4. Pramuniaga

"Waah gaun ini bagus sekali! Kyaaa wedges yang itu lucu! Aku juga mau beli topi itu! Aku mau semua~!"

Setiap kali berbelanja, Neon Nostrade selalu heboh dan sulit dikontrol. Tak terbayang berapa jumlah belanjaan yang dia telah beli di department store tersebut. Dan semua barang itu bodyguard-nya lah yang membawanya. Kewalahan, itulah yang dirasakan mereka. Tak terkecuali Kurapika, salah satu bodyguard milik Neon.

Hari itu Kurapika sedang sial. Biasanya yang menemani boss-nya belanja adalah Senritsu dan Basho, tapi karena ditugasi oleh hal lain maka Basho tidak bisa ikut. Akhirnya Kurapika-lah yang menjadi tumbal penggantinya.

Kurapika mengikuti langkah ceria boss-nya dengan muka pasrah. Senritsu menepuk-nepuk lengan Kurapika untuk menenangkannya.

"Sabar ya, Kurapika. Memang sih ini merepotkan, tapi kan kita memang dibayar untuk menjaga dan menemaninya..." kata Senritsu sambil tersenyum. Kurapika membalas wanita kecil itu dengan senyum lemah.

"Ah! Aku lupaaa! Seharusnya aku ke lantai 6 untuk beli underwear! Tapi aku udah capek~~" keluh Neon sambil manyun. "Kurapika! Tolong belikan aku underwear ya~ Aku mau yang warnanya pink. Eh, kuning juga boleh. Biru, ungu, krem, aku mau yang warna-warni~!"

"E-Eh? Underwear...?" ulang Kurapika, tidak percaya.

"Iyaaa. Kamu ga budek, kan? Sana langsung ke atas! Kami nungguin di cafe sebelah sana yaa. Oh iya, ini kartu kreditnya," Neon meletakkan kartu kreditnya di tangan sang pengguna rantai.

"Tapi..." balas Kurapika lagi sambil melirik Senritsu. Memang untuk hal-hal seperti itu, lebih baik Senritsu yang mengurusnya. Senritsu kan perempuan! Sedangkan Kurapika?

"Biar saya saja yang membelikannya..." tawar Senritsu, seolah mengerti tatapan melas dari Kurapika.

"Ga boleh! Senritsu harus mendengarkan aku curhat. Sudah sana, Kurapika! Bye bye~" sahut Neon tak acuh sambil berjalan menuju cafe. Benar-benar orang yang suka seenaknya!

Senritsu menatap Kurapika, memberikan senyuman minta maaf. Kurapika menghela nafas, pasrah karena tidak ada pilihan lain.

Setelah sampai di lantai 6 dengan menggunakan lift, Kurapika langsung disambut dengan segala macam bentuk dan warna dari pakaian dalam wanita. Mulai dari kaos singlet sederhana sampai sesuatu yang tidak pantas lagi disebut underwear karena terlalu kecil dan tipis untuk menutupi area terlarang dari tubuh wanita. Wajah Kurapika agak memerah melihat pemandangan di sekitarnya.

Tanpa babibu lagi Kurapika langsung menuju counter untuk meminta bantuan dari salesgirl di sana. Dia tidak akan mau mencari-cari sendiri apa yang diminta boss-nya, huh!

"Permisi, saya mencari underwear yang berwarna pink," kata Kurapika kepada salesgirl yang tersenyum padanya.

"Oh, mau yang seperti apa, Nona? Kami memiliki berbagai macam pilihan model~"

"N-Nona, heh..." bisik Kurapika kesal, tanpa terdengar oleh sang salesgirl. "Um, yang model terbaru saja juga boleh..."

"Kami ada model bra dan panties terbaru, dengan aksen renda dan jaring yang menyatukan kedua item ini menjadi seperti satu one piece. Lihat, jaring-jaring ini membuatnya jadi semakin sexy, bukan~?"

"Ngg, i-iya... Yang itu boleh..."

"Ukurannya apa, Nona?"

"I-Itu..." Mana kutahu! pikir Kurapika ketus. Dia lupa menanyakan hal itu pada Neon. "Saya kurang tahu..."

"Oh, tidak apa-apa~ Dilihat dari bentuk tubuh Nona yang langsing semampai seperti ini, walaupun tertutup oleh pakaian tebal yang Nona kenakan, sepertinya ukuran S sudah sangat pas!"

"Langsing semampai, heh..." Kurapika tidak tahu harus senang atau malah kesal dipuji seperti itu. Seharusnya itu hal yang bagus kalau dia memang benar-benar perempuan. Tapi kenyataannya kan berkata lain! Yang bilang itu buatku siapa, hoi!

"Tapi dilihat dari dada Nona yang agak rata, saya sarankan untuk menggunakan busa keluaran terbaru dari Victoria Secret ini supaya terlihat lebih berisi~" usul sang salesgirl tanpa rasa berdosa.

"T-Tidak usah. Saya juga beli yang warnanya kuning, biru, err pokoknya semua pilihan warna yang ada deh! Umm model yang itu dan itu juga saya beli semua warna!" tunjuk Kurapika asal pada model-model underwear yang lain di dekatnya.

"Baiklah~ Akan saya buatkan notanya, nanti silahkan Nona bayarkan di kasir sebelah sana~ Terima kasih banyak~!"

Akhirnya Kurapika keluar dari counter tersebut sambil membawa 3 tentengan berat berisikan pakaian dalam wanita warna-warni. Ia menghela nafas panjang.

"Susah banget dah nyari duit..."


Kurapika teringat sesuatu. Ia juga sepertinya perlu membeli pakaian dalamnya sendiri, karena miliknya banyak yang sudah usang dan sobek. Melihat counter underwear pria di seberangnya, Kurapika langsung menuju sana.

"Silahkan! Ada yang bisa dibantu?" tanya sang salesman ramah.

"Saya mau beli yang ini ukuran S satu lusin, ya," Kurapika menunjuk model underwear yang sederhana. Untuk stok sampai beberapa bulan ke depan kan lumayan, pikirnya. Terdapat beberapa macam warna netral untuknya. Putih, hitam, biru dongker, dan hijau army. "Tidak masalah warna yang mana saja, saya tidak keberatan."

"Baiklah, akan segera saya bungkuskan," sang salesman langsung sigap membungkus barang-barang yang Kurapika mau.

Setelah membayarkan sejumlah uang, Kurapika diberikan bungkusan tersebut oleh sang salesman.

"Terima kasih telah membeli di toko ini. Wah, baik sekali ya, Nona secantik Anda tidak malu dan mau membelikan pakaian dalam pria untuk orang lain," kata sang salesman polos. "Semoga datang kembali!"

Kurapika menepuk jidatnya sendiri sambil berlalu.

"Kukira aku akan aman berada di dalam toko underwear genderku sendiri, tapi ternyata aku salah..."


A few more chapters to go! :D