IV.
"Around, the carousel went around. That circled round, not mine at all."
"...Aahh-h..."
Udara dingin keluar memburu dari celah katup mulut yang terbuka.
Pupil di kedua iris hijau terkadang menciut, dan membesar, terarah buram ke tembok-tembok ruangan. Tumpuk berbagai peralatan olah raga, bola-bola Volley dan bola-bola Basket dalam keranjang, juga beberapa matras berada tidak jauh dari sisi.
Tempat penyimpanan ini sesak dan pengap oleh sengal nafas dari dua pemuda. Masing-masing tubuh bagian depan mereka saling menekan sejalan perpaduan gerak... saling mencari pemenuhan rasa dari balik kain jaket berwarna hitam yang menjadi pembatas tipis di antara keduanya.
Yang berperawakan jangkung duduk di lantai dan bersandar pada tembok. Sedang yang berperawakan kurus duduk pada pangkal paha sekaligus merangkap kedua sisi pinggul si pemilik paha.
"...Ngghh-h...!"
Alunan desah semakin berat saat pemuda berambut pirang pendek menjambak kasar rambut milik pemuda berambut merah api.
"...A-ahh- Ahh-h...!" Suara dari mulut pemuda berambut rambut merah api bertambah nyaring dan parau saat tekanan paksa untuk mendongak, dan badan itu mengejang seketika wajah si rambut pirang mengisi penuh sisi kiri jenjang leher pemuda itu.
Jemari kedua tangan milik yang berperawakan jangkung mulai mencakar permukaan kain; punggung milik yang berperawakan kurus.
"...Roxy...! Roxy- Ngggh-hh...! Ghh-h...!"
Kedua mata Axel memicing pedih sejalan kedua baris giginya saling menggerat, diselingi rintihan keras... terus dan terus.
Aliran-aliran merah menuruni lembah tonjolan tulang klavikel-nya dan sebagiannya terhapus kain jaket milik Roxas. Jemari kedua tangan Axel kini meraba dan meremas rambut Roxas. Memohon, benar-benar memohon.
Roxas tidak pantang berhenti. Mulut tetap mengunci mati pada leher Axel selayaknya gambaran hewan pemangsa terhadap buruannya.
Baris gigi bergerigi tajam menggerus kasar pada kulit dan mengoyak daging. Dalam, dan semakin dalam. Lidah terus mengecap rasa metalik anyir, dan jakun terus bergerak selama menelan.
"...Gaahh- Su- AHH...! AHH-H! Roxas...! Roxas...!" Erangan Axel sudah berganti intonasi. Sakit, sangat. Tapi Roxas masih menahan kepala Axel tetap berada dalam posisi.
"...OHHH- OH-H OHH- ROX!"
Tepat teriakannya untuk nama panggilan sahabatnya, Axel langsung menjambak rambut Roxas, memisahkan paksa mulut Roxas dari jenjang lehernya. Partial daging jadi ikut tertarik dan sobek.
Wajah Roxas mendongak karena rambutnya masih berada dalam tekanan jambak. Mulut penuh belepotan darah itu asik mengunyah potongan daging.
"Oh... Ohhh-h... Oh, Roxy..." Axel masih mengerang pelan saat keningnya bersandar lemas pada sisi jenjang leher Roxas. Ia lelah dan kehabisan darah. Perih sungguh tidak ketulungan.
Tapi ia masih menginginkan momen intimasi baru.
Axel menggerakkan pinggulnya kembali, mengadukan antara teritori privat saat tangan sepasangnya meremas bokong kanan Roxas. Ukuran tegang yang menyembul dari balik celana panjang digesekkan perlahan pada milik sahabatnya yang juga berada di balik celana. Dan Roxas menanggapinya, menekan lebih dan lebih,
...Disertai suara kekeh tawa yang terdengar... maniak.
Mereka telah lebih dari sering melakukan hal semacam ini sebagai pemenuhan "makanan" sementara, dan konstan berakhir seperti ini. Brutal, dan kacau.
Di luar hitungan Superior, sejauh ini hanya Roxas yang mampu membuatnya merinding. Terdefinisi takut... juga terangsang. Seperti bermain dengan api. Kegilaan Roxas benar-benar membakarnya hidup-hidup.
"...Eheehehe-heehe..."
Tawa sarap itu masih berkumandang selama Axel menjilat leher sahabatnya, kemudian melulur naik hingga dagu yang berantakan oleh darah.
"...Haaha-ahahaa- Isi otakmu itu membuatku ingin bercinta..." Tutur Roxas, masih terkekeh. Terkesan datar, namun antusias.
Axel terus membersihkan lelehan dan bercak-bercak darah di seputar bibir itu menggunakan lidah diikuti performa bibir yang mengecup. Lalu mengigit bibir atas itu, diteruskan lidah menelusur baris gigi atas tanpa memperdulikan ujung-ujung runcing yang membaret... dan memasukkan lidahnya menyusuri langit-langit rongga mulut atas. Tidak lama, hanya permainan.
Kemudian menyahuti, "Suasana hatiku sekarang seburuk situasiku, Rox. Bercinta denganmu sama saja bunuh diri."
Bibir di depannya semakin menyeringai mirip boneka Chucky, dan suara keluar dari mulut itu, "Aku bicara tentang Riku."
Itu langsung membuat Axel tertawa terbahak sekaligus melepaskan pautan tangan dari rambut Roxas. Pasangan intimasinya sempat menjilat dan menyedot kucuran darah dari groak luka di lehernya, sebelum akhirnya berdiri dan beranjak pergi sambil merapikan jaket.
"Yakin tidak mau membawanya ke dalam Organisasi? Besok kita ada pertemuan, kamu bisa mengajukannya ke Superior. Dengan alasan, tentu." Kata Axel dari belakang Roxas.
Roxas memberi pandangan sekilas ke pemuda yang menyandarkan kepala pada permukaan tembok. Tubuh disana masih duduk, lemah dan terenggah-engah.
"Kamu tahu situasi kita. Berjalan seperti ini... seperti mayat hidup... Aku akan kehilangan warna kalau melihat kedua mata itu menjadi seperti dirimu. Lagipula aku tidak suka bercinta dengan orang mati." Papar Roxas sembari berjalan.
"..." Axel hanya diam tanpa balasan kata saat suara langkah sepatu terus menjauh darinya, disambung suara pintu yang terbuka dan tertutup.
Kesunyian mulai mengisi ruangan. Iapun tersenyum getir. Walau dirinya tidak memiliki "hati", bila bersama Roxas... ia bisa merasakan pahitnya perasaan milik kaum manusia.
"Itu... dingin, Rox." Ucapnya. Pelan... kala memejamkan kedua mata.
Di luar,
Di koridor gedung olah raga, dari lantai 5, Roxas melemparkan tatapan datar ke jendela.
Di kawasan halaman depan sekolah terdapat sosok-sosok siswa yang berbaur dalam canda. Banyak siswa-siswa yang berjalan keluar sekolah, banyak juga yang berjalan menuju area parkir sekolah.
Sudah satu jam tadi semenjak bel pulang, dan mereka masih saja ramai disana.
Roxas menggosok-gosok rambutnya dengan ekspresi pelik. Mungkin menyendiri di atap sekolah sambil mengerjakan tugas sekolah bukanlah opsi yang buruk. Setidaknya itu lebih baik daripada pulang ke Puri Oblivion dan mendengarkan ocehan Marluxia yang selalu bertengkar dengan Vexen. Bertemu wajah-wajah seperti Xigbar, Xaldin, dan Saïx juga sangat menyebalkan. Toh Superior saat ini tidak memberikan komando apapun.
Bicara soal Superior... pria itu sepertinya sibuk sendiri semenjak dua minggu lalu. Zexion dan Laxaeus juga tidak terlihat beberapa hari ini. Soal itu, ia akan menanyakan pada Larxene, Luxord, dan Demyx nanti.
Tapi niat awalnya tadi diurungkan sewaktu melihat sebuah motor sport berwarna hijau tua berhenti sebentar di dekat gardu untuk pengenalan ijin akses sebelum akhirnya memasuki halaman depan, kemudian membelok ke area samping menuju rute area tempat berdiamnya berbagai jenis gedung stadium.
Pengendaranya memakai atribut serba hitam dengan sebuah pedang katana di belakang pinggang. Rambut perak sebatas jenjang leher dari kepala itu mengayun lembut seiring motor melaju dengan kecepatan sedang.
Roxas mengangkat kedua alis saat membaca pikiran si pengendara.
"...Tch. Gara-gara situasi Reno, jadwal Mako untuk Riku dimajukan lagi. Semoga saja adik-ku siap mengikuti misi malam ini..."
Iapun mengguman dan berpikir sejenak, "Reno..." Ingatan tentang cerita Xion tadi pagi membuatnya kembali ke ruangan penyimpanan peralatan olah raga.
"Axel!" Serunya tepat membuka pintu.
Pemuda berperawakan jangkung itu masih berada di tempat yang sama. Luka di leher itu sudah menutup sempurna, dan mata kiri di wajah tampan itu terbuka sebagai tanggapan minim atas panggilannya.
"Ax, tolong awasi Kadaj. Dia menuju stadium gelanggang Blitz sekarang. Aku mau mencari Xion dulu." Ucapnya segera, kemudian menutup pintu kembali, dan membuka Portal Kegelapan sebagai sarana transportasi tercepat.
Sementara itu, Axel hanya termenung dan memandang daun pintu. Kepalanya sedari tadi masih berada di awang-awang kematian. Namun seketika otak memproses nama Kadaj terhubung "stadium" dan "Blitz", kedua matanya terbuka lebar.
Ia buru-buru berdiri dan merapikan jaketnya, berikutnya membuka Portal Kegelapan menuju kamar mandi yang berada di gedung stadium gelanggang Blitz.
Di gedung itu...
Riuh sorak ramai dimana-mana. Para penonton kebanyakan terdiri dari siswa-siswa berseragam sekolah beraneka ragam model, sedang sisanya mengenakan pakaian bebas.
Gedung ini berbentuk terbuka selayaknya stadium sepak bola. Bola air raksasa berada di pusatnya, terlindungi oleh rotasi cincin-cincin metal besar penopang medan agar kestabilan air tetap terkumpul. Di dalam arena terdapat garis-garis yang terpapar horisontal seperti lapangan bola pada umumnya sebagai acuan posisi gawang kedua tim. Satu tim berisi lima orang.
Tim Auroch Blitz memakai pakaian berbasis serba berwarna hitam, namun masing-masingnya berbeda versi.
Tidus dengan baju bertudung berlengan pendek dan celana pendek sedengkul. Seifer memakai baju tanpa lengan dan celana panjang. Rai memakai versi sport, kaos tanpa lengan dan celana panjang baggy. Fuu dengan baju berkerah tinggi tanpa lengan dan celana potongan tiga per empat. Sedang Riku memakai versi ala Kadaj.
Menit baru berada pada angka satu, dan masih babak pertama. Tim Auroch Blitz sudah memimpin dua angka.
Permainan ini cukup keras.
Tidus baru saja terlempar keluar arena bola air akibat pukulan telak dari salah satu pemain tim lawan, dan tersungkur menabrak beton pemisah antara area arena dengan penonton.
Rai berenang mengejar pemain tim lawan yang tadi berhasil merebut bola dari Tidus, dan menghajar wajah pemain itu.
Bola kini melambung. Seifer maju, sementara Tidus masuk kembali ke dalam arena. Sayangnya operan Rai berhasil dipotong pemain tim lawan.
Riku menghadang. Si pembawa bola ternyata memilih melawannya. Iapun menghindar, berikutnya langsung menendang bidang dada pemain itu hingga bola lepas dari pegangan. Di sampingnya, Seifer cekat menerima operan.
Tidak jauh dari gawang tim lawan, Seifer memaksakan tendangan. Penjaga gawang sigap berenang dan menangkap bola dengan mudah. Bola kini berada pada pemain tim lawan kembali.
Riku tidak membuang waktu untuk merebut bola dan berenang menuju gawang tim lawan. Tapi kini tiga pemain dari tim lawan menghadangnya. Tidus memberi signal dari bawah, dan Riku langsung menghajar satu yang berada di depannya menggunakan lemparan bola.
Bola terpantul. Sekali lagi Riku menangkap dan mengoper ke Tidus. Pemuda itu otomatis menarik keempat pemain tim lawan pada formasi bertahan. Ini adalah sistem unik antara Tidus dengan Riku. Keduanya bermaksud duet untuk menghajar langsung seluruh stamina keempat-nya.
Tidus tersenyum arti aba-aba begitu mengoper kembali. Riku menerima, dan menyamai senyum saat bersiap menendang bola pada target, bukan gawang. Tidus sudah menanti momen kombo darinya. Tepat menendang,
Tiba-tiba ujung matanya menangkap rambut merah api.
Tekanan tendangan lepas dari perhitungan dan bola meluncur jauh ke samping tanpa menghajar satupun.
Pemain-pemain tim Auroch Blitz kontan melemparkan pandangan syok padanya, tidak terkecuali Fuu si penjaga gawang yang sedari tadi nganggur, bahkan Wakka si pelatih. Gelar "Ace" untuknya dikarenakan tingginya poin akurasi dengan kepastian presisi. Tentu kejadian ini lumayan luar biasa bagi indera pengelihatan mereka.
Tapi semua itu tidak lagi diperdulikannya. Pandangan Riku hanya terkunci khusus untuk sosok yang berdiri di belakang barisan teratas kursi penonton.
Pemuda itu masih dengan kelengkapan jaket khas. Punggung bersandar pada tembok, kedua tangan menyilang di depan dada. Acuan kedua mata itu tertuju padanya. Senyuman itu terlalu menawan untuk sekedar menggoda.
"Getaran" disana seperti gravitasi. Membawanya jatuh hingga otaknya tanpa pertimbangan, tanpa pemikiran apapun. Dan Riku hanya bisa terperangah saat bibir itu bergerak,
"A-ku-me-ngi-ngin-kan-mu."
Seketika lafal suku kata per suku kata terdengar jelas dalam kepalanya, jantungnya langsung berdegup kencang. Sampai-sampai tidak terasa tangan Seifer menarik lengan kirinya agar ia kembali pada posisi menyerang karena Rai sudah memegang bola.
Yang menjadi masalah, Riku sudah kehilangan fokus. Beberapa kali operan bola terlepas dari tangannya semudah itu. Operannya sendiri juga tidak ada yang beres lantaran kepalanya terisi ilustrasi-ilustrasi aneh. Dan seluruhnya bertema intimasi. Sangat.
Bahkan ia dapat merasakan setiap gambaran...
Bagaimana cara kedua tangan pemuda itu menyentuh permukaan kulitnya kala tubuhnya terbaring tanpa selembar benang pun, bagaimana nikmatnya kala deret jemari itu menyusuri perlahan setiap lekuk otot tubuhnya, bagaimana untaian suara desah selama bibir pemuda itu mengecup sejengkal... demi sejengkal tubuh bagian depannya, kemudian mengulum daun telinga kirinya,
Membisik penuh pesona erotika,
"Aku menginginkanmu."
Berulang, dan berulang, dan berulang selama tubuh bagian depan pemuda itu menekan tubuhnya... menindihnya dan mengisinya penuh, utuh seutuhnya... menggalinya dalam, dan dalam, dan dalam... memacunya keras, dan semakin keras...
...Membawanya terbang ke langit ketujuh.
Gelembung udara keluar dari katup mulutnya seketika tendangan menghajar telak perutnya, dan Riku terlempar keluar arena bola air. Punggung menabrak beton pemisah, dan sisi wajah menerima permukaan lantai. Keras, sangat.
"...Uuuhh-h..." Iapun berakhir meringkuk pada genangan air, menahan sakit sekaligus meresapi kenikmatan asing dari momen orgasme.
Dan ya, ini gila. Baru sekali ini seumur-umur...
Sepertinya ia harus meminta "time-out" pada Wakka. Padahal pertandingan baru berjalan tiga menit dari dua menit awal. Dan semenit di antaranya... Oh, ini sungguh memalukan.
Riku mencoba sistematis yoga untuk menenangkan sengal nafas seiring kedua kaki beranjak berdiri. Seharusnya tendangan seperti itu tidak ber-efek baginya. Tapi gambaran-gambaran tadi terlalu nyata untuk dijabarkan sebagai fantasi, benar-benar membuat tubuhnya lemas dan mabuk kepayang. Sama sekali tanpa rasional. Seandainya ia bisa mencari dimana letak kerusakan otaknya...
"Riku!" Suara panggilan dari sampingnya membuatnya menoleh.
Kadaj sudah berdiri di balik pembatas, berkata dengan singkat, "Kemari. Kita harus pergi."
"Memangnya kamu merindukanku secepat itu, Kadaj?" Suaranya masih parau dan terdengar memaksakan canda. Itu dibalas dengan ekspresi serius dari Kadaj dimana membuatnya meneruskan, "Pertandingan masih belum selesai. Sebentar, dua menit lagi."
Ia baru memalingkan badan... Tangan menggaet lengan kirinya. Tubuhnya terbawa gaya tarik bertepatan tangan sepasang Kadaj melingkar di depan lehernya. Bibir menempel pada lubang telinga kirinya sewaktu membisik,
"Adik-ku, kamu tidak akan suka kalau aku bertindak dramatik padamu. Kita berdua mempunyai aturan disini. Salah satu di antaranya adalah komando, dan Aku. Adalah. Kakakmu. Jangan bermain denganku kalau aku sedang sangat serius."
Lalu Kadaj menggeretnya kasar keluar dari area arena.
Riku tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan kode pada Wakka bahwa ia keluar dari pertandingan. Di dalam bola air, Seifer terlihat sedikit kesal sewaktu ia melambai terpaksa. Sedang pemuda berambut merah api tadi tidak terlihat dimanapun.
Anehnya, pikirannya telah melakukan proses senormalnya. Lagi-lagi anehnya, dari lubuk perasaan terdalam... ia merasa seperti habis dipermainkan orang.
"Memangnya kenapa harus tiba-tiba begini, sih?" Tanya Riku sambil mempertahankan keseimbangan berjalan dengan memegang tangan kanan Kadaj yang masih mengunci lehernya.
"Masalah." Utaraan padat dari Kadaj.
Dari tempat barisan penonton, Sora memandang sahabatnya pergi bersama Kadaj tanpa menoleh lagi. Sepanjang berjalan menuju pintu keluar, kedua saudara kembar itu berbicara serius dan terseling argumen. Sahabatnya kemudian menjauhkan tangan kanan Kadaj dan berjalan duluan diiringi tingkah kesal.
"Hohoho! Kamu dengar itu?"
Sora berusaha mengalihkan diri, pura-pura tidak mendengar selama meneruskan memakan roti hotdog.
"Rupanya sudah waktunya, huh? Mako tidak buruk. Setidaknya dia bisa lebih menjaga diri. Kamu tahu, kan? Me-re-ka."
Tentu ia tahu itu. Tidak perlu dijabar oleh kalimat. Jangan dari suara-nya.
"Tapi fantasi tadi sangat lezat, Sora."
Kalimat itu membawanya kembali pada ingatan di detik-detik sebelum sahabatnya terlempar keluar arena.
"Hanya semenit. Aw, manisnya~ Aku bisa membuatnya bertahan lebih dari satu jam... Mmmmhh... membuatnya merintih... dan mengerang seperti pelacur..."
Kedua matanya menjadi sayu. Tapi ia segera menyelesaikan makanannya, bersikap acuh saat suara itu melanjutkan,
"Kamu pengecut, Sora. Pengecut, lemah, bodoh, idiot. Padahal kamu duduk disini, tapi kamu membiarkan orang lain bermain dengan kepalanya. Oh, sebentar. Ternyata kamu JUGA menikmatinya!"
Gelegar tawa menggema keras dalam kepalanya, berbaur bersama suara-suara di sekelilingnya. Kairi bicara dengan Olette. Selphie bercakap-cakap bersama Rikku dan Yuna. Hayner heboh menyoraki tim Auroch Blitz.
"Oh, Sora-ku sayang... Kamu sungguh menyedihkan. Melihat isi hatimu membuatku ingin muntah. Kamu mau mendapatkannya, hm?"
Sora memejamkan kedua matanya erat-erat begitu suara terasa berderik seperti sayatan kuku, mengiris dan menguak isi kepalanya,
"Aku. Akan. Membantumu."
TBC...
A/N:
Judul bab diambil dari bait sajak "Round and Round" karya Vikram Seth.
Makasih reviewnya~ *pelox Not*
Untuk Not: Soal Riku, yup fleksibel, Hohoho~ *tawa sadis*
Terus kalau soal ciuman, mereka terlalu ganteng untuk dijadikan karakter cerita, jadi sebaiknya dimanfaatkan lebih sesuai judul cerita, Hahaha~ *tawa garing*
Lagipula nanti tidak seru kalau semua karakter-karakternya terkesan yaoi *meski niatnya begitu* harus ada sisi "straight" juga. Mumpung mereka masih remaja, yaa~ sosor sana sosor sini sosor kemana-mana *plak*
Bab selanjutnya akan terus memanas.
Ditunggu review-nya. ^^
