Seperti kebanyakan pesta lainnya, pesta yang diselenggarakan oleh keluarga bermarga Redfox sangatlah mewah dan gemerlapan. Hidangan kelas atas, wajah-wajah ternama yang banyak dibicarakan massa juga pemilik nama-nama besar yang ikut serta dalam mempengaruhi perekonomian Jepang hadir disana.

Tapi dari banyaknya pengusaha ternama, yang menjadi sorotan utama―setelah penyelanggara pesta tentu saja―adalah pemuda yang saat ini tengah menduduki posisi teratas di dunia perbisnisan, Natsu Dragneel. Hampir semua orang yang menghadiri pesta itu mengenal pemuda berambut pinkish itu. Tak ada satupun yang tidak mengenalnya.

Natsu layaknya bintang kelas dunia yang saat ini memang sedang banyak dibicarakan. Bukan hanya karena umurnya yang terbilang muda, wajah tampannya juga jadi pembicaraan hangat para gadis yang terpesona olehnya. Belum lagi Natsu adalah orang yang paling sulit ditemui.

Bukan hanya karena jam kerjanya yang sangat padat, Natsu juga dikenal anti social. Selalu menolak undangan yang ditujukan khusus olehnya, menghindari pesta-pesta yang diadakan pembisnis dunia dengan segudang alasan yang entah memang benar adanya ataupun hanya buatan semata. Karena itulah kehadirannya di pesta malam ini membuatnya jadi bahan perbincangan terhangat malam itu.

Fairy Tail milik Hiro Mashima

Be Mine by Nalu D

Warning : Gaje, Typo, OOC, Gomenasai!

RnR, dipersilahkan!

"Tch, pesta seperti ini benar-benar membuat kepalaku sakit." Gerutu Natsu. Senyum jelas tak menghiasi wajah tampannya. "Kita pulang saja?" Ucapnya lagi entah bernada perintah atau bertanya. Yang di ajak bicara hanya tersenyum kecil.

"Tapi, kita baru saja 5 menit ada disini. Redfox-san kan teman Natsu-san. Apa tak masalah?" Tanya Lucy pelan.

Natsu diam sejenak, berpikir. "Apa boleh buat. Jika bukan karena teman, aku pasti tak akan datang kemari." Natsu memandang ke arah Lucy. "Apa kau hanya akan berdiam disini?"

Pertanyaan aneh.

Lucy itu sekretarisnya Natsu. Yang memaksanya datang ke pesta juga Natsu. Tapi sepertinya Natsu tak berniat untuk menyenangkan Lucy dan mengajarkannya mengenai apa yang harus dilakukannya saat berada di pesta seperti ini.

"Natsu-san ingin aku pergi?"

Mendengar pertanyaan balik Lucy yang terasa mengandung sejuta maksud membuat Natsu merasa risih. Ucapan gadis itu seakan membuatnya jadi pria paling kejam di muka bumi.

"Bukan begitu maksudku," Natsu menurunkan emosi yang sebelumnya tersirat dalam suaranya "A…"

Yah inilah dia, permainan kehabisan kata. Natsu tak bisa melanjutkan ucapannya. Ayolah, dia anti social, tidak ramah, dan tidak suka kalau harus perduli pada perasaan orang lain. Natsu memang tidak bermaksud berkata kejam pada Lucy. Hanya itu, tak ada alasan yang lain.

Tapi tentu saja, Natsu tahu ucapannya jelas menggantung. Hanya dengan berkata 'bukan begitu maksudku' tidak akan bisa membuat Lucy mengerti.

Menyerah.

Lebih baik alihkan pada topik yang lain. "Kau mau kue?" Lucy merengut bingung saat bosnya beralih topic secara tiba-tiba. "Kue disini pasti enak. Buatan chef-chef ternama yang sudah meraih banyak prestasi."

Lucy tetap tak bergeming dan memilih diam. Semakin lama suasana semakin terasa canggung. Lucy tak merespon jawaban Natsu dan hanya menatap ke arahnya seakan menuntut maaf. Natsu serasa makin tersudut. Tatapan mata Lucy seakan mengintimidasinya. Natsu tak mau berlama-lama ditatap begitu, rasanya tatapan itu bisa menurunkan harga dirinya yang sudah mencapai 200% itu.

"Baiklah, lupakan soal yang tadi. Maafkan aku, sudah puas?"

Lucy hanya mengangguk-angguk kecil lalu tersenyum jahil.

"Dasar gadis keras kepala." Natsu masih mendumal. "Kau mau kemana?"

"Mencoba kue, tadi Natsu-san bilang kuenya pasti enak."

Emosi yang sangat tak stabil. Tadi merengut sekarang sudah seenaknya mau pergi dan mencoba kue dengan tampang antusias mirip bocah umur lima tahun. Mungkin ucapan Gajeel waktu itu memang benar, 'hati seorang gadis itu mirip ombak, kadang menghempas, kadang menyeret, kadang tenang, kadang bimbang'.

Natsu tak mau ambil pusing, "Yah, ambil saja sana sesukamu."

"Loh, Natsu-san tidak mau?"

Sejak kapan aku suka makanan manis, kau ini sekretarisku apa bukan?

Seandainya ini bukan di pesta Natsu mungkin akan berteriak begitu. Tapi mesti diingat, cewek itu kalau emosinya sedang tinggi suka susah diobati. Begitulah menurut majalah yang tak sengaja Natsu baca saat sedang menuggu kliennya datang. Natsu tak mau repot. Yang tadi saja sudah cukup. Natsu tidak mau menurunkan harga dirinya lagi demi gadis yang entah kenapa malam ini tingkat menyebalkannya bertambah 50% dari biasanya.

Tak mendapat jawaban, Lucy kembali memanggil nama sarat akan Tanya. "Natsu-san?"

"Nona Lucy Heartfilia," Jengkel tapi tetap ditahan "Apa kau pernah melihatku makan sesuatu yang berbau manis saat di tempat kerja?"

Lucy menggeleng, "Disini tidak akan ada yang memperhatikanmu."

"Apa?" Ucapan ambigu. Natsu bingung sebingung-bingungnya. Ucapan sekretarisnya terlalu sulit untuk dimengerti kalau tidak boleh disebut 'gak nyambung'

"Natsu-san tidak makan kue manis di kantor karena takut disangka pria berjiwa lembut oleh klienmu kan?"

"Huh?" Urat kesal muncul satu.

" Tenang saja, disini kau bisa makan dengan bebas. Aku tak akan bilang pada siapapun kalau Natsu-san memakan kue manis."

"HUH?" Urat kesal bertambah banyak.

"Mau ambil sendiri apa diambilkan?"

Perlu diingat, walaupun Lucy cantik, manis juga pintar, siapa yang menyangka dia adalah gadis super tidak peka. Padahal bos nya sudah memasang muka super sangar agar Lucy menghentikan ocehannya soal makanan manis juga pria berjiwa lembut. Tapi Lucy sama sekali tidak menyadarinya.

Kekuatan tidak peka memang luar biasa menjengkelkan sekaligus menyusahkan. Sulit diatasi dan sulit diantisipasi. Terpaksa Natsu harus berkata blak-blakan. Karena sekretarisnya ini, entah tidak peka atau memang terlalu bodoh untuk menyadarinya.

"Aku tidak suka makanan manis."

"Tidak mungkin!" Lucy tidak mau percaya dan terkesan lebay dimata Natsu. "Tidak ada yang tidak menyukai makanan manis Natsu-san. Anak kecil, remaja, orang dewasa bahkan kakek-nenek pun suka."

Hentikan. Hentikan.

Topik makanan manis semakin menyulut emosi Natsu.

"Perbaiki kamusmu Lucy. Tidak semua orang menyukai makanan menjijijkan itu."

"Menji―Hey, jangan menghinanya seakan mereka sampah. Mereka itu cantik dan lucu. Hanya orang bodoh yang tidak suka."

Ampun, kerasukan apa ini gadis? Mungkin semua makanan manis yang pernah Natsu buang berkumpul di dalam tubuh gadis itu dan berniat balas dendam. Natsu bergidik ngeri.

"Demi Tuhan, mereka itu kue bukan makhluk hidup. Kenapa pandanganmu jadi begitu?"

"Mareka memang kue, tapi mereka cantik dan lucu bahkan lebih darimu."

"Aku laki-laki, tidak cantik juga tidak lucu. Lagipula kue cantik dan lucu itu akhirnya akan dimakan olehmu juga. Ah huh ternyata kau yang jadi iblisnya."

"Apa?!" Lucy tidak terima. "Mereka dibuat untuk dimakan. Yang tidak mau memakannya akan dikutuk jadi batu."

KRIK.

Dikira kisah malin kundang. Lagipula kutukan tak akan mempan pada seorang Natsu Dragneel. Natsu tersenyum sinis. Kemenangan sudah ada dalam genggaman. Perdebatan bodoh kali ini akan dimenangkan olehnya―

"Pokoknya, Natsu-san harus makan. Kalau tidak makan, berarti Natsu-san banci."

―Ternyata tidak.

Banci. Banci. Banci. Banci. Banci.

Kata-kata itu terus terngiang mirip kaset rusak. Berdampak merusak otak juga menghancurkan harga diri yang selama ini telah terjaga selama puluhan tahun. Tambahkan catatan lagi, melawan Lucy Heartfilia hanya akan membuat akal sehatnya dipermainkan.

Natsu Dragneel, pengusaha muda tampan tersukses seantaro jepang disebut banci hanya karena tidak mau makan kue.

Kalau itu sampai dicetak di halaman depan Koran harian, Natsu bersumpah akan menenggalamkan seluruh Jepang ke dalam lautan.

Natsu masih shock dan belum sempat membalas ucapan sekretaris paling keras kepala yang pernah ditemuinya itu.

"Jadi, pilih makan kue apa jadi banci?"

Natsu mendengus. Disuruh memilih antara neraka 1 atau neraka 2, mana bisa. Kepala berdenyut semakin parah. Akibat menahan kesal juga jengkel karena makanan yang tidak disukai.

Tunggu dulu.

Rasanya ada yang salah.

Dibilang banci membuat Natsu lupa posisi. Dia itu raja. Kenapa pula seorang raja harus ditindas bawahannya? Natsu kembali mempertahankan diri. Membangun harga dirinya yang tadi sempat diobrak abrik makanan manis yang dijuluki lucu dan cantik.

Tersenyum licik, dan mulai menyerang.

"Kenapa aku harus memilih. Aku bos dan kau sekretarisnya. Kau yang harusnya memilih bukan aku." Natsu tersenyum licik, "Pilih makan sendiri lalu minta maaf padaku atau pulang lalu minta maaf padaku?"

"Pilihannya aneh," Lucy protes "Manapun yang aku pilih aku tetap harus minta maaf pada Natsu-san. Aku kan tidak salah."

Protes ditolak. "Kau sudah salah. Dan sekalinya aku bilang salah, itu artinya salah."

"Ke―"

"Mengeluh akan dapat hukuman tambahan." Kali ini bisa dipastikan kemenangan jatuh ke tangan Natsu. "Yang mana?"

Natsu tersenyum jahil. Matanya memandang nakal ke arah Lucy yang jelas menahan amarah karena harus menerima kekalahan setelah berjuang semaksimal mungkin.

Lucy menegarkan diri, "Baiklah," membungkuk sebentar "Maafkan aku, Dragneel-sama. Aku pilih kuenya."

Senyum Natsu menghilang. "Hey, aku kan sudah bilang jangan panggil Dragneel, dan juga ada apa dengan honofirik-nya?"

"Kau bos dan aku sekretarisnya."

Natsu dijebak kata-katanya sendiri. "Kita sudah pernah mem―"

"Ya, ya. Terserah." Lucy mulai berjalan menjauhi Natsu. "Aku mau makan kue dulu."

"Hey, aku belum selesai."

Percuma.

Lucy sudah membaur kedalam kesenangan dunianya. Ratusan kue cantik dan terlihat sangat enak sudah sepenuhnya mengendalikan dunia Lucy.

Sekali lagi Natsu mendengus kesal.

"Gadis itu! Lihat saja nanti."

BRUG!

Sedang kesal ditabrak orang sudah cukup untuk membuat amarah Natsu berkoar. Tapi sekalagi lagi, Natsu berusaha mengingatkan dirinya kalau dia sedang ada di wilayah orang lain. Jangan bertindak salah, jangan memalukan dan jangan kekanakkan.

Yang ditabrak tidak mengaduh. Sudah salah menabrak orang juga tidak meminta maaf. Kalau ini ada di wilayahnya, Natsu mungkin akan merapal kutukan agar orang itu menyadari posisinya.

Natsu mencuri pandang pada orang yang sudah menubruknya. Seorang perempuan, lebih tua darinya. Berambut hijau gelombang sepinggang. Membawa pisau ditangannya.

Pisau?

Jangan bilang,

SRET

Terlambat, Pisau sudah mengayun ke arah tangan Natsu. Terlalu cepat sampai tak bisa ditangkis. Berhasil menembus baju dan menggores lengan Natsu sepanjang 10cm. Darah segar merembas keluar. Pisau kembali terangkat ke udara bersiap untuk serangan kedua.

"MATI KAU BAJINGAN!"

.

.

.

TBC

Hallo, masih adakah yang ingat dengan FF ini?

Sumimasen! Sumimasen! Sumimasen!

Setelah delapan bulan tidak ada kabar, akhirnya chapter baru release juga. Mohon dimaafkan. Kemarin saya sedang banyak project dan dituntut harus segera selesai. Masih belum selesai, tapi sudah agak senggang #nggak ada yang nanya yah.

Sebenarnya chapter kali ini bisa muncul karena beberapa hari yang lalu saya iseng buka fanfiction. Lalu iseng baca. Ternyata FF nya keren dan penggunaan bahasanya juga bagus. Sangat bagus malah. Pengkarakterannya pun cocok dan benar-benar muncul.

Saya jadi bertanya-tanya, di chapter yang sebelumnya ada yang bertanya 'Natsu itu Tsundere?'

Saya juga bingung. Mohon dimaafkan, saya amatir bukan pro. Karena itulah, mulai dari sini saya akan menegaskan karakter Natsu juga Lucy.

Chapter ini mungkin hanya menceritakan hal yang tidak jelas. Tolong dianggap pemanasan dulu saja.

Terimakasih untuk semua yang masih menunggu #pede FF ini. Untuk yang menunggu Aitakatta Sora sepertinya harus bersabar. Saya akan fokus ke FF Be Mine dulu. Mungkin akan dilanjut mungkin tidak. Maaf yah.

Selamat membaca! Semoga kalian terhibur dengan FF yang serba kurang ini.

Mohon Reviewnya, terimakasih.