Hening.
Untuk sementara, senyap masih mendominasi. Hanya isakan kecil Karin yang sesekali terdengar.
"Apa.." Sasuke angkat bicara. "Mereka tahu sesuatu mengenai tempat ini?"
"Tidak" Sahut si rambut biru cepat. "Juugo lebih memilih mati dari pada memberi tahu lokasi kita meskipun mereka memaksa dengan terus menyiksanya dengan lampu ultraviolet sialan itu"
Sasuke, terpaku.
Sebagai pemimpin yang biasanya bertindak cepat, dia malah diam.
Dia kehilangan salah satu anggotanya yang paling setia.. Dan paling kuat.
Dia nyaris tidak percaya Juugo akan gugur semudah itu.
"Aku melihatnya.. Aku melihat bagaimana pedang perak itu menusuk jantungnya sampai dia terbakar. Aku melihat sahabatku mati" Suigetsu menangis lagi. Tak peduli bahwa dia laki-laki yang punya harga diri atau apa. Baginya, terlalu menyakitkan untuk sekedar diam.
Bahkan, Karin pun masih belum bisa tenang dari tangisannya yang semakin keras berkat ucapan Suigetsu barusan.
Naruto menangkap raut yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari wajah seorang Uchiha Sasuke.
Kosong. Gelap. Apapun itu.
Sasuke hanya berdiam dengan tatapan tanpa arah.
Memutar pikirannya agar menemukan cara. Satu cara saja agar dia dan kelompoknya bisa bertahan di tempat ini lebih lama.
Karena dia tidak ingin berlari dan sembunyi ke tempat lain lagi.
"Hittou," Kiba mendekat beberapa langkah, masih dengan Karin yang menangis di bahu tegapnya. "Kita harus pergi"
Sasuke menoleh cepat. Menatap lurus pemuda yang barusan melontarkan kalimat yang paling ingin dia hindari.
"Tidak"
"Tapi hittou. Cepat atau lambat mereka pasti menemukan kita. Kita tidak bisa disini selamanya dan menyaksikan satu per satu dari kita semua mati!"
Disana, Naruto mencoba mencerna apa yang barusan mereka bicarakan.
Pergi? Oh, ayolah.
Jangan bercanda!
"Aku akan memikirkan cara lain" Sanggah Sasuke.
"Ini solusi terakhir kita, hittou" Kiba melepaskan Karin dari rangkulannya dan mendekat selangkah lagi ke arah Sasuke. "Kita benar-benar harus meninggalkan Konoha sebelum me-"
"Tunggu" Sela Naruto. "Tunggu, tunggu. Jangan pergi. Pasti ada cara lain!"
"Kenapa kalian berdua terus bicara soal cara lain!?" Nada bicara Suigetsu terdengar semakin keras. "Maafkan aku, Sasuke-sama. Tapi kami semua tidak mau kehilangan lagi. Jika pergi ke kutub utara akan membuat kami semua aman, maka kami akan pergi kesana! Begitu juga denganmu. Kami memikirkan keselamatanmu! Jumlah kita cuma sebelas orang sekarang! Cara apalagi yang kita punya sekarang!?"
"Kita tidak akan pergi, Suigetsu" Tegas Sasuke dengan artikulasi yang sengaja diperjelas. "Tidak sekarang"
Diam menyusup lagi.
Nyaris tak percaya, karena sebelumnya pasti Sasuke-lah yang memberi keputusan untuk 'pergi'.
Dan kali ini, dia-lah yang bersikeras untuk tinggal.
.
.
.
.
.
.
.
Jus Tomat
Disclaimer : Naruto (c) Masashi Kishimoto
Story : Alice Amani Neverland
Rated : T
Warnings! : AU, SasuNaru/NaruSasu tergantung pandangan anda, sho-ai, OOC, typo(s), EYD messed up, dan kesalahan manusiawi lainnya. DLDR. And don't forget to drop your review. Enjoy ~
.
.
.
.
.
.
#4 : The Chase
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Shikamaru mendelik dengan seksama sosok di hadapannya. Dari atas ke bawah, senti demi senti.
"Apa?" Pemuda itu mengendikkan kepalanya sedikit. "Belum pernah melihat orang normal ya?"
"Ck" Si kepala nanas cuma mendecak malas. Apanya yang normal? Penampilan pemuda sengak di hadapannya ini bahkan jauh dari kata rapi. Kemeja seragamnya tidak di kancing, menampilkan t-shirt putih polos di dalamnya. Rambutnya coklat acak-acakkan, dan terdapat simbol seperti taring merah pada masing-masing pipinya. "Kau dari mana?"
"Ame. Ame gakuen. Tahu kan?"
"Aa. Ame gakuen ya" Shikamaru melipat tangannya. "Ada perlu apa datang ke sekolah kami?"
"Aku mau menemui hit-" Kiba berdehem sebentar saat sadar bahwa dia hampir saja menyebutkan kata 'hittou' yang artinya ketua itu. "Aku mau bertemu temanku" Tambahnya seraya menjatuhkan pantat dengan santai pada bangku yang terhidang di sepanjang lorong sekolah itu.
"Siapa? Dari kelas berapa?"
"Ng.." Kiba tampak berpikir keras disana. "Aku lupa kelasnya. Pokoknya namanya Sasuke"
Shikamaru melotot di tempat.
"Ha? Sasuke? Uchiha Sasuke?"
"Iya" Kiba mengangguk. "Memangnya ada dua Sasuke disini?"
Well, tidak.
Tentu tidak.
Bukan itu yang membuatnya melotot tadi. Hanya saja, 'menempelnya' seekor Uzumaki Naruto saja sudah aneh. Eh, ini, mendung-mendung di tengah siang, ada sesosok pemuda arogan mencari Sasuke.
Semakin sesuatu saja misteri mengenai si pucat itu.
"Yah dia sekelas denganku. Tunggulah sekitar setengah jam"
"Lah? Kenapa?"
"Kelas kami sedang rapat untuk festival tahunan"
"Terus? Kenapa kau disini?"
"Heeh? Aku itu tadi baru saja kembali dari mengambil buku anggaran kelas. Dan kau menahanku disini"
"Oh iya ya" Kiba mengangguk-angguk. Saat dia menyadari betapa sepinya menit-menit ini, dia melirik ke arah MANUSIA segar di hadapannya. Dia menyeringai tipis sebelum berkata
"Oi. Bisa tolong antarkan aku ke toilet?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua puluh menit berselang sejak Shikamaru meninggalkan rapat untuk mengambil buku anggaran di ruang osis.
Suasana mulai ramai dengan obrolan masing-masing. Dan di ujung sana, Naruto mulai menggaruk-garuk kepalanya sambil menguap.
Naruto tidak peduli soal konsep maid cafe yang diusulkan Sakura. Dia hanya ingin tidur siang sekarang ini.
Ketika Naruto berniat menjatuhkan kepalanya ke meja dan tertidur, sosok pinnaple head yang di tunggu-tunggu akhirnya muncul dengan tampang yang tak kalah mengantuk dengan Naruto.
Tapi ini sedikit beda.
Shikamaru tampak seperti orang ling lung yang baru sadar dari koma selama bertahun-tahun.
Dia tampak berdiri dan memijat pelipisnya frustasi setelah ia duduk di kursi yang biasa di gunakan guru.
Dia juga mengedip-ngedipkan matanya dengan pandangan mengawang.
Naruto cuma menggerutu aneh melihat pemandangan itu.
"Cih. Pantas saja Shikamaru lama sekali. Pasti tadi dia tidur ttebayo. Lihat tuh, tampangnya masih seperti orang mimpi. Curang"
Sebagai pihak yang pertama khawatir, Ino menghampiri sang ketua kelas dan menanyakan apakah dia baik-baik saja.
Tak ada yang memperhatikan, kecuali Sasuke yang tanpa sengaja mendengar jawaban Shikamaru.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu. Tiba-tiba badanku lemas sekali"
Dan Sasuke tak perlu waktu lama untuk menyadari.
"Kiba" Gumamnya.
"Eh?" Belum sempat pertanyaan Naruto terjawab, Sasuke sudah menjejalkan buku-bukunya ke dalam tas dan beranjak dari meja yang kemudian di ikuti secara otomatis oleh 'ekor'nya yang berwujud pemuda dengan tinggi 1,8 meter berambut pirang.
Untungnya kaki panjang Naruto mampu menyamai langkah cepat sang Uchiha meskipun sepanjang jalan dia terus saja mengomel soal ada-apa-sih-sebenarnya.
Langkah mereka berakhir ketika di persimpangan tangga, sosok yang belakangan cukup familiar bagi Naruto muncul.
"Hittou aku sudah-"
"Kenapa kau gigit dia?" Tukas Sasuke memotong ucapan Kiba. Sontak saja, Kiba langsung mengatupkan kedua telapak tangan di depan wajahnya.
"Maaf, hittou! Soalnya aku tidak tahan" Kiba tampak menunduk disana. "Aku bersumpah sudah menghapus ingatannya"
Naruto melongo bulat saat mengucapkan 'ooh' panjang disana. Jadi Kiba yang menyebabkan Shikamaru bertingkah seperti orang teler?
Wah, lumayan juga efek 'lupa' yang di tanamkan para habblut.
Untung saja itu tidak mempan bagi Naruto.
"Sudahlah" Sasuke mendengus kecil. "Bagaimana?"
"Aa. Semuanya sudah mendapatkan tempat tinggal sementara yang aman. Kebetulan sekolahku menyediakan asrama, hittou. Walaupun sedikit merepotkan, aku berhasil membuat mereka percaya bahwa aku anggota asrama"
"Bagus. Lalu bagaimana dengan Karin?"
"Dia akan tinggal di toko tempat ia bekerja"
"Kalian sedang membicarakan apa sih?" Naruto menyela sambil celingukan.
"Kami ini sedang berpencar untuk sementara, Naruto. Kami mencari tempat tinggal sendiri-sendiri yang berdekatan dengan manusia. Tujuannya sih, supaya akatsuki kehilangan jejak" Terang Kiba.
"Oooh. Ide bagus ttebayo!" Naruto tampak antusias. Ya, jelas saja dia antusias. Karena itu artinya, Sasuke tidak akan pergi kemana pun. "Ne, jadi kau sekarang tinggal dimana Sasuke?"
"Entahlah. Aku akan pikirkan itu nan-"
"KAU BISA TINGGAL SEMENTARA BERSAMAKU" Naruto nyengir, lalu menepuk dan merangkul pundak Sasuke dengan keras. "Di rumahku tidak ada siapa-siapa dan kau bisa tidur denganku! jadi tenang saja ttebayo!"
"Justru itu" Sasuke menyingkirkan tangan Naruto sebagai sarana pertahanan diri dari doki doki di jantungnya.
"Lah kenapa? Memangnya aneh ya kalau kita tinggal bersama? Tidur bersama?"
DUK!
"Itte!" Naruto mengusap-usap ujung kepalanya yang baru saja di hadiahi satu jitakan oleh Sasuke.
Sementara Kiba terbahak-bahak sambil meremas perutnya dan menirukan ucapan ambigay Naruto.
"Tidur bersama. BHAHAHAHAHAHA" Dia memukul-mukul tembok dengan airmata berlinang.
"Setidaknya pikirkan ucapan anehmu dulu sebelum bicara dobe"
"Loh? Aneh bagaimana sih? Anehnya dimana?"
"Aku cuma bilang apa yang kupikirkan ttebayo?"
Tawa Kiba menggelinjang saat Naruto semakin mengindikasikan ketidak pekaannya yang tidak biasa.
Bahkan Naruto sempat bertanya pada Kiba apanya yang yang lucu.
"Sudahlah. Kau bisa kembali ke tempatmu Kiba"
"A-Ano.." Kiba mengusap ujung matanya masih dengan sisa tawa. "Hittou akan tetap tinggal bersama si bodoh ini?"
Kemudian, satu death glare mematikan membuat Kiba bungkam dan beranjak dari tempatnya untuk pulang ke asrama tempat ia tinggal sementara.
Setidaknya, untuk satu bulan.
Rencananya sih, setiap minggu mereka akan berkumpul di markas dan membicarakan kondisi mereka. Jika rencana ini membuat mereka aman dari akatsuki, kemungkinan mereka bisa tinggal lebih lama di konoha dan membuat akatsuki berpikir mereka sudah pergi ke tempat lain.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bagaimanapun itu, Sasuke akhirnya tetap tinggal di rumah Naruto untuk sementara. Naruto sangat amat tidak keberatan. Dia bahkan membiarkan Sasuke memakai bantal kesayangannya dan memakan ramen edisi terbatas yang ia beli di mini market yang berjarak empat kilometer dari rumah.
Festival tahunan akan berjalan selama lima hari, yang akan di tutup dengan pementasan drama tiap-tiap kelas pada sabtu malam nanti.
Naruto memaksa Sasuke untuk ikut serta, meskipun sambutan yang ia dapat dari teman-teman dikelasnya adalah sunyi. Mereka terlalu ngeri untuk sekedar mengajak Sasuke bicara dan Naruto memintanya berpartisipasi dalam festival?
Lagipula, festival diadakan siang hari, di luar ruangan. Mustahil rasanya jika Sasuke harus ikut.
Tapi Naruto mengarang cerita bahwa Sasuke itu koki yang hebat. Sehingga menempatkan sang Uchiha di dapur adalah keputusan yang tepat untuk membuat kafe kelas mereka laris.
Festival hari pertama di buka. Sakura, Ino, dan murid perempuan lainnya memakai pakaian ala butler dan rambut palsu pendek. Beberapa malah sampai memakai kumis palsu segala.
Sementara semua murid laki-laki mengenakan pakaian ala maid eropa, lengkap dengan bando berhias renda putih.
Shikamaru dan Neji adalah dua orang yang paling di tertawakan saat itu. Apalagi ketika rambut Shikamaru yang biasa di ikat cuek seperti nanas itu, di tata dengan dua kuncir seperti gadis kecil oleh Ino.
Naruto, tak peduli soal baju. Dia menganggap kegiatan ini bisnis sungguhan dan menjadi yang paling bersemangat di antara teman-temannya.
Sakura dan Naruto bertugas menyambut tamu kafe kelas mereka. Alasannya sih, katanya Sakura itu macho dan Naruto manis. Saat Shikamaru mengatakan itu, Naruto menjambak kuncirnya sampai Shikamaru terjungkal dengan rok tersibak.
Pengunjungnya cukup ramai. Banyak gadis-gadis yang datang ke kafe kelas mereka. Neji menjadi maid paling populer hari itu. Banyak pengunjung yang bilang dia sangat cantik. Sehingga kebanyakan akan meminta Neji yang melayani mereka. Terutama pengunjung perempuan.
"Selamat datang" Naruto dan Sakura membungkuk bersamaan, menyambut pengunjung berikutnya. Yang ternyata adalah sosok yang pernah Naruto lihat di suatu tempat. Setelah mengingat-ingat, Naruto akhirnya berhasil menegur orang itu.
"Kau.. Itachi-san kan?"
Pemuda dengan rambut panjang di hadapannya tampak mendelik Naruto untuk sesaat. Dia takjub disana.
"Kau.. Naruto?"
"Benar ttebayo!" Naruto menepuk pundak Itachi dengan gaya sok akrab. "Kau harus coba menu di kafe kami!"
"Ah, ya. Tentu" Itachi mengangguk kecil. Masih dengan tatapan takjubnya.
Naruto menggiring orang itu untuk duduk dan menyodorkan dengan paksa selembar daftar menu sesaat sebelum Itachi mendaratkan pantatnya di kursi.
"Kebetulan sekali kita bisa ketemu lagi. Hehe" Naruto cengengesan. Itachi hanya menanggapinya dengan senyuman kecil yang membuat murid-murid perempuan dipojokan sana sibuk berteriak tanpa suara seperti fangirl yang belum pernah melihat ikemen sungguhan.
"Jadi.. Kau sekolah disini?" Alih-alih memesan, Itachi justru bertanya tentang Naruto.
"Ya iyalah. Kau pikir kenapa aku disini? Memburu zombie yang bersembunyi diantara murid-murid?"
Itachi tertawa pelan kemudian.
"Yah, mungkin saja" Dia membaca menu di tangannya lagi. "Aku mau banana split saja"
"Oke! Satu banana split segera datang!"
"Tunggu sebentar Naruto" Itachi mencegah Naruto yang berniat beranjak dari sana. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu. Mau tanya apa memangnya?"
"Apa di sekolah ini ada seorang murid yang.. Agak aneh?"
"MURID DISINI SIH MEMANG ANEH SEMUA. HAHAHAHA"
Diam-diam Shikamaru menyumpah serapahi Naruto dengan kutukan-kutukan mautnya.
"Oh, maksudku.. Seorang murid yang agak berbeda dengan yang lain. Terlihat pucat, seperti orang sakit atau semacamnya"
Naruto yang daya tangkapnya selambat keong sawah itu pun berpikir keras sebelum dia sadar..
"Oh! Maksudmu Sa-"
"Naruto! Oi!" Suara panggilan Shikamaru memotong ucapan Naruto. "Kenapa malah ngobrol? Cepatlah sedikit! Kau harus membantu Neji. Kasihan dia melayani lima orang sendirian!"
"O-Oke ttebayo!" Lupa dengan pertanyaan yang belum terjawab, Naruto segera melesat ke dapur untuk mengambil banana split pesanan Itachi.
Dia sempat melihat Neji di foto dengan paksa oleh segerombolan anak perempuan dan Naruto merasa kasihan luar biasa dengan pemandangan itu.
Sementara di dapur, Sasuke tampak akur bersama Hinata yang memang pandai memasak dan juga-Orochimaru.
Yah. Guru biologi yang satu itu mengaku pernah menjadi juru masak restoran cina saat masih kuliah.
"Banana split untuk satu orang!" Naruto melenggang memasuki dapur dan langkahnya terhenti saat ia mendapati Sasuke memakai apron putih diatas pakaian serba hitamnya.
Sementara Sasuke tak kalah bengongnya disana. Naruto terlihat sangat imut dengan pakaian seperti itu. Benar-benar imut sampai-sampai Sasuke merasakan pipinya memanas tanpa disuruh.
"Narutooooo" Kali Ini, Ino yang memasuki dapur. "Cowok keren tadi pesan apa?"
"Ba-Banana split" Jawab Naruto yang pipinya juga terasa terbakar sampai merah.
"Cowok keren?" Lirih Sasuke. Bagi Ino, ini adalah pertama kalinya dia mendengar seorang Uchiha Sasuke bertanya. Dia sampai merinding karenanya.
"Co-Cowok keren yang tadi bersama Naruto. Naruto kelihatan akrab sekali dengan cowok itu dan aku ingin menge-nal-nya" Ino menjawab dengan gugup karena dia berani bersumpah Sasuke menatapnya seperti psikopat yang bertemu musuh bebuyutannya.
"Siapa?"
"Dia cuma pelanggan kok Sasuke! Cuma pelanggan! Aku tidak ngapa-ngapain ttebayo! Aku tidak akrab seperti kata Ino!" Sambar Naruto.
"Hn" Sasuke tampak cuek dan kembali pada melon yang sedang ia potong kecil-kecil. Melon malang yang kini tak berbentuk karena sang Uchiha mulai memotongnya dengan asal dan sewot.
"Kau tidak percaya ya?!"
"Itu bukan urusanmu"
"Jangan bodoh ttebayo! Aku berkata yang sejujurnya kok!"
"Hn"
"HEEEH?" Naruto merasakan firasat bahwa Sasuke benar-benar tidak mempercayai penjelasan Naruto. "Aku tidak tahu kenapa aku harus menjelaskannya padamu tapi akan kubawa dia kesini! Tunggu saja!"
Dan setelah mengambil seporsi banana split yang barusan disiapkan Hinata, Naruto keluar dari dapur dengan langkah menggebu-gebu.
Detik berikutnya,
Hening.
Senyap.
"A-Aku sebaiknya membantu Sakura" Ino menyusul Naruto saat atmosfir dingin mulai mendominasi disana.
"Kau baik-baik saja, Sasuke kun?" Tanya Orochimaru. "Jangan cemburu begitu dong. Khukhukhu"
Cemburu? Masa sih?
"Oh iya, kalau melonnya sudah, tolong potong ini ya" Orochimaru memberikan semangkuk bahan yang harus Sasuke potong selanjutnya.
Sasuke yang pikirannya mengawang itu, mengambil benda kecil yang ada didalam mangkuk tanpa berpikir dan sedetik sebelum ia mulai memotong,
"Uh!" Sasuke menjatuhkan pisaunya dan mundur beberapa langkah. Dia pun meremas tangannya yang terasa terbakar disana. Panas.
Sasuke mendesis perih dan ketika ia melirik telapak tangannya, luka bakar yang cukup hangus tergambar luas disana.
"Wah, maaf Sasuke-kun" Orochimaru melirik tajam. "Aku tadi memberimu bawang putih"
"Ano.. Sensei?" Hinata menginterupsi. "Memangnya kita perlu bawang putih? Menu kafe kita kan cuma minuman dan kue-kue?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Bakayaroo" Naruto menjitaki kepalanya sendiri sepanjang ia berjalan. Tindakan bodoh apa yang sedang dia lakukan sih!?
Kenapa dia harus susah-susah membela diri?
Memangnya Sasuke itu siapa?
Atau.. Memangnya dia menganggap Sasuke itu siapa?
Dan kenapa.. Dia merasa bersalah ya?
Ketika Naruto sampai di ruang utama kafe dengan nuansa eropanya itu, dia tidak lagi mendapati sosok Itachi di mejanya.
"Eh?" Naruto celingukan. Bagaimana nasib banana split di tangannya ini? Siapa yang akan bayar?
"Kau cari apa Naruto?" Tanya si cantik Neji.
"Orang yang tadi duduk disini ttebayo"
"Oh, yang pakai jaket warna merah tua ya?"
"Ah. Iya yang itu!"
"Dia sudah pergi. Tadi tampak buru-buru sekali. Sepertinya dia mengejar seorang wanita"
"Wanita?"
Neji mengangguk.
Apa jangan-jangan Itachi cuma berniat mengerjai Naruto saja? Memesan, lalu pergi.
Belum sempat pertanyaan Naruto terjawab, ponsel di sakunya berdering keras. Naruto meletakkan pesanan batalnya di sembarang tempat dan mengangkat teleponnya.
"Yo"
"Halo? Naruto!?" Ada suara panik di seberang sana.
"Ada apa Kiba?"
"Tolong, bawa Hittou ke tempat yang aman sekarang juga!"
"Kenapa memangnya?"
"Akatsuki sudah tahu kalau Hittou berada di Konoha gakuen!"
"HAH?! Bagaimana bisa!?"
"Entahlah Naruto. Kurasa ada mata-mata yang memihak akatsuki di sekolahmu itu" Lanjut Kiba. "Tadi Karin sudah kusuruh untuk pergi kesana dan memperingatkan hittou. Tapi barusan dia menelponku dan memintaku untuk mengabarimu. Karena sekarang dia sedang di kejar oleh salah seorang akatsuki yang dia temui di festival Konoha gakuen. Dia mungkin membuang ponselnya di tengah jalan karena saat kuhubungi lagi, nomor Karin sudah tidak aktif"
Deg. Naruto mematung diam seketika.
'Apa disekolah ini ada seorang murid yang.. Agak aneh?'
'Maksudku, seorang murid yang tampak pucat, terlihat seperti orang sakit atau semacam itu?'
'Tadi tampak buru-buru sekali. Sepertinya dia mengejar seorang wanita'
Naruto bergetar dalam diam.
"Tidak mungkin" Desisnya. "Itachi-san seorang.. Akatsuki?"
"Naruto? Hoi!? Dengar tidak?!"
"Y-Ya!?"
"Kumohon, jagalah hittou! Aku dan yang lainnya akan mencari Karin dan bersembunyi di tempat lain"
"Aku mengerti! Aku akan membawa Sasuke pergi dari sini!"
Tanpa berpikir lagi, Naruto kembali berjalan menuju dapur. Dengan pertanyaan besar yang memenuhi pikirannya.
Dia tak pernah menceritakan soal Sasuke pada siapapun. Lantas siapa..
Mata-mata yang dimaksud oleh Kiba itu?
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued.
.
.
.
A/N : Huaaaaaa maaf updatenya lama. Saya beneran sibuk belakangan ini hiksu.
Jangan lupa review yaa, minna-chan!
