Bolehkah aku kembali lagi di mana okaa-san berbicara tentang kepindahanku seminggu yang lalu?

Bolehkah aku mengganti jawabanku menjadi tidak?

Maaf, ya Kuroko. Sayangnya Author bilang tidak bisa.

.

.

Kuroko's Days

Kuroko No Basket by Fujimaki Tadatoshi

Story by Racelew

Dibuat untuk kesenangan semata dan tidak mengambil keuntungan apapun

-Drama, Friendship, Romance, Rating T-

-warn : Fem!Kuroko, Rakuzan!GOM, OOC, Typo(s), gaje, dan banyak lagi-

.

.

"Tetsuna, aku akan memberikanmu kejutan atas kedatanganmu di sekolah Rakuzan."

Gadis bersurai biru muda yang sedang jalan dibelakang sang empu suara hanya mengangguk. Bukannya hal yang aneh kalau mau memberi kejutan tapi dibilang-bilang dulu?

"Sepertinya kau sedang tidak bahagia,Tetsuna."

Bagaimana mau bahagia,coba? Hari pertama masuk sekolah saja sudah bertemu dengan orang yang paling dihindarinya.

"Jangan lambat jalannya,Tetsuna. Kode mau minta digendong?"

Yang ditanya cuma diam saja.

Harusnya istirahat makan siang pertamanya ini digunakan untuk berkenalan dan ikut-ikut nimbrung ngegosip agar kesannya friendly. Bukan langsung cabut dari kelas bersama lelaki gila berambut merah ini.

Langkah sang surai merah berhenti. Kuroko juga ikut berhenti. Matanya menatap pintu bergagang dua dihadapannya dengan penasaran.

"Mulai penasaran,Tetsuna?" Akashi memegang gagang pintu dengan kedua tangannya, lalu membukanya lebar-lebar. "Masuklah."

Kuroko melangkahkan kakinya masuk. Silau cahaya menusuk kedua bola matanya. Semilir angin meniup lembut rambutnya.

Kok bisa ada semilir angin di ruangan indoor? Itulah hebatnya bangunan Rakuzan.

Kosong.

Hanya lapangan basket yang kosong.

"Apa maksudmu bawa aku-"

CKLEK

Mulutnya berhenti bicara ketika bunyi khas pintu yang ditutup menggema di ruangan yang kosong.

Setelah menutup pintu, Akashi mendekatkann wajahnya ke depan wajah Tetsuna. Tangannya menyelipkan helai rambut Tetsuna yang menutup wajah ke belakang daun telinga.

"Ada yang mau kubicarakan. Tentang kita."bisiknya lembut.

Kuroko sudah capek dengan topik 'ada yang mau dibicarakan' ini. Tapi beda cerita kalau ditambah 'tentang kita'.

"Tentang kita maksudnya apa? Dan haruskah berbicara disini? Tidak ada tempat lain? Oh ya, jangan sembarang pegang rambutku." wajahnya tetap datar, tidak ada menunjukkan kegugupan sedikitpun.

Senyum yang lebih mirip dengan seringai pun muncul di wajah pemuda ganteng itu. "Ayo berhitung."

Yang ditanya bingung. "Menghitung apa, Akashi-san? Menghitung waktuku yang terbuang sia-sia karena kau mengajakku kesini?"

Matanya melirik sebentar ke jam tangan mahal yang ada dipergelangan tangan. Lalu kedua tangannya yang lebih besar mengarah ke sisi wajah gadis yang lebih pendek darinya.

"Satu. Lanjutkan,Tetsuna."

Ini kenapa jadi acara hitung menghitung? Pakai megang wajah segala.

Tangan mungil mencoba melepaskan diri dari si tangan besar. "Lepaskan aku,Akashi-san. Tolong sopan pada a-baiklah! Dua!"

Wajah Akashi sekarang hanya berjarak 5 cm. Kuroko sudah mengerti kalau melawan Akashi yang sekarang berarti memancing kegilaannya.

"Ti-"

BRAK!

Suara pintu dibuka paksa dari luar terdengar nyaring ditelinga mereka berdua. Tangan Akashi menjauh dari wajah Kuroko yang datar itu.

"-ga..kejutan untukmu,Tetsuna."

.

"Kurokocchi beneran ke sini-ssu!"

"Aree~ Kuro-chin?"

"Tetsu?"

"Tetsu-chan?!"

"Kuroko, kau memang pindah kesini? Hmph, bukannya aku perhatian, tapi aku hanya bertanya."

Kuroko hanya menatap datar teman-teman yang merindukannya, tapi tidak dirindukan oleh dirinya, "Ya,hallo."

Hari ini benar-benar kejutan dari kejutan. Sesudah bertemu dengan Akashi, haruskah dia bertemu dengan *coret*anak buah*coret* teman-temannya juga?

Bertemu dan satu sekolah dengan teman semasa SMP memang mengasyikkan, tapi lain lagi jika teman masa SMPnya adalah para manusia berbeda warna rambut ini.

Tiba-tiba saja Kuroko dipeluk oleh wanita berambut panjang berwarna pink dan lelaki tinggi berwarna kuning. Badannya yang mungil serasa dipenyet.

"Kenapa kau terlihat tidak senang bertemu dengan kami-ssu!" Tangisan dan rengekan yang dibuat-buat keluar dari pemuda tinggi nan ganteng bernama Kise Ryouta. "Jangan-jangan kau tak mau bertemu kami-ssu!"

Itu memang benar,Kise-kun. Bahkan aku sudah meminta ke Author untuk mengembalikanku ke Seirin. Sayangnya aku ditolak.

"Mou, Ki-chan! Tetsu-chan kan memang selalu datar seperti ini. Mana mungkin dia tak mau bertemu dengan kita. Hehe pasti kangen,kan?" Suara itu berasal dari gadis montok bernama Momoi Satsuki yang sedang memeluk si biru muda dengan erat.

Itu sangat salah,Momoi-san.

"Kuro-chin, ini kuberikan maibou untukmu. Aku yakin kau pasti lapar,kan?" Lelaki bertubuh tinggi abnormal memberikan bungkusan snack yang sudah terbuka. "Aku beri ¼ saja,ya."

Sebenarnya mau menolak, namun demi menjaga perasaan orang yang rela memberi sedikit harta karunnya, ia tetap menerima.

Maaf,aku tidak lapar. Aku sudah kenyang dengan semua ini. "Terimakasih,Murasakibara-kun. Oh ya,tolong lepaskan aku, Kise-kun,Momoi-san. Sesak."

"Lepaskan dia, Kise, Satsuki." Lelaki bertubuh 192 cm bernama Aomine Daiki melangkah maju mendekati Kuroko. "Uwah, ini beneran kau,Tetsu? Rambutmu jadi pendek. Tubuhmu juga makin pendek atau aku yang makin tinggi,ya?"

Terimakasih sudah menghina dalam pertemuan kita,Aomine-kun. "Ya, ini aku."

Wajah Aomine sedikit mendekat dan merunduk. "Uwah, ternyata oppai-"

Belum sempat si tan menyelesaikan pembicaraan, dia sudah terkapar manja setelah di ignite pass yang bersangkutan.

"Apa kabar,Kuroko? Ternyata sifatmu belum banyak berubah, Kuroko. Hanya fisikmu saja yang banyak berubah. Bukan aku perhatian, aku hanya memberitahu saja,nanodayo." Lelaki wortel bernama Midorima Shintaro ini masih sempat-sempatnya Tsundere.

"Iya,Midorima-kun. Kabarku baik-baik saja." Diantara mereka,hanya Midorima-kun yang paling normal. Mungkin dia sudah semakin dewasa.

Kuroko memperhatikan teman-temannya dengan seksama. Wajah polos khas anak remaja tanggung sudah berganti menjadi wajah khas anak remaja yang akan dewasa. Pertumbuhan sekunder alias puberty membuat mereka menjelma jadi remaja-remaja cakep.

"Tetsuna, inilah kejutan dariku. Kita bisa berkumpul lagi." Suara baritone khas lelaki maskulin bernama Akashi Seijuuro menginterupsi Kuroko yang sedang memperhatikan orang-orang didepannya.

Lelaki 173 cm ini menatap Kuroko dengan tatapan tajam. Kuroko balas menatap dengan tatapan datar.

"Terimakasih kejutannya,Akashi-san. Kehormatan bagiku untuk bertemu dengan teman-teman masa lalu. Kalau begitu aku kembali kekelas." Kuroko merasa ini bukan kejutan. Ini tidak mengejutkannya, malah membuatnya ingin cepat-cepat pulang ke rumah,mengepak barang dan kembali ke Seirin.

Baru saja Kuroko membalikkan badan, pergelangan tangannya sudah dicegat oleh lelaki yang barusan mengajaknya bicara.

"Hei, aku belum selesai berbicara." Tangan Akashi yang tadi memegang pergelangan tangan gadis biru muda berpindah menuju pundaknya dan memutar badannya sehingga mereka berhadapan sekarang.

Biru langit bertemu merah. Yang lainnya hanya diam saja menonton.

"Bergabunglah dengan klub basket."

Kuroko kaget. Kaget dengan wajahnya yang kelewat datar. Tapi, bukan Akashi namanya kalau tidak tau kalau lawan bicaranya terkejut dengan pembicaraannya barusan.

"Aku tak mau mengulang perkataan,Tetsuna. Aku yakin kau mendengarku dengan jelas." Suaranya tegas, membuat siapapun jadi takut dan tunduk.

Tapi Kuroko Tetsuna adalah orang yang lain dari yang lain.

"Aku tidak mau bergabung. Aku akan bergabung di klub literatur dan perpustakaan." Kuroko memutar badannya dan langsung berjalan cepat menuju pintu keluar gedung.

Momoi mengejar Kuroko dan menahan tangan kirinya. "Tetsu-chan! Temani aku menjadi manager basket. Ayolah pasti seru."

Tangan putih Kuroko melepas tangan Momoi secara halus. "Momoi-san, aku tak mau. Maaf,ya." Setelah itu, Kuroko berjalan menuju pintu, membukanya kemudian meningggalkan gedung itu beserta orang-orang didalammnya.

Si gadis pink yang sedari tadi menatap nanar pintu keluar itu kembali bergabung dengan teman warna-warninya. "Bagaimana ini,minna? Sepertinya Tetsu-chan tidak mau lagi bergabung dengan kita. Bahkan sekarang dia memanggilku dengan suffix san.."

Murasakibara yang sibuk mengunyah snacknya ikutan bersuara. "Dari cara dia berbicara dengan kita,sudah jelas Kuro-chin tidak mau lagi. Nyam."

"Jangan berbicara saat mengunyah,Murasakibara. Tapi yang dikatakannya benar,nanodayo. Sepertinya kita tak ada kesempatan untuk mengajak Kuroko bersama kita."

"Huee, aku tak mau Kurokocchi membenci kita-ssu! Ini semua gara-gara Aominecchi. Ngapain bahas-bahas oppai,sih?!" Kise mendorong Aomine yang baru saja sadar dari pingsannya.

Aomine yang didorong pun balas mendorong Kise dengan kekuatan ekstra. "Diam saja kau." Setelah puas membuat si kuning tak berdaya, dia mendekati Akashi. "Oi Akashi. Bagaimana ini? Sepertinya kita tak punya kesempatan. Sudahlah, biarkan saja dia."

Bukannya marah atau merasa sakit hati, Akashi malah , kali ini senyumannya berbeda.

"Tunggu saja."

.

.

Kuroko berjalan dengan rasa kesal dihatinya. Hari pertama dia masuk sekolah sudah kacau begini. Dia sama sekali tak menyangka bisa bertemu dengan teman-teman satu sekolahnya dulu.

Kaki melangkah sampai didalam kelas. Kemampuan missdirection membuat dia sama sekali tidak disadari teman-temannya. Setelah duduk dibangkunya, dia mengambil headset dan mulai membaca novel yang isinya sama sekali tidak masuk ke otaknya.

Pikirannya melayang menuju masa-masa pertemanan mereka yang sudah lama dia lupakan...

Kuroko dan keenam yang lainnya adalah teman sepermainan ketika SD sampai SMP. Awal pertemanan mereka dimulai saat mereka duduk di kelas 1. Mereka bertujuh satu kelas. Minggu pertama sekolah, mereka dikucilkan karena rambut dan mata mereka berbeda sendiri dengan teman-temannya. Didukung oleh rasa sesama menderita dan tak punya teman, akhirnya mereka bersatu dan membentuk geng 'Generation of Miracle'. Mereka menganggap bahwa mereka itu unik dan ajaib.

Setiap pulang sekolah, mereka selalu kumpul dilapangan basket disamping sekolah. Dengan Momoi yang menjadi wasitnya, mereka bermain 3 on 3. Karena Kuroko adalah perempuan dan imut-imut, jadi team yang beranggotakan Kuroko selalu menang. Bahkan seorang Akashi kecil mau mengalah. Mereka bermain sampai pukul 4 sore.

Akashi adalah orang yang pertama dijemput oleh supirnya karena dia harus ikut les tambahan. Momoi ,Kise dan Aomine dijemput oleh ibunya Momoi sekitar jam setengah 5 sore. Murasakibara dan Midorima pulang jalan kaki bareng pukul 5 sore karena rumah mereka dekat dan searah. Terkadang,Midorima pulang duluan karena harus les tambahan juga. Kuroko selalu dijemput ibunya sekitar jam 5. Jadi, kalau Midorima pulang duluan, Kuroko dan Murasakibara sering main berdua atau sekadar window shopping di minimarket terdekat.

Pertemanan mereka ternyata tetap berlanjut sampai SMP karena mereka bertujuh juga satu sekolah. Nama sekolahnya adalah SMP Teiko. Mereka bergabung di klub basket Teiko. Karena klub hanya beranggotakan lelaki, Momoi dan Kuroko menjadi manager. Momoi menjadi spesialis pencari data dan Kuroko menjadi pemantau kesehatan dan semangat mereka. Mereka bertujuh sangat bersemangat latihan basket dan selalu mempunyai ambisi kuat jika ada perlombaan basket.

Namun, pertemanan mereka mulai terasa berbeda ketika mereka kelas 8. Skill basket mereka masing-masing berkembang pesat. Kuroko memperhatikan kalau mereka tidak lagi bersemangat dan mulai menganggap remeh lawan. Bahkan, Aomine mulai bolos latihan. Murasakibara juga sering melanggar aturan klub basket. Sering dia ketahuan nyosor ke kantin sekolah ketika latihan sedang berlangsung. Alasannya klasik, pura-pura izin ke wc. Namun, masalah ini masih dapat diselesaikan karena Akashi yang naik jabatan menjadi kapten. Dengan Akashi yang menjabat status kapten, dia bisa lebih leluasa mengancam teman-temannya.

Puncak perpecahan terjadi ketika mereka yang sedang duduk di bangku akhir SMP mengikuti perlombaan basket nasional. Dengan mata kepalanya sendiri, Kuroko melihat permainan mereka sangat meremehkan lawannya. Dengan telinganya sendiri, Kuroko mendengar Akashi mengatakan kepada kaptennya team lawan 'Menyerah saja. Sudah jelas kami pemenangnya. Aku mutlak.'

Perlombaan berakhir dengan skor 111-11 atas nama Teiko. Balon-balon diturunkan dari atas dan kertas serbuk glitter warna-warni melayang turun kebawah dan mengotori lantai lapangan basket yang tadinya dijadikan saksi bisu perlombaan Teiko vs Meiko. Suasana kemenangan menyeruak. Starter,pemain cadangan, pelatih, bahkan manager basket Teiko berbaris di lapangan. Hanya saja, manager yang berdiri dilapangan itu hanya si merah jambu. Si biru muda tak menunjukkan batang hidungnya.

Keesokan harinya, klub basket menerima surat dari Kuroko Tetsuna yang berisikan permintaan pengunduran diri dari posisi manager basket.

Sejak saat itu, Kuroko memisahkan diri dan tak pernah lagi berhubungan dengan mereka. Dia resmi menjadi mantan anggota 'Generation of Miracles'.

Buku Novel ditutupnya ketika ia mendengar suara bel dari speaker kelasnya. Ketika dia sedang memasukkan bukunya, ia melihat Akashi yang sudah duduk disebelahnya sambil memegang roti bungkus.

Rencananya untuk tidak membuka suara pun gagal ketika si lelaki merah menggeser roti bungkus itu menuju mejanya.

"Makan ini." Akashi menunjuk roti yang sudah tepat di wajah Kuroko.

Yang disuruh hanya diam saja sambil menggulung headset putihnya. Mencoba tidak peduli.

"Tetsuna, jangan sampai penolakanmu yang kedua membuatku bisa melakukan hal gila diluar akal sehat."

Perhatian Kuroko ke gulungan headsetnya beralih menuju mata merah Akashi. "Aku tak mau makan."

Wajah Akashi mendekat. Kuroko bergeser mundur untuk tetap menjaga jarak aman. "Nee Tetsuna. Kau makan dan habiskan rotinya atau aku cium bibirmu?"

Wajah Kuroko memanas. Dalam hati, ia merutuk dirinya yang memiliki kulit putih bening. Dia sangat yakin kalau pipinya merona merah sekarang.

Akashi yang melihat perubahan wajah Kuroko yang langka itu menyeringai senang. "Aku hitung sampai tiga. Kalau sudah sampai tiga, aku anggap kau setuju kucium."

Jari telunjuk dari lelaki merah mengacung. "Satu.."

Disusul oleh jari tengah yang naik secara perlahan. "Dua.."

Kuroko segara menyambar roti yang diberikan Akashi dan membukanya secara cepat. Mulutnya langsung meraup makanan berbentuk bola itu.

"Ah..ternyata kau memakannya. Aku pikir kau tetap menunggu sampai tiga. Cepat makannya, sebentar lagi sensei datang."

Si gadis biru muda hanya memakan roti itu dengan hati yang mencelos.

Antara ingin marah, nangis, atau mau ignite pass seseorang.

.

.

Bel yang mengalun berisik pukul 3 sore adalah suara yang menyejukkan hati siswa Rakuzan sekarang, termasuk Kuroko. Dengan cekatan, dia memasukkan buku serta peralatan tulisnya kedalam tas. Setelah menyandang tas, dia segera beranjak dari kursinya.

"Ano..Kuroko-chan!"

Kuroko yang tadinya siap meninggalkan kelas menghadap ke belakang dan mencari sumber suara yang memanggilnya tadi. Ternyata yang memanggilnya adalah Yamada Miano, gadis yang duduk dibelakangnya.

"Ada apa,Yamada-chan?"

Senyuman manis terpatri di wajah kepemilikan marga Yamada itu. "Ayo keluar kelas bareng."

Hati Kuroko menjadi bahagia. Hari pertama ternyata tidak terlalu buruk juga. Dia langsung menemukan teman. "Ayo!"

"Maaf, tapi Tetsuna ada urusan sebentar denganku, Yamada. Lain kali saja keluar barengnya."

Oke,kalimat terakhir terdengar ambigu.

Kuroko menatap Akashi dengan tatapan 'apa-apaan kau!'. Akashi langsung menarik tangan Kuroko dan berjalan menuju keluar kelas, meninggalkan Yamada.

Kakinya yang pendek harus cepat melangkah untuk menyamakan langkah panjang Akashi. Akhirnya mereka berhenti didepan pagar sekolah. Akashi melepaskan genggamannya dari Kuroko yang sedang ngos-ngosan.

"Huft..huft..Akashi-san..ada apa..lagi?" Kuroko menetralkan kondisi napasnya yang ngos-ngosan karena disuruh jalan secepat itu. Jangan salahkan daya tahannya,salahkan kakinya yang terlalu pendek.

"Tidak ada. Hanya mengantarmu sampai pagar."

Ingin sekali rasanya Kuroko meninju muka Akashi sekarang. Namun, dia tidak mau melupakan nasehat ayahnya yang mengajarkan kesabaran. Jadi, dia memilih mengangguk dan diam.

Selang 10 detik, terlihat mobil mewah menepi ke arah Kuroko dan Akashi berdiri. Jendela kaca turun ke bawah, menampilkan wajah ganteng yang gantengnya tidak pantas untuk dijadikan supir.

"Ayo masuk,Tetsuna-sama! Eh, itu temannya yang warna merah mau nebeng juga? Yuk boleh kok boleh. Ganteng sih soale."

Akashi menatap sang sopir yang tak sayang nyawa itu dengan tatapan tajam. Kuroko yang disampingnya mendadak khawatir dengan sopirnya.

"Aihii, tenang aja kamu,merah. Gratis kok seriusan. Muka kamu kayak orang takut dimintai utang,ih!"

Akashi hampir saja mengeluarkan gunting keramatnya ketika Kuroko menghalangi jendela pintu mobil. "Ayo pulang,Sogo-san!" Setelah itu, Kuroko masuk kemobil secepat kilat dan menutup jendela kaca.

Akhirnya, mobil mewah beserta penumpangnya melesat pergi meninggalkan sekolah dan seorang pemuda yang tampak mengeluarkan aura hitam pekat. Orang-orang sampai jaga jarak dan tak berani menyapa sang ketua OSIS.

.

"Tetsuna-sama, yang merah tadi siapa,sih?" sopir ini ternyata bukan kelewat alay dan mesum, tapi kepo juga.

Kuroko yang sudah ditanyai 10 kali pun akhirnya menjawab. "Dia hanya kenalanku."

Tetap fokus dengan kondisi jalan, si sopir lanjut bertanya. "Ganteng-ganteng kok gitu,ya. Aku udah nawarin pulang malah dipelototin. Aku awalnya takut,lho!"

Harusnya predikat 'Ganteng-ganteng kok gitu,ya' itu ditujukan untukmu,Sogo-san.

Si gadis biru muda tak menjawab. Hanya bergeming. Hingga akhirnya mobil mereka masuk ke daerah komplek perumahan dan menepi didepan pintu masuk rumah bibi Ayuki.

"Sudah sampai,Tetsuna-sama! Selamat istirahat,ya!" Lambaian dan kedipan nakal ditujukan pada Kuroko yang hanya menatap dengan tatapan datar.

"Terimakasih,Sogo-san. Oh ya, besok tak perlu antar jemput. Aku naik sepeda saja. Ternyata jarak sekolah ke rumah itu dekat." Seusai berbicara dan mendapat acungan jempol tanda setuju,Kuroko keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah megah itu.

Entah harus bersyukur atau meratapi nasibnya yang memiliki hawa keberadaan tipis, dia sama sekali tidak disadari oleh pelayan rumah. Dia melewati mereka begitu saja dan masuk ke dalam kamar dengan mulus.

Dalam hati ia bertanya, apakah ini bakat alami untuk menjadi pencuri?

Setelah merebahkan diri ke kasur, ia mengambil handphonenya di tas lalu menekan nomor yang sudah dia hapal luar kepala.

Tuut tuut

"Hallo,Tetsu-chan?"

"Hallo,Okaa-san. Lagi apa?"

"Okaa-san sedang tiduran di kamar,sayang. Ada apa menelpon okaa-san? Oh ya,bagaimana hari pertamamu sekolah? Kamu pasti bertemu teman-teman yang asyik kan?"

"Okaa-san, aku ingin kembali ke Tokyo. Aku tak mau disini."

"Apa? Apa? Aduh ini kok sinyalnya gak bagus,ya. Duduh, masakanku gosong. Duuh!"

Suara sambungan terputus memenuhi gendang telinga Kuroko sekarang.

Dia tau kalau ibunya sengaja mematikan handphonenya. Kuroko yang mencoba menelepon nomor ibunya pun mendapat balasan suara 'nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.'

Menaruh handphonenya dinakas, Kuroko beranjak dari tempat tidur dan mandi. Mungkin, kegiatan membersihkan badan dapat melepas kepenatannya di hari pertama dia masuk sekolah.

Dia tak yakin masih bisa menjalani hari dengan tenang.

Hari pertamanya saja sudah sungguh diluar dugaan.

.

.

Tu Be Continue

Author Note:

Hallo, Racelew kembali #gananya. Chapter ini lebih menceritakan kehidupan Kuroko dan mengapa dia berstatus mantan bagi teman-teman GOM nya. Hehehe aku baru update karena 2 minggu lalu aku ada ujian test. Sekarang ujiannya sudah kelar dan bisa lanjut lagi deehh:D Terimakasih untuk review, fav, dan follownya. Terimakasih juga buat silent reader yang udah baca cerita inii. Jejakmu kan kutunggu, hehehehe:-).

Balasan review...:D

Halloo ini udah dilanjut ya, hehe. Keluarga Kuroko terpengaruh arus kekinian wkwkwk. Nakamoto Yuu Na ini sudah dilanjut yaaa,maafkan aku tak bisa apdet kilat:-( tapi aku akan usahakan apdet cepat ceritanyaa. Yuka terimakasih yaa, aku jadi cenengg. Sharyn Li Yo Sharyn! Trims berat juga udah mau baca, review, dan menunggu cerita dari author kentang ini! semoga ya, panda-san.. Shiraishi Itsuka Makasih udah semangatin author ujian! Author udah siap ujian dengan hasil yang tak mengecewakan #yaterus Ini udah apdet ya, hehehe.Narudobetetsuyapolepel Ini aku udah apdet yaa, makasih review nyaa, #senyumgunting. Namikaze Hoshi okee ini aku sudah apdet next chapternyaa hehehe. Uzumaki Prince Dobe-Nii Anjeer wkwkwk, ini aku udah lanjutin yaapss. Dewi15 okee ini aku udah lanjutin yaa. Erucchin Terimakasih yaa reviewnyaa, mungkin scenes Akakuro masih alus di chapter ini, ditunggu aja yaa erruchiin ;-)

Buat guest yang pakai nama c, makasih udah semangatin yaa, ini aku udah apdet ceritanya. *niup terompet*