Atsushi's POV
"Sh-Shitsurei shimasu!"
Oh! Akira-san sudah datang!
"Ohayou, Akira-san! Masuklah!" dari tempat dudukku, aku memersilahkan Akira-san yang masuk dengan malu-malu. Tampaknya, dia masih belum terbiasa untuk menganggap Agensi sebagai 'rumah'nya sendiri. Padahal, kami sudah menyuruhnya saat kunjungan pertamanya setelah ia kembali ke Yokohama—sekitar tiga hari yang lalu. Saat itu, ia juga membawakan oleh-oleh berupa camilan dari desa dan orang-orang rumahnya. Kali ini, kira-kira apa yang dia bawa, ya?
"Are? Hanya para karyawan, serta kamu dan Kyouka-chan yang baru datang, Atsushi-kun?"
"Iie, Kunikida-san menemani Dazai-san untuk melapor pada Sachou. Yosano-sensei mungkin ada di Rumah Sakit," jawabku.
Kami beranjak ke tempat untuk para tamu Agensi. Kyouka-chan duduk di sampingku, sedangkan Akira-san duduk sendirian di hadapan kami. Akira-san mengajak Kyouka-chan mengobrol—aku juga telah menceritakan tentang Kyouka-chan dan pertemuan kami. Kurasa, dia berusaha mengakrabkan diri dan membuat Kyouka-chan nyaman. Lihat, Kyouka-chan yang diajak ngobrol dengan malu-malu menanggapi Akira-san.
Omong-omong, namaku Nakajima Atsushi. Gadis di hadapan kami ini adalah Miyamura Akira-san, saudara sepupuku (kakak sepupu, lebih tepatnya). Aku baru mengetahui kenyataan itu sekitar sebulan lebih yang lalu. Aku tidak tahu harus mengatakan ini hal baik atau buruk. Tetapi, berkat kejadian di mall yang berada di tepi Kota Yokohama waktu lalu, Akira-san bisa mengutarakan segala yang dipendamnya, dan hubungan kami berjalan baik sampai sekarang.
Akira-san sekarang tinggal di sini, di Kota Yokohama. Dia bilang, dia tinggal di sebuah apartemen yang telah dipesannya waktu Yosano-sensei menemaninya. Jarak apartemen itu hanya satu blok dari sini, jadi dia bilang kalau kami ingin mengunjunginya, datang saja. Aku ingin datang bersama Kyouka-chan, tetapi laporan selalu menunggu kami. Haaah… andai saja Ablityku sejenis sihir, mungkin laporan yang selalu datang dan pergi ini bisa hilang.
Ah, omong-omong, soal Ability milik Akira-san.
Dia menjelaskannya saat itu—saat kedatangannya tiga hari yang lalu itu. Topik ini dibuka oleh Akira-san sendiri. Dia bilang, saat kejadian di mall itu, ia bertemu dengan Akutagawa yang menyebut-nyebut bahwa Ability yang dimilikinya mirip denganku.
Dan, kami terkejut saat dia menunjukkan Abilitynya. Itu adalah hal serupa kedua yang kami miliki—setelah penampilan kami yang begitu mirip. Tetapi, Ability Akira-san terlihat janggal; seolah-olah itu hanya hasil alat proyektor, namun memberikan efek yang begitu nyata.
Soal kendali atas Ability yang dimiliki, dia pun hampir sama sepertiku. Namun, berbeda dengan aku yang sama sekali tidak bisa mengendalikan Abilityku kala belum bergabung dengan Buso Tantei-sha, Akira-san justru sebaliknya—walau tidak sepenuhnya.
"Aku hanya bisa mengendalikan seperempat dari Abilityku. Jika aku melampaui batas, kesadaranku akan hilang dan wujudku berubah menjadi harimau."
Itulah yang dikatakan Akira-san, yang membuat kami semua tercengang.
"Ayolah, Kyouka-chan! Terimalah ini!"
"A-Aku tidak bisa menerimanya!"
Aku terkekeh kecil melihat keduanya. Tampak Akira-san yang ingin memberikan bingkisan pada Kyouka-chan, namun sisi pemalu Kyouka-chan kembali muncul. Akira-san menggembungkan pipinya—pasti dia berakting sedang ngambek.
"Tolong terima ini sebagai hadiah perkenalan dariku!"
"Eh? Hadiah perkenalan?" tanya Kyouka-chan.
"Itu adalah hadiah yang kita berikan pada orang tertentu sebagai ganti ucapan 'Mohon bantuan untuk ke depannya'!" jelasku.
"Mm, begitu!" timpal Akira-san menyetujui penjelasanku, "Karena itu, terimalah ini, Kyouka-chan!" Akira-san kembali menyodorkan bingkisan itu, menunggu Kyouka-chan mengambilnya. Dan, Kyouka-chan kembali menolak, membuat keduanya kembali dorong-mendorong bingkisan itu. Aku tertawa melihat mereka.
"Wah~! Kalian tampak bersenang-senang, ya~!"
Kami bertiga menoleh serempak pada asal suara, dan mendapati Dazai-san serta Kunikida-san berdiri di ambang akses keluar-masuk bilik ini.
"Ah, ohayou gozaimasu, Dazai-san, Kunikida-san!" Akira-san segera berdiri dan berojigi.
"Ohayou mo, Akira-chan!"
"Mm, ohayou. Kau berkunjung ke sini lagi, ya, Komusume."
"Ee! Aku membawakan manisan untuk kalian semua!" ucap Akira-san dengan riang sambil menunjukkan bawaannya.
"Dari desamu lagi?" tanya Kunikida-san, lalu Akira-san mengangguk sebagai jawaban.
"Wah~! Kyouka-chan dapat bingkisan dari Akira-chan! Nee, nee, Akira-chan. Karena Kyouka-chan bilang dia tidak bisa menerimanya, ini untukku saja, ya!" tawar Dazai-san yang tahu-tahu sudah masuk dan memeluk bingkisan Akira-san.
Dengan cepat Akira-san merebutnya sambil berkata, "Tidak boleh! Ini khusus untuk Kyouka-chan! Nanti kau akan dapat bagianmu, Dazai-san!"
"Eeeeeh? Tapi, kapan!?"
"Kapan-kapan," balas Akira-san dingin.
Bisa dilihat dari matanya yang berkedut kalau dia sedang menahan rasa sebalnya. Seketika, Dazai-san merujuk dengan menggoyang-goyangkan tubuh Akira-san—memegang kedua pundaknya dari belakang. Sementara, Akira-san menutup indera pendengarannya dengan sebisa mungkin melindungi bingkisan itu dari gapaian tangan Dazai-san. Aku hanya bersweatdrop imajiner melihat hal itu.
"Jangan merebut barang milik orang lain, kono Jisatsu Maniac!" Kunikida-san menarik kerah belakang pakaian Dazai-san, membuat Akira-san dapat menjauh darinya.
Dengan segera, Akira-san memberikan bingkisan itu pada Kyouka-chan seraya berpesan, "Jaga baik-baik hadiah dariku, Kyouka-chan! Jika Dazai-san mengambilnya, biar aku yang akan memberinya bogem mentah!"
Dan, dengan kikuk dan polosnya Kyouka-chan mengangguk dan berkata, "H-Ha'i!"
"Akira-chan hidoi~! Kalau Kyouka-chan menerimanya, aku gak bakalan mengambilnya!"
"Terus, yang tadi itu apa?" tanya Akira-san menantang.
"Kan, tadi Kyouka-chan tidak mau menerimanya!"
"Nah, sekarang dia sudah menerimanya, jadi jangan merengek lagi padaku!"
"Hidoiii~! Kunikida-kun, kau dengar itu!?" Dazai-san mengadu pada Kunikida-san.
"Jangan ganti merengek padaku!" balas Kunikida-san dengan geram.
"Apa, sih, yang sedang kalian lakukan?"
Perhatian kami beralih ke arah datangnya kedua kolega Agensi tadi. Dan, mendapati Ranpo-san sedang berkacak pinggang dengan dahi yang berkerut.
"Kalian tahu? Suara kalian benar-benar nyaring, seperti sedang berpesta dengan hebohnya," jelasnya sambil menaikkan sebelah alis.
"Maaf, Ran—"
"Su-Sumimasen deshita! Kami keasyikan mengobrol sampai tidak menyadari keributan yang kami sebabkan! Ma-maaf!" Akira-san refleks meminta maaf, memotong ucapan Kunikida-san.
"Oh? Kau yang waktu itu bawa camilan, ya? Kapan-kapan, bawalah lagi!" Ranpo-san berucap dengan riangnya, membuat kami terheran-heran.
Dengan kikuk dan ragu, Akira-san membalas, "Ah, ha'i…"
'Dia melupakan semua keributan kami, karena mengingat Akira-san pernah membawakan camilan untuk Tantei-sha?' batinku. Sepertinya, Kunikida-san dan Akira-san memikirkan hal yang sama denganku—dilihat dari raut wajah mereka.
"Ah, kebetulan sekali ada Ranpo-san," kami menoleh pada Dazai-san, "Kalau begitu, bagaimana jika kita memakan manisan yang Akira-chan bawa?" tawarnya sambil mengangkat kantung plastik berisi manisan milik Akira-san.
=====Bungo Stray Dogs: The Lost Relatives=====
Chapter 4
Ancaman Di Balik Permen
=====Bungo Stray Dogs: The Lost Relatives=====
Opening theme: Parabola – by Luck Life
DISCLAIMER:
Bungo Stray Dogs oleh Asagiri Kafka (story) dan Harukawa35 (art)
Bungo Stray Dogs: The Lost Relatives (sama Miyamura Akira, OC) oleh saya~ SarahMaula157Kila0ooo
Rated:
T / PG-13
Genre:
Drama, Supernatural, Hurt/Comfort, Family, Friendship, Humor, dll… (seiring waktu akan bertambah)
Warning:
Typo(s) bertebaran, gajeness, humornya gak kerasa, kata nonbaku yang sengaja dipakai, entah OOC ato gak, apalah ini-itu, dwwl…
A/N:
Saya gak dapet keuntungan apapun selain kesenangan batin (?) /plak Di sini, tokoh utamanya OC, seorang gadis berusia sembilan belas tahun (menjelang dua puluh tahun, sih /tuing) bernama Miyamura Akira. Untuk pic Akira, udah saya gambar di buku sketsa. Tapi, gak tau cara ngedit biar tampak mulus (?) ataupun cara ngepublish (entah di mana) biar bisa diliat readers sekalian. Jadi, kalo ada yg mau memberitau atau ngajarin saya… onegai?
Plus, karena suatu alasan, di chapter ini kebanyakan POV-nya si Akira.
Akira's POV
"Ah, terima kasih, Naomi-chan! Maaf merepotkan," ucapku pada Naomi-chan yang membawakan teh untuk kami.
"Iie, iie," dia mengibaskan sebelah tangannya, "Ini hanya hal kecil. Lagipula, tamu harus dijamu dengan baik, kan? Santai saja!" balasnya riang.
Aku tersenyum membalas ucapannya. Sebelumnya, tadi Tanizaki bersaudara ikut nimbrung bersama kami. Namun, Kunikida-san mengajak Tanizaki-kun untuk menemaninya menangani sebuah kasus. Tumben, pikirku. Aku sudah tahu bahwa partnernya Kunikida-san itu adalah Dazai-san, makanya aku sedikit merasa heran. Namun, mengingat mereka adalah tantei membuatku memaklumi hal itu.
Aku menyandarkan diri setelah merasa lelah terus tertawa mendengar obrolan mereka. Ah, omong-omong, sudah lebih dari sebulan sejak kejadian itu. Sedikit-banyak aku merasa bersyukur atas segala yang telah terjadi.
Sekarang, aku tinggal di kota ini, Kota Pelabuhan Yokohama. Tempat tinggalku adalah apartemen milik Mizuno-san yang waktu itu kupesan. Suasana cukup ramai saat mengemasi apartemenku. Bagaimana tidak? Para tetanggaku baik yang selantai maupun dari lantai lain juga turut membantu. Mereka semua baik dan ramah! Kapan-kapan, aku akan mengenalkan Atsushi-kun pada mereka.
Mataku menerawang—tidak sengaja mengingat hal yang bisa membuatku menelan air ludah dengan susah payah.
Sehari setelah menceritakan segalanya pada Atsushi-kun, aku memutuskan untuk pulang—tentu saja, karena kesehatanku sudah pulih. Selain itu… aku juga merasa tidak punya hal lain yang kulakukan di sini.
Namun, di tengah perjalanan pulang, aku tiba-tiba memikirkan sesuatu. Sesuatu yang mungkin bakalan membuat Ojii-san dan—oh! Obaa-san tentunya, merasa terguncang.
Ya. Aku memberitahukan pada keduanya bahwa aku ingin tinggal di Yokohama… sendirian. Aku menceritakan segala yang telah terjadi—yang pasti dengan memersingkatnya. Lalu, keduanya bertanya kepadaku,
"Kenapa? Kenapa kau ingin melakukannya?"
Aku diam kala itu, sengaja. Agar bisa memberi ruang pada kami. Dan, aku menjawab,
"Aku ingin merasakan apa itu hidup mandiri, apa itu hidup sendirian, dan… bagaimana rasanya ketika merindukan dan dirindukan seseorang.
Aku juga telah memikirkan bagaimana dengan keadaan desa ini. Tapi, yang paling kupikirkan adalah para anak muridku. Mereka pasti kurang bisa menyesuaikan diri dengan guru baru sebagai penggantiku. Namun, semua itu pasti bisa diatasi kalau kita memikirkannya bersama. Dan juga, aku sudah membuat alasan mengapa aku pindah ke Yokohama."
Wajahku yang awalnya serius mengatakan itu berakhir dengan memberikan senyum lima jariku. Mereka diam? Tentu saja tidak! Mereka malah membalasku. Aku habis-habisan diceramahi dan diomeli keduanya. Dan… aku hanya diam, menunggu mereka selesai berbicara. Ketika mereka menanyakan alasanku yang sesungguhnya, aku segera mengulas senyum selembut mungkin—agar mereka tenang.
"Jika aku berkata, alasanku ingin tinggal di Yokohama adalah… karena aku merasa sesuatu seolah mengatakan kalau apa yang selama ini kucari berada di kota itu, apa kalian akan percaya?"
"…"
"Memangnya, apa yang selama ini kau cari?"
"…
Tidak tahu. Tapi… firasatku mengatakan agar aku tetap tinggal di sana, di kota itu."
Perkataanku kembali membuat keadaan jadi hening. Yah, singkat cerita, aku mendapat restu (?) dari mereka semua: penduduk desa—terutama anak muridku (walau mereka sempat menolak), para pelayan di rumah, Yuzuki-san, serta Ojii-san dan Obaa-san (restu dari tiga orang terakhir yang kusebutkan wajib kudapatkan! Perkataan mereka adalah suatu kemutlakan tersendiri bagiku).
"Akira-san?"
"Ah, eh?" aku tergagap menanggapi panggilan itu, "Gomen. Ada apa?"
"Akira-san dulu seorang guru, ya?" tanya Naomi-chan.
"Iya! Sebenarnya, itu pekerjaan tidak resmi, sih," jawabku sambil tersenyum simpul.
"Lalu, katanya kamu pindah ke sini, karena bekerja di salah satu perusahaan keluargamu?"
Ah! Pertanyaan itu…
"Iya. Tapi, cuma magang, kok. Aku buat perjanjian dengan Ojii-san dan Obaa-san, kalau aku selalu kembali ke desa tiap sebulan sekali," aku menjawab sambil berusaha tersenyum.
Magang di perusahaan keluarga sendiri, ya. Sebenarnya… itu adalah alasan yang kubuat seperti yang kubilang pada Ojii-san dan Obaa-san. _|| Selain itu… kenapa aku merasa ada yang menatapiku terus!? Aarrgh! Kalau aku coba mencari si pelaku, pasti dia sudah kabur! (Dengan kata lain, dia pasti sudah menoleh ke arah lain.)
"Kau asyik sekali makan," celetuk Yosano-sensei. Aku mengikuti arah matanya.
"Eeh? Kalian saja yang terlalu asyik mengobrol. Kasihan, kan, manisan ini! Daripada teronggok begitu saja, lebih baik kumakan!" Ranpo-san berucap dengan cueknya. Ia lalu memasukkan utuh sebuah kusamochi ke mulutnya.
"Pfft!" aku berusaha menahan tawa ketika melihat pipinya yang tergembung, membuat wajahnya jadi terlihat lucu. Dia menoleh ke arahku. Aku tahu dia memerhatikanku, walau kelopak mata menutup netranya.
"Nhanhi?" tanyanya—suaranya sedikit jelas terdengar dengan mulutnya yang masih dipenuhi kusamochi.
"I-Iie…" balasku sambil menahan kikikan geli.
Ranpo-san mengerutkan dahinya. Aku jadi merasa dicurigai. Lalu, setelahnya ia acuh dan kembali memasukkan kusamochi. Aku jadi heran sendiri. Apa dia sengaja mengabaikan kelakuanku tadi? Atau, dia memang tidak tahu? Iie, iie. Mustahil orang yang dijuluki Detektif Terhebat bisa tidak mengetahui hal jelas seperti itu.
"Woaah~! Permen apa ini, Akira-chan?"
Aku segera menoleh pada Dazai-san yang duduk di sampingku, lalu melihat apa yang sedang dipegangnya.
"Eh?"
Sebutir permen… dengan bentuk oval. Kurasa, itu jenis permen dengan sesuatu di dalamnya. Permen yang hanya dijual di perkotaan. Aku tidak mungkin membawa permen seperti itu dari desa.
"Bukan aku yang bawa. Di desa, jarang ada yang menjual permen seperti itu," jawabku heran.
"Benarkah?" tanya Dazai-san tak percaya, "Tapi, permennya berasal dari dalam sini," sambungnya.
Aku menaikkan sebelah alisku bingung. Maksudnya, berasal dari dalam kantung plastik yang kubawa? Baru saja aku ingin menanyakan hal itu, Dazai-san sudah mendahuluiku.
"Kalau begitu, kamu coba permen ini, Akira-chan!"
"Hah?"
"Sudah, dicoba saja!" pintanya riang.
Aku menatapi Dazai-san, lalu beralih ke permen itu. Yah, apa salahnya mencoba permen itu? Dazai-san menaruh permen itu ke telapak tanganku yang menengadah. Aku melihat sebentar permen itu, lalu memasukkannya ke mulutku.
Lidahku mengecap rasa permen itu. Manisnya coklat berpadu dengan segarnya mint. Aku yakin jika permen ini kugigit, maka akan keluar sesuatu dari dalamnya. Seperti, lelehan coklat, atau jeli—oh! Atau mungkin, ada semacam hadiah seperti di iklan-iklan!
"Bagaimana rasanya, Akira-chan?" tanya Dazai-san dengan senyum polosnya.
"Um… segar, dan manis!" jawabku dengan senang, "Apa permen ini ada isinya, ya?" sambungku sambil berpikir.
"Coba saja kau gigit," usulnya.
Aku mengangguk mengiyakan. Lidahku memindahkan permen itu ke tepi mulutku, lalu gigiku mengapitnya. Aku mulai menggigit permen itu agar terbelah dua, dan—
DUK!
GLEK!
"…"
Aku terdiam, coba mencerna kejadian barusan. Ranpo-san—yang entah ingin ngapain—tersandung kakiku. Lalu, aku yang kaget—entah bagaimana—menelan permen itu seketika.
"A-Air… one-gai…" pintaku terbata-bata.
"Oh, ini!" Dazai-san menyodorkan segelas air. Tanpa peduli milik siapa air itu, aku langsung menerima dan meminumnya sampai tersisa setengah gelas.
"Ada apa?" Ranpo-san menatapku—tentu dengan netra yang tertutup kelopak mata—dengan wajah polos yang bertanya-tanya.
Aku balas menatapnya tajam. 'Apa kau ingin membuatku mati!?' Itu yang suara hatiku katakan. Namun, yang kuucapkan adalah, "K-Kamu… barusan membuatku… tersedak pe-permen, Ranpo… -san."
"Eh? Begitukah? Kalau begitu, kau harus minum air lebih banyak. Oh, air dalam genggamanmu itu," dia menunjuk gelas dengan air yang sudah setengah kuminum, "Kau harus habiskan, kalau tidak ingin permen itu susah dicerna lambungmu," ia berlalu sambil membawa beberapa manisan, lalu kembali duduk dan memakannya.
JLEB! Apa-apaan itu!? Tidak minta maaf, pula! Aku tidak tahu siapa yang lebih tua di sini, tapi masa bodoh! Dengan mata yang berkedut kesal menahan rasa jengkel, aku mengumpat dalam hati tentang betapa rendahnya rasa simpati orang yang disebut detektif terhebat itu.
Tidak, tidak. Sabar, Akira, sabar! Aku bahkan hanya tahu Ranpo-san dari covernya. Jadi, kupikir menghakimi sepihak seperti ini adalah hal yang kurang bijak. Yah, walau rasa jengkelku masih ada, sih. Tetapi, setidaknya memaklumi seseorang yang belum terlalu kita kenal adalah pilihan yang lebih baik. Aku kembali meminum air itu, lalu setelah habis kuletakkan gelas itu ke meja.
"Apa ini oleh-oleh dari Perayaan Obon?" tanya Naomi-chan sambil memerhatikan kumpulan manisan yang berada dalam genggaman Ranpo-san—wagashi berupa permen lunak dan kompeito.
Aku mengangguk, "iya! Wagashi ini—"
BRUUAAAK!
Suara pintu yang dibuka dengan paksa mengambil alih perhatian kami. Walau hanya sekilas, kami dapat melihat dua orang pria didorong dengan paksa memasuki kantor Agensi oleh seorang pemuda. Ada seorang gadis kecil—yang mungkin sebaya dengan Kyouka-chan—berjalan di belakang si pemuda dengan tenangnya, seolah-olah dialah yang memiliki kuasa di sini.
Rasa panik seketika menyergap hatiku. Ada apa ini!? Apa yang sedang terjadi!?
Semua anggota Buso Tantei-sha segera keluar dari bilik ini untuk melihat para pelaku, terkecuali Dazai-san serta Ranpo-san yang masih berada di dalam bilik ini bersamaku yang sedang mengintip.
Aku dapat melihat si pemuda yang berjubah panjang—membuat penampilan sesungguhnya tidak terlihat—memaksa kedua pria tadi berlutut. Dan… tunggu. Cho-chotto matte! Itu Kunikida-san!? Lalu, siapa pria dengan rambut ikal yang menutupi setengah wajahnya itu? Selain itu… apa yang terjadi sebelumnya sampai-sampai mereka bisa menjadi sandera dengan tangan yang terikat ke belakang seperti itu!?
"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dengan menyandera mereka?" tanya Yosano-sensei dengan tenang, namun menusuk.
"Kami hanya ingin membuat kesepakatan yang bagus dengan tamu kalian," si gadis kecil menjawab dengan sebuah seringai tipis, "dan, kedua orang ini menjadi uang mukanya."
Aku tersentak. Tamu, batinku, tamu Agensi? Jika iya, maka… bukankah itu adalah aku? Tanpa sadar, aku melangkahkan kakiku keluar dari bilik ini dan berdiri di belakang mereka semua.
"Oh?" gadis kecil itu menyadari kehadiranku, "Nona Miyamura Akira akhirnya keluar! Kurasa, dengan begini urusan kami akan cepat selesai!" ucapnya dengan riang.
Semua menoleh kepadaku. Aku menatap kedua penyandera itu dengan dingin. "Apa maumu?" tanyaku.
Gadis kecil itu tersenyum, "Mauku? Mau kami? Yah, sederhana," sebelah tangannya terangkat setinggi dada, lalu dengan jari telunjuk ia menunjuk diriku, "kami ingin kamu menyerahkan diri pada kami."
Mataku menyipit, seraya bergumam, "Nani?"
"Yah, tapi kami tahu kamu akan menolak. Transaksi ini malah jadi semakin sulit, kau tahu?" ucapnya seraya mengangkat kedua tangannya, "Karena itu, kami akan menambah jumlah 'uang' kami, bukan hanya sekadar uang muka," sambungnya.
Sebelah tangannya dijulurkan ke si pemuda. Sang rekan lalu memberikan sebuah benda berbentuk persegi yang diterima dengan senang hati olehnya.
Aku makin menajamkan mataku untuk mengobservasi mereka. Uang? Itu pasti hanya kiasan belaka, seperti 'uang muka' yang dikatakannya. Lalu, benda itu… tidak salah lagi, itu adalah…
"Kamu tahu apa ini?" tanyanya sambil memerlihatkan benda dalam genggamannya itu.
"Itu adalah alat yang mengatur aktifnya ledakan pada sebuah bom. Apa aku salah?" balasku.
Ia tersenyum, "Benar! Nah, untuk lebih jelasnya akan kujelaskan.
Apa kamu ingat dengan permen yang kau telan itu?" tanyanya.
Aku tersentak, lalu dengan perasaan kalut bergumam, "Massaka…"
"Benar! Permen itu… adalah sensor dari bom yang telah kupasang.
Cara kerjanya, ia akan menyensor kehidupan pada tubuhmu. Sensor itu terhubung dengan bom yang telah kami pasang di seluruh pelosok Kota Yokohama ini. Lalu, tombol ini hanya bisa aktif selama kamu masih hidup. Intinya, selama kamu masih hidup, kami dengan bebas bisa mengaktifkan seluruh bom itu," jelasnya diakhiri dengan seringaian.
"Yah, terkecuali jika kamu menyerahkan diri. Maka, kami tidak perlu repot-repot meledakkan kota ini,"sambungnya.
Aku mematung. Apa itu!? Apa-apaan mereka!? Aku mengepalkan kedua tanganku, berusaha meredam rasa kaget, kesal, sekaligus panik. Aku menunduk, menatapi kedua kakiku yang terbungkus kaus kaki dan sepatu.
"Pilihan ada di tanganmu, Nona Miyamura. Dan, aku tidak bisa menunggu lama."
Aku memejamkan mataku erat-erat mendengar peringatannya. Apa? Apa!? Apa yang harus kulakukan!? Bagaimana cara agar semua bisa selamat tanpa menyerahkan diri!? Aku… aku… tidak ingin menyerah, tapi—
PUK!
Aku tersentak ketika sebuah tepukan lembut menyapa sebelah pundakku. Melirik ke samping, aku mendapati Dazai-san memberi kode untuk melihat ke depan. Dan, tampak Kunikida-san menggerakkan mulut tanpa suara. Sial! Aku tidak mengerti apa yang ingin disampaikannya!
"Kunikida-kun bilang, lakukan apa yang bisa kamu lakukan," bisik Dazai-san.
Aku terkesiap. Hal yang bisa kulakukan? Selain menyerahkan diri? Adakah?
Aku sedikit tersentak sendiri, karena sebuah ide yang tiba-tiba melintas di otakku. Hal yang bisa kulakukan sekarang… Ya! Aku yakin rencanaku ini adalah hal terbaik yang hanya bisa dilakukan olehku.
Mengeratkan kepalan tanganku dengan yakin, aku berjalan dengan tenang sebisaku ke arah pemeras itu. Keoptimisan akan menjalankan rencanaku ini seolah terus terngiang di otakku.
"Ara? Nona Miyamura menyerahkan diri? Dengan begini, urusan ini cepat selesai! Yah, walau sangat disayangkan tidak ada perlawanan darimu. Tapi, bukan berarti aku mengharapkannya, lho, ya!" ujarnya sampai aku tiba tepat di depan mereka.
"Nah, ayo kita pergi," ajaknya sambil mengulurkan sebelah tangannya kepadaku. Aku hanya melihat sebentar tangan mungil itu. Beberapa detik setelahnya, aku memejamkan mata, dan kembali membukanya sambil menerima uluran tangan itu—membuat tangan kami saling berjabatan.
Namun, dengan cepat aku mengunci pergerakannya—memutar tubuhnya sambil tetap menjabat tangannya, membuatku seolah-olah memeluknya dari belakang. Mengabaikan mereka—termasuk dirinya—yang kaget akibat aksiku, dengan cekatan aku segera mengambil tombol kendali bom itu dari tangannya yang lain. Lalu, aku segera melepaskannya dan menjauh dari mereka—berusaha menjaga jarak.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya gadis kecil itu dengan marah.
Sambil mengangkat kendali bom itu—untuk menunjukkan—aku membalas, "Aku akan menghancurkan benda ini! Dengan begitu, kalian tidak bisa mengaktifkan bom yang telah dipasang!"
Sebelumnya, aku telah memikirkan suatu hal. Ada dua cara agar bom yang telah mereka pasang tidak bisa diaktifkan: pertama, rebut dan hancurkan kendali bom tersebut; kedua, membunuh diriku. Namun, aku memilih menjalankan cara pertama. Cara kedua akan kujalankan bila rencana pertama tidak berhasil.
Aku bisa mendengar dia dan "tangan kanan"nya itu mendecih kesal. Diam-diam, aku mengaktifkan kemampuanku, 'Nōryoku: Shiki no Kemono!'
"…"
E-eh…? Tunggu, tunggu. A-ADA APA INIII!? KENAPA INIII!? Kenapa kemampuanku tidak mau aktif?! Astaga, ada apa dengan diriku?! Apa mereka menyadarinya!? Semua sedang menatapiku!
Ojii-san! Obaa-san! Apa yang harus kulakukan sekarang?! Rencanaku tidak berjalan seperti yang kupikirkan! Kamisama, Atsushi-kun, Yosano-sensei, Dazai-san, siapa pun, tolong bantu akuuu!
"Kenapa kamu hanya diam sambil memegangi benda itu?"
Ketika menegakkan kepala, aku mendapati gadis kecil itu terlihat heran melihatku yang 'tak kunjung melakukan apa pun. ASTAGA! Apa kau tidak melihat bahwa aku sekarang sedang panik!? Bahkan, aku sendiri tahu bahwa sekarang keringat yang tengah membanjiri wajahku ini pasti terlihat jelas.
Dari sudut mataku, aku terlambat menyadari bahwa pemuda yang menjadi tangan kanannya itu akan melancarkan serangan padaku. Gawat! Dia mengusahakan kedua tanganku terkunci ke belakang tubuhku. Aku mengelak sebisa mungkin, namun dia berhasil mengunci pergerakanku dan mengambil alat itu, lalu membuatku terduduk di lantai.
"Sayang sekali, perlawananmu itu ternyata hanya omong kosong belaka," gadis kecil itu mendekat ke arah kami, lalu mengambil kembali alat itu. Dengan wajah yang terlihat muak dan lelah, ia berucap, "Sejujurnya, kami tidak memasang bom di kota ini."
"!" Kami semua terkejut. Lalu, apa maksud semua ini?!
"Kami memasang bom di salah satu kota besar yang ada di pulau terpencil," ia lalu duduk di sebuah kursi kerja di ruang ini, "Terdapat banyak kehidupan di sana. Namun, kota itu penuh dengan kebusukan," jelasnya dengan mata yang menajam.
Aku masih setia mendengarkannya dengan rasa kaget yang masih ada pada diriku. Tanpa kusadari sepenuhnya, pemuda yang mengunci pergerakan kedua tanganku telah melepaskanku. Masih terngiang-ngiang di otakku tentang penjelasan gadis itu. Dalam hati aku bertanya-tanya, apa yang ingin diutarakannya?
Tak lama, ia tersenyum miring menatapku sambil berucap, "Kau orang yang menjunjung tinggi keadilan, kan? Jadi, bukankah menghancurkan kota itu termasuk sebuah penghukuman yang adil?"
Mataku membelalak mendengar ucapannya. Tidak, bukan… jangan, aku ingin mengatakan hal itu. Namun, rasanya tubuhku tidak bisa bergerak. Dengan segera, aku berteriak padanya, "Untuk apa kau melakukan hal itu?! Aku sudah tertangkap! Tidak perlu ada pelampiasan!"
Matanya kembali menajam, lalu berucap dengan suara yang amat rendah, "Kau tidak mengerti."
Dia lalu berdiri, dan berjalan mendekati Kunikida-san dan pria asing dengan surainya yang menutupi setengah kepala itu. "Pertama-tama, dimulai dari sandera," ucapnya sambil menodongkan moncong pistol tepat ke arah kepala sang pria asing.
Kunikida-san yang bersebelahan dengannya tampak terkejut dengan tindakan gadis kecil itu—termasuk aku. Suara pelatuk menggema di ruang ini, membuat jantungku berpacu lebih dari yang sudah-sudah. Sebentar kemudian, sebuah peluru akan bersarang di kepala pria itu. Tidak! Seseorang… siapa pun, tolong hentikan ini!
Tanpa aba-aba dan persiapan, aku segera mendekati gadis itu. Lalu, dengan cepat aku mengubah target pistol tersebut menjadi ke kepalaku. Gadis itu pasti tidak sempat menjauhkan jarinya, dan aku yakin mereka semua pasti kaget melihat tindakanku ini, hingga tidak sempat berbuat apapun untuk mencegah.
DOR!
Aku memejamkan dengan erat mataku setelah momen barusan—takut, apakah menyakitkan jika sebuah peluru terperangkap di otakmu? Atau, malah tidak, karena ajal duluan menjemput?
Tak lama kemudian, aku kembali membuka kelopak mataku secara perlahan. Apa ini? Kok, tidak ada apa pun yang terasa? Jangan-jangan… aku sudah ada di alam lain?! Namun, pemandangan yang kupikirkan tidak tampak sedikit pun. Malahan, yang ada hanyalah pemandangan seperti sebelum aku memejamkan mata. A-ada… apa… ini?!
"Gomennasai, ne, Onee-chan! Daijoubu ka?" tahu-tahu, gadis kecil itu bertanya dengan (agak) khawatir. Pistol ini telah terlepas dari genggamannya, dan ia sedikit membungkuk.
"Heh?" aku membeo untuk menyadarkan diri. Hah? Ini maksudnya apa?!
"Mm, ano…" pemuda yang menjadi tangan kanannya itu membuka tudung kepala dari jubahnya dengan perlahan, "Apa kamu baik-baik saja, Akira-san?" dan, tampaklah wajah Tanizaki-kun yang khawatir dan takut-takut menatapku. Di depannya sudah berdiri Kunikida-san serta si pria asing yang telah bebas dari ikatan.
Masih dengan posisi terduduk dan tangan yang memegang pistol—namun, tanganku sudah jatuh ke lantai—aku bertanya dengan gugup, "A-Apa maksudnya… ini?"
"Akira-chan, semua aksimu benar-benar membuat kami terkaget-kaget, lho~! Dan, persis seperti Atsushi-kun, kau memiliki bakat untuk bunuh diri!" Dazai-san berucap dengan mata yang berbinar.
Ucapannya barusan membuatku kembali membeo, "Hah?"
"Souda! Nee, Akira-chan," Dazai-san yang sudah berada di dekatku bertekuk lutut untuk menyamakan pandangannya denganku. Lalu, dengan lembut ia menggenggam sebelah tanganku yang tidak memegang pistol sambil berucap, "Bersediakah kau bunuh diri ganda bersamaku? Aku berjanji untuk berusaha menjagamu dan membuatmu bahagia sampai ajal menjemput kita berdua. Dan, aku akan merencanakan bunuh diri ganda yang sangat diimpikan oleh para pecinta bunuh diri seperti ak—"—DUUAGH!—"UUGH! Hidoi, Kunikida-kun!"
Dengan cepat, Kunikida-san menarik kerah pakaian Dazai-san. "JANGAN MELAMAR SEORANG WANITA DENGAN LAMARAN BUNUH DIRI GANDAMU YANG KONYOL, KONO JISATSU MANIAC!" Kunikida-san meneriaki Dazai-san sambil mengguncangkan tubuhnya. Aku mengedipkan mata berkali-kali dengan dahi yang berkerut.
"Kunikidaaa! Daijoubu ka?" si gadis kecil berteriak sambil menerjang mesra Kunikida-san yang sibuk menghajar Dazai-san. Aku sempat kaget melihat hal barusan. Sekarang, Kunikida-san sibuk melepaskan diri dari gadis kecil (yang tampaknya penggemar fanatik Kunikida-san) itu, sementara Dazai-san dengan senyum jenakanya memerhatikan keduanya.
"Apa yang barusan itu bisa disebut lamaran?" gumamku, "Dan… apa maksud dari semua ini!?" aku berteriak kecil pada mereka—terutama yang sedang asyik sendiri.
"Ujian masuk."
Sebuah suara pria yang berat menginterupsi semua kegiatan di ruang ini. Kami semua melihat ke sumber suara. Dan, terlihat seorang pria dewasa bersurai putih yang agak panjang dengan setelannya berupa pakaian tradisional Jepang (yukata, kah?). Beberapa agen dan karyawan di sini menyapa hormat pria—yang tampak sudah kepala tiga—itu dengan sebutan "Sachou."
Aku terdiam untuk merangkai dan menghubungkan hal yang sudah terjadi dengan keadaan sekarang. Namun, otakku serasa tidak mau diajak kerja sama. Hal itu malah membuat kepalaku berdenyut-denyut.
"Jika kau ingin marah, marahlah pada dirimu sendiri! Atau, kepada Jisatsu Maniac yang telah merencanakan semua ini!" ucap Kunikida-san sambil memerbaiki letak kacamatanya, dengan gadis kecil itu masih bertengger di sekitarnya.
"Hah?" aku kembali membeo.
"Bahkan, ada hal yang di luar rencana Dazai. Bagaimana bisa begitu?" tanyanya kepada Dazai-san yang senyam-senyum gaje.
"Haaah?! O-Oi, matte, matte! Sebenarnya, hal apa yang dari tadi terjadi itu?!" tanyaku dengan panik sambil menatap mereka bergantian.
"Yah, bisa dibilang," aku fokus menatapi Dazai-san, "aku merekomendasikanmu untuk menjadi anggota Buso Tantei-sha," ucapnya dengan enteng, "dan, ini adalah ujian masuk—apakah kau pantas untuk menjadi anggota kami atau tidak."
Aku terdiam, berusaha menyerapi penjelasan singkat Dazai-san barusan. Oi, jangkrik mana jangkrik? Rasanya, ingin sekali menjedotkan kepalaku sendiri—oh! Mungkin menjedotkan kepala Dazai-san ke dinding adalah pilihan yang lebih baik!
"HAAAHH!? Tunggu, tunggu, tunggu! Kenapa!? Kok, aku?! Aku tidak pernah melamar kerja di—"
"Yak! Karena kau telah lulus ujian masuk, maka kami tinggal memutuskan apakah kau diterima atau tidak!" ucap Dazai-san riang sambil menepukkan tangannya.
Hoi, hoi! Kau juga perlu persetujuan dariku, kan!?
"Nah, Sachou. Jadi, bagaimana dengan keputusannya?" tanyanya kepada pria itu (masih dengan senyumannya).
Pria itu tampak memejamkan matanya sejenak, lalu melangkah pergi ke suatu ruang sambil berucap, "Kuserahkan keputusannya padamu, Dazai!"
"Anda bisa memercayai saya, Sachou!" balas Dazai-san dengan ringan namun serius.
Setelah pria itu hilang dari pandanganku, aku segera memrotes Dazai-san dengan suara yang agak meninggi, "Tu-Tunggu dulu, Dazai-san! Kamu tidak bisa menerimaku! Ini—"
"Yah, kau tahu? Kemampuan refleks kita memang selalu bekerja. Namun, aku tidak menyangka kamu seberani itu," ia berucap sambil membalik badannya menghadap padaku yang masih terduduk, "Dibutuhkan tekad yang kuat untuk mewujudkan kemampuan refleks kita. Dan, kamu telah membuktikan hal itu," sambungnya.
"Ternyata, kalian memang tidak jauh berbeda. Sama-sama penakut dan bodoh," timpal Kunikida-san seraya memerbaiki letak kacamatanya.
Aku meringis dalam hati mendengarnya—tentu saja, aku tahu siapa "nya" yang dia maksud.
"Tapi," ia memberi jeda pada ucapannya—aku menatapnya dengan penasaran, "apa yang Dazai katakan memang benar."
Aku terdiam mendengar perkataan mereka. Entah mengapa, hatiku terasa menghangat mendengar hal itu. Aku jadi berpikir, kira-kira kenapa, ya?
"Nah! Kalau begitu, sudah diputuskan, bukan?" pertanyaan Dazai-san kembali menyadarkanku, "Kamu sudah resmi menjadi—"
"Tunggu duluuu!" aku berteriak sambil mengibas-ibaskan kedua tanganku—termasuk sebelah tanganku yang masih menggenggam pistol, "Tolong jelaskan padaku terlebih dahulu sebelum kau memutuskan sesuatu yang masih belum kumengerti!" protesku.
"Non, non!" Dazai-san memberi isyarat bahwa apa yang barusan kuucapkan itu salah, "Bukan 'belum kumengerti', tapi 'kurang kumengerti', Akira-chan!" ia meralat ucapanku.
"Hah?" Apa lagi, sih, yang dibicarakan orang ini? Namun, detik berikutnya, aku memahami apa yang dikatakannya. "Haiiish! Sama saja!" sahutku jengkel.
"Akira-chan, keduanya berbeda, lho~! Seperti kata 'ini' dan 'itu'. Bukankah keduanya memiliki arti yang sangat berbeda?" Dazai-san kembali membalas, membuat jiwa dan ragaku (?) tambah merasa jengkel.
"Dengar, ya, Dazai-san—"
"Iya, aku dengar, kok~!"
"Hei! Aku belum selesai bicara!"
Normal POV
"Dengar, ya, Dazai-san—"
"Iya, aku dengar, kok~!"
"Hei! Aku belum selesai bicara!"
Akira dan Dazai semakin tenggelam pada perdebatan 'tak berarti mereka. Akira tidak tahu, bahwa dalam hati Dazai merasa senang gadis itu termakan ucapannya dan melupakan pokok topik yang ingin mereka bahas. Poor Akira… _||
Di lain sisi, beberapa anggota Agensi dan dua orang luar yang masih menonton 'perdebatan' keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala dan bersweatdrop. Entah di sini Dazai yang kelewat licik, atau Akira yang terlalu tidak pekaan. -_-
"Ano… bukankah sebaiknya kita menghentikan adu mulut mereka?" tanya Atsushi yang disetujui dengan anggukan kepala dari sang pria asing—Edgar Allan Poe.
"Benar, kantor jadi makin berisik, karena ulah mereka," timpal Kunikida ketus, dengan sang gadis kecil, Kouda Aya, berdiri di sampingnya yang sweatdrop melihat keduanya.
"Yah, tidak apa-apa, kan?" Yosano berucap sambil memandang keduanya, "Mereka terlihat seperti sejoli yang lama 'tak bertemu. Dan, Akira juga tampak menikmati 'obrolan' mereka," komentarnya.
Mendengar hal itu, Kenji, Tanizaki bersaudara, Aya, Poe, Kyouka, dan Atsushi (serta Ranpo yang sibuk ngemil di dalam bilik tamu Agensi) tersenyum tanda setuju. Disusul dengan dengusan pelan dari Kunikida yang sembari memerbaiki letak kacamatanya. Entah kenapa, ada suatu perasaan puas yang menghinggapi hati mereka setelah semua ini—apa ini yang disebut dengan "lega"?
.
Di Ruang Presdir Buso Tantei-sha, tampak Fukuzawa yang duduk dengan tenang di kursinya. Kelopak mata yang menyembunyikan netranya membuat pria itu tampak sedang berpikir, atau pikiran orang awam adalah tidur. Tak lama, Haruno Kirako, sekretaris Agensi, masuk dengan membawa nampan berisi segelas ocha panas.
"Ini tehnya, Sachou," Haruno berkata seraya meletakkan gelas itu ke meja kerja sang presdir, membuat suara yang diakibatkan dari saling bertubrukannya antara dasar gelas dan permukaan meja.
"Kalau dipikir-pikir, ini mirip seperti ujian masuk Atsushi-kun, ya, Sachou?" komentar Haruno dengan gaya ramah khasnya.
Fukuzawa diam 'tak bersuara. Entah apa yang sedang dipikirkan pria yang sudah berkepala tiga itu. Tangannya bergerak mengambil ocha itu, bersamaan dengan Haruno yang kembali bersuara, "Apa mungkin, dengan bergabungnya Miyamura Akira-chan, akan ada sesuatu yang tidak terduga kembali datang? Seperti saat Atsushi-kun dan Kyouka-chan bergabung."
Fukuzawa membuka kelopak mata yang sedari tadi menutup netranya. Haruno yang menyadari perubahan dari presdirnya itu ikut melihat hal yang menjadi sorotannya. Tanda itu—daun teh yang mengapung tegak lurus di dalam ochanya—kembali muncul.
"Tanda itu…" Haruno bergumam saat melihat hal itu, "Selamat, Sachou! Akan terjadi hal baik!" ucap Haruno riang, masih dengan ramah khasnya.
"…" Fukuzawa diam, lalu menyeruput tehnya.
Dan… hal yang sama pun kembali terulang.
"Aduh, panas!"
.
"Jadi, Dazai-san yang merekomendasikanku pada Presdir dari Buso Tantei-sha, dan dia juga dalang dari ide ujian masuk untukku tadi?"
Kepala mengangguk.
"Lalu, entah apa, bagaimana, dan mengapa, Dazai-san juga yang mengubah alur skenario ujian masukku dengan menetralkanku saat menunjukkan padaku bahwa ada yang ingin Kunikida-san sampaikan saat disandera tadi?"
Anggukan kedua.
"Dan, itulah sebabnya beberapa dari kalian ada yang benar-benar merasa terkejut, karena apa yang terjadi tidak seperti rencana?"
Anggukan ketiga.
Jeda sesaat—Akira menghela nafas sambil memijat pelan keningnya.
"Omong-omong, Dazai-san," Akira berucap sambil hanya melirik pria yang dipanggil—malas untuk menghadapkan wajahnya pada pria itu dengan alasan masih kesal, "Apa kamu punya bujukan yang bisa membuatku bergabung ke Agensi? Karena, aku juga telah bekerja di perusahaan keluargaku di kota ini. Kuharap, kamu tidak melupakan hal itu."
Dazai tersenyum, lalu mengeluarkan dan mengangkat sebelah tangannya yang berada di dalam saku coat seraya berucap, "Ya, aku punya."
"Pertama," satu jari terangkat, "karena kamu juga Ability User, akan lebih aman bagi semua orang—terutama dirimu—jika kau bergabung ke Agensi. Lagipula, kamu pasti masih ingat kejadian sebulan lalu, kan? Orang-orang yang berniat buruk seperti mereka masih banyak di luar sana, dan kamu hanya belum mengetahuinya."
Penjelasan pertama mampu membuat Akira meneteskan keringat dan menelan ludahnya dengan agak sulit—bahkan, Akira sudah melupakan rasa jengkelnya dan menghadap pada Dazai.
"Kedua," jari lain terangkat, "jika kamu bergabung dengan kami, penghasilanmu jadi bertambah, bukan? Ini menguntungkan bagimu yang tinggal sendirian di sini!"
"Yah," Dazai mendekatkan wajahnya pada Akira, membuat gadis itu sedikit menarik diri, namun Dazai tetap melakukannya. Lalu, dengan seringaian yang terpatri tanpa disadari siapapun, ia membisikkan sesuatu tepat di sebelah telinga Akira, "selain itu, bukankah kamu akan lebih leluasa memerhatikan dan mengawasi Atsushi-kun jika bergabung bersama kami?"
"…"
Akira jadi tegang—dia telah tertangkap basah oleh seorang maniak aneh bin menjengkelkan ini. Ketika Dazai menjauhkan diri darinya, Akira segera memberinya death glare, seolah-olah menanyakan "dari-mana-kau-tahu-hal-itu?!".
Yah, namun, Dazai tetap dengan senyumannya yang menyebalkan itu—yang di mata para kaum Hawa di luar sana, senyuman itu mampu melelehkan mereka. Sayangnya, hal itu tidak berlaku pada para perempuan anggota Agensi dan Akira (yang notebanenya masih sebagai anggota baru, dan memang tidak mempan pada pesona yang seperti itu).
Anggota Buso Tantei-sha plus Poe yang sedari tadi ikut nimbrung cengok melihat tingkah Dazai barusan (dengan Atsushi dan Tanizaki bersaudara yang blushing plus terheran-heran). Walau, Ranpo dan Yosano hanya mengangkat sebelah alis mereka. Kenji dan Kyouka yang masih dengan kepolosan mereka hanya menatap kejadian itu dengan tanda tanya. Lain halnya dengan Aya dan Kunikida yang sedikit merona melihat kelakuan Dazai barusan: dengan Aya yang terkagum, dan Kunikida yang kaget dan malu.
"Oi, Dazai," Kunikida yang sudah dikerubungi amarah beranjak ke tempat mereka, dan menarik kerah pakaian Dazai, "Jangan bicara yang tidak-tidak pada orang lain! Terutama pada seorang gadis sepertinya!" teriak Kunikida dengan amat geram.
"Maa, maa, Kunikida-kun. Memangnya, apa yang tadi kubicarakan padanya?" tanya Dazai dengan santai, "Lagipula, yang kukatakan tadi itu memang benar, bukan? A-ki-ra-chan~…!" sambung Dazai dengan mengeja nama sang gadis.
'Grrrh!' Perempatan imajiner berasa mengerubungi Akira. Dia berusaha menahan diri untuk tidak menonjok pria di depannya dengan mengepalkan tangan. "Tolong jangan memancingku, Da-za-i-san!" balas Akira dengan penuh penekanan saat mengeja nama sang pria.
"Yah, selain itu,"—"Ng?"—"bukankah kamu hanya sebagai pekerja magang di perusahaan keluargamu itu? Kamu tidak akan amat sibuk kalau begitu. Jadi, kamu pasti bisa bekerja di sini tanpa banyak beban, bukan?" tambah Dazai, "Dan, aku ingat, kok! Semua penjelasanmu tersimpan di otakku," ucap Dazai dengan senyumnya sembari mengetuk-etuk kepalanya dengan jari telunjuk.
Kunikida telah melepaskan cengkeramannya, dan Dazai telah berdiri ke posisinya semula. Dazai memandangi wajah Akira yang masih ragu-ragu, lalu tersenyum lembut sambil berucap, "Tenang saja. Kamu pasti akan baik-baik saja."
Dengan manik yang masih menatap Dazai, Akira menautkan kedua alisnya ke atas seraya mengerang kecil, "Sonna…"
Ending Theme: Hanabi – by ClariS
Preview
Dazai: Sebuah misi dengan misteri di dalamnya tengah menantimu, Akira-chan~!
Akira: Hah? Apaan, sih?
Kunikida: Hora, Komusume! Berangkatlah bersama Ranpo-san. Ini cocok untuk pekerjaan pertamamu.
Akira: Eeeh? Pekerjaan pertamaku menjadi asisten detektif?
Ranpo: Kau salah kaprah, kok. Kau akan menjadi pemandu jalanku.
Akira: Haaah?
Selanjutnya, Bungou Stray Dogs: The Lost Relatives Chapter 5,
Misteri Gedung Terbengkalai Di Prefektur Shinagawa
Ranpo: Jika ada aku, semua akan baik-baik saja!
Akira: Kuharap memang begitu…
~ Author ground ~
Author: Yooo~! Hola~ Loha~ Laho~ Hello~ minna-san! XD Sebelum saya kembali bercuap-cuap pt. 2, saya ucapkan…
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-72!
Dan,
SELAMAT HARI MARITIM NASIONAL!
Akhirnya, chapter 4 dateng! :D Tenggang berapa hari, ya, baru update?
Dark Sarah: Situ nyadar, donk! -_- dan, bukan hanya hari, oy! Tapi, bulan, mbak, bulan!
Author: Iye, iye! Jangan bikin kusut, deh! Eh, tapi, makasih buat pengingatannya. -3-
Jadi, kan, saya udah peringetin di chapter sebelumnya. Dan, kalau diumpamakan, ini baru "gelada bersih"nya. Yang sebenarnya itu lebih dari ini. Maka dari itu, saya mohon pengertiannya… /bungkuk 90 derajat/ Untuk penjelasan yang lain, udah saya publish di updatean karya saya yang "Resident Evil: Her Dreams". Silakan mampir bagi yang berminat! :)
Bagi yang udah baca chapter sebelumnya pas di awal-awal saya baru update, pasti nyadar kalau latar waktunya berubah. Itu, lho~! Dari yang "Beberapa hari kemudian…" berubah jadi "Sebulan kemudian…". Nah, sebenarnya, saya gak sengaja mengubahnya. Pokoknya, entah bagaimana saat saya ngedit draft chapter ini, saya malah jadi kepikiran, "lho? Kok, gak nyambung, sih?". Nah, ya, udah. Saya ganti aja supaya nyambung dengan hal-hal yang berkaitan dengan fanfic ini. _|| -3-
Oh, iya. Ada yang tau karakter Kudou Aya? Kalo gak salah, di OVAnya ada muncul (BSD: Hitori Ayumu), dan di manganya juga ada—di volume 13, baru terbit pas 4 Agustus di Jepang + dibundel ama OVAnya. #ngiri #pengen_juga Saya kurang tau dengan karakterisasi si Aya. Jadi, maaf, ya, kalau dia berasa OOC banget. #sumimasen :(
Btw, soal seiyuunya Akira. Saya pikir, votenya gak usah aja. Kalo bisa, sih, beritahu saya, siapa seiyuu yang kira-kira cocok buat Akira menurut kalian, gitu. Kalo menurut saya, sih, ya, mereka berdua itu. Tapi, saya tetep gak bisa nentuin. _|| Soalnya, saya udah kepikiran sama lagu buat chara song si Akira (buat have fun doank, kok), tapi mungkin suara seiyuunya malah agak berkebalikan buat lagunya itu. /ngerti, gak?/
Dan… balasan review~!
~ rara ~
Haaa'iii! ^_^ :D Terima kasih banget buat dukungannya! O:) Arigatou mo karena tetep nungguin karyaku! :) (kalo boleh tanya, saya manggil kamu siapa, ya?)
~ Papan Oujia ~
Halo kembali! Salam kenal juga, Oreo-san/senpai! (kamu maunya dipanggil siapa?) Arigatou gozaimasu karena udah follow dan tertarik dengan karya saya ini! ^_^ Oh, gak pa-pa, kok, dilewatin. Saya yang buat aja bingung sendiri, "lah? Panjang amat -_-". Yah, tapi, entah kenapa itu semua memang dari otak saya. Mohon pemaklumannya… _|| Saya sangat berterima kasih buat dukungannya! :) Tenang saja, di sisi lain, saya juga berusaha! :D O:) Terima kasih karena mau nungguin saya! ^_^
Rasio Sarah: Yak! Sekian dari "Author Ground" kali ini :) Untuk para pembaca sekalian, sekali lagi mohon kesabarannya dan terima kasih karena masih mau menunggu karya Sarah ini! O:)
All: Akhir kata, arigatou gozaimasu, dan sampai jumpa~! :D O:)
Rasio & Dark Sarah: Mohon kritik, saran, dan responnya dalam bentuk apapun! RnR? :)
