap Dongwoo mencoba menenangkan dongsaeng dari calon menantunya tersebut.

Yoseob mengangguk kecil.

"Jadi bagaimana, kau yakin hamil?"

Yoseob kembali mengangguk.

"Berapa bulan?"

Kini namja cute tersebut menggigit bibir bawahnya dengan gelisah karena pertanyaan yang terlontar dari bibir namja yang telah melahirkan Kikwang tersebut.

"Kau tidak tau?" tebak Dongwoon yang hanya dijawab dengan sebuah anggukan dari Yoseob.

"Kalau begitu lebih baik kita ke dokter sekarang juga, kalau kau benar-benar hamil anak Kikwang kami akan batalkan pernikahan KiSeung atau setidaknya mengganti mempelai wanitanya," usul Junhyung.

Sekilas terlihat sebuah senyuman tersungging di bibir merah Yoseob, namun beberapa detik kemudian senyuman itu segera pudar ketika ia mengingat sesuatu.

"Andwe," tolaknya cepat sebelum Junhyung dan Dongwoon menyeret(?)nya menuju ke dokter.

"Wae?"

"Ehm, tidak perlu."

Junhyung memicingkan matanya memandang Yoseob penuh selidik. "Kenapa? Takut eoh?"

Yoseob mengangguk cepat. "Ne, aku takut ke dokter, aku takut disuntik."

Junhyung dan Dongwoon berpandangan sebentar sebelum bergerak cepat untuk menyeret Yoseob dan membawanya ke rumah sakit terdekat. "Tenang saja, tidak akan disuntik kok."

.

.

.

Yoseob duduk di sofa ruang tamu rumahnya dengan menunduk lesu setelah kembali dari rumah sakit bersama dengan Junhyung dan Dongwoon beberapa saat yang lalu.

"Yoseob, sekarang jelaskan pada kami kenapa kau berpura-pura hamil?" tanya Junhyung setengah mengintimidasi.

"Jawab, Seobbie," tambah Dongwoon.

Yoseob memainkan ujung sarung bantal kursi dengan kedua tangannya. "Mianhae, aku hanya… Hanya tidak rela kalau Hyunseung hyung menikah denga Kikwang."

"Aigoo, hanya karena masalah seperti itu. Kau tau sendiri kan appamu tidak memberikanmu sebagai suami Kikwang melainkan memberikan hyungmu. Lagipula keduanya tidak menolak, itu tandanya Kikwang mau mau saja menikah dengan Hyunseung dan berpisah denganmu," ujar Dongwoon sambil memposisikan dirinya di samping Yoseob dan mengelus punggungnya dengan sayang. "Kau pasti bisa menemukan namja yang lebih baik dari Kikwang.

Yoseob mengangguk terpaksa.

.

.

.

Akhirnya hari ini tiba, hari dimana KiSeung couple akan menikah. Hari yang paling dibenci oleh seorang namja bernama Yoseob yang kini sedang duduk dengan gelisah di bangku barisan depan gereja tempat hyung dan mantan namjachingunya akan meresmikan hubungan mereka dengan sebuah janji suci beberapa saat lagi, kalau seandainya seorang jin datang di hadapannya saat ini dan bisa mengabulkan satu permintaannya maka ia akan minta hari ini terlewati begitu saja. Atau jika seandainya Tao ada disini ia akan meminta waktu dihentikan dan ia akan membawa kabur Kikwang dari tempat ini. Namun itu semua hanya angan-angan Yoseob saja, kenyataan berkata lain.

Kikwang telah berdiri di altar gereja dengan balutan kemeja berwarna putih dan jas hitam serta dasi kupu-kupu hitam yang membuatnya terlihat sangat tampan dan manly. Sedangkan Hyunseung kini telah berjalan perlahan mendekati calon suaminya dengan digandeng appanya. Entah siapa yang menyarankan tapi saat ini Hyunseung benar-benar memakai gaun pengantin seperti yang biasa dipakai oleh seorang yeoja. Gaun panjang berwarna putih yang ujungnya menjuntai hingga ke lantai dengan bagian atas yang terbuka menampilkan bahunya yang putih mulus. Ia terlihat sangat cantik saat ini.

Kikwang mengulurkan tangan kanannya ketika Hyunseung telah berada tepat di hadapannya, Hyunseung menggenggam tangan kanan Kikwang yang terulur dengan tangan kirinya. Keduanya memposisikan diri di hadapan seorang pendeta yang siap memulai upacara pernikahan mereka.

Acara pun dimulai dan berjalan dengan mulus tanpa suatu halangan apapun hingga pada saat janji pernikahan selesai diucapkan dan KiSeung couple telah resmi menjadi sepasang suami-istri.

"Baiklah, ada yang keberatan? Katakan sekarang atau tidak selamanya," kata sang pendeta setelah KiSeung saling memakaikan cincin pernikahan.

"Saya keberatan," ucap seorang namja yang duduk di barisan depan seraya bangkit dari tempat duduknya. "Kikwang sebenarnya namjachingu saya tapi appa memaksanya menikah dengan Hyunseung hyung."

Semua mata memandang ke arah Yoseob yang masih berdiri di tempatnya.

"Yoseob! Duduklah!" perintah Doojoon setengah membentak.

"Mianhae, Seobbie, tapi sebenarnya aku lebih mencintai Hyunseung hyung, mianhae," ucap Kikwang sambil sedikit membungkukkan tubuhnya kepada sang mantan.

Tidak tahan dengan semuanya, Yoseob melangkahkan kakinya berlari kecil keluar dari ruangan melalui pintu samping yang kebetulan berada tepat di samping kirinya.

BRUK!

Langkah namja cute tersebut terhenti ketika tubuhnya menabrak seseorang, seseorang yang tubuhnya lebih tinggi dan besar dari tubuhnya, membuatnya terhuyung sedikit ke belakang.

"Mianhae," ucap Seobbie sambil membalik tubuhnya, hendak pergi.

Namja itu menggenggam pergelangan tangan kirinya, memaksanya menoleh ka arah namja tersebut.

"Ilhoonnie…"

"Yoseob hyung…"

Mereka berdua berpandangan beberapa saat lamanya, sama-sama kaget karena akhirnya bertemu lagi setelah terpisah lama – karena setelah lulus dari sekolah dasar Ilhoon pindah ke Thailand dan menetap disana bersama kedua orang tuanya.

.

.

.

Setelah pertemuan tidak sengaja tadi Yoseob dan Ilhoon memutuskan untuk mengobrol lebih jauh di sebuah café, saling melepas kerinduan satu sama lain.

"Jadi, apa alasanmu kembali kesini?" tanya Yoseob sambil mengaduk-aduk jus alpukat di hadapannya.

"Karena aku merasa meninggalkan sesuatu ketika aku pindah dulu dan aku kembali untuk membawanya," jawab Ilhoon dengan senyum di bibirnya.

"Sesuatu? Kembali ke Korea hanya untuk mengambil 'sesuatu'? Kenapa tidak meminta kerabatmu untuk mengirimkannya saja?"

"Karena 'sesuatu' itu sangat berharga dan tidak bisa dikirim melalui ekspedisi apapun," ucapnya sambil terus tersenyum.

Jantung Yoseob berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Ia menerka-nerka apa 'sesuatu' yang dimaksud oleh Ilhoon itu adalah dirinya, karena dulu saat mereka masih menjadi tetangga ada temannya yang bilang kalau namja yang empat tahun lebih muda darinya itu pernah menyukainya.

"Mungkinkah Ilhoon kembali untukku?" tanya Yoseob dalam hatinya.

"Apa kau sudah menemukannya?" tanya Yoseob sedikit memancing namja tampan tersebut.

"Tentu, aku langsung menemuinya sesaat setelah aku tiba di Korea, dan aku akan membawanya ke Thailand bersamaku tiga hari lagi."

Raut wajah Yoseob berubah, tidak seceria sebelumnya.

"Sebenarnya apa 'sesuatu' itu?"

"Seorang namja, namja yang aku sukai, namja yang aku cintai sejak aku masih berada di sekolah dasar, cinta pertamaku."

Yoseob tersenyum dalam hatinya, ada seberkas harapan bahwa itu adalah dirinya. Sejujurnya saat itu ia juga menyukai Ilhoon, walaupun tak yakin kalau itu adalah perasaan cinta. Mereka masih kecil saat itu.

"Siapa namja beruntung itu?" Yoseob kembali memancing Ilhoon.

"Itu dia sudah datang," seru Ilhoon sambil menunjuk seseorang yang baru saja memasuki café dan sedang berjalan ke arah mereka. Seorang namja yang menurutnya sedikit mirip dengan mantan namjachingunya – Kikwang.

"Hyunsik?" tanya Yoseob kaget sekaligus malu pada dirinya sendiri karena sudah ke ge-eran.

"Ne, kami akan menikah sebulan lagi di Thailand, nanti aku akan mengirimkan undangannya, usahakan datang ne, hyung," ucap Ilhoon santai tanpa mengetahui bahwa yang diajak bicara sudah ingin mati rasanya.

END